Search Header Logo

FORMATIF 1 TEKS DESKRIPSI KELAS IX

Authored by Ida Yudawati

World Languages

3rd Grade

Used 4+ times

FORMATIF 1 TEKS DESKRIPSI KELAS IX
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

20 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 5 pts

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

Berdasarkan muatan isinya, unsur deskripsi bagian dalam kutipan teks tersebut ditandai dengan nomor ..

1-2

1-3

2-3

3-4

2.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 5 pts

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

Objek yang diceritakan dalam teks deskripsi tersebut adalah ...

Lelaki tak dikenal dan kekhawatiran tokoh

Pengalaman dan peristiwa masa lalu

Kegelisahan dan kepanikan tokoh

Peristiwa dan perasaan tokoh

3.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

3 mins • 5 pts

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

Pesan tersirat yang igin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita tersebut adalah ....

A. Kejahatan sulit diberantas karena sudah menjadi bagian dari setiap peradaban.

Jika ada saksi kejahatan, sebaiknya segera lapor kepada polisi.

Hendaknya kita bersikap waspada terhadap berbagai aksi kejahatan.

A. Lebih baik serahkan harta kepada penjahat daripada nyawa kita.

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

3 mins • 5 pts

(1) Jam di tembok ruang tamu menunjukkan anhka 08.30 pagi. Miranti terkesiap ketika tiba-tiba saja seorang lelaki entah dari mana datangnya sudah berdiri di depan pintu. Tubuhnya kurus. Dekil. Rambutnya gondrong acak-acakan. Pakaiannya lusuh. Matanya yang kuning kemerahan menyorot liar. Darah Miranti berdesir. Ia letakkan koran yang barusan dibacanya ke atas meja.

(2) Miranti tercenung. Siapa tahu lelaki yang berdiri di depan pintu itu seorang mata-mata perampok atau bahkan seorang perampok yang nekad ingin menjarah rumahnya. Siapa dapat menjamin kalau lelaki itu orang baik-baik ? Siapa pula dapat menebak gelagat yang menyembul di dada lelaki itu ? Bisa-bisa saja ia menyeruak masuk rumah; menguras perhiasan, duit teve, atau harta berharga lainnya. Bahkan bukan tidak mungkin malah merampas nyawanya. Miranti bergidik. Keringat dingin tiba-tiba meleleh di tengkuk dan jidatnya. Cemas!

(3) Ia hanya sendirian di rumah bersama Bik Supiyah yang tua tak berdaya. Kepada siapa ia harus minta tolong ? Pada saat-saat seperti ini, kampungnya memang sepi. Para lelaki termasuk suaminya mungkin tengah terlibat dalam kesibukan kerja rutin, Anak-anak belajar di bangku sekolah. Kampung hanya dihuni ibu-ibu rumah tangga berikut pembantu. Sesekali, melintas seorang pemulung atau penjual sayur. Rasa takut mendadak menyerbu dadanya.

(4) Belakangan ini, seperti yang ia baca dari koran, aksi para perampok memang sudah kelewatan. Tak peduli lagi waktu, tempat, dan sasaran. Barusan ia juga baca, seorang nasabah bank harus menjadi korban perampokan hanya dalam jarak 100 meter dari tempat satpam bertugas. Celakanya lagi, dari jarak 500-an meter, satu regu polisi tengah berbaris menerima instruksi komandan. Dan nasabah itu akhirnya tewas dengan kepala tertembus peluru sang perampopk. Sungguh mengerikan!

Pernyataan berikut yang tidak sesuai dengan isi paragraf pertama adalah ....

Miranti bertemu dengan seorang lelaki yang sangat dikenalnya.

Lelaki itu bertubuh kurus, dekil, berambut gondrong acak-acakan.

Dengan berpakaian lusuh, maka lelaki itu kuning kemerahan menyorot liar.

Miranti melatakkan koran yang barusan dibacanya dengan darah mendesir.

5.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

3 mins • 5 pts

Nasib Kang Sakri

(1) Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian. Sejauh mata memandang, hanya terlihat reruntuhan dan puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mereka tak di antara puing-puing bangunan yang telah tersapu oleh perilaku alam yang tengah murka. Mengabarkan duka ke seluruh penjuru semesta. Mereka saling bertatapan dengan dada diserbu tanda tanya.

(2) Dengan langkah tersaruk-saruk, Kang Sakri menginjakkan kakinya di antara reruntuhan bangunan. Lelaki bertubuh kekar itu bergidik ngeri ketika bola matanya hinggap di balik reruntuhan itu.  Masyaallah! Beberapa sosok tubuh terjepit dan tergencet di balik reruntuhan bangunan dengan kondisi yang mengenaskan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang putus kakinya, pecah kepalanya, terburai isi perutnya, bahkan ada beberapa potongan organ tubuh yang berserakan di atas reruntuhan, entah milik siapa.

(3) Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Rongga dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ingin rasanya dia segera memerankan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun kembali rumah-rumah yang porak-poranda itu dalam waktu semalam. Lantas menghidupkan istrinya menjadi sosok Roro Jongrang dengan segenap kelincahan dan kegenitannya.

(4) Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata  yang kini tergelar di depan matanya. Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

Manakah bukti tekstual dari  struktur teks deskripsi bagian identifikasi pada teks tersebut ?

Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian.

Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata yang kini tergelar di depan matanya.

Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya.

Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

6.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

5 mins • 5 pts

Nasib Kang Sakri

(1) Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian. Sejauh mata memandang, hanya terlihat reruntuhan dan puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mereka tak di antara puing-puing bangunan yang telah tersapu oleh perilaku alam yang tengah murka. Mengabarkan duka ke seluruh penjuru semesta. Mereka saling bertatapan dengan dada diserbu tanda tanya.

(2) Dengan langkah tersaruk-saruk, Kang Sakri menginjakkan kakinya di antara reruntuhan bangunan. Lelaki bertubuh kekar itu bergidik ngeri ketika bola matanya hinggap di balik reruntuhan itu.  Masyaallah! Beberapa sosok tubuh terjepit dan tergencet di balik reruntuhan bangunan dengan kondisi yang mengenaskan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang putus kakinya, pecah kepalanya, terburai isi perutnya, bahkan ada beberapa potongan organ tubuh yang berserakan di atas reruntuhan, entah milik siapa.

(3) Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Rongga dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ingin rasanya dia segera memerankan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun kembali rumah-rumah yang porak-poranda itu dalam waktu semalam. Lantas menghidupkan istrinya menjadi sosok Roro Jongrang dengan segenap kelincahan dan kegenitannya.

Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata  yang kini tergelar di depan matanya. Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

Nasib Kang Sakri

(1) Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian. Sejauh mata memandang, hanya terlihat reruntuhan dan puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mereka tak di antara puing-puing bangunan yang telah tersapu oleh perilaku alam yang tengah murka. Mengabarkan duka ke seluruh penjuru semesta. Mereka saling bertatapan dengan dada diserbu tanda tanya.

(2) Dengan langkah tersaruk-saruk, Kang Sakri menginjakkan kakinya di antara reruntuhan bangunan. Lelaki bertubuh kekar itu bergidik ngeri ketika bola matanya hinggap di balik reruntuhan itu.  Masyaallah! Beberapa sosok tubuh terjepit dan tergencet di balik reruntuhan bangunan dengan kondisi yang mengenaskan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang putus kakinya, pecah kepalanya, terburai isi perutnya, bahkan ada beberapa potongan organ tubuh yang berserakan di atas reruntuhan, entah milik siapa.

(3) Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Rongga dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ingin rasanya dia segera memerankan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun kembali rumah-rumah yang porak-poranda itu dalam waktu semalam. Lantas menghidupkan istrinya menjadi sosok Roro Jongrang dengan segenap kelincahan dan kegenitannya.

Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata  yang kini tergelar di depan matanya. Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

Nasib Kang Sakri

(1) Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian. Sejauh mata memandang, hanya terlihat reruntuhan dan puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mereka tak di antara puing-puing bangunan yang telah tersapu oleh perilaku alam yang tengah murka. Mengabarkan duka ke seluruh penjuru semesta. Mereka saling bertatapan dengan dada diserbu tanda tanya.

(2) Dengan langkah tersaruk-saruk, Kang Sakri menginjakkan kakinya di antara reruntuhan bangunan. Lelaki bertubuh kekar itu bergidik ngeri ketika bola matanya hinggap di balik reruntuhan itu.  Masyaallah! Beberapa sosok tubuh terjepit dan tergencet di balik reruntuhan bangunan dengan kondisi yang mengenaskan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang putus kakinya, pecah kepalanya, terburai isi perutnya, bahkan ada beberapa potongan organ tubuh yang berserakan di atas reruntuhan, entah milik siapa.

(3) Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Rongga dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ingin rasanya dia segera memerankan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun kembali rumah-rumah yang porak-poranda itu dalam waktu semalam. Lantas menghidupkan istrinya menjadi sosok Roro Jongrang dengan segenap kelincahan dan kegenitannya.

Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata  yang kini tergelar di depan matanya. Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

Pesan tersirat yang tepat dari teks deskripsi tersebut adalah ....

Perilaku alam yang telah memusnahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Perilaku manusia telah menghancurkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan.

Manusia hanya mempunyai rencana tetapi akhir dari segala sesuatu Tuhanlah yang menentukan.

Bencana alam tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dicegah kedatangannya.

7.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

3 mins • 5 pts

Nasib Kang Sakri

(1) Deru truk membelah perkampungan yang porak poranda. Pak Sastro Tobong, Kang Sakri dan awak pemain ketoprak “ Madya Laras” yang baru saja pentas di sebuah kecamatan sungguh-sungguh tak percaya kalau pemandangan di depannya adalah kampung halaman, tempat mereka menuntaskan nalurinya dalam berkesenian. Sejauh mata memandang, hanya terlihat reruntuhan dan puing-puing bangunan yang telah rata dengan tanah. Mereka tak di antara puing-puing bangunan yang telah tersapu oleh perilaku alam yang tengah murka. Mengabarkan duka ke seluruh penjuru semesta. Mereka saling bertatapan dengan dada diserbu tanda tanya.

(2) Dengan langkah tersaruk-saruk, Kang Sakri menginjakkan kakinya di antara reruntuhan bangunan. Lelaki bertubuh kekar itu bergidik ngeri ketika bola matanya hinggap di balik reruntuhan itu.  Masyaallah! Beberapa sosok tubuh terjepit dan tergencet di balik reruntuhan bangunan dengan kondisi yang mengenaskan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang putus kakinya, pecah kepalanya, terburai isi perutnya, bahkan ada beberapa potongan organ tubuh yang berserakan di atas reruntuhan, entah milik siapa.

(3) Kang Sakri tak sanggup lagi menatap mayat-mayat yang tergencet dan terjepit di balik reruntuhan. Pikirannya menerawang. Di layar benaknya muncul bayangan istrinya yang tengah gencar berjuang memburu dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Rongga dadanya tiba-tiba saja terasa sesak. Ingin rasanya dia segera memerankan Bandung Bondowoso yang sanggup membangun kembali rumah-rumah yang porak-poranda itu dalam waktu semalam. Lantas menghidupkan istrinya menjadi sosok Roro Jongrang dengan segenap kelincahan dan kegenitannya.

(4) Namun Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang hanyalah cerita legenda yang hanya bisa dihidupkan di atas Panggung Ketoprak. Bukan dalam kehidupan nyata  yang kini tergelar di depan matanya. Kang Sakri merasa lemas dan lunglai. Tubuhnya ambruk di atas reruntuhan dan puing-puing bangunan. Matanya berkunang-kunang.

Apa gagasan pokok paragraf ketiga ?

Imajinasi Kang Sakri

Harapan Kang Sakri

Kekecewaan Kang Sakri

Impian Kang Sakri

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?