NEW
Font size
WorksheetsPAT KEMUHAMMADIYAHAN XI
Total questions: 10
Worksheet time: 5mins
Maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah …
Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang utama
Melaksanakan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya
Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya
Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang diridloi Allah SWT
Melaksanakan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang diridloi Allah SWT
Bening sudah mempersiapkan diri untuk melakukan ujian, dia belajar sungguh-sungguh. Ketika pelaksanaan ujian, dia pun berusaha melaksanakannya dengan jujur dan menggunakan seluruh kemampuannya agar dia bisa lulus ujian. Setelah selesai, dia menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah terhadap ketetapan dan keputusan yang akan diberikan-Nya kepada dirinya. Sikap Bening ini dinamakan ...
Tawakkal
Iman
Ihsan
Ikhtiar
Qonaah
Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.
Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, beliau juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga dia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam'iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah ...........................
KH. Hasyim Asy'ari
KH. Ahmad Dahlan
KH. Abdul Hamid Lempuyangan
KH. Moh Siraj Pakualaman
KH. Abdullah Matalalataliti bin khusus
Pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda banyak negara termasuk Indonesia menjadi keprihatinan semua pihak. Berbagai upaya dilakukan guna menanggulangi penyebaran virus tersebut, tak hanya oleh pemerintah, melainkan juga segenap elemen masyarakat.
Tak ketinggalan, Muhammadiyah mengerahkan elemen-elemen yang mereka miliki demi membantu pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Termasuk, mengerahkan RS-RS mereka di seantero Indonesia untuk menangani pasien Covid-19.
Seperti ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr. KH Haedar Nashir, sejak awal pandemik Covid-19 merebak, pihaknya sudah mengajak masyarakat ikut jadi pejuang melawan wabah itu. Ia melihat, tenaga medis dan rumah sakit sebagai benteng terakhir perlawanan.
"Jika para tenaga medis tersebut berguguran, maka tidak ada lagi yang dapat diharapkan untuk membendung wabah global yang telah menelan banyak korban, termasuk di Indonesia.
Ia menekankan, ikut melakukan usaha-usaha untuk memutus rantai penularan merupakan tindakan yang hebat dan mulia. Karenanya, Muhammadiyah sejak 5 Maret 2020 lalu langsung membentuk .....................................
Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh Muhammadiyah
Muhammadiyah Cegah Covid 19 Center (MCCC)
Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah
Muhammadiyah Disaster Managemen center (MDMC)
Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC).
Berikut fatwa Muhammadiyah terkait Corona.
1. Dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang dan yang mengharuskan perenggangan sosial atau social distancing, sholat lima waktu dilaksanakan di rumah masing-masing dan tidak perlu dilaksanakan di masjid, musala, dan sejenisnya yang melibatkan konsentrasi banyak orang, agar terhindar dari mudarat penularan Covid-19.
2. Adapun orang yang karena profesinya dituntut untuk berada di luar rumah, maka pelaksanaan sholatnya tetap memperhatikan jarak aman dan kebersihan sesuai dengan protokol kesehatan.
Baca juga:Ojol Asal Bogor Berstatus ODR Meninggal di Ngawi3. Apabila keadaan amat menuntut karena tugasnya yang mengharuskan bekerja terus-menerus memberikan layanan medis yang sangat mendesak, petugas kesehatan dapat menjamak sholatnya (tetapi tidak mengqasar apabila tidak musafir).
4. Sholat Jumat (saat pandemi corona) diganti dengan sholat Zuhur di rumah masing-masing. Hal ini didasarkan kepada keadaan masyaqqah dan didasarkan kepada ketentuan dalam hadis berikut bahwa salat Jumat adalah kewajiban pokok, dan mafhumnya salat Zuhur adalah kewajiban pengganti.
5. Azan sebagai penanda masuknya waktu sholat tetap dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib. Dan mengganti kalimat "ḥayya 'alaṣ-ṣalah" dengan "ṣallū fī riḥālikum" atau lainnya sesuai dengan tuntunan syariat.
Fatwa tersebut berisi tentang ........................
Sholat Fardhu dan Sholat Jumat
Sholat Fardhu dan Sholat Istikhoroh
Sholat Jum'at dan Sholat Idul Fitri di lapangan
Sholat Idul fitri harus memakai masker
Doa agar dihilangkan musibah corona
Prof.Dr.KH. Din Syamsudin , MA, Beliau adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode sebelum Prof.Dr.KH.Haedar Nashir, M.Si. Saat ini beliau menjabat sebagai ............................
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia
Ketua Dewan Dakwah Indonesia
Ketua Majelis Syuro Nahdhatul Ulama Pusat
Berikut ini urutan nama kepala SMA Muhammadiyah 1 Sumenep dari awal sampai saat ini sesuai gambar tersebut, yaitu ........................
Drs. Abd. Rafik - Wagiman Ks, S.Pd.,MM - H. Bahrus Surur, M.Ag - Damayanti, S.Si
Drs. Abd. Rafik - Drs.Syamsul Arifin, M.Si - H. Bahrus Surur, M.Ag - Damayanti, S.Si
Drs. Abd. Rahem - Drs.Syamsul Arifin, M.Si - H. Bahrus Surur, M.Ag - Damayanti, S.Si
Drs. Abd. Rafik - Drs. Agus Prayogo - H. Bahrus Surur, M.Ag - Damayanti, S.Si
Wagiman, Ks, S.Pd.,MM - Ruspanca, BA - - H. Bahrus Surur, M.Ag - Damayanti, S.Si
Hari Raya Idul Fitri tahun jatuh pada tanggal
1 Sya'ban 1441 H
1 Syawal 1441 H
30 Ramadhan 1441 H
24 April 2020 M
25 Mei 2020 M
Sebuah perhelatan sederhana digelar di Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Sore itu, sebuah buku fenomenal tentang Muhammadiyah dibedah.
Berjudul Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin: Studi Tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Sekitar 1910-2010, buku itu merupakan karya seorang antropolog dari Universitas Chiba, Jepang, yang sangat konsisten mengamati dan mengkaji Muhammadiyah.
"Buku ini merupakan karya monumental tentang Muhammadiyah yang merupakan penyempurnaan dan penambahan naskah dari judul hampir sama yang pernah terbit tahun 1983.
Penyempurnaan naskah buku tersebut di antaranya tentang perkembangan aktivisme Muhammadiyah dan kegiatan warga Kotagede, Yogyakarta, pada 1972-2010. Hal ini kian melengkapi naskah sebelumnya yang menambah nilai penting buku ini.
Menurut Roni, Beliau merupakan antropolog yang sangat konsisten mengkaji, mengamati, dan merasakan betul perkembangan Muhammadiyah. beliau tercatat sebagai satu-satunya pengamat luar negeri paling serius yang meneliti pergerakan Muhammadiyah.
"Di antara sekian banyak pengamat dalam dan luar negeri, hanya beliau yang hampir keseluruhan hidupnya digunakan untuk mengkaji Muhammadiyah.
Apa yang ditulis tentang Muhammadiyah, menurut dia, merupakan hasil pengamatan pribadi secara langsung. Untuk menyusun buku ini, Beliau melakukan wawancara, kajian tekstual, hingga survei rumah tangga langsung di Kotagede. Nyaris tak ada tokoh dan aktor penting di Muhammadiyah yang tidak diwawancarainya.
Sebagai pakar Muhammadiyah, beliau meluangkan waktu puluhan tahun untuk mendalami Muhammadiyah. Nyaris tak ada ajang Muktamar Muhammadiyah yang luput dari kehadiran dirinya.
Lewat buku ini, beliau berhasil membaca dan menganalisis kehidupan warga Muhammadiyah dan perkembangan Muhammadiyah, khususnya di Kotagede. Roni yang juga pendiri Kampung Belajar ini menambahkan, buku ini menginformasikan tentang awal kelahiran Muhammadiyah.
Buku ini juga memotret dinamika dan kondisi sosial masyarakatnya secara lengkap dan detail. Melalui buku ini, pembaca dapat memahami kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang begitu konsisten dengan misi pencerahannya. Pembaca juga akan mendapat jawaban Muhammadiyah mendirikan begitu banyak amal usaha.
"Mengambil Kotagede sebagai tempat riset tentu bukan tanpa alasan, sebab Kotagede merupakan jantung gerakan modernisme Islam, Muhammadiyah," ungkap Roni.
Di forum bedah buku tersebut, beliau mengatakan setelah berusia 100 tahun, Muhammadiyah menghadapi tantangan besar. Untuk mengatasinya, diperlukan pula energi dan pemikiran yang besar pula.
Ia berharap Muhammadiyah bisa mengatasi tantangan besar itu. Ia pun menyarankan Muhammadiyah jangan terbawa emosi dan tetap mempertahankan sikap pemikir secara independen.
"Saya rasa yang paling penting Muhammadiyah tetap mengambil sikap sebagai pencerah terhadap masyarakat," kata dia.
beliau bercerita, buku ini merupakan hasil kerja sama dirinya dengan masyarakat Kotagede, khususnya warga Muhammadiyah dan Aisyiyah. Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Kotagede mengizinkannya menghadiri pengajian, pertemuan pengurus dan keluarga saat melakukan observasi.
"Jadi, buku ini boleh dikatakan produk sendiri dan pihak Muhammadiyah di Kotagede.
Atas hadirnya buku ini, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, Ia menilai, karya ini merupakan sumbangan sangat besar untuk Muhammadiyah.
"Beliau meneliti Muhammadiyah, telah banyak juga membuka wawasan dan cakrawala orang luar tentang Muhammadiyah," kata Haedar.
Beliau yang dikisahkan dalam berita diatas adalah .............................................
Kim Jong Un
Mitsuo Nakamura
Mohammad Chang Ho
Lee Jong-suk
Sakuku rata
Sebenarnya istilah “AUM” telah mengalami penyempitan makna, hanya berupa lembaga formal seperti sekolah, perguruan tinggi, atau rumah sakit.AUM hanya berasosiasi dengan dakwah secara institusional. Bahkan ada yang memaknainya lebih sempit lagi, AUM adalah “badan usaha”, lembaga yang bukan hanya menghasilkan pahala, melainkan juga materi.
Padahal AUM memiliki makna yang luas, sebagai setiap aktivitas berkelanjutan demi pencapaian tujuan Muhammadiyah.Masjid dankegiatanseperti pengajian pun, dapat disebut sebagai AUM.
Penggunaan istilah “menggerogoti AUM” pada awal tulisan ini, sepertinya menyadari penyimpangan makna AUM. Kritik tersebut hadir, karena spirit kehadiran AUM (termasuk bidang pendidikan dan kesehatan), adalah untuk menyentuh kaum dhuafa (lemah) dan mustadhafien (terpinggirkan). Jika tidak demikian, maka sejatinya AUM tersebut telah kehilangan alas pikir pendiriannya.
Dalam sejumlah diskusi, ada beberapa persoalan yang sering diulas terkait AUM. Misalnya, AUM yang tidak menjalankan spirit ideologi Muhammadiyah, kaidah AUM yang tidak dijalankan, pengelola yang tidak berasal dari kalangan kader, minimnya pemberdayaan AMM mengelola AUM, privatisasi AUM, pengelolaan yang kurang profesional, AUM yang tidak terurus atau salah urus, dan sejumlah persoalan lainnya. Inilah sejumlah pekerjaan rumah yang menanti kearifan dan problem solving dari PWM baru.
Akhirnya, jika pilar gerakan seperti ranting, AMM, dan AUM telah kokoh, lantas kemana orientasi perjuangannya? Ranting yang kuat, AMM yang militan, dan AUM yang progresif adalah senjata perjuangan. Lawannya adalah prahara yang sedang berlangsung di tengah-tengah umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan.
Jika kita lihat gambar diatas bahwasanya AUM diatas merupak Amal Usaha Muhammadiyah dalam bidang
Politik
Ekonomi
Sosial
Kesehatan
Dakwah
