Search Header Logo
nisa

nisa

Assessment

Presentation

Mathematics

1st Grade

Hard

CCSS
6.NS.B.3, RL.1.3, RF.1.4C

+18

Standards-aligned

Created by

ANISA RAHABAF

Used 1+ times

FREE Resource

2 Slides • 15 Questions

1

Bahasa Indonesia

CERITA PENDEK

media

2

Multiple Select

Manakah yang termasuk unsur intrinsik?

1

Gaya bahasa

2

Latar budaya

3

Latar masyarakat

4

Latar tempat

5

Sudut pandang

3

Apabila kalian menjawab "Sudah", maka Bu Anes ucapkan banyak terimakasih. Semoga semester ini nilai dan ilmu kalian meningkat. Aamiin

Untuk yang nilainya masih di bawah KKM silakan hubungi Bu Anes segera!

4

Multiple Choice

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.


Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …

1

orang pertama pelaku utama

2

orang pertama pelaku sampingan

3

orang kedua pelaku utama

4

orang ketiga serbatahu

5

orang ketiga terbatas/pengamat

5

Multiple Choice

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.


Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …

1

Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon

2

Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar

3

Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam

4

Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis

5

Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi

6

Multiple Select

Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?

1

Abstrak

2

Komplikasi

3

Koda

4

Orientasi

5

Resolusi

7

Multiple Choice

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...

1

Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah

2

Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji

3

Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji

4

Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta

5

Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal

8

Multiple Choice

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …

1

uraian langsung

2

perilaku tokoh

3

dialog antartokoh

4

tanggapan tokoh lain

5

pikiran tokoh

9

Multiple Choice

Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.

”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”

“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.

“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”

“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”

“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”


Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...

1

Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami

2

Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya

3

Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya

4

Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya

5

Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja

10

Multiple Choice

“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...

1

Alur

2

Tema

3

Latar

4

Sudut pandang

5

Penokohan

11

Multiple Choice

(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”

(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.


Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …

1

(1) dan (2)

2

(1) dan (3)

3

(2) dan (4)

4

(5) dan (6)

5

(6) dan (7)

12

Multiple Choice

(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”

(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”

(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”

(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.


Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …

1

Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai

2

Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin

3

Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan

4

Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan

5

Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya

13

Multiple Choice

Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.


Termasuk bagian apakah itu?

1

Abstrak

2

Koda

3

Orientasi

4

Komplikasi

5

Resolusi

14

Multiple Choice

(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.

(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.


Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …

1

(1), (2), (3), dan (6)

2

(1), (2), (3), dan (7)

3

(2), (3), (6), dan (8)

4

(2), (5), (6), dan (8)

5

(3), (5), (7), dan (8)

15

Multiple Choice

(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.

(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.


Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …

1

kasih sayang orang tua

2

hari pertama masuk sekolah

3

mendukung anak untuk sekolah

4

berangkat sekolah naik sepeda

5

sayang terhadap orang tua

16

Multiple Choice

Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”

“Kakek marah?”

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”


Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …

1

Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi

2

Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk

3

Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita

4

Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi

5

Kakek dan aku bertengkar menahan marah

17

Multiple Select

Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?

1

Pre-writing

2

Proof-reading

3

Drafting

4

Writing

5

Revising

Bahasa Indonesia

CERITA PENDEK

media

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 17

SLIDE