Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Unsur-unsur Drama Kelas 8.11

Total questions: 10

Worksheet time: 10mins

Name
Class
Date
1.

(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).


Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .

a)

1 dan 2

b)

2 dan 3

c)

3 dan 4

d)

4 dan 5

2.

(1) Betapa gembiranya Ardi. (2) Saat pulang sekolah ia mendapat tawaran dari pamannya Abdurrahman untuk sekolah di Jakarta. (3) Bagaimanapun di Jakarta harus berjuang . (4) Jakarta adalah kota besar, yang selama ini ia impikan untuk bisa melihat dan tinggal di Jakarta.


Bukti bahwa latar waktu kutiban tersebut pada siang hari ditunjukan pada nomor ...

a)

4

b)

2

c)

3

d)

1

3.

Melihat Kardi kepayahan, lelaki di geladak itu, Salim, dengan tangkas melonal ke arah Kardi dan mengambil alih keranjang-keranjang yang dibawakan. Setumpuk keranjang yang kokoh itu memang terasa berat karena basah. Sampai di dinding perahu tubuh Kardi sudah hampir lunglai. Salim melemparkan tumpukan keranjang itu ke geladak lalu dengan kedua tangannya yang kekar dia mengangkat tubuhnya dan meloncat ke geladak. Kardi sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri. Salim kembali membantunya, menarik tangan Kardi sampai berhasil naik ke geladak. "Pelaut macam apa kau! Baru begitu saja sudah mau pingsan," ejek Salim. Kardi hanya tersenyum pahit sambil terus merebahkan tubuhnya di pinggir geladak.


Amanat yang bisa diambil dari kutipan cerita di atas adalah ...

a)

Harus saling tolong menolong

b)

Harus saling mengigatkan teman

c)

Kalau menolong harus iklas

d)

Kalau menolong jangan sambil mengejek

4.

“ Sialan”, geramnya sambil memandang bangku si Gino dengan ganasnya. Dia pasti sengaja menaruh bangkai tikus itu di sana. Tidak mungkin sang tikus sengaja mati di situ.

Teman-temannya memang senang mengolok-olokan Joko. Mentang-mentang dia cuma anak seorang pesuruh sekolah. Sudah puluhan tahun ibunya bekerja sebagai pembantu di sekolah. Dan untuk membantu ibunya Joko harus membersihkan kelas setiap pagi satu jam sebelum pintu gerbang sekolah dibuka.


Dari Jendela SMP

Mira W


Latar tempat penggalan novel tersebut adalah ...

a)

di sekolah

b)

di rumah

c)

di kelas

d)

di meja

5.

Muka orang tua itu merah, diurutinya kumisnya yang putih seperti sikat pengapur dinding itu dan marah, katanya, “Engkau jangan bicara seperti itu dengan aku, engkau harus hormat kepadaku. Biarpun engkau sudah besar, tetapi aku tetap bapakmu.”.


Dari Ave Maria ke Jalan Menuju Roma,

Idrus


Pesan pada cuplikan novel tersebut adalah …

a)

Orang tua yang kita hormati seperlunya saja

b)

Jika kita sudah tua boleh saja tdak ingat orang tua

c)

Kita harus tetap menghormati ornag tua sampai kapanpun

d)

Kita harus saling menyayangi sesama anggota keluarga

6.

Halaman rumah yang gelap tadi itu terang benderang karena api yang besar itu. Ketiga rumah itu sudah menyala-nyala, menerangi kebun kelapa itu sampai kedaun-daunnya. Dalam pada itu, suara orang berteriak-teriak dan tong-tong yang dipukul orang amat gegap gempita bunyinya. Di sebelah timur rumah itu, dua orang berkelahi dengan hebat, tinju-meninju, dorong-mendorong, serta kadang-kadang bunyi bedilpun terdengar pula. Walaupun daerah terang benderang karena api, di tempat mereka berkelahi itu agak gelap juga, kadang-kadang terlindungi dari rumah yang terbakar itu oleh semak belukar.


Latar kutipan novel tersebut adalah halaman rumah …

a)

Saat terang benderang

b)

Pada malam hari

c)

Saat perkelahian

d)

Dibalik semak belukar

7.

Perhatikanlah petikan novel berikut ini.

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah ke mana.”


― Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Amanat yang terdapat dalam petikan novel tersebut ialah ...

a)

Cintailah diri sendiri sebelum Anda mencintai orang lain

b)

Belajarlah ikhlas sewaktu mengalami kegagalan

c)

Hargailah seseorang sebelum orang itu tak lagi bersama kita

d)

Kebencian itu penyakit batin yang harus dilenyapkan

8.

Saya sepakat melepaskan tanah saya yang akan menjadi pabrik itu karena di pabrik itu tidak hanya dibutuhkan kantor, ruang meja, halaman, dan seterusnya, pasti juga harus ada mesjid. Tapi bahkan para pekerja tidak diberi jam istirahat untuk bersembahyang, karena itu saya menuntut …


Unsur intrinsik novel yang paling dominan pada penggalan novel di atas adalah …

a)

latar

b)

tema

c)

alur

d)

tokoh

9.

Bacalah kutipan drama berikut dengan saksama kemudian kerjakan dua soal berikut:


Masut : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.

Guru : Masut, Masut! Kamu harus tahu, meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus diberikan kepada orang lain.

(Istri Masut masuk ke ruangan membawa teh hangat).

Istri Masut : Lebih baik kalau ngobrolnya, sambil minum teh hangat (menyodorkan cangkir)

Guru : Bisa saja istri kamu, Ut.

Suasana yang tergambar pada drama tersebut adalah ...

a)

santai

b)

tegang

c)

haru

d)

seram

10.

....

Kebetulan sekali aku bebas pada jam pelajaran pertama dan kedua sehingga aku punya waktu untuk menolong dia mencari-cari di segala pematang yang pernah dilaluinya. Lama-lama tidak juga tertemui benda-benda itu. Kulihat mukanya, diam tanpa perubahan, tetapi kukira hatinya penuh ketakutan pada orang tuanya. Setelah mondar-mandir lagi beberapa lamanya, akhirnya aku pasti bawa benda-benda itu telah dipungut orang. Kepastian itu membuat aku lebih kasihan padanya, betapalah ia dimarahi orang tuanya jika ketahuan.


(Dari: Mutiara di Tengah Sawah karya Gerson Poyk, dalam angkatan 66 H.B. Yassin)

Pada penggalan cerpen di atas, pengarang mempergunakan sudut pandang sebagai ...

a)

orang pertama

b)

orang kedua

c)

orang ketiga

d)

pengarang serba tahu