Search Header Logo
Budaya Positif

Budaya Positif

Assessment

Presentation

Professional Development

1st - 5th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Erika Sulistya Nugraha

FREE Resource

25 Slides • 0 Questions

1

media
media
media
media
media

Budaya Positif

2

media
media
media

1

2

3

4

Kelompok 1 Kelas A

Pak Erik

Pak Ihwan

Bu Arifa

Bu Rina

3

media

Guru Matematika dan wali kelas 8, Ibu Santi sakit, sehingga tidak dapat masuk dan mengajar. Akhirnya dicarikan
guru pengganti, Ibu Eni. Ibu Eni baru 2 tahun menjadi guru SMP. Beberapa murid perempuan, Fifi dan Natali,
mengetahui hal ini dan mulai menggunakan kesempatan dan bersikap seenaknya, tertawa dan tidak
mengindahkan kehadiran Ibu Eni. Ibu Eni mencoba menyapa Fifi dan Natali dengan ramah, sambil mengingatkan
mereka untuk tetap fokus pada pengerjaan tugas, “Ayolah tugasnya dikerjakan, nanti Ibu ditegur Bapak Kepala
Sekolah kalau kalian tidak kerjakan tugas. Tolong bantu Ibu ya?” Namun Fifi dan Natali malah jadi tertawa, “Ah
Ibu, santai saja bu”. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dan malah mengobrol.
Keesokan harinya, Ibu Santi memanggil Fifi dan Natali serta menanyakan tentang laporan Ibu Eni. Ibu Santi
menanyakan apakah mereka bersedia melakukan memperbaiki permasalahan yang ada? Fifi dan Natali sempat
ragu-ragu dan membela diri, namun pada akhirnya mengatakan akan meminta maaf. Ibu Santi menanggapi bahwa
tindakan itu boleh saja dilakukan bila mereka sungguh-sungguh ingin meminta maaf, namun Ibu Santi
menanyakan kembali, apa yang mereka bisa lakukan untuk menggantikan rasa tidak dihormati Ibu Santi? Baik Fifi
maupun Natali mengakui bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan Keyakinan Kelas. Ibu Santi melanjutkan
kembali apa yang akan mereka lakukan untuk memperbaiki masalah, apakah ada gagasan?
Setelah berpikir sejenak, Natali dan Fifi mengusulkan bagaimana kalau mereka mengadakan sebuah diskusi
kelompok dengan teman-teman sekelasnya. Tema yang mereka pilih adalah penerapan keyakinan kelas, terutama
tentang sikap saling menghormati dan bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari di sekolah. Usulan kedua
adalah mengirim email kepada Ibu Eni tentang gagasan mereka tersebut. Mereka pun memberitahu Ibu Eni bahwa
mereka telah memberitahu Kepala Sekolah, Pak Hasan, bila lain waktu ada ketiadaan guru, maka mereka akan
mengusulkan Ibu Eni sebagai guru pengganti.

Kasus I

4

media

Menstabilkan Identitas

1.1 Langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah dijalankan oleh
Ibu Santi?

Ibu Santi meman ggil Fifi dan Natali serta menanyakan tentang
laporan Ibu Eni.
Ibu Santi menanyakan apakah mereka bersedia memperbaiki
permasalahan yang ada?

Kasus I

5

media

Validasi Tindakan

Fifi dan Natali sempat ragu-ragu dan membela diri, namun
pada akhirnya mengatakan akan meminta maaf.
Ibu Santi menanggapi bahwa tindakan itu boleh saja
dilakukan bila mereka sungguh-sungguh ingin meminta
maaf.
Ibu Santi menanyakan kembali, apa yang mereka bisa
lakukan untuk menggantikan rasa tidak dihormati Ibu
Santi?

Kasus I

1.1 Langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah dijalankan
oleh Ibu Santi?

6

media

Menanyakan Keyakinan

1.1 Langkah-langkah restitusi apa saja yang sudah dijalankan
oleh Ibu Santi?

Baik Fifi maupun Natali mengakui bahwa perilaku mereka

tidak sesuai dengan Keyakinan Kelas.

Ibu Santi melanjutkan kembali apa yang akan mereka

lakukan untuk memperbaiki masalah, apakah ada

gagasan?

Kasus I

7

media

SUDAH

1.2 Menurut Anda, apakah restitusi yang diusulkan Fifi dan Natali sudah
sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuat? Apakah langkah-langkah

restitusi yang telah diusulkan mereka?

Langkah-langkah

Restitusi :

Fifi dan Natalia mengakui bahwa perilaku mereka tidak
sesuai dengan keyaikan kelas dan meminta maaf.

Mengusulkan kegiatan diskusi kelompok tentang penerapan
keyakikan kelas.

Mengirimkan email yang berisi keyakinan kelas tentang
sikap saling menghormati didalam kelas atau disekolah.

Memberitahukan kepada Kepala Sekolah bahwa pengganti
guru adalah Bu Eni sebagai guru yang tidak dapat hadir di
kelas.

Kasus I

8

media

1.3 Dalam kasus di atas, posisi apakah yang telah diambil
oleh Ibu Eni dalam menangani Fifi dan Natali? Jelaskan

jawaban Anda.

Posisi Kontrol Sebagai Teman

Ibu Eni mencoba menyapa Fifi dan Natali dengan ramah, sambil
mengingatkan mereka untuk tetap fokus pada pengerjaan tugas.

Kasus I

9

media

1.4 Jika Anda adalah Pak Hasan, bagaimana
Anda menyikapi langkah yang ditempuh Ibu

Santi?

Menyetujui langkah yang ditempuh Ibu Santi karena Ibu
Santi telah menerapkan tahapan segitiga restitusi
dengan tidak menghukum secara langsung tetapi
memberi kesempatan kepada Fifi dan Natalie untuk
memeperbaiki kesalahannya.

Kasus I

10

media

Sabrina hari itu bangun terlambat, dan terburu-buru sampai di sekolah. Dia pun akhirnya sampai di
gerbang sekolah, tapi baru menyadari kalau tidak menggunakan sepatu hitam seperti tertera di
peraturan sekolah. Di depan pintu kelas, Bapak Lukman memperhatikan sepatu Sabrina yang berwarna
coklat. Sabrina berusaha menjelaskan bahwa dia terburu-buru dan salah mengenakan sepatu.
Pak Lukman menanyakan Sabrina, apa peraturan sekolah tentang seragam warna sepatu. Sabrina
menjawab sudah mengetahui sepatu harus berwarna hitam, namun terburu-buru dan salah
mengenakan sepatu, selain tidak mungkin kembali pulang karena rumahnya jauh sekali. Pak Lukman
tetap bersikeras pada peraturan yang berlaku dan mengatakan, “Ya sudah, kamu sudah melanggar
peraturan sekolah. Kamu salah. Sudah terlambat, salah pula warna sepatunya. Segera buka sepatumu
kalau tidak bisa mengenakan warna sepatu sesuai peraturan”.
Sabrina meminta maaf dan memohon kembali kepada pak Lukman agar tetap dapat mengenakan
sepatunya dan berjanji tidak akan mengulang kesalahannya. Namun pak Lukman tidak mau tahu,
“Tidak, kamu telah melanggar peraturan sekolah, kalau tidak sanggup ambil sepatu di rumah atau
diantarkan sepatu ke sekolah, ya sudah kamu tidak bersepatu saja seharian di sekolah. Sekarang copot
sepatumu dan silakan belajar tanpa sepatu seharian.” Sabrina pun dengan berat hati mencopot
sepatunya dan memberikannya kepada pak Lukman. Seharian dia tidak berani berkeliling sekolah
karena malu, dan lebih banyak berdiam diri di kelas tanpa alas sepatu.

Kasus 2

11

media
media

2.1 Sikap posisi apakah yang diambil oleh Bapak
Lukman? Jelaskan, apakah indikatornya?

Pak Lukman tidak mau mendengarkan alasan dan tetap
bersikeras pada peraturan yang berlaku dan mengatakan,
“Ya sudah, kamu sudah melanggar peraturan sekolah. Kamu
salah. Sudah terlambat, salah pula warnasepatunya. Segera
buka sepatumu kalau tidak bisa mengenakan warna sepatu
sesuai peraturan”.

Kasus 2

Pak Lukman menghukum Sabrina tanpa mau mendengar
alasan dan tidak mau menerima permintaan maaf Sabrina

12

media

2.2 Bila Bapak Lukman mengambil posisi seorang Manajer,
apa yang akan dikatakannya, pertanyaan-pertanyaan
seperti apakah yang akan diajukan ke Sabrina? Jelaskan

Sabrina, apakah kamu mengetahui kesalahan kamu?
Sabrina, mengapa kamu terlambat dan mengenakan sepatu
berwarna coklat?
Apakah sabrina masih ingat keyakinan kelas kita?
Apakah kamu bersedia memperbaikinya?
Bagaimana kamu memperbaiki kesalahan karena terlambat
datang kesekolah atau menggunakan sepatu yang tidak sesuai
peraturan sekolah?

1.
2.

3.
4.
5.

Kasus 2

Bagus Sabrina, Bapak menghargai kejujuran dan usaha
kamu dalam memperbaiki diri.

13

media
media

2.3 Kira-kira bila Anda adalah
Kepala Sekolah di sekolah tersebut,

Disiplin, Tanggung jawab, Integritas, Keamanan,
Komitmen, Keadilan, Kesetaraan.

Nilai kebajikan apa

yang ingin dituju
oleh peraturan
harus berwarna

hitam?

Menghindari kesenjangan sosial dikalangan
murid.

Mengajak pak Lukman minum kopi dan
berdiskusi tentang dampak hukuman Sabrina dan
mencari solusi alternatif yang tepat serta
mendukung disiplin positif / segitiga restitusi

Bagaimana Anda
menyikapi langkah
yang diambil Pak
Lukman mengenai

kasus tersebut?

Kasus 2

14

media

Ibu Dani sedang menjelaskan pelajaran Bahasa Inggris di papan tulis, namun
beliau memperhatikan bahwa Fajar malah tidur-tiduran dan tampak acuh tak acuh
pada pelajarannya. “Fajar coba jawab pertanyaan nomor 3. Maju ke depan dan
kerjakan di papan tulis”. Fajar pun tampak malas-malasan maju ke depan, dan
sesampai di depan papan tulis pun, Fajar hanya diam terpaku, sambil memegang
buku bahasa Inggrisnya dan memainkan spidol di tangannya. “Ayo Fajar makanya
jangan tidur-tiduran, lain kali perhatikan! Sudah sana, duduk kembali, kira-kira
siapa yang bisa?”
Fajar pun kembali duduk di bangkunya. Hal seperti ini sudah seringkali terjadi
pada Fajar, seperti tidak memperhatikan, acuh tak acuh, dan nilai-nilainya pun
tidak terlalu baik untuk pelajaran Bahasa Inggris. Pada saat ditegur oleh Ibu Dani,
Fajar hanya menjawab, “Tidak tahu Bu”. Ibu Dani pun menjawab lirih, “Gimana
kamu Fajar, kamu tidak kasihan sama Ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan
kamu. Tidak kasihan sama Ibu?” dan Fajar pun diam membisu.

Kasus 3

15

media

3.1 Posisi kontrol apa yang diambil oleh Ibu Dani

dalam pendekatannya kepada Fajar?

Posisi Kontrol Sebagai Pembuat Rasa Bersalah

Ibu Dani pun menjawab lirih, “Gimana kamu Fajar, kamu tidak
kasihan sama Ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan
kamu. Tidak kasihan sama Ibu?” dan Fajar pun diam membisu.

Kasus 3

16

media

3.2 Membaca sikap Fajar, kira-kira

kebutuhan apa yang diperlukan oleh Fajar?

Kebebasan
Cinta dan kasih sayang
Kesenangan

Kebutuhan yang diperlukan fajar adalah

Kasus 3

17

media

3.3 Bilamana Ibu Dani mengambil posisi Pemantau, apa yang akan
dilakukan atau dikatakan olehnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti

apa yang akan diajukan? Jelaskan.

Ibu Dani mengawasi dan membuat catatan khusus tentang sikap
Fajar
“Apa kesepakatan di kelas?”
“Apa konsekuensi jika kamu melanggarnya”
“Apa yang telah kamu lakukan?”
“Apa yang terjadi sekarang?”

Kasus 3

18

media

3.4 Apabila Anda adalah kepala sekolah di sekolah
Fajar dan mengetahui hal ini, bagaimana tindak

lanjut Anda?

Mengarahkan dan menginstruksikan pada guru mapel untuk
bekerjasama atau berkolaborasi bersama guru BK dan Wali kelas
untuk membahas dan mencari solusi yang efektif dalam
menyelesaikan permasalahan Fajar

Kasus 3

19

media

Anto dan Dino sedang bermain bersama di lapangan basket, dan tiba-tiba terlibat dalam sebuah pertengkaran adu
mulut. Dino pun menjadi emosi dan mengadakan kontak fisik, menarik kemeja Anto dengan kasar, sampai 3
kancingnya terlepas. Pada saat itu guru piket langsung melerai mereka, dan membawa mereka ke ruang kepala
sekolah. Ibu Suti sebagai kepala sekolah berupaya menenangkan keduanya, terutama Dino. “Dino sepertinya kamu saat
ini sedang marah sekali.” Mendengar itu, Dino pun mengalir bercerita tentang kekesalan hatinya. Ibu Suti pun
melanjutkan bahwa membuat kesalahan adalah hal yang manusiawi, dan bahwa mempertahankan diri adalah hal
yang penting. Namun meminta Dino memikirkan cara lain yang mungkin lebih efektif, karena saat ini Dino berada di
ruang kepala sekolah.
Ibu Suti melanjutkan bertanya tentang keyakinan sekolah yang disepakati, serta apakah Dino bersedia memperbaiki
kesalahan yang telah dilakukan terhadap Anto? Dino pun akhirnya perlahan mengangguk. Kemudian Ibu Suti balik
bertanya kepada Anto, hal apa yang bisa dilakukan Dino untuk memperbaiki masalah. Anto menjawab, “Saya perlu
kancing saya diperbaiki bu. Ibu saya akan sangat marah kalau melihat kancing baju saya sampai copot 3 kancing
begini.” Ibu Suti pun kembali bertanya ke Dino apakah yang akan dia lakukan untuk menggantikan 3 kancing Anto
yang terlepas?
Dino berpikir sejenak, namun menjawab, “Wah tidak tahu bu, saya lem kembali mungkin ya bu?” Ibu Suti berpikir
sebentar dan menanggapi, “Kalau di lem akan mudah terlepas kembali Dino. Bagaimana kalau kamu menjahitkan saja,
bersediakah kamu?” Dino tampak ragu-ragu dan menanggapi, “Menjahit? Mana saya tau bagaimana menjahit bu.” Ibu
Suti meneruskan, “Apakah kamu bersedia belajar menjahit?” Dino berpikir sejenak, memandang kemeja Anto, dan
menanggapi, “Yang mengajari saya siapa bu?” Dengan cepat Ibu Suti menjawab, “Pak Irfan, guru Tata Busana”. Dino
kembali diam sejenak, memandang kemeja Anto yang tanpa kancing.
Akhirnya Dino mengangguk tanda menyetujui dan sepanjang siang itu Dino belajar menjahit dan memperbaiki kemeja
Anto. Terakhir kali terlihat kedua anak laki-laki tersebut, Dino dan Anto pada jam pulang sekolah, mereka sudah
bercengkrama dan bersenda gurau kembali.

Kasus 4

20

media

Kasus 4

4.1 Posisi kontrol apa yang telah dipraktikkan oleh Kepala Sekolah Ibu

Suti? Hal-hal apa saja yang dilakukannya sehingga Anda

berkesimpulan demikian?

Posisi Manajer

Bu Suti menanyakan dan mempersilakan Anto dan Dino menjelaskan
peristiwa yang terjadi
Bu Suti menanyakan keyakinan kelas, menyadarkan tentang kesalahan.
Mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan
mendukung murid untuk menemukan solusinya
Terlihat pada saat Ibu Suti menanyakan kebutuhan Anto dengan
memberi kesempatan Dino memperbaiki baju Anto
Adanya kolaborasi dengan murid dalam memecahkan permasalahan.

21

media

Kasus 4

4.2 Dalam kasus tersebut, bagaimana Dino dikuatkan, bagaimana

Anto dikuatkan oleh Ibu Suti?

Dino dikuatkan dengan pernyataan bahwa kesalahan adalah hal
yang manusiawi, dan bahwa mempertahankan diri adalah hal yang
penting, namun bu Suti meminta untuk menyelesaikan masalah
dengan lebih efektif.
Anto dikuatkan melalui pertanyaan bu suti tentang bagaimana
tindakan Dino untuk memperbaiki kesalahan dalam memperbaiki
kemeja Anto.

22

media

Kasus 4

4.3 Kira-kira nilai-nilai kebajikan (keyakinan sekolah) apa yang

dituju dalam kasus tersebut? Jelaskan!

Berakhlak mulia, melalui tindakan untuk saling menghargai,
menghormati dan bersikap sopan santun.
Bernalar kritis, Dino dan Anto mampu mengenali kesalahan dan
bagaimana memperbaikinya.
Bertanggung jawab dan Mandiri, melalui tindakan Dino mau belajar
menjahit dan memperbaiki kemeja Anto
dan kreatif, Dino mampu memikirkan bagaimana memperbaiki kancing
baju anto yang copot sesuai dengan kemampuan yang dino miliki.

Nilai - nilai kebajikan yang ditujukan adalah

23

media

Tanggapan Kelompok Lain

Bu Tasliyati : Presentasi sudah bangus dan
runtun
Pak Aribowo : Penentuan Posisi guru maupun
Kepala Sekolah dalam setiap kasus sepatutnya
tidak hanya satu. Boleh ditambahkan posisi
lain untuk saling melengkapi.

Tanggapan dan Pertanyaan

24

media

Pertanyaan Kelompok Lain

Bu Iin : Bagaimana langkah yang tepat untuk dilakukan jika dalam
suatu kasus yang membuat masalah adalah seorang yang
mempunyai jabatan lebih tinggi (Kepala Sekolah)?
Jawaban

:

Dalam

kasus

tersebut

kita

harus

mampu

mengimplementasikan segitiga restitusi dalam penyelesaiannya.
Sebagai anak buah kita juga harus mampu mengingatkan kepala
sekolah melalui diskusi santai dengan menyelipkan langkah -
langkah segitiga restitusi tanpa menyinggung ataupun menghakimi
sosok atau menyinggung jabatan beliau sebagai kepala sekolah.

Tanggapan dan Pertanyaan

25

media
media

Terima Kasih

SALAM DAN BAHAGIA

media
media
media
media
media

Budaya Positif

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 25

SLIDE

Discover more resources for Professional Development