Search Header Logo
AGAMA

AGAMA

Assessment

Presentation

History

11th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Dewi Anggraeni

FREE Resource

10 Slides • 0 Questions

1

media

KELOMPOK 9

OLEH : 1.
Muhamma
d Fahrul
2.
Nunul
Firania
3.
Sahliawan
4.
Tenri
Anggriani

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Perkembangan agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah

peradaban dunia. Bahkan pesatnya perkembangan Islam ke Barat dan

Timur membuat peradaban islam dianggap sebagai peradaban yang

paling besar pengaruhnya di dunia. Berbagai bukti kemajuan peradaban

2

media

Islam kala itu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain: 1.

Keberadaan perpustakaan islam dan lembaga-lembaga keilmuan seperti

Baitul Hikmah, Masjid Al-Azhar, Masjid Qarawiyyin dan sebagainya, yang

merupakan pusat para intelektual muslim berkumpul untuk melakukan

proses pengkajian dan pengembangan ilmu dan sains

2. Peninggalan karya intelektual muslim seperti Ibnu Sina, Ibn Haytam,

Imam Syafii, Ar-Razi, Al-Kindy, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun

3. Penemuan-penemuan intelektual yang dapat mengubah budaya dan

tradisi umat manusia, seperti penemuan kertas, karpet, kalender Islam,

penyebutan hari-hari, seni arsitektur dan tata perkotaan

4. Pengarusutamaan nilai-nilai kebudayaan asasi sebagai manifestasi

dari konsep Islam, iman, ihsan, dan taqwa. Islam mendorong budaya

yang dibangun atas dasar silm (ketenangan dan kondusifitas), salam

(kedamaian), salaamah (keselamatan). Sedangkan Iman melahirkan

budaya yang dilandasi amn (rasa aman), dan amaanah (tanggung jawab

terhadap amanah). Akhirnya Ihsan mendorong budaya hasanah

(keindahan) dan husn (kebaikan)

2. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana konstribusi islam dalam pegembangan peradaban dunia?

Bagaimana sumber historis,sosiologis,filosofis,dan teologis kontribusi islam

bagi peradaban duni

B. PEMBAHASAN

1. Menelusuri Pertumbuhan dan Perkembangan Peradaban Islam

Berbicara tentang kontribusi Islam bagi perkembangan peradaban dunia

tentu saja secara inheren akan melekat suatu pembahasan mengenai

sejarah peradaban Islam. Para pengkaji sejarah Islam biasanya membuat

suatu peta sistematis terkait berubah atau berkembangnya peradaban

Islam, yaitu mulai dari peradaban Yunani, peradaban Islam, sampai

kemudian peradaban Barat. Pada masing-masing periode perkembangan

itu mempunyai dimensi peradaban tertentu yang berbeda satu sama lain.

Sebagai Muslim tentu kita ingin mengetahui bagaimana perkembangan

3

media

peradaban Islam itu dan apa sumbangsih islam bagi peradaban dunia.

Perkembangan agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah

peradaban dunia. Bahkan pesatnya perkembangan Islam ke Barat dan

Timur membuat peradaban islam dianggap sebagai peradaban yang

paling besar pengaruhnya di dunia. Berbagai bukti kemajuan peradaban

Islam kala itu dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain:

1. Keberadaan perpustakaan islam dan lembaga-lembaga keilmuan

seperti Baitul Hikmah, Masjid Al-Azhar, Masjid Qarawiyyin dan

sebagainya, yang merupakan pusat para intelektual muslim

berkumpul untuk melakukan proses pengkajian dan pengembangan

ilmu dan sains

2. Peninggalan karya intelektual muslim seperti Ibnu Sina, Ibn Haytam,

Imam Syafii, Ar-Razi, Al-Kindy, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun dan lain

sebagainya.

3. Penemuan-penemuan intelektual yang dapat mengubah budaya dan

tradisi umat manusia, seperti penemuan kertas, karpet, kalender

Islam, penyebutan hari-hari, seni arsitektur dan tata perkotaan

4. Pengarusutamaan nilai-nilai kebudayaan asasi sebagai manifestasi

dari konsep Islam, iman, ihsan, dan taqwa. Islam mendorong budaya

yang dibangun atas dasar silm (ketenangan dan kondusifitas), salam

(kedamaian), salaamah (keselamatan). Sedangkan Iman melahirkan

budaya yang dilandasi amn (rasa aman), dan amaanah (tanggung

jawab terhadap amanah). Akhirnya ihsan mendorong budaya

hasanah (keindahan) dan Husn (kebaikan).

Harun Nasution membagi sejarah Islam menjadi tiga

periode, yaitu periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan

(1250-1800 M), dan periode modern (1800 M-sekarang). Pada

masing-masing periode terdapat perbedaan dimensi yang khas yang

tampil dalam setiap perkembangannya. Periode klasik terbagi

menjadi dua, yaitu masa kemajuan Islam I (650-1000 M) dan masa

disintegrasi (1000-1250 M). Masa ini bisa disebut sebagai awal dari

masa keemasan Islam. Sebelum Nabi Muhammad saw. wafat,

ekspansi Islam telah berhasil menguasai Semenanjung Arabia

4

media

(Arabian Peninsula). Ekspansi ke luar wilayah Arab baru dimulai pada

masa khalifah pertama Abu Bakar AshShiddiq. Selain dalam hal

ekspansi, pada masa Rasulullah saw., Islam merupakan jalan keluar

bagi kerusakan akidah atau tauhid masyarakat Arab. Islam

mengajarkan menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Konsep tauhid Islam inilah yang kemudian sebagai cikal-bakal dari

lahirnya integrasi umat manusia. Misi Rasulullah saw. ialah membawa

kedamaian, persatuan, dan kasih sayang sesama manusia, suatu

misi yang sangat berlawanan bagi kultur dan kebiasaan masyarakat

Arab Jāhiliyah yang selalu mengutamakan kepentingan kelompok

masing-masing. Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

selanjutnya dikembangkan oleh para sahabat. Masa kemajuan Islam

I (bagian dari periode klasik) ini ditandai oleh adanya sejarah empat

sahabat Nabi Muhammad yang dalam kajian Islam akrab disebut

sebagai Khulafā`ur Rāsyidīn, yaitu Abu Bakar (menjabat sebagai amīr

al-mu‟minīn tahun 632-634 M), Umar bin Khattab (634-644 M),

Utsman bin Affan (644- 656 M), dan Ali bin Abi Thalib (656-661 M).

Pada masa ini Islam mulai tersebar di luar wilayah Semenanjung

Arab. Terjadi penaklukan-penaklukan Islam terhadap beberapa

wilayah, seperti Damaskus, Mesir, Irak. Palestina, Syiria, dan Persia.

Pergerakan

dari

“kerajaan”

Khulafā`ur

Rāsyidīn

selanjutnya

diteruskan oleh Dinasti Umayyah (661-750 M). Ekspansi penyebaran

Islam semakin luas pada zaman ini. Daerah-daerah yang dikuasai

Islam pada masa ini adalah Syiria, Palestina, Afrika Utara, Irak,

Semenanjung Arabia, Persia, Afghanistan, dan Asia Tengah

(Pakistan, Turkmenistan, Uzbekistan,kirgistan). Di samping itu, pada

masa ini juga ditandai dengan berkembangnya kebudayaan Arab.

Determinasi dari Khalifah Abdul Malik dengan perubahan bahasa

administrasi dari bahasa Yunani dan bahasa Pahlawi ke bahasa Arab,

membuat masyarakat semakin menaruh perhatian terhadap bahasa

Arab. Penyair-penyair Arab-baru bermunculan pada masa ini, seperti

Qays bin Al-Mulawwah (w. 699 M), Jamil Al-Udhri (w. 701 M), Al-

Akhtal (w. 710 M), Umar bin Abi Rabi‟ah (w. 719 M), Al-Farazdaq (w.

5

media

732 M), dan Jarir (w. 792 M). Tidak hanya itu, perhatian dalam bidang

tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam juga hadir pada masa ini.

Peradaban Islam semakin maju dengan perpindahan kekuasaan dari

dinasti Bani umayya ke dinasti bani Abbasiyah. Pusat kota kerajaan

Bani Abbasiyah terletak di Baghdad menggantikan kota Damaskus

pada masa Dinasti Umayyah. Perpindahan ibu kota kerajaan ini

dilakukan oleh Khalifah Al-Manshur (754-775 M). Pada tahun 775 M

kepemimpinan Al-Manshur digantikan oleh Khalifah Al-Mahdi (775-

785). Pada zaman ini perekonomian negara mulai meningkat dengan

berkembangnya bidang pertanian dan pertambangan.

Pada masa Bani Abbasiyah perhatian terhadap ilmu

pengetahuan mulai tumbuh, khususnya pada masa kepemimpinan

Harun Al-Rasyid (785-809 M) dan Al-Ma‟mun (813-833). Perhatian

terhadap ilmu pengetahuan ini ditandai dengan penerjemahan

bukubuku yang berbahasa Yunani dan Bizantium ke dalam bahasa

Arab. Untuk kegiatan menerjemahkan buku-buku ini, Khalifah Al-

Ma‟mun mendirikan Bait al-Hikmah. Di antara cabang-cabang ilmu

pengetahuan yang diutamakan dalam Bait al-Hikmah ini adalah ilmu

kedokteran, fisika, geografi, astronomi, optik, sejarah, dan filsafat.

Pada masa kemajuan Islam ini terdapat integrasi dari beberapa

cabang ilmu pengetahuan. Dalam ilmu kedokteran, terkenal nama

ArRazi yang di Eropa dikenal dengan nama Rhazes. Karya-karyanya

di bidang kedokteran diterjemahkan ke dalam bahasa Latin untuk

digunakan di Eropa. Selain Ar-Razi, yang tidak kalah masyhur dan

terkenal adalah Ibnu Sina seorang filsuf sekaligus dokter. Ia menulis

satu ensiklopedia dalam ilmu kedokteran berjudul Al-Qānūn fī

AthThibb (Canon of Medicine). Buku ini digunakan di Eropa sampai

pertengahan kedua dari abad XVII. Integrasi juga terjadi dalam bidang

bahasa, kebudayaan, astronomi, optik, ilmu kimia, geografi, dan

filsafat. Yang menarik, pada periode ini pula ilmu-ilmu keagamaan

dalam Islam mulai disusun. Dalam bidang penyusunan hadis terkenal

nama Imam Bukhari dan Muslim. Dalam bidang fikih, terkenal nama

Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi‟i, dan Imam

6

media

Ahmad bin Hanbal. Imam Ath-Thabari terkenal dalam bidang tafsir

dan Ibnu Hisyam terkenal dalam bidang sejarah. Perumusan konsep

teologi dihadirkan oleh Washil bin Atha‟, Ibnu Huzail Al-Allaf dan

lainlain dari golongan Muktazilah. Adapun dari Ahlu Sunnah, terkenal

Abu Hasan Al-Asy‟ari dan Al-Maturidi. Dalam bidang tasawuf,

terdapat nama Abu Yazid Al-Busthami, Husain bin Mansur Al-Hallaj,

dan sebagainya. Periode ini merupakan masa peradaban Islam yang

tertinggi dari periode-periode sebelumnya.

Dalam perkembangan selanjutnya Islam mengalami

disintegrasi politik dan perpecahan di kalangan umat yang

menyebabkan Islam mundur dari pentas atau panggung peradaban

dunia. Ditambah dengan upaya diterjemahkannya buku-buku ilmu

pengetahuan dan filsafat karangan para ahli dan filsuf Islam ke dalam

bahasa Eropa pada abad ke-12 M, menandai berakhirnya fase

kemajuan Islam I (650-1000 M). Periode ini disebut dengan masa

disintegarsi (1000-1250 M). Masa ini ditandai dengan adanya

kerajaan-kerajaan independen yang ingin memisahkan diri dari

kepemimpinan seorang khalifah. Disintegrasi politik tersebut yang

menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam. Selanjutnya

adalah periode pertengahan (1250-1800 M). Pada zaman ini tidak

ada perkembangan yang berarti bagi peradaban Islam, kecuali hanya

sedikit. Perkembangan itu pun hanya bersifat memperluas kekuasaan

Islam ke dalam beberapa wilayah, seperti di Mesir, India, Persia,

Turki, dan lain-lain. Rekaman sejarah yang paling terlihat dan dikenal

masyarakat pada umumnya pada zaman ini adalah penaklukan

Konstantinopel dari Kerajaan Bizantium pada tahun 1453 M oleh

Sultan Muhammad Al-Fatih (1451-1481 M). Pada zaman ini terdapat

tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Utsmani di Turki, Kerajaan Safawi

di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Masing-masing dari kerajaan

ini tidak memperlihatkan kontribusi bagi peradaban Islam secara

signifikan. Peperangan demi peperangan bahkan sering terjadi pada

masa tiga kerajaan besar ini untuk menguasai wilayah tertentu.

Disintegrasi politik pada masa ini terlihat semakin besar dibandingkan

7

media

dengan masa Bani Abbasiyah dan sekaligus menandai berakhirnya

perkembangan peradaban Islam. Pada saat Islam sibuk dengan

merespon konstelasi perpolitikan yang rumit itu, di Barat mulai

tumbuh kesadaran untuk menaruh perhatian lebih terhadap ilmu

pengetahuan. Oleh karena itu, umat Islam tidak hanya berdiam diri

melihat kegemilangan dunia Barat, tetapi membuat pola perubahan

kiblat pengetahuan dari yang sebelumnya berkiblat kepada

peradaban Yunani, menjadi berkiblat kepada peradaban Barat. Masa

ini disebut dengan periode modern (1800 M - Sekarang). Pada masa

ini bisa disebut juga sebagai masa kebangkitan dunia Islam. Sejumlah

tokoh Islam melakukan pembaruan pemikiran Islam atau modernisasi

dalam Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam. Beberapa tokoh

pembaru itu di antaranya seperti di Mesir terkenal nama Muhammad

Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin AlAfghani. Di India pembaruan

dilakukan oleh Sir Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali dan

Muhammad Iqbal. Ide pembaruan itu sampai masuk ke Indonesia dan

dikembangkan

oleh

K.H

Ahmad

Dahlan

dari

organisasi

Muhammadiyah dan oleh KH Hasyim Asy‟ari dari Nahdhatul ulama.

2. Menanyakan

Faktor

Penyebab

Kemajuan

dan

Kemunduran

Peradaban Islam

Pada sebuah artikel berjudul Science and Islam in Conflict yang

diterbitkan dalam majalah Discover Magazine tahun 2007 dikatakan

bahwa di seluruh penjuru dunia meskipun ada perbedaan budaya dan

bahasa, ilmu dan sains berkembang bertolak dari konsep-konsep dan

dasar-dasar ilmiah, kecuali dunia Islam yang menjadikan Al-Qur‟an

sebagai induk ilmu pengetahuan. Pernyataan tersebut mengindikasikan

seakan-akan ilmu-ilmu Islam bukanlah ilmu-ilmu yang ilmiah. Pernyataan

di atas seolah-olah semakin memperoleh penguatan disebabkan secara

empirik kehidupan beberapa masyarakat muslim di beberapa negara

yang diidentikkan dengan Islam menunjukan keadaan yang tidak baik.

Dinamika peradaban Islam dipengaruhi oleh konteks sosial, politik,

budaya, dan agama yang melekat di dalamnya. Peradaban Islam pada

masa awal / klasik, pertengahan, sampai modern memiliki nuansa atau

8

media

pentingnya kontribusi Bani Umayyah dalam peradaban Islam, Bani

Abbasiyah sebagai dinasti yang secara resmi menggantikan kekhalifahan

Bani Umayyah tersebut juga banyak memberikan kontribusi bagi

peradaban Islam. Era ini bahkan sering disebut-sebut sebagai masa

kemajuan Islam. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abu Al-Abbas Ash-

Shafah pada tahun 750 M. Kerajaan ini berkuasa selama lima abad dari

tahun 750 M. sampai tahun 1258 M.

Masa kejayaan Bani Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun Al-

Rasyid dan anaknya Al-Ma‟mun. Pada masanya ilmu pengetahuan

agama dan ilmu pengetahuan umum berkembang pesat. Perkembangan

ilmu agama meliputi, pembukuan sejumlah bidang agama, yaitu fikih,

tafsir, hadis, kalam, dan tasawuf. Adapun bidang ilmu pengetahuan

umum meliputi filsafat, ilmu kedokteran, ilmu astronomi, farmasi, geografi,

sejarah, dan bahasa. Kemajuan ini disebabkan pada orientasi peradaban

yang diarahkan pada kemajuan ilmu pengetahuan, dan bukan pada

ekspansi perluasan wilayah. Kemajuan peradaban Islam pada masa Bani

Abbasiyah ini ditentukan setidaknya oleh dua faktor, yaitu terjadinya

asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang telah

mengalami perkembangan ilmu pengetahuan, dan adanya gerakan

penerjamahan buku-buku kebudayaan Yunani ke dalam bahasa Arab.

Keterbukaan Islam terhadap peradaban bangsa lain membuat Islam

semakin maju dan tinggi dalam hal peradaban. Masa kejayaan Islam itu

selanjutnya mulai memudar seiring runtuhnya kerajaan Bani Abbasiyah.

Akhir kekuasaan Dinasti Abbasiyah (1000-1800 M) merupakan periode

pertengahan, saat menyurutnya kontribusi Islam bagi kemajuan

peradaban. Hal ini dikarenakan pada masa ini umat Islam hanya sibuk

dengan urusan perang untuk mempertahankan sekaligus merebut

kekuasaan. Prestasi dalam hal ekspansi wilayah pada masa ini adalah

ditaklukkannya Konstatinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih di bawah

Kerajaan Turki Utsmani pada tahun 1453 M. Namun, ini hanya

merupakan keberhasilan Islam dalam hal perluasan wilayah kekuasaan,

tetapi tidak dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan. Walaupun

demikian, penting untuk dicatat bahwa terdapat Dinasti Umayyah di

9

media

Spanyol yang dapat memberikan hasil nyata bagi peradaban Islam.

Dinasti Umayyah di Spanyol didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil yang

ketika itu melarikan diri ke Spanyol dari serbuan Bani Abbasiyah. Ad-

Dakhil selanjutnya berhasil mendirikan Dinasti Umayyah di Spanyol. Pada

periode ini, umat Islam di Spanyol mulai memperoleh kemajuan dalam

bidang intelektual, politik, kebudayaan, agama dan bidang-bidang

lainnya. Beberapa intelektual terkenal muncul pada periode ini seperti

Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Ibnu Batuthah, dan lain-lain. Kemajuan Islam

di Spanyol berdampak pada perkembangan peradaban di Eropa. Tokoh

Spanyol yang sangat berpengaruh dalam kemajuan intelektual di Eropa

adalah Ibnu Rusyd, yang dikenal di Eropa dengan sebutan Averroes

(1120-1198 M). Averroes merupakan seorang filsuf yang menganjurkan

kebebasan berpikir dan ingin melepaskan belenggu taklid dari umat

Islam. Pengaruh Averroes sangat besar bagi kemajuan peradaban di

Eropa sehingga di Eropa melahirkan reformasi pada abad ke-16 dan

rasionalisme pada abad ke-17 M. Beberapa buku karya Ibnu Rusyd

dicetak dan diterbitkan di Eropa pada abad ke-14-17 M. Bukan hanya

karya-karya Ibnu Rusyd saja yang dicetak dan diterbitkan di Eropa,

melainkan juga karyakarya ilmuwan muslim lainnya. Pengaruh peradaban

Islam masuk ke Eropa bermula dari banyaknya para pelajar Kristen Eropa

yang menimba ilmu di pelbagai Universitas Islam di Spanyol, seperti

Universitas Cordoba, Sevilla, Malaga, Granada, dan Samalanca. Selama

mereka belajar, nereka juga aktif menerjemahkan buku karya ilmuwan

muslim. Pusat penerjemahan itu dilakukan di Toledo. Masa peradaban

Islam di Spanyol sekaligus merupakan masa transisi dari kemajuan

peradaban di Eropa, sampai kemudian mundurnya Islam di Spanyol.

Kehancuran peradaban Islam di Spanyol menandai berhentinya

kemajuan peradaban Islam. Samsul Munir Amin, sebagaimana dikutip

Badri Yatim, menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan

kehancuran Islam di Spanyol, yaitu adanya konflik penguasa Islam

dengan penguasa Kristen, tidak adanya ideologi pemersatu, kesulitan

ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan, letaknya yang

terpencil dari pusat wilayah dunia islam yang lain.

10

media

3.Menggali Sumber Historis, Sosiologis, Filosofis dan Teologis

Kontribusi Islam bagi Peradaban Dunia

Mulyadhi Kartanegara dalam Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam

menuliskan bahwa ada tiga faktor yang mendorong perkembangan ilmu

di dunia Islam pada saat kejayaan umat Islam. Ketiga faktor tersebut

adalah (1) faktor agama dan ramifikasinya, (2) apresiasi masyarakat

terhadap ilmu, dan (3) patronase [perlindungan dan dukungan] para

dermawan dan penguasa terhadap kegiatan ilmiah. Kelompok pertama

diharapkan menggali dan menghimpun informasi tentang perkembangan

ilmu-ilmu humaniora, kelompok dua menggali dan menghimpun informasi

tentang perkembangan sains, sedangkan kelompok tiga diharapkan

menghimpun berbagai informasi terkait dengan perkembangan seni.

Montgomerry Watt seorang orientalis terkemuka menyatakan bahwa

dalam sejarah perkembangannya, Islam mampu membuktikan sikap

terbuka sehingga proses asimilasi kebudayaan dapat berlangsung baik.

Dalam memadukan peradaban Yunani, Romawi, dan Persia dengan

peradaban Arab yang dilandasi spirit Islam telah dihasilkan peradaban

baru yang memiliki wajah dan nilai Islami, yang belum pernah ada

sebelumnya. Apresiasi Islam terhadap kebebasan akal dan memberi

ruang untuk melakukan kerja ilmiah begitu besar. Yang terjadi setelah

masa Khulafā`ur Rāsyidīn berakhir, aktivitas intelektual di kalangan Islam

tidak dimonopoli oleh umat Islam saja. Keterbukaan Islam ini sungguh

merupakan kontribusi konkret dalam perkembangan peradaban umat

manusia selanjutnya. Peradaban Islam memiliki warnanya sendiri karena

pada dasarnya umat Islam mencoba melakukan hal baru dengan cara

mempelajari ilmu pengetahuan secara universal. Umat Islam kala itu tidak

membuat tembok tebal antara Islam dengan nonIslam. Ketika ingin

mempelajari peradaban dan juga kearifan (alhikmah) yang ada di negeri-

negeri selain daratan Arabia, umat Islam tidak memandang sumber dan

asal mereka dapatkan. Peradaban Islam akhirnya berkembang dan

menjadi harapan baru. Ini adalah kontribusi penting dari kemajuan

peradaban dunia saat ini. Menurut Nurcholish Madjid dalam Tradisi Islam:

Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia, kreativitas akan

media

KELOMPOK 9

OLEH : 1.
Muhamma
d Fahrul
2.
Nunul
Firania
3.
Sahliawan
4.
Tenri
Anggriani

A. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Perkembangan agama Islam sejak 14 abad silam turut mewarnai sejarah

peradaban dunia. Bahkan pesatnya perkembangan Islam ke Barat dan

Timur membuat peradaban islam dianggap sebagai peradaban yang

paling besar pengaruhnya di dunia. Berbagai bukti kemajuan peradaban

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 10

SLIDE