Search Header Logo

LITERASI

Authored by WINDA SUPRIHANTINI

Other

8th Grade

LITERASI
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

10 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 5 pts

Wacana 1: Aku Ingin Sekolah: Kisah Anak Suku Sakai

“Abang bacalah!” anak kecil itu membusungkan dadanya. Namanya tertulis di bajunya. “Abang belum bisa membaca,” jawab Langai malu. Ia melihat huruf kecil-kecil di baju anak itu. Lijal pun hanya bisa terdiam.

 

“Abang kan sudah besar!” suara anak kecil itu meninggi, ia merasa keheranan. Sudah besar belum bisa membaca! Gumamnya terdengar oleh Langai. Langai menundukkan kepala ketika dilihatnya Bu Fatimah memandang ke arah mereka. Begitu juga dengan Lijal

 

“Ada apa, Salim?” Bu Guru itu menghampiri mereka. Oh, anak kecil ini ternyata bernama Salim! Langai membatin. Ia menundukkan kepala ketika Bu Guru semakin mendekat.

 

“Bu, abang ini belum pandai membaca. Dia kan sudah besar,” Salim berbisik, tetapi tetap kedengaran. Bu Guru tersenyum, “Abang ini hebat, Salim!” Salim melongo. Bu Guru kembali ke depan kelas.

“Anak-anak, ibu bangga pada Abang Langai dan juga Abang  Lijal.  Semangat  mereka  untuk  bisa  bersekolah sangat tinggi. Orang tua Bang Langai dan Bang Lijal masih tinggal di dalam hutan. Jauh dari desa kita. Abang Langai dan Abang Lijal berasal dari Suku Sakai, yakni suku asli yang hidup di pedalaman hutan-hutan di Riau. Mereka harus berjalan kaki beberapa jam melewati hutan dan melalui semak belukar untuk sampai ke sekolah.” Bu Guru tersenyum pada murid-muridnya sambil memandang berkeliling. Semua diam mendengarkan Bu Guru. Mereka, anak-anak suku Sakai yang sudah bermukim.

 

“Meskipun harus mulai dari kelas satu dan sekelas dengan anak-anak sebaya kalian, Abang Langai dan Abang Lijal tetap ingin belajar!” sambung Bu Guru dengan suara lantang.

 

Anak-anak kecil itu menoleh ke arah Langai dan Lijal. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Tepukan itu disusul oleh  seisi  kelas,  termasuk  Bu  Fatimah.  Suasana  kelas  menjadi  riuh.  Setelah suasana kembali reda, Bu Fatimah mulai mengajar. Langai mengikuti di dalam hati. Ia belum berani bersuara.

Selanjutnya, Bu Fatimah mengajari menulis. Langai dan Lijal diberi pensil dan buku. Langai merasa jari-jarinya kaku ketika memegang pensil. Ini kali pertama ia memegang pensil.  Diperhatikannya  cara  Salim  memegang pensil. Lalu, ia mulai meniru. Mula-mula ia agak kesulitan juga,  tetapi  akhirnya  ia  mulai  terbiasa.  Ia  mulai menulis apa yang ditulis Bu Fatimah di papan tulis. Langai merasa asyik memainkan pensil di tangannya. Tiba- tiba terdengar suara dentang besi dipukul beberapa kali, pertanda waktu istirahat. Anak-anak berlarian keluar, termasuk Salim.

 

Langai duduk sendiri sambil terus menulis. Lijal mendekati abangnya. Wajahnya tampak cerah. Bu Fatimah mendekati mereka. Ia tersenyum melihat Langai yang sangat bersemangat berlatih menulis.

 

“Pukul berapa kalian berangkat dari hutan tadi pagi?” tanya Bu Fatimah. “Saya tidak tahu, Bu,” jawab Langai, “hari masih gelap ketika kami berangkat dari rumah. Bu Fatimah tersenyum kecut. Ia tahu Langai dan Lijal menempuh perjalanan yang cukup jauh. Wajah mereka terlihat lelah, tetapi semangatnya  mengalahkan kelelahan itu.

 

“Bagaimana jika kalian tinggal di rumah Ibu?” Bu Fatimah memandang Langai dengan saksama, “Ibu juga memunyai seorang anak laki-laki, sebaya dengan Lijal. Ia sudah duduk di kelas 4.”


 1.      Soal 1. Mengapa Bu Fatimah bangga terhadap Langai dan Lijal? Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar! *

Semangat Langai dan Lijal untuk bisa bersekolah sangat tinggi

Langai dan Lijal pandai dalam pelajaran di sekolah.

Sikap Langai dan Lijal yang sangat ramah kepada teman-teman

Perjuangan Langai dan Lijal untuk dapat berangkat ke sekolah

2.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 5 pts

Salim mengatakan bahwa Langai belum pandai membaca padahal sudah besar. Namun, Bu Fatimah justru memberikan pujian kepada Langai. Bagaimana perasaan Langai pada saat itu? Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar

Langai merasa bangga terhadap dirinya sendiri

Langai merasa kepercayaan dirinya muncul pada saat itu

Langai merasa canggung sekelas dengan anak-anak kecil

Langai merasa bahagia dan menyimak penjelasan Bu Fatimah dengan saksama

3.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 5 pts

Terdapat perbedaan kejadian yang dialami tokoh pada cerita tersebut. Pilihlah pernyataan-pernyataan berikut yang menggambarkan perbedaan kejadian yang dialami tokoh dalam cerita tersebut! Berilah tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!

Langai dan Lijal awalnya sangat malas belajar, tetapi di akhir cerita mereka menjadi rajin belajar berkat dukungan Salim

Awalnya Salim mengejek Langai dan Lijal, tetapi akhirnya cerita Salim meminta maaf kepada mereka

Langai dan Lijal awalnya tidak percaya diri, tetapi akhirnya mereka dapat lebih percaya diri berkat Ibu Fatimah

Anak-anak awalnya memandang Langai dan Lijal sebelah mata, tetapi akhirnya mereka ikut bangga dengan perjuangan Langai dan Lijal bersekolah

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 5 pts

Jika kamu ingin mencari informasi lebih mengenai kisah tersebut, kata kunci apa yang kamu ketikan pada laman internet?

Suku Sakai pedalaman

Perjuangan suku Sakai

Sekolah anak suku Sakai

Sejarah suku Sakai

5.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 5 pts

Walaupun sudah besar, Langai belajar bersama anak kelas satu. Ketika ada anak yang meminta Langai membaca tulisan, ternyata Langlai belum bisa membaca. Apa yang terjadi pada Langai setelah peristiwa itu

Langai membaca dengan menunduk karena malu ketika belajar

Langai malu tetapi memiliki semangat tinggi untuk menulis dan menyimak penjelasan guru

Langai percaya diri dengan kemampuanya karena ia yakin

6.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 5 pts

Media Image

Tedhak Siten di Rumahku

Aku mengatur letak bubur, jadah tujuh warna, dan beberapa jajanan pasar di tempat upacara.

Ya, aku mengatur letak berbagai panganan di tempat upacara sebelum acara tedhak siten dimulai. Bapak yang berdiri tak jauh dariku berkata, “Le... apik tenan lho lukisanmu.”

Bapak sengaja menaruhnya tak jauh dari tempat upacara. Katanya agar orang-orang dapat dengan jelas melihatnya. Dua hari yang lalu adalah pertama kalinya aku melukis wajah adikku dengan gaya realis untuk kepentingan lomba.

“Jelek!” jawabku singkat.

Lha nek jelek nggak juara satu to, Nu,” ujar Bapak.

“Pak, kenapa sih harus pakai acara tedhak siten?” tanyaku malas. Aku tidak begitu suka hiruk- pikuk ini. Menyiapkan upacara ini sangatlah repot. Semua orang menjadi sibuk.

“Banu, adikmu sudah memasuki usia 7 bulan. Ini wujud syukur kita biar adikmu selalu dilindungi Allah, cita-cita baiknya pun tercapai.”

“Kok pakai kurungan ayam sama mainan-mainan. Buat apa coba?”

“Kurungan ayam yang di dalamnya ada banyak mainan itu sebenarnya menggambarkan kehidupannya kelak. Nah, mainan yang dipilih adikmu itu nantinya bisa jadi gambaran masa depannya, keahliannya, cita-citanya. Makanya ada krayon, kamera mainan, sama piano mainan.” Aku semakin penasaran.

“Kalau dia milih kamera gimana, Pak?” “Mungkin Bayu akan jadi fotografer.”

“Berarti kalau Bayu pilih piano artinya jadi musisi gitu ya?”

“Iyaa, betul. Semua itu dipercaya akan jadi hobi, bakat, sekaligus cita-citanya. Harapannya, Bayu bisa meraih cita-citanya. Jadi orang sukses.”

 

Aku diam sejenak. Seru juga pikirku. Kata Ayah, pada zaman sekarang, sudah jarang ada keluarga yang melakukan tradisi ini. Aku baru tau bahwa acara ini penting bagi pelestarian tradisi kami. Aku tersenyum senang karena keluargaku masih menjaga tradisi ini sampai sekarang.

 

“Pak, waktu aku seusia Bayu, diadakan acara tedhak siten juga kaya gini buat aku?” “Ooo iya, sama juga seperti ini.”

“Terus, waktu itu, mainan yang aku pilih apa, Pak?” tanyaku semangat. “Waktu itu, kamu ...”

Pak Nanang, seorang yang mengatur acara, tiba-tiba datang menghampiri Bapak.

“Pak Heri, acaranya sudah mau dimulai. Sesuai arahan pembawa acara, nanti Bu Ratna dan Pak Heri silakan memasuki arena inti dengan memapah Bayu, ya. Setelah itu, Bayu diarahkan untuk menginjak tanah, kemudian ketujuh jadahnya juga diinjak. Setelah menapaki tangga tebu, Bayu didudukkan dalam kurungan ayam untuk memilih mainannya.”

 

Belum sempat pertanyaanku terjawab, acara harus segera dimulai. Akupun harus menyimpan rasa penasaranku, setidaknya sampai acara selesai. Dari belakang, Eyang menepuk pundakku. Ia dan Bude Rahmi terlihat tak sabar menyaksikan acara itu.

 

Daftar Istilah:

*Le: Panggilan untuk anak laki-laki

*Apik tenan: Bagus sekali

*Gaya lukisan realis: Gaya lukisan yang menyerupai benda atau objek aslinya

*Jadah: Makanan yang terbuat dari beras ketan

*Memapah: Menuntun/memegangi badan seseorang untuk berjalan pelan-pelan

*Bude: Kakaknya Ibu (Bibi/Tante) 

Nuryah. 2016. “Tedhak Siten: Akulturasi Budaya Islam-Jawa (Studi Kasus di Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen”, Fikri (Online), Vol.1, No.2, hlm.315-334, journal.iaimnumetrolampung.ac.id. Diunduh 18 Agustus 2021.

Apa yang dilakukan Banu untuk membantu upacara tedhak siten?

Mengatur letak beberapa penganan

Melukis wajah adik dengan gaya realis

Menyiapkan upacara

Memasuki arena inti dengan memapah Bayu

7.

MULTIPLE SELECT QUESTION

5 mins • 5 pts

   Berdasarkan cerita tersebut, benda apa saja yang ada di dalam *

kurungan ayam?

Pilihlahjawabanbenardenganmemberitandacentang(V)Jawabanbenarlebihdarisatu

Krayon

Lukisan

Piano Mainan

Kamera Mainan

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?