Font size
WorksheetsUlangan Harian Bab 3Teks Cerita Pendek Kelas 9
Total questions: 15
Worksheet time: 1hrs 13mins
Seorang pelukis yang separuh hidupnya diabdikannya untuk seni rupa menjadi korban keganasan orang berdasi. Ini bukan penembak gelap atau penembak misterius, tetapi penembak terang benderang karena dilakukan pada siang hari. Utoyo yang lembut hati itu, sangat terpukul karena ada orang berbuat jahat terhadap dirinya. Karena itu Iros menjadi tumpuan pengaduannya. Iros dengan sabar menampung pengaduan itu.
Latar yang terdapat dalam kutipan cerpen tersbut adalah....
pagi hari, suasana kecewa
pagi hari, suasana menyesal
siang hari, suasana terpukul
siang hari, suasana terharu
Seorang pelukis yang separuh hidupnya diabdikannya untuk seni rupa menjadi korban keganasan orang berdasi. Ini bukan penembak gelap atau penembak misterius, tetapi penembak terang benderang karena dilakukan pada siang hari. Utoyo yang lembut hati itu, sangat terpukul karena ada orang berbuat jahat terhadap dirinya. Karena itu Iros menjadi tumpuan pengaduannya. Iros dengan sabar menampung pengaduan itu.
Watak tokoh Iros dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
jahat
lembut
sabar
kasar
Seorang pelukis yang separuh hidupnya diabdikannya untuk seni rupa menjadi korban keganasan orang berdasi. Ini bukan penembak gelap atau penembak misterius, tetapi penembak terang benderang karena dilakukan pada siang hari. Utoyo yang lembut hati itu, sangat terpukul karena ada orang berbuat jahat terhadap dirinya. Karena itu Iros menjadi tumpuan pengaduannya. Iros dengan sabar menampung pengaduan itu.
Kutipan cerpen tersebut merupakan struktur bagian....
orientasi
komplikasi
resolusi
peristiwa
1) Sebelum maut merenggut aku memang bilang kepada anak-anakku, “Panggilkan Abah. Aku mau minta maaf.”
2) Abah menatapku tajam-tajam dan dengan lembut dia menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku, “Mengapa harus minta maaf?”
3) “Doakan aku agar husnulkhatimah [3], Abah.”
4) “Mengapa kau tidak berdoa untuk meminta umur panjang?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Abah. Aku tahu Abah hanya ingin mengulur-ulur waktu maut merenggut nyawaku.
Aku tahu maut tidak bisa menunggu. Aku tahu.
Nilai kehidupan yang etrdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
budaya dan etika
moral dan religi
sosial dan politik
politik dan relegi
1) Sebelum maut merenggut aku memang bilang kepada anak-anakku, “Panggilkan Abah. Aku mau minta maaf.”
2) Abah menatapku tajam-tajam dan dengan lembut dia menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku, “Mengapa harus minta maaf?”
3) “Doakan aku agar husnulkhatimah [3], Abah.”
4) “Mengapa kau tidak berdoa untuk meminta umur panjang?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Abah. Aku tahu Abah hanya ingin mengulur-ulur waktu maut merenggut nyawaku.
Aku tahu maut tidak bisa menunggu. Aku tahu.
Kutipan cerpen tersebut menceritakan....
tokoh Aku ingin meminta maf kepada tokoh Abah dan minta didoakan agar khusnul khatimah ketika maut menjemputnya.
tokoh Abah ingin mendoakan tokoh aku agar khusnul khatimah apabila maut datang menjemput tokoh Aku.
tokoh Abah meminta tolong lepada anaknya untuk memanggil tokoh Aku dan mendoakannya.
Tokoh Aku meminta tolong kepada tokoh Abah agar dipanggil anak-anaknya karena tokoh Aku ingin meminta maaf.
1) Sebelum maut merenggut aku memang bilang kepada anak-anakku, “Panggilkan Abah. Aku mau minta maaf.”
2) Abah menatapku tajam-tajam dan dengan lembut dia menyentuhkan jari telunjuknya di bibirku, “Mengapa harus minta maaf?”
3) “Doakan aku agar husnulkhatimah [3], Abah.”
4) “Mengapa kau tidak berdoa untuk meminta umur panjang?”
Aku tidak menjawab pertanyaan Abah. Aku tahu Abah hanya ingin mengulur-ulur waktu maut merenggut nyawaku.
Aku tahu maut tidak bisa menunggu. Aku tahu.
Keterangan waktu dalam kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat angka....
1)
2)
3)
4)
Kamar kecil itu terletak di sudut paling belakang rumahku. Ukurannya hanya 3x2 meter. Tak ada jendela dan ventilasi. Kalau siang hampir tak ada cahaya yang masuk. Penerangan malam hari hanya lampu 5 watt, itu pun sering lupa dinyalakan. Setelah kamar itu, tak ada ruangan lain. Jadi dalam setahun hampir tak ada orang yang melewati kamar itu. Bagiku itu bukan kamar melainkan kubus triplek. Beberapa waktu belakangan ini, akulah satu-satunya manusia yang tiap hari keluar masuk di situ.
Kutipan cerpen tersebut merupakan struktur teks bagian....
orientasi
komplikasi
resolusi
peristiwa
Kamar kecil itu terletak di sudut paling belakang rumahku. Ukurannya hanya 3x2 meter. Tak ada jendela dan ventilasi. Kalau siang hampir tak ada cahaya yang masuk. Penerangan malam hari hanya lampu 5 watt, itu pun sering lupa dinyalakan. Setelah kamar itu, tak ada ruangan lain. Jadi dalam setahun hampir tak ada orang yang melewati kamar itu. Bagiku itu bukan kamar melainkan kubus triplek. Beberapa waktu belakangan ini, akulah satu-satunya manusia yang tiap hari keluar masuk di situ.
Unsur kebahasaan teks cerpen yang menonjol dala kutipan tersebut adalah....
keterangan waktu
kata benda khusus
uraian deskripsi
gaya bahasa
Sudah larut malam, barak pengungsi itu dipagut sepi. Mereka saling pandang ketika hendak memutuskan siapa akan menjemput Ida Waluh di lereng Gunung Agung. Perjalanan kurang dari tiga jam, tapi penuh mara bahaya, jika gunung yang dalam keadaan awas itu tiba-tiba meletus.
“Saya bersedia,” ujar seorang anak muda mengacungkan tangan tiba-tiba setelah sekian lama suasana bisu beku.
Semua memandangnya dengan seksama. Dia tamatan institut teknologi informasi, bekerja di penyedia jasa web design di Jimbaran. Ia yatim piatu, kuliah ditanggung bibinya yang tidak menikah, hidup dari menjual sembako di pasar kecamatan. Sejak warga dusunnya, Desa Kesimpar, di lereng Gunung Agung mengungsi ke Swecapura, Ananta selalu bermalam bersama mereka. Saban hari ia ulang-alik Swecapura-Jimbaran menempuh dua jam bermotor.
Tema dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
keresahan seorang pemuda
keberanian seorang pemuda
penderitaan di barak pengungsian
perjuanagan hidup dipengungsian
1) Ya, aku kenali sekali siapa yang menghadang pandangku itu.
2) Sekarang aku benar membuka mata, memandang. Dan sebuah pandangan di depan menghadang.
3) Dia perempuan yang puluhan tahun ini bersamaku. Istri, istilah umumnya orang.
4) Pandangan kenyataan: seorang perempuan hampir empat puluhan, dengan tubuh yang coba ia pelihara dengan baik.
5) Perempuan yang sudah memberi empat anak, dan menurut dia, membantuku untuk mendapatkan jabatan sebagai general manager di perusahaan exim tempatku bekerja sekarang.
Susunlah kalimat-kalimat acak tersebut agar membentuk teks cerita padu adalah....
2) -1) -5) -3) -4)
2) -3) -5) -1) -4)
2) -4) -1) -3) -5)
2) -5) -3) -4) -1)
Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.
“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.
“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.
Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.
“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”
Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal — dan air mata tidak lagi bisa kucegah membuat lurik di pipiku.
tentukan unsur intrinsik yang terdapat pada kutiupan teks tersebut!
Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.
“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.
“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.
Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.
“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”
Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal — dan air mata tidak lagi bisa kucegah membuat lurik di pipiku.
Tentukan nilai-nilai yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut!
Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.
“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.
“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.
Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.
“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”
Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal — dan air mata tidak lagi bisa kucegah membuat lurik di pipiku.
Tentukan struktur kutipan teks cerpen tersebut!
Desember 1946 baru saja dimulai ketika sebuah kabar tiba di langgar tempatku setiap hari mengajari anak-anak mengaji. Aku memberi isyarat kepada Rahing; jangan sampai anak-anak dengar, kataku memelankan suara sambil berdiri menuju belakang langgar yang kemudian disusulnya. Anak-anak kuminta melanjutkan bacaannya, nanti Bapak kembali, janjiku kepada mereka.
“Mereka tiba di Makassar,” suara Rahing tidak pernah secemas itu, “pasukan tambahan, tambahannya banyak,” susulnya gemetar.
“Siap-siap saja,” kucoba setenang mungkin meski dadaku tentu saja kembali bergolak. Dari Makassar baru saja kudengar kabar kalau mereka kembali ingin menguasai pusat-pusat perlawanan di Sulawesi-Selatan, kabar itu tiba beberapa minggu sebelum Rahing menyusulkan kabar tentang ketibaan pasukan khusus Depot Speciale Troepen — DST, KNIL, yang mulai bergerak ke kampung kami ini; di Bacukikki, jantung Afdeling Parepare.
Bersama Rahing, bersama Laskar Andi Makassau lainnya, aku pernah berjuang sebelum kemerdekaan — dan ketika semuanya telah kami rebut, penjajah laknatullah itu kembali. Sebelum pulang, Rahing sempat menanyakan bagaimana langgar, bagaimana anak-anak, dan sedikit mengeluh bahwa ia telah capek mengawal penduduk keluar masuk hutan. Aku menepuk pundaknya sebelum mengatakan: Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja.
“Saya pamit, assalamualaikum, Ustad.”
Aku menjawab salam Rahing lantas memenuhi janji pada anak-anak. Sayup-sayup kudengar mereka mengeja hijaiah dengan bahasa Bugis yang membuat bola mataku terasa hangat; yase’na lefue nakkeda a, yase’na lefue mallefa nakkeda aaa…. Aku mengenang bocah lima tahunku yang gugur lebih awal — dan air mata tidak lagi bisa kucegah membuat lurik di pipiku.
Analisislah unsur kebahasaan yang terdapat dalam teks cerpen tersebut!
1) Ya, aku kenali sekali siapa yang menghadang pandangku itu.
2) Sekarang aku benar membuka mata, memandang. Dan sebuah pandangan di depan menghadang.
3) Dia perempuan yang puluhan tahun ini bersamaku. Istri, istilah umumnya orang.
4) Pandangan kenyataan: seorang perempuan hampir empat puluhan, dengan tubuh yang coba ia pelihara dengan baik.
5) Perempuan yang sudah memberi empat anak, dan menurut dia, membantuku untuk mendapatkan jabatan sebagai general manager di perusahaan exim tempatku bekerja sekarang.
Susunlah kalimat-kalimat acak tersebut agar membentuk teks cerita padu!
