Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

LATIHAN SOAL PH 2 CERPEN (2)

Total questions: 15

Worksheet time: 8mins

Name
Class
Date
1.

Ya, kediaman keluarga Sastro Suwiryo yang menempati lahan seluas 200 meter persegi di Desa Kasongan pinggiran Yogyakarta itu bisa dibilang tenang dan tentram sebelumnya. Malam itu sudah hampir setengah jam isak tangis terdengar mengalahkan lagu malam yang dinyanyikan oleh angin dan lambaian pohon kelapa belakang rumah. Rembulan purnama yang tengah asyik menemani orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyak juga tidak disapa oleh isak tangis itu.

“ Bapak, bangun, Pak.”

“ Ada apa, Bu? Malam-malam begini kok bangun? Kok kelihatannya ada yang serius.”

(Dikutip dari: Agung Webe, “Arjuna Tidak Mencari Cinta” dalam Arjuna Tidak Mencari Cinta, Bekasi, Soul Journey, 2016.


Kalimat bercetak tebal dalam kutipan cerpen tersebut mengandung majas . . .

a)

A. Metafora

b)

B. Personifikasi

c)

C. Metonimia

d)

D. Hiperbola

2.

Pagi ini kami akan berangkat sekolah lagi. Lagi-lagi sepatu butut itu lagi yang kuperhatikan..tidak ada lagi yang kuperhatikan dari Andi, aku jadi malas bila berjalan dengannya. Aku malu bila harus berjalan dengannya, seperti berjalan dengan seorang gembel.

Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, kita mengetahui bahwa watka tokoh “Aku’ adalah....

a)

A. sangat perhatian kepada Andi

b)

B. sangat membenci Andi

c)

C. suka mengejek

d)

D. sombong

3.

Penulisan judul cerpen yang tepat adalah ... .

a)

A. Anak Rajin Dan Pohon Pengetahuan

b)

B. Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan.

c)

C. Anak Rajin dan Pohon Pengetahuan

d)

D. ANAK RAJIN DAN POHON PENGETAHUAN

4.

Tak pernah lelah dan bosan mereka menasihatiku, kesabaran dan perhatiannya begitu mengalir ketika mendidikku. Aku benar-benar tidak tega melihat perjuangan mereka. Banting tulang, bekerja keras siang malam sudah menjadi kebiasaan mereka untuk membesarkanku.

Watak tokoh Ibu dalam kutipan cerpen tersebut dapat diketahui melalui ...

a)

A. Penggambaran lingkungan sekitar

b)

B. Penggambaran langsung oleh penulis

c)

C. Dialog antartokoh cerita

d)

D. Penjelasan tokoh cerita

5.

Hampir setiap hari mataku tak jemu-jemunya menjelajahi media demi media. Malah Suatu ketika temanku bertanya.

“ Sekarang apa kegiatanmu, Deni?”

“Jadi pengamat pers,” lantas kulihat temanku itu keheranan dan takjub.

“Wah, hebat sekali” temanku tampak terkagum-kagum.

“Yah… begitulah, kini aku jadi pengamat pers, spesilisasi lowongan kerja.”

“ha…ha…ha…” seketika itu juga temanku terbahak-bahak dan segera meninju bahuku.

Begitulah dalam masa transisi selepas dari perguruan tinggi, aku berusaha mengubah keprihatinanku dalam mencari kerja, menjadi lelucon semu. Apalagi, di era yang katanya orang globalisasi dan kompetitif dengan lowongan kerja yang semakin sempit ini, aku dituntut mengubah kernyit dahi menjadi seberkas senyum, jikalau aku tidak ingin dilanda stres yang ujung-ujungnya stroke.

Selain di warung-warung Koran, kadang-kadang aku juga pergi ke perpustakaan daerah. Di sana aku mencermati Koran-koran yang di warung Koran tidak ada. Di sana aku biasanya lebih bebas, karena lepas dari kewajiban membeli Koran. Atau kalau tidak, aku juga pergi ke kampus, untuk melihat-lihat, barangkali ada info-info penting di sana. Nah, keberuntungan baru berpihak kepadaku rupanya. Di lorong dekat ruang dosen terpampang pengumuman, sebuah instansi membutuhkan dua orang pengawas proyek.

Karakter tokoh Deni yang patut dicontoh yaitu…

a)

A. Suka menolong

b)

B. Pantang menyerah

c)

C. Rajin belajar

d)

D. Suka membaca

6.

Hampir setiap hari mataku tak jemu-jemunya menjelajahi media demi media. Malah Suatu ketika temanku bertanya.

“ Sekarang apa kegiatanmu, Deni?”

“Jadi pengamat pers,” lantas kulihat temanku itu keheranan dan takjub.

“Wah, hebat sekali” temanku tampak terkagum-kagum.

“Yah… begitulah, kini aku jadi pengamat pers, spesilisasi lowongan kerja.”

“ha…ha…ha…” seketika itu juga temanku terbahak-bahak dan segera meninju bahuku.

Begitulah dalam masa transisi selepas dari perguruan tinggi, aku berusaha mengubah keprihatinanku dalam mencari kerja, menjadi lelucon semu. Apalagi, di era yang katanya orang globalisasi dan kompetitif dengan lowongan kerja yang semakin sempit ini, aku dituntut mengubah kernyit dahi menjadi seberkas senyum, jikalau aku tidak ingin dilanda stres yang ujung-ujungnya stroke.

Selain di warung-warung Koran, kadang-kadang aku juga pergi ke perpustakaan daerah. Di sana aku mencermati Koran-koran yang di warung Koran tidak ada. Di sana aku biasanya lebih bebas, karena lepas dari kewajiban membeli Koran. Atau kalau tidak, aku juga pergi ke kampus, untuk melihat-lihat, barangkali ada info-info penting di sana. Nah, keberuntungan baru berpihak kepadaku rupanya. Di lorong dekat ruang dosen terpampang pengumuman, sebuah instansi membutuhkan dua orang pengawas proyek.

Cerpen di atas menggunakan sudut pandang …

a)

A. Orang pertama

b)

B. Orang kedua

c)

C. Orang pertama tokoh sampingan

d)

D. Orang ketiga

7.

Hampir setiap hari mataku tak jemu-jemunya menjelajahi media demi media. Malah Suatu ketika temanku bertanya.

“ Sekarang apa kegiatanmu, Deni?”

“Jadi pengamat pers,” lantas kulihat temanku itu keheranan dan takjub.

“Wah, hebat sekali” temanku tampak terkagum-kagum.

“Yah… begitulah, kini aku jadi pengamat pers, spesilisasi lowongan kerja.”

“ha…ha…ha…” seketika itu juga temanku terbahak-bahak dan segera meninju bahuku.

Begitulah dalam masa transisi selepas dari perguruan tinggi, aku berusaha mengubah keprihatinanku dalam mencari kerja, menjadi lelucon semu. Apalagi, di era yang katanya orang globalisasi dan kompetitif dengan lowongan kerja yang semakin sempit ini, aku dituntut mengubah kernyit dahi menjadi seberkas senyum, jikalau aku tidak ingin dilanda stres yang ujung-ujungnya stroke.

Selain di warung-warung Koran, kadang-kadang aku juga pergi ke perpustakaan daerah. Di sana aku mencermati Koran-koran yang di warung Koran tidak ada. Di sana aku biasanya lebih bebas, karena lepas dari kewajiban membeli Koran. Atau kalau tidak, aku juga pergi ke kampus, untuk melihat-lihat, barangkali ada info-info penting di sana. Nah, keberuntungan baru berpihak kepadaku rupanya. Di lorong dekat ruang dosen terpampang pengumuman, sebuah instansi membutuhkan dua orang pengawas proyek.

Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas yaitu…

a)

A. Belajarlah dengan rajin untuk mencapai cita-cita

b)

B. Jangan pernah berhenti berharap atas kemurahan tuhan

c)

C. Selalu membaca buku untuk menambah wawasan

d)

D. Jangan mudah putus asa untuk mencapai keberhasilan

8.

(1) Ia mampu tertawa dengan susah payah.

(2) Kesedihan yang semu.

(3) Tawanya merupakan bentuk ungkapan kesedihan.

(4) Rasa sedih dan gembira menjadi satu,

Pernyataan yang menunjukkan maksud kalimat “Tawa yang membungkus tangis” ditunjukkan oleh nomor ... .

a)

A. (1) dan (2)

b)

B. (2) dan (3)

c)

C. (1) dan (3)

d)

D. (2) dan (4)

9.

Sedangkan Maura dan Diana sudah mulai berburu menjelajahi toko-toko bermerk untuk membeli pashmina dengan motif yang disukai maminya. Hanya aku yang tak mempersiapkan apa-apa untuk Biyungku.

“Kok Biyung, sih?” tanya Maura dengan mimik lucu. “ Kenapa gak panggil mama, mami, atau ibu lah yang paling umum?” ujarnya lagi. Aku hanya tersenyum.

“Orang Jawa zaman dulu memang kebanyakan memanggil ibu mereka dengan sebutan ‘Biyung’ sama saja, kok, artinya dengan mami, mother, mom, dan yang lainnya,” jelas Diana sambil tersenyum. Terlihat lirikan mata Yesha dengan senyuman yang membiasakan ejekan. Aku tak peduli.

Biyungku memang tak sebanding dengan mami dan mom-nya Maura dan Yesha yang memiliki gelar sarjana bahkan hingga Ph.D atau bundanya Diana yang M.Pd. Biyungku hanya seorang penjual tempe mendoan. Tapi sehari saja ia libur berjualan, seluruh desa akan merasa kehilangan pada racikan bumbu tempenya yang tiada duanya.

Tokoh tritagonis dalam kutipan cerita tersebut adalah ….

a)

A. Maura

b)

B. Yesha

c)

C. Diana

d)

D. Biyung

10.

Di sebelah Barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut Gunung barangkali tidak tepat, karena arealnya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut Bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang menyebutnya dengan gunung Beser.

Perbaikan ejaan dan tanda baca untuk kutipan cerpen tersebut adalah ....

a)

A. Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut gunung barangkali tidak tepat karena areanya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut Bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang menyebutnya dengan gunung Beser.

b)

B. Di sebelah Barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut gunung barangkali tidak tepat, karena areanya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang menyebutnya dengan Gunung Beser.

c)

C. Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut gunung barangkali tidak tepat karena areanya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang menyebutnya dengan Gunung Beser.

d)

D. Di sebelah Barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar. Disebut gunung barangkali tidak tepat karena areanya terlalu kecil. Lebih tepatnya disebut Bukit. Tapi, penduduk kampung, sejak dulu sampai sekarang menyebutnya dengan Gunung Beser.

11.

Karena terlalu banyak variasi, mobil Pian tidak sempat sampai di Pecenongan. Agaknya Pecenongan juga sudah sepi. Di samping itu, Pian sendiri sudah lupa mau ke mana. Setelah putar-putar nabrak sana nabrak sini, entah berapa korban yang jatuh, mobilnya mulai batuk-batuk. Periksa punya periksa rupanya bensinnya mulai habis.

Kalimat yang digarisbawahi merupakan ciri kalimat yang menggunakan majas …

a)

A. Simile

b)

B. Personifikasi

c)

C. Metafora

d)

D. Perbandingan tidak langsung

12.

Kalimat di bawah ini yang menggunakan majas simile adalah …

a)

A. Dia memiliki hati batu, tak mudah begitu saja mengajaknya untuk setuju.

b)

B. Seekor burung pipit terbang bagaikan batu yang lepas dari ketapel sambil menjerit sejadi-jadinya

c)

C. Awan berarak tertatih-tatih melintasi langit.

d)

D. Kerikil di jalan tampak pucat pasi tersengat matahari dan berselimut butiran debu.

13.

Ruang pameran itu tidak begitu penuh dikunjungi orang hingga tempat yang kecil itu tak hendak meledak. Berulang kali Pri melayangkan pandangannya ke sudut sana. Pokoknya, gadis itu punya pesona tersendiri, punya daya tarik tersendiri, punya magnet yang bisa mengajak mata untuk selalu menatapnya. Sebenarnya sih, sederhana saja penampilannya. Tetapi ia tampak istimewa dengan pakaian seragam seperti itu.

Ciri kebahasaan yang ditonjolkan dalam kutipan cerpen di atas adalah…

a)

A. Penggunaan majas

b)

B. Penggunaan kata benda khusus

c)

C. Penggunaan ungkapan deskriptif untuk menggambarkan keadaan

d)

D. Penggunaan kata/kalimat emotif

14.

Untuk membuang sepatu butut tentu saja tidak memerlukan rencana yang rumit, cukup sederhana saja, pasti aku bisa melakukannya, hanya tinggal menunggu Andi tidur di malam hari, kemudian aku tinggal menjalankan misinya. Hari yang kunantikan pun tiba, segera aku bersiap menjalankan misiku. Kulihat Andi sedang tidak ada di rumah.

...................................... .

Tahapan alur yang tepat untuk melanjutkan kutipan cerpen tersebut adalah tahap ... .

a)

A. Orientasi

b)

B. Rangkaian kejadian

c)

C. Komplikasi

d)

D. Resolusi

15.

(1) Ia tidak dapat berkata apa-apa karena mulutnya kaku

(2) Ia tidak dapat berkata apa-apa lagi

(3) Ia tidak dapat membuka mulutnya

(4) Ia tidak dapat berkata-kata dengan lancar

Kalimat yang merupakan maksud dari ungkapan “Mulutnya tiba-tiba rasa terkunci” yaitu nomor ... .

a)

A. (1), (2), dan (3)

b)

B. (1), (3), dan (4)

c)

C. (1), (2), dan (4)

d)

D. (2), (3), dan (4)