
Study With Dhil - LBI 1
Authored by Study With Dhil
Other
University
Used 3+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
30 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Gambar infografis berikut untuk menjawab soal nomor 1-3.
Belakangan ini chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), ChatGPT, tengah naik daun. Teknologi besutan OpenAl ini diketahui bisa melakukan banyak hal. ChatGPT bisa memahami konteks percakapan dan memberi jawaban secara luwes sesuai dengan konteks. Tak hanya itu, teknologinya juga mendukung 94 bahasa, termasuk bahasa Inggris, Indonesia, Jawa, Perancis, Rusia, Italia, Portugis, hingga bahasa Arab. Sejak awal peluncurannya pada November 2022, layanan ChatGPT mampu memecahkan rekor dari segi jumlah pengguna aktif. Reuters menulis, pengguna aktif bulanan ChatGPT diklaim menembus angka 100 juta orang per awal Februari lalu.
Kesuksesan tersebut memicu persaingan raksasa-raksasa teknologi dunia. Pada 6 Februari 2023, Google meluncurkan produk baru chatbot berbasis Al bernama Bard. Meski sama-sama dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, ada beberapa kelebihan yang dimiliki Bard Google yang membuatnya lebih unggul dari ChatGPT. Bard mengadopsi teknologi Language Model for Dialogue Applications atau LaMDA yang dikembangkan DeepMind. Bard juga dapat menerjemahkan lebih dari 100 bahasa. Chatbot ini memberikan jawaban yang lebih komprehensif dan relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Selanjutnya ada teknologi Al terbaru dari Microsoft yang diberi nama Promotheus. Mesin pencarian Bing menjadi salah satu yang akan mengalami pembaruan Al dalam sistemnya. Bing yang terintegrasi Promotheus memberikan hasil pencarian yang lebih relevan Dikutip dari The Verge, Satya Nadella selaku CEO Microsoft yakin bahwa inovasi Bing mampu bersaing dengan Google. "Kami berharap, dengan inovasi kami, mereka (Google) akan keluar dan memperlihatkan tariannya," ujar Nadella.
Tak hanya raksasa teknologi Amerika Serikat saja yang ikut bersaing. Baidu, salah satu perusahaan raksasa asal Cina turut meramaikan persaingan teknologi Al. Baidu tengah mengembangkan chatbot bernama Ernie Bot atau dalam Bahasa China disebut Wenxin Yiyan. Dengan menggunakan teknologi deep learning dan neural network, bisa membantu bot memahami bahasa alami dan memberikan jawaban yang lebih baik. Selain itu, perusahaan lainnya yang juga mengumumkan akan memiliki chatbot seperti ChatGPT adalah opera. Teknologi ini dinamakan Shorten. Terakhir ada perusahaan e-commerce asal Cina, JD.com yang juga akan ikut bersaing di teknologi Al serupa ChatGPT. JD mengatakan akan merilis versi industri dari ChatGPT yang disebut ChatID. "Ini akan menjadi produk chatbot yang berfokus pada bidang ritel dan keuangan," ungkap manajemen JD, demikian dikutip dari CNBC International.
1. Pernyataan yang tidak tepat berdasarkan infografik tersebut adalah ...
JD.com meluncurkan produk chatbot yang berfokus pada bidang ritel dan keuangan yang diberi nama ChatJD.
Shorten akan segera diluncurkan oleh Opera, meskipun masih belum pasti kapan peluncurannya.
Bing yang terintegrasi Prometheus memberikan hasil pencarian yang lebih aman dan hasil pencariannya jauh lebih cepat.
Google meluncurkan produk baru chatbot berbasis Al bernama Bard yang diklaim lebih unggul daripada ChatGPT.
Kesuksesan OpenAl meluncurkan chatbot yang diberi nama ChatGPT memicu persaingan raksasa- raksasa teknologi dunia.
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Gambar infografis berikut untuk menjawab soal nomor 1-3.
Belakangan ini chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), ChatGPT, tengah naik daun. Teknologi besutan OpenAl ini diketahui bisa melakukan banyak hal. ChatGPT bisa memahami konteks percakapan dan memberi jawaban secara luwes sesuai dengan konteks. Tak hanya itu, teknologinya juga mendukung 94 bahasa, termasuk bahasa Inggris, Indonesia, Jawa, Perancis, Rusia, Italia, Portugis, hingga bahasa Arab. Sejak awal peluncurannya pada November 2022, layanan ChatGPT mampu memecahkan rekor dari segi jumlah pengguna aktif. Reuters menulis, pengguna aktif bulanan ChatGPT diklaim menembus angka 100 juta orang per awal Februari lalu.
Kesuksesan tersebut memicu persaingan raksasa-raksasa teknologi dunia. Pada 6 Februari 2023, Google meluncurkan produk baru chatbot berbasis Al bernama Bard. Meski sama-sama dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, ada beberapa kelebihan yang dimiliki Bard Google yang membuatnya lebih unggul dari ChatGPT. Bard mengadopsi teknologi Language Model for Dialogue Applications atau LaMDA yang dikembangkan DeepMind. Bard juga dapat menerjemahkan lebih dari 100 bahasa. Chatbot ini memberikan jawaban yang lebih komprehensif dan relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Selanjutnya ada teknologi Al terbaru dari Microsoft yang diberi nama Promotheus. Mesin pencarian Bing menjadi salah satu yang akan mengalami pembaruan Al dalam sistemnya. Bing yang terintegrasi Promotheus memberikan hasil pencarian yang lebih relevan Dikutip dari The Verge, Satya Nadella selaku CEO Microsoft yakin bahwa inovasi Bing mampu bersaing dengan Google. "Kami berharap, dengan inovasi kami, mereka (Google) akan keluar dan memperlihatkan tariannya," ujar Nadella.
Tak hanya raksasa teknologi Amerika Serikat saja yang ikut bersaing. Baidu, salah satu perusahaan raksasa asal Cina turut meramaikan persaingan teknologi Al. Baidu tengah mengembangkan chatbot bernama Ernie Bot atau dalam Bahasa China disebut Wenxin Yiyan. Dengan menggunakan teknologi deep learning dan neural network, bisa membantu bot memahami bahasa alami dan memberikan jawaban yang lebih baik. Selain itu, perusahaan lainnya yang juga mengumumkan akan memiliki chatbot seperti ChatGPT adalah opera. Teknologi ini dinamakan Shorten. Terakhir ada perusahaan e-commerce asal Cina, JD.com yang juga akan ikut bersaing di teknologi Al serupa ChatGPT. JD mengatakan akan merilis versi industri dari ChatGPT yang disebut ChatID. "Ini akan menjadi produk chatbot yang berfokus pada bidang ritel dan keuangan," ungkap manajemen JD, demikian dikutip dari CNBC International.
2. Topik yang dibahas dalam teks tersebut adalah ...
Persaingan raksasa-raksasa teknologi dunia dalam pembuatan teknologi yang serupa dengan ChatGPT.
Tantangan raksasa-raksasa teknologi dunia terhadap ChatGPT dalam pembuatan teknologi yang serupa dengan OpenAl
ChatGPT menantang raksasa-raksasa teknologi dunia untuk membuat teknologi yang serupa dengan miliknya.
Keunggulan masing-masing brand terkait teknologi yang berbasis Al.
Kemunculan produk baru dari OpenAl yang memicu pertikaian dari raksasa-raksasa teknologi dunia.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Gambar infografis berikut untuk menjawab soal nomor 1-3.
Belakangan ini chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI), ChatGPT, tengah naik daun. Teknologi besutan OpenAl ini diketahui bisa melakukan banyak hal. ChatGPT bisa memahami konteks percakapan dan memberi jawaban secara luwes sesuai dengan konteks. Tak hanya itu, teknologinya juga mendukung 94 bahasa, termasuk bahasa Inggris, Indonesia, Jawa, Perancis, Rusia, Italia, Portugis, hingga bahasa Arab. Sejak awal peluncurannya pada November 2022, layanan ChatGPT mampu memecahkan rekor dari segi jumlah pengguna aktif. Reuters menulis, pengguna aktif bulanan ChatGPT diklaim menembus angka 100 juta orang per awal Februari lalu.
Kesuksesan tersebut memicu persaingan raksasa-raksasa teknologi dunia. Pada 6 Februari 2023, Google meluncurkan produk baru chatbot berbasis Al bernama Bard. Meski sama-sama dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, ada beberapa kelebihan yang dimiliki Bard Google yang membuatnya lebih unggul dari ChatGPT. Bard mengadopsi teknologi Language Model for Dialogue Applications atau LaMDA yang dikembangkan DeepMind. Bard juga dapat menerjemahkan lebih dari 100 bahasa. Chatbot ini memberikan jawaban yang lebih komprehensif dan relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Selanjutnya ada teknologi Al terbaru dari Microsoft yang diberi nama Promotheus. Mesin pencarian Bing menjadi salah satu yang akan mengalami pembaruan Al dalam sistemnya. Bing yang terintegrasi Promotheus memberikan hasil pencarian yang lebih relevan Dikutip dari The Verge, Satya Nadella selaku CEO Microsoft yakin bahwa inovasi Bing mampu bersaing dengan Google. "Kami berharap, dengan inovasi kami, mereka (Google) akan keluar dan memperlihatkan tariannya," ujar Nadella.
Tak hanya raksasa teknologi Amerika Serikat saja yang ikut bersaing. Baidu, salah satu perusahaan raksasa asal Cina turut meramaikan persaingan teknologi Al. Baidu tengah mengembangkan chatbot bernama Ernie Bot atau dalam Bahasa China disebut Wenxin Yiyan. Dengan menggunakan teknologi deep learning dan neural network, bisa membantu bot memahami bahasa alami dan memberikan jawaban yang lebih baik. Selain itu, perusahaan lainnya yang juga mengumumkan akan memiliki chatbot seperti ChatGPT adalah opera. Teknologi ini dinamakan Shorten. Terakhir ada perusahaan e-commerce asal Cina, JD.com yang juga akan ikut bersaing di teknologi Al serupa ChatGPT. JD mengatakan akan merilis versi industri dari ChatGPT yang disebut ChatID. "Ini akan menjadi produk chatbot yang berfokus pada bidang ritel dan keuangan," ungkap manajemen JD, demikian dikutip dari CNBC International.
3. Apa alasan Google menganggap bahwa produk barunya yang bernama Bard lebih unggul daripada ChatGPT?
Bard mengadopsi teknologi LaMDA, mampu menerjemahkan 100 bahasa, dan mampu memberikan jawaban yang lebih komprehensif serta relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Bard mengadopsi teknologi LaMDA yang mampu menerjemahkan 100 bahasa dan mampu memberikan yang lebih komprehensif serta relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Bard menggunakan teknologi LaMDA, mampu menerjemahkan lebih dari 100 bahasa, dan mampu memberikan jawaban yang lebih komprehensif serta relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Bard dengan teknologi LaMDA-nya mampu menerjemahkan 100 bahasa dan mampu memberikan jawaban yang lebih komprehensif serta relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
Bard mengadopsi teknologi LaMDA, mampu menerjemahkan lebih dari 100 bahasa, dan mampu memberikan pertanyaan yang lebih komprehensif serta relevan bagi pengguna yang berasal dari berbagai negara.
4.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Teks opini berikut untuk menjawab soal nomor 4 - 6.
Jadikah Tesla ke sini? Kepastian masuknya Tesla berinvestasi di Indonesia masih dalam penantian. Kehadirannya di sini dianggap mampu membangun eksosistem bisnis kendaraan listrik di Tanah Air. Kalau memang Indonesia dipilih sebagai tempat salah satu pabrik giganya yang membuat mobil dengan target produksi hingga satu juta unit per tahun, diperkirakan ada perputaran uang sekitar US$ 36 miliar di sisi suplai/membuat dari ekosistem bisnis kendaraan listrik (asumsi COGS rata-rata 1 unit Tesla = USD 36,000). Dengan gross margin tipikalnya sekitar 25%, dan asumsi semua yang dibuat diserap pasar domestik, maka akan tercipta penciptaan nilai di sisi demand per market sekitar US% 48 miliar atau sekitar Rp 720 triliun setahun.
Dengan mempertimbangkan segala perpajakan yang berlaku di sini yang membuat harga kendaraan bisa 1,5 kali lebih mahal dibanding harga di luar, penciptaan nilai di sisi permintaan (demand) bisa menembus Rp 1.000 triliun setahun. Ini penciptaan nilai dari Tesla saja. Belum lagi penciptaan nilai di sisi support lewat penyediaan infrastruktur supercharging yang selama ini diadakan juga oleh Tesla. Tidak mengherankan jika perusahaan begitu dinantikan di sini. Tapi apakah angka-angka di atas cukup bagi Tesla untuk memutuskan Go/No-Go decision untuk berinvestasi di Indonesia?
Masalah keputusan membuat Tesla dapat didekati sebagai problem keputusan berkriteria jamak (multi criteria decision making). Ada beberapa perspektif dalam bisnis membuat. Pertama adalah perspektif pasar. Perusahaan apapun ketika memutuskan untuk menjalankan bisnisnya tentu akan melihat apakah pasar dari produk/layanannya benar ada. Demikian pula dengan Tesla, keputusan strategis membangun pabrik giganya di luar Amerika akan di-justifikasi dengan adanya dan seberapa besar pasar yang bisa dikuasai. Dengan target produksi mobil dari pabrik giga yang mencapai satu juta per tahun, pertanyaannya pasar mana saja yang akan dipenuhi oleh produk mereka. Melihat penjualan mobil penumpang di pasar Indonesia tahun 2021 di angka 650 ribuan unit turun dari 1 jutaan unit sebelum pandemi dan tingkat adopsi mobil listrik yang masih sekitar 0.1% (Statista, 2021). Sepertinya Tesla akan sulit menjadikan pasar RI sebagai target pasar mereka.
Dengan harga kendaraannya mulai dari US$ 44 ribu di Amerika Serikat atau di Indonesia bisa menjadi di atas Rp 1 miliar, akan sulit bagi Tesla merangkul mayoritas pemilik kendaraan di sini yang kemampuan membelinya di angka Rp 300 juta ke bawah (Gaikindo, 2022). Studi-studi menunjukkan harga kendaraan listrik yang masih belum terjangkau menjadi salah satu faktor perintang utama terjadinya adopsi kendaraan listrik. Kecuali, Tesla mau memperkenalkan low-cost electric car yang terjangkau, pasar domestik di sini masih belum fit dengan produk mereka. Jika pasar Indonesia masih belum fit dengan kendaraan mereka, maka bagaimana dengan pasar di kawasan regional Asia-Pasifik? Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan dan Australia merupakan lima negara teratas dalam penjualan kendaraan penumpangnya. Pada 2021, angka penjualan kendaraan penumpang di Tiongkok mencapai 21,5 juta, diikuti Jepang 3,8 juta, India 3,1 juta, Korea Selatan 1,5 juta dan Australia 753 ribuan
unit.
Sedangkan tingkat adopsi kendaraan listrik di lima negara tersebut adalah Tiongkok di urutan pertama dengan 16,1%, lalu Korea Selatan 6,5%, Australia 2,9%, Jepang 1,2%, dan India 0,5% (Statista, 2022). Terlihat dari perspektif pasar di Asia, baru pasar Cina yang prospektif bagi Tesla untuk membangun pabrik giganya. Dengan kapasitas pabrik giga di Shanghai yang mencapai 1,1 juta per tahun dan total penjualan Tesla di Tiongkok di angka 400 ribuan unit pada 2021 dan CAGR kendaraan listrik di Asia sampai 2027 sekitar 14%, keputusan Tesla untuk membangun pabrik giga barunya di Asia sepertinya menjadi satu oportunitas yang pantas diperhitungkan. Apakah memang demikian? Kedua adalah perspektif jejaring suplai (supply network). Tesla dan pabrikan kendaraan listrik lainnya menyadari baterai adalah critical item yang memiliki nilai dan risiko tinggi bagi perusahaan. Meski sekarang ini pasokan battery cells datang dari pembuat baterai utama di dunia, seperti CATL (Tiongkok), Panasonic (Jepang), dan LG Energy Solution (Korea Selatan). Tesla sudah menerapkan strategi direct sourcing terhadap mineral utama seperti lithium, nikel, kobalt langsung dari mulut tambangnya, Indonesia. (Sumber: https://katadata.co.id/)
4. Bagaimana perspektif penulis terhadap keputusan Tesla berinvestasi di Indonesia?
Penulis yakin Tesla akan datang di Indonesia karena Tesla dapat membuat pabrik giga sebagai penyuplai battery cells sebab Indonesia merupakan pemilik tambang nikel.
Penulis masih meragukan akankah jadi atau tidaknya Tesla berinvestasi di Indonesia karena masih ada multi criteria decision making yang perlu dipertimbangkan oleh Tesla.
Penulis tidak yakin bahwa Tesla akan berinvestasi di Indonesia karena adanya pajak RI pasti akan membuat harga mobil listrik Tesla akan jauh melambung tinggi, sementara kemampuan daya beli masyarakat Indonesia rata-rata di angka 300 juta rupiah.
Penulis tidak yakin tesla akan datang berinvestasi di Indonesia karena penjualan mobil penumpang di pasar telah turun drastis sejak pandemi berlangsung.
Penulis masih meragukan kedatangan Tesla dalam berinvestasi karena keputusan tersebut akan berpengaruh terhadap keberterimaan masyarakat Indonesia akan datangnya kendaraan listrik di Indonesia.
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Teks opini berikut untuk menjawab soal nomor 4 - 6.
Jadikah Tesla ke sini? Kepastian masuknya Tesla berinvestasi di Indonesia masih dalam penantian. Kehadirannya di sini dianggap mampu membangun eksosistem bisnis kendaraan listrik di Tanah Air. Kalau memang Indonesia dipilih sebagai tempat salah satu pabrik giganya yang membuat mobil dengan target produksi hingga satu juta unit per tahun, diperkirakan ada perputaran uang sekitar US$ 36 miliar di sisi suplai/membuat dari ekosistem bisnis kendaraan listrik (asumsi COGS rata-rata 1 unit Tesla = USD 36,000). Dengan gross margin tipikalnya sekitar 25%, dan asumsi semua yang dibuat diserap pasar domestik, maka akan tercipta penciptaan nilai di sisi demand per market sekitar US% 48 miliar atau sekitar Rp 720 triliun setahun.
Dengan mempertimbangkan segala perpajakan yang berlaku di sini yang membuat harga kendaraan bisa 1,5 kali lebih mahal dibanding harga di luar, penciptaan nilai di sisi permintaan (demand) bisa menembus Rp 1.000 triliun setahun. Ini penciptaan nilai dari Tesla saja. Belum lagi penciptaan nilai di sisi support lewat penyediaan infrastruktur supercharging yang selama ini diadakan juga oleh Tesla. Tidak mengherankan jika perusahaan begitu dinantikan di sini. Tapi apakah angka-angka di atas cukup bagi Tesla untuk memutuskan Go/No-Go decision untuk berinvestasi di Indonesia?
Masalah keputusan membuat Tesla dapat didekati sebagai problem keputusan berkriteria jamak (multi criteria decision making). Ada beberapa perspektif dalam bisnis membuat. Pertama adalah perspektif pasar. Perusahaan apapun ketika memutuskan untuk menjalankan bisnisnya tentu akan melihat apakah pasar dari produk/layanannya benar ada. Demikian pula dengan Tesla, keputusan strategis membangun pabrik giganya di luar Amerika akan di-justifikasi dengan adanya dan seberapa besar pasar yang bisa dikuasai. Dengan target produksi mobil dari pabrik giga yang mencapai satu juta per tahun, pertanyaannya pasar mana saja yang akan dipenuhi oleh produk mereka. Melihat penjualan mobil penumpang di pasar Indonesia tahun 2021 di angka 650 ribuan unit turun dari 1 jutaan unit sebelum pandemi dan tingkat adopsi mobil listrik yang masih sekitar 0.1% (Statista, 2021). Sepertinya Tesla akan sulit menjadikan pasar RI sebagai target pasar mereka.
Dengan harga kendaraannya mulai dari US$ 44 ribu di Amerika Serikat atau di Indonesia bisa menjadi di atas Rp 1 miliar, akan sulit bagi Tesla merangkul mayoritas pemilik kendaraan di sini yang kemampuan membelinya di angka Rp 300 juta ke bawah (Gaikindo, 2022). Studi-studi menunjukkan harga kendaraan listrik yang masih belum terjangkau menjadi salah satu faktor perintang utama terjadinya adopsi kendaraan listrik. Kecuali, Tesla mau memperkenalkan low-cost electric car yang terjangkau, pasar domestik di sini masih belum fit dengan produk mereka. Jika pasar Indonesia masih belum fit dengan kendaraan mereka, maka bagaimana dengan pasar di kawasan regional Asia-Pasifik? Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan dan Australia merupakan lima negara teratas dalam penjualan kendaraan penumpangnya. Pada 2021, angka penjualan kendaraan penumpang di Tiongkok mencapai 21,5 juta, diikuti Jepang 3,8 juta, India 3,1 juta, Korea Selatan 1,5 juta dan Australia 753 ribuan
unit.
Sedangkan tingkat adopsi kendaraan listrik di lima negara tersebut adalah Tiongkok di urutan pertama dengan 16,1%, lalu Korea Selatan 6,5%, Australia 2,9%, Jepang 1,2%, dan India 0,5% (Statista, 2022). Terlihat dari perspektif pasar di Asia, baru pasar Cina yang prospektif bagi Tesla untuk membangun pabrik giganya. Dengan kapasitas pabrik giga di Shanghai yang mencapai 1,1 juta per tahun dan total penjualan Tesla di Tiongkok di angka 400 ribuan unit pada 2021 dan CAGR kendaraan listrik di Asia sampai 2027 sekitar 14%, keputusan Tesla untuk membangun pabrik giga barunya di Asia sepertinya menjadi satu oportunitas yang pantas diperhitungkan. Apakah memang demikian? Kedua adalah perspektif jejaring suplai (supply network). Tesla dan pabrikan kendaraan listrik lainnya menyadari baterai adalah critical item yang memiliki nilai dan risiko tinggi bagi perusahaan. Meski sekarang ini pasokan battery cells datang dari pembuat baterai utama di dunia, seperti CATL (Tiongkok), Panasonic (Jepang), dan LG Energy Solution (Korea Selatan). Tesla sudah menerapkan strategi direct sourcing terhadap mineral utama seperti lithium, nikel, kobalt langsung dari mulut tambangnya, Indonesia. (Sumber: https://katadata.co.id/)
5. Bagaimana pendapat penulis tentang meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia terhadap mobil listrik Tesla?
Penulis menyarankan Tesla untuk melakukan ekspor ke negara dengan pasar domestik yang cocok dengan produk mereka.
Penulis menyarankan pemerintah untuk menurunkan pajak terkait kepemilikan mobil listrik sehingga masyarakat lebih tertarik untuk memiliki mobil listrik.
Penulis menyarankan masyarakat untuk berkaca kepada kawasan Regional Asia-Pasifik yang sangat peduli akan kepemilikan kendaraan listrik.
Penulis menyarankan untuk membangun ekonomi Indonesia dengan merekrut pekerja yang berasal dari Indonesia.
Penulis menyarankan Tesla mau memperkenalkan sistem low-cost electric car yang terjangkau karena pasar domestik di Indonesia masih belum cocok dengan produk mereka.
6.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Teks opini berikut untuk menjawab soal nomor 4 - 6.
Jadikah Tesla ke sini? Kepastian masuknya Tesla berinvestasi di Indonesia masih dalam penantian. Kehadirannya di sini dianggap mampu membangun eksosistem bisnis kendaraan listrik di Tanah Air. Kalau memang Indonesia dipilih sebagai tempat salah satu pabrik giganya yang membuat mobil dengan target produksi hingga satu juta unit per tahun, diperkirakan ada perputaran uang sekitar US$ 36 miliar di sisi suplai/membuat dari ekosistem bisnis kendaraan listrik (asumsi COGS rata-rata 1 unit Tesla = USD 36,000). Dengan gross margin tipikalnya sekitar 25%, dan asumsi semua yang dibuat diserap pasar domestik, maka akan tercipta penciptaan nilai di sisi demand per market sekitar US% 48 miliar atau sekitar Rp 720 triliun setahun.
Dengan mempertimbangkan segala perpajakan yang berlaku di sini yang membuat harga kendaraan bisa 1,5 kali lebih mahal dibanding harga di luar, penciptaan nilai di sisi permintaan (demand) bisa menembus Rp 1.000 triliun setahun. Ini penciptaan nilai dari Tesla saja. Belum lagi penciptaan nilai di sisi support lewat penyediaan infrastruktur supercharging yang selama ini diadakan juga oleh Tesla. Tidak mengherankan jika perusahaan begitu dinantikan di sini. Tapi apakah angka-angka di atas cukup bagi Tesla untuk memutuskan Go/No-Go decision untuk berinvestasi di Indonesia?
Masalah keputusan membuat Tesla dapat didekati sebagai problem keputusan berkriteria jamak (multi criteria decision making). Ada beberapa perspektif dalam bisnis membuat. Pertama adalah perspektif pasar. Perusahaan apapun ketika memutuskan untuk menjalankan bisnisnya tentu akan melihat apakah pasar dari produk/layanannya benar ada. Demikian pula dengan Tesla, keputusan strategis membangun pabrik giganya di luar Amerika akan di-justifikasi dengan adanya dan seberapa besar pasar yang bisa dikuasai. Dengan target produksi mobil dari pabrik giga yang mencapai satu juta per tahun, pertanyaannya pasar mana saja yang akan dipenuhi oleh produk mereka. Melihat penjualan mobil penumpang di pasar Indonesia tahun 2021 di angka 650 ribuan unit turun dari 1 jutaan unit sebelum pandemi dan tingkat adopsi mobil listrik yang masih sekitar 0.1% (Statista, 2021). Sepertinya Tesla akan sulit menjadikan pasar RI sebagai target pasar mereka.
Dengan harga kendaraannya mulai dari US$ 44 ribu di Amerika Serikat atau di Indonesia bisa menjadi di atas Rp 1 miliar, akan sulit bagi Tesla merangkul mayoritas pemilik kendaraan di sini yang kemampuan membelinya di angka Rp 300 juta ke bawah (Gaikindo, 2022). Studi-studi menunjukkan harga kendaraan listrik yang masih belum terjangkau menjadi salah satu faktor perintang utama terjadinya adopsi kendaraan listrik. Kecuali, Tesla mau memperkenalkan low-cost electric car yang terjangkau, pasar domestik di sini masih belum fit dengan produk mereka. Jika pasar Indonesia masih belum fit dengan kendaraan mereka, maka bagaimana dengan pasar di kawasan regional Asia-Pasifik? Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan dan Australia merupakan lima negara teratas dalam penjualan kendaraan penumpangnya. Pada 2021, angka penjualan kendaraan penumpang di Tiongkok mencapai 21,5 juta, diikuti Jepang 3,8 juta, India 3,1 juta, Korea Selatan 1,5 juta dan Australia 753 ribuan
unit.
Sedangkan tingkat adopsi kendaraan listrik di lima negara tersebut adalah Tiongkok di urutan pertama dengan 16,1%, lalu Korea Selatan 6,5%, Australia 2,9%, Jepang 1,2%, dan India 0,5% (Statista, 2022). Terlihat dari perspektif pasar di Asia, baru pasar Cina yang prospektif bagi Tesla untuk membangun pabrik giganya. Dengan kapasitas pabrik giga di Shanghai yang mencapai 1,1 juta per tahun dan total penjualan Tesla di Tiongkok di angka 400 ribuan unit pada 2021 dan CAGR kendaraan listrik di Asia sampai 2027 sekitar 14%, keputusan Tesla untuk membangun pabrik giga barunya di Asia sepertinya menjadi satu oportunitas yang pantas diperhitungkan. Apakah memang demikian? Kedua adalah perspektif jejaring suplai (supply network). Tesla dan pabrikan kendaraan listrik lainnya menyadari baterai adalah critical item yang memiliki nilai dan risiko tinggi bagi perusahaan. Meski sekarang ini pasokan battery cells datang dari pembuat baterai utama di dunia, seperti CATL (Tiongkok), Panasonic (Jepang), dan LG Energy Solution (Korea Selatan). Tesla sudah menerapkan strategi direct sourcing terhadap mineral utama seperti lithium, nikel, kobalt langsung dari mulut tambangnya, Indonesia. (Sumber: https://katadata.co.id/)
6. Dari pilihan berikut, negara manakah yang memiliki tingkat adopsi kendaraan listrik terbanyak?
Jepang
Korea Selatan
Tiongkok
Australia
India
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 1 pt
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 7 dan 8.
Kerajaan Demak merupakan salah satu kesultanan Islam yang berhasil berdiri dan berjaya pada masanya. Keberhasilan pemerintahannya ditandai dari daerah kekuasaan yang berhasil direbut dari kerajaan yang berkuasa sebelumnya. Didirikan pada tahun 1500, kerajaan Demak berhasil melakukan ekspansi sekaligus menyiarkan agama Islam di kawasan Jawa Tengah dan Timur. Meski begitu, pusat pemerintahannya tetap terletak di daerah Demak. Kerajaan Demak juga memiliki sejumlah peninggalan dalam bentuk bangunan sejarah dan kebudayaan yang masih ada sampai sekarang. Salah satunya adalah Masjid Agung Demak dengan corak bangunan khas yang dibuat oleh Raden Patah, sang pendiri kesultanan.
Daerah kekuasaannya biasa digambarkan melalui peta Kerajaan Demak. Hampir mencakup seluruh pulau Jawa, pihaknya banyak melakukan ekspansi selama kepemimpinan Sultan Trenggana, yakni putra dari Raden Patah. Kali ini, Katadata.co.id akan menunjukkan peta Kerajaan Demak yang menunjukkan daerah kekuasaan yang berhasil dibangun maupun diambil alih dari kerajaan yang menduduki sebelumnya. Simak pembahasan di bawah ini.
Dari peta Kerajaan Demak, terlihat bahwa pusat pemerintahan berfokus di kawan Demak yang terletak di provinsi Jawa Tengah. Melalui tanda panah yang mengarah dari daerah satu ke daerah lain menunjukkan perlawanan untuk menaklukkan suatu wilayah atau merebut kembali dari pengaruh asing. Bagian Jepara bertandang ke Malaka untuk mempertahankan wilayah tersebut dari kekuasaan Portugis sekitar tahun 1513- 1521. Dipimpin oleh Raden Patah, Kerajaan Demak tidak berhasil dan ia berhasil diruntuhkan pada tahun 1521. Daerah oranye yang lebih mencolok menunjukkan wilayah operasi militer kerajaan Demak yang berlangsung selama kepemimpinan Trenggana. Terlihat jelas bahwa pada masa tersebut, Trenggono berhasil menggaet banyak daerah dari provinsi Jawa Timur dan Tengah. Di antaranya yaitu Tuban, Madiun, Kediri, Surabaya, Sengguruh, Pasuruan, dan Panarukan.
(Sumber: https://katadata.co.id/)
7. Berdasarkan bacaan tersebut yang tidak termasuk rentang operasi militer Kesultanan Demak pada masa pemerintahan Sultan Trenggana adalah ...
Jepara
Tuban
Madiun
Blambangan
Panarukan
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?