WorksheetsTeks Cerpen kelas IX
Total questions: 20
Worksheet time: 10mins
Unsur pembangun cerpen yang meliputi tempat, waktu, dan suasana yang tergambar dalam cerita disebut ....Unsur pembangun cerpen yang meliputi tempat, waktu, dan suasana yang tergambar dalam cerita disebut ....
tokoh
latar
alur
sudut pandang
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Aku duduk sendirian di halte depan sekolah menunggu angkot yang akan mengantarku pulang. Kini aku harus membiasakan diri karena tak ada lagi mobil mewah dan sopir pribadi.
(Utami Panca Dewi, "Luka Hati Sabrina")
Latar tempat kutipan teks cerpen tersebut adalah ....
halte depan sekolah
terminal
depan rumah
di halte dekat rumah
Pesantren itu sangat besar. Bangunannya berlantai lima dengan banyaknya jendela lusuh yang tidak mampu lagi terhitung oleh mataku yang baru saja tiba di tempat itu. Aku juga melihat banyak anak-anak yang sepertinya kurang terawat.
(M. Zuhri, "Kandang Merpati")
Unsur Pembangun yang menonjol pada kutipan tersebut adalah ....
tokoh
latar waktu
latar tempat
penokohan
Kutipan 1
“ Cepat ke sini!”
“ Aku tidak mau!”
“ Kamu jangan nekat, ini sedang hujan lebat. Kamu akan sakit jika terus menerus jalan di tengah hujan tengah malam begini.”
Aku tak memedulikan ucapannya.
Kakiku terus melangkah tanpa tahu ujung langkah akan berhenti dimana. Hatiku terlanjur hancur.
Kutipan 2
Sebelum subuh Salena sudah bersiap. Dagangan sayurnya sudah lengkap di atas gerobak seperti pasar tradisional mini. Setengah jam kemudian, datang pelanggan pertamanya sebelum ia berkeliling. Bu Minah selalu menjadi pelanggan setianya sebelum ia berangkat dengan gerobak sayurnya. Salena baru kembali ke rumah menjelang magrib.
Perbedaan penyajian pola pengembangan kedua teks cerpen tersebut adalah....
Kutipan 1 diawali dengan latar cerita, kutipan 2 diawali dengan aksi tokoh
Kutipan 1 diawali dengan aksi tokoh, sedangkan kutipan 2 diawali dengan masalah yang harus diselesaikan
Kutipan 1 diawali dengan garis besar cerita, sedangkan kutipan 2 diawali dengan aksi tokoh
Kutipan 1 diawali dengan aksi tokoh, sedangkan kutipan 2 diawali dengan garis besar tokoh
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor ….
(1)
(3)
(4)
(5)
Tadi malam, Hidayat berpikir panjang mengenai hidupnya dan rencana hidupnya. “Tak mungkin aku terus-terusan begini, tidak menentu. Mesti ada sesuatu yang kukerjakan. Mesti ada sesuatu yang lebih produktif daripada yang kulakukan sekarang. Tapi apa? Modal tidak ada,” pikirnya. “Dalam keadaan seperti ini, yang harus kujual ialah jasaku, tenagaku, dan pikiranku.”
Amanat yang terkandung dalam kutipan novel tersebut adalah ….
Setiap orang pasti memiliki rencana.
Kita tidak boleh menyerah pada keadaan.
Hidup itu ada kalanya tidak menentu.
Setiap orang perlu menjual jasanya, pikirannya, dan tenaganya.
Hari ini cuaca begitu cerah suasana jiwaku yang penat karena setumpuk tugas. Namun, sekarang aku harus mulai bangkit dari tidurku dan mandi karena pagi ini aku harus bekerja keras.
Latar waktu kutipan cerpen adalah ....
Pagi hari
Siang hari
Sore hari
Malam hari
Berikut yang merupakan contoh majas hiperbola adalah....
Silakan datang ke gubukku yang kumuh.
Jamaah haji Indonesia pergi ke Makkah menggunakan Garuda.
Dentuman itu menggelegar membelah angkasa.
Anak itu dikenal sebagai kutu buku di kelasnya.
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
Nanda
Kak Ica
Bunda
Penjual kios
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sebuah mobil colt berplat nomor merah berhenti persis di depan kedai kasur Alin. Murni berdebar-debar, kalau-kalau orang yang turun dari mobil itu utusan hotel yang memesan tiga puluh kasur single itu. Ia berusaha tersenyum dan menyembunyikan giginya yang terlalu menonjol ke depan. Orang berpakaian pegawai itu juga tersenyum membalas.
"Maaf, Bu. Saya pegawai ketertiban Balaikota. Apakah racun api Ibu masih baik? Boleh saya periksa?"
Kata tercetak miring tersebut mengandung makna ...
Bangunan tempat memproduksi barang
Bangunan tempat berjualan
Bangunan tempat menitipkan barang
Bangunan tempat menumpuk barang
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
(1) Setelah aku tidur di rumah nenek selama tiga hari, senyum nenek semakin lebar dan beliau mengucapkan, "Terima kasih cucuku, kamu telah memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku." (2) Dan disuruh semua anaknya berkumpul. (3) Setelah semua berkumpul, nenek menutup mata untuk selama-lamanya. (4) Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi berdenyut.
Sumber: Nasihat Terindah, karya lrwan Ahmad Rozaki
Kalimat langsung pada kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat nomor ...
1
2
3
4
Setiap saat anak-anak selalu bemain di lapangan. Anak laki-laki bermain sepakbola, anak perempuan bermain lompat tali. Semua tampak gembira kecuali tuning. Ia hanya memerhatikan kami dari balik
pohon besar. “Kenapa Tuning tidak kita ajak main?” usulku. Isna langsung melotot, “ Apa kamu mau ketularan kutu rambutnya?” “belum ingusnya yang menjijikan itu,” tambah Heppy. Teman-teman ramai komentar, semua menjelek-jelekan Tuning. Sejak itu, aku tidak berani usul lagi untuk mengajak Tuning bermain bersama.
Konflik pada cerita anak tersebut adalah …
Tokoh aku dijauhi teman-temanya.
Tuning tidak diajak bermain oleh teman-temannya karena penyakitan.
Teman-teman Tuning membenci karena penyakitan
Tokoh aku malu bermain dengan Tuning.
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …
orang ketiga sebagai pengamat
orang ketiga serbatahu
orang ketiga pelaku sampingan
orang pertama pelaku utama
Kali ini, untuk menggarap batik pesanan lelaki itu, ia memilih saat malam buta di sebuah kamar berhias sarang laba-laba. Kamar penyimpan langut dan kemelut. Sebelumnya, hampir lima tahun pintu kamar itu dibiarkan terkatup serupa kabisuan mulut disumpal ujung selimut.
Makna kata langut dan kemelut dalam kutipan cerpen tersebut menyimbolkan …
Kesedihan dan penderitaan
Kehampaan dan kesendirian
Kehilangan dan kesedihan
Kesedihan dan penyesalan
Rapi sekali seragammu yang tak pernah disetrika itu, terlihat seperti kertas yang diremas-remas.
Kalimat tersebut mengandung majas ...
metafora
ironi
simile
personifikasi
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Amanat yang tidak sesuai dengan penggalan cerpen di atas adalah …
Tekunlah dalam setiap pekerjaan, niscaya menuai hasilnya
enentu kesuksesan seseorang
Uang bukanlah penentu keberhasilan seseorang
Bekerjasamalah dengan baik dan jujur dalam melakukan sebuah pekerjaan
Berdoa adalah penentu kesuksesan seseorang
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Kakek tua
Lelaki Muda
Nenek tua
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang miskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mengenaskan
Mengharukan
Menakutkan
Menegangkan
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bamboo itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. [ … .] Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks cerita tersebut adalah …
Bapak memotret senja itu.
Bapak tertidur karena lelah.
Bapak selalu menikmatinya.
Bapak dan ibu duduk berdua.
