Search Header Logo
Belum Berjudul

Belum Berjudul

Assessment

Presentation

Science

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Hendrikus Dedimus Jago

Used 1+ times

FREE Resource

19 Slides • 0 Questions

1

media

Teori masuknya Agama Hindu di Indonesia

2

media

Teori Waisya

Dilansir dari buku Sejarah Politik dan Kekuasaan (2019) oleh Tappil

Rambe dan teman-teman, menuliskan bahwa hipotesis ini dikemukakan
oleh N.J Krom yang menyebutkan proses masuknya kebudayaan Hindu
melalui hubungan dagang antara India dan Indonesia. Kaum pedagang
(Waisya) India yang berdagang di Indonesia mengikuti angin musim. Jika
angin musim tidak memungkinkan mereka untuk kembali, dalam waktu
tertentu mereka menetap di Indonesia. Selama para pedagang India
tersebut menetap di Indonesia, mereka memanfaatkannya dengan
menyebarkan agama Hindu-Buddha.

3

media

Kelebihan Teori Waisya

Interaksi sosial Dalam melakukan transaksi jual beli, para pedagang asal India, yang
juga membawa budayanya, tentu melakukan interaksi dengan masyarakat lokal.
Interaksi yang berjalan dengan baik ini kemudian membuat lancar urusan bisnisnya.
Dari situlah, masyarakat mulai banyak yang tahu tentang ajaran agama Hindu dan
kebudayaan-kebudayaannya. Secara perlahan, banyak masyarakat yang paham dan
mulai

memelajari Hindu hingga kemudian menjadi pemeluk agama Hindu.

Sumber daya alam Indonesia Sumber daya alam Indonesia yang berlimpah membuat
para pedagang atau golongan Waisya tertarik untuk melakukan perdagangan. Para
pedagang, yang mayoritas berasal dari India, mulai mendatangi Indonesia untuk
melakukan perdagangan. Seiring berjalannya waktu, para pedagang tersebut
kemudian mulai menetap di beberapa wilayah Indonesia dan mulai menyebarkan
agama dan kebudayaannya.

4

media

Adanya Kampung Keling Para pedagang India yang menetap di
Indonesia kemudian mendirikan kampung, yang dinamakan
Kampung Keling. Kampung Keling terletak di beberapa wilayah di
Indonesia, ada yang di Jepara, Medan, Malaka, dan Aceh. Dengan
adanya kampung ini, bukti penyebaran agama dan kebudayaan
Hindu-Buddha dilakukan oleh pedagang India semakin kuat.

Perkawinan Para pedagang India yang menetap maupun tidak
melakukan perkawinan dengan warga lokal di Indonesia. Dari
pernikahan itulah ajaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha
mulai tersebar ke dalam keluarga, hingga mereka dikaruniai
keturunan. Keturunannya itulah yang kemudian meneruskan ajaran
agama dan kebudayaan Hindu-Buddha.

5

media

Kelemahan Teori Waisya

Bahasa Sansekerta Ajaran agama Hindu-Buddha ditulis dalam bahasa Sanskerta
dan

aksara

Pallawa,

sehingga

membutuhkan

keahlian

khusus

untuk

membacanya. Orang yang mampu menulis aksara Pallawa dan membaca bahasa
Sansekerta setidaknya berada pada Kasta Brahmana. Maka dari itu, Kasta
Waisya umumnya akan kesulitan untuk mempelajari ajaran agama Hindu
Buddha. Hal ini berlawanan dengan Teori Waisya, yang berpendapat bahwa para
pedagang (Waisya) mampu membaca Sanskerta dan menyebarkan ajaran
agamanya.

Kepentingan para pedagang Para pedagang yang datang ke Indonesia tujuannya
hanya untuk berdagang, sehingga sedikit kemungkinan untuk menyebarkan
ajaran agama Hindu-Buddha. Mereka hanya fokus untuk berdagang guna
mendapatkan penghasilan supaya bisa bertahan hidup.

6

media

Teori Brahmana

Teori ini diungkapkan oleh Jc. Van Leur yang mengatakan

kebudayaan Hindu-Buddha India menyebar melalui golongan
Brahmana. Pendapatnya itu didasarkan pada pengamatan terhadap
sisa-sisa

peninggalan

kerajaan-kerajaan

yang

bercorak

Hindu-Buddha di Indonesia, terutama pada prasasti yang
menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Golongan
Brahmana dikenal menguasai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa,
sehingga jelas bahwa ada peran Brahmana dalam masuknya
Hindu-Buddha ke Indonesia.

7

media

Kelebihan Teori Brahmana

Kaum Brahmana merupakan golongan yang paling tahu dan

paham terkait ajaran agama Hindu. Penyebaran ajaran Hindu
dapat dikatakan sebagai tugasnya. Selain itu, temuan sejarah
terkait prasasti di Indonesia yang menggunakan bahasa
Sansekerta dianggap sama dengan bahasa yang digunakan di
India. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa kelas tinggi dalam
kebudayaan Hindu dan tidak semua orang mampu membaca
atau menuliskannya. Karena hanya golongan Brahmana yang
menguasai bahasa Sanskerta, sehingga golongan inilah yang
kemungkinan besar menyebarkan agama Hindu di Indonesia.

8

media

Kelemahan Teori Brahmana

Selain bukti keakuratannya, ada juga yang membantah

bahwa teori Brahmana tidak pas jika direlevansikan dengan
penyebaran agama Hindu di Indonesia. Hal itu berkaitan
dengan ajaran Hindu kuno yang menyebut bahwa kaum
Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan dan
meninggalkan tanah airnya. Apabila hal itu terjadi, maka
mereka akan kehilangan hak atas kastanya sebagai seorang
Brahmana.

9

media

Teori Ksatria

Ada tiga pendapat mengenai proses penyebaran kebudayaan Hindu-Budha yang

dilakukan oleh golongan ksatria, yaitu:
Pendapat C.C Berg C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria yang turut
menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang
terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang
diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu
kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu,
ada di antara mereka yang kemudian dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala
suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan
mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi.
Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.

10

media

Pendapat Mookerji Sama seperti yang diungkap oleh C.C. Berg,
Mookerji juga mengatakan bahwa golongan ksatria dari India yang
membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para
Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang
menjadi sebuah kerajaan.

Pendapat J.L Moens J.L. Moens mencoba menghubungkan proses
terbentuknya kerajaan- kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5
dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Ternyata
sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan
melarikan

diri

ke

Indonesia

sewaktu

kerajaannya

mengalami

kehancuran. Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.

11

media

Kelebihan Teori Ksatria

Ada beberapa kelebihan Teori Ksatria yang memperkuat pendapat bahwa agama

Hindu-Buddha dibawa oleh para prajurit.
Semangat berpetualang dan penaklukan daerah lain, umumnya hanya dimiliki kaum
prajurit (ksatria).

Menurut C Berg, banyak ksatria yang mengambil andil dalam perebutan kekuasaan
wilayah di Indonesia. Mereka dijanjikan akan dinikahkan dengan putri dari kepala suku
yang dibantunya jika berhasil. Dari sini, tradisi Hindu Buddha berkembang dengan mudah.

Mookerji mengemukakan bahwa ksatria ini membangun koloni-koloni yang akhirnya
berkembang dan menjalin hubungan dengan kerajaan India.

L. Moens mengemukakan bahwa pada abad ke-5, banyak para ksatria yang melarikan diri
karena peperangan di India. Para ksatria yang berasal dari keluarga kerajaan mendirikan
kerajaan baru di Indonesia.

12

media

Kekurangan Teori Ksatria

Selain kelebihan, menarik jika dibahas juga kekurangan Teori

Ksatria, sebagai berikut.
Golongan ksatria tidak mampu berbahasa Sansekerta serta tidak

mengenal huruf Pallawa.

Tidak adanya bukti tertulis bahwa sudah terjadi penaklukan yang

dilakukan ksatria dari India.

Selain itu, tidak adanya bukti peninggalan berupa prasasti yang

mencatat kedatangan para ksatria hingga menyebarkan agama
Hindu Buddha.

13

media

Teori Arus Balik

Pendapat ini menjelaskan peran aktif dari orang-orang

Indonesia yang mengembangkan kebudayaan Hindu-Budha
di Indonesia. Pendapat mengenai keaktifan orang-orang
Indonesia ini diungkap oleh F.D.K Bosch yang dikenal
dengan Teori Arus Balik. Teori ini menyebutkan bahwa
banyak

pemuda

Indonesia

yang

belajar

agama

Hindu-Buddha ke India. Setelah memperoleh ilmu yang
banyak,

mereka

kembali

ke

Indonesia

untuk

menyebarkannya. Baca juga: Jejak Seni Arca dan Ragam
Hias Peradaban Hindu-Buddha di Indonesia

14

media

Kelebihan Teori Arus Balik

Teori arus balik punya kelebihan dalam segi keefektifan. Seperti yang kita tahu, teori

arus balik meyakini bahwa kunci persebaran agama Hindu di Indonesia dimulai oleh
rakyatnya sendiri. Mereka datang langsung ke India untuk mempelajari agama Hindu.

Kemudian, setelah ilmunya terkumpul, orang-orang yang sudah belajar tadi akan

kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ajaran Hindu di sini. Dengan begitu, proses
penyebaran jadi lebih mudah. Sebab, proses komunikasi lebih lancar karena menggunakan
bahasa yang sama. Di samping itu, mereka lebih paham akan kondisi sosial, adat, dan
budaya di Indonesia.

Tidak hanya melihat dari aspek efektivitasnya, teori arus balik semakin kuat karena

dibuktikan oleh keberadaan prasasti Nalanda. Dikutip dari RPP Sejarah Indonesia Kelas X
dari SMK Negeri 4 Garut, peninggalan tersebut menjelaskan tentang adanya pembangunan
wihara untuk para pelajar dari Kerajaan Sriwijaya yang menimba ilmu di India.

15

media

Kelemahan Teori Arus Balik

Di

samping

punya

kelebihan,

ada

satu

kelemahan yang membuat teori arus balik kurang
diyakini. Saat itu, orang-orang Indonesia dinilai
tergolong kelompok yang sifatnya pasif. Makanya,
teori arus balik yang mengatakan bahwa mereka
belajar agama Hindu-Buddha ke India tampak
kurang akurat.

16

media

Teori Sudra

Teori ini disampaikan Von Van Faber yang

mengatakan bahwa peperangan yang terjadi di India
pada saat itu menyebabkan golongan Sudra menjadi
buangan. Kemudian mereka meninggalkan India
dan mengikuti kaum Waisya dan diduga golongan
Sudra yang memberi andil dalam penyebaran budaya
Hindu-Buddha ke Indonesia. Karena saat itu jumlah
mereka sangta besar.

17

media

Kelemahan teori Sudra

Teori Sudra tentang proses masuknya Hindu ke indonesia memiliki kelemahan, yaitu:

Kasta Sudra tidak sepenuhnya paham tentang agama Hindu
Teori Sudra yang dikemukakan oleh Van Faber mendapat banyak tentangan dari tokoh lain. Hal ini
karena golongan Sudra, yang dipercaya menyebarkan ajaran Hindu oleh Van Faber, tidak terlalu
memahami dan menguasai agama Hindu. Tidak hanya itu, golongan Sudra juga diketahui tidak
mengerti huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta seperti yang digunakan dalam kitab suci agama
Hindu, yakni Kitab Weda. Dengan demikian, sulit untuk percaya bahwa golongan Sudra lah yang
menyebarkan ajaran agama Hindu di Nusantara.

Latar pendidikan tidak terlalu tinggi
Golongan Sudra merupakan kasta terendah dalam agama Hindu yang tidak berkesempatan
mendapat pendidikan yang layak. Sehingga, pemahaman golongan Sudra tidak terlalu mendalam,
khususnya tentang agama Hindu.

Merupakan kasta terendah
Sebagai kasta terendah dalam agama Hindu, tidak mungkin bagi golongan Sudra menyebarkan
ajaran agama Hindu yang umumnya dilakukan oleh kasta tertinggi, seperti para Brahmana.

18

media

Kelebihan teori Sudra

Kelebihan dari teori Sudra adalah argumen bahwa mereka

berpindah dari India ke negara lain karena ingin memperbaiki hidup.
Sebagian besar golongan Sudra bekerja sebagai buruh serta budak,
sehingga sangat mungkin apabila mereka ingin mengubah nasib
menjadi lebih baik ke tempat lain. Maka dari itu, di samping berpindah
karena ingin memperbaiki kondisi hidup, golongan Sudra sekaligus
menyebarkan ajaran agama Hindu, Selain itu, golongan Sudra juga
berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Hindu di Nusantara melalui
perkawinan.

19

media

Sumber Materi

Kompascom+ baca berita tanpa iklan:

https://kmp.im/plus6

Download aplikasi: https://kmp.im/app6

media

Teori masuknya Agama Hindu di Indonesia

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 19

SLIDE