
uh 2
Authored by Diah Budiarti
Arts
1st Grade

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
5 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Tenun ikat NTT secara tradisional sangat menghargai penggunaan pewarna alami (seperti akar mengkudu dan nila) yang prosesnya memakan waktu berbulan-bulan. Jika seorang perajin beralih sepenuhnya ke pewarna sintetis demi efisiensi waktu dan biaya, dampak paling signifikan yang mengancam nilai dan otentisitas kain tenun tersebut dalam konteks budaya dan pasar adalah:
Harga jual kain akan otomatis meningkat tajam karena efisiensi waktu memungkinkan produksi yang lebih massal.
Kain tenun kehilangan 'nilai historis' yang melekat pada proses panjang pencarian dan pengolahan bahan baku tradisional.
Teknik pengikatan benang (ikat) akan menjadi lebih sederhana karena pewarna sintetis lebih mudah meresap secara merata
Ketahanan warna kain akan menurun drastis dan mudah luntur setelah dicuci berulang kali
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Teknik ikat lungsi (warp ikat) adalah teknik yang paling dominan di NTT, di mana benang lungsi diikat dan dicelup sebelum ditenun. Mengapa teknik ikat lungsi dianggap paling kritis dan utama dalam menentukan kompleksitas dan ciri khas motif tenun ikat NTT dibandingkan ikat pakan (weft ikat)?
Alat tenun gedogan yang umum digunakan di NTT hanya mendukung pembuatan motif melalui benang lungsi.
Hanya benang lungsi yang bisa menggunakan bahan pewarna alami, sementara benang pakan harus menggunakan pewarna sintetis.
Benang lungsi lebih mudah diikat daripada benang pakan karena ukurannya yang lebih besar dan kasar.
Motif pada ikat lungsi terbentang sepanjang kain, memberikan ruang yang lebih luas untuk motif naratif, simbolis, dan kompleks yang menjadi ciri khas NTT.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Tahap pengikatan benang lungsi adalah momen yang paling menentukan motif. Bayangkan seorang perajin di Sumba melakukan kesalahan kecil, yaitu adanya satu ikatan karet yang terlalu kendur saat proses pencelupan warna dasar. Dampak yang paling mungkin terjadi pada motif keseluruhan saat kain selesai ditenun adalah:
Warna dasar yang kendur akan membuat seluruh motif lain di sekitarnya bergeser dan tidak simetris.
Kesalahan tersebut tidak akan terlihat karena pewarna alami memiliki kemampuan korektif yang tinggi untuk menyamarkan kesalahan kecil.
Benang yang kendur tersebut akan putus saat proses pencelupan dan tidak dapat ditenun, meninggalkan lubang pada kain.
Akan muncul area warna yang tidak terikat sempurna, menyebabkan kebocoran warna yang sedikit mengaburkan batas motif di titik kesalahan tersebut.
4.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Motif Batik tradisional seperti Parang Rusak/Barong secara filosofis dikaitkan dengan kedudukan tinggi dan hanya boleh dikenakan di lingkungan keraton atau oleh bangsawan. Jika motif-motif sakral ini diproduksi secara massal menggunakan teknik cap dan dijual bebas sebagai seragam dengan harga terjangkau, dampak paling signifikan yang mengancam nilai dan makna Batik adalah:
Waktu produksi yang cepat akan menyebabkan penurunan kualitas kain secara fisik karena proses pewarnaan yang tergesa-gesa.
Harga jual Batik Tulis dengan motif yang sama akan turun drastis karena persaingan harga dengan Batik Cap.
Penggunaan malam (lilin) sintetis yang digunakan pada Batik Cap akan merusak pigmen pewarna alami.
Terjadinya pendangkalan makna (desakralisasi) motif sehingga fungsi utamanya sebagai penanda status dan doa leluhur hilang di mata masyarakat.
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Seorang perajin ingin membuat Batik Tulis yang memiliki efek 'pecah-pecah' atau retakan (remukan) yang halus dan estetik pada isen-isennya (isian motif). Untuk mencapai efek ini, perajin tersebut harus memilih jenis malam (lilin) yang paling sesuai dan menerapkannya dengan teknik tertentu. Pilihan malam dan teknik yang paling tepat untuk menghasilkan efek remukan yang baik adalah:
Malam Tembok/Parafin (rapuh) yang diterapkan dengan suhu panas sedang, diikuti pendinginan cepat dan peremasan kain sebelum pencelupan.
Malam Tembok yang dicampur resin dan diterapkan dengan canting colet.
Campuran Malam Tembok dan Malam Klowong yang diaplikasikan dengan canting reng-rengan.
Malam Klowong (titik leleh tinggi) yang diterapkan tebal agar tidak pecah saat pencelupan.
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?