Font size
WorksheetsSoal Cerita 34 Bakat
Total questions: 34
Worksheet time: 29mins
Terkadang saya melihat piring sarapan saya. Ada nasi, ayam, dan sayur. Lalu pikiran saya melayang memikirkan begitu banyak orang yang terlibat sampai makanan ini ada di hadapan saya. Bapak petani yang bekerja di sawah di tengah panas terik matahari, peternak yang merawat ayam sampai tumbuh sehat dan besar, para petani kebun yang memanen sayuran dan membawanya ke pasar sejak dini hari, bahkan sampai ke penjual di pasar tempat istri saya membeli beras, daging ayam, dan sayur. Saya tahu ini terdengar aneh, tapi saya merasa berterimakasih pada mereka semua. Dan itu membuat saya lebih bahagia dalam hidup.
(a)
Sebagai jurnalis, saya senang ketika harus mengejar berita yang akan menjadi segmen breaking news. Seru rasanya, dan saya selalu siap dengan apapun yang datang. Kadang meliput kemacetan, kadang acara kenegaraan, kadang meliput bencana, pernah juga meliput artis yang baru melahirkan. Kalau saya ditanya “Apa yang mau dikerjakan besok ?” “Wah bisa apa saja, apapun bisa terjadi besok.” Begitu pun ketika kerja dalam tim. Ketika rekan saya merasa kesal karena sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, saya justru merasa akan ada hal baru yang seru hari itu.
(a)
Waktu saya ikut klub sepakbola di kampus, saya memastikan semua anggota klub ikut tergabung dalam tim yang akan bermain. Saya tidak ingin ada yang tertinggal. Memang tidak semua anggota klub jago bermain bola, tapi saya rasa lebih baik kalau semua ikut. Suatu waktu ada anggota yang datang terlambat dan menunggu di samping lapangan, saya mendekatinya dan mengajaknya ikut latihan di tengah lapangan. Saya menemaninya berjalan dan memastikan dia ikut barisan tim yang sedang lari pemanasan.
(a)
Di tempat kerja saya, sebuah pusat perbelanjaan, saya sering mengingatkan manajer senior untuk tidak menyalahgunakan hak parkir mereka untuk kolega apalagi saudara mereka yang datang belanja. Mereka kadang tidak suka sikap saya ini. Tapi saya tidak suka jika orang menggunakan hak mereka tidak sesuai aturan, meskipun saat itu tidak ada orang yang dirugikan. Saya juga bersikap sama pada karyawan part time dan karyawan lainnya. Aturan ini memang untuk kebaikan bersama dan manfaatnya akan terasa oleh kita semua.
(a)
Akhir bulan lalu, saya mendapat penghargaan Marketing Terbaik dari semua staf marketing di tempat saya bekerja. Hari itu, saya merasa sangat bangga dan bahagia. Tapi besoknya, saya merasa biasa saja, seolah tak pernah terjadi tak apa-apa. Saya merasa mulai dari nol lagi, dan mulai berusaha keras lagi. Kadang saya senang dengan energi yang membuat saya terus semangat bekerja, tapi kadang juga saya sulit menyeimbangkan banyak hal dalam hidup saya. Tapi saya akhirnya menemukan kuncinya dengan cara memasukkan urusan keluarga, pribadi, spiritual dalam to do list saya setiap hari.
(a)
Suatu hari atasan saya mengirim memo, meminta saya menunda order tambahan bahan produksi sampai awal bulan depan, dengan tujuan supaya masuk pembukuan bulan berikutnya. Saya briefing tim saya dan memastikan mereka paham. Akhir bulan ketika kantor sedang libur, saya mengecek email kantor dan menemukan invoice tagihan. Saya terkejut ternyata bahan produksi sudah di-order. Saya segera menelepon atasan saya, meminta maaf dan menjelaskan situasinya. Dia atasan yang baik, tapi tidak bisa dipungkiri, dia marah dan kecewa. Maaf saja tidak cukup, saya harus memperbaikinya. Segera saya bawa tim saya dalam rapat, dan mencari cara menggeser pencatatan secara legal dan benar, supaya efek salah order ini tidak menjadi beban atasan kami. Seminggu lebih kami mengerjakannya, kontak vendor, supplier, akuntan dan pihak keuangan, dan banyak lagi, sampai akhirnya berhasil dan semua kerja keras kami rasanya sepadan.
(a)
Saya terbiasa to the point dalam segala hal, dan memastikan semua tetap dalam track saya. Dalam obrolan sehari-hari, dalam urusan pekerjaan, bahkan sampai ke urusan belanja di supermarket. Saya lebih suka menelaah lebih dalam tentang satu barang yang akan saya beli. Beda dengan suami saya yang senang mencoba berbagai macam barang, saya hanya akan konsentrasi pada satu barang saja. Dalam pekerjaan pun begitu, saya tahan berkonsentrasi mengerjakan sesuatu meskipun itu memakan waktu lama. Saya juga semangat kalau harus mengerjakan pekerjaan dengan target jangka panjang. Rasanya saya terus punya energi dan daya tahan mengerjakannya.
(a)
Dalam pekerjaan saya, saya sering bisa memprediksi apa yang akan terjadi jika langkah tertentu diambil. Di sebuah rapat bersama tim, ketika saya menyampaikan apa yang saya lihat, tentu saja terjadi beda pendapat. Saya lihat, semata ini karena rekan yang lain tidak bisa melihat langkah kerja sebagaimana saya melihatnya. Suatu waktu mereka sepakat memilih mengerjakan sebuah proyek dengan timeline tertentu. Saya sudah menyampaikan timeline seperti apa yang saya rasa tepat. Setiap pilihan jalan ada konsekuensinya. Begitu pun dengan proyek ini, ketika proyeknya berjalan, prediksi saya ternyata tepat, banyak masalah terjadi. Ketika menjelang deadline, tim kembali rapat membahas bagaimana menyelesaikan masalah, sementara saya datang membawa skema langkah kerja yang sepenuhnya berbeda. Saya memaparkan jika ini terjadi, kita akan melakukan ini, jika itu yang terjadi kita akan melakukan itu. Skema saya disetujui, dan langkah baru pun dipilih.
(a)
Saya senang kalau saya tahu tentang berbagai hal, meskipun saya belum tahu apa gunanya buat saya kalau saya tahu itu. Waktu saya kecil saya sering bertanya pada diri sendiri, apa pertanyaan saya hari ini, lalu saya cari jawabannya di berbagai buku. Kini dengan ada internet, saya mudah mencari informasi apapun. Saya bisa tahu tentang kondisi bursa saham, aturan main olahraga tertentu, atau berapa pendapatan per kapita negara. Saya bersemangat mengumpulkan semua informasi itu, meskipun belum tentu saya gunakan saat itu juga. Begitu juga dengan buku, saya terbiasa mengumpulkan berbagai macam buku, karena saya yakin suatu saat akan berguna bagi saya atau orang lain.
(a)
Saya bekerja dan mencintai pekerjaan saya, tapi saya merasa tidak bisa belajar banyak dari pekerjaan saya. Maka saya selalu semangat mencari informasi les, seminar, training, atau kursus apapun. Tahun lalu saya belajar bahasa asing. Saya mulai dari kelas basic dan sekarang sudah di kelas intermediate, saya senang sekali dengan kemajuan ini. Tahun ini saya belajar teater. Padahal saya tidak berencana ikut tampil di pertunjukan. Saya selalu betah belajar hal baru. Meskipun susah, tapi saya menikmati prosesnya sampai saya bisa.
(a)
Dalam pekerjaan saya sebagai editor tentu saya sering bertemu dengan tulisan yang perlu diperbaiki. Saya paling tidak suka kalau menerima tulisan yang penuh typo dan salah tata bahasa. Kalau saya diberi tulisan seperti itu untuk diedit, saya hampir tidak bisa komentar apa-apa, dan biasanya saya serahkan lagi ke penulisnya dan memintanya menulis ulang lagi semuanya dari awal. Tapi kalau saya menemukan tulisan yang sudah baik, saya sangat bersemangat, karena saya tahu saya mampu mengeditnya menjadi tulisan yang sempurna. Potong disini, edit disana, pilih kata yang lebih tajam, dan akhirnya, sebuah hasil tulisan yang sempurna.
(a)
Saya bekerja sebagai marketing sebuah produk kebutuhan sehari-hari. Bukan hanya perusahaan kami yang memasarkan produk semacam ini, perusahaan lain pun ada juga yang memproduksi dan memasarkan produk sejenis. Setiap tahun kami menyusun rencana pemasaran yang efektif untuk produk kami. Bagi saya, pekerjaan saya ini adalah lini terdepan untuk kemajuan perusahaan. Siapa yang bisa memasarkan dengan jumlah lebih banyak, maka dialah yang menang. Ini rasanya seperti olahraga, bersaing mendapatkan posisi terdepan dan nilai terbanyak. Suatu ketika, perusahaan saingan kami anjlok penjualannya, karena salah strategi ketika beriklan. Sementara kami belum ada perubahan strategi apa apa, tapi tak masalah, yang penting penjualan kami masih lebih banyak.
(a)
Ketika saya masih berusia 5 tahun, saya tinggal di sebuah desa yang hanya punya beberapa sekolah TK. Suatu waktu saya mendengar beberapa guru ngobrol, bahwa TK kami saat itu kelebihan 3 orang anak, dan tampaknya harus ada yang pindah ke TK lain. Saya berpikir sejenak, dan merasa antusias tentang ide sekolah baru ini. Lalu ketika pulang, dengan mantap saya bilang ke ibu saya “saya mau pindah sekolah”. Saat itu rasanya saya yakin sekali, tidak ada ragu atau kekhawatiran. Padahal saya masih kecil. Sampai sekarang pun saya masih sering merasa seperti itu ketika harus memilih sesuatu. Rasanya memang hanya ada satu pilihan dan saya melakukannya dengan mantap.
(a)
Kadang orang lain melihat saya tidak sabaran. Saya kerap dianggap tidak mau melihat factor apa saja yang bisa menghambat, atau bahkan menjebak. Saya sering mengatakan “Saya ingin tahu kapan saya akan menabrak temboknya. Dan yang saya perlukan adalah Anda memberi tahu saya seberapa sakit rasanya nanti. Tapi kalau saya tetap memilih untuk menabraknya, maka jangan khawatir, Anda sudah melakukan tugas Anda dengan baik, saya hanya perlu mengalaminya sendiri sebagai pengalaman saya.
(a)
Saya terbiasa bicara hanya jika sudah dibackup oleh data yang meyakinkan. Jika orang lain menyatakan sesuatu, maka saya cenderung bertanya apa dasar berpikirnya sehingga menyatakan demikian. Suatu waktu rekan kerja saya mengatakan bahwa di perusahaan lain, posisi seperti kami mendapat gaji jauh lebih tinggi. Saya lalu menanyakan “apakah perusahaan itu sama sama perusahaan manufaktur seperti kita ? apakah gaji dipengaruhi lokasi penempatan karyawan yang bisa jadi di daerah terpencil ? apakah itu adalah gaji rata rata per tim yang berarti performa tim lah yang dinilai, bukan personal ? dll.” Saya butuh terus menanyakan hal hal yang membuat saya bisa memahami situasi secara menyeluruh.
(a)
Saya suka tantangan yang rumit. Ketika orang lain bingung saat berhadapan dengan situasi rumit yang melibatkan banyak faktor, saya justru merasa semakin semangat membayangkan bagaimana semua factor bisa dikelola dan ditempatkan dengan pas. Ketika orang lain melihat ada 30 variabel berbeda, dan kebingungan menyeimbangkan 30 faktor ini, saya bisa melihat hanya ada 3 pilihan kombinasi yang melibatkan semua faktor. Dengan hanya ada 3 faktor, maka mudah bagi saya memilih alternatif menata semua faktor tadi sehingga didapatkan solusi pengaturan yang paling pas.
(a)
Bagi saya, penting untuk memastikan bahwa yang saya kerjakan itu sangat penting bagi orang lain. Saya akan semangat bangun pagi setiap hari karena merasa hidup saya ada tujuannya. Saya siap mengerjakan pekerjaan itu berjam-jam, karena merasa ini penting dan manfaatnya akan sangat terasa oleh orang lain. Di kemudian hari saya baru menyadari bahwa gaji saya tidak sebesar orang lain di perusahaan sejenis. Tapi buat saya itu bukan masalah besar, karena motivasi saya kerja adalah membantu orang lain. Kadang saya tidak mempedulikan apakah saya mendapat timbal balik yang sepadan atau tidak.
(a)
Semua orang yang saya kenal selalu menyebut saya sebagai teman mereka. Saya pun sering menyapa orang dan mengatakan saya sayang pada mereka, karena bagi saya mudah untuk peduli dan menyayangi orang lain. Mudah bagi saya berkenalan dengan orang baru dan menjalin hubungan baru dengan mereka. Saya rasa saya bukan mencari sebanyak mungkin teman, rasanya saya sedang menciptakan hubungan. Dan saya sangat bagus dalam membuka hubungan, karena mudah bagi saya mencari kesamaan antara saya dengan mereka. Siapa pun itu.
(a)
Sebagai tenaga kesehatan, saya sering diminta rekan saya untuk menghadapi keluarga pasien yang kritis atau bahkan meninggal dunia, untuk memberi kabar dan menjelaskan situasi kepada mereka. Saya terbiasa mengambil tanggungjawab dan kendali atas situasi ini, dan rekan rekan saya bisa mengandalkan saya untuk hal ini. Ketika bertemu keluarga pasien, terlihat jelas bahwa mereka butuh informasi situasi dengan jelas, alternatif pilihan apa saja yang bisa mereka ambil, konsekuensi apa saja yang ada di setiap pilihan. Mereka butuh kejelasan dan kejujuran, bukan kalimat kalimat halus yang justru membingungkan karena tidak menggambarkan situasi apa adanya. Kejelasan dan kejujuran, itulah yang bisa saya sediakan bagi mereka.
(a)
Waktu saya kecil, saya sering membaca buku lalu berpikir lama tentang apa yang saya baca. Ketika saya berpikir, rasanya seperti saya menanam suatu ide lalu menunggunya tumbuh dan berbuah. Buah dari pemikiran itu kadang saya bagikan dalam obrolan ringan atau tulisan. Ternyata teman teman saya menyukainya. Mereka jadi sering cerita ke saya tentang apapun dan kemudian bertanya pendapat saya tentang hal tersebut. Mereka rela menunggu, jika saya butuh waktu, karena menurut mereka, pendapat saya penting dan berharga. Lain waktu saya memikirkan sesuatu seolah pikiran itu masuk seperti spiral ke dalam hati saya. Seringkali setelah itu saya jadi paham apa hikmah dari suatu kejadian atau apa esensi dari suatu konsep. Karena saya berpikir begini, maka saya terbiasa bergerak maju hanya jika saya sudah paham konsepnya atau esensinya. Dengan begitu, saya jadi yakin betul bahwa saya melakukan hal yang benar, karena hati dan pikiran saya sudah padu memahami hal tersebut
(a)
Sebagai pramugari, sudah tugas saya melayani setiap orang di dalam pesawat, tapi saya akan selalu berusaha memberikan hal yang lebih baik. Saya biasanya mendatangi seseorang atau satu keluarga lalu membuat mereka merasa spesial dengan humor, obrolan ringan, dan permainan kecil yang saya peragakan. Saya senang melihat orang lain merasa ringan dan senang. Saya yakin pasti mereka juga punya banyak hal atau bahkan masalah yang mereka pikirkan, jadi saya lakukan hal hal yang saya yakin akan membuat mereka senang lagi.
(a)
Saya biasanya tampak pilih pilih ketika berteman. Sebenarnya bukan saya tidak mau kenal orang baru, tapi saya merasa ketika bertemu orang baru, saya tidak perlu langsung terbuka dan memberi banyak waktu untuk ngobrol. Namun jika kemudian kami jadi saling berhubungan dan jadi saling mengenal lebih dalam, maka saya akan merasa ada batas minimal yang telah dilalui, dan saya pun akan merasa perlu membuka diri, mulai saling berbagi pemikiran dan pendapat. Saya akan merasa penting untuk saya hadir bagi mereka, karena saya peduli pada mereka. Saya juga siap jika perlu melakukan hal apapun yang bisa membantu mereka. Saya berteman dekat dengan beberapa orang saja, dan sampai sekarang saya selalu menyebut mereka teman baik atau sahabat saya.
(a)
Sejak kecil saya senang memakai palu dan paku, Bagi saya itu alat yang bagus untuk memperbaiki apapun yang terbuat dari kayu. Saya suka dengan barang barang dari kayu di rumah. Ketika ada yang rusak saya perbaiki dengan baik, sehingga berfungsi lagi. Saya suka perasaan bangga dan senang ketika berhasil memperbaikinya. Sekarang pun dalam tugas saya sebagai programmer, saya memandang pekerjaan saya adalah untuk memperbaiki system. Saya memahami masalahnya, pain problem-nya, lalu saya rancang program untuk memperbaiki masalah itu. Jika ketika saya coba running programnya, ternyata masih ada masalah, maka saya kembali lagi meninjau semuanya dan memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam programnya.
(a)
Sepanjang hidup saya sebagai dokter, saya selalu peka dengan kehadiran orang lain sebagai audiens yang memperhatikan saya. Saya selalu beranggapan bahwa saya dilihat oleh orang lain, maka saya selalu berusaha memberikan performa kerja terbaik bagi audiens saya. Ketika saya bertemu pasien, saya pastikan dia bisa merasakan saya sebagai dokter yang terbaik. Ketika saya mengajar mahasiswa kedokteran, saya pastikan saya unggul sebagai dosen yang meraih perhatian mereka. Saya juga merasa saya mengajar calon orang orang penting di masa depan nanti. Ketika bertemu atasan di Rumah Sakit, saya menganggap beliau sebagai audiens besar dan utama, tentu saja karena beliau orang penting dalam bidang ini. Saya memastikan saya harus tampil memuaskan dengan performa terbaik. Kadang saya khawatir karena seolah sebagian harga diri saya ada di tangan orang lain. Tapi di sisi lain justru itulah yang menjaga kualitas kinerja saya selama ini.
(a)
Sebagai guru, saya senang menangani masing-masing anak secara personal. Saya tahu bahwa Anna suka berdiskusi, dan untuk membuatnya semangat belajar, saya perlu bicara dengannya secara berkala untuk menyemangatinya. Lain lagi dengan Adi, dia senang fokus pada apa yang sedang dia kerjakan. Jadi untuk Adi, saya tidak perlu banyak bertemu, hanya memberi sedikit arahan jika diperlukan. Sementara Elly senang jika bersama teman temannya, maka saya yakin dia semangat jika saya memberikan tugas kelompok. Dengan begini, setiap anak akan belajar lebih baik dengan memaksimalkan cara mereka masing-masing. Saya menghargai itu dan menjadikan itu strategi utama untuk meningkatkan kemampuan semua siswa di kelas saya di sekolah.
(a)
Ketika saya masih kecil, saya senang bermain bersama teman teman saya. Dalam permainan berkelompok, tentu saja terjadi konflik antara kami. Jika teman teman saya ada yang beda pendapat sampai berdebat, biasanya saya selalu langsung masuk dan mendengarkan. Saya akan mencari apa hal yang sama dari dua orang yang berbeda pendapat ini. Dari sini saya menemukan celah untuk mendapatkan kesepahaman semua pihak, sehingga dengan itu lebih mudah untuk saya melerai mereka. Bagi teman teman saya, saya ini peace-maker, si cinta damai yang selalu memastikan semua orang akur dan nyaman satu sama lain.
(a)
Saya selalu mengajak tim saya membayangkan apa yang mungkin terjadi. Pertanyaan favorit saya ke mereka adalah “Pernahkah kau berpikir tentang … ? Bisa kau bayangkan jika …”. Saya selalu jadi bersemangat setiap kami membicarakan apa yang mungkin terjadi nanti. Saya selalu yakin bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin, ini hanya semata masalah siapa yang mau memulai membuatnya. Saya selalu mencari cara baru dan tidak puas dengan status quo. Bahkan bagi saya tidak ada yang namanya status quo, karena kita perlu terus bergerak, jadi sebenarnya hanya ada 2 kondisi : Anda sedang maju atau sedang mundur. Dan saya selalu antusias bergerak maju karena apa yang saya lihat di depan sana.
(a)
Sebagai desainer interior, saya sering berpikir dan membayangkan bagaimana semua furniture ditata dan ditempatkan secara pas dan elegan. Bagi saya setiap furniture itu menampilkan suatu karakter yang mewakili ide tertentu. Jika dipakai secara tidak pas, maka ide ide nya saling bertabrakan dan jadinya tidak indah. Kadang ketika saya sedang duduk di sebuah ruangan, muncul ide desain yang pas untuk ruangan tersebut. Pernah suatu malam saya sulit tidur karena teringat sofa teman saya yang menurut saya posisinya tidak pas di ruang tamunya, serta temboknya yang saya rasa warna catnya kurang pas. Dalam pikiran saya, saya mendatangi rumahnya dan memindahkan posisi sofa serta mengecat ulang temboknya, sesuai ide desain yang terus menerus muncul di otak saya
(a)
Sebagai konsultan bisnis, saya pernah ditanya oleh seorang pengusaha senior, tentang seberapa penting perusahaan menginvestasikan dana untuk membuat aplikasi digital bagi internal perusahaan itu sendiri. Pengusaha senior ini ragu dan cenderung enggan berinvestasi disitu karena merasa ini hanya akan jadi trend sesaat, dan usahanya selama ini sudah berjalan baik tanpa teknologi digital yang mahal. Saya berpikir bahwa cara terbaik untuk menjelaskan pendapat saya adalah melalui cerita. Saya katakan bahwa situasi saat ini seperti bapak pengusaha ini duduk di tepi pantai, tapi duduk membelakangi laut. Internet adalah ombak laut yang sedang menuju ke pantai. Seiring perjalanan, ombak laut ini menerpa karang, semakin kuat, semakin lama semakin tinggi. Betapa pun nyamannya bapak ini duduk di tepi pantai membelakangi laut, tetap saja tanpa disadari ombak laut tinggi ini akan datang ke tepi pantai dan menabrak si bapak. Bapak pengusaha itu memandang saya dan langsung paham apa yang saya maksud.
(a)
Saya baru saja mengubah semua sistem pembukuan di kantor kami. Sepenuhnya baru dan berbeda. Tentu saja perubahan ini bisa saja ditolak oleh tim yang merancang sistem pembukuan sebelumnya. Tapi saya berhasil melakukan perubahan ini. Mengapa ? Karena saya menghargai masa lalu tim ini. Saya memahami bahwa system pembukuan sebelumnya dirancang dengan susah payah, membutuhkan kerja panjang tanpa henti, melibatkan orang orang ini melalui tuntutan kerja intensif dan ‘berdarah-darah’. Jadi jika saya datang dan secara tiba tiba mengubah system pembukuan tanpa mengindahkan sejarah ini, maka ini sama saja seperti saya mengambil bayi mereka yang sudah dilahirkan dengan susah payah. Inilah situasi perasaan yang perlu saya pahami di tim ini. Saya menghormati itu, menghargai hubungan dan sejarah yang melatarbelakangi ini semua.
(a)
Dalam diskusi dengan tim, selalu ada sesi brainstorming dan mendiskusikan segala kemungkinan. Ketika rekan rekan saya mengeluarkan banyak idenya, saya lah orang yang kemudian mengajukan pertanyaan untuk mempertajam ide ini. “Bagaimana ini akan dijalankan ? Faktor apa saja yang bisa mempengaruhi keberhasilan ide ini ? Pihak mana saja yang akan mempengaruhi berjalannya hal ini ? Bagaimana ide ini bisa diterima publik dan diapresiasi konsumen ?” Saya bukan bermaksud cerewet. Saya memang bisa melihat berbagai dampak dari suatu keputusan dan kemudian secara alami mengukur berbagai faktor resikonya. Tim saya bisa mengambil keputusan dengan baik justru karena pertanyaan-pertanyaan saya.
(a)
Seorang pasien saya mengalami kerusakan paru paru sehingga butuh tabung oksigen sepanjang sisa hidupnya. Ketika mendengar penjelasan saya, dia panik sampai napasnya memburu. Dia bilang dia tak akan sanggup hidup menjadi orang yang hanya merepotkan orang lain dan tak berguna. Saya lalu bertanya apa yang dia sukai. Dia menatap saya, mulai tenang, dan berpikir. Dengan pelan dia mengambil sesuatu dari tasnya, ternyata sebuah dompet yang dia rajut sendiri. Saya terpesona melihat karyanya, karena ini berarti dia punya potensi yang bisa dia kembangkan. Saya mengajaknya fokus berpikir tentang apa yang bisa dia lakukan, dan menjauhkannya dari pikiran tentang apa saja yang tidak bisa dia lakukan. Lalu kami mulai diskusi tentang apa saja yang bisa membantunya semakin terampil merajut dan menghasilkan karya. Setiap sesi pemeriksaan rutin, itu juga yang menjadi topik pembicaraan kami. Saya pastikan dia tumbuh berkembang semakin baik dan semakin terampil dari waktu ke waktu. Setahun berlalu, dia pun sudah menghasilkan banyak karya dan berhasil menjual banyak produk. Saya bahagia sekali melihat dia berkembang, semakin terampil, dan semakin percaya diri di tengah kondisi kesehatan seperti itu.
(a)
Dalam sebuah rapat antar divisi, seorang staf mempresentasikan ide baru yang saat itu sangat penting bagi kelanjutan karirnya juga nasib timnya. Namun, sampai selesai rapat, tidak ada satu pun staf lain yang tampak peduli dengan ide itu. Ketika rapat ditutup, saya melihat wajahnya muram. Sampai beberapa hari sesudah rapat, saya masih sering melihatnya terdiam dan tampak bingung sekaligus gusar. Suatu waktu saya menyapanya, mengajaknya duduk dan menatapnya, lalu bertanya “Ada masalah ya ?”. Dia terkejut, tapi kemudian mulai bercerita. Saya menanggapi “Saya mengerti, ini penting buatmu, dan situasi kemarin membuatmu merasa gagal menyelamatkan keadaan” Dia menatap saya lagi, cukup lama, dan berkata “cuma Anda yang mengerti perasaan saya saat ini”.
(a)
Saya senang jika semua rapi dan teratur. Saya juga senang ikut pelatihan atau seminar seputar manajemen waktu, dan setelah ikut pelatihan itu saya jadi semakin terampil menciptakan keteraturan dalam keseharian saya. Saya menjadwalkan menelepon ibu saya setiap Minggu pagi, sehingga saya tak lagi lupa menghubungi sampai berbulan-bulan. Saya menjadwalkan keluar bersama istri saya setiap Jumat malam, sehingga kami selalu punya waktu berdua sebelum dia memintanya. Saya rutin bermain dengan anak saya di hutan kota setiap Sabtu pagi, sehingga hubungan kami semakin erat dan hangat. Rasanya saya jadi bisa melakukan banyak hal, karena semua diagendakan dengan baik dan saya pastikan semua berjalan sesuai rencana.
(a)
