wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Metalurgi Fisik

Total questions: 20

Worksheet time: 40mins

Name
Class
Date
1.

Baja karbon 0,5% C hasil anil memiliki fasa :

a)

Ferit proeutectoid dan perlit

b)

Sementit proetektoid dan ferit proetektoid

c)

Ferit eutektoid dan perlit

d)

Sementit proeutectoid dan perlit

e)

Ferit proeutectoid dan sementit

2.

Baja karbon 0,4% C dari kondisi fasa austenite jika dilakukan pendinginan sampai temperature kamar maka dimungkinkan terbentuk fasa berikut ini (yang tergantung pada laju pendinginannya):

a)

Martensit

b)

Ferit proeutektoid, perlit, dan martensit

c)

Sementit proeutectoid, perlit, dan martensit

d)

Sementit eutectoid, ferit eutektoid, dan ferit proeutektoid

e)

Sementit eutektoid dan martensit

3.

Bandingkanlah baja karbon 0,3% C dengan baja karbon 0,5%C setelah keduanya mengalami proses anil:

a)

Jumlah fasa sementit baja karbon 0,3% C lebih banyak dibandingkan baja karbon 0,5% C

b)

Kekerasan baja karbon 0,3%C lebih rendah dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C

c)

Jumlah fasa perlit baja karbon 0,3% C lebih banyak dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C

d)

Kegetasan baja karbon 0,3% C lebih rendah dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C

e)

Jumlah fasa ferit baja karbon 0,3% C sama dengan jumlah fasa perlit baja karbon 0,5% C

4.

Metode untuk mengeraskan bahan logam Al 1050:

a)

Memanaskan sampai fasa austenit dan dilanjutkan dengan pendinginan cepat

b)

Mendeformasi plastis pada temperature kamar

c)

Mengeraskan dengan cara pengerasan presipitasi

d)

Memanaskan pada temperatur 850 oC, dilanjutkan dengan pendinginan cepat, dan kemudian dipanaskan pada temperature 150 oC

e)

Regang anil (strain anneal)

5.

Dari paduan Al berikut ini manakah yang memiliki ketahanan korosi paling tinggi:

a)

2014-O

b)

2014-T4

c)

Alclad 2014-T4

d)

6061-T4

e)

3103-H14

6.

Paduan Al 2014 dilakukan pemanasan pada temperature 550 oC sampai terbentuk fasa α homogen dan kemudian didinginkan dengan cepat ke dalam air. Hasil proses ini menghasilkan kode paduan Al:

a)

2014-F

b)

2014-T4

c)

2014-W

d)

2014-O

e)

2014-H14

7.

Berikut ini merupakan reaksi fasa eutektik yang terdapat pada diagram fasa Fe-Fe3C:

a)

Liquid bertransformasi menjadi fasa austenite dan semenit

b)

Austenit bertransformasi menjadi fasa ferit dan sementit

c)

Liquid bereaksi dengan fasa delta membentuk fasa austenite

d)

Austenit bertansformasi menjadi fasa ferit proeutektoid dan perlit

e)

Fasa austenite didinginkan dengan cepat membentuk fasa martensit

8.

Komponen yang terbuat dari baja karbon 0,1% C dapat dikeraskan permukaannya dengan cara:

a)

Flame hardening

b)

Pack carburizing

c)

Memanaskan baja tersebut pada temperature 200 oC di dalam garam KCN

d)

Induction hardening

e)

Memanaskan baja tersebut pada temperature 500 oC di dalam lingkungan yang mengandung gas CH4.

9.

Metode nitridasi dapat mengeraskan permukaan baja karena dengan proses nitridasi dapat membentuk fasa yang bersifat keras di permukaan yakni:

a)

Senyawa Fe dengan N

b)

Fasa sementit

c)

Fasa perlit

d)

Fasa bainit

e)

Fasa martensit dan senyawa nitrida

10.

Berikut ini merupakan pernyataan yang benar terkait pengerasan baja karbon:

a)

Martensit dapat diturunkan kekerasannya melalui proses penemperan.

b)

Jika baja karbon 0,8% C dari fasa austenite dilakukan proses quenching maka hasil quenching selain terbentuk martensit dapat juga terbentuk austenite sisa

c)

Martensit memiliki sel satuan body centered tetragonal

d)

Terbentuknya fasa martensit dari fasa austenite melalui mekanisme difusi.

e)

Baja karbon 0,4% C sulit dikeraskan dengan perlakuan panas karena sulit membentuk fasa martensit.

11.

Berikut ini merupakan ciri struktur mikro besi cor putih:

a)

Fasa grafit yang berbentuk bulatan.

b)

Fasa grafit yang berbentuk serpih

c)

Fasa grafit yang berbentuk campuran bulatan dan serpih

d)

Fasa grafit berbentuk vermicular

e)

Fasa perlit dan sementit serta tidak terdapat fasa grafit.

12.

Pilihlah besi cor berikut ini yang memiliki keuletan paling tinggi:

a)

Besi cor kelabu perlitik

b)

Besi cor kelabu feritik

c)

Besi cor nodular feritik

d)

Besi cor nodular martensitik

e)

Besi cor putih

13.

Indeks Miller bidang B adalah:

a)

(2 2 0)

b)

(2 1 0)

c)

(2 0 3)

d)

(2 3 0)

e)

(1/2 0 1/3)

14.

Jika plat aluminium dirol secara bertahap pada temperature kamar dari tebal 5 mm menjadi 2 mm maka:

a)

Plat tebal 2 memiliki kekerasan lebih tinggi dibandingkan dengan plat tebal 5 mm karena terjadi fenomena pengerasan regangan

b)

Pengerasan regangan terjadi karena mengalami pemadatan ketika plat 5 mm dirol menjadi plat tebal 2 mm

c)

Keuletan plat tebal 2 mm lebih rendah dibandingkan dengan plat tebal 5 mm

d)

Pengerasan regangan menyebabkan plat yang dirol (plat tebal 2 mm) memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan plat tebal 5 mm

e)

Butir plat tebal 5 mm mengalami perubahan bentuk ketika dirol menjadi plat tebal 2 mm

15.

Proses anil untuk menurunkan kekerasan aluminium yang telah mengalami pengerasan regangan akibat dirol adalah dengan memanaskan aluminium tersebut di atas temperature rekristalisasi:

a)

Pada saat proses anil logam dapat mengalami recovery, rekritristalisasi, dan pengasaran butir

b)

Pada tahap recovery akan terjadi penurunan kekerasan

c)

Pada tahap recovery merupakan awal terjadinya perubahan butir dari pipih menjadi bulat

d)

Pada tahap rekristalisasi terbentuk butir baru yang menggantikan butir lama (butir setelah dirol dan sebelum dianil)

e)

Ukuran butir baru hasil rekristalisasi dipengaruhi oleh besarnya deformasi plastis yang diberikan ketika proses pengerolan

16.

Berikut ini merupakan pernyataan yang benar terkait kristal logam dan dislokasi:

a)

Butir tersusun atas kumpulan sel satuan yang memiliki arah orientasi sama

b)

Logam tersusun atas banyak butir sehingga dinamakan single crystal

c)

Batas butir merupakan penghambat gerakan dislokasi

d)

Logam padat terdiri atas atom-atom yang tersusun berulang secara teratur dalam tiga dimensi

e)

Ketika logam diberi beban mekanik maka dislokasi yang ada di satu butir tidak dapat bergeser ke butir lainnya

17.

Suatu unsur logam dipadu dengan unsur lain (unsur paduan) dalam kondisi cair:

a)

Ketika dalam kondisi padat akan dapat terbentuk larutan padat interstisi atau substitusi

b)

Jika perbedaan ukuran atom logam dengan ukuran atom unsur paduan kurang dari 15% maka ketika kondisi padat akan terbentuk larutan padat interstisi

c)

Jika unsur paduan merupakan unsur non logam maka tidak akan menghasilkan logam paduan dan tidak dapat menaikkan kekerasan logam tersebut

d)

Dalam kondisi padat dapat terbentuk senyawa yang bersifat keras sehingga mampu menaikkan kekerasan logam tersebut

e)

Hasil pemaduan dapat meningkatkan kekuatan logam melalui mekanisme penguatan larutan padat

18.

Di dalam teori dislokasi menjelaskan bahwa:

a)

Kekuatan logam nyata jauh lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan teoritisnya disebabkan oleh adanya cacat dislokasi

b)

Ketika logam diberi beban di atas kekuatan luluhnya maka dislokasi dapat bergerak/bergeser sampai ke permukaan logam sehingga menyebabkan terjadinya deformasi elastis

c)

Kekuatan logam dipengaruhi oleh mudah tidaknya dislokasi bergerak ketika logam diberi beban

d)

Pengerasan regangan disebabkan oleh bertambah banyaknya dislokasi akibat pengerjaan dingin karena semakin banyak dislokasi menyebabkan dislokasi semakin mudah bergerak

e)

Batas butir merupakan penghambat gerakan dislokasi sehingga semakin kecil ukuran butir suatu logam akan menghasilkan kekuatan logam yang semakin tinggi

19.

Jika kita memiliki baja karbon dengan kadar karbon C’o% maka pada temperature 720 oC (sedikit di bawah temperatur eutektoid) maka:

a)

Fraksi berat fasa perlit = T/(T+U)

b)

Fraksi berat fasa ferit total = T/(T+U+V+X)

c)

Fraksi berat fasa sementit = (U+V+X)/(T+U+V+X)

d)

Fraksi berat fasa sementit proeutectoid = U/(T+U)

e)

Terbentuk fasa sementit proeutectoid dan perlit

20.

Paduan Pb - C’4 % Sn pada temperatur di bawah sedikit temperatur eutektik:

a)

Fraksi berat fasa α-primer = P/(P+Q)

b)

Fraksi berat fasa eutektik = Q/(P+Q)

c)

Fraksi berat fasa α total = (P+Q)/(P+Q+R)

d)

Fraksi berat fasa β =P/(P+Q+R)

e)

Terbentuk fasa α-primer dan β primer