NEW
Font size
WorksheetsUlangan harian 3
Total questions: 20
Worksheet time: 30mins
Yang termasuk unsur-unsur intrinsik dalam cerpen yaitu ....
tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar belakang penulis, gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)
tema, amanat/pesan moral, nilai-nilai kehidupan, tokoh dan penokohan, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)
tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), biografi penulis, dan sudut pandang (point of view)
tema, amanat/pesan moral, alur/plot, kondisi psikologis penulis, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)
tema, amanat/pesan moral, alur/plot, tokoh dan penokohan, latar (setting), gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view)
Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!
Gadis berumur tiga belas tahun itu favorit semua orang, termasuk aku, sekalipun dia bukan adikku kandung melainkan adik sahabatku. Hera yang manis dan manut. Tak ada pergolakan berarti dalam hidup remaja belasan tahun yang taat pada orang tua, negara, dan agama.
(Dikutip dari cerpen ”Mencari Herman” karya Dee Lestari)
Cara penggambaran karakter tokoh Hera pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
teknik analitik langsung
pengungkapan jalan pikiran tokoh
penggambaran lingkungan kehidupan tokoh
penggambaran tata kebahasaan tokoh
penggambaran oleh tokoh lain
Bacalah kutipan cerpen ini dengan saksama!
Pada hari yang telah disepakati oleh Subagus dan Sapardi, hujan mengantar saya ke rumah penyair kurus itu. Saya lihat Sapardi sedang duduk khidmat di beranda mendengarkan suara hujan. Ia khusyuk sekali memperhatikan hujan menerpa daun bugenvil dan daun bugenvil bergerak-gerak memukul-mukul jendela. Ia tidak menyadari kedatangan saya dan saya tidak ingin mengusik kesendirian dan kesunyiannya. Saya membayangkan ia sedang tersihir oleh hubungan gaib antara tanah dan hujan. Tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun, saya balik badan dan pulang.
(Dikutip dari cerpen “Sebotol Hujan untuk Sapardi” karya Joko Pinurbo)
Majas yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….
metafora
hiperbola
personifikasi
simile
alegori
Bacalah kutipan cerpen berikut ini dengan saksama!
Bunyi beduk menyadarkan kami yang seru berbagi cerita, sehingga kami bangkit dari duduk, bersiap menyucikan diri dengan wudu.
“Beruntung kamu.” sahutku.
“Semua itu terjadi atas kehendak Allah.” jawab Hazar sambil mengangkat celana panjangnya sebatas lutut.
Azan Isya berkumandang. Kami salat berjamaah.
(Dikutip dari cerpen “The Mutan” karya M. Irfan Sulistya)
Nilai yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut yaitu ….
moral
adat
sosial
budaya
agama
Bacalah teks cerpen ini dengan saksama!
Pagi hari mereka tiba di Desa Gelambir, menuju ke rumah Mbok Minem, janda tanpa anak, sambil membawa dua batang gula jawa utuh. Di rumah Mbok Minem mereka menemukan Juntrung, anak yang, menurut Mbok Minem dan beberapa tetangga, tidak disenangi oleh siapa pun.
Mulai pagi itulah ayah dan ibu Jiglong menganggap Juntrung sebagai anaknya, sebagai saudara Jiglong. Dan mulai saat itulah, ayah dan ibu Jiglong merasakan kesengsaraan karena Juntrung benar-benar kurang ajar, suka berkelahi, berbohong, dan kadang-kadang mencuri. Dan mulai saat itulah, Jiglong sering disakiti
dan difitnah oleh Juntrung.
(Dikutip dari cerpen “Sang Pemahat” karya Budi Darma)
Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam cerpen tersebut adalah ....
sudut pandang orang pertama pelaku utama
sudut pandang orang pertama pelaku sampingan
sudut pandang orang ketiga mahatahu
sudut pandang orang ketiga pengamat
sudut pandang orang kedua
Bacalah kutipan teks cerpen berikut dengan cermat.
Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Sifat tokoh Larasati berdasarkan kutipan di atas adalah ….
sabar dan penyayang
angkuh dan disiplin
tegas dan pemberani
penuh perhatiaan dan tegas
angkuh dan pemberani
Bacalah kutipan cerpen berikut
“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Anisa dan Handoko tidak jadi menikah.
Anisa dilarang menikah oleh Mama dan kakaknya.
Mama yang berpikiran picik terhadap Handoko.
Keinginan Mama agar Anisa hidup bahagia.
Kakak tidak mendukung pernikahan Anisa dengan Handoko.
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah ….
orang pertama pelaku utama
orang ketiga pelaku sampingan
orang ketiga pelaku utama
orang pertama dan ketiga
orang ketiga serbatahu
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
1) Kalau ada pertandingan dini hari, aku dan Ayah bahu-membahu untuk membangunkan. 2) Kami berdua beranak batanggang, atau tidak tidur sampai dini hari, duduk terpaku di depan TV Grundig 14 inci yang berkerai kayu tripleks, ditemani bergal-gelas kopi.3) Di Stadion Ullevi Gothenburg, tim berambut pirang ini meledakkan gawang Belanda hanya dalam lima menit pertama melalui tandukan Larsen: 1 – 0. 4) Aku mengepalkan tangan tinggi-tinggi di udara, “Yes!” teriakku. 5) Aku lirik Ayah, beliau menggeleng-geleng sambil mendeham.
Bukti latar tempat dalam kutipan novel tersebut ditunjukkan kalimat ….
1)
2)
3)
4)
5)
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Kemudian, ia sampai pada pemikiran bahwa yang jauh tetaplah di kejauhan. Yang dekat tetaplah pada kedekatan, kecuali yang jauh itu mendekat atau yang dekat itu menjauh. Miliknya akan tetap miliknya, kecuali ia rebut atau ia lepaskan. Begitu pun yang bukan miliknya akan menjadi miliknya jika merebutnya atau menerimanya dari orang lain. Kenangan dan imajinasi akan tetap seperti apa adanya. Dan kenyataan adalah di mana berada. Lalu, bocah itu tersenyum dengan penuh kemenangan. Kemenangannya atas sang nasib yang kini tidak akan bisa lagi merenggut kebahagiannya. (Hujan, Yeni Puspita)
Tema penggalan cerpen tersbut adalah ....
sesuatu yang jauh tidak akan ada pernah dekat
pasang surut nasib orang
nasib harus diperjuangkan
tidak menyerah pada nasib
kita harus menerima kenyataan hidup
Cermatilah kutipan cerpen berikut
Dari Jakarta yang sangat panas, penuh gedung pencakar langit, penuh polusi, dan juga gudangnya copet. Kini, aku berada di Ra’as, sebuah pulau yang kecil sebelahnya Madura. Di Ra’as sangat primitif sekali, mulai dari Jalan Makadam sampai dengan bangunan rumah. Sepengetahuanku, tak ada yang namanya bangunan rumah tingkat di sana.
Kutipan cerpen di atas dibuka dengan cara ….
mendeskripsikan suasana
mendeskripsikan orang
mendeskripsikan tempat
mendeskripsikan waktu
mendeskripsikan objek
Bacalah kutipan cerita pendek berikut!
Aku menangis dalam pelukan Uma Dayu malam itu. “Satu orang pergi tidak boleh membuat Ibu Guru Rinda merasa gagal. Masih banyak anak yang menunggu untuk diajar oleh Ibu Guru Rinda. Doakan saja yang terbaik untuk anak-anak itu.” Uma Dayu menepuk-nepuk pipiku sayang. Aku selalu merasa sedang di rumah jika sudah bersama Uma Dayu seperti malam itu.
Hal menarik dari kutipan cerpen tersebut adalah. . .
Tokoh aku menangis dalam pelukan Uma Dayu.
Banyak anak yang menunggu untuk belajar bersama Ibu Rinda.
Uma Dayu sudah dianggap rumah oleh tokoh aku.
Para tokoh suka mengajar anak-anak
Para tokoh bersedih di rumah Uma Dayu
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ketika kebosanan mulai menyumbat semua seleranya, ia akhirnya memberanikan diri bicara kepada ayahnya kembali.
“Dengar, Ayah,” katanya. “Aku sudah besar sekarang. Kenapa tidak boleh juga keluar malam? Aku...yah, kadang-kadang ingin ngobrol dengan teman-temanku.”
“Kau bisa ngobrol di sekolah, kan?”
“Ibu guru melarang kami ngobrol di kelas, Ayah,” kata Si Cantik
“Atau sore. Kau kan bisa bertemu dengan teman-temanmu.”
Kutipan cerpen tersebut merupakan bagian. . .
Pengenalan situasi
Pengungkapan peristiwa
Menuju konflik
Puncak konflik
Penyelesaian
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ketika kebosanan mulai menyumbat semua seleranya, ia akhirnya memberanikan diri bicara kepada ayahnya kembali.
“Dengar, Ayah,” katanya. “Aku sudah besar sekarang. Kenapa tidak boleh juga keluar malam? Aku...yah, kadang-kadang ingin ngobrol dengan teman-temanku.”
“Kau bisa ngobrol di sekolah, kan?”
“Ibu guru melarang kami ngobrol di kelas, Ayah,” kata Si Cantik
“Atau sore. Kau kan bisa bertemu dengan teman-temanmu.”
Kebahasaan cerpen yang ada pada kutipan tersebut yaitu. . .
Menggunakan keterangan waktu.
Menggunakan verba aksi.
Menggunakan dialog
Menggunakan tidak lebih dari 10.000 kata
Mempunyai latar yang terbatas
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Huda sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah lebih tinggi, setelah lulus SMP. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukannya karena ketiadaan biaya. Apalagi, dua adiknya juga membutuhkan biaya. Faktor ekonomi membuat Huda harus hidup di jalanan, mengamen. Bermodal gitar tuanya ia menyanyi. Kadang menyanyikan lagu Ebiet G Ade “Camelia”.
Mengapa Huda harus putus sekolah dan lebih memilih untuk mengamen?
Faktor ekonomi keluarga dan adik-adiknya lebih membutuhkan.
Karena Huda adalah anak nakal yang tidak mau sekolah.
Ibu Huda tidak mau membiayai sekolah Huda.
Huda ingin berkerja.
Huda dikeluarkan dari sekolah.
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.
“Ini, pakai jaket,” kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. “Sepertinya kamu masuk angin.”
Mereka sedang berteduh di etalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin di sekujur kota.
Kapan kejadian dalam penggalan cerpen tersebut terjadi?
Sore hari
Pagi hari
Malam hari
Siang hari
Pukul 5 sore
Siang masih terlalu muda. Pada sebuah rumah nan besar lagi megah. Kuketuk pintu. Seorang perempuan tua membuka pintu. Sedikit membungkuk, perempuan tua itu mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Lukisan besar karya Bunga Jeruk. Di situ aku menunggu. Hanya empat menit.
Berbaju kebaya modern, Susan muncul dari dalam rumah. Dibelakangnya menyusul ayahnya. Tanpa ada sapa, tanpa ada tanya. Langsung Susan duduk di pinggir. Ayah Susan tepat di hadapanku. Pertemuan pertama yang sungguh kaku, teramat kaku.
Latar tempat dan waktu kutipan cerpen tersebut adalah...
di kamar saat bersiap-siap
di ruang tamu saat menunggu tamu
di halaman depan rumah saat siang hari
di rumah pada siang hari
di rumah dan hanya empat menit
Siang masih terlalu muda. Pada sebuah rumah nan besar lagi megah. Kuketuk pintu. Seorang perempuan tua membuka pintu. Sedikit membungkuk, perempuan tua itu mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Lukisan besar karya Bunga Jeruk. Di situ aku menunggu. Hanya empat menit.
Berbaju kebaya modern, Susan muncul dari dalam rumah. Dibelakangnya menyusul ayahnya. Tanpa ada sapa, tanpa ada tanya. Langsung Susan duduk di pinggir. Ayah Susan tepat di hadapanku. Pertemuan pertama yang sungguh kaku, teramat kaku.
Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut adalah...
cemas
senang
canggung
khawatir
bahagia
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Neka bukan hanya cantik, namun membawa ke mana-mana senyum tipis yang berhenti permanen pada kedua bilah bibirnya yang sempurna. Senyum itu ternyata punya fungsi lain yang tak kuduga: Menyembunyikan pergolakan batin yang begitu dahsyat sebagaimana kusua dari yang ia tuliskan di buku catatan hariannya.
Unsur intrinsik yang dominan pada kutipan cerpen tersebut adalah...
alur
tema
latar
amanat
penokohan
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
“Ya, betul. Kami tidak percaya. Bapak tidak mungkin ayah dari salah seorang emilik rumah mewah ini.”
“Apa Engkau mau menjadi batu?”
Polisi lalu lintas itu tersenyum. Dia merasa ucapan orang tua itu sebuh lelucon.
Sebuah mobil kelas termahal berbelok ke arah pintu gerbang perumahan mewah itu. Lelaki yang duduk di bangku belakang menyentuh pundak sopir dan meminta kendaraan itu dihentikan. Lelaki itu bersama istirnya sedang pulang dari bepergian.
“Tunggu sebentar,” katanya. Dia perhatikan orang tua yang duduk di bandul jalan. Dia menoleh kepada istrinya. “Orang itu seperti Ayah. Coba kau lihat. Ya, itu Ayah, dia membawa setandan pisang, dia ikat jagung, dan sebuah nangka.”
“Ya, betul. Itu ayahmu. Ayahku juga. Mertuaku!” Lelaki itu membuka pintu mobil. Dia turun. Langkahnya diikuti istirnya.
“Ayah!” kata lelaki itu. Orang itu melihat ke lelaki itu. Lelaki itu menerkam tuh orang tua itu dan memasukkannya ek dalam dekapannya. Si istri mencium tangan laki-laki tua itu.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
Lakukan pekerjaan tanpa mencampuri urusan orang lain.
Berperilaku adil tanpa membeda-bedakan orang lain.
Jangan berprasangka buruk terhadap orang kain tanpa bukti.
Jangan membantah perkataan orang tua.
Mensyukuri hidup dengan kesederhanaan
