WorksheetsANALISIS CERPEN
Total questions: 10
Worksheet time: 7mins
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor ….
(1)
(3)
(4)
(5)
Tadi malam, Hidayat berpikir panjang mengenai hidupnya dan rencana hidupnya. “Tak mungkin aku terus-terusan begini, tidak menentu. Mesti ada sesuatu yang kukerjakan. Mesti ada sesuatu yang lebih produktif daripada yang kulakukan sekarang.Tapi apa? Modal tidak ada,” pikirnya. “Dalam keadaan seperti ini, yang harus kujual ialah jasaku, tenagaku, dan pikiranku.”
Amanat yang terkandung dalam kutipan novel tersebut adalah ….
Setiap orang pasti memiliki rencana.
Kita tidak boleh menyerah pada keadaan.
Hidup itu ada kalanya tidak menentu.
Setiap orang perlu menjual jasanya, pikirannya, dan tenaganya.
“Setidak-tidaknya, sebagai gambaran apakah Anda bersedia seandainya nanti Dewan Komisaris menunjuk Anda sebagai wakil saya?” Taksu menunduk, “Saya sungguh tidak berani mengatakan apa-apa sebelum terjadi.”
Karakter Taksu sesuai dengan penggalan cerita tersebut adalah ….
sombong
rendah hati
penakut
jujur
Bila seseorang bertanya pekerjaan apa yang saya lakukan, maka saya tak mampu menjawabnya. Wajah saya langsung menjadi merah padam dan tergagap-gagap. Saya cemburu terhadap orang yang bisa mengatakan, “Saya tukang batu.”
Watak tokoh saya dalam penggalan cerita tersebut adalah ….
penakut
pemalu
pembohong
pendiam
Ketika burung-burung telah pulang ke sarangnya, ayah menerima kabar dari seseorang bahwa teman ayah tewas tertembus timah panas. Hal ini amat memalukan sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi, “Aku sudah malu padamu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yang Engkau firmankan.” Tatkala mentari telah mengintip bumi, ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya ke dalam bumi ini.
Latar waktu dan suasana kutipan cerpen tersebut adalah ….
malam hari yang hening, menegangkan
pagi dan siang hari, memalukan
siang dan sore hari, mencemaskan
malam dan pagi hari, mengenaskan
“Mereka bersaudara, saudara kandung. Mereka hanya dua bersaudara. Ibu Upiklah yang membiayai kuliah Ferri selama ini hingga dia dapat mencapai gelar Ph.D. itu. Ibu Upik mengorbankan masa mudanya hanya untuk kepentingan adiknya yang hanya seorang itu. Ia bekerja membanting tulang menggantikan fungsi kedua orang tuanya untuk menyelesaikan pendidikan adiknya yang sangat disayangi-nya itu. Selama itu pula Ibu Upik menjauhi pria dan bertahan bagai karang menghadapi segala godaan. Ferri tahu itu. Ia kini ingin berbuat apa saja untuk membahagiakan kakaknya. Ia melihat kakaknya sebagai ibu, bukan sebagai kakak.”
Majas yang terdapat pada kutipan cerpen di atas adalah ….
hiperbola dan metafora
perumpamaan dan personifikasi
hiperbola dan perumpamaan
metafora dan personifikasi
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi geletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah…
di hutan, pagi hari
di desa, siang hari
di sungai, sore hari
di sungai, malam hari
Jon dan Con anak kembar. Jon kepala regu dan aku wakilnya. Kami bersepuluh sedang memandang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan saksama dari puncak bukit “panic”, pos kami terdepan. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong kampung-kampung di bawah kami dari semak-semak. Jon melambai dan aku mendekat. “Aku akan turun ke kampung di bawah itu.”
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
daerah patroli
puncak bukit
kampung
semak-semak
Waktu itu, aku memang banyak mengeluarkan uang untuk hobiku mengoleksi bonsai. Sebentar-sebentar membeli pohon bonsai baru. Harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Marta kecewa melihat tabungan kami habis. Ia pikir aku lebih cinta pohon daripada istri.
Hal yang menonjol dari kutipan cerita tersebut adalah ….
alur
latar
perwatakan
tema
Anak laki-laki itu merasa kasihan setiap kali menyaksikan si lelaki tua itu pulang dari laut setiap hari dengan perahu kosong. Ia pun selalu datang untuk menolong-nya membawakan gulungan tali atau kait besar dan kait kecil, serta layar yang sudah tergulung di tiang perahu. Layar itu bertambal karung gandum dan kalau tergulung di tiang tampak seperti panji-panji.
Pengarang menggambarkan watak tokoh anak laki-laki dalam kutipan cerital tersebut melalui ….
pelukisan perilaku tokoh
paparan langsung oleh pengarang
pelukisan tempat tinggal tokoh
pelukisan bentuk fisik tokoh
