Search Header Logo

TKA 4

Authored by SITI MARFU`AH

World Languages

12th Grade

Used 4+ times

TKA 4
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

10 questions

Show all answers

1.

MULTIPLE SELECT QUESTION

1 min • 1 pt

Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Digitalisasi pendidikan di Indonesia membawa harapan besar. Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses internet belum merata, terutama di wilayah 3T. Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%. Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh. Selain itu, kecepatan internet Indonesia masih rendah, hanya sekitar 27 Mbps. Kondisi ini menyulitkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring secara maksimal.

Keterampilan digital juga menjadi tantangan serius. Banyak guru belum memiliki kompetensi mengajar dengan teknologi. Pelatihan yang diberikan masih sebatas penggunaan dasar. Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan. Indeks Keterampilan Digital menempatkan Indonesia di posisi 47 dari 113 negara. Posisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa secara menyeluruh.

Faktor sosial dan budaya turut memengaruhi adopsi digitalisasi. Anak-anak di daerah terpencil cenderung tertinggal. Penyandang disabilitas pun belum terakomodasi secara optimal. Selain itu, penggunaan teknologi masih bersifat konsumtif. Banyak siswa hanya memakai gawai hanya untuk hiburan. Kebiasaan ini menghambat pemanfaatan teknologi sebagai alat belajar.

Meskipun banyak tantangan, peluang tetap terbuka. Pemerintah perlu membangun infrastruktur digital secara merata. Pelatihan guru harus diarahkan pada penguasaan materi berbasis teknologi. Sistem digital juga perlu dijaga dari sisi keamanan data. Jika semua pihak berkolaborasi, pendidikan digital dapat meningkatkan akses dan kualitas belajar. Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang setara dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Hainer Rahman/Jakarta Times (2024)

Istilah pedagogi digital dalam kalimat "Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan" merupakan bentuk kata serapan dari bahasa asing. Jika istilah tersebut tidak dipadankan dengan kata pembaca, sebaiknya penulis memperbaiki kalimat tersebut agar tetap informatif. Manakah perbaikan kalimat yang benar? Tentukan Benar atau Salah untuk setiap perbaikan kalimat berikut!

A. Menyisipkan definisi panjang dari pedagogi digital di paragraf berbeda.

B. Menghapus istilah pedagogi digital dan menggantinya dengan materi belajar.

C. Menambahkan keterangan singkat dalam tanda kurung berisi arti pedagogi digital.

A. benar

B. salah

C. benar

2.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

1 min • 1 pt

Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Digitalisasi pendidikan di Indonesia membawa harapan besar. Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses internet belum merata, terutama di wilayah 3T. Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%. Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh. Selain itu, kecepatan internet Indonesia masih rendah, hanya sekitar 27 Mbps. Kondisi ini menyulitkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring secara maksimal.

Keterampilan digital juga menjadi tantangan serius. Banyak guru belum memiliki kompetensi mengajar dengan teknologi. Pelatihan yang diberikan masih sebatas penggunaan dasar. Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan. Indeks Keterampilan Digital menempatkan Indonesia di posisi 47 dari 113 negara. Posisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa secara menyeluruh.

Faktor sosial dan budaya turut memengaruhi adopsi digitalisasi. Anak-anak di daerah terpencil cenderung tertinggal. Penyandang disabilitas pun belum terakomodasi secara optimal. Selain itu, penggunaan teknologi masih bersifat konsumtif. Banyak siswa hanya memakai gawai hanya untuk hiburan. Kebiasaan ini menghambat pemanfaatan teknologi sebagai alat belajar.

Meskipun banyak tantangan, peluang tetap terbuka. Pemerintah perlu membangun infrastruktur digital secara merata. Pelatihan guru harus diarahkan pada penguasaan materi berbasis teknologi. Sistem digital juga perlu dijaga dari sisi keamanan data. Jika semua pihak berkolaborasi, pendidikan digital dapat meningkatkan akses dan kualitas belajar. Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang setara dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Hainer Rahman/Jakarta Times (2024)

Secara keseluruhan, teks argumentasi tersebut menunjukkan kohesi yang baik karena...

A. Menggunakan kata-kata emosional dan retoris untuk meyakinkan pembaca.

B. Menyusun argumen secara acak, tetapi tetap menggunakan istilah digitalisasi.

C. Menyajikan berbagai informasi tanpa menggunakan kata hubung antarparagraf.

D. Menghubungkan antargagasan dengan konjungsi dan pengulangan topik secara logis.

E. Menyampaikan data dan opini secara terpisah dalam paragraf yang tidak saling berkaitan.

3.

MULTIPLE SELECT QUESTION

1 min • 1 pt

Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Digitalisasi pendidikan di Indonesia membawa harapan besar. Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses internet belum merata, terutama di wilayah 3T. Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%. Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh. Selain itu, kecepatan internet Indonesia masih rendah, hanya sekitar 27 Mbps. Kondisi ini menyulitkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring secara maksimal.

Keterampilan digital juga menjadi tantangan serius. Banyak guru belum memiliki kompetensi mengajar dengan teknologi. Pelatihan yang diberikan masih sebatas penggunaan dasar. Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan. Indeks Keterampilan Digital menempatkan Indonesia di posisi 47 dari 113 negara. Posisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa secara menyeluruh.

Faktor sosial dan budaya turut memengaruhi adopsi digitalisasi. Anak-anak di daerah terpencil cenderung tertinggal. Penyandang disabilitas pun belum terakomodasi secara optimal. Selain itu, penggunaan teknologi masih bersifat konsumtif. Banyak siswa hanya memakai gawai hanya untuk hiburan. Kebiasaan ini menghambat pemanfaatan teknologi sebagai alat belajar.

Meskipun banyak tantangan, peluang tetap terbuka. Pemerintah perlu membangun infrastruktur digital secara merata. Pelatihan guru harus diarahkan pada penguasaan materi berbasis teknologi. Sistem digital juga perlu dijaga dari sisi keamanan data. Jika semua pihak berkolaborasi, pendidikan digital dapat meningkatkan akses dan kualitas belajar. Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang setara dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Hainer Rahman/Jakarta Times (2024)

Tentukan pernyataan yang mencerminkan keterkaitan antarparagraf dalam teks! Jawaban benar lebih dari satu.

A. Paragraf pertama dan kedua saling melengkapi karena membahas hambatan utama dalam penerapan digitalisasi pendidikan.

C. Paragraf kedua bertentangan dengan paragraf ketiga karena membahas solusi, sementara yang lain membahas kendala sosial.

C. Paragraf ketiga memperluas topik dengan menambahkan aspek sosial-budaya yang berpengaruh terhadap digitalisasi.

D. Paragraf keempat menyimpulkan isi teks secara menyeluruh dan menyajikan arahan ke masa depan.

E. Hubungan antargagasan dalam teks tidak konsisten karena setiap paragraf berdiri sendiri tanpa kaitan logis.

4.

MULTIPLE SELECT QUESTION

1 min • 1 pt

Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Digitalisasi pendidikan di Indonesia membawa harapan besar. Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses internet belum merata, terutama di wilayah 3T. Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%. Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh. Selain itu, kecepatan internet Indonesia masih rendah, hanya sekitar 27 Mbps. Kondisi ini menyulitkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring secara maksimal.

Keterampilan digital juga menjadi tantangan serius. Banyak guru belum memiliki kompetensi mengajar dengan teknologi. Pelatihan yang diberikan masih sebatas penggunaan dasar. Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan. Indeks Keterampilan Digital menempatkan Indonesia di posisi 47 dari 113 negara. Posisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa secara menyeluruh.

Faktor sosial dan budaya turut memengaruhi adopsi digitalisasi. Anak-anak di daerah terpencil cenderung tertinggal. Penyandang disabilitas pun belum terakomodasi secara optimal. Selain itu, penggunaan teknologi masih bersifat konsumtif. Banyak siswa hanya memakai gawai hanya untuk hiburan. Kebiasaan ini menghambat pemanfaatan teknologi sebagai alat belajar.

Meskipun banyak tantangan, peluang tetap terbuka. Pemerintah perlu membangun infrastruktur digital secara merata. Pelatihan guru harus diarahkan pada penguasaan materi berbasis teknologi. Sistem digital juga perlu dijaga dari sisi keamanan data. Jika semua pihak berkolaborasi, pendidikan digital dapat meningkatkan akses dan kualitas belajar. Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang setara dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Hainer Rahman/Jakarta Times (2024)

Teks argumentasi tersebut memuat kalimat efektif dan tidak efektif. Tinjau pernyataan-pernyataan berikut terkait keefektifan kalimat dalam teks. Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pernyataan berikut!

A. Kalimat "Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%", tidak efektif karena terlalu banyak informasi.

B. Kalimat "Banyak siswa hanya memakai gawai mereka hanya untuk hiburan", tidak efektif karena terjadi pengulangan kata yang tidak perlu.

C. Kalimat "Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh", efektif karena susunan kalimat jelas dan runtut.

A. tidak tepat

B. tepat

C. tepat

5.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

1 min • 1 pt

Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan di Indonesia

Digitalisasi pendidikan di Indonesia membawa harapan besar. Namun, tantangan infrastruktur menjadi penghambat utama. Akses internet belum merata, terutama di wilayah 3T. Data menunjukkan penetrasi internet nasional baru mencapai 79,5%. Wilayah timur Indonesia, seperti Maluku dan Papua, masih tertinggal jauh. Selain itu, kecepatan internet Indonesia masih rendah, hanya sekitar 27 Mbps. Kondisi ini menyulitkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran daring secara maksimal.

Keterampilan digital juga menjadi tantangan serius. Banyak guru belum memiliki kompetensi mengajar dengan teknologi. Pelatihan yang diberikan masih sebatas penggunaan dasar. Padahal, penguasaan pedagogi digital sangat dibutuhkan. Indeks Keterampilan Digital menempatkan Indonesia di posisi 47 dari 113 negara. Posisi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dan siswa secara menyeluruh.

Faktor sosial dan budaya turut memengaruhi adopsi digitalisasi. Anak-anak di daerah terpencil cenderung tertinggal. Penyandang disabilitas pun belum terakomodasi secara optimal. Selain itu, penggunaan teknologi masih bersifat konsumtif. Banyak siswa hanya memakai gawai hanya untuk hiburan. Kebiasaan ini menghambat pemanfaatan teknologi sebagai alat belajar.

Meskipun banyak tantangan, peluang tetap terbuka. Pemerintah perlu membangun infrastruktur digital secara merata. Pelatihan guru harus diarahkan pada penguasaan materi berbasis teknologi. Sistem digital juga perlu dijaga dari sisi keamanan data. Jika semua pihak berkolaborasi, pendidikan digital dapat meningkatkan akses dan kualitas belajar. Indonesia bisa mewujudkan pendidikan yang setara dan relevan bagi generasi masa depan.

Sumber: Hainer Rahman/Jakarta Times (2024)

Kesimpulan teks argumentasi tersebut adalah...

A. Kendala utama digitalisasi pendidikan terletak pada kompetensi guru yang masih sangat terbatas. Pelatihan teknologi yang diberikan belum menyentuh aspek pedagogi yang lebih mendalam. Jika peningkatan kapasitas tidak segera dilakukan, kualitas pembelajaran daring akan terus tertinggal.

B. Digitalisasi pendidikan di Indonesia belum optimal karena kendala infrastruktur, kompetensi guru, dan faktor sosial. Namun, kolaborasi semua pihak masih membuka peluang perbaikan. Jika pelatihan dan akses teknologi ditingkatkan secara merata, pendidikan digital dapat mendorong pemerataan kualitas belajar.

C. Digitalisasi pendidikan membuka peluang jika semua pihak menjaga keamanan dan pemerataan teknologi. Namun, dukungan konkret masih dibutuhkan agar sistem pembelajaran benar-benar berjalan efisien. Jika kolaborasi tidak dibangun dengan baik, transformasi pendidikan akan berjalan lambat.

D. Kebiasaan siswa menggunakan gawai untuk hiburan menghambat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Pemanfaatan digital masih bersifat konsumtif dan belum diarahkan pada fungsi edukatif. Jika tidak ada bimbingan berkelanjutan, teknologi sulit mendorong hasil belajar yang bermutu.

E. Akses internet di wilayah terpencil belum memadai untuk mendukung digitalisasi pendidikan secara merata. Kecepatan internet nasional masih rendah sehingga menyulitkan proses belajar daring berlangsung optimal. Jika infrastruktur tidak dibenahi segera, ketimpangan mutu pendidikan akan makin meluas.

6.

MULTIPLE SELECT QUESTION

1 min • 1 pt

Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z

Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi—sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat.

Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma. Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar.

Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Birmingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.

Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misinya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.

Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin—suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.

Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa Generasi Z tidak sepenuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia, yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar Generasi Stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.

Berdasarkan teks deskripsi tersebut, frasa konotatif apa saja yang digunakan untuk menggambarkan objek? Jawaban benar lebih dari satu.

  • A. prestasi gemilang yang diraih Kenzia

  • B. potensi penuh yang dimiliki Generasi Z

  • C. kunci kesuksesannya dalam meraih prestasi

  • D. Generasi Stroberi sebagai label untuk Generasi Z

  • E. kampus ternama dunia tempat Kenzia akan studi

7.

MULTIPLE SELECT QUESTION

1 min • 1 pt

Kenzia, Tolak Stigma Generasi Stroberi pada Gen Z

Akhir-akhir ini, Generasi Z sering dijuluki sebagai Generasi Stroberi—sebuah istilah yang menggambarkan mereka sebagai generasi manja, mudah menyerah, dan selalu menginginkan hasil secara instan. Sayangnya, label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat.

Namun, di balik stereotipe tersebut, banyak anak muda yang justru bekerja keras tanpa banyak bicara, salah satunya adalah Kenzia Aziza Rahma. Kenzia, seorang siswi SMA Berlian Satya Bunda, membuktikan bahwa prestasi gemilang bisa diraih tanpa bergantung pada bimbingan belajar.

Berkat ketekunannya, ia berhasil meraih Beasiswa Garuda untuk melanjutkan pendidikan di University of Birmingham, Inggris. Kunci kesuksesannya terletak pada kebiasaan disiplin, seperti mengulang materi pelajaran secara rutin dan melatih kemampuan bahasa asing. Semua ini ia lakukan dengan konsisten, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.

Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya tentang pentingnya mempelajari budaya dan bahasa asing secara langsung. Ia meyakini bahwa studi di luar negeri bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk membawa pulang ilmu yang bermanfaat bagi Indonesia. Salah satu misinya adalah meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya dalam menangani berbagai penyakit berbahaya yang masih menjadi masalah serius di tanah air. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata di masyarakat.

Kenzia memegang tiga prinsip hidup yang membawanya hingga ke titik ini. Pertama, disiplin—suatu kebiasaan yang harus dimulai sekarang juga, tanpa menunda. Kedua, berani berkorban, seperti mengurangi waktu bersantai atau menonton drama demi fokus pada tujuan. Ketiga, memanfaatkan peluang karena kesempatan emas tidak selalu datang dua kali. Dengan prinsip-prinsip ini, ia siap menempuh studi di bidang ilmu kesehatan di kampus ternama dunia.

Kisah Kenzia menjadi bukti bahwa Generasi Z tidak sepenuhnya sesuai dengan stigma yang dilekatkan pada mereka. Di tengah anggapan negatif, masih banyak anak muda, seperti Kenzia, yang gigih, visioner, dan berkomitmen untuk menciptakan perubahan. Mereka bukan sekadar Generasi Stroberi, melainkan generasi yang tangguh dan penuh potensi.

Apakah pernyataan berikut sesuai dengan konotasi penggambaran fenomena? Tentukan Benar atau Salah untuk setiap pernyataan berikut!

A. Label ini telah menjadi stigma negatif yang melekat di masyarakat luas.

B. Pengalaman Kenzia saat pertukaran pelajar di London selama satu bulan membuka wawasannya.

C. Baginya, kuliah di luar negeri adalah bekal untuk kembali dan berkontribusi nyata.□□

A. benar

B. salah

C. benar

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Microsoft

Continue with Microsoft

or continue with

Facebook

Facebook

Apple

Apple

Others

Others

By signing up, you agree to our Terms of Service & Privacy Policy

Already have an account?