
LITERASI 1-ANBK
Authored by lili gozali
World Languages
Professional Development
Used 3+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
8 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Bravo, Netta!
Apa yang kau lihat, Netta?” Tepukan bahu itu mengagetkan Netta. Dia menolehkan kepala dan melihat sebaris gigi putih berjajar menyunggingkan senyum.
“Oma, mengejutkan saja,” balasnya sambil mengalihkan pandangan ke laut lepas. Ia tak mau Oma mengetahui kekhawatiran yang ia rasakan. Oma selalu bisa membaca jalan pikirannya. Netta menghela napas panjang. Angin laut menari-narikan rambutnya yang panjang tergerai.
“Netta, perhatikan burung itu,” ucap Oma sambil menunjuk burung gannet yang sedang mengamati target ikan di bawah laut. Kemudian, ia terbang cepat menyelipkan kedua sayapnya hingga lurus dan menukik tajam ke dalam laut. Kami menunggu hingga burung itu kembali melesat ke udara. Kemudian, burung itu berkumpul dengan koloninya. Menarik diamati ketika hati sedang menari, tapi Netta sedang kacau. Bahkan, sekumpulan burung gannet bulu berwarna putih dengan ujung sayap berwarna hitam, paruh berwarna kebiru-biruan muda dan mata berwarna biru muda pun tak membuat Netta terpikat.
“Kau tahu, Netta. Burung gannet hanya mau makan ikan sarden yang berada di laut dalam. Tentunya ia butuh perjuangan untuk mencapainya. Apa ia malas menyelam hingga kedalaman sepuluh meter? Tidak kan? Kau lihat bagaimana ia terjun ke dalam laut, tentunya dengan kecepatan penuh dan ia tetap melakukannya,” Oma melirik Netta yang masih memainkan beberapa helai rambutnya.
“Setiap makhluk punya keistimewaan. Tuhan telah merancang dengan sebaik-baiknya, tinggal kita mampu atau tidak memanfaatkannya,” itu lagi yang dibahas Oma. Andai saja hidup itu semudah burung yang memang ditakdirkan bisa terbang.
“Netta, coba ingat lagi. Kau sudah sejauh ini melangkah, meninggalkan negerimu untuk meraih cita-citamu. Jangan patah arang di tengah jalan, Sayang,” Oma memang bukan saudaraku, hanya orang tua asuh selama aku kuliah di Benua Eropa ini. Ya, sudah dua kali presentasinya ditolak Prof. Smith. Materi itu sudah ia kerjakan selama dua bulan dengan hasil riset yang nggak kacangan.
“Oma, aku harus bagaimana?” akhirnya Netta buka suara.
“Oma tahu sendiri. Netta bolak-balik cari data, melakukan beberapa percobaan, bahkan sudah uji coba. Netta nggak tahu salahnya di mana?” tangis Netta pecah. Bulir-bulir itu pun menderas, bahunya berguncang hebat. Oma pun menyandarkan kepala Netta ke bahunya.
“Jalan tak selamanya lurus dan mulus. Kadang ada tikungan, jalan menurun, berlubang, atau ada beberapa kerikil. Namun, ketika belum sampai tujuan bukankah para pengemudi masih melajukan kendaraannya hingga ke lokasi yang dituju?” kata Oma menenangkan Netta.
“Netta, pelajari sekali lagi. Lihat catatan Prof. Smith, revisi, dan hadapi dia. Yakinlah pada kemampuan dan proses yang sudah kau lakukan,” Oma menggandeng Netta pulang. Beberapa burung gannet masih beradu di udara dan kembali melakukan atraksi rudalnya. Mereka tak pernah berhenti melakukannya berulang-ulang.
Penulis: Diah Erna
-
“Beberapa burung gannet masih beradu di udara dan kembali melakukan atraksi rudalnya.”
Apa maksud penulis menggunakan pernyataan tersebut?
Mengajak kita untuk menyukai dan melestarikan burung gannet sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Memberitahu bahwa burung gannet sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki warna yang indah.
Agar kita belajar dari burung gannet yang berusaha maksimal dalam mendapatkan mangsanya.
Memberitahukan bahwa burung gamet pandai menyelam dan gigih dalam mencari mangsa.
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Laika Terlelap Bersama Bintang
Kota Moskow pada musim dingin terasa menusuk tulang, aku berlari ke sana kemari untuk menghangatkan tubuh. Anjing tanpa tuan sepertiku memang bebas pergi ke mana saja. Tapi terkadang, jika musim dingin tiba, aku merindukan sebuah rumah.
Suatu malam seorang lelaki membawaku ke sebuah gedung. Aku diperkenalkan pada banyak orang. Lantas mereka memanggilku Laika. Aku bahagia, setelah sekian lama akhirnya aku memiliki nama, dan nama itu terdengar merdu.
Mereka memeriksa tubuhku, lalu mengatakan aku terpilih karena aku terbiasa hidup di jalanan, bertahan pada kondisi dingin yang ekstrim dan terbiasa kelaparan.
Awalnya perasaanku tidak enak, tapi kemudian aku bertemu dengan dua kawan baru. Mereka dipanggil Muska dan Albina. Muska mengatakan kalau kami akan dilatih untuk pergi melihat bulan dan bintang-bintang. Oh, betapa menyenangkan! Hatiku jadi tenang.
Setiap hari aku dan teman-temanku dilatih untuk tinggal di ruang yang sangat kecil, hanya cukup untuk tubuh kami saja, lalu dilatih memakan makanan serupa agar-agar berbagai rasa.
Aku sering mendengar para pelatihku berbincang, kata mereka tabung tempatku ini disebut Sputnik II. Terbuat dari alumunium, tingginya 4 meter, beratnya 508,3 kg. Bentuknya mengerucut supaya nanti mudah melucur di angkasa. Sputnik II menggunakan telemetri trial D untuk nanti mengirim pesan. Aku suka mendengar istilah-istilah aneh yang mereka bicarakan.
Lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan ruang yang sempit. Mereka memasang banyak peralatan, katanya itu adalah sensor-sensor untuk mengontrol tekanan dan suhu, juga untuk memantau diriku.
Pada tanggal 31 Oktober 1957 orang-orang yang merawatku memelukku. Wajah mereka tampak sendu, ada yang menangis, tapi ada juga yang tersenyum lebar mengucapkan kata-kata penyemangat.
Tiga hari kemudian tabung sempit yang aku tempati berguncang hebat, aku cemas sekali. Aku ingin melompat keluar tapi semua terkunci. Lalu aku pasrah dan mengingat kata-kata Muska bahwa aku akan segera melihat bulan dan bintang-bintang.
* Laika dinyatakan tewas 5-7 jam setelah peluncuran akibat kepanasan dan tertekan karena kenaikan suhu di dalam kabin. Sputnik II membawa jasad Laika beredar di luar angkasa selama 162 hari dan membuat 2.750 orbit sebelum akhirnya jatuh pada 14 April 1958. Laika menutup matanya di antara bintang-bintang. Sputnik II dan Laika telah memberi data berharga bagi ilmu pengetahuan luar angkasa. 50 tahun kemudian pemerintah Rusia membangun monumen untuk mengenang Laika di pusat pelatihan kosmonot di dekat kota Moskow.
-
Cerita tersebut dikisahkan oleh tokoh Aku yang merupakah seekor anjing.
Alasan penulis memilih penyampaian cerita seperti itu agar...
cerita tentang Laika menjadi kisah yang menyentuh hati dan menginspirasi pembaca.
Laika bisa menjadi narator atau penyampai cerita dalam kisah miliknya sendiri
Informasi yang disampaikan dalam wacana tersebut semakin jelas dan tidak ambigu.
Pembaca dapat mengetahui langsung pengalaman dan perasaan yang dialami tokoh Laika.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
2 mins • 1 pt
Mudahnya Mengatasi Sariawan
Kalian semua pasti pernah merasakan sariawan. Rasanya tidak enak sekali ya? Sariawan adalah luka kecil pada selaput lendir mulut baik di lidah, bibir, maupun rongga mulut. Rasa sakitnya ini seperti terbakar dan perih untuk mengunyah makanan atau berbicara.
Awalnya, sariawan ini berbentuk lingkaran kecil berwarna merah. Lama-lama, luka itu bisa membesar dan berubah menjadi warna putih/kekuningan. Berikut informasi mengenai penyebab sariawan dan cara mengatasinya.
Berdasarkan informasi yang terdapat dalam teks, apa yang dimaksud dengan sariawan?
A. Luka pada gusi akibat penggunaan pasta gigi yang mengandung banyak detergen.
A. Luka kecil pada selaput lendir mulut, baik di lidah, bibir, maupun rongga mulut.
A. Luka pada mulut bagian dalam yang diakibatkan oleh benturan antargigi.
A. Luka yang terdapat di dalam mulut, berbentuk bulat, dan sering mengeluarkan darah.
4.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Beberapa detik setelah Sunu membuka pintu dengan kunci dari pemilik rumah, terdengar derit engsel yang sudah berkarat. Di hadapan kami terbentang sebuah ruangan yang sangat luas dengan lantai yang
tampaknya tak pernah disapu berbulan-bulan; beberapa kursi yang berserakan nampak lapuk busuk karena terkena bocoran air hujan di beberapa titik. Ada dua buah jendela panjang menghadap ke teras dan dua
jendela pada setiap sisi kiri dinding. Sebagian besar kaca jendela itu sudah pecah. Sebelah kanan dinding juga terdiri atas satu jendela yang sudah rusak dan sia-sia. Alex yang selalu berbicara dengan kameranya mulai memotret setiap pojok, setiap jengkal lantai dengan kotoran setebal dua sentimeter, setiap pintu dan jendela yang menurut Sunu terbuat dari kayu jati itu. Aku merasa Alex memutuskan merekam sudut rumah yang menarik hatinya sebelum Gusti yang matanya seperti lensa itu melampauinya. Persaingan kedua
mahasiswa yang bercita-cita merekam dunia ini sering merepotkan kami. Alex amat hemat dalam
merekam, tapi sekali jadi: hasilnya amat jitu dan tajam. Jika Alex terlihat emosional hingga terekam pada foto-fotonya sehingga aku cenderung lebih mnyukai karyanya - maka Gusti yang pendiam itu mengirim rasa misteri, berjarak dan dingin terhadap subjek yang direkamnya. Jika Alex cukup menghabiskan
setengah rol film untuk satu peristiwa, Gusti bisa menggunakan beberapa rol.
Terdengar lenguhan Daniel yang mencoba menebak-nebak manusia di zaman apa yang terakhir menempati rumah itu. Mungkin zaman Belanda, katanya bersungut-sungut menjawab pertanyaannya sendiri. Atau
mungkin zaman batu, demikian ia menambahkan. Kinan asyik mengamati tembok kotor yang sudah tak jelas warnanya, atau krem atau cokelat jorok. Sunu bergumam, dan hanya aku yang bisa mengerti apa kata- kata yang dikeluarkan di antara sepasang bibirnya yang jarang bicara itu: Kita bisa berpatungan untuk membeli cat. Kinan seolah tak mendengar ucapan Sunu atau lenguhan Daniel yang mirip suara kerbau
karena lebih sibuk mengusap-usap tembok seolah permukaan tembok kotor itu adalah hamparan kain sutera.
Gambaran karakter tokoh aku yang sesuai dengan isi bacaan adalah ...
A. mudah membaca keadaan lingkungan dan sifat-sifat orang di sekelilingnya sehingga m tokoh aku sangat disegani oleh kawannya
A. peduli dengan teman-temanya hingga mengetahui latar belakang, jalan pikiran, bahkan karakteristik mereka secara detail
A. berkarisma dan berjiwa besar ketika mengayomi suatu perkumpulan untuk memperjuangkan hak- hak masyarakat
A. lebih peduli orang lain dan seringkali menjadi penengah jika terjadi suatu permasalahan di lingkup terdekatnya
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Beberapa detik setelah Sunu membuka pintu dengan kunci dari pemilik rumah, terdengar derit engsel yang sudah berkarat. Di hadapan kami terbentang sebuah ruangan yang sangat luas dengan lantai yang
tampaknya tak pernah disapu berbulan-bulan; beberapa kursi yang berserakan nampak lapuk busuk karena terkena bocoran air hujan di beberapa titik. Ada dua buah jendela panjang menghadap ke teras dan dua
jendela pada setiap sisi kiri dinding. Sebagian besar kaca jendela itu sudah pecah. Sebelah kanan dinding juga terdiri atas satu jendela yang sudah rusak dan sia-sia. Alex yang selalu berbicara dengan kameranya mulai memotret setiap pojok, setiap jengkal lantai dengan kotoran setebal dua sentimeter, setiap pintu dan jendela yang menurut Sunu terbuat dari kayu jati itu. Aku merasa Alex memutuskan merekam sudut rumah yang menarik hatinya sebelum Gusti yang matanya seperti lensa itu melampauinya. Persaingan kedua
mahasiswa yang bercita-cita merekam dunia ini sering merepotkan kami. Alex amat hemat dalam
merekam, tapi sekali jadi: hasilnya amat jitu dan tajam. Jika Alex terlihat emosional hingga terekam pada foto-fotonya sehingga aku cenderung lebih mnyukai karyanya - maka Gusti yang pendiam itu mengirim rasa misteri, berjarak dan dingin terhadap subjek yang direkamnya. Jika Alex cukup menghabiskan
setengah rol film untuk satu peristiwa, Gusti bisa menggunakan beberapa rol.
Tindakan tokoh yang menggambarkan ungkapan 'bercita-cita merekam dunia' adalah...
melakukan kegiatan pengamatan kondisi sekitar secara diam-diam
merekam kondisi sekitar yang menghabiskan beberapa rol film
membayangkan merekam setiap sudut sekitar yang menarik hatinya untuk disimpan
mendokumentasikan setiap peristiwa yang ada di sekitar secara rutin
memotret setiap detail kondisi sekitar secara rinci dan berulang untuk mencapai kepuasan diri
6.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Terdengar lenguhan Daniel yang mencoba menebak-nebak manusia di zaman apa yang terakhir menempati rumah itu. Mungkin zaman Belanda, katanya bersungut-sungut menjawab pertanyaannya sendiri. Atau
mungkin zaman batu, demikian ia menambahkan. Kinan asyik mengamati tembok kotor yang sudah tak jelas warnanya, atau krem atau cokelat jorok. Sunu bergumam, dan hanya aku yang bisa mengerti apa kata- kata yang dikeluarkan di antara sepasang bibirnya yang jarang bicara itu: Kita bisa berpatungan untuk membeli cat. Kinan seolah tak mendengar ucapan Sunu atau lenguhan Daniel yang mirip suara kerbau
karena lebih sibuk mengusap-usap tembok seolah permukaan tembok kotor itu adalah hamparan kain sutera.
"Ruang besar ini bisa kita gunakan untuk tempat diskusi. Pasang tikar saja," aku coba mengatasi suara gerundelan Daniel yang kini mencoba menyodok-nyodok sarang laba-laba di pojok plafon dengan menggunakan sebatang kayu yang semula tergeletak di pojok ruangan. Sunu keliahatan tak peduli
komentar Daniel. Dia membuka pintu ruangan yang terletak tepat di sisi kiri belakang. Aku membuntuti Sunu dan rasanya kami sama-sama langsung tahu ruangan besar itu harus kami sulap menjadi sekretariat, tempat kami kelak melakukakan kegiatan administratif untuk diskusi dan rencana gerakan. Gerakan
mahasiswa Winatra sudah dideklarasikan secara serentak di beberapa kota. Kaki rasanya gatal jika kami hanya berdiskusi sepanjang abad tanpa melakukan tindakan apa pun.
Respons tokoh aku terhadap penilaian orang tentang rumah yang akan dijadikan sekretariat organisasi adalah:
teman-temannya memiliki keahlian dalam mendesain ulang ruangan yang tidak terawat
tempat tersebut masih sangat layak dijadikan sebagai tempat musyawarah orang banyak
lokasi rumah yang jauh dari keramaian strategis untuk dijadikan sekretariat organisasi
hal terpenting dari rumah adalah bisa dijadikan ruang berkumpul dan berdiskusi terkait penyusunan strategi
rumah yang kurang layak itu satu-satunya tempat aman yang mampu mereka sewa dengan harga murah
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
3 mins • 1 pt
Beberapa detik setelah Sunu membuka pintu dengan kunci dari pemilik rumah, terdengar derit engsel yang sudah berkarat. Di hadapan kami terbentang sebuah ruangan yang sangat luas dengan lantai yang
tampaknya tak pernah disapu berbulan-bulan; beberapa kursi yang berserakan nampak lapuk busuk karena terkena bocoran air hujan di beberapa titik. Ada dua buah jendela panjang menghadap ke teras dan dua
jendela pada setiap sisi kiri dinding. Sebagian besar kaca jendela itu sudah pecah. Sebelah kanan dinding juga terdiri atas satu jendela yang sudah rusak dan sia-sia. Alex yang selalu berbicara dengan kameranya mulai memotret setiap pojok, setiap jengkal lantai dengan kotoran setebal dua sentimeter, setiap pintu dan jendela yang menurut Sunu terbuat dari kayu jati itu. Aku merasa Alex memutuskan merekam sudut rumah yang menarik hatinya sebelum Gusti yang matanya seperti lensa itu melampauinya. Persaingan kedua
mahasiswa yang bercita-cita merekam dunia ini sering merepotkan kami. Alex amat hemat dalam
merekam, tapi sekali jadi: hasilnya amat jitu dan tajam. Jika Alex terlihat emosional hingga terekam pada foto-fotonya sehingga aku cenderung lebih mnyukai karyanya - maka Gusti yang pendiam itu mengirim rasa misteri, berjarak dan dingin terhadap subjek yang direkamnya. Jika Alex cukup menghabiskan
setengah rol film untuk satu peristiwa, Gusti bisa menggunakan beberapa rol.
Terdengar lenguhan Daniel yang mencoba menebak-nebak manusia di zaman apa yang terakhir menempati rumah itu. Mungkin zaman Belanda, katanya bersungut-sungut menjawab pertanyaannya sendiri. Atau
mungkin zaman batu, demikian ia menambahkan. Kinan asyik mengamati tembok kotor yang sudah tak jelas warnanya, atau krem atau cokelat jorok. Sunu bergumam, dan hanya aku yang bisa mengerti apa kata- kata yang dikeluarkan di antara sepasang bibirnya yang jarang bicara itu: Kita bisa berpatungan untuk membeli cat. Kinan seolah tak mendengar ucapan Sunu atau lenguhan Daniel yang mirip suara kerbau
karena lebih sibuk mengusap-usap tembok seolah permukaan tembok kotor itu adalah hamparan kain sutera.
"Ruang besar ini bisa kita gunakan untuk tempat diskusi. Pasang tikar saja," aku coba mengatasi suara gerundelan Daniel yang kini mencoba menyodok-nyodok sarang laba-laba di pojok plafon dengan menggunakan sebatang kayu yang semula tergeletak di pojok ruangan. Sunu keliahatan tak peduli
komentar Daniel. Dia membuka pintu ruangan yang terletak tepat di sisi kiri belakang. Aku membuntuti Sunu dan rasanya kami sama-sama langsung tahu ruangan besar itu harus kami sulap menjadi sekretariat, tempat kami kelak melakukakan kegiatan administratif untuk diskusi dan rencana gerakan. Gerakan
mahasiswa Winatra sudah dideklarasikan secara serentak di beberapa kota. Kaki rasanya gatal jika kami hanya berdiskusi sepanjang abad tanpa melakukan tindakan apa pun.
Deskripsi rangkaian peristiwa yang memperjelas karakter tokoh-tokoh cerita tersebut adalah ...
A. rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan kelompok organisasinya ditunjukkan melalui tindakan gegabah para tokoh ketika memilih ruang diskusi di masa depan.
A. sifat dasar menghargai selera dan pendapat masing-masing ditunjukkan dengan sifat tak acuh mereka ketika ada teman yang merasa kurang nyaman di tempat baru.
A. watak jiwa kepemimpinan para tokoh ditunjukkan dengan dialog antartokoh terkait cara untuk mengubah hunian yang dipilih menjadi ruang ngobrol ideal dan nyaman.
A. karakteristik orang-orang unik yang suka diskusi ditunjukkan dengan cara aksi tokoh dalam menghadapi perbedaan pemikiran, visi, dan misi sebuah organisasi.
A. sikap tegas dan mengutamakan kepentingan banyak orang ditunjukkan melalui tekad para tokoh untuk mengubah rumah tak layak menjadi ruang diskusi
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?
Similar Resources on Wayground
13 questions
POST TEST
Quiz
•
Professional Development
12 questions
El imperativo
Quiz
•
Professional Development
10 questions
3. Cabaran Cakap Mandarin
Quiz
•
Professional Development
10 questions
Ujian Formatif 1
Quiz
•
1st Grade - Professio...
10 questions
QUIZ LN 3
Quiz
•
Professional Development
10 questions
KALIMAT AKTIF DALAM TEKS PIDATO PERSUASIF
Quiz
•
9th Grade - Professio...
10 questions
POST TEST - TRAINING SERVICE EXCELLENT
Quiz
•
Professional Development
10 questions
Kuis Sesi 2
Quiz
•
Professional Development
Popular Resources on Wayground
7 questions
History of Valentine's Day
Interactive video
•
4th Grade
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
15 questions
Valentine's Day Trivia
Quiz
•
3rd Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for World Languages
44 questions
Would you rather...
Quiz
•
Professional Development
20 questions
Black History Month Trivia Game #1
Quiz
•
Professional Development
12 questions
Mardi Gras Trivia
Quiz
•
Professional Development
14 questions
Valentine's Day Trivia!
Quiz
•
Professional Development
7 questions
Copy of G5_U5_L14_22-23
Lesson
•
KG - Professional Dev...
16 questions
Parallel, Perpendicular, and Intersecting Lines
Quiz
•
KG - Professional Dev...
11 questions
NFL Football logos
Quiz
•
KG - Professional Dev...
12 questions
Valentines Day Trivia
Quiz
•
Professional Development