
UP AGAMA HINDU
Authored by CPNS 2019 TO SKB PJOK
Religious Studies
Professional Development
Used 3+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
20 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Membangun tempat suci termasuk pura hendaknya memperhatikan syarat-syarat tertentu. Demikian pula halnya saat umat Hindu di Bali ketika bermaksud membangun pura terlebih dahulu meminta petunjuk kepada pemuka agama. Hal-hal yang dipersyaratkan seperti: pemilihan tempat yang diyakini nyaman dan tenang, pengukuran areal tempat suci, peletakan batu pertama, memaku bangunan suci, penanaman pedagingan, melaspas, dan ngenteg linggih.
Salah satu persyaratan pembangunan tempat suci berdasarkan cerita tersebut di atas, yang selanjutnya dipakai sebagai hari jadi atau piodalan adalah...
Pemilihan tempat yang nyaman dan pengukuran areal tempat bangunan
Pelaksanaan upacara melaspas dan ngenteg linggih
Pengukuran areal tempat bangunan dan peletakan batu pertama
Peletakan batu pertama dan upacara memaku bangunan pelinggih
Memaku bangunan pelinggih dan penanaman pedagingan
Answer explanation
Pembahasan:
Dalam tradisi Hindu di Bali, pembangunan tempat suci atau pura harus mengikuti serangkaian prosesi adat dan keagamaan. Salah satu tahap penting adalah upacara melaspas dan ngenteg linggih, yang merupakan ritual penyucian dan peresmian bangunan suci sebelum digunakan sebagai tempat pemujaan.
Upacara melaspas bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan bangunan yang baru selesai dibangun, sementara ngenteg linggih menandai penempatan kekuatan spiritual dalam bangunan suci tersebut.
Karena upacara ini menjadi penanda resmi keberadaan pura dan sering dijadikan sebagai acuan hari jadi atau piodalan pura, maka jawaban yang paling tepat adalah B. Pelaksanaan upacara melaspas dan ngenteg linggih.
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Pak Budi merupakan guru penggerak di SMP N 1 Sidemen. Pak Budi melaksanakan penggalian data terkait masalah siswa sebagai dasar pelaksanaan PTK melalui wawancara. Wawancara tersebut berisi tentang hambatan siswa dalam mengikuti pembelajaran daring. Pak Budi telah mentranskripsi pembicaraan tersebut.
Teknik analisis yang dapat dilaksanakan oleh Pak Budi untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan siswa dalam mengikuti pembelajaran daring adalah...
Analisis konten
Analisis statistik inferensial
Analisis statistik deskriptif
Analisis perbandingan
Analisis korelasi
Answer explanation
Dalam penelitian tindakan kelas (PTK), metode analisis data yang digunakan bergantung pada jenis data yang dikumpulkan. Dalam kasus Pak Budi, data yang dikumpulkan berasal dari wawancara yang telah ditranskripsi.
Untuk mengidentifikasi faktor-faktor hambatan siswa dalam pembelajaran daring, metode yang tepat adalah analisis statistik deskriptif.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan dan meringkas data dalam bentuk tabel, grafik, atau angka rata-rata. Metode ini membantu memahami pola data tanpa membuat generalisasi atau prediksi.
Analisis konten (A) lebih cocok untuk menganalisis teks atau isi dokumen secara mendalam berdasarkan tema atau makna tertentu.
Analisis statistik inferensial (B) digunakan untuk membuat kesimpulan atau prediksi dari sampel ke populasi, yang tidak relevan dalam konteks ini.
Analisis perbandingan (D) bertujuan membandingkan dua atau lebih kelompok data, yang tidak menjadi tujuan utama penelitian Pak Budi.
Analisis korelasi (E) digunakan untuk melihat hubungan antar variabel, yang juga tidak sesuai dengan tujuan analisis data wawancara Pak Budi.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Devita seorang pelajar SMP yang cerdas dan berwawasan. Ibu guru Devita mengajarkan beberapa mantra Hindu kepada Devita, yaitu:
(1) Om annapate annasya no dehyamnivasy susminah pra-pra dataran tanisa urjan no dhehi dvipade catus pade
(2) Om pra no devi sarasvati vajebir vajinivati dhinam avitryavatu
(3) Om vātā ā vātu bhēsajam sambhu mayobhu no hride pra na āyuns tārisat
(4) Om asato mā sadgamaya tamaso mā jyotir gamaya mrtyor mā amrtam gamaya
(5) Om tryambakam yajāmahe sugandhim pusṭivardhanam mrtyor mukṣiya māmṛtāt
Mantra di atas yang dapat digunakan untuk menguatkan konsentrasi atau fokus, memotivasi, dan menginspirasi belajar Devita adalah…
1 dan 3
2 dan 4
2 dan 5
3 dan 5
1 dan 2
Answer explanation
Mantra-mantra dalam Hindu memiliki fungsi dan makna yang berbeda sesuai dengan tujuan penggunaannya. Dalam konteks belajar dan meningkatkan konsentrasi atau fokus, mantra yang sering digunakan adalah:
Om pra no devi sarasvati vajebir vajinivati dhinam avitryavatu (Mantra Saraswati) → (Nomor 2)
Mantra ini ditujukan kepada Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Mantra ini sering digunakan untuk meningkatkan kecerdasan, daya ingat, dan fokus dalam belajar.
Om asato mā sadgamaya tamaso mā jyotir gamaya mrtyor mā amrtam gamaya (Mantra Pencerahan) → (Nomor 4)
Mantra ini memiliki makna spiritual mendalam yang mengarahkan seseorang dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari kegelapan menuju cahaya. Dalam konteks pendidikan, mantra ini dapat memotivasi dan menginspirasi untuk terus mencari ilmu dan pencerahan.
Sedangkan mantra lainnya memiliki tujuan yang berbeda:
Mantra 1 berhubungan dengan permohonan makanan dan kesejahteraan.
Mantra 3 berkaitan dengan penyembuhan atau kesehatan.
Mantra 5 dikenal sebagai Maha Mrityunjaya Mantra, yang lebih berfokus pada perlindungan dan kesehatan daripada konsentrasi belajar.
4.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Disajikan rumusan tujuan pembelajaran sebagai berikut:
Disajikan rumusan tujuan pembelajaran sebagai berikut:
"Pada akhir pembelajaran, peserta didik mampu menerapkan contoh penerapan Panca Yadnya dalam kehidupan sehari-hari."
Berdasarkan rumusan tujuan di atas, rancangan kegiatan yang paling mencerminkan ciri-ciri pembelajaran holistik adalah...
Menggunakan sistem kecerdasan buatan untuk menyusun materi Yadnya
Merancang dan melaksanakan proyek kolaboratif dengan kelas lain untuk memperkaya contoh Yadnya
Meminta setiap peserta didik menggambarkan satu situasi pelaksanaan Yadnya dan ditempel di depan kelas
Meminta siswa meninjau contoh-contoh Yadnya yang tertulis dalam buku bacaan
Meminta peserta didik untuk menulis contoh-contoh Yadnya dalam selembar kertas secara mandiri
Answer explanation
Pembelajaran holistik menekankan pada keterlibatan aktif peserta didik, pengalaman langsung, dan integrasi berbagai aspek pembelajaran. Dalam konteks ini, pembelajaran yang mendorong kolaborasi, eksplorasi, dan keterlibatan sosial lebih mencerminkan pendekatan holistik.
Opsi A (Menggunakan sistem kecerdasan buatan) tidak mencerminkan pembelajaran holistik karena lebih bersifat teknologi berbasis data, bukan pengalaman langsung.
Opsi C (Menggambarkan situasi pelaksanaan Yadnya) lebih bersifat reflektif, tetapi kurang melibatkan aspek pengalaman nyata.
Opsi D (Meninjau contoh dalam buku bacaan) terlalu pasif karena hanya mengandalkan sumber tertulis tanpa pengalaman langsung.
Opsi E (Menulis contoh secara mandiri) hanya menekankan keterampilan menulis tanpa adanya eksplorasi dan interaksi sosial.
Sebaliknya, opsi B (Merancang dan melaksanakan proyek kolaboratif dengan kelas lain) memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, serta memperoleh wawasan yang lebih luas tentang penerapan Panca Yadnya secara nyata. Hal ini selaras dengan prinsip pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman, yang merupakan inti dari pendekatan holistik.
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Kitab Sarasamuccaya memuat tentang ajaran pengendalian diri dan etika yang patut dipakai pedoman oleh umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Sarasamuccaya sloka 76 memuat tiga hal yang tidak patut untuk dilakukan, salah satunya adalah perbuatan membunuh. Namun, dalam beberapa kondisi, perbuatan membunuh dapat dilakukan dengan alasan kebaikan.
Kitab Sarasamuccaya memuat tentang ajaran pengendalian diri dan etika yang patut dipakai pedoman oleh umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Sarasamuccaya sloka 76 memuat tiga hal yang tidak patut untuk dilakukan, salah satunya adalah perbuatan membunuh. Namun, dalam beberapa kondisi, perbuatan membunuh dapat dilakukan dengan alasan kebaikan.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka perbuatan yang menunjukkan perbuatan membunuh untuk menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dan damai adalah...
Prajurit yang membunuh musuh yang melakukan perlawanan di medan perang
Membunuh binatang yang mengancam keselamatan nyawa manusia
Membunuh musuh yang sudah menyerah di medan perang
Membunuh musuh yang datang meminta suaka politik
Memotong hewan untuk kepentingan upacara yadnya
Answer explanation
Dalam ajaran Hindu, konsep Ahimsa (tidak membunuh) sangat ditekankan. Namun, dalam kondisi tertentu, tindakan membunuh dapat dibenarkan jika dilakukan untuk dharma (kebenaran dan keadilan).
Opsi A (Prajurit yang membunuh musuh yang melakukan perlawanan di medan perang) sesuai dengan konsep Dharma Yudha, yaitu perang yang dilakukan demi keadilan dan ketertiban. Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna mengajarkan kepada Arjuna bahwa seorang ksatria (prajurit) memiliki tugas untuk melindungi kebenaran, termasuk melawan musuh yang mengancam kedamaian. Oleh karena itu, opsi ini adalah yang paling tepat.
Opsi B (Membunuh binatang yang mengancam keselamatan manusia) memang dapat diterima dalam kondisi darurat, tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan konsep kehidupan sosial yang harmonis dan damai sebagaimana dimaksud dalam soal.
Opsi C (Membunuh musuh yang sudah menyerah di medan perang) tidak sesuai dengan prinsip dharma karena seseorang yang telah menyerah seharusnya diberikan kesempatan untuk hidup dan diadili secara adil.
Opsi D (Membunuh musuh yang datang meminta suaka politik) bertentangan dengan ajaran Hindu yang mengutamakan kasih sayang dan perlindungan terhadap mereka yang menyerah atau meminta perlindungan.
Opsi E (Memotong hewan untuk kepentingan upacara yadnya) berkaitan dengan Bhuta Yadnya, namun tidak relevan dengan konteks pertanyaan yang membahas pembunuhan dalam situasi sosial.
6.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Pada akhir fase ini, peserta didik mampu menerapkan, menilai serta menciptakan nilai-nilai susila Hindu tentang ajaran Catur Warna untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sebagai keseimbangan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, juga manusia dengan alam agar terbentuk pribadi yang unggul.
Pada akhir fase ini, peserta didik mampu menerapkan, menilai serta menciptakan nilai-nilai susila Hindu tentang ajaran Catur Warna untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sebagai keseimbangan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, juga manusia dengan alam agar terbentuk pribadi yang unggul.
Kegiatan di akhir fase merupakan tahapan dalam merumuskan...
Kriteria pembelajaran kontekstual
Kriteria alur tujuan pembelajaran
Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran
Kriteria tujuan pembelajaran
Kriteria pembelajaran bermakna
Answer explanation
Dalam proses pembelajaran, ada beberapa tahapan penting, salah satunya adalah evaluasi di akhir fase pembelajaran. Evaluasi ini bertujuan untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran, yaitu sejauh mana peserta didik telah memahami dan menerapkan konsep yang diajarkan.
Opsi A (Kriteria pembelajaran kontekstual) lebih berkaitan dengan penerapan pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan dan kehidupan nyata peserta didik, bukan evaluasi hasil pembelajaran di akhir fase.
Opsi B (Kriteria alur tujuan pembelajaran) berkaitan dengan perencanaan awal pembelajaran, bukan evaluasi di akhir fase.
Opsi C (Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran) adalah jawaban yang paling tepat karena pada akhir fase pembelajaran, guru perlu mengukur sejauh mana siswa telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Dalam hal ini, siswa diharapkan dapat memahami dan menerapkan ajaran Catur Warna dalam kehidupan.
Opsi D (Kriteria tujuan pembelajaran) lebih mengacu pada perencanaan awal tujuan yang ingin dicapai, bukan evaluasi akhir.
Opsi E (Kriteria pembelajaran bermakna) lebih berkaitan dengan bagaimana pembelajaran dapat memberikan dampak yang mendalam bagi siswa, bukan tentang evaluasi akhir fase.
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Maharshi Vyasa mengkodifikasi kitab suci Weda dengan tujuan mempermudah umat dalam mempelajari ajaran yang terdapat dalam kitab suci Weda. Maharshi Vyasa membuat dua bentuk kodifikasi yakni Weda Sruti dan Weda Smerti. Weda Smerti terdiri atas Itihasa, Siksa, Purana, Gandharwaweda, Wyakarana, Ayurveda, Chanda, Kalpa, Arthaweda, Nirukta, Dhanurweda, dan Jyotisa.
Maharshi Vyasa mengkodifikasi kitab suci Weda dengan tujuan mempermudah umat dalam mempelajari ajaran yang terdapat dalam kitab suci Weda. Maharshi Vyasa membuat dua bentuk kodifikasi yakni Weda Sruti dan Weda Smerti. Weda Smerti terdiri atas Itihasa, Siksa, Purana, Gandharwaweda, Wyakarana, Ayurveda, Chanda, Kalpa, Arthaweda, Nirukta, Dhanurweda, dan Jyotisa.
Kategorisasi Weda Smerti Wedangga dalam bidang keilmuan yang benar di bawah ini adalah...
Wyakarana (ilmu tata bahasa) dan Purana (cerita kuno)
Chanda (ilmu lagu) dan Itihasa (epos cerita)
Dhanurweda (ilmu senjata) dan Jyotisa (ilmu astronomi)
Siksa (ilmu bunyi) dan Kalpa (ilmu yadnya)
Ayurveda (ilmu kedokteran) dan Gandharwaweda (ilmu seni)
Answer explanation
Kodifikasi Weda oleh Maharshi Vyasa dibagi menjadi dua, yaitu Weda Sruti (yang didengar) dan Weda Smerti (yang diingat). Dalam Weda Smerti, terdapat berbagai bidang keilmuan yang disebut Wedangga (anggota Weda) yang terdiri dari berbagai ilmu pengetahuan.
Penjelasan pilihan jawaban:
Opsi A (Wyakarana dan Purana):
Wyakarana adalah ilmu tata bahasa.
Purana adalah cerita kuno.
Salah, karena Purana bukan bagian dari Wedangga.
Opsi B (Chanda dan Itihasa):
Chanda adalah ilmu metrum/lantunan dalam Weda.
Itihasa adalah epos sejarah seperti Ramayana dan Mahabharata.
Salah, karena Itihasa bukan bagian dari Wedangga.
Opsi C (Dhanurweda dan Jyotisa):
Dhanurweda adalah ilmu senjata dan strategi perang.
Jyotisa adalah ilmu perbintangan atau astronomi.
Benar, karena kedua ilmu ini termasuk dalam kategori Weda Smerti Wedangga.
Opsi D (Siksa dan Kalpa):
Siksa adalah ilmu fonetik atau ilmu bunyi dalam pengucapan mantra Weda.
Kalpa adalah ilmu tata cara upacara atau yadnya.
Salah, karena meskipun termasuk Wedangga, tidak berpasangan dengan Jyotisa.
Opsi E (Ayurveda dan Gandharwaweda):
Ayurveda adalah ilmu kedokteran dalam Weda.
Gandharwaweda adalah ilmu seni dan musik.
Salah, karena pasangan yang tepat dalam kategori Wedangga adalah Dhanurweda dan Jyotisa.
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?