wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Penilaian Teks Cerpen

Total questions: 10

Worksheet time: 50mins

Name
Class
Date
1.

Adi memandangi ibu yang terbaring di tempat tidur. Ibu kini dirawat di rumah sakit. Tubuh ibu penuh luka dan belum sadarkan diri. Ia merasa kasihan melihat keadaan ibu. Air matanya jatuh membasahi kedua belah pipinya. Perasaan bersalah kini menghantui dirinya. Ya, ia merasa dirinyalah penyebab kecelakaan ibu. Ia minta dibelikan sepatu baru meskipun sebenarnya sepatu yang ia miliki masih bagus. Masih bisa dipakai. Ia ingin sepatu seperti milik Fredi, teman sebangkunya. Kata Fredi sepatu itu sedang ngetren. Sepatu itu memang kelihatan gaya dan lebih bagus daripada sepatu yang Adi miliki.

Ia memang minta pada ibu karena ayahnya bekerja di Malaysia. Dan ibu pergi ke kota untuk membeli sepatu. Di ibukota kecamatan, tidak ada sepatu seperti milik Fredi. Ibunya naik kendaraan umum. Menurut cerita, setelah membeli sepatu, saat akan menyeberang, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabrak ibu. Beberapa saat kemudian ia menerima kabar yang menyedihkan itu dari polisi. Keluarganya pun segera ke rumah sakit. Sementara ayah tidak mungkin diminta pulang.

“Ibu, Ibu, maafkan Adi,” kata Adi sambil menangis. Ia mengguncang-guncangkan tubuh ibu. Kini ia menyesal. Namun, penyesalan itu datangnya terlambat. Ah, seandainya aku tidak minta dibelikan sepatu, mungkin ibuku tidak mengalami kecelakaan. Begitu kata hati Adi.


Tema dalam kutipan cerpen tersebut adalah...

a)

Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya

b)

Penyesalan seorang ibu karena membuat anaknya sedih

c)

Kepedulian seorang teman meminjamkan sepatu barunya

d)

Rasa bersalah seorang ayah karena merantau di negeri orang

2.

”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100.000 kepada Kimpul. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu, ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya.

”Permisi, Pak Kimpul, saya harus pergi sekarang untuk rapat. Kalau sempat saya akan datang lagi,” kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi.

Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Ia pasti salah alamat, pikir Kimpul. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan, namun laki-laki tidak ditemukannya.


Latar suasana yang tergambar dalam kutipan teks cerpen tersebut

a)

Tegang

b)

Penasaran

c)

Bingung

d)

Curiga

3.

”Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini, pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Saya ingin membayar utang saya itu.”

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100.000 kepada Kimpul. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu, ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya.

”Permisi, Pak Kimpul, saya harus pergi sekarang untuk rapat. Kalau sempat saya akan datang lagi,” kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi.

Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Ia pasti salah alamat, pikir Kimpul. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan, namun laki-laki tidak ditemukannya.


Amanat yang terdapat dalam kutipan teks cerpen tersebut

a)

Terimalah uang pemberian seseorang meskipun uang itu bukan milikmu

b)

Ketika bertugas di suatu tempat luangkanlah waktu untuk pangkas rambut

c)

Jangan berlari-lari di lapangan hanya karena mencari seseorang

d)

Bayarlah utang yang kamu miliki agar hidupmu merasa tenang

4.

Pantangan menebang pohon di Bukik Coro misalnya, baru kami pahami setelah terjadi longsor yang menimbun tiga keluarga di hutan perbukitan itu. Orang-orang bilang itu dikarenakan makhluk halus penunggu hutan Coro marah, tetapi kata Kramat Ako jenis tanah di Bukik Coro adalah tanah yang mudah dikikis air, sehingga, bila pohon-pohon ditebang dan akar-akar pohon jadi hilang, tak ada lagi yang mengikat dan menahan tanah dalam posisi semula. Begitu pula larangan tak boleh bermain ke Lubu Lekok ketika bintang Buluk bersinar terang, setelah dijelaskan Kramat Ako kami lalu tahu tak ada sama sekali bili (bahasa kami untuk menyebut iblis) yang turun dari bintang memakan habis burung-burung lekok.


Kutipan cerpen tersebut merupakan struktur teks bagian

a)

Orientasi

b)

Komplikasi

c)

Resolusi

d)

Analisis

5.

Malam semakin gelap, dan rasanya tidak habis-habisnya mereka mengorek informasi dari pembantuku dan istriku. Anak kami yang laki-laki juga ditanya. Dan akhirnya mereka pamitan. ”Besok akan kita lanjutkan pencarian, sekarang sudah terlalu malam,” kata kepala penyidik. Malam itu kami tidak ada yang bisa tidur. Istriku tidak hentinya menangis. Guru sekolah anakku yang menelepon menyampaikan simpati berjanji akan meminta semua orangtua teman sekelas anakku membantu mencari anak kami. Brosur dan foto anak kami sudah disebarkan. Sampai hari ketiga anak kami juga belum ketemu. Polisi sudah tidak datang lagi ke rumah kami.


Kutipan teks cerpen tersebut merupakan struktur teks cerpen bagian

a)

Orientasi

b)

Komplikasi

c)

Solusi

d)

Resolusi

6.

Malam semakin gelap, dan rasanya tidak habis-habisnya mereka mengorek informasi dari pembantuku dan istriku. Anak kami yang laki-laki juga ditanya. Dan akhirnya mereka pamitan. ”Besok akan kita lanjutkan pencarian, sekarang sudah terlalu malam,” kata kepala penyidik. Malam itu kami tidak ada yang bisa tidur. Istriku tidak hentinya menangis. Guru sekolah anakku yang menelepon menyampaikan simpati berjanji akan meminta semua orangtua teman sekelas anakku membantu mencari anak kami. Brosur dan foto anak kami sudah disebarkan. Sampai hari ketiga anak kami juga belum ketemu. Polisi sudah tidak datang lagi ke rumah kami.


Konlik dalam kutipan cerpen tersebut adala

a)

Tokoh polisi tidak peduli dengan masalah yang dihadapi tokoh aku

b)

Tokoh Guru kurang simpati dengan hilangnya salah satu murid

c)

Tokoh polisi tidak bisa tidur karena belum menemukan anak yang hilang

d)

tokoh aku beserta istrinya panik dan sedih karena anaknya hilang

7.

Seolah ia kecewa dengan gelombang yang telah mengabarkan kepada Aruna sesuatu yang menyebabkan hubungannya dengan kekasih itu menurut Ayu sementara ini akan putus

a)

Hiperbola

b)

Personiikasi

c)

Metafora

d)

Metonimia

8.

1) Ya, kediaman keluarga Sastro Suwiryo yang menempati lahan seluas 200 meter persegi di Desa Kasongan pinggiran Yogyakarta itu bisa dibilang tenang dan tentram sebelumnya.

2) Malam itu sudah hampir setengah jam isak tangis terdengar mengalahkan lagu malam yang dinyanyikan oleh angin dan lambaian pohon kelapa belakang rumah. 3) Rembulan purnama yang tengah asyik menemani orang-orang yang sedang tidur dengan nyenyak juga tidak disapa oleh isak tangis itu.

4) “ Bapak, bangun, Pak.”

5) “ Ada apa, Bu? Malam-malam begini kok bangun? Kok kelihatannya ada yang serius.”


Bukti latar waktu yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut ditunjukkan oleh nomor

a)

1 dan 2

b)

2 dan 3

c)

3 dan 4

d)

4 dan 5

9.

Rangkailah kalimat-kalimat berikut menjadi teks cerita yang runtut!

a) Tapi dari kejauhan samar-samar Alang meliat mobil ambulans tersebut berhenti tepat di depan rumahnya

b) Beberapa pertanyaan muncul di kepala Alang jantungnya berdegup cepat wajah datarnya mendadak pucat pasi

c) Alang tengah berjalan menuju rumah ketika suara sirine mobil ambulans terdengar di belakangnya makin lama makin mendekat

d) kemudian mobil ambulans itu berhasil mendahului langkah Alang, cowok itu tidak peduli

e) langkah kakinya ia percepat semula hanya jalan cepat kemudian berlari

f) apa yang terjadi di rumahnya?

a)

a-b-c-d-e-f

b)

e-f-b-a-d-c

c)

c-d-a-b-f-e

d)

b-d-e-c-a-f

10.

Adi memandangi ibu yang terbaring di tempat tidur. Ibu kini dirawat di rumah sakit. Tubuh ibu penuh luka dan belum sadarkan diri. Ia merasa kasihan melihat keadaan ibu. Air matanya jatuh membasahi kedua belah pipinya. Perasaan bersalah kini menghantui dirinya. Ya, ia merasa dirinyalah penyebab kecelakaan ibu. Ia minta dibelikan sepatu baru meskipun sebenarnya sepatu yang ia miliki masih bagus. Masih bisa dipakai. Ia ingin sepatu seperti milik Fredi, teman sebangkunya. Kata Fredi sepatu itu sedang ngetren. Sepatu itu memang kelihatan gaya dan lebih bagus daripada sepatu yang Adi miliki.

Ia memang minta pada ibu karena ayahnya bekerja di Malaysia. Dan ibu pergi ke kota untuk membeli sepatu. Di ibukota kecamatan, tidak ada sepatu seperti milik Fredi. Ibunya naik kendaraan umum. Menurut cerita, setelah membeli sepatu, saat akan menyeberang, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi menabrak ibu. Beberapa saat kemudian ia menerima kabar yang menyedihkan itu dari polisi. Keluarganya pun segera ke rumah sakit. Sementara ayah tidak mungkin diminta pulang.

“Ibu, Ibu, maafkan Adi,” kata Adi sambil menangis. Ia mengguncang-guncangkan tubuh ibu. Kini ia menyesal. Namun, penyesalan itu datangnya terlambat. Ah, seandainya aku tidak minta dibelikan sepatu, mungkin ibuku tidak mengalami kecelakaan. Begitu kata hati Adi.


Toko Ibu dalam kutipan cerpen di atas memiliki watak

a)

Penakut

b)

Penyabar

c)

Penyayang

d)

Pemalas