Search Header Logo
Modul Bahasa Indonesia 12 (Peminatan)

Modul Bahasa Indonesia 12 (Peminatan)

Assessment

Presentation

World Languages

12th Grade

Hard

Created by

S'QUEST S'QUEST

FREE Resource

23 Slides • 0 Questions

1

media

BINDO MINAT KELAS XII

Materi Pembelajaran 3.1

SEMINAR DAN DISKUSI PANEL

A. SEMINAR

1. Memahami Pengertian Seminar
Seminar merupakan suatu pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di
bawah pimpinan ketua sidang (guru besar atau seseorang ahli). Pertemuan atau persidangan
dalam seminar biasanya menampilkan satu atau beberapa pembicaraan dengan makalah atau
kertas kerja masing-masing. Seminar biasanya diadakan untuk membahas suatu masalah
secara ilmiah. Yang berpartisipasi pun orang yang ahli dalam bidangnya. Seminar tentang
pemasaran suatu produk, tentu dihadiri oleh para pakar bidang pemasaran. Seminar
pendidikan tentu saja dihadiri oleh para ahli pendidikan. Sementara itu, peserta berperan
untuk menyampaikan pertanyaan, ulasan, dan pembahasan sehingga menghasilkan
pemahaman tentang suatu masalah.
Tidak berarti bahwa kelas tidak bisa menyelenggarakan seminar. Di kelas bisa pula
diselenggarakan seminar. Yang penting bahwa kita mencoba membahas suatu masalah
dengan argumen-argumen yang logis, tidak emosional. Para pembicaranya pun menggunakan
gagasan, pendapat, tanggapan, pembahasan secara ilmiah pula. Lalu ada seotang pemrasaan
yang menyajikan makalah.

2. Menyelenggarakan Seminar
Dalam menyelenggarakan seminar kelas, susunlah terlebih dahulu organisasi
peleksanaannya. Seorang yang lain ditugasi sebagai pembahas khusus dari makalah yang
disajikan. Seorang ditugasi sebagai moderator. Guru sebagai narasumber dan satu atau dua
orang bertugas sebagai notulis yang bertugas menyusun laporan.
Seminar bukan diadakan untuk menetapkan suatu keputusan terhadap masalah yang
dibicarakan. Seminar hanya membahas cara pemecahan masalah.
Karena inti dari sebuah seminar merupakan sebuah diskusi, laporan seminar pun merupakan
laporan hasil diskusi. Oleh karena itu, laporan seminar hendaknya berisi hal-hal yang penting
saja.
Susunan acara seminar dapat dibuat seperti berikut.
a. Laporan ketua.
b. Penyajian ketua.
c. Pembahasan oleh pembahas.
d. Diskusi.
e. Penyimpulan.
f. Penutup.

3. Menyusun Laporan Hasil Seminar
Laporan hasil seminar pada dasarnya sama dengan laporan hasil diskusi, terutama
sistematiknya. Yang berbeda ialah materinya, yaitu bahan- bahan yang dilaporkan.

B. Diskusi Panel
1. Memahami Pengertian Diskusi Panel
Diskusi panel adalah bentuk umum yang dilakukan oleh sekelompok orang (yang disebut
panelis) yang membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum dan dilaksanakan
dihadapan khalayak, penonton (lewat tayangan televisi), atau pendengar (lewat siaran radio).
Dalam diskusi panel, khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat.

2

media

Pelaksanaan diskusi panel dipandu oleh seorang moderator dan dapat dibantu oleh notulis.
Dari sebuah diskusi panel anda akan memperoleh informasi yang dapat memperkaya
pengetahuan kita tentang suatu masalah atau topik dari beberapa titik pandang yang berbeda.
Pokok-pokok pembicaraan merupakan bagian penting yang dapat diuraikan dalam suatu
pembicaraan. Bagian penting itu bisa berupa gagasan atau pokok permasalahan.
Pelaksanaan diskusi panel dimulai dengan pembahasan masalah oleh panelis. Pada panelis
menyampaikan gagasannya secara bergiliran. Mereka mendiskusikan masalah yang diajukan
hingga menghasilkan kesimpulan. Ketua diskusi yang memandu jalannya diskusi merangkum
hasil diskusi, kemudian mempersilahkan peserta dan pendengar untuk memberikan
komentar.

2. Menyusun Laporan Diskusi Panel
Laporan diskusi panel dibuat setelah diskusi selesai dilaksanakan. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam penyusunan laporan hasil diskusi panel sama dengan laporan diskusi
lainnya. Laporan sebaiknya tersusun atas bagian pendahuluan, bagian uraian pelaksanaan,
serta bagian penutup yang mencakup kesimpulan dan saran.

Bagian pendahuluan laporan harus meliputi

a. Latar belakang pelaksanaan diskusi panel;
b. Tujuan diskusi panel;
c. Persiapan-persiapan diskusi panel;

Bagian uraian atau isi laporan meliputi

a. Pelaksanaan diskusi panel (hari, tanggal, waktu, dan tempat);
b. Peserta yang mengikuti diskusi panel;
c. Hasil diskusi panel;
d. Jalannya diskusi panel;

Bagian penutup meliputi

a. Kesimpulan hasil diskusi panel;
b. Hal-hal yang disarankan dalam diskusi panel;

Lampiran-lampiran dapat berupa

a. Surat izin pelaksanaan diskusi panel (jika diskusi panel dilaksanakan secara resmi dan
luas);
b. Proposal penyelenggaranya diskusi panel;
c. Makalah-makalah yang didikusikan;
d. Susunan panitia penyelenggaraan;
e. Ringkasan makalah;
f. Daftar hadir peserta.

3. Mengajukan Pertanyaan dalam Diskusi
Diskusi merupakan suatu pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah yang dilakukan
secara bersama-sama, atas dasar pertimbangan intelektual. Asas yang mendasari kegiatan
diskusi adalah asas berpikir dan bersama.
Dengan berpegang pada dua asas tersebut, diharapkan agar rumusan simpulan yang
diperoleh dapat dipertanggungjawabkan karena sudah dikaji berdasarkan pemikiran banyak

3

media

orang. Dengan demikian, keterlibatan seluruh peserta secara aktif dalam kegiatan diskusi
merupakan tuntutan utama.
Untuk dapat bertindak menjadi peserta yang baik dalam sebuah diskusi, kita harus tahu betul
masalah yang didiskusikannya. Peserta diskusi harus dapat pula menangkap uraian yang
dikemukakan pembicara agar dapat menanggapinya dengan baik.
Salah satu bentuk tanggapan terhadap pembicara dalam diskusi di antaranya mengajukan
pertanyaan. Dalam hal itu, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Pertanyaan diajukan dengan jelas dan mengenai sasaran, jangan berbelit-belit;
b. Pertanyaan diajukan dengan sopan, hindarkan agar pertanyaan tidak dikemukakan dalam
bentuk perintah atau permintaan; dan
c. Usahakan supaya pertanyaan tidak ditafsirkan sebagai bantahan atau debat.

4. Memberikan Kritikan dan Dukungan dalam Diskusi
Memberikan tanggapan terhadap suatu pendapat berarti memberikan persetujuan atau
ketidaksetujuan kita terhadap pendapat itu. Dalam menyatakan persetujuan atau pendapat
pembicara, kita harus memperkuatnya dengan menambahkan bukti atau keterangan. Dalam
menyampaikan persetujuan, usaha agar komentar yang diberikan tidak berlebihan, berikan
pula alasan yang masuk akal kemudian kemukakan pendapat sendiri dengan alasan yang
meyakinkan.
Dalam memberikan kritikan dan sanggahan, tentunya terdapat tata krama yang harus ditaati
agar diskusi itu berjalan dengan baik.

5. Menyampaikan Gagasan dalam Diskusi
Diskusi adalah pertukaran pikiran, gagasan, atau pendapat antara dua orang atau lebih secara
lisan untuk mencari kesatuan pikiran. Gagasan adalah pemikiran mengenai sesuatu sebagai
pokok atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya. Menyampaikan gagasan berarti
menyampaikan pemikiran atau ide kepada orang lain. Gagasan dapat diperoleh dari hasil
pengamatan lapangan, penelitian, dan hasil kajian. Gagasan yang disampaikan seorang dapat
memancing tanggapan dan pertanyaan.
Diskusi merupakan suatu pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah yang dilakukan
secara bersama-sama, atas dasar pertimbangan intelektual. Asas yang mendasari kegiatan
diskusi adalah asas berpikir dan bersama.
Dengan berpegang pada dua asas tersebut, diharapkan agar rumusan simpulan yang
diperoleh dapat dipertanggungjawabkan karena sudah dikaji berdasarkan pemikiran banyak
orang. Dengan demikian, keterlibatan seluruh peserta secara aktif dalam kegiatan diskusi
merupakan tuntutan utama.
Sebaiknya sebelum mengadakan diskusi, kita harus menetapakan gagasan atau topik diskusi.
Gagasan merupakan pedoman yang menjadi fokus pembicaraan dalam dikusi.

6. Mengemukakan Gagasan Secara Jelas dan Mudah Diikuti
Untuk mengemukakan gagasan secara jelas maka kita perlu memiliki efektivitas berfikir, kita
harus mempergunakan inti atau fokus kalimat yang sama. Jika kita ingin menggabungkan dua
atau lebih kalimat atau klausa menjadi satu kalimat majemuk setara atau satu kalimat
majemuk bertingkat maka kita harus memperhatikan fokus dalam penggabungkan tersebut,
lebih-lebih pada kalimat majemuk bertingkat. Fokus dalam kalimat majemuk bertingkat harus
terdapat dalam induk kalimat. Jadi, penulis harus memperhatikan mana dari dua kalimat yang
hendak digabungkan itu menjadi fokus.

C. TATA KRAMA PENYAJI DAN PESERTA
Adapun tata krama dalam seminar ataupun diskusi panel diantaranya adalah,
Tata krama penyaji atau pemrasaran yaitu:

4

media

a. Menyiapkan makalah yang sesuai dengan topik dan landasan pemikiran yang akurat;
b. Menyampaikan makalah secara berurutan, singkat, dan jelas;
c. Menerima kritik dan saran dari berbagai pihak;
d. Menjawab pertanyaan dengan objektif.
Tata krama peserta yaitu
a. Mempelajari makalah;
b. Bersikap sopan;
c. Menjaga kelancaran rapat/ diskusi;
d. Tidak berbicara pada waktu seminar/ diskusi;
e. Apabila materi yang disampaikan belum selesai hendaknya jangan ada yang bertanya, bila
ingin bertanya ada waktunya yaitu sesi pertanyaan;
f. Apabila peserta ingin bertanya sebaiknya peserta sebelum berbicara mengangkat tangan
atau mengacungkan jari. Bila pemandu sudah mempersilahkan barulah berbicara;
g. Menyampaikan pertanyaan dengan singkat dan jelas.

Format Laporan Kegiatan Seminar (menghadiri seminar)
1. Nama Sekolah dan Alamat

Hal pertama yang harus dituliskan dalam laporan kegiatan seminar adalah nama sekolah,
tempat di mana kamu belajar; sekolah yang meminta laporan pertanggung jawaban dalam
bentuk laporan hasil seminar. Jangan lupa cantumkan juga alamatnya.

2. Nama Kegiatan Seminar

Tuliskan tema seminar yang kamu ikuti. Biasanya tema seminar jelas sekali terpampang di
dalam spanduk yang dipasang panitia. Lihat saja.

3. Waktu Pelaksanaan Seminar

Tuliskan waktu pelaksanaan seminar dengan lengkap; hari, tanggal, tahun, dan jam.

4. Tempat Seminar

Tuliskan tempat di mana seminar tersebut diadakan secara lengkap. Kalau tidak tahu, bisa
ditanyakan ke panitia.

5. Tujuan Seminar

Di poin ini ada 2 pendapat yang berbeda. Ada yang kemudian meyatakan bahwa tujuan
seminar ini dimaksudkan pada ‘untuk apa seminar ini diadakan’ sehingga kamu harus
bertanya pada panitia seminar mengenai hal ini. Pendapat yang kedua adalah bahwa tujuan
seminar ini dimaksudkan pada ‘untuk apa saya mengikuti seminar ini’ sehingga kita bisa
menuliskannya secara pribadi.

6. Materi Seminar

Di poin ini, tuliskan siapa pembicara / pemateri yang menyampaikan informasi di seminar,
lalu kemudian tuliskan apa yang dia katakana secara ringas; singkat, padat, jelas, namun

5

media

mudah dimengerti dan kuat untuk dipertanggung jawabkan. Dalam artian, apa yang dituliskan
meskipun ringkas dapat mewakili semua yang dikatakan pemateri pada saat acara seminar.

7. Tindak Lanjut

Di poin ini, kamu, sebagai peserta seminar, haruslah paham langkah selanjutnya yang harus
dilakukan dalam rangka mengimplementasikan / mengaplikasikan ilmu yang di dapat dalam
seminar yang diikuti. Biasanya dituliskan dengan poin-poin penting saja.

8. Dampak

Tuliskan dampak / akibat yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan seminar tersebut.

9. Penutup

Seperti biasa, penutup hanya bertuliskan ‘Demikian laporan kegiatan seminar ini kami buat
….’ dst. Sampai dengan tanda tangan yang mengikuti seminar.

Format Laporan Kegiatan Seminar (mengadakan seminar)
1. Cover Laporan

Seperti biasa, seperti laporan-laporan lain, laporan kegiatan seminar dalam hal membuat /
mengadakan juga diawali dengan cover laporan yang menuliskan nama instansi, alamat, dan
tema seminar yang diadakan.

2. BAB 1: Pendahuluan

Terdiri dari:

Kata Pengantar

Latar Belakang: Menjelaskan dasar / dalil utama kenapa kegiatan seminar tersebut
diadakan

Maksud dan Tujuan: Menjelaskan secara detail (poin-poin) alasan dan apa yang
hendak dicapai dalam mengadakan kegiatan seminar tersebut

Tema Kegiatan: Tuliskan tema kegiatan seminar yang kamu adakan

Waktu Kegiatan: Ini cukup jelas

Tempat Kegiatan: Ini juga cukup jelas

Sasaran Kegiatan Seminar: Tuliskan sasaran peserta yang diharapkan untuk hadir
dalam kegiatan seminar tersebut

Susunan Panitia: Tuliskan semua orang yang terlibat dalam kepanitiaan inti. Bagian
ini dibuat terlampir saja

3. BAB 2: Pelaksanaan Kegiatan

Terdiri dari:

Rundown Acara: Tuliskan rencana awal dan realisasi dari rundown yang telah dibuat.
Maksudnya bila di rundown tertulis jam sekian materi anu, tetapi pada kenyataannya
molor, maka dituliskan di sini

6

media

Narasumber dan Tema Materi yang Dibawakan: Tuliskan nama narasumber yang
menjadi pembicara beserta tema yang mereka bawakan dalam kegiatan seminar
tersebut

Anggaran Dana: Bagian ini dibuat terlampir saja

4. BAB 3: Hasil Kegiatan

Terdiri dari:

Gambaran Umum: Tuliskan situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan pada saat
kegiatan seminar berlangsung

Laporan Evaluasi Panitia: Tuliskan apa yang menjadi kendala di tiap-tiap divisi
panitia dalam menjalankan tugasnya

5. BAB 4: Kesimpulan dan Saran

Terdiri dari:

Kesimpulan: Ya … kesimpulan dari kegiatan seminar yang diadakan, tuliskan di
bagian ini

Saran: Berisi solusi dari kendala yang dialami saat melaksanakan kegiatan seminar,
mulai dari persiapan sampai acara kegiatan seminar itu selesai

6. Lampiran

Bagian terakhir ini berisi lampiran-lampiran yang harus disisipkan guna kelengkapan
informasi laporan kegiatan, biasanya susunan kepanitian dan anggaran dana yang dipakai /
habis dalam kegiatan seminar tersebut.

7

media

Lampiran

Materi Pembelajaran

Laporan Kegiatan adalah sebuah laporan hasil kegiatan, yang biasa nya dibuat setelah kegiatan
tersebut berlangsung. Laporan kegitan biasa dibuat oleh peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.

Pembuatan laporan kegiatan sendiri dimaksudkan sebagai bukti tanggungjawab seorang pelaksana
kegiatan kepada sang pemberi mandat terhadapat hasil kegiatan yang telah diikuti.

Pentingnya Laporan Kegiatan

Laporan kegiatan sangat penting sebagai bukti tanggungjawab peserta kegiatan tentang kegiatan
yang telah di ikuti kepada sang atasan. Nah, untuk itu seberapa penting laporan kegiatan wajib
dibuat :
1. Sebagai dasar untuk pengembangan rencana selanjutnya.
2. Sebagai penentuan kebijakan atasan
3. Sebagai bukti laporan kegiatan yang telah di laksanakan
4. Untuk mengetahui proses dan perkembangan kegiatan yang di ikuti.

Jenis - jenis Laporan Kegiatan


- Dilihat dari segi penyampaian laporan :

1.Laporan lisan, adalah jenis laporan kegiatan yang bentuk penyampainnya secara langsung

(lisan) kepada atasan. Bentuk laporan ini biasa di laporan atau dilakukan secara langsung
dengan tatap muka, wawancara, telpon, dan lainnya.

2.Laporan tulisan, adalah jenis laporan kegiatan yang bentuk penyampainnya secara tulisan.

-Dilihat dari segi tata bahasa :

1.Laporan dengan tata bahasa populer, biasanya menggunakan tata bahasa yang sederhana,

kadang juga di selingi dengan kata-kata humor/lucu.

2.Laporan dengan tata bahasa ilmiah, biasa dilihat sebagai hasil penilitian. Dan biasa

menggunakan tata bahasa yang logis dan sistematis. Secara sistematis laporan kegiatan yang
anda tulis harus mengandung unsur di bawah ini :
- Apa (What)
- Mengapa (Why)
- Siapa (Who)
- Dimana (Where)
- Kapan (Bagaimana)
- Bagaimana (How)

Nah, jika semua unsur diatas telah anda ketahui maka anda sudah bersiap untuk mengetik
atau membuat sebuah laporan kegiatan. Maka berikut ini adalah urutan tata cara pembuatan
sebuah laporan kegiatan :

1. Pendahuluan

Latar belakang kegiatan

Dasar hukum kegiatan

8

media

Maksud dan tujuan kegiatan

Ruang lingkup

2. Isi Laporan

Jenis kegiatan

Tempat dan waktu

Petugas kegiatan

Persiapan dan rencana kegiatan

Peserta kegiatan

Kesulitan dan hambatan

Hasil kegiatan

Kesimpulan dan saran

3. Penutup


Penutup dari isi laporan biasa dituliskan ucapan terima kasih kepada yang pemberi mandat sehingga
sang penerima mandat dapat mengikuti kegiatan tersebut dan telah berlangsung dengan baik apa
adanya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan laporan kegiatan

Singkat dan padat

Tidak menggunakan kata-kata yang berteleh-teleh.

Sistematis

Mudah di pahami

Isi lengkap

Menarik penyajiannya

Fakta dan akurat

Tepat waktu

demikian sedikit tentang tatacara pembuatan laporan dan bagian-bagiannya. laporan kegiatan ini
bisa digunakan pada siswa yang telah melakukan kegiatan seperti study tour, PPL, Prakerin dan
kegiatan kegiatan lainnya.
semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua.

Ragam Bahasa Laporan
Pemakaian bahasa dalam Laporan
1.Penulisan huruf capital

Huruf capital dipakai pada awal nama bangsa, suku bangsa, nama bahasa, nama tahun,

namabulan, nama hari(hari raya), peristiwa sejarah, dan nama geografi.bangsa Indonesia, suku
Bugis, bahasa Makassar, nama tahun Hijriah/Masehi, bulan Agustus, hariJum‟at, hari
Lebaran,proklamasi Kemerdekaan Indoesia, nama Geografis seperti Danau Toba,Gunung
Lompobattang, Selat Makassar, Teluk Bone, Sungai Saddang, Danau Tempe

2.Penulisan Kata

Kata turunan,yaitu dua kata atau lebih yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, dan

ituditulis gabung atau serangkai.Contoh: tidak adil = ketidakadilan, tidak puas = ketidakpuasan,
tindak lanjut =menindaklanjuti, bhineka tunggal ika = kebinekatunggalikaan.-
Unsur kombinasi

9

media

Antarkota, antardaerah, antikarat, antivuruz, antibocor, antikorupsi, antipecah,mancanegara,

pancasila, pascasarjana, prajabatan, prakualifikasi, mahadewa, mahaguru,mahakarya, mahaesa,
mahasiswa,-
Kata depan di dan ke

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, contoh :

dipinggir danau, di rumah, di atas meja,ke kampus, ke angkasa, ke mars, ke bulan, ke surga,-
Kata ganti ku,dan kan

kataganti ku dan kau di tulis gabung dengan kata yang mengikutinya, contoh : apa

yangkumiliki kauambil semuanya-
Partikel Perdan Pun

Partikel perditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya yang berarti

„demi‟,mulai‟,‟setiap‟, „melalui‟ contoh : masuk satu per satu (satu demi satu), masuk per
Oktober,anda bisa hubungi saya per telpon.Makan pun tak enak tidur pun tak nyeyak.

3.Pemakaian tandabaca-Tanda titik-Tanda koma
Kalimat Fakta dan Opini

Fakta adalah suatu hal yang benar-benar sesuai kenyataan dan memiliki bukti. Contoh: Objek

wisata Lawang Sewu berada di kota Semarang. Ciri-ciri kalimat fakta:
a. Sesuai kenyataan
b. Bersumber dari kejadian atau peristiwa di sekitar kita dan bersifat faktual.
c. Kebenaran dapat dibuktikan sesuai dengan kejadian.
d. Kejadian sudah rejadi dan biasanya disertai dengan waktu kejadian.
e. Pengungkapan dalam bentuk kalimat berita atau pernyataan.

Opini berarti pikiran, pendapat, perkiraan, atau anggapan seseorang tentang suatu hal. Contoh:

Menurut pemerintah, kurikulum 2013 akan membantu meniangkatkan kualitas pendidikan di
Indonesia.

Ciri-ciri opini:

a. Sumber berdasarkan hasil pemahaman seseorang.
b. Kebenaran opini bersifat relatif, bergantung pada kebenaran fakta dan pemahaman.
c. Kejadian belum pasti dan biasanya diawali dengan kalimat, “menurut saya”, “sepertinya”,
“saya rasa” sebagai bentuk pendapat pribadi.
d. Informasi belum terbukti kebenaran.
e. Penggunaan dalam kalimat berita atau pernyataan.
Fakta dan opini seringkali muncul dalam laporan kegiatan jenis tuturan lisan. Kita dapat
membedakan antara kalimat fakta dan opini dalam suatu laporan kegiatan dengan memperhatikan
ciri-cirinya.

10

media

Lampiran

Materi Pembelajaran

ARTIKEL ILMIAH

A.PENGERTIAN ARTIKEL

1. Artikel ilmiah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai

karya tulis lengkap. Misalnya laporan berita atau essai dalam majalah atau surat kabar.

2. Artikel ilmiah menurut Ilmu Pengetahuan adalah artikel yang memenuhi kaidah ilmu

pengetahuan. Misalnya artikel yang bertema seni dan budaya.

3. Artikel ilmiah adalah karangan yang dihasilkan melalui proses penelitian lapangan atau

pemikiran konseptual yang berlandaskan kajian kepustakaan yang ditebitkan dalam jurnal

ilmiah

4. Artikel imiah juga dapat diartikan sebagai hasil berpikir ilmiah yang didasarkan pada

rencana yang relatif matang karena akan memudahkan penulis untuk mewujudkan teks

artikel.

5. Selain itu, artikel juga merupakan suatu representasi hasil pemikiran penulis atau suatu

obyek kajian kepada pembaca melalui bahasa tulis dengan mengikuti sistematika dan kaidah

penulisan ilmiah.

6. Artikel ilmiah, bisa ditulis secara khusus, bisa pula ditulis berdasarkan hasil penelitian

semisal skripsi, tesis, disertasi, atau penelitian lainnya dalam bentuk lebih praktis. Artikel

ilmiah dimuat pada jurnal-jurnal ilmiah. Kekhasan artikel ilmiah adalah pada penyajiannya

yang tidak panjang lebar tetapi tidak megurangi nilai keilmiahannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian artikel yang telah disebutkan di atas maka dapat

disimpulkan bahwa artikel adalah hasil pemikiran manusia yang dituangkan dalam bentuk

tulisan melalui proses penelitian lapangan atau konsepstual dengan mengikuti sistematika

dan kaidah penulisan ilmiah.

B.MANFAAT MENULIS ARTIKEL ILMIAH

1. Memperoleh pengakuan profesional dari kalangan profesinya

2. Memperdalam penguasaan bidang ilmu

3. Memperlancar peningkatan karir akademik atau jabatan fungsionalnya

4. Berpartisipasi dalam penyebaran dan pengembangan ilmu.

C.SYARAT DAN CIRI ARTIKEL ILMIAH

11

media

1. Ciri artikel bagus:

a. Aktual

b. Akurat

c. Cukup panjang dan bagus

d. Mempunyai gambar-gambar sebagai ilustrasi lengkap.

2. Syarat-syarat artikel yang baik:

a. Mengandung masalah

b. Topik harus spesifik, sehingga dapat dengan mudah diuraikan atau dijelaskan. Semakin

spesifik suatu topik, semakin mudah bagi penulis untuk menyelesaikannya.

c. Semua gagasan harus bisa dipertanggungjawabkan dengan mengikutsertakan alasan,

bukti, dan contoh.

d. Panjang artikel antara 3-5 halaman.

e. Sebuah artikel hendaknya menyertakan alternatif pemecahan persoalan atau

menyertakan harapan, usul ataus saran kepada pembaca.

D.LANGKAH-LANGKAH PENULISAN ARTIKEL ILMIAH

1. Pengembangan Gagasan

Gagasan adalah substansi isi artikel ilmiah, sehingga gagasan pada artikel ilmiah pada

hakikatnya adalah suatu proses pengembangan isi artikel. Gagasan yang dikemukakan dalam

artikel ilmiah adalah gagasan berpikir ilmiah. Kualitas artikel ilmiah sebagai suatu gagasan

yang layak ditampilkan dalam jurnal harus mempertimbangkanbobot permasalahan, urgensi

gagasan, keaslian gagasan. Kemutakhiran gagasan, kedalaman penggarapan, pengungkapan

gagasan, ragam bahasa, dan teknis penulisan. Pengembangan gagasan artikel ilmiah dalam

jurnal dilakukan untuk menjabarkan gagasan dasar artikel pada berbagai tingkat, yaitu ada

tingkat artikel, tingkat bagian artikel, dan tingkat paragraf.

2. Perencanaan Naskah

Perencanaan penulsian naskah meliputi isi artikel, perencanaan format, dan tehnik

penulisan serta perencanaan bahasa.

a. Perencanaan Isi Artikel

Dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahapan gagasan artikel, tahapan gagasan bagian

artikel, dan tahapan paragraph dalam artiekl.

Perencanaan format yang umum diikuti oleh penulis meliputi:

12

media

1) Organisasi/sistematika artikel ilmiah

2) Tehnik penulisan yang mencakp teknik perujukan, penampilan tekstual, dan visual.

3) Teknik engetikan yang mencakup pengaturan identitas, spasi, dan tata letak, format

khusus merupakan cirri penebit.

3. Perencanaan Bahasa

Perencanaan bahasa penulisan artikel ilmiah diwujudkan dalam pemilihan ragam

bahasa yang akan digunakan.

4. Pengembangan Paragraf

Paragraf adalah satuan teks yang terkecil yang berisi suatu bgagasan dasar dalam

pembentukan gagasan yang lebih besar.

5. Penulisan Draf (Konsep)

Peulisan lkonsep artikel ilmiah merupakan proses pengungkapan butir–butir gagasan

yang sudah tertata secara sicara sitematis. Pengungkapan gagasan tidak selalu bersifat verbal,

yaitu pengungkapan dengan kata, frase, kalimat, dan untaian kalimat, tetapi juga dapat

diungkapkan secara visual. Misalnya dalam bentuk tabel, diagram, figurasi, polygon dan lain-

lain.

6. Penulsian Akhir (Finalisasi)

Proses yang umum dilakukan oleh penulis dalam penulisan naskah artikel ilmiah

adalah melakukan perbaikan. Sebelum melakukan perbaikan naskah akan melakukan

pemeriksanaan ulang terhadap konsep artikel ilmiah, baik isi, ejaan, tanda baca, serta teknik

penulisan.

E.JENIS-JENIS ARTIKEL ILMIAH

1. Artikel Ilmiah Hasil Penelitian

Adalah tulisan ilmiah yang didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan.

Artikel ini disusun sedemikian rupa sehingga tetap menampilkan semua aspek laporan hasil

penelitian, tetapi dalam format yang lebih ringkas.

2. Artikel Ilmiah Non Penelitian

Adalah artikel-artikel hasil pemikiran yang relevan, hasil penelitian terdahulu,

disamping teori yang dapat digali dari buku-buku teks.

Artikel ilmiah non penelitian mencakup semua jenis artikel ilmiah yang bukan

merupakan laporan hasil penelitian:

a. menelaah suatu teori

b. mengembangkan suatu model

13

media

c. mendeskripsikan fakta atau fenomena tertentu

d. menilai suatu produk/publikasi

e. cara penyajiannya di dalam jurnal sangat bervariasi.

Selain itu, artikel non penelitian dapat juga dikategorikan menjadi dua jenis:

1) ARTIKEL ULASAN

Artikel yang mengevaluasi secara kritis suatu tulisan yang telah diterbitkan dengan

cara mengkaji kemajuan penelitian mutakhir untuk memberikan penjelasan tentang

permasalahan yang dikemukakan dalam tulisan tersebut

2) ARTIKEL TEORITIS

a. Mengajukan suatu teori berdasarkan hasil-hasil penelitian sebelumnya

b. Memperluas dan memperhalus definisi konstruk-konstruk dalam teori berdasarkan

telaah tentang perkembangan teori tersebut

c. Penulis dapat mengajukan suatu teori baru atau menganalisis teori yang ada dengan

menyebutkan kelemahan dan keunggulan teori tersebut dibandingkan dengan teori lainnya

d. Penulis artikel teoritis juga dapat mengkaji konsistensi teori tersebut secara internal dan

eksternal. Yakni, apakah teori tsb secara internal ada kontradiksi atau apakah teori tersebut

berkontradiksi dengan hasil-hasil penelitian yang ada

Tulisan ilmiah/artikel ilmiah juga dapat dikelompokkan menjadi dua jenis utama, yaitu

1)Artikel Analitik

Artikel analitik merupakan hasil penelitian

tentang suatu topik tertentu, yang

merestrukturisasi dan menyajikan bagian-bagian dari topik tersebut dilihat dari sudut

pandang penelitinya. Artikel analitik diawali oleh suatu pertanyaan penelitian (research

question).

Peneliti melakukan tahap pencarian tentang topik spesifik tertentu, dimana peneliti belum

mengambil kesimpulan apapun. Peneliti melakukan pencarian informasi dan meneliti hal-hal

yang ada pada lingkup topik yang dipilih, apakah sebelum atau sesudah peneliti akrab dengan

topik tersebut. Peneliti melakukan penelusuran dan pemikiran kritis berikut evaluasi

terhadap sumber-sumber yang dimilikinya. Pada akhir artikel, peneliti mengkontribusikan

pemikirannya sebagai bahan diskusi akademis. Kontribusi ini merupakan hasil analisis yang

dinyatakan dalam pernyataan kesimpulan.

2) Artikel Argumentatif (Persuasif)

Artikel argumentatif merupakan hasil penelitian tentang suatu topik tertentu, yang

memposisikan terhadap suatu permasalahan tertentu, dan dengan menggunakan bukti / fakta

yang diperoleh menyatakan sikap penelitiannya. Artikel argumentatif diawali oleh suatu tesis

14

media

penelitian. Pengertian tesis di sini adalah pernyataan yang didukung oleh argumen-argumen

untuk dikemukakan. Biasanya tesis tersebut sudah dinyatakan pada suatu paragraf pada

bagian pendahuluan artikel.

Berangkat dari tesis, peneliti melakukan pembuktian atau penunjukkan fakta dan

menghubungkannya satu sama lain dalam kerangka yang logis, sehingga diperoleh suatu

konklusi yang dapat dipertanggungjawakan. Konklusi dari penelitian ini biasanya berupa

suatu generalisasi atau proposisi. Kebanyakan artikel ilmiah berupa artikel argumentatif.

Berdasarkan kedua hal di atas, maka tulisan ilmiah, apakah dalam bentuk buku, laporan,

ataupun artikel ilmiah pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tulisan analitik atau

tulisan argumentatif.

Bagian pengenalan berisi hal-hal yang bersifat informatif. Ada dua jenis bagian pengenalan,
yaitu yang bersifat umum–ada pada semua jenis karya ilmiah—dan yang bersifat khusus--
hanya dimiliki jenis karya ilmiah tertentu. Bagian pengenalan artikel ilmiah terdiri atas judul,
nama penulis, abstrak, dan kata kunci.

Judul adalah identitas tulisan yang utama. Syarat judul karya ilmiah adalah (1) mencerminkan
isi karangan, (2) berupa pernyataan, (3) jelas, dan (4) mencerminkan jenis artikel ilmiah.
Mencerminkan isi karangan berarti apa yang akan diuraiakan dalam artikel tersebut sudah
dapat diraba dari judulnya. Berupa pernyataan berarti judul tidak boleh berupa kalimat—
harus berupa frasa atau klausa—dan tidak boleh berupa pertanyaan. Jelas berarti hanya
memiliki satu maksud atau tidak dapat ditafsirkan lain. Mencerminkan jenis artikel ilmiah
artinya melalui judul tersebut pembaca akan dengan mudah mengetahui artikel tersebut
sebagai artikel penelitian atau artikel konseptual.

Nama penulis sering disebut baris kepemilikan. Ada beberapa model penulisan baris
kepemilikan, bergantung kepada gaya selingkung jurnalnya. Ada nama penulis yang disertai
instansi, ada pula yang tidak. Penulisan nama penulis hendaknya dilakukan dengan
menanggalkan pangkat, kedudukan, dan gelar akademik. Jika penulis bernama Drs. H. Imam
Bulpiri, M.Sc., misalnya, dalam artikel ilmiah cukup kita tulis Imam Bulpiri. Pangkat,
kedudukan, dan gelar dapat dicantumkan dalam catatan kaki atau lampiran–jika ada biografi
pengarang. Jika nama penulis lebih dari satu, keseluruh nama harus dicantumkan; dalam arti
tidak boleh diganti dengan dkk. (dan kawan-kawan)..

Abstrak adalah ringkasan tulisan. Dengan membaca abstrak orang akan tahu isi secara
singkat karya ilmiah tersebut. Oleh karena itu, dalam abstrak harus tercakupi seluruh bagian
isi karangan, dari pendahuluan sampai penutup (ada alasan, permasalahan, kajian pustaka,
metode, hasil dan pembahasan, serta simpulan –untuk artikel ilmiah dari hasil penelitian—
dan harus ada latar belakang, permasalahan, pembahasan, dan penutup--untuk artikel ilmiah
yang bersifat konseptual). Penekanan isi abstrak ada pada hasil pembahasan. Pada umumnya
abstrak disajikan dalam satu paragraf dengan menggunakan tidak lebih dari 200 kata. Untuk
istilah abstrak, ada yang membedakannya dengan ringkasan. Abstrak diartikan lebih pendek
daripada ringkasan. Dalam hitungan angka, jika abstrak biasanya tidak lebih dari 200 kata,
maka untuk ringkasan bisa sampai pada 500 kata. Sementara itu, ada orang yang

15

media

menyamakan kedua istilah tersebut. Istilah lain yang biasanya disamakan dengan abstrak
atau ringkasan adalah sari.

Kata kunci adalah kata-kata atau istilah yang dianggap penting dan mutlak harus diketahui
pembaca dalam sebuah artikel ilmiah. Kata kunci biasanya diambil dari kata atau istilah yang
terdapad dalam judul. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan kata kunci kita ambil
dari isi karangan. Jumlah kata kunci biasanya berkisar antara 3 dan 5.

Batang tubuh adalah isi artikel ilmiah yang sebenarnya. Secara umum bagian batang tubuh
terbagi menjadi tiga, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Bagian
pendahuluan setidaknya berisi latar belakang masalah dan rumusan masalah. Bagian isi berisi
persoalan-persoalan inti atau materi inti yang ingin disajikan. Untuk artikel penelitian, bagian
isi berupa landasan teori, metodologi, dan hasil dan pembahasan. Landasan teori berisi teori-
teori atau konsep-konsep yang dipergunakan dalam membahas masalah, bagian metodologi
berisi pendekatan yang digunakan, metode, sasaran, populasi dan sampel, serta langkah-
langkah analisis data; dan bagian hasil dan pembahasan berisi hasil kajian masalah yang
diangkat. Untuk artikel konseptual, bagian isi berisi konsep-konsep dan bahasan masalah

Bagian penutup biasanya berupa simpulan dan saran (untuk artikel penelitian) dan simpulan
atau penekanan (untuk artikel konseptual).

Bagian paling akhir dalam artikel ilmiah adalah bagian kepustakaan. Bagian ini berisi daftar
pustaka yang digunakan. Jika dalam jenis karya ilmiah lain masih memungkinkan ada
lampiran, dalam artikel ilmiah tidak ada.
Pengertian Kohesi dan Koherensi

Mengenai pengertian kohesi dan koherensi sebenarnya tidak terlihat perbedaan yang nyata,

karena pengertian kedua istilah tersebut sering disamakan dan sering dipertukarkan pemakaiannya.
Kedua pengertian tersebut saling menunjang, saling berkaitan, ibarat dua sisi pada satu mata uang.

Kohesi memiliki pengertian yaitu hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam

strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976 : 26 dalam Tarigan, 2009
: 93). Untuk dapat memahami wacana dengan baik, diperlukan pengetahuan dan penguasaan kohesi
yang baik pula, yang tidak saja bergantung pada pengetahuan kita tentang kaidah-kaidah bahasa,
tetapi juga kepada pengetahuan kita mengetahui realitas, pengetahuan kita dalam proses penalaran,
yang disebut penyimpulan sintaktik (Van de Velde, 1984 : 6 dalam Tarigam, 2009 : 93). Kita dapat
mengatakan bahwa suatu teks atrau wacana benar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian
secara bentuk bahasa terhadap konteks (Tarigan, 2009 : 93).

Sedangkan untuk pengertian koherensi itu sendiri adalah pengaturan secara rapi kenyataan dan

gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga kita mudah memahami pesan
yang dikandungnya (Wohl, 1978 : 25 dalam Tarigan, 2009 : 100). Pengertian yang lain menyatakan
bahwa koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat
yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren. Sehingga,
fakta yang tidak berhubungan sekalipun dapat menjadi berhubungan ketika seseorang
menghubungkannya. Koherensi merupakan elemen wacana untuk melihat bagaimana seseorang
secara strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau peristiwa (Teun A. Van
Dijk dalam Eriyanto, 2001 : 242).

B.Sarana-sarana Kohesi

Kohesi yaitu hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal

maupun dalam strata leksikal. Dalam strata gramatikal Halliday dan Hasan pada tahun 1976
mengemukakan sarana-sarana kohesif yang terperinci dalam karya mereka yang berjudul Cohesion
in English. Mereka mengelompokkan sarana-sarana kohesif itu ke dalam lima kategori, yaitu :
1.Pronomina (kata ganti)

16

media

Salah satu sarana kohesif yaitu pronomina atau kata ganti. Kata ganti tersebut dapat berupa kata

ganti diri, kata ganti penunjuk, dan lain-lain.

Kata ganti diri dapat berupa :
Saya, aku, kita, kami ;
Engkau, kamu, kau, kalian, anda ;
Dia, mereka.
Contoh :

Ani, Berta, dan Clara sedang duduk-duduk di beranda depan rumah Pak Dadi. Mereka sedang

asyik berbincang-bincang. ....

Kata ganti penunjuk dapat berupa ini, itu, sini, situ, sana, di sini, di sana, ke sini, ke situ, ke sana.
Contoh :

Ini rumah kami. Kami tinggal di sini sejak tahun 1962. Tamu-tamu dari Sumatera sering datang

ke sini dan menginap beberapa lama di sini.

Kata ganti empunya dapat berupa –ku, -mu, -nya, kami, kamu, kalian, mereka.
Contoh :

Anakku, anaknya melanjutkan pelajaran di Jakarta. Anakmu kuliah di mana? Anak kami sama-

sama kuliah di Universitas Indonesia. ...

Kata ganti penanya berupa apa, siapa, mana.
Contoh :
Apa yang kamu cari di sini?
Siapa yang kamu pilih menjadi temanmu?
.........


Kata ganti penghubung berupa yang.
Contoh :

Kita hidup bermasyarakat, hidup tolong-menolong. Yang pintar mengajari yang bodoh. Yang

kaya menolong yang miskin. ......

Kata ganti tak tentu berupa siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, para.
Contoh :

Siapa-siapa yang turut berdarmawisata ke Pantai Pangandaran ditentukan oleh Kepala Sekolah

kami. Kepada para pengikut diberikan sesuatu yang sangat menggembirakan. ....

2.Substitusi (penggantian)

Substitusi adalah proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan

yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur
tertentu (Kridalaksana, 1984 : 185 dalam Tarigan, 2009 : 96). Substitusi merupakan hubungan
gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dapat bersifat nominal, verbal,
kalausa, atau campuran, misalnya satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu,
melakukan hal yang sama.
Contoh :

Saya dan paman masuk ke warung kopi. Paman memesan kopi susu. Saya juga mau satu.

Keinginan kami rupanya sama. .....

3.Elipsis

Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari

konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984 : 45 dalam Tarigan, 2009 : 97). Elipsis
dapat pula dikatakan penggantian atau sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan.

17

media

Contoh :

Indah dan Gery senang sekali mendaki gunung sebagai sport utama mereka. Justru Fries dan

Ninon sebaliknya, mereka senang memancing. .....




4.Konjungsi

Konjungsi adalah penggabungan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa,

kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf (Kridalaksana, 1984 : 105 dalam Tarigan, 2009 :
97). Konjungsi dapat berupa :
a)Konjungsi adversatif : tetapi, namun
b) Konjungsi klausal : sebab, karena
c) Konjungsi koordinatif : dan, atau, tetapi
d) Konjungsi korelatif : entah, baik, maupun
e) Konjungsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
f)Konjungsi temporal : sebelum, sesudah

5.Leksikal

Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosakata yang serasi. Ada beberapa cara untuk

mencapai aspek leksikal kohesi ini, antara lain :
a)Pengulangan (repetisi) kata yang sama : pemuda – pemuda
b)Sinonim : pahlawan – pejuang
c) Antonim : putra – putri
d) Hiponim : angkutan darat (kereta api, dll)
e) Kolokasi : buku, koran, majalah
f) Ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, dll

C.Jenis-jenis Sarana Koherensi

Koherensi merupakan pertalian atau jalinan antar kata, atau kalimat dalam teks. Koherensi ini

merupakan salah satu elemen wacana yang di pergunakan untuk menjelaskan suatu fakta atau
peristiwa (Teun A. Van Dijk, dalam Eryanto, 2001 : 242).

Sarana koherensi paragraf dapat berupa penambahan, seri, prononima, pengulangan,

sinonim, keseluruhan, kelas, penekanan, komparasi, kontras, simpulan, contoh, kesejajaran, lokasi,
dan waktu (F. J. D‟Angelo dalam Tarigan, 2009 : 101). Berikut penjabarannya.

Sarana penghubung yang bersifat adiktif atau berupa penambahan itu, antara lain : dan, juga, lagi,

pula, dll.

Contoh :

Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, juga para tamu turut bekerja bergotong royong

menumpas hama tikus di sawah-sawa di desa kami. .......

Sarana penghubung rentetan atau seri adalah pertama, kedua, .... berikut, kemudian, selanjutnya,

akhirnya.
Contoh :

Pertama-tama kita semua harus mendaftarka diri sebagai anggota perkumpulan. Kedua, kita

membayar uang iuran. Berikutnya kita mengikuti segala kegiatan, baik berupa latihan maupun
kursus-kursus.

Sarana penghubung yang berupa kata ganti diri, kata ganti petunjuk, dan lain-lainnya.

Contoh :

Ini rumah saya, itu rumah kamu. Saya dan kamu mendapat hadiah dari pimpinan

perusahaan. Rumah kita berdekatan. Kita bertetangga. Rumah Lani dan rumah Mina di seberang
sana. Mereka bertetangga. ....

18

media

Penggunaan sarana koheresi wacana yang berupa sinonim atau padanan kata (pengulangan kata).

Contoh :

Memang dia mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Solo. Pacarnya itu memang cantik,

halus budi bahasa, dan bersifat keibuan sejati. .....

Penggunaan repitisi atau pengulangan kata sebagai sarana koherensif wacana.

Contoh :

Dia mengatakan kepada saya bahwa kasih sayang itu berada dalam jiwa dan raga sang ibu.

saya menerima kebenaran ucapan itu. Betapa tidak, kasih sayang pertama saya peroleh dari ibu. ....

Penggunaan sarana koherensif dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kita beralih atau

memperkenalkan bagian-bagiannya. Hal ini memang sesuai dengan salah satu dimensi yang harus
dipenuhi dalam penyususnan kurikulum atau silabus pengajaran bahasa. Kita mulai dari bagian
yang lebih besar ke bagian yang lebih kecil; dari bagian yang umum menuju bagian yang khusus.
Tentu hal ini bergantung pada tujuan dan tingkat kelas para siswa.
Contoh :

Saya membeli buku baru. Buku itu terdiri dari tujuh bab. Setiap bab terdiri pula dari

sejumlah pasal. Setiap pasal tersusun dari beberapa paragraf. Seterusnya setiap paragraf terdiri
dari beberapa kalimat. .....

Sarana koherensif wacana yang mulai dari kelas ke anggota.

Contoh :

Pemerintah berupaya keras meningkatkan pehubungan darat, laut, dan udara. Dalam bidang

perhubungan darat telah digalakkan pemanfaatan kereta api dan kendaraan bermotor. Kendaraan
bermotor ini meliputi mobil, sepeda motor, dan lain-lain.

Dengan sarana penekanan pun kita dapat pula menambah tingkat kekoherensifan wacana.

Contoh :

Bekerja bergotong royong itu bukan pekerjaan sia-sia. Nyatalah kini hasilnya. jembatan

sepanjang tujuh kilometer yang menghubungkan kampung kita ini dengan kampung di seberang
Sungai Lau Biang ini telah sekali kita kerjakan dengan AMD (Abri Masuk Desa). Jelaslah
hubungan antara kedua kampung berjalan lebih lancar.

Komparasi atau perbandingan dapat menambah serta meningkatkan kekoherensifan wacana.

Contoh :

Sama halnya dengan Paman Lukas, kita pun harus segera mendirikan rumah di atas tanah

yang baru kita beli. Sekarang rumah Paman Lukas itu hampir selesai. Mengapa kita tidak membuat
hal yang serupa selekas mungkin? ....

Kontras atau pertentangan para penilis dapat menambah kekoherensian karyanya.

Contoh :

Aneh tapi nyata. Ada teman saya seangkatan, namanya Joni. Dia rajin sekali belajar, tetapi

setiap tentamen selalu tidak lulus. Harus mengulang. Namun demikian, dia tidak pernah putus asa.
Dia tenang saja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan sebaliknya, dia semakin belajar. Sampai-sampai
larut malam dia membaca. Tanpa keluhan apa-apa. Akhirnya tentamen semua lulus juga. Dia
menganut falsafah “biar lambat asal selamat.” Kini dia telah menyelesaikan studinya dan diangkat
menjadi guru SMA di Prabumulih.

Dengan kata-kata yang mengacu kepada hasil atau simpulan, kita dapat juga meningkatkan

kekoherensifan wacana.
Contoh:

Pepohonan telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus

kami. Burung-burung beterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara sejuk dan
nyaman. Jadi penhijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah kini keadaan kampus kami.
.......

Dengan pemberian contoh yang tepat dan serasi, kita dapat pula menciptakan kekoherensifan

wacana:
Contoh:

19

media

Wajah pekarangan atau halaman rumah di desa kami telah berubah menjadi warung hidup.

Di perkarangan itu ditanam kebutuhan dapur sehari-hari; umpamanya: bayam, tomat, cabai,
singkong, dan lain-lain. ....

Penggunaan kesejajaran atau paralelisme klausa sebagai saran kekorensifan wacana.

Contoh :

Waktu dia datang, memang saya sedang asyik membaca, saya sedang tekun mempelajari

buku baru mengenai wacana. Karena asyiknya, saya tidak mengetahui, saya tidak mendengar
bahwa dia telah duduk di kursi mengamati saya. ...

Sedangkan untuk aneka sarana keutuhan wacana dari segi makna menurut (Harimurti

Kridalaksana (1978) dalam Tarigan, 2009 : 105) antara lain : hubungan sebab-akibat, hubungan
alasan-akibat, hubungan sarana-hasil, hubungan sarana-tujuan, hubungan latar-kesimpulan,
hubungan hasil-kegagalan, hubungan syarat hasil, hubungan perbandingan, hubungan parafrastis,
hubungan amplikatif, hubungan aditif temporal, hubungan aditf nontemporal, hubungan
identifikasi, hubungan generik-spesifik, dan hubungan ibarat. Berikut penjelasanya.

Hubungan sebab-akibat untuk menciptakan keutuhan wacana.

Contoh :

Pada waktu mengungsi dulu sukar sekali mendapatkan beras di daerah kami. Masyarakat

hanya memakan singkong sehari-hari. Banyak anak yang kekurangan vitamin dan gizi. Tidak
sedikit yang lemah dan sakit.

Hubungan alasan-akibat.

Contoh :

Saya sedang asyik membaca majalah Kartini. Tiba-tiba saya kepingin benar makan colenak dan

minum bajigur. Segera saya menyuruh pembantu saya membelinya ke warung di seberang jalan
sana. Saya memakan colenak dan bajigur itu dengan lahapnya. Nikmat sekali rasanya.

Hubungan sarana-hasil.

Contoh :

Penduduk di sekitar Kampus Bumisiliwangi yang mempunyai rumah atau kamar yang akan

disewakan memang berusaha selalu menyenangkan para penyewa. Jelas banyak sekali para
mahasiswa yang tertolong, lebih-lebih yang berasal dari luar Bandung dan luar Jawa. Apalagi
sewanya memang agak murah dan dekat pula ke tempat kuliah. Sangat efisien.

Hubungan sarana-tujuan.

Contoh :

Dia belajar dengan tekun. Tiada kenal letih siang malam. Cita-citanya untuk menggondol gelar

sarjana tentu tercapai ppaling lama dua tahun lagi. Di samping itu istrinya pun tabah sekali
berjualan. Untungnya banyak juga tiap bulan. Keinginannya untuk membeli gubuk kecil agar
mereka tidak menyewa rumah lagi akan tercapai juga nanti.

Hubungan latar-kesimpulan.

Contoh :

Pekarangan rumah Pak Ali selalu hijau. Pekarangan itu merupakan warung hidup dan apotek

hidup yang rapi. Selalu diurus baik-baik. Agaknya Bu Ali pandai mengatur dan menatanya.
Rupanya Bu Ali pun bertangan dingin pula menanam dan menguus tanaman.

Hubungan hasil-kegagalan.

Contoh :

Kami tiba di sini agak subuh dan menunggu agak lama. Ada kira-kira dua jam lamanya. Meeka

tidak muncul-muncul. Mereka tidak menepati janji. Kami sangat kecewa dan pulang kembali
dengan rasa dongkol.

Hubungan syarat-hasil.

Contoh :

20

media

Seharusnyalah penduduk desa kita ini lebih rajin bekerja, rain menabung di KUD. Tentu saja desa

kita lebih maju dan lebih makmur dewasa ini. Dan seterusnya pula kita menjaga kebersihan desa
ini. Pasti kesehatan masyarakat desa kita lebih baik.

Hubungan perbandingan.

Contoh :

Sifat para penghuni asrama ini sangat beraneka raga,. Wanitanya rajin belajar. Prianya lebih

malas. Wanitanya mudah diatur. Prianya agak bandel.

Hubungan parafrastis.

Contoh :

Kami tidak menyetujui penurunan uang makan di asrama ini karena dengan bayaran seperti yang

berlaku selama ini pun kuantitas dan kualitas makanan dan pelayanan tidak bisa ditingkatkan.
Sepantasnyalah kita menambahi uang bayaran bulan kalau kita mau segala sesuatunya bertambah
baik. Seharusnyalah kita dapat berpikir logis.

Hubungan amplikatif.

Contoh :

Perang itu sungguh kejam. Militer, sipil, pria, wanita, tua dan muda menjadi korban peluru. Peluru

tidak dapat membedakan kawan dan lawan. Sama dengan pembunuh. Biadab, kejam, dan tidak
kenal perikemanusiaan. Sungguh ngeri.

Hubungan aditif temporal.

Contoh :

Paman menunggu di ruang depan. Sementara itu saya menyelesaikan pekerjaan saya. Kini

pekerjaan saya sudah selesai. Saya sudah merasa lapar. Segera saya mengajak Paman makan di
kantin. Sekarang saya dan paman dapat berbicara santai sambil makan.

Hubungan aditif nontemporal.

Contoh :

Orang itu malas bekerja. Duduk melamun saja sepanjang hari. Berpangku tangan. Bagaimana bisa

mendapat rezeki? Bagaimana bisa hidup berkecukupan. Tanpa menanam, menyiangi, menumbuk,
serta menumpas hama, bagaimana bisa memperoleh panen yang memuaskan, bukan? Agaknya
orang itu tidak menyadari hal ini.

Hubungan identifikasi.

Contoh :

Kalau orang tuamu miskin, itu tidak berarti bahwa kamu tidak mempunyai kemungkinan

memperoleh gelar sarjana. Lihat itu, Guntur Sibero. Dia anak orang miskin yang berhasil mencapai
gelar doktor, dan kini sudah diangkat menjadi profesor di salah satu perguruan tinggi di Bandung.

Hubungan generik-spesifik.

Contoh :

Abangku memang bersifat sosial dan pemurah. Dia pasti dan rela menyumbang paling sedikit satu

juta rupiah buat pembangunan rumah ibadah itu.

Hubungan ibarat.

Contoh :

Memang suatu ketakaburan bagi pemuda papa dan miskin itu untuk memiliki mobil dan gedung

mewah tanpa bekerja keras memeras otak. Kerjanya hanya melamun dan berpangku tangan saja
setiap hari. Di samping itu dia berkeinginan pula mempersunting putri Haji Guntur yang bernama
Ruminah itu, jelas dia itu ibarat pungguk merindukan bulan. Maksud hati memeluk gunung, apa
daya tangan tak sampai.

21

media

Lampiran

Materi Pembelajaran

HASIL MEMBACA BUKU NOVEL

1. Pengertian Resensi
Resensi adalah tulisan atau informasi yang membahas, mengulas, dan memberi pertimbangan
mengenai karya orang lain tentang kelemahan, keunggulan, dan kelayakan buku tersebut dibaca oleh
pembaca, pendengar, atau penonton. Karya yang biasa diresensi antara lain buku, gambar, musik, atau
film.

Orang yang membuat suatu resensi disebut dengan resensator. Pada pelajaran kali ini kamu akan
berlatih membuat resensi buku.Kalian tentu sudah jelas bukan apa itu resensi ?.

2. Struktur Resensi
Resensi terdiri atas empat bagian utama. Keempat bagian tersebut adalah identitas karya, bagian
sinopsis, bagian ulasan atau telaah atau bahasan, dan bagian penutup.

a.Bagian identitas, biasanya dicantumkan identitas karya atau karangan yang diresensi. Identitas
meliputi judul karangan, pengarang, penerbit, kota penerbit, tahun terbit, tebal buku (jumlah
halaman), dan harga buku. Bagian ini bertujuan untuk memperkenalkan kehadiran sebuah karya buku
baru kepada masyarakat pembaca.

b. Bagian sinopsis mencantumkan ringkasan karangan. Karya yang diresensi biasanya dipilih jenis
buku fiksi atau nonfiksi, kemudian dibuat sinopsisnya yang berisi pokok-pokok isi buku.

c. Bagian ketiga adalah ulasan. Bagian ini berisi bahasan, ulasan, atau pertimbangan mengenai “baik”
atau “buruknya” sebuah buku. Betapapun juga, dari sebuah karya pasti ada sisi baiknya dibandingkan
dengan karya- karya lain yang sejenis. Sebaliknya, betapapun bagusnya, sebuah buku pastiada saja
kekurangan atau kelemahannya.

d. Bagian penutup, biasanya berisi simpulan.

Pengertian Cerita Fiksi

Pengertian Fiksi adalah suatu prosa naratif yang sifanya imajiner, meskipun imajiner suatu karya
fiksi tetap masuk akal dan didalamnya terkandung kebenaran yang dapat mendramatisasi hubungan
manusia.

Pengertian lain dari teks cerita fiksi yaiyu suatu karya sastra yang didalamnya berisi cerita rekaan
atau didasari angan-angan atau fantasi dan bukan menurut kejadian nyata, hanya menurut imajinasi
pengarang. Imajinasi pengarang tersebut diolah dengan dasar pengalaman, wawasan, tafsiran,
kecendikiaan, penilaian kepada berbagai kejadian baik secara nyata atau rekaan.

Struktur Cerita Fiksi

Struktur dari cerita fiksi adalah sebagai berikut:

Abstrak. Pada bagian ini opsional atau dapat ada maupun tidak. Bagian ini menjadi inti dari suatu
teks cerita fiksi

22

media

Orientasi. Berisikan mengenai pengenalan tema, latar belakang tema dan juga tokoh-tokoh dalam
novel. Diletakkan di bagian awl dan menjadi pembahasan dari teks cerita fiksi dalam novel.

Kompilasi. Adalah klimaks dari teks cerita fiksi karena di bagian ini akan muncul berbagai
permasalahan, seringkali kompilasi disuatu novel menjadi daya tarik tersendiri untuk pembacanya.

Evaluasi. Adalah bagian yang didalamnya berisi munculnya penjelasan memecahkan maupun
menyelesaikan masalah.

Resolusi. Adalah bagian yang didalamnya berisi pemecahan masalah dari masalah-masalah yang
dijalani tokoh utama.

Koda (reorientasi). Bagian ini didalamnya berisi amanat dan juga pesan moral positif yang dapat
dipetik dari suatu naskah teks cerita fiksi.

Jenis Cerita Fiksi

Novel
Novel merupkan suatu karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif. Umumnya novel menceritakan
mengenai tokoh dan tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan
pada sisi yang aneh dari naratif itu. Kata novel awalnya bermula dari bahasa Italis “Novella” yang
artinya suatu kisah, sepotong berita dan novel mempunyai cerita yang lebih kompleks dari cerpen.

Ciri-ciri novel adalah

Tidak dibaca sekali duduk

Plot mengarah ke insiden atau kejadian jamak

Watak tokoh dilakukan pengembangan secara penuh.

Dimensi ruang dan waktu yang lebih luas, cerita lebih luas dan bisa mencapai keutuhan
secara inklusi.

Cerpen
Cerpen merupakan bentuk prosa naratif fiktif yang berkecendurangan padat dan langsung menuju
tujuannya. Cerpen sangat mengandalkan teknik sastra misalnya tokoh, plot, tema bahasa, dan
insight secara luas daripada dengan fiksi yang lebih panjang.

Ciri-ciri cerpen adalah bisa dibaca dalam sekali duduk, plotnya mengarah hanya kepada suatu
insiden atau kejadian tunggal, watak tokoh tidak dikembangkan secara penuh apabila tokoh itu baik
maka hanya kebaikan saja yang diceritakan sedangkan sifat lainnya tidak, dimensi ruang dan
waktunya terbatas, cerita lebih berisi, memusat dan mendalam, mencapai keutuhan secara ekslusi
(terpisahda atau khusus)

Unsur Cerita Fiksi

Unsur Intrinsik Cerita Fiksi

Tema. Adalah gagasan mendasar yang umumnya menopang suatu karya sastra dan yang ada
didalam teks.

Tokoh. Adalah pelaku dalam karya sastra. Karya sastra dari segi peranan dibedakan menjadi
dua, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.

Alur/Plot. Adalah cerita yang isinya urutan peristiwa, tetapi setiap kejadian itu hanya
dikaitkan secara sebab akibat, kejadian yang satu disebabkan atau menyebabkan kejadian
yang lain.

Konflik. Adalah peristiwa yang termasuk penting, merupakan suatu unsur yang sangat
dibutuhkan dalam pengembangan plot.

23

media

Klimaks. Adalah yang mana suatu konflik sudah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan
ketika itu adalah suatu yang tidak bisa dihindari.

Latar. Adalah tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa
yang diceritakan

Amanat. Adalah pesan yang disajikan pengarang dari persoalan di dalam suatu karya sastra

Sudut Pandang. Adalah cara pandang pengarang sebagai sarana untuk menampilkan tokoh,
perbuatan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam suatu karya fiksi
terhadap pembaca.

Penokohan. Adalah teknik atau cara menunjukkan tokoh

Kesatuan

Logika

Penafsiran

Gaya

Unsur Ekstrinsik Cerita Fiksi

Kondisi subjektivitas individu pengarang yang berperilaku

Keyakinan

Pandangan hidup yang menyeluruh akan berpengaruh terhadap karya sastra yang ditulisnya

Psikologi, baik yang berupa psikologi pengarang misalnya ekonomi, politik, dan sosial juga
akan berpengaruh terhadap karya sastra

Pandangan hidup suatu bangsa

Berbagai karya seni yang lain dan sebagainya.

Kaidah Kebahasaan Cerita Fiksi

Adapun kaidah kebahasaan dalam membuat cerita fiksi adalah sebagai berikut:

Metafora. Adalah perumpamaan yang sering dipakai untuk membandingkan sesuatu atau
menggambarkan dengan langsung terhadap sifat yang sama.

Metonimia. Adalah gaya bahasa yang dipakai, kata tertentu dipakai sebagai pengganti kata
yang sebenarnya, tetapi pemakaiannya hanya pada kata yang mempunyai hubungan yang
sangat dekat

Simile (persamaan). Adalah gaya bahasa yang dipakai sebagai pembanding yang sifatnya
eksplisit dengan maksud menjelaskan sesuatu hal dengan hal lainnya. Contohnya adalah
seumpama, selayaknya, laksana dan lain-lain.

media

BINDO MINAT KELAS XII

Materi Pembelajaran 3.1

SEMINAR DAN DISKUSI PANEL

A. SEMINAR

1. Memahami Pengertian Seminar
Seminar merupakan suatu pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di
bawah pimpinan ketua sidang (guru besar atau seseorang ahli). Pertemuan atau persidangan
dalam seminar biasanya menampilkan satu atau beberapa pembicaraan dengan makalah atau
kertas kerja masing-masing. Seminar biasanya diadakan untuk membahas suatu masalah
secara ilmiah. Yang berpartisipasi pun orang yang ahli dalam bidangnya. Seminar tentang
pemasaran suatu produk, tentu dihadiri oleh para pakar bidang pemasaran. Seminar
pendidikan tentu saja dihadiri oleh para ahli pendidikan. Sementara itu, peserta berperan
untuk menyampaikan pertanyaan, ulasan, dan pembahasan sehingga menghasilkan
pemahaman tentang suatu masalah.
Tidak berarti bahwa kelas tidak bisa menyelenggarakan seminar. Di kelas bisa pula
diselenggarakan seminar. Yang penting bahwa kita mencoba membahas suatu masalah
dengan argumen-argumen yang logis, tidak emosional. Para pembicaranya pun menggunakan
gagasan, pendapat, tanggapan, pembahasan secara ilmiah pula. Lalu ada seotang pemrasaan
yang menyajikan makalah.

2. Menyelenggarakan Seminar
Dalam menyelenggarakan seminar kelas, susunlah terlebih dahulu organisasi
peleksanaannya. Seorang yang lain ditugasi sebagai pembahas khusus dari makalah yang
disajikan. Seorang ditugasi sebagai moderator. Guru sebagai narasumber dan satu atau dua
orang bertugas sebagai notulis yang bertugas menyusun laporan.
Seminar bukan diadakan untuk menetapkan suatu keputusan terhadap masalah yang
dibicarakan. Seminar hanya membahas cara pemecahan masalah.
Karena inti dari sebuah seminar merupakan sebuah diskusi, laporan seminar pun merupakan
laporan hasil diskusi. Oleh karena itu, laporan seminar hendaknya berisi hal-hal yang penting
saja.
Susunan acara seminar dapat dibuat seperti berikut.
a. Laporan ketua.
b. Penyajian ketua.
c. Pembahasan oleh pembahas.
d. Diskusi.
e. Penyimpulan.
f. Penutup.

3. Menyusun Laporan Hasil Seminar
Laporan hasil seminar pada dasarnya sama dengan laporan hasil diskusi, terutama
sistematiknya. Yang berbeda ialah materinya, yaitu bahan- bahan yang dilaporkan.

B. Diskusi Panel
1. Memahami Pengertian Diskusi Panel
Diskusi panel adalah bentuk umum yang dilakukan oleh sekelompok orang (yang disebut
panelis) yang membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum dan dilaksanakan
dihadapan khalayak, penonton (lewat tayangan televisi), atau pendengar (lewat siaran radio).
Dalam diskusi panel, khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat.

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 23

SLIDE