
Materi Falsafah Burung Enggang Simbol Suku Dayak Kal-Teng
Presentation
•
Education
•
10th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
rospala hanisah
FREE Resource
20 Slides • 0 Questions
1
2
Fase
: E
Sarana dan Prasarana
3
?
1.
2.
3.
4.
5.
6.
4
Kegiatan Pendahuluan
1.
2.
3.
4.
5.
5
JENIS ASESMEN
Asesmen diagnostic Kognitif
Asesmen Formatif
Asesmen Sumatif
BENTUK ASESMEN
Sikap (profil pelajar Pancasila) : Observasi Guru
Tertulis
: Soal Latihan
Perfrom
: Prestasi
REMEDIAL
PENGAYAAN
1.
2.
3.
4.
6
masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah:
pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan,
atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Tradisi: adat kebiasaan
moyang) yang masih
.
Formatif : Menuliskan
yang
berkaitan dengan Falsafah
suku Dayak Kalimantan Tengah.
dan mengisi titik-titik.
7
Karakteristik
Burung Enggang
8
Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah mengungkapkan narasi tentang
burung Enggang dalam bentuk simbol. Memang tidak semua masyarakat mampu
menarasikan tentang eksistensi burung Enggang, tetapi mereka mengungkapkan
kehadiran serta penjelasan burung Enggang pada simbol-simbol.Simbol ini hadir
di rumah adat yang disebut sebagai rumah “betang” (rumah panjang), pakaian
adat, tarian dan ukiran-ukiran Dayak. Rumah adat “betang” merupakan simbol
identitas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Di rumah ini berkumpul
keluarga dari satu keturunan. Dalam tradisi masa lampau, di rumah adat “betang”,
dapat berdomisili empat sampai lima keluarga bahkan lebih. Mereka hidup rukun
dan damai. Jika terdapat masalah keluarga, maka diselesaikan dengan
musyawarah keluarga besar di rumah betang. Itulah fungsinya rumah betang
merawat kesatuan, menjaga keharmonisan. Pada bumbungan rumah adat betang di
Kalimantan Tengah, dipasang simbol burung Enggang, sebab burung Enggang
memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Dayak, sebagai pemersatu dan
keharmonisan. Sekalipun saat ini masyarakat Dayak Kanayatn tidak lagi
membangun rumah dengan desain seperti rumah “betang”, namun falsafah rumah
“betang” tetap mewarnai perjalanan kehidupan rumah tangga mereka.
Simbol burung Enggang juga ditemukan pada kelengkapan pakaian adat.
Lelaki Dayak akan mempergunakan kepala burung Enggang yang dipasang pada
bagian topi. Pada pakaian adat perempuan Dayak biasanya berupa bulu burung
yang dipasang juga pada bagian kepala. Namun hal ini sudah sangat jarang
mengingat bahwa burung Enggang sudah tergolong langka, kritis dan hampir
punah. Untuk menggantikan bulu burung Enggang, pada umumnya masyarakat
memper- gunakan bulu burung Ruai. Pada masa modern ini, simbol burung
Enggang juga ditemukan pada lukisan di batik Dayak dengan berbagai jenis kain:
katun, woll, tissue dan lainya. Batik Dayak ini kemudian menerima nilai yang
mempresentasikan budaya Dayak Kalimantan. Narasi tentang burung Enggang
juga ditemukan dalam tarian masyarakat yang menceritakan tentang relasi suku
Dayak, Jubata dan hutan sebagai sinergitas kehidupan. Tari-tarian ini ditarikan
hanya dalam waktu-waktu tertentu dan diciptaan sesuai dengan situasi seperti
gawai
adat.
9
Selain itu narasi tentang burung Enggang juga diungkapkan pada ukiran-ukiran
Dayak baik pada perisai maupun ukiran sebagai ornamen-ornamen adat.
Kosmologi masyarakat Dayak Kalimantan menceritakan bahwa burung
Enggang dipercayai sebagai hewan yang diciptakan pertama oleh Tuhan (Jubata)
yang menempa dan menjadikan (“Jubata nange, Ne’ pantanpa – Ne’ pajaji”)
dari jenis hewan dan mahkluk ciptaan lain sebagai penghuni alam semesta.39
Sebagai mahkluk hidup yang diciptakan pertama, maka burung Enggang
bertanggung jawab untuk merawat kehidupan yang disimbolkan dengan hutan.
Burung Rangokng/Enggang memberi makna bahwa hidup di dunia ini hanya
sementara, dunia ini adalah dimensi ruang dan waktu yang bersifat pinjaman,
tidak kekal (Tunayat’n–bahasa Dayak Kanayatn), dan ada kehidupan lain yang
menanti setelah kematian.40
Gambar: Karakteristik Burung Anggang
Apa yang khas dari burung ini dapat tampak dari ciri fisiknya, yang
10
pada bagian kepalanya memiliki paruh kokoh dengan ukuran yang cukup besar.
Beberapa cabang dari jenis burung ini selain ada yang memiliki cula, ada pula
yang memiliki gading. Cula dan gading tersebut disebut dengan casques atau
balung yang pada umumnya hanya berupa rongga kosong, kecuali untuk burung
enggang gading yang bagian depan balungnya padat, karena terbentuk dari
keratin dan tidak memiliki pembuluh darah sehingga menjadi keras dan padat.
Selain kepala yang khas, burung enggang, terutama enggang gading,
memiliki suara yang khas Menyerupai suara tertawa gila atau maniacal laugh
dengan frekuensi antara 500-1500 Hz, sehingga dapat terdengar sampai sejauh 3
km. Kemungkinan, hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian individu lain
dan juga menunjukkan kemampuan fisiknya (Haimoff dalam Adji, dkk., 2018:
7). Ciri fisik burung enggang yang pada bagian kepalanya memiliki semacam
tanduk dan paruh besar membuatnya sangat berkharisma. Kehadirannya ditandai
dengan kepakan sayapnya yang keras. Kehadirannya juga dapat menjadi
indikator bagus atau tidaknya kondisi suatu ekosistem hutan.
Ikon (icon) adalah suatu tanda yang mengguanakan kesamaan dengan
apa yang dimaksudkannya. Burung Enggang ini menjadi salah satu ikon di
Kalimantan khususnya Kalimantan Barat. Dimana, selain keindahannya Burung
Enggang memiliki makna dan filosofis yang tinggi. Begitu juga pada ragam hias
Dayak Iban juga menjadi ciri khas pulau Borneo dimana motif-motifnya
biasanya banyak digunakan sebagai penghias rumah ataupun nama sebuah toko.1
Gambar 2.1 Motif Burung Enggang di Batik Gambar 2.2 Sketch Motif Burung Enggang
Sumber : senibudayasenirupaku.blogspot.com Sumber : Dokumentasi pribadi
1Sari,I.L.Transformasi
Bentuk
Burung
Enggang Dikombinasikan Dengan Ragam Hias
Dayak Iban Pada Karya Seni Batik . Jurnal Karya Seni.2007., hal. 8
11
Istilah Simbol berasal dari bahasa Yunani yaitu Symbollein yang
artinya mencocokan. Bagian benda yang dicocokan disebut Symbolla, yang
diartikan sebagai tanda yang memberikan penjelasan identitas atau pengenal.
Pengertian ini lahir dari mitos Yunani tentang dua orang pria yang berjanji
dengan memecahkan sebuah lempengan, cincin kemudian menyimpannya.
Ketika perjanjian akan dihormati, maka salah satu akan mencocokan diri
dengan benda lempengan tersebut.2 Menurut Dillistones, simbol adalah sarana
tertinggi
manusia
dalam
berbicara
dan
mengaktualisasikan
serta
memproyeksikan keberadaan Tuhan dalam kehidupan dunia ini. Dilistone
terinspirasi dari pemikiran Suzanna Langer dan Ernst Cassirer. Langer
menjelaskan dalam “Phylosophy in a New Key”, bahwa simbol hadir dalam
berbagai segi bidang kehidupan. Dillistone menjelaskan bahwa simbol
merupakan alat yang kuat untuk memperluas penglihatan, menstimulus daya
imajinasi dan memperdalam pemahaman kita.
Bagi masyarakat suku Dayak Burung Enggang merupakan simbol
“Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat maskulin. Burung Enggang
juga menyimbolkan sifat kasih sayang dan kesetiaan sebab Burung Enggang
sangat setia pada pasangannya. Burung Enggang dianggap sakral dan tidak
diperbolehkan diburu apalagi di makan, bila ditemukan ada Burung Enggang
yang mati, mayatnya tidak dibuang, bagian kepalanya akan digunakan untuk
hiasan kepala, sedangkan kerangka kepalanya akan tetap awet karena
tulangnya yang keras, dan hiasan kepala inipun hanya boleh digunakan oleh
orang orang tertentu. 3
2Dillistone, Fredrik William. The Power Of Symbols, Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta: Pustaka Filsafat.
2002., Hal.10
3 Sari,I.L.Transformasi
Bentuk Burung Enggang Dikombinasikan Dengan Ragam
Hias Dayak Iban Pada Karya Seni Batik . Jurnal Karya Seni.2007., hal. 8
12
Gambar 2.3 Kepala Burung Enggang
Sumber : Wikipedia.org
Gambar 2.5 Burung Enggang Terbang
Sumber : boombastis.com
Gambar 2.7 Sepasang Burung
Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 2.4 Sketch Safe Hornbill
Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 2.6 Sketch Kemakmuran
Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar 2.8 Sketch Persatuan Enggang dan Kesatuan
Sumber : boombastis.com
13
13
Gambar 2.9 Burung Enggang Bertengger Gambar 2.10 Sketch Pemimpin yang perkasa
Sumber : storgram.com
Sumber : Dokumentasi pribadi
Gambar: Burung Anggang dalam Motif Batik
14
14
Filosofi Simbol Burung
Enggang di Masyarakat
Dayak
15
15
Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah juga mengakui bahwa spesies
istimewa ini adalah pemencar biji terbaik di hutan dan menjadi pengawal pelestarian
hutan secara natural. Burung Enggang diciptakan jauh sebelum manusia, oleh sebab
itu perilaku burung Enggang terhadap lingkungan alam, pasangan dan lingkungan
keluarganya, idealnya menjadi cerminan bagi manusia yang diciptakan kemudian.
Burung Enggang adalah salah satu burung langka yang dilindungi di
Indonesia. Burung indah dengan paruh bertanduk ini memiliki karakter yang
istimewa. Karakter hewan sebagai simbol kebesaran dan kemuliaan yang
melambangkan suku Dayak. Burung enggang memiliki kebiasaannya hinggap di
tempat tinggi, seperti pohon-pohon tinggi dan gunung-gunung menjadi tempat
favorit. Burung ini juga melambangkan kesetiaan pada pasangan, kesetiaan burung
ini terbukti saat enggang betina bertelur. Enggang betina akan tinggal di lubang
pohon mengerami telurnya, hampir empat bulan lamanya. Sedangkan Enggang jantan
akan menemani dan memberikan makanan dari lubang sempit yang dibuat untuk
menjaga telur dan betina yang sedang mengeram. Dan bila salah satu mati, maka
yang masih Enggan yang masih hidup tidak akan kawin lagi (Kementrian Republik
Indonesia, n.d.).
Burung yang populer disebut hornbill dari bahasa Inggris ini pun sangat
mencolok karena suaranya yang menggelegar, yang biasa menjadi tanda persiapan
sebelum terbang. Suara yang keras dianggap simbol seorang pemimpin yang selalu
didengarkan rakyatnya. Burung Enggang sebagai Simbol Kepemimpinan Suku
Dayak. Dengan mahkota hiasan bulu-bulu burung enggang di kepalanya, penampilan
enam lelaki itu begitu menyedot perhatian. Tak hanya bulu, di mahkotanya itu juga
melekat paruh burung enggang. Selain di kepala, bulu burung endemik asal
Kalimantan itu juga dikenakan sebagai hiasan kalung yang menjuntai di dada dan
jari-jari mereka.
16
16
Tak jauh dari mereka, seorang laki-laki yang lebih tua mengenakan mahkota
senada, dengan jumlah helai bulu enggang yang jauh lebih banyak. Terdapat juga
bulu burung haruai, burung merak langka dari Kalimantan. Bunyi gemerincing dari
entakan gelang di tangan dan kaki yang dikenakannya, begitu nyaring. Sambil terus
melompat, ia juga berteriak.
Gambar: Filosofi Burung Anggang
Aura kepemimpinannya begitu kuat. Dengan penampilannya itu, ia
menjelma bak seekor burung, lengkap dengan sayapnya yang mengembang. Ia
dilambangkan sebagai panglima burung yang hadir untuk memimpin pelaksanaan
perang. Masyarakat Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan menempatkan
enggang sebagai burung yang dikeramatkan. Mereka menganggap burung enggang
sebagai
penjelmaan
dari
17
17
panglima burung di hutan pedalaman Kalimantan. Panglima burung adalah sosok
berwujud gaib. Hanya akan hadir saat perang terjadi. Burung ini dianggap sakral dan
tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dikonsumsi. Apabila ada burung enggang
yang ditemukan mati, tubuhnya tidak dibuang. Bagian kepalanya digunakan untuk
hiasan kepala baju adat. Kerangka kepala burung enggang yang keras bertulang akan
tetap awet. Hiasan kepala ini pun hanya digunakan orang-orang terhormat di suku
Dayak."Wujud burung enggang bisa ditemui di hampir setiap ruang kehidupan
masyarakat Dayak," Husni Thamrin, budayawan Dayak yang ditemui di sela acara
Festival Banjar dan Dayak Meratus 2018 di Jakarta, pekan lalu mengatakan, burung
enggang juga dianggap sebagai simbol pemimpin idaman yang mencintai
perdamaian.
Lebar sayapnya digambarkan sebagai tempat perlindungan bagi rakyatnya
yang membentang luas, seluas angkasa. Kepakan sayap burung enggang juga
dianggap sebagai kekuatan dan keberanian karena bunyi nyaringnya, sedangkan suara
yang keluar dari burung enggang menjadi simbol perintah pemimpin yang akan selalu
didengarkan rakyat. Masyarakat Dayak biasanya menggunakan kepala dari burung
enggang untuk hiasan kepala. Tidak sembarangan orang yang bisa memakainya.
Hiasan kepala dari kepala burung enggang hanya dipakai orang-orang yang
mempunyai jabatan yang tinggi, semacam kepala suku. Di daerah lain, burung
enggang dikenal dengan nama rangkong, julang, atau kangkaren (Despian
Nurhidayat, n.d.).
Filsafat yang terkait dengan burung enggang (hornbill) terutama berasal dari
budaya dan tradisi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah dianggap sebagai simbol
yang penuh makna dan sering kali mewakili nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu
dalam masyarakat tersebut.
Beberapa aspek utama dari filsafat burung enggang:
1.Simbol Kesetiaan dan Kesetiaan Seumur Hidup
Burung enggang dikenal karena perilaku kawin seumur hidup. Dalam filsafat
budaya, ini mencerminkan nilai-nilai kesetiaan, komitmen, dan hubungan yang
18
18
mendalam. Pasangan burung enggang bekerja sama dalam membangun sarang dan
merawat anak-anak mereka, yang mencerminkan pentingnya kerjasama dan
komitmen dalam hubungan antarindividu
2.Keseimbangan dan Harmoni
Burung enggang juga melambangkan keseimbangan dan harmoni dalam hubungan
sosial dan lingkungan. Dengan sikap melindungi pasangan dan keturunannya serta
bekerja sama dalam membangun sarang, burung enggang mengajarkan tentang
pentingnya mencapai keseimbangan dalam hubungan dan ekosistem
3.Perlindungan dan Kewaspadaan
Salah satu ciri khas burung enggang adalah perilaku protektifnya terhadap sarang
dan pasangannya. Ini mengajarkan tentang pentingnya melindungi dan menjaga
orang-orang yang kita cintai serta kewaspadaan dalam menjaga keselamatan dan
kesejahteraan komunitas.
4.Keberanian dan Pengorbanan
Burung enggang juga sering dianggap sebagai simbol keberanian dan
pengorbanan. Dalam banyak budaya, perilaku burung enggang yang menunjukkan
dedikasi dan pengorbanan untuk menjaga keluarga mereka dianggap sebagai
teladan dalam menghadapi tantangan hidup
5.Kehidupan dan Spiritualitas
Dalam beberapa kepercayaan tradisional, burung enggang juga memiliki makna
spiritual dan religius. Mereka sering dianggap sebagai makhluk yang memiliki
hubungan khusus dengan dunia roh atau sebagai pembawa pesan dari dunia
spiritual. Ini mencerminkan keyakinan bahwa burung enggang memiliki kekuatan
simbolis yang berkaitan dengan kehidupan spiritual dan alam gaib
6.Kesejahteraan dan Keharmonisan Sosial
Burung enggang sering dijadikan simbol dalam upacara adat dan seni,
menandakan nilai-nilai sosial seperti keharmonisan, kesejahteraan komunitas, dan
integrasi antara individu dan lingkungan mereka
Filsafat burung enggang mengajarkan banyak hal tentang hubungan
manusia, pengelolaan hubungan sosial, dan cara hidup yang seimbang dan
19
19
harmonis. Nilai-nilai ini penting dalam banyak budaya dan dapat memberikan
wawasan yang berharga tentang bagaimana membangun hubungan yang sehat dan
menjaga keseimbangan dalam kehidupan kita.
20
20
DAFTAR PUSTAKA
1001 indonesia. (n.d.). https://1001indonesia.net/burung-enggang/
Adji, B.D., dkk. (2018). Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Rangkong Gading
(Rhinoplax vigil) Indonesia 2018-2028. KLHK Republik Indonesia.
Darajati, W., dkk. (2016). Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.
Despian
Nurhidayat.
(n.d.).
“Enggang
sebagai
Simbol
Kepemimpinan
Suku
Dayak”,.https://www.google.com/amp/s/m.mediaindonesia.com/amp/amp_
detail/170782-enggang-dan-simbol-kepemimpinan-suku-dayak,
Fitriani, A. dkk. (2020). The Symbolism The Dayak Indigenous Peoples Of The Meaning
Of Hornbills. Jurnal Belom Bahadat, 10(1), 24-39.
Hanum, I.R. dan D. Dahlan. (2018). “Makna Mitos Cerita Burung Enggang di Kalimantan
Timur” dalam CaLLs, Vol. 4 No. 1. Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Mulawarman Samarinda.
Hernowo, J.B. (1989). “Suatu Tinjauan terhadap Keanekaragaman Jenis Burung dan
Peranannya di Hutan Lindung Bukit Soeharto Kalimantan Timur” dalam Media
Konservasi, Vol. 2 No. 2 hlm. 19-32. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Hidayat, M. (2021). ANALISIS SIMBOLIK STRUKTURAL BURUNG ENGGANG
PADA MASYARAKAT DAYAK. Jurnal Ilmu Budaya, 18(1), 52-65.
Kementrian Republik Indonesia. (n.d.). “Enggang, Burung Keramat Suku Dayak.
https://pesona.travel/keajaiban/2425/enggang-burung-keramat-suku-dayak
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 20
SLIDE
Similar Resources on Wayground
15 questions
Cuaca dan Iklim (kelembapan, hujan, awan)
Presentation
•
10th Grade
14 questions
Recount Text
Presentation
•
10th Grade
15 questions
Presentasi teks anekdot
Presentation
•
10th Grade
16 questions
Teks LHO Kelas X
Presentation
•
10th Grade
15 questions
MARKETING KD 3.9 MENERAPKAN STRATEGI MEREK
Presentation
•
10th Grade
14 questions
Kelas 4 Subtema 3 pembelajaran 4 : Energi Alternatif
Presentation
•
10th Grade
16 questions
KATA PEMERI TAHUN 4
Presentation
•
10th Grade
15 questions
Pengantar SPLTV
Presentation
•
10th Grade
Popular Resources on Wayground
11 questions
Hallway & Bathroom Expectations
Quiz
•
6th - 8th Grade
10 questions
HCS SCI 03 Summer School Assessment 2
Quiz
•
3rd Grade
11 questions
Home Scope
Quiz
•
7th - 8th Grade
12 questions
2026 TAP Technology in the Classroom
Presentation
•
Professional Development
15 questions
HCS SCI 05 Summer School Assessment 2 Review
Quiz
•
5th Grade
15 questions
HCS SCI 04 Summer School Review 2
Quiz
•
4th Grade
59 questions
Geometry Unit 3 Review
Quiz
•
9th - 12th Grade
14 questions
FAST ELA READING SMAPLE TEST MATERIALS
Passage
•
3rd Grade