Search Header Logo

AKM literasi 1 Kelas 5

Authored by mei saptarini

Other

5th Grade

Used 15+ times

AKM literasi 1 Kelas 5
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

15 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 1 pt

Media Image

Kuda laut merupakan hewan laut yang memiliki kepala seperti bentuk kepala kuda dan moncong yang panjang. Ukuran tubuh kuda laut juga bervariasi, bisa mencapai sekitar 35 cm. Meskipun merupakan hewan laut, kuda laut ini buruk dalam berenang. Ia memiliki kecepatan berenang sangat lambat. Ini disebabkan oleh keunikan bentuk tubuhnya yang tegak. Keunikan tubuhnya yang tegak juga membuat ia berenang secara vertikal, bukan horisontal seperti ikan lainnya. Selain keunikan pada tubuhnya, kuda laut juga ternyata memiliki cara berkembang biak yang unik.


Kuda laut betina meletakkan telur-telurnya ke dalam kantung yang terletak di perut kuda laut jantan. Kuda laut jantan juga membawa telur-telur itu ke mana pun ia pergi. Setelah beberapa lama, tibalah waktunya melahirkan. Kuda laut jantan membuka kantung di perutnya, kemudian ratusan bayi kuda laut berhamburan ke laut. Sayangnya, dalam ratusan kelahiran bayi kuda laut, hanya beberapa saja dapat bertahan hidup hingga dewasa dan berkembang biak. Populasi kuda laut terus menurun akibat pemangsa, polusi, perusakan habitat, dan perdagangan secara ilegal.


Pilihlah pernyataan yang sesuai dengan teks.

Kuda laut berkembang biak dengan cara bertelur.

Kuda laut memiliki kemampuan berenang yang buruk.

Kuda laut memiliki bentuk kepala seperti kuda dan moncong yang pipih.

Semua kuda laut memiliki ukuran tubuh yang sama, yaitu sepanjang 35 cm.

Kuda laut jantan membawa telur-telur mereka ke mana saja mereka pergi.

2.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 1 pt

Media Image

Pilihlah fakta yang sesuai dengan informasi yang disebutkan dalam infografik.

Indonesia berada pada peringkat ke-2 sebagai penyumbang sampah ke laut terbesar di dunia.

Lebih dari 50 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi laut Indonesia.

Lebih dari 200 juta ton sampah dibuang ke laut Indonesia setiap tahunnya.

Lebih dari setengah jumlah sampah di laut Indonesia adalah plastik.

3.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Media Image

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta sekarang memiliki robot canggih. Robot itu disebut Dok-Ing MVF-3. Bentuknya seperti mobil. Fungsinya memudahkan pekerjaan para petugas pemadam kebakaran. Robot ini telah diuji coba di Pusdiklatsar Ciracas, Jakarta pada hari Kamis tanggal 6 Februari 2020.


Robot ini dapat dikendalikan dari jarak 1,5 km dengan menggunakan pengendali jarak jauh. Cara tersebut memudahkan petugas jika ada titik api yang sulit dijangkau atau berbahaya. Kebakaran yang terjadi di area pabrik, SPBU, atau tempat-tempat berbahan kimia lainnya dapat diminimalisasi dengan robot Dok-Ing MVF-3. Dengan robot Dok-Ing MVF-3, api akan lebih mudah dipadamkan dan potensi ledakan yang dihasilkan dari bahan-bahan kimia dapat diminimalisasi.


Robot canggih ini dilengkapi dengan GPS dan kamera. Kamera yang digunakan adalah kamera anti air dan kuat dalam berbagai kondisi. Sang operator dapat memantau keberadaan robot tersebut dengan menggunakan GPS dan melihat kawasan yang sedang dipadamkan melalui kamera.


Robot ini sangat kuat. Dia dapat menampung 2500 liter air dan 500 liter busa. Robot ini juga bisa menyemprotkan air sejauh 55 meter dan dapat menyemprotkan busa sejauh 45 meter. Beban yang dapat ditariknya adalah 6 ton, beban yang dapat didorong mencapai 10 ton.


Robot pemadam kebakaran Dok-Ing MVF-3 dapat dikendalikan dari jarak 1,5 km menggunakan pengendali jarak jauh. Hal tersebut berfungsi untuk …

Menunjukkan bahwa robot ini memiliki fitur yang sangat canggih.

Membantu pemantauan robot menggunakan GPS.

Memudahkan petugas jika ada titik api yang sulit dijangkau atau berbahaya.

Meningkatkan keselamatan warga DKI Jakarta.

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 1 pt

Hakim yang Adil

Seorang raja Aljazair bernama Bauakas ingin mengetahui sendiri, apakah benar yang dikatakan orang-orang kepadanya, bahwa di salah satu kotanya terdapat seorang hakim yang adil. Dia akan segera tahu kebenaran dan tak seorang penipu pun dapat berlindung darinya. Bauakas kemudian menyamar sebagai pedagang dan pergi menunggang kuda ke kota, di mana tinggal sang hakim. Dalam perjalanan ke kota, Bauakas dihampiri seorang cacat dan meminta sedekah. Bauakas memberinya sedekah dan bermaksud melanjutkan perjalanan, tetapi orang cacat itu malah memegangi baju Bauakas.

“Kamu mau apa?” Tanya Bauakas. “Bukannya saya telah memberimu sedekah?”

“Anda memang sudah memberi sedekah,” kata si cacat, tetapi buatlah lagi kebaikan, antarkan saya dengan kudamu sampai di alun-alun, kalau tidak kuda-kuda dan unta-unta akan menggilasku,”

Bauakas mendudukkan si cacat di belakangnya dan mengantarkannya ke lapangan. Sesampai di alun-alun Bauakas menghentikan kudanya. Tetapi pengemis tersebut tidak mau beranjak turun.

Bauakas berkata, ”Kenapa duduk saja, turunlah, kita sudah sampai.”

Tetapi pengemis itu berkata, “Buat apa turun, kuda ini milik saya, kalau kamu tidak mau baik-baik menyerahkan kuda ini, kita pergi ke pengadilan saja.”

Orang-orang berkumpul di sekeliling mereka dan mendengar. Kemudian semua berteriak, “Pergilah ke hakim, dia akan mengadili kalian”. Merekapun pergi menemui sang hakim. Di sana sudah ada orang[1]orang dan hakim memanggil seuai giliran. Sebelum tiba giliran Bauakas, hakim memanggil seorang terpelajar dan seorang petani, mereka diadili karena masalah istri. Si petani bilang bahwa itu istrinya, tetapi orang terpelajar mengatakan bahwa itu istrinya. Hakim mendengar mereka, diam sejenak dan berkata, ”Tinggalkan wanita ini pada saya, dan kalian kembalilah besuk”.

Ketika mereka pergi, masuk tukang daging dan tukang minyak. Tukang daging bajunya penuh darah, sedangkan tukang minyak penuh minyak. Tukang daging memegang uang di tangannya, dan tukang minyak memegang tangan si tukang daging. Tukang daging berkata: ”Saya membeli minyak dan ketika saya mengeluarkan kantung uang untuk membayarnya, dia malah menangkap tangan saya hendak merampas uangku. Karena itulah kami datang kepadamu. Saya memegang uang, dan dia memegang tangan saya. Tetapi uang ini milik saya, sedang dia pencuri.”

Si tukang minyak berkata, ”Itu tidak benar. Tukang daging datang kepada saya untuk membeli minyak. Ketika saya menuangkan satu kendi untuknya dia meminta saya untuk menukar uang emas. Saya mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas bangku, tetapi dia mengambil uang tersebut dan bermaksud lari. Saya menangkap tangannya dan membawanya ke sini.”

Hakim itu diam dan berkata, “Tinggalkan uang ini di sini dan kembalilah besuk”.

Ketika giliran Bauakas dan pengemis, Bauakas menceritakan bagaimana duduk persoalannya. Hakim mendengarkannya dengan seksama dan bertanya kepada si pengemis, “Benar itu?” Pengemis berkata, “Itu semua tidak benar”

“Tentang uang si tukang daging saya mengetahuinya dengan cara saya letakkan uang di air dalam cangkir dan pagi ini saya memeriksanya, apakah muncul minyak dipermukaan airnya. Kalau uang itu memang milik si tukang minyak, maka uang tersebut akan terbungkus minyak dari tangan si tukang inyak. Ternyata di air tersebut minyak tidak ada, itu artinya, si tukang daginglah yang berkata benar”

“Tentang kuda, agak sulit mengetahuinya. Si pengemis, seperti juga kamu, dapat saja menunjuk kuda dengan tepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar mengenali atau tidak mengenali kuda saya membawa kalian berdua ke kandang kuda, akan tetapi, supaya dapat melihat siapa dari Anda berdua yang dikenali oleh kuda. Ketika engkau mendekatinya kuda itu, dia memalingkan kepalanya dan bergerak pelan kepadamu. Namun saat pengems menyentuhnya, kuda itu menjepit telinga dan menaikan kakinya. Karena itulah saya tahu bahwa engkaulah pemilik kuda sebenarnya.

Lalu Bauakas berkata, “Saya bukanlah pedagang, saya adalah Raja Bauakas”. Saya datang ke sini untuk melihat benarkah yang dikatakan orang tentang diri Anda. Sekarang saya melihat sendiri, bahwa Anda hakim yang bijaksana. Mintalah kepada saya apa yang Anda inginkan, saya akan memberi Anda hadiah.” Hakim itu berkata, “Saya tidak perlu penghargaan, saya sudah bahagia bahwa paduka raja memuji saya.”


Mengapa Bauakas menyamar dan tidak ingin dikenali orang?

A. Dia ingin melihat apakah dia masih akan ditaati ketika dia menjadi orang "biasa".

B. Dia berencana untuk hadir dalam sebuah kasus di hadapan hakim, menyamar sebagai pedagang.

C. Dia senang menyamar sehingga dia bisa bergerak bebas dan mempermainkan subjeknya.

D. Dia ingin melihat hakim bekerja dengan caranya yang biasa, tidak terpengaruh oleh kehadiran raja.

5.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 1 pt

Hakim yang Adil

Seorang raja Aljazair bernama Bauakas ingin mengetahui sendiri, apakah benar yang dikatakan orang-orang kepadanya, bahwa di salah satu kotanya terdapat seorang hakim yang adil. Dia akan segera tahu kebenaran dan tak seorang penipu pun dapat berlindung darinya. Bauakas kemudian menyamar sebagai pedagang dan pergi menunggang kuda ke kota, di mana tinggal sang hakim. Dalam perjalanan ke kota, Bauakas dihampiri seorang cacat dan meminta sedekah. Bauakas memberinya sedekah dan bermaksud melanjutkan perjalanan, tetapi orang cacat itu malah memegangi baju Bauakas.

“Kamu mau apa?” Tanya Bauakas. “Bukannya saya telah memberimu sedekah?”

“Anda memang sudah memberi sedekah,” kata si cacat, tetapi buatlah lagi kebaikan, antarkan saya dengan kudamu sampai di alun-alun, kalau tidak kuda-kuda dan unta-unta akan menggilasku,”

Bauakas mendudukkan si cacat di belakangnya dan mengantarkannya ke lapangan. Sesampai di alun-alun Bauakas menghentikan kudanya. Tetapi pengemis tersebut tidak mau beranjak turun.

Bauakas berkata, ”Kenapa duduk saja, turunlah, kita sudah sampai.”

Tetapi pengemis itu berkata, “Buat apa turun, kuda ini milik saya, kalau kamu tidak mau baik-baik menyerahkan kuda ini, kita pergi ke pengadilan saja.”

Orang-orang berkumpul di sekeliling mereka dan mendengar. Kemudian semua berteriak, “Pergilah ke hakim, dia akan mengadili kalian”. Merekapun pergi menemui sang hakim. Di sana sudah ada orang[1]orang dan hakim memanggil seuai giliran. Sebelum tiba giliran Bauakas, hakim memanggil seorang terpelajar dan seorang petani, mereka diadili karena masalah istri. Si petani bilang bahwa itu istrinya, tetapi orang terpelajar mengatakan bahwa itu istrinya. Hakim mendengar mereka, diam sejenak dan berkata, ”Tinggalkan wanita ini pada saya, dan kalian kembalilah besuk”.

Ketika mereka pergi, masuk tukang daging dan tukang minyak. Tukang daging bajunya penuh darah, sedangkan tukang minyak penuh minyak. Tukang daging memegang uang di tangannya, dan tukang minyak memegang tangan si tukang daging. Tukang daging berkata: ”Saya membeli minyak dan ketika saya mengeluarkan kantung uang untuk membayarnya, dia malah menangkap tangan saya hendak merampas uangku. Karena itulah kami datang kepadamu. Saya memegang uang, dan dia memegang tangan saya. Tetapi uang ini milik saya, sedang dia pencuri.”

Si tukang minyak berkata, ”Itu tidak benar. Tukang daging datang kepada saya untuk membeli minyak. Ketika saya menuangkan satu kendi untuknya dia meminta saya untuk menukar uang emas. Saya mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas bangku, tetapi dia mengambil uang tersebut dan bermaksud lari. Saya menangkap tangannya dan membawanya ke sini.”

Hakim itu diam dan berkata, “Tinggalkan uang ini di sini dan kembalilah besuk”.

Ketika giliran Bauakas dan pengemis, Bauakas menceritakan bagaimana duduk persoalannya. Hakim mendengarkannya dengan seksama dan bertanya kepada si pengemis, “Benar itu?” Pengemis berkata, “Itu semua tidak benar”

“Tentang uang si tukang daging saya mengetahuinya dengan cara saya letakkan uang di air dalam cangkir dan pagi ini saya memeriksanya, apakah muncul minyak dipermukaan airnya. Kalau uang itu memang milik si tukang minyak, maka uang tersebut akan terbungkus minyak dari tangan si tukang inyak. Ternyata di air tersebut minyak tidak ada, itu artinya, si tukang daginglah yang berkata benar”

“Tentang kuda, agak sulit mengetahuinya. Si pengemis, seperti juga kamu, dapat saja menunjuk kuda dengan tepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar mengenali atau tidak mengenali kuda saya membawa kalian berdua ke kandang kuda, akan tetapi, supaya dapat melihat siapa dari Anda berdua yang dikenali oleh kuda. Ketika engkau mendekatinya kuda itu, dia memalingkan kepalanya dan bergerak pelan kepadamu. Namun saat pengems menyentuhnya, kuda itu menjepit telinga dan menaikan kakinya. Karena itulah saya tahu bahwa engkaulah pemilik kuda sebenarnya.

Lalu Bauakas berkata, “Saya bukanlah pedagang, saya adalah Raja Bauakas”. Saya datang ke sini untuk melihat benarkah yang dikatakan orang tentang diri Anda. Sekarang saya melihat sendiri, bahwa Anda hakim yang bijaksana. Mintalah kepada saya apa yang Anda inginkan, saya akan memberi Anda hadiah.” Hakim itu berkata, “Saya tidak perlu penghargaan, saya sudah bahagia bahwa paduka raja memuji saya.”


Bagaimana sifat tokoh-tokoh pada teks “Hakim yang Adil?

(jawaban lebih dari satu)

Bauakas suka berbohong karena menyamar menjadi pedagang

Pengemis orang yang baik hati karena meminjamkan kudanya kepada raja

Bauakas raja yang cerdik, baik hati, dan bijaksana

Hakim orang yang bijaksana dan pandai bersyukur

6.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 1 pt

Hakim yang Adil

Seorang raja Aljazair bernama Bauakas ingin mengetahui sendiri, apakah benar yang dikatakan orang-orang kepadanya, bahwa di salah satu kotanya terdapat seorang hakim yang adil. Dia akan segera tahu kebenaran dan tak seorang penipu pun dapat berlindung darinya. Bauakas kemudian menyamar sebagai pedagang dan pergi menunggang kuda ke kota, di mana tinggal sang hakim. Dalam perjalanan ke kota, Bauakas dihampiri seorang cacat dan meminta sedekah. Bauakas memberinya sedekah dan bermaksud melanjutkan perjalanan, tetapi orang cacat itu malah memegangi baju Bauakas.

“Kamu mau apa?” Tanya Bauakas. “Bukannya saya telah memberimu sedekah?”

“Anda memang sudah memberi sedekah,” kata si cacat, tetapi buatlah lagi kebaikan, antarkan saya dengan kudamu sampai di alun-alun, kalau tidak kuda-kuda dan unta-unta akan menggilasku,”

Bauakas mendudukkan si cacat di belakangnya dan mengantarkannya ke lapangan. Sesampai di alun-alun Bauakas menghentikan kudanya. Tetapi pengemis tersebut tidak mau beranjak turun.

Bauakas berkata, ”Kenapa duduk saja, turunlah, kita sudah sampai.”

Tetapi pengemis itu berkata, “Buat apa turun, kuda ini milik saya, kalau kamu tidak mau baik-baik menyerahkan kuda ini, kita pergi ke pengadilan saja.”

Orang-orang berkumpul di sekeliling mereka dan mendengar. Kemudian semua berteriak, “Pergilah ke hakim, dia akan mengadili kalian”. Merekapun pergi menemui sang hakim. Di sana sudah ada orang[1]orang dan hakim memanggil seuai giliran. Sebelum tiba giliran Bauakas, hakim memanggil seorang terpelajar dan seorang petani, mereka diadili karena masalah istri. Si petani bilang bahwa itu istrinya, tetapi orang terpelajar mengatakan bahwa itu istrinya. Hakim mendengar mereka, diam sejenak dan berkata, ”Tinggalkan wanita ini pada saya, dan kalian kembalilah besuk”.

Ketika mereka pergi, masuk tukang daging dan tukang minyak. Tukang daging bajunya penuh darah, sedangkan tukang minyak penuh minyak. Tukang daging memegang uang di tangannya, dan tukang minyak memegang tangan si tukang daging. Tukang daging berkata: ”Saya membeli minyak dan ketika saya mengeluarkan kantung uang untuk membayarnya, dia malah menangkap tangan saya hendak merampas uangku. Karena itulah kami datang kepadamu. Saya memegang uang, dan dia memegang tangan saya. Tetapi uang ini milik saya, sedang dia pencuri.”

Si tukang minyak berkata, ”Itu tidak benar. Tukang daging datang kepada saya untuk membeli minyak. Ketika saya menuangkan satu kendi untuknya dia meminta saya untuk menukar uang emas. Saya mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas bangku, tetapi dia mengambil uang tersebut dan bermaksud lari. Saya menangkap tangannya dan membawanya ke sini.”

Hakim itu diam dan berkata, “Tinggalkan uang ini di sini dan kembalilah besuk”.

Ketika giliran Bauakas dan pengemis, Bauakas menceritakan bagaimana duduk persoalannya. Hakim mendengarkannya dengan seksama dan bertanya kepada si pengemis, “Benar itu?” Pengemis berkata, “Itu semua tidak benar”

“Tentang uang si tukang daging saya mengetahuinya dengan cara saya letakkan uang di air dalam cangkir dan pagi ini saya memeriksanya, apakah muncul minyak dipermukaan airnya. Kalau uang itu memang milik si tukang minyak, maka uang tersebut akan terbungkus minyak dari tangan si tukang inyak. Ternyata di air tersebut minyak tidak ada, itu artinya, si tukang daginglah yang berkata benar”

“Tentang kuda, agak sulit mengetahuinya. Si pengemis, seperti juga kamu, dapat saja menunjuk kuda dengan tepat. Namun tentu saja tidak hanya sekedar mengenali atau tidak mengenali kuda saya membawa kalian berdua ke kandang kuda, akan tetapi, supaya dapat melihat siapa dari Anda berdua yang dikenali oleh kuda. Ketika engkau mendekatinya kuda itu, dia memalingkan kepalanya dan bergerak pelan kepadamu. Namun saat pengems menyentuhnya, kuda itu menjepit telinga dan menaikan kakinya. Karena itulah saya tahu bahwa engkaulah pemilik kuda sebenarnya.

Lalu Bauakas berkata, “Saya bukanlah pedagang, saya adalah Raja Bauakas”. Saya datang ke sini untuk melihat benarkah yang dikatakan orang tentang diri Anda. Sekarang saya melihat sendiri, bahwa Anda hakim yang bijaksana. Mintalah kepada saya apa yang Anda inginkan, saya akan memberi Anda hadiah.” Hakim itu berkata, “Saya tidak perlu penghargaan, saya sudah bahagia bahwa paduka raja memuji saya.”


Berdasarkan teks di atas , centanglah pernyataan yang benar ! (jawaban lebih dari satu)

Teks tersebut adalah cerita rakyat

Teks tersebut adalah sebuat kisah perjalanan

Amanat dari cerita tersebut adalah tentang keadilan yang bijaksana

Tokoh pada cerita adalah raja, hakim, dan pengemis

Amanat dari cerita tersebut adalah tentang penguasa yang bai

7.

FILL IN THE BLANK QUESTION

5 mins • 1 pt

Suatu hari sekumpulan anak datang ke tempat kerja untuk pembuatan keramik bersama dengan gurunya. Tangan-tangan kecil itu mengambil tanah di penyimpanannya. Hanya segumpal tanah liat yang tersisa utuk diambil. Akhirnya dia keluar juga! “Inilah kesempatanku yang paling besar” dia pikir sambil memicingkan ke cahaya. Seorang anak laki-laki menyimpan tanah liat itu ke dalam alat pemutar dan memutarnya sekencang mungkin. “ini sungguh menyenangkan!” pikir si Tanah Liat. Anak itu mencoba menarik tanah itu ke atas sambil terus memutarkannya. Si Tanah Liat itu merasa sangat senang karena dia telah menjadi sesuatu. Setelah mecoba membuat mangkuk, si anak kecil itu akhirnya menyerah. Tanah itu dileburkannya lagi dan dibulatkan menjadi mirip sebuah bola.


Apakah latar tempat dari penggalan cerita di atas?

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?