WorksheetsEVALUASI_TEKS CERITA INSPIRATIF
Total questions: 10
Worksheet time: 20mins
Di Kantor Pos
Oleh: Muhammad Ali
“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bisa keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan malu-malu.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerita tersebut bertema ….
Kejujuran seseorang dalam hidup.
Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang.
Keberanian pegawai mengakui kekeliruan.
Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos.
Tema cerita inspirastif yang bisa diangkat berdasarkan gambar di atas adalah ….
Aku malu dengan keterbatasan fisik yang ada
Pasrah menjalani hidup ini meski terbatas
Tetap semangat meski dalam keterbatasan
Bekerja keras untuk mengejar impian
Di Kantor Pos
Oleh: Muhammad Ali
“Tadi agaknya telah terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bisa keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yang tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yang terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yang keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yang saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan malu-malu.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga mudah saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yang seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya akan mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Sudut pandang yang digunakan pengarang pada kutipan cerita tersebut adalah …
Orang pertama tokoh utama
Orang ketiga sebagai pengamat
Orang campuran
Orang ketiga manatahu
Simak kutipan cerita berikut !
....
(1) "Bu, aku malu kepada Allah! Dia hanya menerima 10 ribu tapi begitu bersyukurnya kepada Allah dan berterima kasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah?”
(2) Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.
Paragraf nomor (1) tersebut merupakan bagian ....
Orientasi
Perumitan peristiwa
Komplikasi
Resolusi
Simak kutipan cerita berikut !
....
(1) "Bu, aku malu kepada Allah! Dia hanya menerima 10 ribu tapi begitu bersyukurnya kepada Allah dan berterima kasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah?”
(2) Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.
Paragraf nomor (2) tersebut merupakan bagian ....
Koda
Perumitan peristiwa
Komplikasi
Resolusi
Simaklah kutipan cerita inspiratif berikut!
(1) Tentunya hal tersebut akan membuat orang lain merasa curiga melihatnya.
(2) Namun nyatanya dugaannya salah besar, ternyata anak-anak sekolah tersebut sedang membagi-bagikan baju bekas dan makanan kepada seorang bapak tunawisma yang biasanya sering berkeliaran di kawasan sekolah.
(3) Bisa saja orang mencurigai segerombolan anak tersebut melakukan hal yang tidak diinginkan seperti merokok.
(4) Jika Anda melihat perbuatan anak-anak tersebut tentu saja akan ikut tergerak hatinya untuk turut membantu meringankan beban tunawisma tersebut, bukan?
(5) Pada suatu hari, terdapat segerombolan anak-anak sekolah yang pergi ke area belakang sekolahnya ketika waktu istirahat tiba.
Susunan yang tepat dari kutipan cerita inspiratif tersebut adalah....
(5) - (2) - (1) - (3) - (4)
(5) - (3) - (4) - (2) - (1)
(5) - (1) - (3) - (2) - (4)
(5) - (4) - (2) - (3) - (1)
Bacalah teks berikut dengan saksama!
Pada masa dahulu, ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong. Ia bermaksud mengajukan pensiun karena ingin memiliki banyak waktu untuk keluarganya.
Si Pemborong berkata, "Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun."
Si tukang bangunan segera membangunkannya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi. Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang pemborong.
Sang pemborong pun tersenyum dan berkata, "Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal mengapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan.
Sesungguhnya ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah rumah yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal karena kita menempati rumah yang kita bangun asal-asalan.
Judul yang tepat untuk cerita di atas adalah ....
Hadiah untuk Si Tukang Bangunan
Masa Pensiun Si Tukang Bangunan
Kebaikan Sang Pemborong
Rumah Si Tukang Bangunan
Bacalah teks berikut dengan saksama!
Pada masa dahulu, ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong. Ia bermaksud mengajukan pensiun karena ingin memiliki banyak waktu untuk keluarganya.
Si Pemborong berkata, "Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun."
Si tukang bangunan segera membangunkannya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi. Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang pemborong.
Sang pemborong pun tersenyum dan berkata, "Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal mengapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan.
Sesungguhnya ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah rumah yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal karena kita menempati rumah yang kita bangun asal-asalan.
Tokoh utama dari cerita di atas adalah ....
Sang Pemborong
Keluarga tukang bangunan
Keluarga sang pemborong
Si Tukang Bangunan
Bacalah teks berikut dengan saksama!
Pada masa dahulu, ada seorang tukang bangunan yang telah bertahun-tahun lamanya bekerja ikut pemborong. Ia bermaksud mengajukan pensiun karena ingin memiliki banyak waktu untuk keluarganya.
Si Pemborong berkata, "Saya setujui permohonan pensiun Anda dengan syarat Anda bangun dahulu satu rumah terakhir sebelum Anda pensiun."
Si tukang bangunan segera membangunkannya. Karena kejar tayang, ia pun mengerjakannya asal-asalan dan asal jadi. Selesai sudah bangunan terakhir yang ia buat. Ia serahkan kunci rumah kepada sang pemborong.
Sang pemborong pun tersenyum dan berkata, "Rumah ini adalah hadiah untukmu, karena telah lama bekerja bersamaku."
Terkejutlah tukang bangunan itu, ada rasa sesal mengapa rumah yang akhirnya hendak ia tempati itu, dikerjakannya secara asal-asalan.
Sesungguhnya ibadah yang kita kerjakan di dunia ini, tak lain adalah rumah yang sedang kita bangun untuk kita tempati nanti setelah pensiun dari kehidupan dunia. Jangan sampai kelak kita menyesal karena kita menempati rumah yang kita bangun asal-asalan.
Amanat yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah ....
Jadilah pemborong yang baik
Membuat rumah harus bagus dan megah
Jadilah tukang yang baik agar menghasilkan karya yang bagus
Kita harus mengerjakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya
(1) Tukang kayu itupun akhirnya memulai pekerjaan terakhirnya dengan malas-malasan. Bahkan dengan asal-asalan, ia membuat rangka bangunan. Ia malas mencari sehingga menggunakan bahan-bahan bangunan berkualitas rendah. Sangat disayangkan karena ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.
(2) Alkisah, seorang tukang kayu yang merasa sudah tua dan berniat untuk pensiun dari profesinya sebagai tukang kayu yang sudah ia jalani selama puluhan tahun. Ia ingin menikmati masa tuanya bersama isteri serta anak cucu.
(3) Betapa kagetnya si tukang kayu. Ia sangat menyesal. Kalau saja sejak awal tahu bahwa ia sedang membangun rumahnya, ia akan mengerjakan dengan sungguh-sungguh. Akibatnya, sekarang ia harus tinggal di rumah yang ia bangun dengan asal-asalan.
(4) Suatu hari, kemudian ia mengatakan renca ingin pensiun kepada majikannya. Terlintas dalam pikiran sang mandor untuk meminta permintaan terakhir sebelum si tukang kayu pensiun. Sang mandor meminta untuk sekali lagi membangun sebuah rumah yang terakhir kalinya.
(5) Hari demi hari berlalu dan akhirnya rumah itupun selesai. Ditemani tukang kayu, sang mandor datang memeriksa. Ketika sang mandor memegang gagang pintu depan hendak membuka pintu, ia lalu berbalik dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu."
(6) Akhirnya, dengan berat hati tukang kayu menyanggupi permintaan tersebut meskipun merasa kesal karena jelas-jelas dirinya sudah bicara hendak pensiun. "Seperti biasa, aku sangat percaya denganmu. Jadi, kerjakanlah dengan baik seperti saat-saat kemarin kau bekerja denganku. Bahkan, dalam projek terakhir ini, kamu bebas membangun dengan semua bahan-bahan terbaik yang ada!"
Urutan teks acak tersebut menjadi cerita inspiratif yang utuh dan runtut adalah ....
2-4-6-1-5-3
2-4-5-6-1-3
4-5-6-1-2-3
4-6-5-2-1-3
