Search Header Logo
ZAT DAN PERUBAHANNYA

ZAT DAN PERUBAHANNYA

Assessment

Presentation

Chemistry

University

Practice Problem

Hard

Created by

Syafrizal Arifin

FREE Resource

63 Slides • 6 Questions

1

media

ZAT DAN PERUBAHANNYA

2

Word Cloud

Bagaimana Kabarnya Hari ini ?

3

Word Cloud

YEL YEL SMK 1 SRAGI

4

Word Cloud

Sudah makan hari ini ?

5

Word Cloud

“Bagaimana perasaanmu saat ini?”

6

Word Cloud

“Apa kamu merasa nyaman saat belajar di kelas?”

7

Word Cloud

“Apa yang kamu lakukan setelah pulang sekolah?"

8

media

A. Klasifikasi Materi

Materi adalah objek atau bahan yang dapat menempati ruang dan memiliki

massa. Materi juga sering disebut sebagai suatu zat yang ada di sekitar

alam. Sifat fisik suatu materi dapat dianalisis melalui indra manusia.

Contohnya, melalui indra penglihatan, Anda dapat membedakan materi

tersebut berukuran besar atau kecil, berbentuk bulat atau kotak, berwarna

merah atau hijau dan bertekstur halus atau kasar.

9

media

1. Berdasarkan Wujud Materi

a.
Materi berwujud padat

Materi dengan wujud padat memiliki bentuk yang tetap. Volume materi

berwujud padat juga tetap karena gerak partikel zat padat hanya berupa

getaran di seputar kedudukannya saja. Contohnya batu, emas dan besi.

10

media

b.
Materi berwujud cair

Materi berwujud cair memiliki karakteristik yang berubah-ubah mengikuti

wadahnya. Hal ini dikarenakan jarak antar partikelnya tidak terlalu rapat.

Volume materi berwujud cair adalah tetap karena sifatnya mudah berpindah

namun tidak dapat meninggalkan gugus molekulnya. Contohnya air, minyak

dan bensin.

11

media

c.
Materi berwujud gas

Materi berwujud gas mempunyai bentuk dan volume yang berubah-ubah.

Hal ini dikarenakan jarak antarpartikel materi berwujud gas berjauhan, tidak

tersusun secara teratur dan gaya tarik antarpartikelnya sangat lemah.

Partikel materi berwujud gas dapat bergerak secara bebas meninggalkan

kelompoknya. Contohnya asap, uap air dan oksigen.

12

media

2. Berdasarkan Komposisi Materi

Komposisi suatu materi (zat) dibedakan menjadi dua, yaitu zat tunggal

(unsur dan senyawa) serta campuran (larutan, koloid dan suspensi)

seperti gambar dibawah ini.

Gambar penggolongan materi

13

media

Materi

Zat

Tunggal

Unsur

Senyawa

Campuran

Homogen

Larutan

Heterogen

Koloid

Suspensi

14

media

a. Zat tunggal

Zat tunggal adalah zat yang tersusun dari suatu materi yang tidak dapat diuraikan lagi

menjadi zat yang lebih kecil dan sederhana.


Unsur (element) adalah suatu zat tunggal yang tidak dapat dipisahkan lagi melalui reaksi

kimia biasa. Setiap unsur diberi nama dan lambang untuk memudahkan penulisannya.

Lambang unsur diambil dari huruf depan nama unsur dan dituliskan dengan huruf kapital.

Jika terdapat nama dengan huruf depan yang sama, nama unsur berikutnya dituliskan

dengan menambahkan satu huruf di belakangnya dengan huruf kecil.

15

media

Unsur secara spesifik dikelompokkan menjadi unsur logam, non logam dan semilogam.

Berikut gambar unsur beserta lambangnya.

Nama Unsur

Lambang

Alumunium

Al

Arsen

As

Barium

Ba

Bromin

Br

Kalsium

Ca

Karbon

C

Klorin

Cl

Krom

Cr

Kobalt

Co

Tembaga

Cu

Nama Unsur

Lambang

Fluorin

F

Emas

Au

Hidrogen

H

Lodin

l

Besi

Fe

Timbel

Pb

Magnesium

Mg

Merkuri

Hg

Nikel

Ni

Nitrogen

N

Nama Unsur

Lambang

Oksigen

O

Fosfor

P

Platina

Pt

Kalium

K

Silikon

Si

Perak

Ag

Natrium

Na

Sulfur

S

Timah

Sn

Seng

Zn

16

media


Senyawa

Senyawa merupakan gabungan dari beberapa unsur yang berbeda jenis dan saling

berkaitan melalui reaksi kimia dalam perbandingan massa tetap dan tertentu.

Senyawa termasuk dalam zat yang masih dapat diuraikan menjadi unsur-unsur

penyusunnya. Senyawa mempunyai beberapa unsur yang saling bergabung secara

kimiawi sehingga lambang dari senyawa terdiri atas beberapa lambang unsur.

Sebagai contoh air dilambangkan sebagai H2O dengan nama ilmiah dihidrogen

monoksida yang terdiri atas dua atom hidrogen untuk setiap atom oksigen.

17

media

b. Campuran

Campuran merupakan gabungan dua zat atau lebih yang masing-masing

zat penyusunnya masih memiliki sifat aslinya. Campuran gabungan dua

zat atau lebih yang masing-masing zat penyusunnya masih memiliki sifat

aslinya. Campuran dibedakan menjadi campuran homogen (larutan) serta

campuran heterogen (koloid dan suspensi).

18

media

Larutan, yaitu campuran homogen yang komposisi zat penyusunnya sudah tidak dapat

dibedakan lagi. Pada larutan, tidak dapat dikenali lagi antara komponen pelarut dan

terlarutnya. Sifat larutan yang stabil menyebabkan larutan tidak menimbulkan endapan dan

tidak dapat dipisahkan menggunakan teknik penyaringan (filtrasi). Contohnya larutan gula dan

larutan garam.

Koloid, yaitu campuran heterogen yang terbentuk akibat terdispersinya suatu zat ke dalam zat

lainnya. Secara kasat mata, koloid tampak tercampur rata, tetapi jika diamati menggunakan

mikroskop ultra masih dapat diidentifikasi antara fase terdispersi dan medium pendispersinya.

19

media

Gambar Macam Macam Koloid

Fase Terdispersi

Padat

Cair

Gas

Padat

Sol Padat
Kaca berwarna

Batu rubi

Perunggu

Kuningan

Emulsi Padat
Keju

Gel silika

Mutiara

Buih Padat
Spons busa

Roti bolu

Batu apung

Styrofoam

Cair

Sol
Tinta

Tanah liat

Lem kanji

Cat

Emulsi
Santan

Susu

Mayonnaise

Buih
Karet busa

Busa sabun

Gas

Aerosol Padat
Asap

Debu

Aerosol
Awan

Kabut

Parfum yang
disemprotkan

20

media


Suspensi, yaitu campuran yang masih dapat diidentifikasi antarzat penyusunnya

karena

tidak

tercampur

secara

sempurna. Sifat

suspensi

yang

tidak

stabil

menyebabkan terbentuknya endapan (sedimen) dan dapat dipisahkan dengan

teknik penyaringan. Contohnya adalah campuran tepung tapioka dalam air dan air

sungai yang keruh.

21

media

3. Pemisahan Campuran

Senyawa kimia yang sering ditemui dalam keadaan tidak murni atau

tercampur dengan senyawa yang lain. Untuk mendapatkan senyawa yang

diinginkan perlu dilakukan proses pemisahan.

22

media

a. Filtrasi

Merupakan

proses

pemisahan

campuran dengan cara memisahkan

material padat dari cairannya dengan

melewatkan campuran pada saringan.

Zat

yang

difiltrasi

harus

berbentuk

fluida, yaitu cairan atau gas.

b. Kristalisasi

Kristalisasi merupakan proses pemisahan

campuran

dengan

cara

mengendapkan

larutan

sampai

terbentuk

benda

padat

berupa

kristal-kristal.

Proses

pemisahan

jenis ini terjadi pada proses pembuatan

garam.

23

media

Contoh Gambar Filtrasi

Gambar proses kristalisasi

24

media

c. Dekantasi

Dekantasi

merupakan

proses

pemisahan

campuran yang paling sederhana. Pemisahan

dilakukan dengan cara menuangkan cairan

(campuran

larutan

dan

sedimen)

melalui

batang pengaduk ke dalam gelas kimia secara

perlahan-lahan

sehingga

endapan

padat

(sedimen)

akan

tertinggal

dalam

wadah.

Proses

ini

digunakan

dalam

pemisahan

padatan dan larutan

d. Sublimasi

Sublimasi

merupakan

proses

pemisahan

campuran

tanpa

melalui fase cair terlebih dahulu,

yaitu dengan cara menguapkan

zat padat sehingga kotoran akan

terpisah.

25

media

Gambar proses dekantasi

Gambar pemanfaatan sublimasi

26

media

e. Distilasi

Distilasi atau disebut juga penyulingan

merupakan proses pemisahan campuran

berdasarkan titik didihnya, yaitu

kecepatan atau kemudahan bahan untuk

menguap. Contoh distilasi yaitu proses

pemisahan minyak kemiri dan

pemisahan fraksi minyak bumi.

f. Kromatografi

Kromatografi merupakan proses pemisahan

campuran berdasarkan perbedaan pola

pergerakan antara fase gerak dan fase diam

suatu molekul pada suatu larutan.

Gambar proses kromatografi

27

media

Gambar Proses Distilasi

Gambar Proses Krematografi

28

media

B. Sifat Materi dan Pengukurannya

1.

Sifat Fisis

Sifat fisis merupakan karakteristik suatu zat ditinjau dari kondisi fisik yang dapat dilihat,

diamati dan diukur dengan tanpa mengubah kondisi fisik zat tersebut. Setiap materi

memiliki sifat fisis yang dapat diukur dan dinyatakan nilainya dengan besaran.

Contohnya air dalam gelas memiliki massa, volume, suhu dan massa jenis. Besaran

dalam fisika dibagi menjadi kategori berikut

29

media

a. Besaran Pokok

Besaran pokok yaitu besaran yang satuannya didefinisikan dan disepakati

lebih dahulu. Secara fisika, terdapat tujuh besaran pokok sebagaimana

diuraikan dalam tabel berikut.

Tabel besaran pokok dan satuannya

30

media

No.

Besaran

Satuan

(MKS)

Satuan

(CGS)

1.

Massa

kilogram (Kg)

gram (g)

2.

Panjang

meter (m)

centimeter
(cm)

3.

Waktu

sekon (s)

sekon (s)

4.

Suhu

kelvin (K)

celcius (oC)

5.

Kuat arus

amper (A)

ampere (A)

6.

Intensitas cahaya

candela (Cd)

candela
(Cd)

7.

Jumlah zat

mol (mol)

mol (mol)

31

media

b. Besaran Turunan

Besaran turunan yaitu besaran yang diturunkan dari besaran pokok diantaranya sebagai berikut:

Luas adalah hasil perkalian panjang dan lebar dengan satuan m2.

Luas (m2) = panjang (m) x lebar (m)

Luas merupakan besaran turunan dari besaran pokok panjang.

Kecepatan adalah jarak yang ditempuh dalam satuan waktu tertentu dengan satuan m/s.

Kecepatan (m/s) =

jarak (m)

waktu (s)

32

media

Gambar Contoh Besaran Turunan Dan Satuannya

No.

Besaran

Satuan (MKS)

Satuan (CGS)

1.

Volume

meter kubik (m3)

centi meter kubik (cm3)

2.

Gaya

newton (N)

Dyne

3.

Energi

joule (J)

Erg

4.

Daya

watt (W)

erg/s

5.

Massa jenis

(kg/m3)

gram/cm3

6.

Tekanan

pascal (Pa)

7.

Frekuensi

hertz (Hz)

8.

Resistensi

ohm (Ω)

9.

Potensial listrik

volt (V)

10.

Indukstansi

henry (H)

11.

Medan magnet

tesla (T)

12.

Kapasitas
kapositor

farad (F)

33

media

2. Sifat Kimia

Sifat

kimia

merupakan

sifat yang

berkaitan

erat

dengan

reaksi

dan

perubahannya jika bertemu dengan zat lain dan menghasilkan zat baru yang

berbeda dengan sifat asalnya. Contohnya ketika gas hidrogen direaksikan

dengan oksigen, akan dihasilkan air. Setelah gas hidrogen dan oksigen

bereaksi, terbentuklah zat baru, yaitu air yang sifatnya berbeda dengan sifat

pembentuknya (hidrogen dan oksigen). Contoh lain dari sifat kimia yaitu

mudah terbakar, mudah membusuk dan korosif.

34

media

3. Pengukuran

Suatu kegiatan membandingkan besaran yang diukur dengan besaran sejenis

yang digunakan sebagai satuan merupakan kegiatan pengukuran. Contoh

kegiatan pengukuran, antara lain ketika mengukur tinggi badan, menimbang

massa badan dan mengukur waktu perjalanan. Contohnya Azizah memiliki

massa 45 kg sedangkan tinggi badan Azizah 1,65 m.

35

media

a. Toleransi Pengukuran

o Ketidakpastian pengukuran Tunggal

Pengukuran Tunggal merupakan pengukuran yang hanya dilakukan sekali.

Nilai toleransi

36

media

o Ketidakpastian pengukuran Berulang

Dalam kepentingan laboratorium, adakalanya pengambilan data tidak hanya

dilakukan sekali, tetapi berulang-ulang untuk menghasilkan data terbaik.

Dengan

:nilai rata-rata
:nilai ketidak pastian

: jumlah seluruh nilai pengukuran

N

: Jumlah pengukuran

37

media

o Ketidakpastian relatif

Ketidakpastian

relatif

menunjukkan

presentase

pengambilan

tersebut

dapat dipercaya.

Setelah didapatkan angka persentase kesalahan relative selanjutnya penyaji data harus

mengikuti konsensus penyajian data sebagai berikut

-pengukuran dengan KR ≥ 10% berhak melaporkan data dalam 2 angka penting

-pengukuran dengan 10% > KR ≥ 1% berhak melaporkan data dalam 3 angka penting

-pengukuran dengan 1% > KR berhak melaporkan data dalam 4 angka penting

38

media

b. Alat Ukur
Alat ukur merupakan hal yang penting dalam menunjang
aktivitas pengukuran di kehidupan sehari-hari.

Jangka sorong

Jangka sorong merupakan alat ukur

panjang yang memiliki ketelitian 0,1

mm hingga 0,02 mm.

Mikrometer sekrup

Mikrometer sekrup merupakan

alat ukur panjang yang biasa

digunakan untuk mengukur

ketebalan benda yang sangat

tipis, misal tebal kertas dengan

ketelitian hingga 0,01 mm.

39

media

-Rahang luar (external jaws) digunakan untuk mengukur diameter luar

-Rahang dalam (internal jaws) digunakan untuk mengukur diameter dalam

-Tangkai ukur kedalaman (depth measuring blade) digunakan untuk mengukur kedalaman

-Skala Utama (

-Matric scale) menunjukkan angka pengukuran pasti

-Skala Nonius (Nonius scale) menunjukkan akurasi pengukuran

Gambar Jangka sorong

40

media

Mikrometer Sekrup

41

media

Neraca

Neraca merupakan alat ukur massa.

Jenis dan tipe neraca bermacam-

macam salah satu diantaranya

adalah neraca tiga lengan.

Stopwatch

Stopwatch merupakan alat ukur waktu

yang paling umum digunakan selain

arloji. Pembacaan stopwatch tidak

terlaly rumit karena terlihat langsung

pada alat ukur, baik stopwatch digital

maupun analog.

42

media

Contoh Gambar Neraca

Contoh Gambar Stopwach

43

media

Avometer

Avo

meter

atau

sering

disebut

multimeter merupakan alat ukur untuk

mengetahui nilai dari kuat arus listrik,

tegangan

potensial

listrik

dan

hambatan

dari

rangkaian

atau

komponen elektronik.

44

media

C. PERUBAHAN MATERI

Perubahan materi merupakan alih wujud zat, baik karena pengaruh kondisi

maupun zat lain yang mengenainya. Contohnya bangunan lama yang

mengalami pelapukan yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya

yaitu

aktivitas

tumbuhan

lumut,

paparan

sinar

matahari

dan

hujan.

Perubahan materi dikelompokkan menjadi dua yaitu perubahan fisika dan

perubahan kimia.

45

media

1. Perubahan Fisika

Perubahan fisika merupakan perubahan zat tanpa mengubah sifat asli zat tersebut.

Proses perubahan fisika tidak menghasilkan zat baru dan dapat dikembalikan ke

wujud semula meski tanpa melalui reaksi kimia (reversible).

a. Perubahan wujud

zat karena pengaruh suhu, dapat berwujud padat, cair, atau gas melalui proses

pemanasan atau pendinginan. Proses mencair (melting), menguap (evaporation),

menyublim (sublimation) menyerap panas selama prosesnya. Proses mengembun

(condensation), membeku (freezing) dan deposisi (deposition) melepaskan panas

selama prosessnya.

46

media

b.

Perubahan bentuk dan ukuran.

Perubahan pada sebuah zat dapat terjadi karena pengaruh suhu, tekanan lain. Contoh

perubahan bentuk dan ukuran anatar lain:

Proses pemuaian zat karena pengaruh suhu

Proses penggilingan beras menjadi tepung karena proses penumbukan

Proses pembuatan mebel dari potongan-potongan kayu menjadi kursi

Gambar berikut menjelaskan contoh perubahan fisika.

Gambar perubahan wujud zat pada industri pengecoran logam

47

media

c. Pelarutan

Pelarutan

adalah

proses

pencampuran

zat

terlarut

(solute)dan

zat

pelarut

(solvent)hingga

menghasilkan larutan yang tercampur merata (bersifat homogen). Zat yang terlarut merupakan

komponen larutan yang memiliki kadar mol lebih kecil daripada zat pelarutnya. Larutan termasuk

perubahan fisika karena sifatnya reversible dapat dikembalikan ke bentuk semula (reversible) contoh

larutan garam dapat dikembalikan ke bentuk semula melalui proses destilasi atau penyulingan. Secara

fisik larutan dibedakan menjadi 3 (tiga), antara lain:

Larutan encer (dilute solution), yaitu larutan yang relatif lebih sedikit solute dibanding solvent.

Larutan pekat (concentrated solution), yaitu larutan yang relatif lebih banyak solte dibanding solvet.

Larutan jenuh (saturated solution), yaitu larutan yang kondisinya sudah tidak mampu lagi melarutkan zat

terlarut pada temperatur tertentu, dengan naiknya temperatur kelarutan dapat bertambah.

48

media

d. Ekstrasi

Ekstrasi merupakan pengeluaran senyawa-senyawa (analit) dari sebuah sampel yang

umumnya menggunakan media pelarut yang sesuai dengan sampel tersebut. Contoh

ekstrasi yang paling sederhana adalah pembuatan minuman kopi. Kandungan kafein

pada kopi yang berbentuk padat, ketika dimasukkan pada air panas kandungannya

akan teresktrak dan bercampur dengan air menjadi larutan. Pembuatan kopi dengan

instan tanpa ampas menggambarkan jelas bahwa proses ekstrasi dan larutan adalah

proses perubahan fisika.

49

media

Gambar proses

pembuatan kopi instan

50

media

2. Perubahan Kimia

Perubahan kimia merupakan perubahan zat dengan menghasilkan zat baru yang memiliki sifat

berbeda dengan zat awalnya, tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula (irreversible), antara

lain:

Suatu reaksi kimia pada zat yang mudah terbakar dengan suatu oksidan dan menghasilkan

panas. Pada beberapa reaksi pembakaran disertai dengan peredaran cahaya atau percikan api.

Contoh pembakaran adalah reaksi hydrogen dan oksigen pada proses pembakaran bahan

bakar roket.

Berdasarkan persamaan kimia pembakaran hydrogen tersebut, 2 mol hidrogen bereaksi dengan
1 mol oksigen, akan menghasilkan 2 mol uap air dan energi panas.

51

media

b.

Perkaratan Korosi.

Pada saat proses oksidasi logam bereaksi dengan oksigen, air, atau zat

asam, pada reaksi korosi logam berkedudukan sebagai reduktor yang

mengalami oksidasi, umumnya menghasilkan oksida berwarna coklat

kemerah-merahan.

Contoh proses korosi pada besi terlihat pada persamaan kimia reaksi berikut:

52

media

Kondisi yang sangat mempengaruhi proses korosi yaitu


Kelembaban, tingkat kelembaban tinggi mengindikasikan bahwa konsentrasi uap air yang tinggi, tingginya uap air

akan mempercepat proses korosi logam.


Keasaman (pH), kondisi asam ditunjukkan dengan nilai pH < 7. Lingkungan yang asam akan mempercepat proses

korosi


Keberadaan elektrolit, proses elektrolisis menghantarkan electron bebas hasil oksidasi pada anoda menuju anoda,

keberadaan ion-ion tersebut akan mempercepat terjadinya korosi.


Suhu yang tinggi akan mempengaruhi reaksi oksidasi, sehingga laju korosi akan semakin meningkat pula.


Galvanic coupling, yaitu kontak dengan logam lain. Sebagai contoh besi menempel pada logam lain. Dalam hal ini

besi mengalami oksidasi dan akan melepaskan electron yang akan mengalir ke logam lain tersebut. hal ini besi

bersifat sebagai anaoda dan logam lain bersifat sebagai katoda. Peristiwa ini akan menyebabkan meningkatnya

proses korosi.


Reaksi korosi sangat merugikan bagi kehidupan khususnya pada bidang manufaktur logam.

53

media

3. Perubahan Biologi

Perubahan kimia yang disebabkan oleh organisme biotik seperti lumut, bakteri, jamur, dan organisme

biotik lain sering disebut sebagai perubahan biologi. Layaknya perubahan kimia, perubahan biologi

bersifat irreversible dan menghasilkan zat baru yang sama sekali berbeda dari sifat zat awalnya.

a. Proses fotosintesis

Masih ingat pembelajaran pada Bab 1 tentang organisme autotrof bukan? Yaitu organisme yang

dapat membuat makanan sendiri yang tidak lain adalah tumbuhan hijau. Tumbuhan membuat

makanan dengan cara fotosintesis yaitu mengubah air dan mineral dengan bantuan sinar matahari

dan gas karbondioksida menjadi amilum (zat tepung)

Proses fotosintesis tersebut secara kimia dirumuskan sebagai berikut

54

media

b.

Peragian (Fermentasi).

Peragian adalah proses penguraian zat kompleks menjadi komponen yang lebih sederhana

dengan melibatkan enzim pengurai. Contoh reaksi fermentasi yang banyak dijumpai di

sekeliling kita adalah proses pembuatan tape, baik yang berbahan dasar singkong maupun

ketan. Proses fermentasi ini yaitu mengubah glukosa (C6H12O6) menjadi alkohol golongan

etanol (C2H5OH) melalui proses respirasi anaerob organisme dari ragi (Saccharomyces

cereviceae). Proses anaerob merupakan proses yang tidak membutuhkan oksigen sama

sekali. Proses fermentasi secara kimia pembuatan tape dapat dituliskan sebagai berikut:

Proses fermentasi banyak dimanfaatkan pada dunia industri makanan contoh pembuatan

minuman anggur, bir, kecap, dan tempe.

55

media

c.

Pembusukan (Dekomposisi).

Merupakan proses dekomposisi materi sisa zat organik. Proses pembusukan sisa zat organic,

disebabkan oleh tiga hal yaitu:

Autolysis, yaitu keadaan pelunakan dan pencairan sel, disebabkan oleh enzim intraseluler

yang dilepaskan oleh sel yang telah mati. Pembusukan akan semakin cepat dalam kondisi

kelembaban dan suhu lingkungan tertentu.

Reaksi reduksi-oksidasi, umumnya terjadi pada proses pembusukan organisme tumbuhan

(autotrof). Pada reaksi reduksi terjadi pengurangan oksigen dan penambahan electron pada

materi yang akan menyebabkan proses pembusukan semakin meningkat.

Aktivitas organisme pengurai (decomposer), bakteri dan beberapa organisme pengurai

memperoleh makanan dari sisa-sisa kehidupan organisme lain. Pembusukan terjadi ketika

proses penguraian berlangsung hingga seluruh materi sisa organisme mati tersebut habis.

56

media

Proses pelapukan merupakan sebuah peristiwa biologi, yang berhubungan denganperistiwa fisika dan kimia. Pelapukan yaitu

proses perubahan keadaan fisik benda yang berkaitan dengan penghancuran dari material benda tersebut, baik dari makhluk

hidup atau benda mati menjadi lapuk karena pengaruh waktu, iklim, cuaca. Contoh: peristiwa lapuknua kayu karena terkena air,

pelapukan kertas karena suhu dan lainnya. Proses pelapukan ada yang hanya sekedar pelapukan fisis, karena tempaan suhu

dan tekanan, ada juga yang disebabkan oleh aktivitas organisme biotic. Contoh: lumut dan tumbuhan paku sebagai tanaman

pioneer. Pelapukan juga dapat disebabkan oleh aktivitas serangga, rayap dan semut.


Penyebab terjadinya pelapukan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:


Pelapukan Biologis, yaitu proses pelapukan benda sebagai akibat dari aktivitas makhluk hidup. Contoh: jamur, rayap dan
bakteri.


Pelapukan Fisika (Mekanik), yaitu pelapukan benda yang disebabkan adanya perubahan kegiatan fisis. Contoh: perubahan
suhu, tekanan, hujan, sinar matahari, angin dangelombang laut.


Pelapukan Kimia, yaitu proses pelapukan benda sebagai akibat zat kimia yang menyebabkan terurainya struktur benda
secara kimia.

D. Pelapukan Akibat Organisme Biotik

57

media

Gambar Pelapukan Akibat Aktivitas Lumut

58

media

D. BAHAN BERBAHAYA BERACUN

Menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan

Lingkungan Hidup, “Bahan berbahaya dan beracun adalah adalah zat,

energi, komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, jumlahnya baik

secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/ atau

merusak lingkungan hidup, membahayakan lingkungan hidup, kesehatan

serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

59

media

1. Klasifikasi Bahan Berbahaya dan Beracun.

a. Menurut Peraturan Pemerintah RI.


Menurut PP No.74 Tahun 2001, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun dibedakan menjadi tiga

kelompok, antara lain:


B3 yang dapat digunakan, terdapat 209 jenis bahan yang boleh digunakan diantaranya meliputi bahan

bakar, bahan-bahan pembersih, pengawet makanan, pewarna sintetis dan lain-lain.


B3 yang dilarang digunakan, terdapat 10 jenis bahan yang dilarang untuk digunakan. Diantarasnya yaitu

Chlordane, DDT, Aldrin, dan lain-lain.


B3 yang terbatas penggunaanya, terdapat 45 jenis bahan yang dibatasi penggunaannya, antara lain:

Chlorobenzilate, Senyawa merkuri, Methyl-parathion, dan lain-lain.

60

media

b. Menurut National Fire Protection Agency
(NFPA)

Bahan berbahaya berdasarkan potensi bahaya yang kemungkinan akan ditimbulkan

oleh materi dalam keadaan darurat akibat respon seketika dalam waktu yang sangat

singkat. NFPA memberikan kode angka dari 0 sampai 4 berdasarkan tingkat

bahayanya. potensi terendah diberikan kode angka 0 dan potensi bahaya tertinggi

diberi kode 4. NFPA juga menggolongkan B3 kedalam 4 kriteria yang sekaligus

berfungsi

untuk

pemberian

label

pada

materi

B3

tersebut.

Gambar

berikut

menunjukkan kriteria bahan berbahaya dan beracun menurut NPFA

61

media

Gambar 2.16. Kriteria labeling Bahan Berbahaya dan Beracun

Sumber: www.npfa.org

BAHAYA KESEHATAN
[ berbaha, beracun, korosi, iritasi ]

4. Mematikan, beracun, kaustik,

iritasi akut.

3. menyebabkan cidera serius
2. menyebabkan cidera jika pera-

watan medis tidak segera

1. menyebabkan iritasi ringan
0. tidak berbahaya

MUDAH TERBAKAR
[ titik nyala ]

4. dibawah 73 oF
3. dibawah 100 oF
2. dibawah 200 oF
1. diatas 200 oF
0. tidak dapat menyala

KETAKSTABILAN

4. Dapat Meledak
3. Dapat meledak karna panas

atau goncangan

2. dapat mengalami perubahan

kimia yang dasyat

1. tidak stabil jika terkena panas
0. Stabil

SPESIFIKASI BAHAYA

Pengoksidasi

OX

Asam

ACID

Korosif

COR

Jangan terkena air

W

Bahaya Radiasi

Gambar kriteria labeling bahan

berbahaya dan beracun

62

media

2. Pengelolaan B3.

a. Prosedur Penyimpanan B3.

Prosedur penyimpanan B3 harus ditangani dengan baik, penyimpanan dan penataan

B3

harus

dikelompokkan

berdasarkan

tingkat

bahaya,

penataan

B3

meliputi:

pemisahan (segregation), pelabelan (labeling), resiko bahaya (multiple hazards),

fasilitas penyimpanan (storage facilities), inventarisasi (inventory), wadah sekunder

(secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals) dan informasi resiko

bahaya (hazard information). Penyimpanan materi B3 harus disimpan pada wadah

sekunder yang terisolir antara zat satu dan lainnya untuk menghindari terjadinya reaksi

antar zat saat disimpan. Urutan tingkat bahaya dari potensi paling besar sampai

potensi terendah dalam penataan B3.

63

media

No.

Jenis Bahan

Kereaktifan Bahan

1.

Bahan Radioaktif
bahan-bahan yang memiliki kemampuan memancarkan radiasi karena sifat inti
atom yang kurang stabil.

2.

Bahan Piroforik
bahan kimia dapat terbakar secara spontan jika kontak dengan uap air,
maupun udara bebas.

3.

Bahan eksplosif
bahan mudah meledak karena respon api atau mekanis gesekan, goncangan,
suhu, dan tekanan.

4.

Cairan flammable
bahan cair mudah terbakar pada reaksi spontan karena respon api, suhu,
ataupun paparan sinar matahari.

5.

Asam/basa korosif
zat asam/ basa yang dapat menyebabkan kerusakan pada benda atau organ
tubuh yang terkena zat tersebut.

6.
Bahan reaktif
terhadap Air

bahan-bahan yang dapat menimbulkan reaksi spontan seperti meledak atau
terbakar ketika terkena air.

7.
Padatan
flammable

bahan padat mudah terbakar pada reaksi spontan karena respon api, suhu,
ataupun paparan sinar matahari.

8.

Bahan oksidator
Bahan yang mempunyai kemampuan mengoksidasi bahan lain.

9.
Bahan
combustible

Bahan yang mudah terbakar, antara lain: kayu, plastik, kain dan lain-lain.

10.

Bahan toksik
bahan yang memiliki kandungan racun.

11.

Bahan Lainnya
bahan yang tidak memerlukan pemisahan secara khusus.

Berikut jenis bahan dan kereaktifannya

64

media

b. Pelabelan B3.

Salah satu upaya meminimalisasi kecelakaan kerja adalah dengan mengenali

bahan kerja yang terdapat pada bengkel atau tempat kerja. Sebagai bantuan

dalam mengenali bahan-bahan tersebut ada baiknya jika setiap bahan kerja

khususnya B3 memiliki identitas dalam bentuk label. Contoh pelabelan benda

berbahaya mengacu pada sistem pelabelan bahan berbahaya menurut NFPA

65

media

c. Pengolahan limbah B3

Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung B3, oleh

karena itu limbah B3 harus ditangani dengan bijak karena limbah B3 jika dibuang

langsung

ke

lingkungan

dapat

menimbulkan

dampak

berantai

mengikuti

proses

pengangkutan (sirkulasi) dan jaring-jaring makanan.

Pengelolaan

meliputi

kegiatan:

pengurangan,

penyimpanan,

pengumpulan,

pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan Limbah B3.

Alur pengelolaan limbah B3 selanjutnya dijelaskan pada alur diagram berikut

66

media

LB3

Gambar alur prosedur pengelolaan LB3.

67

media

Penjelasan:

Penghasil limbah B3

Orang yang kegiatannya menghasilkan

Limbah B3.

Pengumpul Limbah B3

Badan usaha yang melakukan

pengumpulan Limbah B3 sebelum dikirim

ke tempat pengolahan Limbah B3,

pemanfaatan Limbah B3, dan/atau

penimbunan Limbah B3.

Pemanfaat Limbah B3

Badan usaha yang melakukan kegiatan

pemanfaatan Limbah B3

Pengolah Limbah B3

Badan usaha yang melakukan kegiatan

pengolahan Limbah B3.

Penimbun Limbah B3

Badan usaha yang melakukan kegiatan

penimbunan Limbah B3

68

media

Menurut Permen LHK No. P.12/ MENLHK/ SETJEN/ PLB.3/ 5/ 2020, Penghasil, pengumpul, pemanfaat, pengolah, dan

penimbun limbah B3 wajib memiliki izin pengelolaan dan tempat penyimpanan limbah dengan syarat, sebagai berikut:


Lokasi penyimpanan harus bebas banjir dan bukan daerah rawan bencana alam, jika lokasi termasuk daerah rawan

banjir dan bencana alam, maka harus direkayasa agar menggunakan teknologi untuk perlindungan terhadap lingkungan

hidup.


Fasilitas penyimpanan

Bagi limbah berupa tumpukan (waste pile), maka tanah landasan harus memenuhi permeabilitas maksimal 10-5cm/s

atau landasan yang sudah direkayasa menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi limbah berupa waste impoundment, wajib memiliki lapisan kedap diatas tanah dengan permeabilitas 10-7cm/s

berupa high density polyethylene (HDPE) atau lapisan konstruksi beton.

Memiliki peralatan penanggulangan keadaan darurat berupa alat pendeteksi, alat pemadam kebakaran dan alat

penanggulangan darurat lain yang sesuai.

Laboratorium analisis minimal mampu menguji karakteristik limbah B3 untuk menentukan tata cara penyimpanan

limbah B3.

Tempat usaha harus dilengkapi dengan simbol limbah B3 sesuai ketentuan.

69

media

TERIMAKASIH

media

ZAT DAN PERUBAHANNYA

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 69

SLIDE