NEW
Font size
WorksheetsCerita Pendek
Total questions: 50
Worksheet time: 1hrs 15mins
Struktur yang berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan tokoh, waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen terdapat dalam ....
abstrak
perkenalan
komplikasi
deskripsi umum
Penyelesaian pada teks cerpen adalah tahapan di mana ....
pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
berbagai kerumitan bermunculan
konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
konflik mencapai sebuah selesaian dan menemukan solusi
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
Pada hari Lebaran yang kedua Mintuk minta pamit dan pangestu ke seluruh keluarga di desanya. Ia sudah bertekad mau mengadu nasib di Jakarta. Tidak ada gunanya menjadi buruh tani menggarap sawah orang lain di desanya. Orang harus berani mengambil keputusan untuk menentukan jalan hidupnya, dan aku sudah memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
Meninggalkan Sawit desa sunyi yang sudah tidak memberi harapan apa-apa lagi kepadanya. Meninggalkan ibunya yang tua, dan saudara-saudaranya yang lebih suka menggembala itik di pinggir sungai, meskipun bukan miliknya sendiri. Aku akan pulang kelak dengan kacamata hitam, jaket, celana, sepatu, dan arloji yang dipakai Ngatiyo, aku harus membuktikan kalau aku mampu.
Aku akan cari duit di Jakarta. Aku mau bekerja jadi .....
Jadi apa?
Kata Ngatiyo bisa jadi apa saja. Ah, kalau begitu. Jakarta memang surga, bayangkan jadi apa saja!
Latar tempat kutipan cerita di atas adalah ....
Desa Sawit
Kota Jakarta
pinggir sungai
sawah
Pada hari Lebaran yang kedua Mintuk minta pamit dan pangestu ke seluruh keluarga di desanya. Ia sudah bertekad mau mengadu nasib di Jakarta. Tidak ada gunanya menjadi buruh tani menggarap sawah orang lain di desanya. Orang harus berani mengambil keputusan untuk menentukan jalan hidupnya, dan aku sudah memutuskan untuk pergi ke Jakarta.
Meninggalkan Sawit desa sunyi yang sudah tidak memberi harapan apa-apa lagi kepadanya. Meninggalkan ibunya yang tua, dan saudara-saudaranya yang lebih suka menggembala itik di pinggir sungai, meskipun bukan miliknya sendiri. Aku akan pulang kelak dengan kacamata hitam, jaket, celana, sepatu, dan arloji yang dipakai Ngatiyo, aku harus membuktikan kalau aku mampu.
Aku akan cari duit di Jakarta. Aku mau bekerja jadi .....
Jadi apa?
Kata Ngatiyo bisa jadi apa saja. Ah, kalau begitu. Jakarta memang surga, bayangkan jadi apa saja!
Tokoh utama penggalan cerita di atas adalah ....
ibunya
Ngatiyo
Mintuk
aku
"Bu, kesalahanku terhadap Ayah dan Ibu terlalu besar. Kini ayah sudah tidak bisa kuminta ampunan. Dan ibu belum mengatakan bahwa ibu telah memaafkan kesalahanku. Bu, katakan dulu ibu telah memberi ampun kepadaku."
Kudengar ibu melepas desah lirih dan panjang. Tanganya yang lembut membelai rambutku.
"Ya, Yuning, ya kau memang telah berlaku kurang hormat kepada ayahmu, almarhum. Bersyukurlah karena kau mempunyai ayah yang berlapang dada. Dengar, Yuning, ayahmu pergi dengan hati damai. Aku telah mendengar sendiri dia telah memaafkanmu."
Watak tokoh dalam kutipan cerpen tersebut dapat diketahui dari ....
ucapan tokoh Ayah.
ucapan tokoh Ibu
ucapan tokoh Yuning
ucapan tokoh Ibu dan Ayah
"Punya karcis lebih?"
Aku mengangguk. Kuraih selembar karcis lagi dari saku jasku. Ia mengais uang receh dari saku celananya dan menghitung empat ratus lira.
"Tak usah!" tolakku. "Aku tak jadi miskin mentraktirmu naik bus."
Ia tersenyum sambil mengucap terima kasih. Tersenyum karena mendapat karcis gratis. Tersenyum karena bahasa Prancisku lumayan. Tersenyum karena aku memang tidak jelek. Mungkin!
Amanat yang dapat diambil dari kutipan cerpen tersebut adalah ....
mensyukuri keadaan
menawarkan bantuan kepada orang lain
berbuat baik sesama orang
memberi bantuan orang lain
Usai pembagian rapot di sekolah, akhirnya aku bisa menikmati liburan panjang. Meskipun aku tidak mendapat rangking atas, tapi aku tetap mendapat nilai yang lumayan baik. Aku tetap bahagia karena membayangkan keluargaku mengajak aku pergi liburan. Sudut pandang penggalan cerita di atas adalah ....
orang ketiga pelaku sampingan
orang ketiga serba tahu
orang pertama pelaku sampingan
orang pertama pelaku utama
Pada suatu sore ibu mengetuk pintu kamarku dan bilang kepadaku “Kamu segera mandi ya, Ibu tunggu di luar.” Aku menjawabnya “Loh kita mau kemana bu?” Lalu ibu menjawab “Ibu mau mengajak kamu jalan-jalan ke taman kota, ya sekalian masa kau di rumah terus.” Sontak aku merasa senang, “yang benar Bu, oke kalau begitu aku mandi dulu.” Latar tempat pada kutipan cerpen di atas adalah ....
di taman
di kamar
di rumah
di kamar mandi
Setelah itu aku pergi ke taman kota bersama ibu. Meskipun hanya jalan-jalan sore di sekitar taman, aku sudah merasa senang sekali. Mungkin ini karena aku terlalu lama berdiam diri di rumah dan baru kali ini menikmati jalan-jalan. Yang pasti aku sangat senang karena ibu mengajak aku jalan-jalan. Latar waktu pada penggalan cerpen di atas adalah ...
siang hari
sore hari
pagi hari
siang menjelang sore
Hari-hari telah berlalu dan aku hanya menikmati libur sekolahku di rumah saja. Meskipun aku sebenarnya juga ingin pergi ke luar rumah bersama teman-teman. Tapi ibu melarangku pergi ke luar, dan hanya menyuruhku membantu melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih rumah. Kalaupun aku keluar hanya saat ke pasar dan itu pun juga ditemani oleh ibu.
Namun aku tetap melakukan pekerjaan yang produktif seperti belajar untuk menyambut ujian nasional yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Sebenarnya aku juga merasa suntuk berada di rumah terus. Terkadang aku ingin menolak permintaan ibu saat menyuruhku, tapi aku cuma bisa terima dan melakukannya. Amanat yang terdapat pada penggalan cerpen di atas adalah ...
Mengajarkan sikap mandiri dan memanfaatkan liburan dengan produktif.
Waktu liburan digunakan untuk jalan-jalan.
Waktu liburan adalah waktu untuk bersantai.
Waktu liburan adalah waktu untuk berkumpul bersama teman-teman.
(1) Betapa gembiranya Lisa. (2) Saat pulang sekolah ia mendapat tawaran dari pamannya untuk jalan-jalan ke Banjarmasin. (3) Lisa sangat senang karena ini sudah lama ia inginkan. (4) Duta mall adalah tujuan mereka.
Latar waktu yang menunjukkan siang hari pada kutipan cerita di atas terdapat pada nomor ....
(1)
(2)
(3)
(4)
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Jon dan Con anak kembar. Jon kepala regu dan aku wakilnya. Kami bersepuluh sedang memandang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan saksama dari puncak bukit. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong kampung-kampung di bawah kami dari semak-semak. Jon melambai dan aku mendekat. “Aku akan turun ke kampung di bawah itu.”
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
daerah patroli
puncak bukit
kampung
semak-semak
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong. ”Begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya. ”Dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah ….
banyak bangsal yang kosong
susahnya menjadi orang miskin
tubuhnya digerogoti penyakit
buruknya pelayanan rumah sakit
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasannya telah lenyap. Juga televisi dan beberapa perlengkapan elektronik yang ada di ruang tengah.
Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”
Tema cerita yang pas untuk cerita di atas adalah ....
pencurian
kesedihan
kekhawatiran
kelalaian
Ketika burung-burung telah pulang ke sarangnya, ayah menerima kabar dari seseorang bahwa teman ayah tewas tertembus timah panas. Hal ini amat memalukan sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi, “Aku sudah malu padamu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yang Engkau perintahkan.” Tatkala mentari telah mengintip bumi, ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya ke dalam bumi ini.
Latar waktu dan suasana kutipan cerpen tersebut adalah ….
malam hari yang hening, menegangkan
pagi dan siang hari, memalukan
siang dan sore hari, mencemaskan
malam dan pagi hari, mengenaskan
Bacalah teks cerpen berikut!
(1) Teman-teman Fajar bersorak gembira. (2) Daffa terkulai lemas karena layang-layang putus. (3) Senja pun tiba. (4) Ketika terdengar suara azan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid. (5) Berita kemenangan Fajar atas Daffa makin menambah keyakinan anak-anak desa itu bahwa layang-layang milik Fajar memang sakti. (6) Fajar menjadi makin tinggi hati.
Bukti nilai agama terdapat pada kalimat bertanda nomor ….
1
2
3
4
Hari ini cuaca begitu cerah. Berbeda suasana jiwaku yang penat karena setumpuk tugas. Namun, sekarang aku harus mulai bangkit dari tidurku dan mandi karena pagi ini aku harus bekerja keras.
Latar waktu kutipan cerpen adalah ....
pagi hari
siang hari
sore hari
malam hari
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi geletar punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Di sini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang menyaru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemerisik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Latar kutipan cerpen tersebut adalah …
di hutan, pagi hari
di desa siang hari
di sungai, sore hari
di sungai, malam hari
Usman merasa terusik dengan langkah-langkahku, dan puncaknya saat kepala sekolah menunjuk aku sebagai koordinator menggantikanya. Dia terlihat semakin tidak senang.
Sifat tokoh Usman dalam cerpen di atas adalah .…
suka menghasut
sombong
iri hati
mau menang sendiri
Pagi tadi, Nenek menyuruh Bi Sun, pembantunya, mengantar Yasya berobat ke Puskesmas. Sudah dua hari Yasya pilek. Biasanya Nenek sendiri yang mengantar Yasya berobat. Tetangga sebelah meninggal, Nenek melayatnya.
Nilai kehidupan yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah ....
religius
sosial
budaya
moral
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku. Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah .…
mentari meredup
mentari di sebelah barat
ketika kerumunan tidak bersama
kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Betapa gembiranya Lisa. Saat pulang sekolah ia mendapat tawaran dari pamannya untuk jalan-jalan ke Banjarmasin. Lisa sangat senang karena ini sudah lama ia inginkan. Duta mall adalah tujuan mereka.
Alur yang terdapat pada kutipan cerita di atas yaitu ....
maju
mundur
campuran
maju - mundur
Bacalah kutipan cerita berikut!
“Kenapa kamu kesal? Kenapa harus marah?” tanya Ratih. “Mendoakan orang yang sakit kan bagus.”
“Bukan cuma bagus, tapi harus. Masalahnya, apakah yang mereka ucapkan itu benar-benar mereka jalani? Apa pernah kegiatan berdoa untuk kesembuhan bu Siska itu benar-benar mereka lakukan, entah itu di rumah, di masjid, di gereja, di wihara atau di mana pun mereka berada? Atau mereka sekadar mengetikkan kata-kata di keyboard smartphone dan memencet tombol send untuk menyenang-nyenangkan bu Siska? Aku yakin yang mereka lakukan basa-basi belaka!!!”
“Jangan suka curiga….”
“Mereka sendiri yang bicara.”
(Basa-Basi, Jujur Prananto)
Watak tokoh Aku dalam kutipan cerita tersebut digambarkan penulis melalui ….
perbuatan tokoh
cakapan/dialog tokoh
penamaan tokoh
pandangan/dialog tokoh tertentu terhadap tokoh lain
penamaan tokoh
Nilai moral yang terdapat dalam cerita tersebut adalah ....
Beni segera meminta pertolongan untuk mengobati Heru.
Heru mengakui bahwa dirinya tidak melakukan pemanasan.
Heru meminta maaf kepada pemain tim A karena dia cedera.
Beni tidak mengacuhkan Heru, meskipun ia tahu Heru terkilir.
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Karyamin melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna. Senyuman Karyamin, Ahmad Tohari
Amanat yang terkandung pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Tukang batu harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseim-bangan yang sempurna.
Pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanmu agar kamu merasa tidak terbebani.
Manusia harus senantiasa bersemangat, pantang menyerah, dan belajar dari pengalaman hidup sehingga tidak mengalami kegagalan yang sama.
Tukang batu harus selalu ikhlas, bekerja keras, dan tahan uji.
Perhatikanlah kutipan cerpen berikut!
“Kamu, siswa baru, rupanya pintar, ya?” ejek Indah, ketua kelas. Begitu pula teman-teman yang lainnya mengejek Dita sebagai penyontek ulung.
“Aku tidak menyontek, sungguh! Aku mengerjakan sendiri!” sanggah Dita sembari menekan rasa takut.
“Bohong! Buktinya, waktu kamu duduk di belakang itu hasil ulanganmu jelek!” bentak Indah.
“Ta… Tapi aku tidak menyontek,” kata Dita hampir menangis.
“Sudahlah mana ada pencuri mau mengaku atas perbuatannya,” sela Bambang dengan nada mengejek.
“Begini saja, kalau kamu memang betul-betul tidak menyontek, nanti kalau ada ulangan lagi, kamu harus duduk di kursi paling belakang san aitu, dan buktikan bahwa kamu pun bisa memperoleh nilai sembilan tanpa Melati!” ujar Indah memberi keputusan.
Konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Indah dituduh menyontek ketika ulangan berlangsung.
Banyak siswa menuduh Dita menyontek saat ulangan.
Bambang merasa jengkel dengan sikap Indah terhadap Dita.
Melati memberikan bantuan kepada Dita pada waktu ulangan.
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
ica
bunda
nanda
siswa
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Kata sepenuh hati dalam cerpen di atas bermakna …
semangat
sungguh-sungguh
percaya diri
ikhlas
Kartini pernah merasakan bangku sekolah hingga tamat pendidikan dasar. Karakternya yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya ingin terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. ………………., ayahnya tidak memberikan izin Kartini melanjutkan sekolah
sayangnya
karena
bahkan
dan
Pagi itu indah sekali di Puncak Pas.Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon cemara yang kelihatan hijau. Sepanjang mata memandang , tampak kebun teh yang hijau segar. Langit sangat bersih dan berwarna biru cerah, menjadi pemandangan yang sungguh indah.
Pembuka cerpen di atas berisi tentang ….
tema
alur
tokoh
latar
Kartini pernah merasakan bangku sekolah hingga tamat pendidikan dasar. Karakternya yang haus akan ilmu pengetahuan membuatnya ingin terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. ………………., ayahnya tidak memberikan izin Kartini melanjutkan sekolah
sayangnya
karena
bahkan
dan
Pagi itu indah sekali di Puncak Pas.Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon cemara yang kelihatan hijau. Sepanjang mata memandang , tampak kebun teh yang hijau segar. Langit sangat bersih dan berwarna biru cerah, menjadi pemandangan yang sungguh indah.
Pembuka cerpen di atas berisi tentang ….
tema
alur
tokoh
latar
Kamboja masih berusaha menahan tangis. Tubuhnya bergetar semakin kencang. Tangan kanannya terus menelusuri lekuk batu nisan di tanah gundukan di hadapannya. Tangan kirinya semakin kuat mencengkeram tanah di sampingnya.
Suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
sunyi
haru
muram
sedih
Kamboja menjatuhkan kepalanya di batu nisan tersebut. Beberapa kali ia benturkan kepalanya ke batu itu. Ia bisikkan sesuatu di sana. Suaranya pelan. Hampir tak terdengar di antara angin siang yang sedikit kencang.
Latar tempat dari kutipan cerpen tersebut adalah....
pekarangan
pemakaman
tanah lapang
bebatuan
Aku tak bisa diam, setengah tahun aku ditempatkan di sekolah ini pengelolaan BK aku ubah secara mendasar. Mulai administrasi, cara penanganan siswa, termasuk ruang konsultasi siswa. Namun, langkahku membuat lukman terusik, terutama dalam kasus Diah telah banyak menerima penderitaan, anakitu perlu bimbingan dan kasih sayang bukan penghakiman.
Tema dalam cerpen tersebut adalah….
kehidupan seorang guru BK di sekolah
kesedihan seorang guru BK melihat kondisi siswanya
keinginan seorang guru BK untuk melaksanakan tuganya dengan baik
seorang guru BK yang ingin membantu mengatasi masalah siswanya
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor….
1
2
3
4
(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).
Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor.…
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (5)
Beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.
Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek. (Robohnya Surau Kami
Oleh: A.A. Navis)
Orientasi
Komplikasi
Evaluasi
Resolusi
Beberapa waktu lalu, orang tua Abadi memintanya untuk bekerja. Apalagi adiknya masih kelas 6 SD dan membutuhkan biaya besar karena tahun depan dia masuk ke jenjang SMP. Hal inilah yang membuat pilihan berat karena sebenarnya Abadi ingin kuliah dan belum siap jika harus bekerja.
Setelah itu Abadi melamar ke sejumlah pabrik yang ada di dekat rumahnya. Bahkan juga mengirimkan lamaran pekerjaan di luar kota namun belum juga mendapatkan panggilan. (Antara Kuliah dan Kerja)
Abstrak
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
Akhirnya saat sedang galau, Abadi memutuskan untuk bermain ke beberapa teman sekolah dulu untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Tibalah di rumah Isman, salah satu teman sekelasnya dulu. Isman kini bekerja bersama ayahnya, salah satu orang pemilik pabrik besar. Kebetulan sedang membutuhkan karyawan untuk mengisi beberapa lowongan yang kosong.
Keesokan harinya Abadi diminta datang ke pabrik milik ayah Isman.
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
Koda
SUDUT PANDANG
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.
“Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah
a. orang pertama pelaku utama
b. orang ketiga pelaku sampingan
c. orang ketiga pelaku utama
d. orang pertama dan ketiga
Kita lihat, dari pintu masuk sebuah ruangan di hotel berbintang empat itu, dia membelok ke arah kiri, dia memilih kursi paling samping dari deretan kursi paling belakang. Begitu dia duduk, sejumlah lelaki dekat kursi itu serempak kaasak-kusuk dalam gelap.
Latar tempat penggalan cerpen tersebut adalah...
pintu masuk
hotel bintang empat
arah kiri
kursi samping
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan seksama!
(1). Harum bunga kopi merayap dibawa angin.
(2). Bintang bertaburan di langit.
(3). Suara jangkrik dan kodok menjadi musik alam.
(4). Aku serasa sedang berada di surga
Bukti latar waktu pada kutipan cerpen tersebut malam hari ditandai dengan nomor ....
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (1
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Nenek tua
Lelaki Muda
Kakek tua
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.
Watak tokoh “aku” dalam penggalan cerita tersebut adalah …
percaya diri
sombong
rajin berusaha
mudah dipengaruhi
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskim pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
Tubuhnya digerogoti penyakit
Susahnya menjadi orang miskin
Banyak bangsal yang kosong
Buruknya pelayanan rumah sakit
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
Ica
Bunda
Nanda
Seorang Siswa
