

BUDAYA POSITIF
Presentation
•
Instructional Technology
•
10th Grade
•
Practice Problem
•
Easy
Redhina Aulia
Used 1+ times
FREE Resource
54 Slides • 16 Questions
1
Belajar Online Santai
Bareng Kak Re
2
BUDAYA POSITIF
Membangun
di Sekolah
3
BUDAYA POSITIF
Membangun
di Sekolah
Redhina Aulia, S.Kom, M.Pd
SMA NEGERI 1 SEMENDAWAI SUKU III
Fasilitator Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 9 Kab. Deli Serdang, Sum - Ut
4
BUDAYA POSITIF
Tujuan Pembelajaran
Bapak ibu memahami mengenai konsep Budaya Positif yang di dalamnya terdapat konsep perubahan paradigma stimulus respons dan teori kontrol, 3 teori motivasi perilaku manusia, motivasi internal dan eksternal, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar Manusia, 5 posisi kontrol guru dan segitiga restitusi.
Menerapkan strategi disiplin positif yang memerdekaan murid untuk menciptakan ekosistem sekolah aman dan berpihak pada anak.
5
BUDAYA POSITIF
Pertanyaan Pemantik
1. Hukuman dapat mendisiplinkan anak.
2. Pemberian hukuman dengan hal positif seperti membaca atau membersihkan halaman sekolah dapat meningkatkan disiplin anak.
3. Memberi penghargaan dapat meningkatkan motivasi belajar anak.
6
Poll
SETUJU / TIDAK SETUJU
Setuju
Tidak setuju
7
BUDAYA POSITIF
Budaya Positif di sekolah yaitu nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak kepada peserta didik agar mereka dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, hormat dan bertanggung jawab
8
Teori Kontrol Dr. William Glaser
Disiplin
Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
3 Motivasi Perilaku Manusia
Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi
Dihukum Penghargaan
Restitusi
Restitusi - 5 Posisi Kontrol
Restitusi - Segitiga Restitusi
9
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan
1
10
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Anda dan teman Anda akan melakukan kegiatan ‘Cobalah Buka’.
Anda adalah A , tugas Anda adalah mengepalkan salah satu tangan Anda. Coba Anda bayangkan bahwa Anda menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalam kepalan tangan Anda. Anda perlu menjaga benda tersebut sekuat tenaga Anda karena begitu pentingnya untuk kehidupan Anda. Tugas B (rekan Anda), adalah mencoba dengan segala cara untuk membuka kepalan tangan Anda. Teman Anda B boleh membujuk, menghardik, mengintimidasi, memarahi, menggoda, menggelitik, bahkan menawari Anda uang agar Anda bersedia membuka kepalan tangan Anda.
11
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Apakah Anda atau B membuka kepalan tangan Anda?
Mengapa, apa alasan Anda atau B membuka kepalan tangan Anda?
Apakah Anda atau B menutup kepalan tangan Anda?
Mengapa, apa alasan Anda atau B tetap menutup kepalan tangan Anda?
12
Multiple Choice
Dalam kegiatan ini, sesungguhnya siapa yang memegang kendali atau kontrol untuk membuka atau menutup kepalan tangan?
Diri sendiri
Orang lain
13
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
YES OF COURSE
jawabannya adalah kita sendiri yang memegang kontrol atas kepalan tangan kita, apakah kita membuka atau menutup kepalan tangan kita, itu bergantung pada diri kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan dasar kita saat itu.
14
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.
15
Open Ended
Menurut bapak ibu, kontrol sendiri itu apa jika dihubungkan dengan siswa kita di sekolah?
16
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Selanjutnya psikiater dan pendidik, Dr. William Glasser dalam Control Theory yang kemudian hari berkembang dan dinamakan Choice Theory, meluruskan beberapa miskonsepsi tentang makna ‘kontrol’.
Ilusi guru mengontrol murid.
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter.
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.
17
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Ilusi guru mengontrol murid
Pada dasarnya kita tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu jikalau murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Walaupun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal demikian terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Saat itu bentuk kontrol guru menjadi kebutuhan dasar yang dipilih murid tersebut. Teori Kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai.
18
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan bermanfaat.
Penguatan positif atau bujukan adalah bentuk-bentuk kontrol. Segala usaha untuk mempengaruhi murid agar mengulangi suatu perilaku tertentu, adalah suatu usaha untuk mengontrol murid tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, kemungkinan murid tersebut akan menyadarinya, dan mencoba untuk menolak bujukan kita atau bisa jadi murid tersebut menjadi tergantung pada pendapat sang guru untuk berusaha.
19
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa bersalah dapat menguatkan karakter.
Menggunakan kritik dan rasa bersalah untuk mengontrol murid menuju pada identitas gagal. Mereka belajar untuk merasa buruk tentang diri mereka. Mereka mengembangkan dialog diri yang negatif. Kadang kala sulit bagi guru untuk mengidentifikasi bahwa mereka sedang melakukan perilaku ini, karena seringkali guru cukup menggunakan ‘suara halus’ untuk menyampaikan pesan negatif.
20
Teori Kontrol (Dr. William Glasser)
Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.
Banyak orang dewasa yang percaya bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat murid-murid berbuat hal-hal tertentu. Apapun yang dilakukan dapat diterima, selama ada sebuah kemajuan berdasarkan sebuah pengukuran kinerja. Pada saat itu pula, orang dewasa akan menyadari bahwa perilaku memaksa tidak akan efektif untuk jangka waktu panjang, dan sebuah hubungan permusuhan akan terbentuk.
21
Merubah paradigma.
dari stimulus respon ke Teori Kontrol
22
Match
Cocokkan antara Nama beken / nama artis dengan nama aslinya!
Sule
Fatimah Syahrini Jaelani
Syurkianih
Maulidya Octavia
Wahyu Setianing Budi
Entis Sutisna
Syahrini
Zaskia Gotik
Via Vallen
Yuni Shara
Entis Sutisna
Syahrini
Zaskia Gotik
Via Vallen
Yuni Shara
23
Open Ended
Menurut bapak ibu apa sesungguhnya arti dari disiplin itu sendiri?
24
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan
Mari kita tanyakan ke diri kita sendiri, bagaimana kita berperilaku?
Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain?
Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau.
Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman atau pujian dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau untuk mendapatkan uang? Apa lagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu?
25
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan
Berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya belajar.
Makna asal dari kata ini berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato.
Disiplin diri membuat orang menggali potensinya menuju sebuah tujuan, apa yang dia hargai atau sesuatu yang bermakna.
Namun dalam budaya kita, makna kata disiplin telah berubah menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kecenderungan umum adalah menghubungkan kata disiplin dengan ketidaknyamanan, bukan dengan apa yang kita hargai, atau pencapaian suatu tujuan mulia.
26
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan
Disiplin positif yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.
Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
27
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan
Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap individu.
Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang.
Setiap perilaku/perbuatan memiliki suatu tujuan. (Dr. William Glasser pada Teori Kontrol, 1984)
Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan. (Diane Gossen, 1998)
Nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia kita kenal dengan Profil Pelajar Pancasila (- Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia. - Mandiri - Bernalar Kritis - Berkebinekaan Global - Bergotong royong - Kreatif).
28
Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
2
29
Open Ended
Bapak ibu, apa motivasi bapak ibu mengikuti "BOS Kak Re" ini?
silahkan di jawab jujur.
30
Teori Motivasi Perilaku Manusia
Untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman
Apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya?
Untuk mendapatkan imbalan dari orang lain/institusi
Apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya?
Untuk menghargai diri sendiri
Saya akan menjadi orang yang seperti apa bila saya melakukannya?
MOTIVASI EKSTERNAL
MOTIVASI INTERNAL
31
Dihukum oleh Penghargaan
“Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan pekerjaan yang berkualitas,kita sedang berasumsi mereka tidak dapat melakukannya, atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya.”
(Alfie Kohn)
32
Dihukum oleh Penghargaan
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Penghargaan efektif jika kita menginginkan seseorang melakukan sesuatu yang kita inginkan, dalam jangka waktu pendek.
33
Dihukum oleh Penghargaan
Penghargaan Tidak Efektif
Suatu penghargaan adalah suatu benda atau peristiwa yang diinginkan, yang dibuat dengan persyaratan: Hanya jika Anda melakukan hal ini, maka Anda akan mendapatkan penghargaan yang diinginkan.
34
Dihukum oleh Penghargaan
Penghargaan Merusak Hubungan
Ketika seorang diberi penghargaan atau dipuji di depan orang banyak, maka yang lain akan merasa iri, dan sebagian dari mereka akan tidak menyukai orang yang diberikan penghargaan tersebut.
35
Dihukum oleh Penghargaan
Penghargaan Menghukum
Penghargaan ‘menghukum’ mereka yang tidak mendapatkan penghargaan. Misalnya dalam sistem ‘ranking’. Mereka yang mendapatkan ranking kedua akan merasa paling ‘dihukum’.
Memberikan penghargaan dan hukuman adalah hal yang sama, karena keduanya mencoba mengendalikan perilaku seseorang.
Karena orang pada dasarnya tidak suka dikendalikan, dalam jangka waktu lama, penghargaan akan terlihat sebagai hukuman.
Jika suatu penghargaan diharapkan, namun Anda tidak mendapatkannya, Anda akan merasa dihukum.
36
Dihukum oleh Penghargaan
Penghargaan Mematikan Kreativitas
37
Dihukum oleh Penghargaan
Mengurangi motivasi dari Dalam Diri (Intrinsik)
Saat seorang anak belajar untuk pertama kali, menggabungkan huruf-huruf dan kata-kata, serta menyadari bahwa ia dapat membaca, timbul pijar di matanya dan sebuah senyuman di wajahnya. Anak tersebut begitu gembira bahwa ia telah mempelajari dan menguasai suatu keterampilan baru. Kesadaran akan kemampuannya bahwa ‘dia’ sudah dapat membaca, sesungguhnya sudah merupakan sebuah penghargaan.
Jika kita memberikan penghargaan kepada seorang anak pada saat dia sedang merasa bangga dengan pencapaiannya sendiri, maka kita akan mengambil kegembiraan yang saat itu sedang dirasakan secara alamiah.
38
Dihukum oleh Penghargaan
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
39
Poll
Lantas, apakah kita tidak boleh memberikan penghargaan?
Boleh
Tidak
40
Bentuk Program Kebajikan (Apresiasi)
Dalam memberikan apresiasi (pengakuan) perlu diingat beberapa hal:
● Beri pengakuan secara khusus.
● Beri pengakuan secara pribadi.
● Beri pengakuan kepada semua murid (bergantian).
● Beri pengakuan secara konsisten.
● Fokus pada proses.
41
Bentuk Program Kebajikan (Apresiasi)
CONTOH PENGAKUAN / APRESIASI KEBAJIKAN
PEMBUKA | NILAI KEBAJIKAN | SITUASI |
|---|---|---|
Ibu menghargai | kemandirianmu | ketika tadi kamu berusaha menyelesaikan tugas seorang diri |
Saya ucapkan terima kasih | atas kebaikan bapak ibu | yang telah berkenan hadir di BOS Kak Re ini |
Ibu lihat | kesantunanmu | waktu kamu berjalan didepan orang yang lebih tua. |
42
Hukuman dan Konsekuensi
43
Categorize
bersifat tidak terencana atau tiba-tiba.
bersifat satu arah
sudah terencana atau sudah disepakati
sudah dibahas dan disetujui
bisa berupa fisik maupun psikis
dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek
Silahkan dikategorikan bapak ibu. mana hukuman dan mana konsekuensi
44
Hukuman dan Konsekuensi
PERBEDAAN HUKUMAN DAN KONSEKUENSI
Disadur dari Restitution, Diane Gossen, The Five Positions of Control, Yayasan Pendidikan Luhur
45
Multiple Choice
Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat lagi”,
karena terlambat ke sekolah.
Hukuman
Konsekuensi
46
Multiple Choice
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah.
Hukuman
Konsekuensi
47
Multiple Choice
Murid diminta untuk ‘push up’ 15 kali karena tidak menggunakan dasi ke sekolah.
Hukuman
Konsekuensi
48
Multiple Choice
Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret.
Hukuman
Konsekuensi
49
Multiple Choice
Membersihkan sampah didalam kelas setelah mengerjakan Prakarya.
Hukuman
Konsekuensi
50
Multiple Choice
Celana murid di gunting atau di sobek, karena menggunakan celana pensil / tidak sesuai standar sekolah.
Hukuman
Konsekuensi
51
Multiple Choice
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit untuk pelajaran PJOK.
Hukuman
Konsekuensi
52
Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Gossen; 2004)
53
Restitusi
Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
54
Restitusi
Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Sebelumnya kita telah belajar tentang teori kontrol bahwa pada dasarnya, kita memiliki motivasi intrinsik.
55
Restitusi
Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya. Restitusi menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Ini sesuai dengan prinsip dari teori kontrol William Glasser tentang solusi menangmenang.
56
Restitusi
Ciri - ciri Restitusi
1. Bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari kesalahan.
2. Memperbaiki hubungan.
3. Tawaran, bukan paksaan.
4. Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri.
5. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan.
6. Restitusi-diri adalah cara yang paling baik.
7. Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan.
8. Restitusi fokus pada solusi.
9. Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.
57
Restitusi
3
58
Restitusi
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
Bertahan hidup
Kasih sayang dan rasa diterima
Penguasaan
Kesenangan
Kebebasan
59
Restitusi
5 Posisi Kontrol Guru
Penghukum
Pembuat rasa bersalah
Teman
Pemantau
Manajer
60
61
Poll
Selama mengajar, posisi kontrol apa yang sering bapak ibu terapkan di sekolah.
Penghukum
Pemberi rasa bersalah
Teman
Pemantau
Manajer
62
Restitusi
Segitiga Restitusi
63
Restitusi
Segitiga Restitusi - Menstabilkan identitas
Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal.
64
Restitusi
Segitiga Restitusi - Menstabilkan identitas
Ketika seseorang merasa sedih dan emosional, mereka tidak bisa mengakses bagian otak yang berfungsi untuk berpikir rasional. Saat itulah ketika kita harus menstabilkan identitas anak. Sebelum terjadi hal-hal lain yang bisa memperburuk keadaan, kita sebaiknya membantu anak untuk tenang dan kembali ke suasana hati dimana proses belajar dan penyelesaian masalah bisa dilakukan.
65
Restitusi
Segitiga Restitusi - Menstabilkan identitas
Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:
Berbuat salah itu tidak apa-apa.
Tidak ada manusia yang sempurna
Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
Kita bisa menyelesaikan ini.
Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
Kamu berhak merasa begitu.
Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?
66
Restitusi
Segitiga Restitusi - Validasi Tindakan yang Salah
Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.
“Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
“Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
“Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
“Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”
67
Restitusi
Segitiga Restitusi - Validasi Tindakan yang Salah
Restitusi tidak menyarankan guru bicara ke murid bahwa melanggar aturan adalah sikap yang baik, tapi dalam restitusi guru harus memahami alasannya, dan paham bahwa setiap orang pasti akan melakukan yang terbaik di waktu tertentu. Sebuah pelanggaran aturan seringkali memenuhi kebutuhan anak akan penguasaan/power walaupun seringkali bertabrakan dengan kebutuhan yang lain, yaitu kebutuhan akan kasih sayang dan rasa diterima/love and belonging. Kalau kita tolak anak yang sedang berbuat salah, dia akan tetap menjadi bagian dari masalah, namun bila kita memahami alasannya melakukan sesuatu, maka dia akan merasa dipahami.
68
Restitusi
Segitiga Restitusi - Menanyakan keyakinan
Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.
Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
Kamu mau jadi orang yang seperti apa?
69
Restitusi
Segitiga Restitusi - Menanyakan keyakinan
Kebanyakkan anak akan mengatakan “Iya,” Tapi mereka tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang seperti itu. Guru dapat membantu dengan bertanya, seperti apa jika mereka menjadi orang seperti itu. ketika anak sudah mendapat gambaran yang jelas tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, guru dapat membantu anak-anak tetap fokus pada gambaran tersebut.
70
Sesi Diskusi
4
Belajar Online Santai
Bareng Kak Re
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 70
SLIDE
Similar Resources on Wayground
62 questions
Lesson 1/10___#1/3
Lesson
•
9th - 10th Grade
68 questions
PENGAYAAN PAI
Lesson
•
9th Grade
62 questions
Materi Teks Deskripsi Kelas 9
Lesson
•
9th Grade
65 questions
Pra PAS Genap PAI Kelas X Semester 2 SMKN 2 Nanga Bulik
Lesson
•
10th Grade
66 questions
PETA, PJ DAN SIG
Lesson
•
10th Grade
62 questions
energi dan perubahnnya
Lesson
•
10th Grade
63 questions
Bahan Buatan Dalam Industri (Aloi)
Lesson
•
10th - 11th Grade
69 questions
potensi bahaya listrik
Lesson
•
10th Grade
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
29 questions
Alg. 1 Section 5.1 Coordinate Plane
Quiz
•
9th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
11 questions
FOREST Effective communication
Lesson
•
KG
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for Instructional Technology
20 questions
-AR -ER -IR present tense
Quiz
•
10th - 12th Grade
10 questions
Cell Organelles and Their Functions
Interactive video
•
6th - 10th Grade
22 questions
El Imperfecto
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
SSS/SAS
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
verbos reflexivos en español
Quiz
•
9th - 12th Grade
14 questions
Making Inferences From Samples
Quiz
•
7th - 12th Grade
23 questions
CCG - CH8 Polygon angles and area Review
Quiz
•
9th - 12th Grade
8 questions
Momentum and Collisions
Lesson
•
9th - 12th Grade