WorksheetsMEMBACA SASTRA 2
Total questions: 35
Worksheet time: 18mins
(1) Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. (2) Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. (3) Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. (4) Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. (5) Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku? gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. (6) Ia beranjak menuju meja belajarnya. (7) Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. (8) Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni, tangannya mulai mencorat-coret. (9) Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari terdapat pada nomor ....
(6)
(7)
(8)
(9)
Cermati teks berikut!
Marini diam. Setiap orang memang butuh membuang sampah. Kini semakin hari pekarangan kosong semakin rapat, bahkan mesti itu di kampung. Mereka selalu membuang sampah di belakang rumah emak. Dan emaklah yang biasa merapikannya dengan memilah lalu membakarnya. Itulah emak, perempuan sepuh yang tak bisa diam. Dan ketika Marini protes pada Pak RT tentang perilaku warganya, Pak RT hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tokoh utama pada kutipan teks cerita tersebut adalah ....
Emak
Warga
Pak RT
Marini
Bacalah teks cerpen berikut
(1) Anak laki-laki itu melemparkan pandangan cemas. “Aku akan buru-buru dan kembali dalam sepempat jam.”Pikirkan dulu, Jason! Kamu tahu itu tidak mungkin. Lokasi mercusuar jauh dari sini. Dengan jalan kaki pasti membutuhkan waktu lama.
(2) “Iya, tapi aku akan kembali naik sepeda. Sepedaku kutinggal di sana. Aku akan mengambilnya dan akan segera kembali. Aku benar-benar harus ke sana sekarang.” “Kenapa tidak tunggu setelah pulang sekolah saja?” Jason menggelengkan kepala dan dua helai bulu putih terjatuh dari rambut pirangnya.
(3) “Sebelum lagi bel akan berbunyi, Aku harus bilang apa pada Bu Stella?” “Carilah alasan apa saja!” jawab Jason. Aku cuma ingin ....”
(4) “Apa yang sedang kamu recanakan?”kata Julia. Ia sangat mengenal saudara kembarnya dan tahu bahwa ia punya ide. “Ayolah Julia ...., bantu aku” Julia mengangkat bahu dan menghela napas keras-keras. “Baiklah aku angkat tangan,”Ujar Julia sambil mengangkat kedua tangannya.
Nilai moral yang terkandung dalam kutipan teks cerita tersebut adalah ...
Kita tidak boleh egois mementingkan diri sendiri.
Kita harus menuruti nasihat teman agar selamat.
Kita harus memecahkan masalah dengan tuntas.
Kita tidak boleh memaksakan kehendak dan berbohong.
Bacalah teks cerpen berikut
(1) Anak laki-laki itu melemparkan pandangan cemas. “Aku akan buru-buru dan kembali dalam sepempat jam.”Pikirkan dulu, Jason! Kamu tahu itu tidak mungkin. Lokasi mercusuar jauh dari sini. Dengan jalan kaki pasti membutuhkan waktu lama.
(2) “Iya, tapi aku akan kembali naik sepeda. Sepedaku kutinggal di sana. Aku akan mengambilnya dan akan segera kembali. Aku benar-benar harus ke sana sekarang.” “Kenapa tidak tunggu setelah pulang sekolah saja?” Jason menggelengkan kepala dan dua helai bulu putih terjatuh dari rambut pirangnya.
(3) “Sebelum lagi bel akan berbunyi, Aku harus bilang apa pada Bu Stella?” “Carilah alasan apa saja!” jawab Jason. Aku cuma ingin ....”
(4) “Apa yang sedang kamu recanakan?”kata Julia. Ia sangat mengenal saudara kembarnya dan tahu bahwa ia punya ide. “Ayolah Julia ...., bantu aku” Julia mengangkat bahu dan menghela napas keras-keras. “Baiklah aku angkat tangan,”Ujar Julia sambil mengangkat kedua tangannya.
Makna simbol angkat tangan pada kutipan cerita tersebut adalah ....
mengalah
menyetujui
menyerah
mendukung
Bacalah teks cerita berikut!
Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya. “Mana bisa keliru?,” si pegawai menyela dengan cepat. “Seharusnya saya terima delapan ratus ribu rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah yang tertulis dalam pos wesel saya.” “Coba saya lihat dulu. Saya masih ingat pos wesel Anda! “Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang berkembang di hadapannya, kemudian katanya, “Nah ini, wesel pos nomor 147 dengan tanda huruf g, jumlah uang delapan ratus ribu rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya delapan ratus ribu rupiah?“ “Tidak” jawab si laki-laki. “Nona tadi memberikan kepada saya bukan enambelas lembar uang lima puluhan ribu, tapi lima belas lembar. Jadi, uang yang saya terima tadi hanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.”
Penyebab konflik pada cerita tersebut adalah ....
terlalu tergesa-gesa menerima uang
kecerobohan dari pegawai pos
karena banyak antrean
karena sudah terbiasa bekerja
Cermati teks cerpen berikut!
“Terus kawan, hebat sekali, ayo berguling-guling,”inilah maksudnya bisiknya di antara kami sambil berlari-lari memukul gendang. Aku mulai curiga. Tapi aku tak sempat berpikir jauh karena sekarang sedang diserang oleh dua puluh ekor cheetah. Suasana semakin sepi. Kami merasa haus, menderita, dan dehidrasi. Ketika cheetah menyerang, kami berbalik menyerang. Kami sudah lupa diri, seharusnya ini tak boleh terjadi. Skenarionya tidak begitu.
Amanat dalam kutipan cerita tersebut adalah ...
Berjuang terus selama mampu.
Jangan memaksakan kehendak
Bertindaklah sesuai kemampuan.
Bekerjalah sesuai dengan rencana.
Bacalah kutipan cerita berikut!
Suatu pagi saat perempuan itu datang, kucing berhamburan mendekatinya. Perempuan itu membuka bungkusan di tas plastik hitam, lalu menata hidangan dalam bentuk memanjang di depan rumah kosong itu. Hebatnya, kucing-kucing itu tak ada yang mau menyantap duluan hidangan itu.
Pengubahan kutipan cerita tersebut menjadi sudut pandang orang pertama yang tepat adalah ...
Suatu pagi saat kami datang, kucing berhamburan mendekati kami. Kami membuka bungkusan di tas plastik hitam. Lalu menata hidangan dalam bentuk memanjang di depan rumah kosong itu. Hebatnya, kucing-kucing itu tak ada yang mau menyantap duluan hidangan itu.
Suatu pagi saat beliau datang, kucing berhamburan mendekatinya. Perempuan itu membuka bungkusan di tas plastik hitam. Lalu menata hidangan dalam bentuk memanjang di depan rumah kosong itu. Hebatnya, kucing-kucing itu tak ada yang mau menyantap duluan hidangan itu.
Suatu pagi saat aku datang, kucing berhamburan mendekatiku. Aku membuka bungkusan di tas plastik hitam. Lalu menata hidangan dalam bentuk memanjang di depan rumah kosong itu. Hebatnya, kucing-kucing itu tak ada yang mau menyantap duluan hidangan itu.
Suatu pagi saat mereka datang, kucing berhamburan mendekati kami. Kami membuka bungkusan di tas plastik hitam. Lalu menata hidangan dalam bentuk memanjang di depan rumah kosong itu. Hebatnya, kucing-kucing itu tak ada yang mau menyantap duluan hidangan itu.
Tak lama kemudian Wak Katok menyusul aku, dan kami berangkat ke tempat persembunyian. Aku tak pernah menanyakan kepada Wak Katok apa yang terjadi dengan Surip. Aku tahu apa yang terjadi. Wak Katok kembali ke pondok dan membunuh Surip dan melempar Surip ke sumur. Ini aku ketahui kemudian setelah pemberontakan dikalahkan oleh Belanda. Tetapi aku tak pernah membicarakannya dengan Wak Katok. Sejak hari itu hingga saat ini. Barulah kini aku menceritakan hal ini.
Sudut pandang cerita tersebut adalah ...
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang pertama serba tahu
orang ketiga pengamat
orang ketiga serba tahu
Menyaksikan guyuran dari bawah lindungan halte bus, aku merasa tak berdaya. Aku hanya bisa memandang entah apa, tanpa pernah berbuat lain kecuali diam. Jauh di atas sana, langit kelabu, bertanda hujan akan cukup betah menyaksikanku. Andai aku tadi tidak terlambat, aku pasti sudah di bus bahkan mungkin sudah tidur nyenyak di kamar.
Sudut pandang cerita tersebut adalah ...
Orang ketiga pengamat
Orang ketiga serba tahu
Orang pertama pelaku utama
Orang pertama pelaku sampingan
Pagi-pagi kesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ni Negari telah bangun dan bekerja menyediakan kopi. Di bilik tempat tidurnya tidak kedapatan Ni Luh Sukreni, cuma I Gusti Made Tusan sudah terbangun dan berakaian pula.
“Berapa kali ia mandi,” kata Ni Negari dalam hatinya.
Sudut pandang cerita tersebut adalah ...
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang ketiga serba tahu
orang ketiga pengamat
(1) Kejengkelanku yang sudah mulai hilang kini muncul kembali. (2) ’Hebat’ betul si Siti ini. (3) Mana ada, sih, pembantu yang ngambek kalau diomeli majikan? (4) Kalau begini caranya, lebih baik dipecatsaja dia. (5) Nanti kalau ibu pulang akan kulaporkan ulahnya. (6) Akan kubujuk ibu agar memecatnya. (7) Biar tahu rasa dia. (8) Yang mau jadi pembantu pasti masih banyak, tidak usah khawatir mengenai penggantinya.
Bukti watak tokoh aku suka mengadu terdapat pada nomor ....
(1) dan (2)
(3) dan (4)
(5) dan (6)
(7) dan (8)
Pada suatu pagi, Kakek dan Nenek Chen bersiap-siap berangkat ke hutan. Nenek tak lupa membawa bekal untuk makan siang mereka di hutan. Ketika sudah tiba di hutan, mereka melihat anak burung merpati putih menggelepar di tanah. Rupanya anak burung itu terjatuh dari pohon itu. Ia meletakkan anak burung itu di bakul makanan dengan hati-hati. “Aduh, kasihan sekali anak burung ini," kata Nenek sambil mengangkat merpati "Kita rawat saja ya, Kek," ujar Nenek, Kakek Chen mengangguk setuju.
Latar tempat pada kutipan cerita tersebut adalah di ....
rumah dan dapur
rumah dan hutan
hutan dan pasar
hutan dan warung
Salamah tak kuasa membendung tangisnya. Ia pelan-pelan bangkit, lalu merebahkan badannya ke tikar. Ya Allah, biarkan aku menangis. Biarkan aku mati asalkan Marni, si anak manis itu mendapatkan RahmatMu ya Tuhan...
Watak tokoh Salamah adalah ...
suka menangis
rela berkorban
pasrah
cengeng
Lalu dengan keberanian yang luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.
“Dua ratus rupiah,” jawab tukang loak dengan acuh tak acuh.
Hatinya semakin teriris. Sedangkan Marni memandang sandal itu dengan mata berkilat-kilat. Alangkah sedihnya hati Salamah.
“Seratus rupiah, Bang,” tawarnya.
Tukang loak itu tak menjawab, cuma menggelengkan kepalanya. Congkaknya orang itu. Salamah tak segera beranjak dari tempatnya.
Watak tokoh tukang loak adalah ...
acuh tak acuh
peduli
perhatian
penuh iba
(1)Terdengar bunyi langkah di beranda muka, kemudian suara mengucapkan, “Selamat malam.” (2)Kus terkejut, sebab suara itu dikenalnya, dr. Hamzah. (3)“Selalu saja ia memburu aku. (4)Apa pula teorinya sekali ini.” (5)Didengarnya dr Hamzah dengan orang tuanya bercakap-cakap dan sekali-sekali kedengaran namanya disebut meskipun kurang jelas benar percakapan itu ke kamarnya.
Latar waktu pada cerita di atas terdapat pada kalimat ....
1
2
3
4
5
Untuk pergi bersama-sama ke rimba tempat mereka mengumpulkan damar, mereka harus meninggalkan Kampung Air Jernih yang terletak di tepi Danau Bantau. Air Jernih terletak pula di tepi Sungai Air Putih yang bermuara ke danau. Di pinggir muara sungailah terletak kampung mereka. Mereka menuju hutan dengan menyusuri tepi sungai, memudikinya, memasuki hutan dan mendaki gunung-gunung. Sungai itu mengalir dengan derasnya turun dari gunung-gunung.
Alur cerita tersebut adalah ...
maju
mundur
campuran
regresif
dramatik
Saat itu aku menggenggam sebuah kapak bermata besi hitam tajam. Tiba tiba kudengar bisik di telinga kiriku, pukul saja Latt! Bukankah ia sangat menyebalkan dan telah menyiksa batinmu selama ini? Emosiku begitu tegang laksana bom yang siap meledakkan tubuhku hingga berkeping-keping.
Suasana dalam cerita tersebut adalah…
Menyenangkan
menyebalkan
menakutkan
menegangkan
mengkhawatirkan
Tuti bukan orang yang mudah kagum, yang mudah heran melihat sesuatu. Keisyaratannya akan harga dirinya sangat besar. Ia tahu bahwa ia pandai dan cakap. Banyak yang akan dikerjakan dan dicapainya. Segala sesuatu diukurnya dari kecakapannya sendiri. Oleh sebab itu, ia jarang memuji.
Watak Tuti diungkapkan dengan cara ....
penjelasan langsung
pendapat tokoh lain
pendeskripsian fisik
perasaan tokoh
“Tak bisa aku kembali ke sana,” isak Seni, “Aku tak mengerti, aku tak berani di dalam tenda, di sana gelap sekali. Aku malu jika semua orang mengetahui bahwa aku penakut. Kamu tahu, aku membutuhkan baterai senter bukan untuk Sinta, tapi untuk diriku sendiri. Aku tak bisa tidur tanpa cahaya. Itu sebabnya aku membuka pintu tenda, agar aku tenang. Elizabeth menyarankan Seni untuk tidur di lorong yang ada cahayanya. Ketika mereka kembali untuk mengambil kantong tidur Seni, Aas terbangun ....
Amanat yang disampaikan dari kutipan novel di atas adalah ...
Jika penakut, jangan ikut tidur di tenda.
Sifat penakut itu tidak bisa dihilangkan.
Sebaiknya kita berterus terang kalau sedang ada masalah.
Jadilah seorang yang pemberani agar tidak diejek.
Jadi orang jangan penakut, memalukan!
Bangkai-bangkai burung kesayangan Atik telah kuambil, kukubur dengan segala dedikasi. Kurungan-kurungan telah kubersihkan. Dan sayu aku teringat, betapa sayang si Atik kepada burung-burungnya.
Watak tokoh aku dalam cerita di atas dideskripsikan melalui …
pikiran tokoh
tingkah laku tokoh
dialog antartokoh
perasaan tokoh
reaksi tokoh lain
Dua minggu sudah kau pergi. Meninggalkan jejak-jejak abadi di hidupku. Warnanya mulai kusam, sayang. Bukan mungkin lagi, karena usia kita sudah tua. Aku tak pernah menyangka bahwa minggu lalu adalah hari terakhir kita berkumpul bersama anak-anak yang kita cinta. Yang sudah kita besarkan dengan kasih sayang. Dari dekapan seorang ayah sepertimu. Itu sangat membuat kami tenang.
Tema cerita di atas adalah ...
Kehilangan
kesepian
kerinduan
kesenderian
kepastian
Pagi begitu cepat. Matahari di ufuk timur nampak kemerahan. Indah sekali. Kania dan Obit sudah siap dengan segala peralatan yang dibutuhkan. Peralatan yang kira-kira hanya merepotkan kami tinggal di tenda perkemahan. Kami tidak ingin memperberat tas dengan benda tidak dibutuhkan.Sekitar seperenambelas jalan, Kania sudah kelelahan. Aku dan Obit pun demikian. Namun, wajah Kania sudah dibanjiri ribuan tetes peluh. Obit mencoba menyemangati sahabatnya itu. Aku kembali melihat sebuah ketulusan dari persahabatan keduanya. Persahabatan dua anak kecil yang aku kagumi, aku harus belajar dari mereka. Belajar tidak menuntut ruang dan waktu, bukan? Belajar pada orang yang lebih muda apa salahnya?
Amanat yang didapat dari kutipan cerpen tersebut adalah…
Semangat tanpa henti untuk mencapai tujuan
Berbuat baik untuk menyenangkankan orang lain
Belajar itu dari mana saja dan kapan saja, bahkan dari yang lebih muda sekalipun
Kita harus menyemangati orang lain
Pantang menyerah dimana saja dalam situasi apapun
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah ....
kalimat pertama
kalimat kedua
kalimat ketiga
kalimat keempat
kalimat kelima
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
Konflik yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ...
Teman-teman Andi semua memberi hadiah pada Tommy.
Andi ingin meminta uang pada ibu, tapi tidak sampai hati mengungkapkannya.
Sejak ayahnya meninggal, Andi harus hidup berhemat.
Kepuasan Andi sudah memiliki hadiah untuk Tommy.
Walaupun tiap hari berpeluh keringat, tak sedikit pun Fahri mengeluh. Semangatnya keras bagaikan baja.
Kalimat kedua pada paragraf di atas mengandung majas ...
Metafora
simile
personifikasi
asosiai
metonimia
Kalimat diberikut yang memakai majas ironi yakni ...
Dasar bajingan, pergi dari sini!
Suaranya meggelegar memecah angkasa.
Jangankan seminggu atau sehari, sejam saja ia tidak mau hadir.
Kamu rajin sekali, sudah empat hari tidak masuk sekolah.
Dewi malam sudah keluar dari balik awan
Petir menyambar, menyambuk pepohonan
Hujan menjerit memekakkan indera pendengaran
Angin berhembus menyapu airmata
Di sana, bocah kecil terbujur kaku
Gaya bahasa yang dipakai pada puisi di atas yakni ...
HIPERBOLA
PERSONIFIKASI
REPETISI
METAFORA
SIMILE
Kalimat yang menggunakan majas metafora adalah….
Pena menari-nari diatas kertas
Dewi malam bersembunyi dibalik awan.
Halilintar bersahut-sahutan ditengah derasnya hujan.
Harimau mengaung memecahkan keheningan malam.
Kecantikan gadis itu laksana malaikat tanpa sayap.
Bacalah teks berikut!
(1) Di bawah pohon waru, Saidah menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
(2) “Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
(3) Karyamin menggeleng dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.
(4) “Makan, Min?”
(5) “Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”
(6) “Iya, Min,iya. Tapi kamu lapar kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah.
Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
(7) “Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayar, kan?”
Bukti watak Saidah baik hati terdapat pada bagian …
(1)
(2)
(6)
(7)
Bacalah teks berikut!
(1) Di bawah pohon waru, Saidah menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
(2) “Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
(3) Karyamin menggeleng dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.
(4) “Makan, Min?”
(5) “Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”
(6) “Iya, Min,iya. Tapi kamu lapar kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah.
Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
(7) “Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayar, kan?”
Konflik yang dialami tokoh Karyamin dalam kutipan cerita tersebut …
Karyamin berusaha menahan lapar.
Saidah menagih hutangnya kepada Karyamin.
Karyamin takut menambah utang pada Saidah.
Karyamin menolak tawaran makan dari Saidah
Bacalah teks berikut!
(1) Di bawah pohon waru, Saidah menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.
(2) “Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”
(3) Karyamin menggeleng dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.
(4) “Makan, Min?”
(5) “Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”
(6) “Iya, Min,iya. Tapi kamu lapar kan?”
Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah.
Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.
(7) “Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayar, kan?”
Amanat yang terdapat pada cerita tersebut adalah …
Jangan menolak kebaikan orang!
Jangan biasakan menumpuk hutang!
Jangan memaksakan kehendak pada orang!
Syukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan!
Bacalah kutipan cerita berikut!
(1) Seekor kancil berpapasan dengan seekor siput di pinggir kali. Kancil yang sombong meledek siput, betapa lambannya, betapa tidak bisa cepatnya. “O iya, beranikah kau adu balap lari denganku?” kata si kancil. Dia tahu siput pasti menolak, karena tak mungkin bisa menang.
(2) Di luar dugaan, siput menerima tantangan itu. Siput membuat sebuah strategi. Siput mengajak teman-temannya mempermalukan kancil. Caranya sepanjang sisi sungai, siput berbaris rapi. Jika kancil memanggil, maka siput yang ada di depan kancil harus menjawabnya.
(3) Pertandingan dimulai. Keduanya langsung berlari. Kancil langsung berlari secepatnya. Setelah beberapa jauh, napas kancil mulai terengah-engah. Dia berhenti dan memanggil siput. Saat dipanggil siput menjawab dan bergerak lamban di depan kancil.
(4) Kancil kembali berlari sekuat tenaga. Ketika lelah, kancil berhenti sambil memanggil siput lagi. Dia mengira pasti siput ada di belakangnya. Rupanya, dugaan kancil salah. Siput yang sudah punya strategi selalu menjawab di depan kancil.
(5) Kancil berlari kembali. Lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Akhirnya, dia menjadi lelah sendiri. Kelelahan itu membuat kancil akhirnya menyerah. Semua penghuni hutan yang menontonnya pun terkejut. Siput menyambut kemenanga
Tokoh utama teks cerita tersebut adalah ....
kancil dan semut
kelinci dan kancil
siput dan kancil
kelinci dan semut
Bacalah kutipan cerita berikut!
(1) Seekor kancil berpapasan dengan seekor siput di pinggir kali. Kancil yang sombong meledek siput, betapa lambannya, betapa tidak bisa cepatnya. “O iya, beranikah kau adu balap lari denganku?” kata si kancil. Dia tahu siput pasti menolak, karena tak mungkin bisa menang.
(2) Di luar dugaan, siput menerima tantangan itu. Siput membuat sebuah strategi. Siput mengajak teman-temannya mempermalukan kancil. Caranya sepanjang sisi sungai, siput berbaris rapi. Jika kancil memanggil, maka siput yang ada di depan kancil harus menjawabnya.
(3) Pertandingan dimulai. Keduanya langsung berlari. Kancil langsung berlari secepatnya. Setelah beberapa jauh, napas kancil mulai terengah-engah. Dia berhenti dan memanggil siput. Saat dipanggil siput menjawab dan bergerak lamban di depan kancil.
(4) Kancil kembali berlari sekuat tenaga. Ketika lelah, kancil berhenti sambil memanggil siput lagi. Dia mengira pasti siput ada di belakangnya. Rupanya, dugaan kancil salah. Siput yang sudah punya strategi selalu menjawab di depan kancil.
(5) Kancil berlari kembali. Lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Akhirnya, dia menjadi lelah sendiri. Kelelahan itu membuat kancil akhirnya menyerah. Semua penghuni hutan yang menontonnya pun terkejut. Siput menyambut kemenangan.
Penyebab konflik pada teks tersebut adalah ....
Siput mengajari kancil supaya menang
Kancil mengajak siput bertanding lari
Siput mengajak kancil bertanding lari
Kancil mengajari siput supaya menang
Bacalah kutipan cerita berikut!
(1) Seekor kancil berpapasan dengan seekor siput di pinggir kali. Kancil yang sombong meledek siput, betapa lambannya, betapa tidak bisa cepatnya. “O iya, beranikah kau adu balap lari denganku?” kata si kancil. Dia tahu siput pasti menolak, karena tak mungkin bisa menang.
(2) Di luar dugaan, siput menerima tantangan itu. Siput membuat sebuah strategi. Siput mengajak teman-temannya mempermalukan kancil. Caranya sepanjang sisi sungai, siput berbaris rapi. Jika kancil memanggil, maka siput yang ada di depan kancil harus menjawabnya.
(3) Pertandingan dimulai. Keduanya langsung berlari. Kancil langsung berlari secepatnya. Setelah beberapa jauh, napas kancil mulai terengah-engah. Dia berhenti dan memanggil siput. Saat dipanggil siput menjawab dan bergerak lamban di depan kancil.
(4) Kancil kembali berlari sekuat tenaga. Ketika lelah, kancil berhenti sambil memanggil siput lagi. Dia mengira pasti siput ada di belakangnya. Rupanya, dugaan kancil salah. Siput yang sudah punya strategi selalu menjawab di depan kancil.
(5) Kancil berlari kembali. Lebih cepat, dan lebih cepat lagi. Akhirnya, dia menjadi lelah sendiri. Kelelahan itu membuat kancil akhirnya menyerah. Semua penghuni hutan yang menontonnya pun terkejut. Siput menyambut kemenangan.
Amanat yang terkandung pada kutipan cerita tersebut adalah ...
Kita harus menghindari sikap angkuh!
Kelelahan akan membuat orang menyerah!
Orang muda harus menghormati yang lebih tua!
Tidak perlu cepat-cepat, yang penting selamat!
Bacalah teks berikut!
Entah kenapa tiba-tiba aku teringat teman SD-ku. Aku berusaha mencari alamat barunya di Jakarta. Usahaku tidak sia-sia. Ada seorang teman memberikan alamat. Aku segera menuju ke alamat tersebut. Ketika aku berbelok ke gang rumahnya di sana sudah terpampang bendera kuning dengan sebuah nama di bawahnya. Aku tak percaya, betulkah ini temanku. Di sana sudah banyak orang dan sebuah ambulance.
Makna simbol bendera kuning dalam teks tersebut adalah ....
adanya yang sedang hajatan
ada yang meninggal
kegiatan kerja bakti
jalan ditutup
