wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

SKB Fisioterapi Upper Extremity

Total questions: 108

Worksheet time: 1hrs 3mins

Name
Class
Date
1.

Otot-Otot Thenar Bagian Palmar dipersarafi oleh

a)

N. Medianus

b)

N. Axilaris

c)

N. radialis

d)

N. Ulnaris

2.

Otot-otot Thenar Bagian Dorsal tangan dipersarafi oleh

a)

N. Axiaris

b)

N. Radialis

c)

N. Ulnaris

d)

N. Medianus

e)

N. Kranialis

3.

Otot-otot Hypothenar dipersarafi oleh

a)

N. Medianus

b)

N. Ulnaris

c)

N. Axilaris

d)

N. Radialis

e)

N. kranialis

4.

Hiperktensi pada jari tangan dapat menyebabkan kerusakan ligamen

a)

Colateral

b)

Volar Plate

c)

Palmar carpometacarpal

d)

Radial Colateral

5.

Salah satu penanganan fisioterapi pada kasus strain pada Volar Plate adalah

a)

Buddy Tapping

b)

Theraband

c)

Joint Mobilization

d)

Traction

e)

Joint Compression

6.

Otot-otot Thenor tangan

a)

M. Flexor Policis Brevis

b)

M. Abductor Policis Brevis

c)

M. Abductor Policis

d)

M. Opponens Policis

e)

M. Flexor Policis Longus

7.

Gangguan Saraf akibat adanya penjepitan atau penekanan pada myelin disebut

a)

Neurapraxia, 1st degree

b)

Axonotmesis, 1nd degree

c)

Axonotmesis, 2rd degree

d)

Axonotmesis, 3th degree

e)

Neurotmesis, 1nd degree

8.

Putusnya jalinan akson, dengan kondisi endoneurium masih utuh disebut

a)

Neuropraxia, 1st degree

b)

Neurometsis, 1st degree

c)

Axonometsis, 1st degree

d)

Axonometsis, 2nd degree

e)

Axonometsis, 3rd degree

9.

Putusnya jalinan axon bersamaan dengan putusnya endoneurium, tetapi perineurium dan jaringan fasikular masih utuh disebut

a)

Neuropraxia 1st degree

b)

Neurotmesis 1st degree

c)

Axonotmesis 2nd degrre

d)

Axonotmesis 3rd degree

e)

Neurotmesis 5th degree

10.

Putusnya satu jaringan saraf dalam satu perineurium denga epineurium masih utuh disebut

a)

Neuropraxia, 1st degree

b)

Axonotmetis, 4th degree

c)

Axonotmesis, 5th degree

d)

Neurotmesis, 4th degree

e)

Neurotmesis, 5th degree

11.

Pada pemeriksaan carpal tunnel Syndrome dilakukan perkusi di atas kulit proximal N. Medianus, hasil positif jika pasien mengeluhkan keseentrum atau tingling pada Phalang 1-3. Test ini disebut

a)

Tinel Sign

b)

Phalen Test

c)

Wrist Compression Test

d)

Tourniquet Test

e)

Two Point Discrimination Test

12.

Test ini dilakukan selama 1 menit sebagai salah satu pendukung diagnosa Carpal Tunnel Syndrom

a)

Phalen Test

b)

Tinel sign

c)

Tourniquet test

d)

Two point discrimination test

e)

Wrist Compression test

13.

Pada manusia normal, torniquet test dapat menyebabkan parestesia pada N. Ulnaris. Parastesia pada N. Medianus dapat menjadi indikasi untuk

a)

TOCS

b)

Tenis elbow

c)

Golfer Elbow

d)

Double-crush syndrome

e)

Carpal Tunnel Syndrom

14.

Test ini dilakukan selama 1 menit dengan posisi lengan pasien fleksi dan rileks. Jika dama 1 menit pasien gejala muncul maka, hasil dinyatakan positif.

a)

Tinel Sign

b)

Phalen Test

c)

Wrist Compression Test

d)

Torniquet Test

e)

Two Point Discrimination Test

15.

Neuropatic pada kasus Thoracic Outlet Syndrom Terjadi karena adanya Compression pada Plexus.

a)

coroideus

b)

Brachialis

c)

celiac

d)

Meissner

e)

Auerbarch

16.

Plexus Brachialis yang melewati Thoracoclavicula merupakan gabungan dari beberapa nervus yaitu

a)

N. median

b)

N. Radialis

c)

N. Ulnaris

d)

N. Thoracics

e)

N. Subscapularis

17.

Test khusus Thoracic Outlet Syndrom

a)

Roos Test

b)

Adson Test

c)

Wright Test

d)

Eden Test

e)

Cryax Realese Test

18.

Pada sebuah test didapatkan hasil: Lengan pucat saat ditinggikan dan hiperemia saat lengan diturunkan. hal ini mengindikasikan bahwa pasien mengalami

a)

TOS e. c Hypetrophy M. Scaleni

b)

TOS e. c Artery Compression

c)

TOS e. c Vena Compression

d)

TOS e.c Brachial Plexus Compresion

e)

TOS e.c Pectoralis Minor Spasm

19.

Seorang pasien diperkirakan menderita TOS. Namun, saat diperiksa dengan Roos Stress Test ditemukan hasil:

Kesemutan pada phalang I-III bagian palmar. dari hasil ini dapat dicurigai pasien mengalami

a)

CTS

b)

Cervical Root Syndrome

c)

Plexus Brachialis Lession

d)

Reumathoid Arthritis

e)

Golfer Elbow

20.

Pada Roos Stress Test Pasien mengeluhkan nyeri area leher dan bahu. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa pasien mengalami.

a)

Diskus Cervical Compression

b)

M. Scaleni Compression

c)

M. Pectoralis Minor Compression

d)

N. Median Compression

e)

Plexus Brachialis Compression

21.

Abnormalitas pada otot yang dapat mengakibatkan TOS

a)

Pemendekan M. Scaleni

b)

Kontraksi berlebih M. Deltoideus

c)

Spasme M. Trapezius

d)

Penurunan Tonus M. Levator Scapula & M. Rhomboid

e)

Pemendekan M. Pectoralis

22.

Test Khusus yang dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi penekanan pada Subclaviculan Artery oleh cervical rib atau M. Scaleni (medial/anterior) compression disebut

a)

Eden Test

b)

Alen Test

c)

Adson Test

d)

Wright Test

e)

Roos Stress Test

23.

Pada pemeriksaan MMT pasien yang dicurigai TOS, Kekuatan Otot yang perlu diperiksa adalah

a)

M. Serratus Anterior

b)

M. Subscapularis

c)

M. Pectoralis

d)

M. Levator Scapula

e)

M. Sternocleidomastoid

24.

Untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan pada interval aksila (ruang posterior M. Pectoralis minor) pada kasus TOS dilakukan pemeriksaan

a)

Roos Stress Test

b)

Wright Test

c)

Adson Test

d)

Eden Test

e)

Cyriax Release Test

25.

Salah satu pemeriksaan TOS. Hasil Positif jika numbness atau paresthesia muncul bersama dengan gejala lainnya. Test ini dinamakan... dengan durasi test ...

a)

Roos Stress Test, 1 menit

b)

Adsons Test, 1 menit

c)

Wright Test, 1 menit

d)

Cyriax Release, 3 menit

e)

Adsons Test, 3 menit

26.

Untuk mengetahui adanya M. scaleni compression atau Os. Costa yang menyebabkan TOS, dilakukan pemeriksaan

a)

Adson Test

b)

Wright Test

c)

Cryax Release Test

d)

Roos Stress test

e)

Costoclavicular Manuver

27.

Salah satu test untuk mengetahui adanya compression pad Plexus Brachialis di area scalene triangle adalah dengan menggunakan Supraclavicular Pressure. Test ini dilakukan dengan menekan area..

a)

M. Medial Trapezius & M. Lateral Scaleni

b)

M. Upper Trapezius & M. Anterior Scaleni

c)

M. Suprascapularis & M. Anterior Scaleni

d)

M. Pectoralis Minor & M. Medial Scaleni

e)

M. Pectoralis Mayor & M. Mecial Scaleni

28.

Pasien diminta untuk menggerakkan Shoulder ke arah posterior (Retraksi) dan melakukan hyperflexion neck. Pemeriksaan khusu TOS ini disebut dengan pemeriksaan

a)

Supraclavicular Pressure

b)

Upper Limb Tension

c)

Cervical Rotation Lateral Fleksion

d)

Cyriax Release

e)

Costaclavicular Maneuver

29.

ULTT 1 dapat digunakan untuk mengetahui adanya gangguan pada

a)

N. Medianus

b)

N. Radialis

c)

N. Ulnaris

d)

N. Anterior Interosseous

e)

N. C5-C7

30.

ULTT II dilakukan untuk pemeriksaan pada

a)

N. Medianus

b)

N. Axilaris

c)

N. Anterior Interoseous

d)

N. C5-C7

e)

N. Musculo Cutaneus

31.

ULTT III dilakukan untuk memeriksa adanya gangguan pada

a)

N. Radialis

b)

N. Ulnaris

c)

N. Medianus

d)

N. Anterior Interosseous

e)

N. Musculo Cutaneus

32.

ULTT IV bertujuan untuk memeriksa

a)

N. Ulnaris

b)

N. Radialis

c)

N. Medianus

d)

N. C8-T1

e)

N. Musculo Cutaneus

33.

Posisi awal pasien terlentang, Sholder Abduksi 900, Elbow Fleksi 900 > Eksternal rotasi shoulder > Hold wrist dalam posisi full extension > Ekstensikan Elbow secara perlahan. Test ini dilakukan untuk memeriksa adanya stress pada

a)

N. Medianus

b)

N. Ulnaris

c)

N. Anterior Interosseous

d)

N. C5-C7

e)

N. Musculo Cutaneus

34.

Posisi awal pasien terlentang. Pemberian tekanan ke arah distal pada shoulder dengan hip terapis, shoulder sedikit abduksi, fleksi elbow 900, Hold wrist dalam posisi ekstensi full > arahkan elbow ke posisi ekstensi secara perlahan. Test ini dilakukan untuk memeriksa adanya stressor pada

a)

N. Medianus

b)

N. Musculocutaneus

c)

N. Axillariis

d)

N. Anterior Interosseous

e)

N. Radialis

35.

Posisi awal pasien terlentang, shoulder di tekan ke arah distal dengan thanan pada hip fisioterapis. Shoulder sedikit abduksi, Fleksi-Pronasi Elbow 900, Fleksi Wrist + Phalang Full > Elbow di-ekstensikan perlahan, merupakan test untuk mengetahui adanya stressor pada

a)

N. Ulnaris

b)

N. C8 - T1

c)

N. Radialis

d)

N. Musculocutaneus

e)

N. Medianus

36.

Posisi awal pasien berbaring terlentang, shoulder abduksi 900, elbow fleksi-Pronasi, hold wrist dengan Ekstensi penuh >Lateral Rotasi shoulder > fleksi elbow ke arah telinga. Prosedur tersebut merupakan test untuk mengetahui adanya stressor pada

a)

N. Medianus

b)

N. Anterior Interosseous

c)

N. C5-C7

d)

N. Ulnaris

e)

N. C8-T1

37.

Test yang dilakukan untuk memeriksa adanya hypomobility pada pasien dengan Brachialgia adalah

a)

Roos Stress Test

b)

Adson Test

c)

Eden Test

d)

Wright Test

e)

Cervical Rotation Lateral Flexion Test

38.

Maximal Cervical Compression Test dapat dilakukan dengan menggerakkan kepala pasien ke arah lateral fleksi (bisa ditambah dengan rotasi ke arah antagonist lateral fleksi) dengan diberikan fiksasi pada sholder. Tes ini dilakukan untuk memeriksa

a)

TOS

b)

Cervical Root Syndrom

c)

Lesi Plexus Brachial

d)

Spondylosis Cervical

e)

HNP Cervical

39.

Pemeriksaan tenderness pada tendon M. Extensor Digitorum comunis dan/atau M. Extensor Digitorum Radialis dengan mempalpasi lateral epicondle elbow, dengan melakukan passive stretches pada wrist ke arah fleksi dan pronasi. Posisi awal lengan pasien ekstensi dan relaks.

a)

Mill’s Test

b)

Cozen's Test

c)

Adson Test

d)

Yergason Test

e)

Writh Test

40.

Salah satu test khusus untuk memeriksa pasien yang dicurigai dengan tennis elbow, dilakukan pemeriksaan khusus dengan mengintruksikan pasien untuk melakukan gerakan dengan posisi awal fleksi-pronasi elbow, fleksi penuh wrist dan Phalang, radial deviasi wrist. Pasien diminta untuk menggerakkan lengannya ke arah medial dengan fisioterapis memberi tahanan pada kepalan tangan pasien sembari mempalpasi lateral epiclondyle. Pemeriksaan ini dikenal dengan

a)

Mill's test

b)

Cozen's test

c)

Sprung test

d)

Yergason test

e)

Adson Test

41.

Salah satu metoda untuk mengurangi gejala TOS yang dapat dilakukan pasien secara mandiri di rumah sebelum tidur.

a)

Pendulum Exercise

b)

Finger Ladder Exercise

c)

Cyriax Release maneuver

d)

Prayer exercise

e)

Neck calliet

42.

Salah satu cara untuk menjaga kestabilan kondisi pasien dengan TOS, salah satu program fisioterapi adalah dengan mengontrol posisi caput humeri. Hal ini dapat dilakukan dengan.

a)

Konsentrik-eksentrik Kontraksi

b)

Mid-level Isometrik Kontraksi

c)

Hold-Relax exercise

d)

Continous Passive Motion

e)

Cailliet Exercise

43.

Untuk membuka thoracic outlet, Fisioterapis dapat memberikan latihan berupa penguatan pada

a)

M. Levator Scapula

b)

M. Upper Trapezius

c)

M. Pectoralis

d)

M. Sternocleidomatoideus

e)

M. Scalene

44.

Stretching untuk mengurangi tekanan pada thoracic outlet diberikan untuk

a)

M. Upper Trapezius

b)

M. Sternocleidomastoideus

c)

M. Pectoralis

d)

M. Scaleni

e)

M. Lower Trapezius

45.

Mobilisasi yang dapat dilakukan untuk TOS.

a)

Posterior Glenohumeral Glide with Arm Flexion

b)

Posterior Glenohumeral Glide with Arm Abduction

c)

Anterior Glenohumeral Glide with Arm Flexion

d)

Anterior Glenohumeral Glide with Arm Scaption

e)

Inferior Glenohumeral Glide

46.

Arm Scaption adalah gerakan yang melibatkan kontraksi elevasi lempengan scapula dengan mengankat lengan ke arah antero-lateral untuk stabilisasi otot

a)

Sternacleidomastoideus

b)

Scaleni

c)

Upper trapezius

d)

Lower trapezius

e)

Serratus Anterior

47.

Posisi pasien saat dilakukan mobilisasi anterior glenohumeral glide with arm Scaption adalah

a)

Seated

b)

Half laying

c)

Prone laying

d)

Supine laying

e)

Side laying

48.

Posisi pasien saat dilakukan mobilisasi Posterior glenohumeral glide with arm flexion adalah

a)

Seated

b)

Half laying

c)

Prone laying

d)

Supine laying

e)

Side laying

49.

Arah gliding pada Posterior Glenohumeral Dengan fleksi lengan dilakukan ke arah

a)

Posterolateral

b)

Posteromedial

c)

Anterolateral

d)

Anteromedial

e)

Craniomedial

50.

Dalam pelaksanaan Inferior Gleno Humeral Glide, Proximal humerus distabilisasi dengan pasien prone laying, mobilisasi dilakukan dengan memobilisasi scapula ke arah

a)

Anterocaudal

b)

Anteromedial

c)

Craniomedial

d)

Posteromedial

e)

Posterolateral

51.

Seorang pasien didiagnosa Guyon canal Syndrome dengan gejala adanya gangguan sensorik dan motorik yang menyebabkan defisit sensorik pada otot hipothenar dan kelemahan otot pada disekitar area Phalang IV dan V. Pada kasus ini kompresi pada Guyon canal terjadi pada perbangan N.Ulnaris bagian

a)

Proximal

b)

Distal

c)

Medial

d)

Lateral

e)

Superficial

52.

Seorang pasien mengeluhkan kelemahan otot pada area jari kelingking dan jari manis. Tidak ditemukan kelemahan sensorik, nyeri tekan pada Extensor digitorum comunis (-). Dalam kasus ini, kemungkinan terjadi kompresi percabangan N. Ulnaris pada guyon canal di area

a)

Proximal

b)

Distal

c)

Dorsal

d)

Plantar

e)

Superficial

53.

Untuk memeriksa adanya gannguan pada N. Ulnaris dilakukan test dengan menggengam kertas dengang ibu jari dan telunjuk. Hasil test positif jika ibujari melakukan gerakan hiperfleksi. Test ini dinamakan

a)

Froment Test

b)

Thinel Test

c)

Frenkelstein Test

d)

Adson's test

e)

OK Sign test

54.

Salah satu test untuk memeriksa adanya gannguan pada N. Ulnaris yang menyebabkan kelemahan M. interossea adalah dengan cara

a)

Wartenberg Sign

b)

Palen Test

c)

Thinel Sign

d)

Froment Test

e)

Allen test

55.

Untuk membedakan Guyon Tunnel Syndrome dan Cubital Tunnel, dapat dilakukan test

a)

Scratch Collapse Test

b)

Allen Test

c)

Mill Sign

d)

Phalen Test

e)

Frinklestein Test

56.

Salah satu tes untuk memeriksa adanya tear pada epicondylus lateralis adalah dengan menginstruksikan pasien untuk berdiri dibelakang kursi, pasien diminta mengangkat kursi dengan tiga jari (jempol-jari tengah), jika pasien mengeluhkan nyeri pada bagian epycondilus lateral maka hasil test dinyatakan positif. Tes ini disebut dengan

a)

Cozen Test

b)

Chair Test

c)

Mill's Test

d)

Maudley's Test

e)

PrTEEQ Test

57.

Untuk memeriksa bagian otot yang mengalami tenderness pada epicondylus lateralis, pasien diminta untuk melawan tahannan Fisioterapis dalam gerakan ekstensi jari tengah. Tes ini dinamakan dengan

a)

Maudsley's Test

b)

Cozen Test

c)

Chair Test

d)

Mill Test

e)

Yergason Test

58.

Pemberian steroid injection pada origo extensor brevis efektif selama

a)

1 bulan

b)

2 bulan

c)

3 bulan

d)

4 bulan

e)

5 bulan

59.

Salah satu intervensi yang yang paling efektif untuk mengurangi gejala tendinitis adalah dengan pemberian

a)

Friction Massage

b)

Clapping Massage

c)

Pounding Massage

d)

Effleurage Massage

60.

pemberian massage pada fase akut baru dapat dilakukan setelah

a)

12 jam

b)

24 jam

c)

48 jam

d)

72 jam

e)

4 jam

61.

Intervensi fisioterapi pada Tennis Elbow

a)

Cyriax theraphy

b)

Stretching

c)

Flexbar Exercise

d)

Prayer Exercise

e)

Distraction

62.

Seorang pasien diperkirakan mengalami subacromial impigmentation. Untuk meguatkan prognosis, dilakukan test painful arch. dengan diagnosis tersebut kemungkinan akan ditemukan nyeri pada sudut

a)

900-1200

b)

700-1200

c)

1200-1800

d)

600-900

e)

600-700

63.

Shoulder pasien diposisikan fleksi 900 dengan elbow fleksi 900. fiksasi pada inferior humerus dan hold pada wrist. Fisioterapis menggerakkan lengan pasien ke arah internal rotasi. jika pasien mengeluhkan nyeri maka hasil positif untuk dugaan impigmentasi subacromion, Test ini dinamakan dengan

a)

Hawkins/Kennedy Test

b)

Yergason Test

c)

Allen Test

d)

Cozen Test

e)

Maudsley Test

64.

Adanya kompresi pada upper plexus brachialis ditandai dengan adanya weakness pada

a)

M. Triceps Brachii

b)

M. Biceps Brachii

c)

M. Deltoideus

d)

M. brachialis

e)

M.cutaneus

65.

kompresi pada lower plexus brachialis dapat didentifikasi dengan melihat ada tidaknya numbness dan weakness pada tangan, terutama pada

a)

M. Abductor Pollicis Brevis

b)

M. Deltoideus

c)

M. Digiti minimi opponent

d)

M. Adductor Pollicis Longus

e)

M. Pollicis opponent

66.

Pasien mengeluhkan kelingkingkin kanannya tidak bisa ditrkuk, ditemukan adanya kelemahan pada otot-otot hypothenar. Dari pemeriksaan tersebut pasien mungkin mengalami

a)

Ulnar Nerve Compression

b)

Radial Nerve Compression

c)

Median Nerve Compression

d)

Lower Branch Plexus Brachialis

e)

Upper Branch Plexus Brachialis

67.

Pada Plexus Brachialis Pasien tidak disarankan untuk menggunakan Sling Karena

a)

Dapat memicu dislokasi pada sendi

b)

Menyumbat aliran darah

c)

Memicu terjadinya kontraktur

d)

Memyebabkan kelemahan otot

e)

Menyebabkan stiffness pada elbow

68.

Seorang Pasien mengeluhkan sulit mengangkat tangan ke depan, pada pemeriksaan inspeksi ditemukan posisi scapula pasien menonjol ke belakang. Fisioterapis meminta pasien untuk berdiri menghadap tembok dan mendorong tembok dengan posisi elbow fleksi. Pada pemeriksaan tersebut ditemukan margo medial scapula tegak lurus dengan spina vetebrae, otot yang mengalami kelemahan adalah

a)

M. Pectoralis Major

b)

M. Pectoralis minor

c)

M. Trapezius

d)

M. Serratus Anterior

e)

M. Rhomboideus

69.

Hasil Positif Pada Yergason Test menandakan

a)

Tendinitis Biceps Brachii

b)

Bursitis Acromioclavicular bursae

c)

Impigment acromioclvicular joint

d)

Adhesif Capsulitis

e)

Plexus Brachialis Compression

70.

Dalam kasus winged scapula, Margo Medial Scapula ditemukan menjauhi spina vetebrae dan angulus lateral scapula ditemukan lebih rendah dari posisi normal saat pemeriksaan mendorong dinding, dapat disimpulkan otot yang mengalami kelemahan adalah

a)

M. Pectoralis Minor

b)

M. Pectoralis Mayor

c)

M. Upper Trappezius

d)

M. Serratus Anterior

e)

M. rhomboideus

71.

Untuk mengetahui adanya kelemahan otot Interrosei yang mungkin diakibatkan oleh guyon canal syndrom, pasien diminta untuk meletakkan tangannya diatas permukaan datar, fisioterapis memposisikan jari-jari pasien full abduksi dan meminta pasien melakukan gerakan adduksi seluruh jari, hasil positif jika pasien tidak mampu melakukan grerakan adduksi jari kelingking. Test ini disebut dengran test

a)

Wattenberg test

b)

Eddison Test

c)

Neer Test

d)

Franklestein test

e)

Forment Test

72.

Seorang Pasien dicurigai mengalami TOS, Fisioterapis melakukan pemeriksaan khusus dengan prosedur: pasien dalam posisi duduk. Terapis mempalpasi arteri radialis pasien dengan posisi lengan pasien abduksi 45045^0  Pasien diminta untuk mengekstensikan neck lalu menghadap ke arah tangan yang diperiksa. test ini disebut dengan .... untuk memeriksa...

a)

Adson Test-Penjepitan pada area sub axilliaris

b)

Wrigh test- Penjempitan pada arteri subclavian oleh os costa

c)

Wright test - Penjepitan saraf oleh M.scaleni

d)

Adso Test test - Pemendekan m. Scaleni medial an lateral srta

e)

Adson Test-Penjepitan pada arteri subclavian oleh os costa

73.

Seorang pasien mengeluhkan nyeri pada lengannya terutama saat menekuk siku. Fisioterapis melakukan pemeriksaan Valgus Stress Test dan didapatkan hasil poitif. pasien tersebut kemungkinan mengalami

a)

Collateral Medial Ligament Tear

b)

Collateral Lateral Ligament Tear

c)

Lateral Epycondilus Tendinitis

d)

Medial Epyconilus Tendinitis

74.

Seorang pasien didiagnosa menderita epycondilitis medial, Fisioterapis menyarankan pasien untuk memakai alat bantu untuk menfiksasi lengannya agar nyeri tear tidak bertambah parah. alat yang direkomendasikan fisioterapis adalah:

a)

Brace

b)

Sling

c)

Kinetic Tapping

d)

Splint

75.

Untuk pasien dengan Dupuytren Contracture, Operasi sangat disarankan apabila MCP joint mengalami kontrakur dengan kondisi  \  

a)

Fleksi

b)

Fleksi 10020010^0-20^0  

c)

Ekstensi

d)

Ekstensi

e)

Fleksi

76.

Pada tahap awal Dupuytren Contracture, Kolagen tipe III mendominasi, yang dalam kondisi non-disease akan menjadi tipe I. Kolagen tipe IIi adalah

a)

Tulang, kornea, jaringan vaskular, organ internal, tendon, fibrokatilago

b)

Tulang, gigi, jaringan vaskular, ligamen, jaringan kartilago,sinovial

c)

Kulit, ligamen, jaringan vaskular,bagian dasar membran jaringan, organ internal

d)

Tulang, kulit, ligamen, otot skeletal, tendon, kartilago, Paru-paru

e)

kulit, ligamen, jaringan vaskular, organ internal,

77.

Penatalaksaan Fisioterapis pada tahap konservatif dupuytren adalah

a)

Ultrasound dan pemakaian brace/splint

b)

modalitas galvanic dan friksi

c)

parafin dan pemakaian brace/splint

d)

infrared dan friksi

e)

microwave diathermi dan friksi

78.

Seorang pasien mengeluhkan nyeri saat menggerakkan jarinya, saat diperiksa ditemukan odem pada metacarpal 3 disertai dan pada pemeriksaan palpasi ditemukan nodule pada metacarpal 3 disertai bunyi crack saat jari diposisikan ekstensi. Impairment pada kasus tersebut terjadi pada

a)

A1 Pulley

b)

A2 Pulley

c)

C1 Pulley

d)

C2 pulley

e)

A3 Pulley

79.

seorang pasien didiagnasa triger finger, fisioterapisingin menyrankan pasien untuk memakai alat bantu untuk fiksasi jari pada MCP. alat bantu yang disarankan adalah

a)

Sling

b)

Brace

c)

Kinetic Tapping

d)

Splint

e)

Wraper

80.

exercise yang dapat diberikan pada kasus triger finger adalah

a)

Digit Blocking

b)

Buddy Tapping

c)

Player Exercise

d)

Tendon Gliding

e)

AROM exercise

81.

Seorang pasien didiagnosa triger finger . fisioterapis memberikan intervensi berupa terapi modalitas. modalitas yang diberikan pada pasien adalah

a)

MWD

b)

SWD

c)

Parafin Bath

d)

Galvanic Electrostimulation

e)

Ultrasound

82.

Seorang pasien mengeluhkan nyeri pada jari telunjuknya. ditemukan adanya edema pada medial phalang I dan eritema. Fisioterapis melakukan pemeriksaan khusus dengan posisi awal jari pasien diletakkan di pinggir meja, metacarpal fleksi 90090^0  dan phalang netral. Pasien diminta untuk meluruskan jarinya, dari pemeriksaan tersebut, ditemukan hyper extension pada distal phalang. Apakah nama pemeriksaan tersebut

a)

Elson test

b)

Adson test

c)

Mill Test

d)

Tabletop Test

e)

Wright test

83.

Pada Elson Test, hasil positif menandakan adanya ruptur pada

a)

Volar Band

b)

Central slip of the Extensor Tendon

c)

Medial Colateral Ligament

d)

Lateral slip of the Extensor Tendon

e)

Dorsal Lumbricus Interossei Ligament

84.

Serang pasien mengeluhkan tidak dapat mengangkat bagian bawah jarinya setelah terjatuh saat bermain bulu tangkis. Pada pemeriksaan X-ray tidak ditemukan kelainan tulang. Elson Test (-) dan ditemukan flopi pada distal phalang. diagnosa berdasaran hasil test tersebut adalah

a)

Mallet Finger

b)

Triger Finger

c)

Boutonniere Deformation

d)

Dupuytren

e)

Jamed finger

85.

Pada kasus dislokasi pada jari, pasien disarankan menggunakan splint selama 2-3 minggu dan diikuti dengan pemasangan Buddy tapping selama

a)

1 minggu

b)

2 minggu

c)

3 minggu

d)

4 minggu

e)

10 hari

86.

Seorang pasien mengeluhkan kesulitan menggerakkan jarinya. dari hasil pemeriksaan ditemukan Elson test (-), bunnel littler test (+), Hyperextension proximal phalang, dan flopy pada distal phalang. Diagnosa daari kondisi tersebut adalah

a)

Swan neck deformity

b)

Buotonniere deformity

c)

Triger finger

d)

Mallet finger

e)

Bupuytren Contracture

87.

Seorang pasien mengeluhkan ketidakmampuan mengangkat lengan kanan setelah jatuh dari sepeda motor. Hasil pemeriksaan X-ray tidak ditemukan adanya kerusakan tulang. Spurling test (-), Neck Compression test (-), Ditemukan atropi pada otot deltoideus, Bicepsh Brachii, dan Brachialis , MMT fleksi dan Abduksi shoulder (1). berdasarkan pemeriksaan tersebut, pasien dapat didiagnosa

a)

Plexus Brachialis Injury-Erb's Palsy

b)

Plexus Brachialis injury-Klumke Palsy

c)

Plexus brachialis compression e.c TOCS

d)

Cervical Root Syndrom

e)

Plexus Brachialisis total Lession

88.

Seorang pasien didiagnosa mengalami Lesi Brachial Plexus pada bagian Upper. dari hasil inpeksi fisioterapis ditemukan adanya deformitas. defomitas yang dimaksud adalah

a)

Addukction Shoulder

b)

Abduction Shoulder

c)

Extention Elbow

d)

Pronation Elbow

e)

Flexion elbow

89.

Seorang pasien didiagnasa Rotator cuff muscle. untuk menguatkan diagnosa fisioterapis melakukan pemeriksaan dengan meminta pasien untuk meletakkan tangannya di belakang punggung dengan posisi palmar tangan menghadap ke arah posterior. Test ini dinamakan untuk mengetahui .. adanya tear pada ...

a)

Drop Arm Test - Supraspinatus & Infraspinatus Tendon

b)

Hornblower Sign - Teres Minor Tendon

c)

Jobe's Test - Supraspinatus & Infraspinatus Tendon

d)

External Rotation Lag sign - Supraspinatus & Infraspinatus Tendon

e)

Lift Off Test - Subscapularis Tendon

90.

Test untuk mengetahu adanya tear pada M. Subscapularis adalah

a)

Drop Arm Test

b)

Belly Press Test

c)

Belly-off Sign Test

d)

Hornblower Sign Test

e)

Bear Hug Test

91.

Seorang pasiern mengeluhkan nyeri pada bahu saat menggerakkan lengannya. Setelah dilakukan Assesment ditemukan hasil: Lag Off Test (+), Belly Press Test (+), Hornblower Sign (+), Neer Test (-), drop Arm test (-), Jobe's Test (-), Rotation Lag Test (-). Dari hasil pemeriksaan tersebut, dapat disimpulkan impairment terjadi karena adanya tear pada tendon

a)

Subscapularis

b)

Infraspinatus

c)

Supraspinatus

d)

Teres Minor

e)

Teres Major

92.

Seorang pasien datang dengan diagnosa Rotator Cuff Tear. Fisioterapis, melakukan pemeriksaan khusus uuntuk memperkuiat diagnosa dan didapatkan hasil: Neer Test (+), Rotation Lag test (+), Drop Arm test (+), Hornbowler Sign Test (-), Belly Press Test (-), Bear Hug test, (-) Rotator Lag Test (+), Lift Off Test (-). Dari hasil pemeriksaan tersebut Impairment terjadi pada tendon

a)

Subscapularis

b)

Infraspinatus

c)

Supraspinatus

d)

Teres Minor

e)

Teres Major

93.

Seorang wanita berusia 45 tahun mengeluhkan nyeri tidak tertahankan pda bahu, nyeri sudah dirasakan lebih dari 2 minggu lalu dan semakin parah tiap harinya, nyeri bertambah parah pada malam hari, dan ia merasa bahunya semakin sulit untuk digerakkan. Dari Pemeriksaan ROM, ditemukan keterbatasan pada Eksternal Rotasi dan Abduksi, Spasme dan Thigness pada Otot Rotator Cuff dan Painful arc sign (+). Diagnosa Fisioterapi berdasarkan pemeriksaan tersebut adalah

a)

Frozen Shoulder-Painfull Phase

b)

Frozen Shoulder-Acute Phase

c)

Frozen Shoulder-Stiffening Phase

d)

Frozen Shoulder-Thawing Phase

e)

Frozen Shoulder-Freezing Phase

94.

Seorang pasien mengeluhkan nyeri pada bahunya, fisioterapis melakukan pemeriksaan khusu dengan cara menmposisikan elbow fleksi 90090^0  dan elevasi scapula 20020^0  . pasien diminta mempertahankan posisi tersebut sementara terapis melepas lengan pasien. Pasien tidak mampu mempertahankan posisi tersbut, maka dapat disimpulkan pasien mengalami

a)

Infraspinatus / Supraspinatus Tendon Tear

b)

Teres Minor Tendon Tear

c)

Subscapularis Tendon Tear

d)

Anterior Ligament GH Joint Tear

e)

Superior Ligament GH Joint Tear

95.

Seorang wanita mengeluh nyeri saat menggerakkan bahunya. Fisioterapis melakukan pemeriksaan khusus dengan meminta pasien untuk menekuk kedua sikunya 90090^0   ke depan dan meminta pasien mendorong tahanan terapis ke arah lateral, test ini berguna untuk mengetahui adanya tear pada tendon

a)

Supraspinatus

b)

Infraspinatus

c)

Teres Major

d)

Teres Minor

e)

Subscapularis

96.

Fisioterapis memposisi lengan posien dalam posisi Abduksi Shoulder 90090^0   fleksi Elbow 90090^0   tegak lurus dengan scapula. Pasien diminta mendorong tahan terapis ke arah External Ratasi. Pemeriksaan ini dikenal dengan ... untuk memeriksa tear pada ...

a)

Neer Test - Infraspinatus Tendon

b)

Jobe's Test - Infraspinatus Tendon

c)

Hornbowler Test - Teres Minor Tendon

d)

External Ratation Lag Test - Supraspinatus Tendon

e)

Lift-off Test - Subscapularis Tendon

97.

Saat memeriksa pasien dengan Frozen shoulder, untuk stabilitas ligamen yang dapat menandakan stifness general. Shoulder pasien diposisikan

a)

Fleksi

b)

Ekstensi

c)

Horizontal Abduksi

d)

Adduksi  

e)

Abduksi

98.

Fisioterapis ingin memeriksa adanya stiffness pada ligament pasien dengan diagnosa frozen shoulder. Pasien diposisikan prone lying, terapis melakukan Anteromedial glide dengan shoulder adduksi 45045^0  ,Abduksi 90090^0  , dan eksternal rotasi. lgament yang diperiksapada kondisi tersebut adalah

a)

Anterior Band

b)

Superior Band

c)

Inferior Anterior Band

d)

Inferior Posterior Band

e)

Posterior capsule

99.

Pemeriksaan Posterior band ligament pada pasien Frozen Shoulder dilakuka dengan gliding ke arah

a)

Anteromedial - 45045^0  Adduksi, 90090^0  Abduksi, Eksternal Rotasi

b)

Posteromedial - 45045^0  Adduksi, 90090^0  Abduksi, Eksternal Rotasi

c)

Anterolateral - 15015^0  Adduksi, 90090^0  Abduksi, lnternal Rotasi Penuh

d)

Posterolateral - - 15015^0  Adduksi, 90090^0  Abduksi, lnternal Rotasi Penuh

e)

Anterocranial - 45045^0  Adduksi, 90090^0  Abduksi, Eksternal Rotasi

100.

Pasien dalam posisi supine lying, Fleksi Shoulder 90090^0  , Internal rotasi penuh dan end range adduksi, tanslasi shoulder dengan pemberian tekanan axial ke arah posterolateral. Prosedur tersebut dilakukan untuk memeriksa

a)

Anterior Band

b)

Superior Band

c)

Inferior Posterior Band

d)

Inferior Anterior Band

e)

Posterior capsule

101.

Anterosuperior translation pada gleno humeral joint terjadi pada gerakan

a)

Fleksi

b)

Abduksi

c)

Internal Rotasi

d)

Eksternal rotasi

e)

Adduksi

102.

Pada shoulder, Translasi ke ara posterior terjadi pada gerakan

a)

Abduksi

b)

Adduksi

c)

Ekstensi

d)

Internal Rotasi

e)

Fleksi

103.

seorang Pasien mengeluhkan nyeri pada bahu sejak 3 minggu lalu. hasil pemeriksaan terdapat keterbatasan gerak pada glenohumeral joint, edema (-), VAS 7. Intervensi yang dilakukan fisioterapis pada pasien tersebut adalah

a)

TENS

b)

Ultra Sound

c)

Stretching

d)

Strengthening

e)

Shoulder Joint Manipulation

104.

seorang pasien sudah 6 bulan didiagnosa Frozen shoulder. Hasil pemeriksaan fisioterapis terdapat spasme pada Rotator cuff Muscle dan M. Trapezius, VAS (4), Eritema (-), suhu lokal normal. Tindakan fisioterapis pada vase ini adalah

a)

TENS

b)

Ultra Sound

c)

Stretching

d)

Strenghthening

e)

Glenohumeral Joint Manipulation

105.

Seorang pasien mengeluhkan nyeri pada bahunya, nyeri bertambah saat malam hari dan sering muncul saat tidur atau istirahat. Dari hasil pemeriksaan, fisioterapis, ditemukan keterbatasan gerak pada glenohumeral joint, bunyi krepitasi saat digerakkan, odem (+). Diagnosa fisioterapis pada pasien diatas adalah

a)

Frozen Shoulder

b)

Rotator Cuff Tear

c)

GH OA

d)

Shoulder Impigment

e)

Acromioclavicular Joint Dissorder

106.

Fisioterapis melakukan press down proximal humerus denga menfiksasi elbow. Prosedur tersebut merupakan ... untuk meningkatkan

a)

Postero Glide

b)

Antero Glide

c)

Postero Lateral Glide

d)

Antero Lateral Glide

e)

Inferior Glide

107.

Sorang wanita 45 tahun datang ke fisioterapis dengan diagnosa frozen shoulder, impaiment telah dirasakan pasien lebih dari 7 bulan, VAS 7, Intervensi Fisioterapis untuk meningkatkan mobilisasi sendi dengan neminimialisir nyeri adalah

a)

Joint Mobilitation Maitland grada I & II

b)

Joint Mobilitation Maitland grade III & IV

c)

High Velocity and Short Amplitude Movement

d)

Hight Grade Mobilititation Tecnique

e)

Low Grade Mobilititation Tecnique

108.

Terapis melakukan pemeriksaan dengan menstabilisasi shoulder dan menggerakan secara pasif lengan pasien gerakan fleksi shoulder dan internal rotasi. Test ini dinamakan .... untuk mengetahui

a)

Neers Test-Subacromion Impigment

b)

Hawkin's Sign-Subacromion Impigment

c)

Yeergason Test-Subacromion Impigment

d)

Neers Test-Posterial elbow Impigment

e)

Hawkin's Sign-Posterial elbow Impigment