Search Header Logo
untitled

untitled

Assessment

Presentation

Practice Problem

Hard

Created by

Miftahul Fahmi

FREE Resource

5 Slides • 5 Questions

1

Biografi Imam Syafi'i dan Imam Hanbali

kali ini kita akan melanjutkan materi kita tentang minggu lalu yakni;

Menghayati keteladanan sifat-sifat sufistik Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, mengamalkan sikap takwa, wara, zuhud, sabar, dan ikhlash yang mencerminkan sifatsifat kesufian, serta mengevaluasi kisah kesufian dalam kehidupan sehari-hari untuk teladan kehidupan sehari-hari


media

2

Fill in the Blank

Sebutkan 2 nama imam mazhab yang sudah kalian pelajari pada pertemuan sebelumnya!

3

Biografi Imam Syafi'i

Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī atau Muhammad bin Idris asySyafi`i atau Imam Syafi’i adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri madzhab Syafi’i.

Beliau lahir pada tahun 150 H di Gaza, Palestina, pada tahun yang sama wafat Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar Sunni Islam dan beliau wafat pada malam Jum’at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 H atau tahun 809 M pada usia 52 tahun Beliau dinamai ayahnya, Idris bin Abbas ketika mengetahui bahwa istrinya, Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung. Idris bin Abbas berkata, “Jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan aku namakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi’i bin Asy-Syaib”. Ayah Imam Syafi’i meninggal setelah dua tahun kelahirannya, lalu ibunya membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyang. Sejak kecil beliau cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai al-Ashma’i berkata, “Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris, ia adalah imam bahasa Arab”.

Perjalanan pendidikan di Makkah, beliau berguru kepada Muslim bin Khalid Az Zanji, Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin AlAyyadl dan beberapa ulama lainnya pada bidang fikih. Saat usia 20 tahun, beliau pergi ke Madinah dan berguru kepada Imam Malik bin Anas pada bidang fikih. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Beliau sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah. Hal itu terlihat ketika menjadi Imam, beliau pernah menyatakan, “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Selain kepada Imam Malik, beliau juga belajar kepada beberapa ulama besar lainnya di Madinah seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Setelah belajar di Madinah, beliau melanjutkan perjalanan ke Yaman dan melajar kepada Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Kemudian beliau melanjutkan belajarnya kepada Muhammad bin A-lHasan, seorang ahli fiqih, Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi di negeri Irak. Setelah itu beliau bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Makkah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Darinya, beliau menimba ilmu fikihnya, ushul maẓhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis perkataan lamanya (Qaul Qadim) dan di Mesir pada tahun 200 H beliau menuliskan perkataan baru (Qaul Jadid).


media

4

Fill in the Blank

siapa nama asli Imam Syafi'i?

5

Kisah Imam Syafi'i yang perlu diteladani

a. Tidak sewenang-wenang meskipun kepada murid

Suatu hari Imam Syafi’i yang saat itu berada di Mesir memanggil seorang muridnya yang bernama Rabi’ bin Sulaiman. Imam Syafi’i berkata, “Wahai Rabi’, Ini Surahku. Pergilah dan sampaikan Surah ini kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hanbal). Sesampai di sana kamu tunggu jawabannya dan sampaikan padaku”.  Setelah Rabi’ menyampaikannya kemudian Imam Ahmad mencopot salah satu baju gamis yang menempel di tubuhnya dan memberikannya kepada Rabi’. Rabi’ pun kembali ke Mesir dan segera menemui Imam Syafi’i dan memberikan Surah balasan dari Imam Ahmad. Setelah itu Imam Syafi’i bertanya, “Apa yang diberikannya padamu?” Rabi’ menjawab, “Ia memberikan baju gamisnya.” Kemudian Imam Syafi’i berkata, “Aku bukan hendak menyusahkanmu dengan memintamu memberikan baju itu padaku. Namun basuhlah baju itu kemudian berikan air basuhannya padaku agar aku bisa bertabarruk dengannya.” Imam Rabi’ menjelaskan bila Imam Syafi’i menyimpan air tersebut dan menggunakannya untuk cuci muka setiap hari. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan guru dan murid ini tak menghalangi untuk bertabarruk sebagai bentuk pengakuan akan kesalehan dan keilmuan seseorang.

b. Mendamaikan perselisihan

Suatu ketika Ar-Rabi’ sebagai memberikan informasi kepada gurunya, Imam Syafi’i bahwa kondisi di Mesir saat itu terbagi menjadi dua kelompok yang kukuh pada pendapatnya yaitu kelompok penganut Maẓhab Maliki dan kelompok penganut Maẓhab Hanafi. Imam al-Syafi’i pun memiliki niat untuk mendamaikan dua kelompok tersebut. Perselisihan kedua kelompok itu terjadi karena cara pandang dalam menggali hukum yang berbeda. Kelompok Maẓhab Maliki berpendapat bahwa jika suatu persoalan hukum tidak ditemukan dalam al-Quran maka selanjutnya adalah mencari pada hadis Rasulullah Saw baik mutawatir atau pun ahad. Sedangkan kelompok Maẓhab Hanafi berpendapat bahwa setelah al-Qur`an, hadis mutawatir saja yang dapat dijadikan landasan, bila tidak ditemukan maka selanjutnya dengan melakukan ijtihad dengan akal.

Sebagai contoh dalam menentukan bilangan shalat witir.

Kelompok Maẓhab Hanafi berpendapat bilangan witir adalah tiga rakaat dengan satu kali salam. Dalam hal ini ia lebih memilih menggunakan qiyas karena sesuatu yang memiliki persamaan maka hukumnya sama. Menurutnya, shalat maghrib adalah witir siang dengan tiga rakaat, maka shalat witir malam pun disamakan dengan jumlah rakaat yang sama, yakni 3 rakaat dengan 1 salam. Sedangkan kelompok Maẓhab Maliki mengatakan shalat witir harus tersusun dari dua dan satu rakaat. Pendapat ini berbeda dengan kelompok Maẓhab Hanafi yang mendasarkan argumennya pada sebuah hadis yang menyebutkan ganjilnya rakaat shalat witir. Menurut kelompok Maẓhab Maliki, bagaimana bisa diganjilkan jika tidak didahului oleh salat genap (salat dua rakaat) terlebih dahulu.

Imam al-Syafi’i menengahi kedua pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa Rasul salat witir dengan satu rakaat . Oleh karena itu, bilangan rakaat witir adalah cukup satu rakaat.


media

6

Multiple Select

sebutkan teladan dari Imam Syafi'i

1

memerintah seenaknya kepada para muridnya

2

tidak sewenang-wenang terhadap muridnya

3

mendamaikan perselisihan

4

fanatik terhadap satu mazhab

7

Biografi Imam Hanbali

Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal atau Ahmad bin Hanbal lahir di Baghdad, pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H.

Saat masih kanak-kanak, Imam Ahmad bin Hanbal telah ditinggal wafat oleh ayahnya yang gugur dalam pertempuran melawan Bizantium. Sedangkan kakeknya, Hanbal, adalah seorang gubernur pada masa Dinasti Umayyah.

Imam Ahmad menghafal al-Qur`an di usia belia dan mulai mengumpulkan hadis dan mendalami fikih sejak umur 15 tahun sampai umur 19 tahun. beliau mencari ilmu di Baghdad. Setelah belajar di Baghdad, beliau berkelana ke banyak daerah, seperti Kufah, Basrah, Makkah, Madinah, Yaman dan Syam, guna berguru kepada ulama terkemuka setempat.

Beliau pernah belajar kepada para Abu Yusuf, salah satu murid Imam Abu Hanifah, kemudian Abdurazzaq, salah satu generasi pemula penyusun kitab hadis, serta Imam Syafi’i.

Ketika Imam Syafi’i tinggal di Baghdad, Imam Ahmad rajin mengikuti halaqahnya. Kedalaman ilmu fikih dan hadis menjadikannya unggul di majelis Imam Syafi’i. Imam Ahmad juga berjumpa dengan Imam Syafii di dataran Hijaz dan Irak. Imam Syafi’i memuji sosok Imam Ahmad dengan mengatakan, “Aku keluar dari Irak, dan tiada kutemui orang yang lebih mumpuni ilmunya dan zuhud dibandingkan Ahmad bin Hanbal”.

Imam Ahmad bin Hanbal baru menikah pada usia 40 tahun karena kecintaan dan kegigihan beliau terhadap ilmu. Dan Imam Ahmad baru mendirikan majelis di kota Baghdad setelah wafatnya Imam Syafi’i.

Imam Ahmad wafat setelah menderita sakit selama 10 hari, dan meninggal pada siang hari tanggal 22 Rabiul Awal tahun 241 H / 855 M.

media

8

Fill in the Blank

siapa nama asli Imam Hanbali?

9

Kisah Imam Hanbali yang harus diteladani

Imam Ahmad bin Hambal dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan gigih dalam menuntut ilmu.

Pernah ada seseorang yang mempertanyakan kegigihannya itu. Ia berkata, “Sampai kapan engkau terus mencari ilmu pengetahuan? Padahal, engkau kini telah mencapai kedudukan mulia di antara pencari ilmu.”

Kemudian beliau menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat, “Aku akan membawa dawat tinta ini hingga ke liang lahat.”

Pernyataan tersebut mempertegas kegigihannya di dalam mencari ilmu. Artinya, ia tidak akan berhenti mencari ilmu hingga ajal menemuinya.

Pada peristiwa lain ada seseorang datang kepada Imam Ahmad bin Hambal, ia bertanya, “Beritakan kepada kami amalan apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “ Menuntut Ilmu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Bagi siapa?”. Beliau menjawab, “Bagi orang yang benar niatnya.” Sekali lagi orang itu bertanya, “Apa saja yang bisa membenarkan niat itu?” Beliau menjawab, “Dengan meniatkan dirinya agar bisa bertawadhu dan menghilangkan kebodohan darinya.” Selain itu beliau juga menambahkan, “Manusia sangat membutuhkan ilmu daripada kebutuhan makanan dan minuman, sebab makanan dan minuman dibutuhkan sekali dalam sehari atau lebih. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sepanjang masa.”


media

10

Open Ended

Sebutkan teladan dari Imam Hanbali...........

Biografi Imam Syafi'i dan Imam Hanbali

kali ini kita akan melanjutkan materi kita tentang minggu lalu yakni;

Menghayati keteladanan sifat-sifat sufistik Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, mengamalkan sikap takwa, wara, zuhud, sabar, dan ikhlash yang mencerminkan sifatsifat kesufian, serta mengevaluasi kisah kesufian dalam kehidupan sehari-hari untuk teladan kehidupan sehari-hari


media

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 10

SLIDE