NEW
Font size
WorksheetsCBT 5
Total questions: 25
Worksheet time: 25mins
Gambaran airway/respirasi pada sindroma down yang relevan dengan anestesi adalah
Predisposisi infeksi saluran nafas atas dikarenakan hipotonia, refluksi gastro- esofageal.
Ankylosis cervikal, membatasi ekstensi leher, membuat kesulitan intubasi
Obstructive sleep apneu; tidak membuat kesulitan pada ventilasi
Stabilitas atlantoaksial yang memerlukan kehati-hatian saat manipulasi leher, terutama ekstensi
Stenosis subglotik yang memerlukan ukuran tube yang lebih besar
Apa pertimbangan perioperatif spesifik pada bayi ni,
apneu; risiko obstruksi, apneu sentral. faktor perioperative seperti obat anestesi, opioid dan hipoksia tidak meningkatkan risiko.
Displasia bronkopulmoner; perkembangan alveoli dan surfaktan masih berlangsung, dan tidak memerlukan support ventilasi
respiratory fatique; bayi muda hanya dapat meningkatkan ventilasi semenit dengan menurunkan respiratory rate.
semua bayi berisiko tinggi terhadap hipertermia.
Komplikasi prolonged intubation: trakeomalasia atau stenosis subglotic. risiko kesulitan intubasi atau memerlukan diameter tube yang lebih kecil
Elemen apa yang termasuk dalam sistem skoring child-pugh
Trombosit, bilirubin, albumin, ensefalopati, ascites
Prothrombin time, bilirubin, albumin, ensefalopati, ascites
INR, bilirubin, albumin, ensefalopati, ascites
Trombosit, Creatinine, albumin, ensefalopati, ascites
Trombosit, Ureum, albumin, ensefalopati, ascites
Sendi mana yang mungkin terkena pada RhA dan mempunyai relevansi dengan
anestesi
Cervical ankylosis: menyebablan limited neck flexion, dan difficult airway.
Costovertebral dan costotransverse joints: defek paru obstruktif
Small joints of hand: tidak membatasi penggunaan patient controlled analgesia (PCA)
Temporomandibular joint: tidak mempengaruhi mouth opening dan kemudahan intubasi, sehingga memerlukan fibreoptic intubation.
RhA dikarakteristikkan dengan chronic symmetrical polyarthritis (terutama) peripheral joints, terutama pada fingers, elbows, ankles, juga proximal joints, shoulders, neck, knees, hips. keterlibatan dari beberapa sendi membuat posisi untuk anestesi regional menjadi problematik.
Pasien dengan end-stage chronic liver disease dijadwalkan pembedahan elektif dengan anestesi umum. Gambaran sistemik chronic liver disease yang penting bagi seorang anestesi adalah
Airway: Risiko refluks dikarenakan penurunan tekanan intra abdomen karena ascites. Rapid sequece induction dan premedikasi dengan PPI diperlukan.
Respiratory: Diaphragmatic splinting dikarenakan ascites, mengakibatkan basal atelectasis, V/Q mismatch, meningkatkan functional residual capacity.
Cardiac: Hyperdynamic circulation dengan high cardiac output, low blood pressure dan low systemic vascular resistance (SVR) (portal hypertension mentrigger aksi mediator vasodiltasi berlebihan pada sirkulasi peripheral dan splanchnic)
Neurologi: Hepatic encephalopathy. dapat dipresipitasi oleh perdarahan gastrointestinal, infeksi, obat-obatan sedatif, hyperglycaemia, protein intake yang berlebihan, hypertension, dan hypoxia.
Hematologi: Coagulopathy dikarenakan kegagalan sintesis clotting factors. Regional anaesthesia tidak merupakan kontraindikasi. Clotting factor supplementation mungkin diperlukan.
Laki-laki 78 tahun dengan diagnosa closed fraktur collum femoris. Dilaksanakan operasi AMP oleh sejawat orthopedi. Pasien dengan status fisik ASA 3 kelainan penyerta kondisi geriatrik dan CHF gr 2 kausa hipertensi kronis. Dilakukan pembiusan menggunakan regional anestesia. Jika anda mengantisipasi akan kejadian Bone cement Implantation Syndrome maka gejala yang akan anda amati:
Hipoksia, hipotensi dan aritmia
Penurunan Kesadaran dan perdarahan
Pasien mengeluh sulit bicara dan pusing
Peningkatan TIK
Kelemahan pada ektremitas lain, kejang dan tidak sadar
Pada operasi orthopedi sering digunakan pneumatic tourniquet. Sewaktu 1 jam paska inflasi mendekati 100 mmhg diatas sistolik, pasien mengeluh terasa nyeri seperti terbakar didaerah operasi. Apa tindakan yang tepat untuk kejadian tersebut:
Menambah suplemen obat epidural
Menghentikan stimulus tindakan operasi
Deflasi tourniquet
Meminta spool cairan ns dingin pada area operasi
Memberikan suplemen analgetik intravena
Seorang laki-laki berusia 64 tahun datang ke IGD dengan kondisi distress napas. Riwayat penyakit dahulu didapatkan kardiomiopati iskemik dengan fraksi ejeksi 28%. Tanda vital awal didapatkan TD 101/54 mmHg, HR 134 x/mnt dengan ritme ireguler, T 37C, RR 31x/mnt, SpO2 88% dengan suplementasi oksigen via nasal kanul 6 lpm. Pada auskultasi didapatkan bilateral crackles dan Ro torak menggambarkan edem paru.
Pasien akhirnya mengalami perburukan, tidak responsif dan perlu intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik. Bagaimana pengaruh PPV pada afterload jantung?
Afterload akan meningkat akibat peningkatan tekanan intratorakal
Afterload akan menurun akibat peningkatan tekanan transmural aortik
Afterload akan menurun akibat penurunan venous return
Afterload akan menurun akibat penurunan tekanan transmural ventrikel kiri
Regime nutrisi di bawah ini yang memiliki risiko paling rendah memicu gagal napas hiperkarbi pada pasien dengan COPD berat adalah:
Protein 40 g/L ; dextrose 125 g/L ; lemak 0 g/L
Protein 30 g/L ; dextrose 150 g/L ; lemak 0 g/L
Protein 50 g/L ; dextrose 60 g/L ; lemak 50 g/L
Protein 50 g/L ; dextrose 100 g/L ; lemak 25 g/L
Pasien dengan PPOK eksaserbasi akut dirawat di ICU dengan AGD awal pH 7.05, PCO2 95 mmHg, pO2 54 mmHg, dengan suplementasi oksigen via nasal kanul 6 lpm. Pasien sadar penuh, dengan distress napas sedang dan wheezing signifikan. Pasien diberikan bronkodilator dan NIV CPAP 10 cmH2O FiO2 50% via face mask. 1 jam kemudian, AGD evaluasi menunjukkan pH 7.1, pCO2 90 mmHg, pO2 92 mmHg, pasien tetap sadar penuh dan distress napas berkurang. Hal yang paling tepat dilakukan setelahnya adalah:
Meningkatkan FiO2
Meningkatkan CPAP jadi 15 cmH2O
Mengubah CPAP menjadi BiPAP
Menghentikan CPAP dan mengganti dengan HFNC
Seorang wanita berusia 50 tahun menjalani operasi pembedahan mata trabekulektomi. Pada saat operator melakukan traksi pada otot bola mata nadi pasien turun menjadi 40 kali / menit.
Apakah saraf aferen yang terlibat akibat refleks tersebut?
N.Trigeminus V 1
N.Trigeminus V 3
N.Fasialis
N.Vagus
N.Trigeminus V 2
Seorang wanita berusia 50 tahun akan menjalani prosedur pembedahan akibat glaukoma. Riwayat terapi dengan menggunakan obat anti glaukoma. Pasien diintubasi dengan menggunakan obat relaksan otot suksinil kolin. Monitoring intraoperative didapatkan pemanjangan efek durasi dari suksinil kolin
Apakah obat tetes mata yang digunakan pasien tersebut?
Timolol
Acetozolamide
Echotiophate
Cyclopentate
Scopolamine
Seorang anak laki-laki 5 tahun, berat badan 18 kg, dengan Akut Lymphoblastic Leukemia, akan direncanakan pemberian intratekal Metotrexate dengan sedasi. Pasien dengan riwayat sering batuk pilek, 3 hari terakhir sudah mereda, batuk kadang-kadang. Tidak ada panas badan. Makan-minum baik. Pasien sebelum dibawa ke ruang tindakan dipasang monitor, diberikan propofol 20 mg intra vena,kemudian di ruang tindakan diberikan tambahan propofol 20 mg dan fentanyl 20 mcg kemudian disambung pemberian gas sevofluran dengan sungkup muka. Pasien diposisikan miring kiri untuk injeksi intratekal Metotrexate. Saat diposisikan miring, terlihat pasien batuk dan nafas tidak adekuat. Saturasi oksigen turun dari 100% menjadi 70%. Ventilasi menjadi sulit. Tindakan segera yang kita lakukan adalah?
Stop gas sevofluran, berikan oksigen 100%
Diberikan tambahan propofol 20 mg intravena
Posisi dikembalikan terlentang, ventilasi dikendalikan
Suctioning mulut untuk membersihkan sisa sekret
Dalamkan gas sevofluran, hyperventilasi
Seorang wanita 22 tahun, dengan gangguan jiwa (psikosis) dan tumor abdomen curiga ganas akan dilakukan tindakan Ct Scan abdomen untuk diagnostik. Pasien rutin minum obat haloperidol 5 mg dan trihexypenidil. Pasien sebelumnya telah dicoba tanpa sedasi tetapi pasien tidak kooperatif dan mengamuk saat di ruangan Ct Scan. Pasien kemudian dikonsulkan ke anestesi untuk pemberian sedasi.
Tindakn perioperative yang dilakukan adalah?
Stop obat anti psikotik 7 hari sebelum tindakan
Ganti obat oral anti psikotik dengan intra vena
Sedasi diberikan ketamine untuk mencegah hipotensi akibat interaksi obat antipsikotik
Lanjutkan obat antipsikotik
Hindari obat-obat anesthesia histamine release
Seorang laki-laki usia 55 tahun datang ke klinik nyeri dengan keluhan nyeri lutut sebelah kanan. Pasien sudah mengeluhkan nyeri lutut sejak 1 tahun terakhir. Pasien rutin kontrol di puskesmas di dekat rumahnya setiap 3 minggu sekali. Pasien didiagnosis osteoarthritis dan diberikan analgetik NSAID. Satu bulan terakhir dan nyeri semakin berat dirasakan di bagian medial lutut.
Manakah pernyataan di bawah ini yang benar sesuai dengan kondisi pada pasien di atas?
Hiperalgesia dibagi menjadi hiperalgesia primer, sekunder dan tersier
Hiperalgesia sekunder terjadi di sekitar bagian tubuh yang terkena trauma/stimulus
Hiperalgesia sekunder terjadi karena peningkatan respon nyeri terhadap panas dan stimulus mekanik
Hiperalgesia terjadi pada nyeri somatic saja
Hiperalgesia tidak pernah ditemukan pada pasien yang diterapi dengan opioid
Seorang PPDS Anestesiologi, akan melakukan penelitian karya akhir. Ia akan meneliti tentang perbandingan pemberian fentanyl dan paracetamol sebagai analgetik post operasi. Peneliti memberikan instruksi kepada perawat ruangan tanpa memberi tahu jenis obat apa yang diberikan pada tiap pasien. Jenis ketersamaran yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah
Double blind study
Triple blind study
Single blind study
Close trial
Open trial
Pada setiap Karya ilmiah akhir selalu diakhiri dengan daftar Pustaka. Sistem daftar pustaka yang menggunakan cara penomoran yang berurutan untuk menunjukkan rujukan Pustaka atau sitasi dan dituliskan secara Superscript tanpa tanda kurung yaitu?
a. Harvard Style
Vancouver style
APA (American Psychological Association)
Chicago Style
Bukan salah satu diatas
Bagian yang merupakan hal yang paling penting dari setiap usulan penelitian, dimana berisi pernyataan tentang masalah penelitian serta besaran masalah, apa yang sudah diketahui, apa yang belum diketahui serta harapan dari penelitian yang direncanakan untuk menutup knowledge gap adalah?
Latar belakang masalah
Tinjauan pustaka
Perumusan masalah
Tujuan penelitian
Metodologi Penelitian
Bagian yang berisi: latar belakang, tujuan penelitian, metode, hasil, pembahasan singkat, kesimpulan dan rekomendasi hasil penelitian adalah
Latar belakang
Abstrak
Pembahasan
Kesimpulan
Metodologi Penelitian
Sebelum melakukan tatalaksana definitf airway intubasi pada pasien dengan riwayat trauma di Unit Gawat Darurat perihal apakah yang patut digali dan diwaspadai:
Lama kejadian
Dugaan lambung penuh
Riwayat alergi obat
Penyakit terdahulu
Mekanisme cedera
Seorang pasien wanita 30 tahun datang dengan keluhan sesak berat setelah terbentur trotoar akibat jatuh dari sepeda motor. Didapatkan jejas pada dada kanan. Diagnosa yang paling memungkinkan pada pasien tersebut adalah:
Tamponade jantung
Cervical Injury
Tension Pneumothoraks
Hemathothoraks
Syok Hipovolemia
Pria 70 tahun sesak dengan diagnosis COPD memerlukan intubasi dan vemtilasi mekanik. Saturasi oksigen sebelum intubasi 90%, setelah intubasi dan ventilasi mekanik 100%. PaO2 meningkat dari 60 mmHg menjadi 150 mmHg. Hb 15 g/dL , pH 7.32. Perubahan PaO2 dan saturasi oksigen arteri tersebut menyebabkan perubahan ‘oxygen content’ :
Meningkat sebanyak 15 ml/100 ml
Meningkat sebanyak 12 ml/100 ml
Meningkat sebanyak 9 ml/100 ml
Meningkat sebanyak 6 ml/100 ml
Meningkat sebanyak 3 ml/100 ml
Anak 4 tahun berat badan16 kg akan menjalani pembedahan herniotomy inguinal, direncanakan anestesi umum dengan pemasangan LMA. Ukuran LMA yang sesuai untuk anak ini adalah :
Ukuran 1.5
Ukuran 2
Ukuran 2.5
Ukuran 3
Ukuran 3.5
Kelompok obat anestesi lokal yang mempunyai ‘lipid solubility’ yang tinggi, dalam penggunaan klinis menguntungkan karena :
Duration of action panjang
Onset of action cepat
Blok sensoris lebih menonjol dibanding blok motoris
Potensi obat lebih besar
Kardiotoksisitas lebih kecil
Pria 66 tahun dilakukan pemeriksaan penunjang echocardiography. Hasil echocardiogram left ventricular end-diastolic volume 125 ml dan end-systolic volume 50 ml. Maka left ventricular ejection fraction pasien ini adalah :
40 %
50 %
55 %
60 %
65 %
