Search Header Logo
materi desiminasi

materi desiminasi

Assessment

Presentation

Moral Science

Professional Development

Practice Problem

Medium

Created by

Eka S.pd

Used 1+ times

FREE Resource

32 Slides • 7 Questions

1

Menyebarkan Pemahaman
dan
Penerapan Pengalaman

"Budaya Positif"

media

Oleh : Eka Sri Parwati
SDN 4 SUNTALANGU
Calon Guru Penggerak Angkatan 10 Tahun 2024

media

2

Ice Breaking

media

3

Ice Breaking

media

4

Ice Breaking

media

5

Konsep-Konsep Inti

Budaya Positif

​Perubahan Paradigma Belajar

Disiplin Positif

Motivasi Perilaku Manusia

Kebutuhan Dasar

Posisi Kontrol Restitusi

Keyakinan Kelas

Segitiga Restitusi

6

media

​Perubahan dengan Paradigma Belajar merupakan pembelajaran yang dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran "berdiferensiasi" sehingga peserta didik belajar sesuai kebutuhannya berdasarkan tahapan perkembangan sesuai teori psikologi perkembangan modern untuk mewujudkan " Profil Pelajar Pancasila"

​​Perubahan dengan Paradigma Belajar

7

media

Ilusi Guru Mengontrol Murid

Miskonsepsi tentang Teori Kontrol

media

Ilusi Bahwa Semua Penguatan Positif Efektif dan Bermanfaat

Ilusi Bahwa Kritik dan Membuat Orang Merasa Bersalah dapat Menguatkan Karakter

Ilusi Bahwa Orang Dewasa Memiliki Hak untuk Memaksa

8

media

Perubahan Paradigma Teori Kontrol ke Pendekatan Kontrol

media

9

media

Disiplin Positif

​Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya belajar. Seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Disiplin positif adalah pendekatan untuk menerapkan disiplin dari dalam diri anak terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah

10

media

Nilai-Nilai Kebajikan

yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya

Nilai-Nilai Kebajikan Institusi/ Organisai

media
media

11

media

Nilai-Nilai Kebajikan

yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya

Nilai-Nilai Kebajikan Institusi/ Organisai

media
media
media

12

media

Nilai-Nilai Kebajikan

yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya

Nilai-Nilai Kebajikan Institusi/ Organisai

media
media

13

Multiple Choice

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, mengatakan bahwa motivasi perilaku manusia yaitu...

1

Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman

2

Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.

3

Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai nilai yang mereka percaya.

4

Semua jawaban benar

14

media
media
media
media
media

15

Multiple Choice

Iva kurang menguasai pelajaran Matematika, sehingga pada saat pelajaran tersebut berlangsung, dia lebih banyak berdiam diri atau menggambar di buku pelajarannya. Pada saat guru Matematikanya, Pak Seno, menanyakan pertanyaan Iva menjadi gugup, dan tak sengaja menjatuhkan tasnya dari kursi, serta tiba-tiba menjadi gagap pada saat berupaya menjawab. Seluruh kelas pun tertawa melihat perilaku Iva yang bicara tergagap dan terkejut tersebut. Pak Seno pada saat itu membiarkan teman-teman Iva menertawakan Iva yang tergagap dan malu luar biasa, dan malahan minta Iva untuk maju ke depan dan berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Seno. Kelas makin gaduh, dan anak-anak pun tertawa melihat Iva di depan kelas memegang ujung hidungnya.

Menurut Anda, tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah sebuah hukuman atau konsekuensi?

1

Hukuman

2

Konsekuensi

16

media

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Perbedaan antara Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi

media
media

17

media

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Perbedaan antara Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi

media
media

18

Match

Jodohkan pernytaan berikut ini!

Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat lagi”, karena terlambat ke sekolah.

Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah.

Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat belajar.

Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret coret.

Hukuman

Hukuman

Konsekuensi

Konsekuensi

19

media

Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Perbedaan antara Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi

media

20

media

Menurut Alfie Kohn mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Memberikan penghargaan yang nilainya sama dengan menghukum seseorang.
Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Penghargaan Tidak Efektif.
Penghargaan Merusak Hubungan
Penghargaan Mengurangi Ketepatan
Penghargaan Menurunkan Kualitas
Penghargaan Mematikan Kreativitas
Penghargaan Menghukum

Dihukum oleh Penghargaan

21

media

RESTITUSI

media

22

media

RESTITUSi

media

23

Open Ended

Ibu Ambar, guru wali kelas kelas 2A di SD Pelita Hati, sedang bingung menghadapi ulah salah satu murid di kelasnya, Doni. Beberapa anak di kelas 2A telah datang padanya dan mengeluhkan Doni yang seringkali meminta bekal makan siang mereka dengan paksa. Jika Anda menghadapi situasi seperti Ibu Ambar, apa yang akan anda lakukan? Menurut anda, kira kira apa alasan Doni melakukan hal itu?

24

media

5 Kebutuhan Dasar Manusia

Bertahan Hidup

Kasih Sayang dan rasa terima kasih

Kebebasan

Penguasaan

Kesenangan

Makanan, pakian, temapt tinggal, keamanan, kesehatan

Rasa diterima, dipedulikan, berbagi, kerjasama, menjadi bagian dalam kelompok

Harga diri, Keinginan untuk dianggap, memimpin, berprestasi, diakui, didengar

Mandiri, memiliki pilihan, mencoba hal baru, mampu mengendalikan arah dirinya

bermain, humor, antusiasme, tertawaB

25

Match

Jodohkan Pernyataan berikut ini!

“Aku bosen, masa belajarnya cuma gitu-gitu aja..dengerin Ibu Guru aja”.

“Aku merasa bangga dan keren”.

“Biar bisa jalan-jalan naik mobil sama teman-temanku.”

“Ibu guru bilang, aku tidak boleh bersenandung sewaktu mengerjakan tugas, katanya kelas harus tenang, tidak ada suara. Kan nggak seru jadinya”.

kebebasan

Penguasaan

Kasih sayang dan rasa diterima

Kesenangan

26

media

Penghukum

Pembuat merasa

bersalah

Teman

Pemantau

Manager

27

media

Posisi Kontrol Seorang Guru

media

28

Match

Jodohkan Pernyataan berikut ini!

“Saya kecewa sekali dengan kamu…”

“Ayolah, lakukan demi saya ya….”

“Apa rencanamu untuk menyelesaikan ini?”

“Berapa kali sih saya sudah mengatakan kepada kamu?”

“Apakah kamu mau mendapatkan stiker bintang hari ini?”

Pembuat merasa bersalah

teman

Manager

Penghukum

Pemantau

29

media

Guru berperan dalam

mewujudkan terbentuknya

keyakinan sekolah/kelas yang
mana keyakinan Sekolah/kelas

dibentuk dengan adanya

kesepakatan antara guru dan

murid

Keyakinan sekolah/kelas berupa

pernyataan universal yang

mudah diingat, dipahami dan

harus diterapkan dalam

lingkungan sekolah.

30

media

Pembentukan Keyakinan Kelas

media

31

media

Pembentukan Keyakinan Kelas

media

Masih ingat bahwa nilai-nilai kebajikan universal merupakan nilai-nilai lintas budaya, bahasa, suku bangsa, maupun agama seperti keadilan, kehormatan, peduli, integritas, kejujuran, pelayanan, keamanan, kesabaran, tanggung jawab, mandiri, berprinsip, keselamatan, kesehatan, dan lain-lain.

32

media

Contoh Keyakinan Kelas

media

33

Fill in the Blanks

34

media

Yang dilakukan guru dalam
Penerapan segitiga restitusi

untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi murid melalui 3
tahapan, yakni tahap pertama
menstabilkan identitas, tahap
kedua validasi tindakan yang

salah dan tahapan ke tiga
menanyakan keyakinan.

Bertujuan untuk menghasilkan

murid yang mandiri dan

bertanggung jawab

35

media

Segitiga Restitusi

media

36

media

1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity) Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan dasarnya namun ada benturan. Kalau kita mengkritik dia, maka kita akan tetap membuatnya dalam posisi gagal. Kalau kita ingin ia menjadi reflektif, maka kita harus meyakinkan si anak, dengan cara mengatakan kalimat-kalimat ini:
● Berbuat salah itu tidak apa-apa.
● Tidak ada manusia yang sempurna
● Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu.
● Kita bisa menyelesaikan ini.
● Bapak/Ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tapi Bapak/Ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini.
● Kamu berhak merasa begitu.
● Apakah kamu sedang menjadi teman yang baik buat dirimu sendiri?

Tahapan Segitiga Restitusi

37

media

Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)
Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Teori Kontrol semua tindakan manusia, baik atau buruk, pasti memiliki maksud/tujuan tertentu. Seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan.
Kalimat-kalimat di bawah ini mungkin terdengar asing buat guru, namun bila dikatakan dengan nada tanpa menghakimi akan memvalidasi kebutuhan mereka.
• “Padahal kamu bisa melakukan yang lebih buruk dari ini ya?”
• “Kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu”
• “Kamu patut bangga pada dirimu sendiri karena kamu telah melindungi sesuatu yang penting buatmu”.
• “Kamu boleh mempertahankan sikap itu, tapi kamu harus menambahkan sikap yang baru.”2.

Tahapan Segitiga Restitusi

38

media

3. Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)
Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal. Ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2), maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini menghubungkan keyakinan anak dengan keyakinan kelas atau keluarga.
• Apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga?
• Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati?
• Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal?
• Kamu mau jadi orang yang seperti apa?

Tahapan Segitiga Restitusi

39

media

Menyebarkan Pemahaman
dan
Penerapan Pengalaman

"Budaya Positif"

media

Oleh : Eka Sri Parwati
SDN 4 SUNTALANGU
Calon Guru Penggerak Angkatan 10 Tahun 2024

media

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 39

SLIDE