Font size
WorksheetsMetalurgi Fisik
Total questions: 20
Worksheet time: 40mins
Baja karbon 0,5% C hasil anil memiliki fasa :
Ferit proeutectoid dan perlit
Sementit proetektoid dan ferit proetektoid
Ferit eutektoid dan perlit
Sementit proeutectoid dan perlit
Ferit proeutectoid dan sementit
Baja karbon 0,4% C dari kondisi fasa austenite jika dilakukan pendinginan sampai temperature kamar maka dimungkinkan terbentuk fasa berikut ini (yang tergantung pada laju pendinginannya):
Martensit
Ferit proeutektoid, perlit, dan martensit
Sementit proeutectoid, perlit, dan martensit
Sementit eutectoid, ferit eutektoid, dan ferit proeutektoid
Sementit eutektoid dan martensit
Bandingkanlah baja karbon 0,3% C dengan baja karbon 0,5%C setelah keduanya mengalami proses anil:
Jumlah fasa sementit baja karbon 0,3% C lebih banyak dibandingkan baja karbon 0,5% C
Kekerasan baja karbon 0,3%C lebih rendah dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C
Jumlah fasa perlit baja karbon 0,3% C lebih banyak dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C
Kegetasan baja karbon 0,3% C lebih rendah dibandingkan dengan baja karbon 0,5% C
Jumlah fasa ferit baja karbon 0,3% C sama dengan jumlah fasa perlit baja karbon 0,5% C
Metode untuk mengeraskan bahan logam Al 1050:
Memanaskan sampai fasa austenit dan dilanjutkan dengan pendinginan cepat
Mendeformasi plastis pada temperature kamar
Mengeraskan dengan cara pengerasan presipitasi
Memanaskan pada temperatur 850 oC, dilanjutkan dengan pendinginan cepat, dan kemudian dipanaskan pada temperature 150 oC
Regang anil (strain anneal)
Dari paduan Al berikut ini manakah yang memiliki ketahanan korosi paling tinggi:
2014-O
2014-T4
Alclad 2014-T4
6061-T4
3103-H14
Paduan Al 2014 dilakukan pemanasan pada temperature 550 oC sampai terbentuk fasa α homogen dan kemudian didinginkan dengan cepat ke dalam air. Hasil proses ini menghasilkan kode paduan Al:
2014-F
2014-T4
2014-W
2014-O
2014-H14
Berikut ini merupakan reaksi fasa eutektik yang terdapat pada diagram fasa Fe-Fe3C:
Liquid bertransformasi menjadi fasa austenite dan semenit
Austenit bertransformasi menjadi fasa ferit dan sementit
Liquid bereaksi dengan fasa delta membentuk fasa austenite
Austenit bertansformasi menjadi fasa ferit proeutektoid dan perlit
Fasa austenite didinginkan dengan cepat membentuk fasa martensit
Komponen yang terbuat dari baja karbon 0,1% C dapat dikeraskan permukaannya dengan cara:
Flame hardening
Pack carburizing
Memanaskan baja tersebut pada temperature 200 oC di dalam garam KCN
Induction hardening
Memanaskan baja tersebut pada temperature 500 oC di dalam lingkungan yang mengandung gas CH4.
Metode nitridasi dapat mengeraskan permukaan baja karena dengan proses nitridasi dapat membentuk fasa yang bersifat keras di permukaan yakni:
Senyawa Fe dengan N
Fasa sementit
Fasa perlit
Fasa bainit
Fasa martensit dan senyawa nitrida
Berikut ini merupakan pernyataan yang benar terkait pengerasan baja karbon:
Martensit dapat diturunkan kekerasannya melalui proses penemperan.
Jika baja karbon 0,8% C dari fasa austenite dilakukan proses quenching maka hasil quenching selain terbentuk martensit dapat juga terbentuk austenite sisa
Martensit memiliki sel satuan body centered tetragonal
Terbentuknya fasa martensit dari fasa austenite melalui mekanisme difusi.
Baja karbon 0,4% C sulit dikeraskan dengan perlakuan panas karena sulit membentuk fasa martensit.
Berikut ini merupakan ciri struktur mikro besi cor putih:
Fasa grafit yang berbentuk bulatan.
Fasa grafit yang berbentuk serpih
Fasa grafit yang berbentuk campuran bulatan dan serpih
Fasa grafit berbentuk vermicular
Fasa perlit dan sementit serta tidak terdapat fasa grafit.
Pilihlah besi cor berikut ini yang memiliki keuletan paling tinggi:
Besi cor kelabu perlitik
Besi cor kelabu feritik
Besi cor nodular feritik
Besi cor nodular martensitik
Besi cor putih
Indeks Miller bidang B adalah:
(2 2 0)
(2 1 0)
(2 0 3)
(2 3 0)
(1/2 0 1/3)
Jika plat aluminium dirol secara bertahap pada temperature kamar dari tebal 5 mm menjadi 2 mm maka:
Plat tebal 2 memiliki kekerasan lebih tinggi dibandingkan dengan plat tebal 5 mm karena terjadi fenomena pengerasan regangan
Pengerasan regangan terjadi karena mengalami pemadatan ketika plat 5 mm dirol menjadi plat tebal 2 mm
Keuletan plat tebal 2 mm lebih rendah dibandingkan dengan plat tebal 5 mm
Pengerasan regangan menyebabkan plat yang dirol (plat tebal 2 mm) memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan plat tebal 5 mm
Butir plat tebal 5 mm mengalami perubahan bentuk ketika dirol menjadi plat tebal 2 mm
Proses anil untuk menurunkan kekerasan aluminium yang telah mengalami pengerasan regangan akibat dirol adalah dengan memanaskan aluminium tersebut di atas temperature rekristalisasi:
Pada saat proses anil logam dapat mengalami recovery, rekritristalisasi, dan pengasaran butir
Pada tahap recovery akan terjadi penurunan kekerasan
Pada tahap recovery merupakan awal terjadinya perubahan butir dari pipih menjadi bulat
Pada tahap rekristalisasi terbentuk butir baru yang menggantikan butir lama (butir setelah dirol dan sebelum dianil)
Ukuran butir baru hasil rekristalisasi dipengaruhi oleh besarnya deformasi plastis yang diberikan ketika proses pengerolan
Berikut ini merupakan pernyataan yang benar terkait kristal logam dan dislokasi:
Butir tersusun atas kumpulan sel satuan yang memiliki arah orientasi sama
Logam tersusun atas banyak butir sehingga dinamakan single crystal
Batas butir merupakan penghambat gerakan dislokasi
Logam padat terdiri atas atom-atom yang tersusun berulang secara teratur dalam tiga dimensi
Ketika logam diberi beban mekanik maka dislokasi yang ada di satu butir tidak dapat bergeser ke butir lainnya
Suatu unsur logam dipadu dengan unsur lain (unsur paduan) dalam kondisi cair:
Ketika dalam kondisi padat akan dapat terbentuk larutan padat interstisi atau substitusi
Jika perbedaan ukuran atom logam dengan ukuran atom unsur paduan kurang dari 15% maka ketika kondisi padat akan terbentuk larutan padat interstisi
Jika unsur paduan merupakan unsur non logam maka tidak akan menghasilkan logam paduan dan tidak dapat menaikkan kekerasan logam tersebut
Dalam kondisi padat dapat terbentuk senyawa yang bersifat keras sehingga mampu menaikkan kekerasan logam tersebut
Hasil pemaduan dapat meningkatkan kekuatan logam melalui mekanisme penguatan larutan padat
Di dalam teori dislokasi menjelaskan bahwa:
Kekuatan logam nyata jauh lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan teoritisnya disebabkan oleh adanya cacat dislokasi
Ketika logam diberi beban di atas kekuatan luluhnya maka dislokasi dapat bergerak/bergeser sampai ke permukaan logam sehingga menyebabkan terjadinya deformasi elastis
Kekuatan logam dipengaruhi oleh mudah tidaknya dislokasi bergerak ketika logam diberi beban
Pengerasan regangan disebabkan oleh bertambah banyaknya dislokasi akibat pengerjaan dingin karena semakin banyak dislokasi menyebabkan dislokasi semakin mudah bergerak
Batas butir merupakan penghambat gerakan dislokasi sehingga semakin kecil ukuran butir suatu logam akan menghasilkan kekuatan logam yang semakin tinggi
Jika kita memiliki baja karbon dengan kadar karbon C’o% maka pada temperature 720 oC (sedikit di bawah temperatur eutektoid) maka:
Fraksi berat fasa perlit = T/(T+U)
Fraksi berat fasa ferit total = T/(T+U+V+X)
Fraksi berat fasa sementit = (U+V+X)/(T+U+V+X)
Fraksi berat fasa sementit proeutectoid = U/(T+U)
Terbentuk fasa sementit proeutectoid dan perlit
Paduan Pb - C’4 % Sn pada temperatur di bawah sedikit temperatur eutektik:
Fraksi berat fasa α-primer = P/(P+Q)
Fraksi berat fasa eutektik = Q/(P+Q)
Fraksi berat fasa α total = (P+Q)/(P+Q+R)
Fraksi berat fasa β =P/(P+Q+R)
Terbentuk fasa α-primer dan β primer
