NEW
Font size
WorksheetsSoal Test HD Perawat
Total questions: 70
Worksheet time: 35mins
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Pasien mengalami Hb = 6,0 gr/dl , disebabkan terutama oleh :
Produksi ertrosit sangat aktif
Produksi eritrosit kurang aktif karena produksi eritropoietin menurun
Sumsum tulang mengalami aplasia atau hipoplasia
Hampir semua eritrosit mengalami hemolysis
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Kadar albumin serum pasien gagal ginjal sebesar = 1,2 g/dl. Hal ini disebabkan karena:
Produksi albumin sangat aktif
Produski albumin tidak aktif
Kehilangan protein lewat usus
Kehilangan protein lewat urine
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Pasien diatas dari analisa gas darah didapat Ph=7,31, HCO3 = 9 meq/l. Organ vital yang terlibat asam basa darah adalah :
Hipophyse, hepar, paru
Ginjal, hepar, paru
Hipophyse, ginjal, hepar
Hepar, pancreas, paru
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Jika pasien pada kasus diatas akan dilakukan HD, maka :
Persiapan HD dengan darah PRC 2 Kolf
Persiapan HD dengan darah Whole blood 2 kolf
Persiapan HD tanpa darah
Persiapan HD dengan eritropoietin
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Jika pasien ini akan dilakukan tindakan HD, rencana untuk mengatasi kelebihan volume cairan yang harus dilakukan adalah:
HD dengan SU dan Albumin
HD dengan profile UF dan diikuti pemberian Albumin
HD dengan Free potasium tanpa UF
HD dengan transfusi darah dan Bicarbonat
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Pada saat akan dilakukan tindakan HD, dari hasil pengkajian didapatkan bahwa akses vaskuler inlet dan outletnya sulit (tidak didapatkan akses), maka pilihan utama yang harus dilakukan adalah :
Kolaborasi untuk operasi cimino
Kolaborasi untuk akses Femoralis
Kolaborasi untuk akses arteri brakhialis
Kolaborasi untuk akses dengan HD kateter
Seorang pasien datang untuk mondok di RS dengan keluhan sesak nafas, pucat, bengkak seluruh tubuh. Pada evaluasi laboratorium di dapatkan hasil lab : proteinuria +++, eritrocyturia +, Hb=6,0 gr/dl, ureum 250 mg/dl, creatinin = 15,0 mg/dl, Na=138 meq/dl, K 8,5 meq/dl, albumin = 1,2 .. g/dl. Analisa gas darah dari arterial didapat : Ph=7,31, HCO3= 9 meq/l. Pasien ini 15 th yang lalu pernah terkena Nefrotik syndrom.
Pada kasus diatas pasien mengalami :
Hiperkalsemia
Hiperkalemia
Hipernatremia
Hipertensi
Jika pasien akan diberikan terapi Albumin pada saat HD, Albumin sebaiknya diberikan pada saat :
Awal HD
Durante HD
Pertengahan HD
30-60 menit sebelum HD berakhir
Pasien gagal ginjal kronik berat mengalami odema anasarca, maka keadaan cairan tubuhnya akan mengalami :
Cairan intercelular saja yang meningkat
Cairan intracelular meningkat disertai cairan interstitiel meningkat
Cairan intravasa meningkat dengan cairan interstitiel juga meningkat
Cairan intracel, cairan interstitiel, cairan intravasa semua meningkat
Peranan ginjal dalam pemeliharaan asam basa adalah :
Mengirim H+ ke dalam darah
Mengirim HCO-3 kedalam urine
Mengirim HCO3 kedarah H+ ke urine
Mengirim H+ ke darah dan HCO+ 3 ke darah
Jika pasien mengalami sindrom uremik, tanda dan gejala yang khas adalah :
Adanya mual, muntah dan nafas bau amoniak
Hithcup atau ceguken
Nubness dan kelemahan
Tekanan darah naik
Manajemen Anemia pada pasien gagal ginjal tahap akhir adalah dengan :
Pemberian Human Eritropoietin setelah HB mencapai 7 gr/dl
Pemberian Human Eritropoietin setelah HB mencapai 10 gr/dl
Pemberian Human Eritropoietin pada saat HB mencapai 5 gr/dl
Pemberian zat besi dan eritropoietin
Jika pasien mengalami hiperkalemia, penatalaksanaan pada saat dilakukan HD adalah :
HD dengan Free potasium pada jam I
Evaluasi kadar kalium melalui EKG
Jawaban a dan b benar
Bukan salah satu diatas
Pada proses Hemodialisis, kadar ureum dan kreatinin akan mengalami penurunan melalui proses :
Ultrafiltrasi
Deionisasi
Diffusi
Detoksifikasi
Pasien Ny. N, umur 45 tahun dirawat di bangsal interna. Pada anamnese terdapat bengkak seluruh tubuh, sesak nafas, mual dan muntah. Pemeriksaan fisik BB 60 Kg, TD 170/100 mmHg, pulse 100 x/mnt, R 32 x/mnt. Laboratorium pH 7,21, PCO2 27 mmHg, PO2 142 mmHg, ureum 161 mg/dl, kreatinin 7,8 mg/dl, kalsium 5 mg/dl (range 8,1 – 10,4 mg/dl)
Prioritas Kegawatan pada kasus di atas adalah:
Gangguan keseimbangan cairan /‘overload’
Gangguan pertukaran gas tidak adequat
Gangguan rasa nyaman (nausea dan vomitus)
Gangguan keseimbangan elektrolit (hipokalsemia)
Pasien Ny. N, umur 45 tahun dirawat di bangsal interna. Pada anamnese terdapat bengkak seluruh tubuh, sesak nafas, mual dan muntah. Pemeriksaan fisik BB 60 Kg, TD 170/100 mmHg, pulse 100 x/mnt, R 32 x/mnt. Laboratorium pH 7,21, PCO2 27 mmHg, PO2 142 mmHg, ureum 161 mg/dl, kreatinin 7,8 mg/dl, kalsium 5 mg/dl (range 8,1 – 10,4 mg/dl)
Hipokalsemia yang terjadi pada pasien dengan gagal ginjal dapat disebabkan oleh:
Penurunan pelepasan kalsium dari tulang
Peningkatan absorbsi kalsium
Peningkatan retensi fosfor
Tingginya suplemen/diet yang mengandung kalsium
Manifestasi seperti pulse irregular, kelemahan otot, parastesia, nausea dan vomitus, tidak adanya suara usus, kelainan pada EKG, merupakan manifestasi dari gangguan elektrolit, yaitu:
Hipokalemia
Hiperkalsemia
Hipertensi
Hipovolemia
Priming adalah pengisian cairan pertama kali di:
AV blood line dan kompartemen dialisat di dialiser
AV blood line dan kompartemen darah di dialiser
Arterio venous blood line
AV blood line dan kompartemen dialisat serta kompartemen darah
Perbedaan tekanan hidrostatik antara kompartemen darah dan kompartemen dialisat yang dapat menentukan ultrafiltrasi disebut:
Koefisien ultrafiltrasi
Transmembran pressure
Difusi
Ultrafiltrasi
Komplikasi TERBANYAK durante Hemodialisis adalah:
Hipotensi
Kejang/Kram
Mual
Muntah
Jika pasien mengalami hiperkalemia, penatalaksanaan pada saat dilakukan HD adalah :
HD dengan Free potasium pada jam I
Evaluasi kadar kalium melalui EKG
Jawaban a dan b benar
Bukan salah satu diatas
Ada beberapa jenis akses vaskuler, mana yang termasuk jenis akses vaskuler permanen :
Subclavia
Arteriovenous fistula
Femoralis
AV shunt scribner
beberapa faktor yang mempengaruhi proses terjadinya pemisahan zat-zat tertentu dalam proses HD. Pilih salah satu faktor yang tidak mempengaruhi:
Jumlah ultrafiltrasi
Luas selaput yang dipakai
Kecepatan Aliran dialisat
Kecepatan Aliran Darah
Bp.M dirawat di ICU dengan kondisi lemah, post operasi laparatomi, hemodinamik tidak stabil, terpasang Vascon, Anuria, BUN : 90 mg/dl, kreatinin : 10 mg/dl. Hasil pengukuran Tanda Vital : T : 95/70 mmhg, terpasang ventilator. Hemodialisis yang paling tepat adalah dengan cara:
Intermitten Hemodialisis (IHD)
Hemodialisis regular
Sustained Low Efficiency Dialysis
Hemodialisis serial
Hemodialisis yang dilakukan dengan Qb : 100-150 ml/mnt, Na : 150 mmol/l, QD : 300 ml/mnt disebut dengan :
Intermitten Hemodialisis (IHD)
Hemodialisis regular
Sustained Low Efficiency Dialysis
Hemodialisis serial
Pengelolaan pasien dengan Hepatitis B di ruang Hemodialisa menurut standard pernefri adalah sebagai berikut, kecuali :
Ruangan disendirikan
Dialiser pakai ulang
Mesin disendirikan
Limbah medis dipisahkan
Standard Precaution di ruang Hemodialisa adalah :
Masker dan sarung tangan
Kacamata, alas kaki tertutup dan gaun/celemek
Sarung tangan steril dan masker
Jawaban a dan b benar
Efek samping pemberian heparin adalah sebagai berikut, kecuali :
Trombositopenia
Perdarahan
Pruritus
Hematoma
Salah satu test laboratorium yang dipakai dalam pemantauan heparin adalah :
Laju Endap Darah
Whole blood partial tromboplastin time
Hemoglobin (Hb)
Kreatinin
Exit site yang mengarah ke bawah dapat mengurangi resiko
Infeksi rongga peritoneum
Infeksi pada tunnel
Perichateter leak
Infeksi exit site
Bagaimana mempertahankan patensi dari kateter peritoneal setelah dilakukan operasi pemasangan catheter?
Jika kateter tidak akan segera digunakan,tinggalkan sekitar 200 ml dari dialysat dalam kateter peritoneal untuk efek bantalan
Imobilisasi kateter saat pasien kembali dari OK
Bilas kateter dengan menggunakan minimal 2 - 4 liter dari dialysate dengan heparin 500 U/liter
a, b dan c benar
Saat melakukan Exchange cairan pada pasien CAPD, dibawah ini yang harus dicek, kecuali :
Isi volume
Check expiration date cairan
Konsentrasi cairan dextrose
Komposisi cairan
Berapa protein yang dibutuhkan pasien CAPD?
0,6 gr/kg BB/hari
1 gr/kgBB/hari
1,2 – 1,5 gr/kg BB/hari
2,1 gr/kg BB/hari
Peralatan CAPD yang harus selalu di jaga kebersihan dan kepatenannya serta perlu dilakukan penggantian tiap 6 bulan sekali disebut :
Kateter tenckoff
Tunnel kateter
Transfer set
Mini cap
Modalitas terapi Peritoneal dialysis yang dilakukan dengan menggunakan mesin authometic dan diawal terapi dilakukan drain terlebih dahulu adalah :
CCPD
NIPD
IPD
TPD
Waktu Pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium pada PET adalah :
0 jam, 1 jam, 3 jam
0 jam, 1 jam, 4 jam
0 jam, 2 jam, 3 jam
0 jam, 2 jam, 4 jam
Pemeriksaan Equilibration Test (PET) idealnya dilakukan :
Segera setelah operasi
1 bulan setelah operasi
2 bulan setelah operasi
3 bulan setelah operasi
“ Hard Water Syndrome” terjadi karena air water treatment terkontaminasi oleh
Aluminium dan Sodium
Calcium dan Magnesium
Chloramin dan Sulfat
Kalium dan Nitrat
Deteksi adanya kebocoran membran dialiser pada proses dialisis, ditandai adanya alarm pada monitor :
Conductivity
Blood Leak
Temperatur
Foam detector
Koefisien ultrafiltrasi adalah:
Jumlah liter cairan yang dapat dipindahkan melalui membran per 1 mmHg dalam satu jamnya
Jumlah mililiter cairan yang dapat dipindahkan melalui membran per 1 mmHg dalam satu jamnya
Jumlah liter cairan yang dapat dipindahkan melalui membran per 1 mmHg dalam satu menitya
Jumlah mililiter cairan yang dapat dipindahkan melalui membran per 1 mmHg dalam satu menitnya
Perbandingan campuran dialisat adalah:
1 liter air dengan 34 liter diasol
1 liter diasol dengan 34 liter air
1 liter diasol dengan 1 liter air
1 liter dialisat dengan 34 liter air
Pasien HD rutin datang ke Center dialisis dengan BB 52 Kg. BB kering yang seharusnya adalah 50 Kg. Jika waktu HD yang dibutuhkan 5 jam dan koefisien ultrafiltrasi dialiser 4 ml/mmHg, berapa TMP yang dibutuhkan?
200 mmHg
100 mmHg
20 mmHg
10 mmHg
Pasien HD rutin sedang dilakukan HD dengan ketentuan hollow fiber yang dipakai koefisien ultrafiltrasinya 3,2 ml/mmHg/jam; transmembran pressure diputar ke angka 200 mmHg; lamanya HD 5 jam; heparinisasinya intermitten. Berdasar data di atas, jumlah ultrafiltrasinya adalah:
320 ml
300 ml
3000 ml
3200 ml
Pada proses hemodialisis, penggunaan heparin yang berlebih dapat terjadi perdarahan, untuk menetralisisr dapat digunakan protamin sulfat (ps) :
Setiap 100 unit heparin dinetralisir dengan 100 mg ps
Setiap 100 unit heparin dinetralisir dengan 10 mg ps
Setiap 100 unit heparin dinetralisir dengan 1 mg ps
Setiap 100 unit heparin dinetralisir dengan 0,1 mg ps
Pada pemberian heparin standar, dosis awal saat mulai HD diberikan :
10 – 20 U / kg BB
15 – 75 U / kg BB
20 - 100 U/kgBB
25 – 50 U / kg BB
Pada saat proses HD berlangsung, jika larutan diasol habis, alarm mesin yang berbunyi adalah :
Blood leak detektor monitor
Low conductivity monitor
Arterial line monitor
Low temperatur monitor
Pada saat HD dengan dialisat Bicarbonat, terjadi high atau low conductivity monitor alarm, maka kemungkinan yang terjadi adalah :
Pencampuran dialisat bicarbonat yang tidak tepat
Temperatur mesin yang berubah
Punksi inlet atau outlet yang tidak lancar
Pemakaian dialisat bicarbonat jenis powder atau bubuk
Keseimbangaan asam basa dalam darah diatur oleh 3 organ:
Hepar, paru-paru dan jantung
Paru-paru, pankreas dan ginjal
Hepar, paru-paru dan ginjal
Hepar, ginjal dan jantung
Tahap ‘dialyzer identification’ sangat penting dan harus dikerjakan dengan baik, salah satu sebab karena dialiser dapat dipakai oleh:
Satu orang saja
Dua orang bergantian
Tiga orang bergantian
Orang yang dilakukan HD
Pada tahap ‘cleaning’ pencucian dipakai bahan kimia:
Dinitrophenol
Sporacidine
Glutaraldehyde
Sodium hypochloride
Setelah dicuci dan dibersihkan, dialiser perlu diperiksa fungsi dan kemampuannya dengan mengukur FBV. Dikatakan alat tersebut tidak layak pakai apabila FBV:
100%
< 90%
90%
< 80%
Bahaya pemakaian ulang dialiser antara lain, kecuali:
Infection risk with dialyzer reuse
Potentially ineffective dialysis
Intradialitic syndrome
Toxicity of longterm cummulative expossure to dialyzer reuse
Pemeriksaan terhadap bakteri maupun endotoksin ideal dilakukan :
1 minggu sekali
2 minggu sekali
1 bulan sekali
2 bulan sekali
Efektifitas penggunaan glutaraldehide pada proses desinfeksi dialiser reuse adalah :
24 jam
11 jam
8 jam
1 jam
Untuk mengurangi efek toksik, konsentrasi residu formaldehyde harus kurang dari:
1ppm
3 ppm
5 ppm
8 ppm
Monitoring selama tindakan Hemodialisis mempunyai tujuan sebagai berikut, kecuali:
Supaya tindakan dialysis dapat tercapai sesuai dengan program.
Supaya dapat mengetahui secara dini komplikasi yang timbul selama tindakan dialysis.
Supaya dapat mendeteksi secara dini bila ada kerusakan mesin HD yang dipakai
Agar dapat mengembalikan darah ke tubuh pasien dengan aman
Berikut pernyataan yang sesuai dengan jenis Kateter HD non tunnel non cuff, kecuali:
Penggunaan < 3 minggu
Merupakan akses vaskuler temporer
Selang kateter ditanam dibawah kulit
Jahitan fiksasi harus tetap intak/ tidak lepas
Komplikasi pemakaian kateter HDyang mungkin terjadi pada pasien Hemodialisis, adalah :
Infeksi, malfungsi kateter, perdarahan
Infeksi, malfungsi kateter, thrombosis
Infeksi, kateter hd lepas, thrombosis
Malfungsi kateter, thrombosis, fibrin
Penggunaan heparin untuk locking kateter HD adalah:
5000 unit untuk kedua lumen
5000 unit untuk masing-masing lumen
1 bagian heparin 9 bagian NaCl
5000 unit/cc
Pada saat HD dengan dialisat Bicarbonat, terjadi high atau low conductivity monitor alarm, maka kemungkinan yang terjadi adalah :
Pencampuran dialisat bicarbonat yang tidak tepat
Temperatur mesin yang berubah
Punksi inlet atau outlet yang tidak lancar
Pemakaian dialisat bicarbonat jenis powder atau bubuk
Pada proses hemodialisis, ultrafiltrasi terjadi karena adanya perbedaan tekanan, yang disebut dengan :
Tekanan ekstrkorporeal
Tekanan positip dan tekanan negatif
Tekanan arteri dan tekanan vena
Tekanan dialisat
Pada proses hemodialisis, alarm mesin berbunyi dan didapatkan nilai aretial pressure dan venous pressure melebihi nilai rentang normal, sebagai perawat dialisis, apa yang harus dilakukan ?
Melakukan pengkajian pada sistem aliran dialisat
Melakukan pengkajian pada sistem water treatment
Melakukan pengkajian pada ekstrakorporeal
Melakukan pengkajian klinis pada pasien
Pada tindakan hemodialisis, sel darah merah di ekstrakorporeal bisa mengalami kerusakan karena berbagai penyebab. Adanya kerusakan sel darah merah ini disebut dengan :
Hemostasis
Hemodiafiltrasi
Hemolisis
Hemofltrasi
Pada pemasangan jarum AV-Fistula di femoralis, untuk memudahkan dapat ditentukan dengan cara :
Satu cm arah medial dari pulse arteri femoralis dan 2 cm bawah ligamen inguinal
Posisi jarum selalu tegak lurus pada pulse arteri
Daerah inguinal harus dicukur
Fiksasi dan tutup kasa bethadin
Pemberian jarak antara kanulasi inlet dan outlet pada akses vaskuler cimino, tujuannya adalah :
Menghindari pembengkakan
Mencegah terjadinya resirkulasi darah
Memudahkan saat kanulasi
Menghindari pembekuan darah selama HD
Pada proses intra HD pasien bisa mengalami kram otot, sebagai perawat HD yang harus dilakukan adalah, kecuali:
Turunkan ultrafiltrasi
Koordinasi pemberian calsium glukonas injeksi
Koordinasi pemberian cairan hipotonik
Koordinasi pemberian Dekstrose 40% pada pasien non diabetic
Kumpulan gejala sistemik dan neurologik disertai gambaran EEG yang spesifik, dapat timbul sewaktu dan setelah selesai HD, disebut :
First Use Syndrome
Reaksi Pirogen
Disequilibrium Syndrome
Anafilaktik Tipe B
Tindakan yang harus segera dilakukan apabila komplikasi nyeri dada dan nyeri punggung saat pasien menjalani hemodialisis adalah:
Berikan cairan D 40 %
Ultrafiltrasi tetap
Berikan Oksigen
Naikkan QB
Kegawatan pasien gagal ginjal kronik dengan hiperkalemia adalah :
Hiperkalemia membuat perdarahan lambung
Hiperkalemia membuat kesadaran menurun
Hiperkalemai membuat kardiak arrest
Hiperkalemia membuat pasien kejang
Sebelum melakukan tindakan perawat memberikan penjelasan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Dalam hal ini perawat menerapakan prinsip etik yang mana?
Justice
Otonomi
Veracity
Beneficience
