NEW
Font size
WorksheetsTry Out 3 LSPP 2
Total questions: 52
Worksheet time: 26mins
Sebuah bank mempunyai beberapa debitur yang tergolong katagori macet. Management Bank memutuskan beberapa debitur yang macet dikeluarkan dari neraca bank. Tindakan tersebut dinamakan
Hapus tagih
Pembebasan hutang
Hapus buku
Restrukturisasi
Pada asset berupa tagihan kepada perusahaan (claim on corporate) diatur bobot risiko sebesar 100%. Jika eksposur nasabah sebesar Rp 100M maka besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) pada nasabah tersebut berdasarkan Pendekatan Standar (Standardized Approach) adalah
Rp 0.8M
Rp 10 M
Rp 8 M
Rp 100 M
Pada asset berupa tagihan kepada perusahaan (claim on corporate) diatur bobot risiko sebesar 100%. Jika eksposur nasabah sebesar Rp 100M maka besarnya Modal pada nasabah tersebut berdasarkan Pendekatan Standar (Standardized Approach) adalah:
Rp 0.8M
Rp 10 M
Rp 8 M
Rp 100 M
Apabila sebagian besar debitur sebuah bank kurang baik dan tidak mempunyai rating external, maka untuk pengukuran kebutuhan modal untuk mengcover risiko kredit, metode yang paling menguntungkan bank dalam jumlah modal yang dibutuhkan adalah:
Standardized approach
IRB Foundation
IRB Advance
Advance Measurement Approach (AMA)
Internal Model Approach (IMA)
Seluruh posisi perdagangan bank (proprietary position) pada instrument keuangan dalam neraca (on balance sheet) dan atau rekening administrative (off balance sheet) termasuk transaksi derivative harus dilakukan perhitungan harga pasar (marked to market /MTM). Secara akuntansi keuntungan atau kerugian yang timbul dari MTM dari posisi trading akan mempengaruhi:
Rekening Modal
Rekening Laba/Rugi
Rekening Off Balance Sheet
Semua betul
Salah satu cara mengendalikan risiko pasar dalam trading book adalah dengan melakukan Hedging. Contoh transaksi lindung nilai (Hedging) yang dapat digunakan dalam pengendalian risiko pasar adalah sebagai berikut, kecuali :
Transaksi Spot
Transaksi Forward
Transaksi Option
Transaksi Swap
Proses penentuan harga atau marked to market (MTM) dilakukan secara harian atas portofolio trading, yang dapat mengakibatkan bank memperoleh keuntungan ataupun kerugian secara “unrealized”. Untuk mengurangi dampak kerugian atas pergerakan faktor pasar perlu ditentukan suatu aturan aktivitas trading dalam bentuk :
Penetapan berbagai limit trading
Penetapan jenis surat berharga yang dapat diperdagangkan
Penetapan jenis tenor surat berharga
Penetapan holding periode transksi trading
Selain bertugas dalam aktivitas trading, unit kerja treasury pada bank umumnya memiliki tanggung jawab antara lain :
Mengelola likuiditas, memelihara aset likuid dan mengelola risiko suku bunga pada banking book
Mengelola trade finance, mengelola likuiditas dan memelihara aset likuid
Mengelola aktivitas perkreditan, mengelola trade finance, mengelola likuiditas, memelihara aset likuid dan mengelola risiko suku bunga pada banking book
Semua betul
Unit kerja yang bertugas menentukan harga pasar secara harian dari portofolio trading, dengan menggunakan model yang sudah ditetapkan oleh bagian risk management adalah
Unit Kerja Front Office
Unit Kerja Middle Office
Unit Kerja Back Office
Unit Kerja Treasury
Unit kerja yang bertugas menentukan harga pasar untuk dapat digunakan menghitung Mark to Market setiap hari adalah
Unit Kerja Front Office
Unit Kerja Middle Office
Unit Kerja Back Office
Unit Kerja Treasury
Proses valuasi terhadap posisi trading book wajib dilakukan secara harian berdasarkan nilai wajar dengan menggunakan harga transaksi yang terjadi (close out price). Penggunaan valuasi bid price wajib digunakan untuk melakukan valuasi atas posisi instrument sebagai berikut :
Aset yang diperoleh atau kewajiban yang dimiliki
Aset yang akan diperoleh (bank siap membeli) atau kewajiban yang akan diterbitkan
Aset yang dimiliki atau kewajiban yang akan diterbitkan
Aset yang dimiliki atau kewajiban yang dimiliki
Pejabat di unit treasuri yang sedang melakukan proses mark to market atas poisisi obligasi korporasi yang dimiliki bank. Karena harga tidak tersedia di pasar dan obligasi tersebut tidak likuid, maka harga posisi obligasi tersebut ditentukan dengan cara :
Menggunakan harga atas dasar transaksi terakhir yang terjadi di pasar
Menggunakan harga atas dasar rumusan valuasi harga obligasi
Menggunakan harga atas dasar rumusan valuasi dengan menyesuaikan diskonto
Menggunakan nilai nominal obligasi
Dalam menghitung kebutuhan modal untuk mencover risiko pasar diperlukan eksposur atau posisi trading book. Nilai pasar surat berharga yang digunakan dalam perhitungan risiko umum (general market risk) sesuai ketentuan Bank Indonesia menggunakan :
Clean Price
Dirty Price
Closing Price
Semua benar
Perhitungan capital charge dengan metode standar memililki keterbatasan dalam pengukuran kebutuhan modal untuk mencover risiko pasar trading book. Beberapa keterbatasan tersebut antara lain
Besarnya bobot risiko selalu tetap sehingga menghasilkan perhitungan yang underestimate pada saat volatilitas pasar yang tinggi
Besarnya bobot risiko selalu tetap sehingga menghasilkan perhitungan yang underestimate pada saat volatilitas yang rendah
Besarnya bobot risiko selalu tetap sehinga menghasilkan perhitungan yang overestimate pada saat volatilitas pasar yang tinggi
Semua benar
Callable bond memberikan keleluasaan bagi issue untuk membel kembali surat berharga yang dikeluarkna pada harga tertentu dan periode tertentu sebelum bond tersebut jatuh tempo. Atas keleluasaan tersebut, pada umumnya harga dari callable bond dibandingkan dengan bond biasa dengan kupon, jangka waktu dan parameter lainnya adalah
Harga callable bond lebih mahal
Harga callable bond lebih murah
Perlu diteliti parameter lainnya
Tergantung tingkat bunga pasar
Bank memerlukan waktu untuk melakukan likuidasi posisi ataupun melakukan hedging. Untuk menentukan berapa waktu yang diperlukan untuk melikuidasi posisi atau melakukan tindakan hedging, maka dalam analisa VaR digunakan
Confident Level
Holding Period
Time Horizon
Volatility
Risiko kerugian karena penggunaan indeks suku bunga yang berbeda antara aktiva dan pasiva disebut dengan
Repricing risk
Basis risk
Yield curve risk
Liquidity risk
Risiko kerugian karena perubahan suku bunga jangka pendek lebih kecil atau lebih besar dibandingkan dengan perubahan suku bunga jangka panjang disebut dengan :
Repricing risk
Basis risk
Yield curve risk
Liquidity risk
Salah satu upaya pengendalian risiko likuiditas adalah memelihara sumber dana yang stabil dan persediaan aset likuid yang cukup memadai. Agar sumber dana dan jenis aset likuid dapat diandalkan menghadapi bahaya risiko likuiditas maka :
Sumber dana diutamakan dari beberapa perusahaan besar agar menyimpan dana di bank
Untuk membiayai kredit, dapat mengandalkan sumber dana dari pinjaman antar bank
Lebih mengutamakan pendanaan ritel, khususnya tabungan dan giro
Mengupayakan DOC (Deposit On Call) sebanyak mungkin
Untuk posisi dana pihak ketiga seperti tabungan dan giro, bank mengasumsikan jangka waktu tidak berdasarkan contractual, tapi atas dasar perilaku posisi dana tersebut dengan core deposit yang merupakan
Bagian dari DPK yang bersifat stabil dan diperkirakan tidak akan ditarik dalam jangka panjang
Bagian dari DPK yang memiliki contractual maturity jangka panjang
Bagian dari DPK yang memililki contractual maturity jangka panjang ditambah dengan bagian dari DPK yang tidak memiliki contractual maturity
Bagian dari DPK yang memililki contractual maturity jangka panjang dikurangi dengan bagian dari DPK yang tidak memiliki contractual maturity
Penerapan manajemen risiko operasional antara lain ditujukan agar tidak ada unsur kejutan (no surprise) pada setiap kejadian risiko. Untuk itu, salah satu manfaat penting dalam penerapan manajemen risiko adalah
Proses penilaian risiko oleh pejabat bank
Pelaksanaan prosedur dan penetapan limit
Meningkatkan budaya sadar risiko
Mengidentifikasi risiko pada akktvfitas SDM
Berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan kerugian-kerugian risiko operasional yang dapat diperkirakan (expected loss):
Kerugian tersebut merupakan hal yang wajar dalam bisnis bank
Tidak diperhitungkan dalam upaya memperoleh pendapatan
Jumlah aset bank baru dinaikkan untuk menutup kerugian
Kerugian risiko operasional tersebut harus dibuatkan cadangan
Dalam pelaksanaan pengelolaan risiko pada produk atau aktivitas baru, bank harus melakukan beberapa tahapan, salah satunya adalah Tahap Penilaian Kecukupan Pengelolaan Risiko. Yang pertama kali menilai tingkat kecukupan dimaksud pada umumnya adalah
Satuan kerja Manajemen Risiko
Direktur Kepatuhan
Pemrakarsa Produk
Satuan Kerja Audit Internal
Untuk mengurangi dampak risiko operasional akibat kejadian eksternal (external event) seperti gempa bumi, kebakaran, banjir, terorisme dll, bank harus menerapkan
Business Continuity Management (BCM)
Basic Impact Analysis
Risk Assessment
Manajemen Risiko pada Penggunaaan Teknologi Informasi
Dengan pendekatan AMA dalam perhitungan beban modal untuk risiko operasional, bank diperbolehkan menghitung kebutuhan beban modal tersebut menggunakan kombinasi dari berbagai pendekatan yang antara lain berupa
Penggunaan rata-rata Gross Income selama 3 (tiga) tahun
Pendekatan berdasarkan kualitas lingkungan kontrol, yang didominasi oleh pertimbangan kualitatif dan lebih bersifat melihat ke depan
Penggunaan pendekatan kuantitatif dan Gross Income
Pendekatan BIA dan Standardized Approach
Dalam pendekatan The Standardized Approach (SA), bank harus meyakinkan pengawas (Bank Indonesia) bahwa bank telah memenuhi persyaratan minimum. Mana dari persyaratan berikut yang tidak harus dipenuhi
Pengawasan aktif Dewan Direksi dan Manajemen Senior dalam kerangka kerja manajemen risiko operasional
Memiliki unit pengendalian risiko dan fungsi audit yang independen
Memiliki fungsi manajemen risiko operasional dengan tanggung jawab yang jelas
Bank sudah membukukan laba tiga tahun terakhir
Adalah tuntutan bisnis kalau bank harus menciptakan kualitas layanan yang tinggi. Kegagalan bank untuk menjaga kualitas layanan akan memicu bank terekspos kerugian karena risiko
Risiko kredit
Risiko stratejik
Risiko operasional
Risiko reputasi
Bank wajib menyediakan modal untuk menutup risiko yang dihadapi bank, yaitu risiko yang tergolong sebagai
Risiko yang dapat diperkirakan (Expected Loss)
Risiko yang tidak dapat diperkirakan (Unexpected Loss)
Risiko penyelamatan kredit (recovery)
Risiko gagalnya nasabah membayar kewajibannya (default)
Pernyataan yang tepat dalam pemilihan metode yang akan digunakan bank dalam pengukuran risiko adalah :
Pendekatan yang sederhana adalah dengan metode standar dan pendekatan yang lebih kompleks adalah metode internal
Pendekatan yang sederhana adalah dengan metode internal dan pendekatan yang lebih kompleks adalah metode standar
Pendekatan yang sederhana adalah dengan menggunakan data kuantitatif
Pendekatan yang sederhana adalah menggunakan data kualitatif
Basel III secara formal diperkenalkan pada tahun 2010 sebagai respon atas krisis global yang terjadi di Amerika mulai tahun 2008. Pada intinya Basel III mengatur beberapa hal antara lain, kecuali
Dalam penghitungan modal, lebih mengandalkan modal equity dan membatasi quasy equity
Tambahan cadangan modal (buffer capital) sehingga kebutuhan modal minimum naik dari 8% menjadi 10,5%
Kewajiban bank menydiakan dana likuid berupa Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio
Dilarangnya transaksi derivative yang mengakibatkan bangkrutnya bank-bank investasi besar di dunia
Pengendalian risiko dilakukan oleh bank terutama yang dapat membahayakan kelangsungan usaha bank. Beberapa cara yang dilakukan oleh bank sebagai usaha pengendalian risiko adalah sebagai berikut, kecuali
Menjual produk rekdasana
Menutup asuransi
Melakukan transaksi lindung nilai (hedging)
Menambah modal bank
Sebagai bagian dari proses manajemen risiko, bank harus memiliki sistem informasi manajemen risiko yang dapat memastikan :
Kepatuhan pada ketentuan Basel
Sarana menciptakan produk baru
Image bank terlihat modern dalam bidang teknologi
Tersedianya laporan bagi manajemen senior secara akurat dan tepat waktu
Untuk menghindari terjadinya kerugian yang melebihi batas yang telah ditetapkan oleh bank, maka diperlukan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit. Sesuai dengan best practice, pemantauan limit risiko dilakukan dengan cara :
Membiarkan pelampuan limit karena perubahan faktor pasar bersifat sementara
Memastikan bahwa posisi yang melampaui limit sudah cukup mendapat persetujuan dari Satuan Kerja Audit Internal
Melakukan penyesuaian dan mengantisipasinya jika terdapat pelampauan limit sehingga tidak melebihi limit risiko yang telah ditetapkan sebelumnya
Jika terdapat pelampauan limit, maka perlu persetujuan unit kepatuhan
Krisis moneter dan perbankan tahun 1998 menjadi pelajaran berharga sehingga Bank Indonesia memberikan perhatian khusus dalam penerapan manajemen risiko dengan mengeluarkan regulasi. Beberapa Peraturan Bank Indonesia atau Surat Edaran Bank Indonesia yang dikeluarkan tidak terkait manajemen risiko adalah sebagai berikut :
Penerapan manajemen risiko untuk risiko likuiditas
Penerapan manajemen risiko secara konsolidasi bagi bank yang melakukan pengendalian terhadapa perusahaan anak
Pemilihan training provider sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan pejabat bank umum
Penerapan manajemen risiko dalam penggunaan teknologi informasi oleh bank umum
Mana transaksi perbankan di bawah ini yang dapat memicu terjadinya risiko kredit :
Menerbitkan obligasi jangka panjang dengan kupon tetap
Membeli obligasi yang diterbitkan oleh PT Indosat Tbk
Transfer dana nasbah ke bank luar negeri
Membeli obligasi yang diterbitkan oleh Pemerintah (SUN
Pada bisnis perkreditan bank, jika dibandingkan dengan kredit retail, monitoring kredit korporasi :
Tidak ada bedanya
Lebih mudah karena didukung data yang lebih lengkap
Lebih sulit karena strukturnya relatif kompleks
Sangat tergantung dari besarnya portofolio
Untuk mengendalikan risiko kredit, bank membuat kebijakan perkreditan. Kebijakan kredit tersebut pada umumnya tidak memuat dan mengatur hal-hal pokok sebagai berikut :
Prinsip kehati – hatian dalam perkreditan
Penyelesaian kredit bermasalah
Penyelesaian kredit bermasalah
Kebijaksanaan persetujuan kredit
Pernyataan yang paling benar terkait dengan penyusunan kebijakan perkreditan di bank adalah
Kebijakan prekreditan bank adalah sama persis dengan isi dari Peraturan Bank Indonesia tentang kebijakan perkreditan
Kebijakan perkreditan bank disesuaikan dengan kebutuhan bisnis bank
Kebijakan perkreditan bank mengatur secara terperinci tentang kebijakan kredit bank termasuk penetapan suku bunga kepada seorang nasabah
Kebijakan perkreditan bank biasanya digabung dengan prosedur perkreditan bank
Kebijakan kredit tidak terbatas hanya mengatur pemberian kredit biasa yaitu kredit bilateral namun termasuk pula kegiatan :
Pembelian surat berharga lain yang diterbitkan oleh nasabah
Penjualan surat berharga lain yang diterbitkan oleh nasabah
Pembelian aktiva tetap
Penjualan Bancassurance
Dalam bisnis perkreditan bank, kredit yang tidak perlu dihindari adalah sebagai berikut
Kredit yang memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki bank
Kredit kepada debitur bermasalah dan atau macet pada bank lain
Kredit yang diberikan bersama (sindikasi) dengan bank lain dalam rangka penyebaran risiko kredit serta memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku
Kredit yang diberikan tanpa informasi keuangan yang cukup
Sebuah bank berencana membiayai eksplorasi penambangan batubara. Sebelumnya bank tersebut belum pernah membiayai sektor pertambangan. Bank tersebut juga tidak mempunyai analisis yang mengerti tentang pertambangan. Maka rencana bank tersebut sebaiknya
Tidak diteruskan, karena bank tidak mengetahui bisnis pertambangan
Tetap dapat diproses dengan menggunakan konsultan
Tetap dapat diproses dengan persyaratan agunan yang mencukupi
Tetap ada jawaban yang benar
Hal berikut adalah hal yang pada umumnya tidak termasuk yang diatur pada kebijakan persetujuan kredit, yaitu
Konsep hubungan total pemohon kredit
Batas atau limit pemberian kredit kepada suatu nasabah
Batas wewenang persetujuan kredit
Tanggung jawab pejabat pemutus kredit
Current Ratio adalah salah satu metode untuk menilai likuiditas calon debitur. Pernyataan yang benar tentang risiko likuiditas tersebut adalah
Current Ratio adalah menggambarkan kemampuan untuk membayar seluruh hutang
Formula Current Ratio adalah jumlah saldo kas dan bank dibagi dengan hutang yang segera jatuh tempo
Saldo surat berharga yang dimiliki tidak termasuk dalam perhitungan aktiva lancar untuk menghitung Current Ratio
Kualitas Current Ratio juga perlu dinilai dengan Cash Ratio
Beda antara Current Ratio dan Quick Ratio adalah dalam hal
Penentuan faktor pembilang dari ratio
Penentuan faktor penyebut dari ratio
Penentuan faktor pembilang dan penyebut dari ratio
Persediaan tidak masuk dalam perhitungan current ratio
Debt Equity Ratio (DER) menentukan seberapa besar aktiva didanai dari hutang. Semakin besar nilai DER maka
Perusahaan dalam risiko tinggi
Pengelolaan Perusahaan lebih efisien
Risiko perusahaan dapat dikatakan meningkat
ROE atau Return on Equity akan meningkat
Rasio keuangan sangat penting untuk menilai kinerja usaha debitur. Mana dari pernyataan dibawah ini yang tidak tepat
Semakin tinggi perputaran piutang maka kondisi usaha semakin baik
Semakin tinggi perputaran persediaan maka kondisi usaha semakin baik
Semakin lambat perputaran piutang maka kondisi usaha dapat dikatakan menurun
Besarnya perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap kondisi debitur
Apabila ROE (return on equity) dari perusahaan debitur meningkat dan komposisi hutang dan modal tetap, maka
Pasti profit margin yang diperolah perusahaan meningka
Perputaran persediaan akan meningkat
Harga pokok penjualan pasti menurun
Indikasi bahwa ROA (Return on Assets) pasti meningkat
Untuk memahami permasalahan pada laporan historis rasio keuangan nasabah, dapat digunakan analisa Dupont dimana perubahan ROA (Return on Asset) dijelaskan dari perubahan :
Profit Margin dan Leverage
Total Asset Turn Over dan DER
Profit Margin dan Total Asset Turn Over
Profit Margin dan Liquidity Ratio
Apabila pada waktu dilakukan analisa kredit diketahui bahwa terjadi penurunan profit margin perusahaan debitur maka hal ini dapat disebabkan
Kenaikan volume penjualan, sedang harga penjualan tetap
Kenaikan harga penjualan, sedang volume penjualan tetap
Kenaikan biaya langsung dan tidak langsung
Kenaikan account receivable turnover
Dalam perjanjian kredit, berbagai persyaratan yang bersifat mewajibkan debitur harus memenuhi persayaratan tertentu atau melakukan tertentu disebut dengan affirmative covenant. Kondisi berikut yang bukan merupakan kelompok affirmative convenant, adalah
Menyerahkan laporan keuangan dan operasi secara periodik kepada Bank
Memenuhi persyaratan rasio keuangan tertentu
Memelihara modal kerja pada level tertentu
Melakukan merger atau konsolidasi atau mengakuisisi aset dari perusahaan lain
Berikut adalah salah satu tanda kinerja debitur menurun, yang kemungkinan besar akan dapat menimbulkan default yaitu
Membangun gedung baru
Piutang dagang meningkat
Kenaikan persediaan
Penjualan menurun
Dalam menghadapi kredit bermasalah, dapat dilakukan berbagai cara seperti rescheduling, reconditioning, likuidasi agunan dsb. Cara terbaik menentukan tindakan yang akan dipilih adalah
Rescheduling sedemikian sesuai kemampuan cash perusahaan
Likuidasi agunan secepatnya
Memberikan bunga yang sangat rendah agar cash flow terbantu
Memilih alternative dimana kerugian bank terkecil
