Search Header Logo
Belum Berjudul

Belum Berjudul

Assessment

Presentation

Geography

10th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Jarod Purwolelono

FREE Resource

6 Slides • 0 Questions

1

media

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi adalah sebuah proses pergerakan air dari bumi ke armosfer

dan kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara kontinyu (Triadmodjo, 2008).

Selain berlangsung secara kontinyu, siklus hidrologi juga merupakan siklus yang

bersifat konstan pada sembarang daerah (Wisler dan Brater, 1959). Siklus hidrologi

dimulai dengan terjadinya penguapan air ke udara. Air yang menguap tersebut

kemudian mengalami proses kodensasi (penggumpalan) di udara yang kemudian

membentuk gumpalan – gumpalan yang dikenal dengan istilah awan (Triadmodjo,

2008).

Awan yang terbentuk kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk hujan

atau salju yang disebabkan oleh adanya perubahan iklim dan cuaca. Butiran –

butiran air tersebut sebagian ada yang langsung masuk ke permukaan tanah

(infiltrasi), dan sebagian mengalir sebagai aliran permukaan. Aliran permukaan

yang mengalir kemudian masuk ke dalam tampungan – tampungan seperti danau,

waduk, dan cekungan tanah lain dan selanjutnya terulang kembali rangkaian siklus

hidrologi.

2.1.1.Presipitasi

Triadmodjo (2010) mendefinisikan presipitasi sebagai sebuah proses

turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Jumlah presipitasi yang turun ke

bumi tidak tetap bentuk dan jumlahnya. Bentuk preseiptasi yang jatuh ke bumi

2

media

7

dapat berupa hujan (air), salju, kabut, embun, dan hujan es. Bervariasinya bentuk

dan jumlah presipitasi yang jatuh ke bumi ini disebabkan oleh faktor – faktor

klimatologi di atmosfer, seperti tekanan atmosfer, angin, dan temperatur

(Triadmodjo, 2008).

2.1.2.Infiltrasi

Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam tanah melalui permukaan

tanah (Sri Harto, 1983). Proses infiltrasi dapat berlangsung secara vertikal dan

horisontal (Triadmodjo, 2008). Proses infiltrasi secara vertikal disebabkan oleh

adanya gaya gravitasi dan dikenal dengan sebutan perkolasi. Proses infiltrasi yang

terjadi secara horisontal disebabkan oleh adanya gaya kapiler yang dikenal sebagai

aliran antara (interflow).

2.1.3.Evaporasi

Sri Harto (1983) mendifinisikan evaporasi (penguapan) sebagai sebuah

proses pertukaran molekul air di permukaan menjadi molekul uap air di

atmosfer.Triadmodjo (2010) menjelaskan bahwa dalam hidrologi penguapan

dibedakan menjadi evaprasi dan transpirasi. Evaporasi adalah penguapan yang

terjadi pada permukaan air, sedangkan transpirasi adalah penguapan yang terjadi

melalui peranan tanaman. Transpirasi dapat terjadi mengingat jumlah air hujan

yang turun tidak sepenuhnya dapat mengalir, melainkan ada beberapa jumlah air

hujan yang tertahan pada tanaman.

Menurut Sri Harto, proses evaporasi sendiri terbagi atas dua kejadian yang

berkesinambungan, yaitu interface evaporation dan vertical vapor transfer

(Wieringa, 1978). Interface evaporation adalah transformasi air menjadi uap air di

3

media

8

permukaan, sedangkan vertical vapor trasfer adalah proses pemindahan lapisan

udara yang kenyang uap air dari proses interface evaporation.

2.1.4.Evapotranspirasi

Evapotranspirasi adalah evaporasi dari permukaan lahan yang ditumbuhi

tanaman (Triadmodjo, 2008). Pengertian evapotranspirasi secara sederhana adalah

proses evaporasi dan transpirasi yang terjadi secara bersamaan. Evapotranspirasi

menjadi unsur yang sangat penting dalam sebuah siklus hidrologi, karena

evapotranspirasi bernilai sama dengan kebutuhan air konsumtif yang didefinisikan

sebagai penguapan total dari lahan dan air yang diperlukan tanaman (Triadmodjo,

2008).

2.2.Neraca Air

Neraca air adalah gambaran evaluasi air yang masuk dan yang keluar dari

sebuah sistem hidologi (DAS, waduk, danau, aliran permukaan) dalam suatu

periode tertentu (Triadmodjo, 2008). Berdasarkan perhitungan neraca air maka

akan diketahui apakah terjadi kelebihan atau kekurangan jumlah air pada sebuah

lokasi perhitungan. Hasil perhitungan neraca air kemudian dapat juga digunakan

untuk mengantisipasi terjadinya bencan akibat besarnya jumlah surplus air dan juga

dapat digunakan sebagai acuan pola pemanfaatan sumber daya air secara optimum

dalan upaya konservasi air.

4

media

9

2.3.Ketersediaan Air

Bambang Triadmodjo menjelaskan bahwa ketersediaan air adalah jumlah

air (debit) yang diperkirakan terus menerus ada di suatu badan air (waduk atau

bangunan air lain) di sungai dengan jumlah tertentu dan dalam periode waktu

tertentu (Direktorat Irigasi, 1980). Jumlah air yang tersedia kemudian dimanfaatkan

sesuai kebutuhan, atau sesuai dengan tujuan dibangunnya sebuah badan air (waduk

atau bangunan air lain). Dalam perhitungan ketersediaan air, unsur yang perlu

dihitung adalah ketersediaan air andalan (debit andalan).

Debit andalan adalah debit minimum sungai dengan besaran tertentu yang

mempunyai kemungkinan terpenuhi yang dapat digunakan untuk berbagai

keperluan (Triadmodjo, 2008). Nilai debit minimum biasanya diambil sebesar 80%

dari nilai total debit air yang seharusnya tersedia. Dalam perhitungan debit andalan,

diperlukan data – data mengenai besarnya curah hujan dari stasiun hujan pada

wilayah perhitungan debit andalan.

2.4.Kebutuhan Air

Kebuthan air secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah air yang harus

mampu dipenuhi oleh suatu sistem hidrologi maupun badan hidrologi (waduk dan

bangunan air lain). Berdasarkan fungsinya, kebutuhan air terbagi atas kebutuhan air

irigasi dan kebutuhan air non irigasi.

2.4.1.Kebutuhan air irigasi

Kebutuhan air irigasi diartikan sebagai besarnya debit yang diperlukan

untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Kebutuhan air irigasi ini sebagian besar

5

media

10

dicukupi dari air permukaan (Triadmodjo, 2008). Dalam perhitungan kebutuhan air

untuk irigasi, perlu diperhatikan faktor – fakto seperti data klimatologi, rencana tata

tanam dan pola tanam, evaporasi, perkolasi, curah hujan efektif, kebutuhan air

untuk penyiapan lahan, kebutuhan air untuk tanaman, dan efisiensi saluran irigasi.

2.4.2.Kebutuhan air non irigasi

Kebutuhan air non irigasi diartikan sebagai besarnya debit yang diperlukan

untuk memenuhi kebutuhan air baku yang diperlukan sehari – hari diluar kebutuhan

irigasi. Kebutuhan air non irigasi terdiri atas kebutuhan air domestik dan kebutuhan

air non domestik. Kebutuhan air domestik umumnya disebut sebagai air yang

dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air pribadi (rumah tangga) sehari – hari,

sedangkan kebutuhan air non domestik adalah jumlah air yang dibutuhkan diluar

kebutuhan rumah tangga.

2.5.Kurva Massa

Pembuatan kurva massa bertujuan untuk mengetahui kapasitas tampung

waduk pada kebutuhan air tertentu. Kurva massa dapat juga menunjukkan

perbandingan antara ketersediaan air kumulatif dan kebutuhan air kumulatif dalam

periode waktu tertentu. Pembuatan kurva massa menggunakan metode yang

dikemukakan oleh Ripple pada tahun 1983 dengan langkah sebagai berikut:

a.Data debit digambarkan sebagai garis massa debit (massa curve).

b.Kebutuhan air dianggap konstan, sehingga kebutuhan kumulatif dapat

digambarkan dengan kemiringan tertentu.

6

media

11

c.Jarak vertikal antara garis massa debit dengan garis kebutuhan kumulaitf

merupakan kapasitas tampungan. Jarak terbesar adalah kapasitas

tampungan yang diperlukan.

d.Jarak tegak antara tangen – tangen yang berturutan menyatakan jumlah

air yang dialirkan melalui pelimpah.

media

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi adalah sebuah proses pergerakan air dari bumi ke armosfer

dan kembali lagi ke bumi yang berlangsung secara kontinyu (Triadmodjo, 2008).

Selain berlangsung secara kontinyu, siklus hidrologi juga merupakan siklus yang

bersifat konstan pada sembarang daerah (Wisler dan Brater, 1959). Siklus hidrologi

dimulai dengan terjadinya penguapan air ke udara. Air yang menguap tersebut

kemudian mengalami proses kodensasi (penggumpalan) di udara yang kemudian

membentuk gumpalan – gumpalan yang dikenal dengan istilah awan (Triadmodjo,

2008).

Awan yang terbentuk kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk hujan

atau salju yang disebabkan oleh adanya perubahan iklim dan cuaca. Butiran –

butiran air tersebut sebagian ada yang langsung masuk ke permukaan tanah

(infiltrasi), dan sebagian mengalir sebagai aliran permukaan. Aliran permukaan

yang mengalir kemudian masuk ke dalam tampungan – tampungan seperti danau,

waduk, dan cekungan tanah lain dan selanjutnya terulang kembali rangkaian siklus

hidrologi.

2.1.1.Presipitasi

Triadmodjo (2010) mendefinisikan presipitasi sebagai sebuah proses

turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi. Jumlah presipitasi yang turun ke

bumi tidak tetap bentuk dan jumlahnya. Bentuk preseiptasi yang jatuh ke bumi

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 6

SLIDE