WorksheetsUH NOVEL KELAS XII
Total questions: 26
Worksheet time: 4hrs 11mins
Kami gelagapan. (1) Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.
“Apa salah kalian?” Berondongnya sekali lagi, tidak sabar. (2) Gerimis bercampur dengan percikan ludahnya. Mukanya maju. Napasnya mengerubuti mukaku. Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku.
Melihat aku menutup mata, dia membentak lebih keras, “Jangan takut dengan manusia, jawab!”
Aku tidak punya pilihan lain untuk memberanikan diri menjawab. Ragu-ragu.
“Maaf… maaf… Kak, kami terlambat. (3) Tapi hanya sedikit Kak, lima menit saja. Karena harus membawa lemari yang berat ini dari lapangan…”
(4) “Sudah berapa lama kalian resmi jadi murid di PM?” katanya memotong kalimatku.
“Dua… dua… Kak,” jawabku terbata-bata.
“Baru dua hari sudah melanggar. (5) Bukankah kemarin malam qanun dibacakan dan kalian tahu tidak boleh terlambat.
PM=Pondok Madani
*qanun=peraturan
(Negeri 5 Menara, A Fuadi)
Penggambaran watak Tyson yang tegas diungkapkan melalui….
dialog antartokoh
pikiran-pikiran tokoh
tanggapan tokoh lain
keadaan di sekitar tokoh
secara langsung oleh pengarang
Kami gelagapan. (1) Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.
“Apa salah kalian?” Berondongnya sekali lagi, tidak sabar. (2) Gerimis bercampur dengan percikan ludahnya. Mukanya maju. Napasnya mengerubuti mukaku. Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku.
Melihat aku menutup mata, dia membentak lebih keras, “Jangan takut dengan manusia, jawab!”
Aku tidak punya pilihan lain untuk memberanikan diri menjawab. Ragu-ragu.
“Maaf… maaf… Kak, kami terlambat. (3) Tapi hanya sedikit Kak, lima menit saja. Karena harus membawa lemari yang berat ini dari lapangan…”
(4) “Sudah berapa lama kalian resmi jadi murid di PM?” katanya memotong kalimatku.
“Dua… dua… Kak,” jawabku terbata-bata.
“Baru dua hari sudah melanggar. (5) Bukankah kemarin malam qanun dibacakan dan kalian tahu tidak boleh terlambat.
PM=Pondok Madani
*qanun=peraturan
(Negeri 5 Menara, A Fuadi)
Pernyataan yang membuktikan latar waktu sore hari terdapat pada kalimat nomor….
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
Kami gelagapan. (1) Tidak siap menjawab pertanyaan interogatif di senja bergerimis dalam keadaan kepayahan ini.
“Apa salah kalian?” Berondongnya sekali lagi, tidak sabar. (2) Gerimis bercampur dengan percikan ludahnya. Mukanya maju. Napasnya mengerubuti mukaku. Aku katupkan mataku rapat-rapat. Apa yang akan dilakukan Tyson ini padaku.
Melihat aku menutup mata, dia membentak lebih keras, “Jangan takut dengan manusia, jawab!”
Aku tidak punya pilihan lain untuk memberanikan diri menjawab. Ragu-ragu.
“Maaf… maaf… Kak, kami terlambat. (3) Tapi hanya sedikit Kak, lima menit saja. Karena harus membawa lemari yang berat ini dari lapangan…”
(4) “Sudah berapa lama kalian resmi jadi murid di PM?” katanya memotong kalimatku.
“Dua… dua… Kak,” jawabku terbata-bata.
“Baru dua hari sudah melanggar. (5) Bukankah kemarin malam qanun dibacakan dan kalian tahu tidak boleh terlambat.
PM=Pondok Madani
*qanun=peraturan
(Negeri 5 Menara, A Fuadi)
Konflik dalam kutipan tersebut adalah...
penolakan hukuman
beban yang berat
ketakutan seseorang
kegagalan seseorang
penyesuaian lingkungan
(1) “Ehm… ehm… saya mendalami kaligrafi, Tad… ehm dan perlu ke Ponorogo untuk menambah alat….” Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.
(2) “Kamu ngomong apa? Bicara yang jelas, lihat mata saya!” potongnya. Matanya yang dalam mencorong tajam.
(3) Aku mengangkat muka, walau ngeri, aku coba pandang mukanya, hanya sampai bagian jenggot. Matanya terlalu tajam. Dengan susah payah aku coba kembali susun kalimat di kepala.
(4) “Ustad, saya mau beli kalam kaligrafi di kota karena di sini tidak ada….”
“Tidak mungkin. Saya juga kaligrafer, semua alat tersedia di sini,” katanya memotong cepat.
(5) “Tapi… tapi… kalam yang ada hanya untuk kaligrafi biasa. Saya ingin mencoba kaligrafi khouf yang penuh garis-garis dan hiasan daun, Tad. Lebih dibutuhkan sepidol tebal tipis dan penggaris dibandingkan kalam biasa,” belaku.
(Negeri 5 Menara, A. Fuadi)
Watak ustaz yang tegas diungkapkan melalui….
pikiran tokoh
keadaan sekitar tokoh
tanggapan tokoh lain
dialog tokoh
uraian langsung pengarang
(1) “Ehm… ehm… saya mendalami kaligrafi, Tad… ehm dan perlu ke Ponorogo untuk menambah alat….” Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.
(2) “Kamu ngomong apa? Bicara yang jelas, lihat mata saya!” potongnya. Matanya yang dalam mencorong tajam.
(3) Aku mengangkat muka, walau ngeri, aku coba pandang mukanya, hanya sampai bagian jenggot. Matanya terlalu tajam. Dengan susah payah aku coba kembali susun kalimat di kepala.
(4) “Ustad, saya mau beli kalam kaligrafi di kota karena di sini tidak ada….”
“Tidak mungkin. Saya juga kaligrafer, semua alat tersedia di sini,” katanya memotong cepat.
(5) “Tapi… tapi… kalam yang ada hanya untuk kaligrafi biasa. Saya ingin mencoba kaligrafi khouf yang penuh garis-garis dan hiasan daun, Tad. Lebih dibutuhkan sepidol tebal tipis dan penggaris dibandingkan kalam biasa,” belaku.
(Negeri 5 Menara, A. Fuadi)
Pernyataan yang membuktikan latar suasana yang menegangkan terdapat dalam kalimat....
1 dan 2
2 dan 3
3 dan 4
4 dan 5
5 dan 1
(1) “Ehm… ehm… saya mendalami kaligrafi, Tad… ehm dan perlu ke Ponorogo untuk menambah alat….” Kalimat yang sudah aku bayangkan tadi berantakan di bawah sorot mata Ustad Torik yang bikin ngilu.
(2) “Kamu ngomong apa? Bicara yang jelas, lihat mata saya!” potongnya. Matanya yang dalam mencorong tajam.
(3) Aku mengangkat muka, walau ngeri, aku coba pandang mukanya, hanya sampai bagian jenggot. Matanya terlalu tajam. Dengan susah payah aku coba kembali susun kalimat di kepala.
(4) “Ustad, saya mau beli kalam kaligrafi di kota karena di sini tidak ada….”
“Tidak mungkin. Saya juga kaligrafer, semua alat tersedia di sini,” katanya memotong cepat.
(5) “Tapi… tapi… kalam yang ada hanya untuk kaligrafi biasa. Saya ingin mencoba kaligrafi khouf yang penuh garis-garis dan hiasan daun, Tad. Lebih dibutuhkan sepidol tebal tipis dan penggaris dibandingkan kalam biasa,” belaku.
(Negeri 5 Menara, A. Fuadi)
Konflik dalam kutipan tersebuat adalah....
Ustaz Torik merasa digurui muridnya.
Ustaz Torik merasa disaingi muridnya dalam menulis kaligrafi.
Ustaz Torik merasa tidak senang terhadap tabiat tokoh aku.
Ustaz Torik melarang rencana tokoh aku pergi ke Ponorogo.
Si tokoh aku merasa ketakutan karena hobinya diketahui ustaz.
(1) Orang yang tahu sebab yang sebenarnya, tiadalah berani menceritakan kepada orang lain. (2) Mereka takut akan pembalasan Bang Salim karena Bang Salim masa itu orangnya galak, ia menjadi jago di kampungnya. (3) Semua orang sangat ngerti kepadanya. (4) Tetapi yang ditakutkan orang benar, bukan karena keras pukulannya atau besar tinjunya, melainkan pada benda yang selalu dibawanya. (5) Benda itu dibawanya ke mana saja ia pergi dan jika ia berselisih, mudah saja ia mengancam dengan marah, “Kalo lu misih mempan ini, jangan banyak omong,” Begitulah selalu ancamnnya kepada orang. (6) Senjata itu tak lain hanyalah sebuah tongkat yang berkilat-kilat. (7) Mestinya kekuatan itu digunakan untuk menolong orang lain tanpa pamrih.
(Si Doel Anak Betawi, Aman Datuk Madjoindo dengan perubahan redaksi)
Pernyataan yang menggambarkan Bang Salim berwatak menakutkan terhadap pada kalimat....
1, 3, dan 5
1, 4, dan 6
2, 3, dan 4
2, 4, dan 6
3, 5, dan 7
(1) Orang yang tahu sebab yang sebenarnya, tiadalah berani menceritakan kepada orang lain. (2) Mereka takut akan pembalasan Bang Salim karena Bang Salim masa itu orangnya galak, ia menjadi jago di kampungnya. (3) Semua orang sangat ngerti kepadanya. (4) Tetapi yang ditakutkan orang benar, bukan karena keras pukulannya atau besar tinjunya, melainkan pada benda yang selalu dibawanya. (5) Benda itu dibawanya ke mana saja ia pergi dan jika ia berselisih, mudah saja ia mengancam dengan marah, “Kalo lu misih mempan ini, jangan banyak omong,” Begitulah selalu ancamnnya kepada orang. (6) Senjata itu tak lain hanyalah sebuah tongkat yang berkilat-kilat. (7) Mestinya kekuatan itu digunakan untuk menolong orang lain tanpa pamrih.
(Si Doel Anak Betawi, Aman Datuk Madjoindo dengan perubahan redaksi)
Nilai moral yang terdapat ada kutipan novel tersebut adalah....
Pembawaan orang yang senang menakut-nakuti.
Megancam orang lain dengan marah-marah.
Disegani oleh orang lain karena pukulannya.
Membantu orang lain dengan berbagai kekuatan.
Kekuatan yang dimiliki digunakan untuk kebaikan.
(1) Orang yang tahu sebab yang sebenarnya, tiadalah berani menceritakan kepada orang lain. (2) Mereka takut akan pembalasan Bang Salim karena Bang Salim masa itu orangnya galak, ia menjadi jago di kampungnya. (3) Semua orang sangat ngerti kepadanya. (4) Tetapi yang ditakutkan orang benar, bukan karena keras pukulannya atau besar tinjunya, melainkan pada benda yang selalu dibawanya. (5) Benda itu dibawanya ke mana saja ia pergi dan jika ia berselisih, mudah saja ia mengancam dengan marah, “Kalo lu misih mempan ini, jangan banyak omong,” Begitulah selalu ancamnnya kepada orang. (6) Senjata itu tak lain hanyalah sebuah tongkat yang berkilat-kilat. (7) Mestinya kekuatan itu digunakan untuk menolong orang lain tanpa pamrih.
(Si Doel Anak Betawi, Aman Datuk Madjoindo dengan perubahan redaksi)
Amanat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
Jadilah orang yang bisa disegani orang lain.
Jangan menakut-nakuti orang lain apalagi mengancam.
Selalu berbuat baik kepada orang yang menolong kita.
Berhati-hati hidup dan bergaul di masyarakat.
Janganlah menjadi orang yang menakutkan tetangga.
(1) Tak jauh dari sebelah timur, persis di belakang kami, adalah Mongolia yang tak tersentuh, mengandung marabahaya yang menerbitkan rayuan pertualangan. (2) Ingin rasanya mencoba-coba tantangan yang dihembuskan angin-angin lembahnya yang jahat, tidur di padang sabananya sambil menghalau serigala dengan kayu bakar, atau terhalusinasi hantu-hantu gurunnya yang berumur ribuan tahun. (3) Mongolia, sungguh menggoda. (4) Tapi nanti saja, karena kami harus menemui janji-janji kami. (5) Kami harus ke selatan, terus beringsut ke selatan, menyelesaikan apa yang kami ikrarkan di Paris.
Edensor, Andrea Hirata
Watak tokoh “kami” pada penggalan novel tersebut adalah….
pembangkang
pemberani
pemberontak
pecundang
pemaaf
(1) Tak jauh dari sebelah timur, persis di belakang kami, adalah Mongolia yang tak tersentuh, mengandung marabahaya yang menerbitkan rayuan pertualangan. (2) Ingin rasanya mencoba-coba tantangan yang dihembuskan angin-angin lembahnya yang jahat, tidur di padang sabananya sambil menghalau serigala dengan kayu bakar, atau terhalusinasi hantu-hantu gurunnya yang berumur ribuan tahun. (3) Mongolia, sungguh menggoda. (4) Tapi nanti saja, karena kami harus menemui janji-janji kami. (5) Kami harus ke selatan, terus beringsut ke selatan, menyelesaikan apa yang kami ikrarkan di Paris.
Edensor, Andrea Hirata
Pendeskripsian watak tokoh “kami” dalam penggalan novel adalah….
secara langsung
dialog antartokoh
pikiran tokoh
tanggapan tokoh
lingkungan sekitar tokoh
(1) Tak jauh dari sebelah timur, persis di belakang kami, adalah Mongolia yang tak tersentuh, mengandung marabahaya yang menerbitkan rayuan pertualangan. (2) Ingin rasanya mencoba-coba tantangan yang dihembuskan angin-angin lembahnya yang jahat, tidur di padang sabananya sambil menghalau serigala dengan kayu bakar, atau terhalusinasi hantu-hantu gurunnya yang berumur ribuan tahun. (3) Mongolia, sungguh menggoda. (4) Tapi nanti saja, karena kami harus menemui janji-janji kami. (5) Kami harus ke selatan, terus beringsut ke selatan, menyelesaikan apa yang kami ikrarkan di Paris.
Edensor, Andrea Hirata
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan novel adalah….
1 dan 2
2 dan 4
3 dan 4
3 dan 5
4 dan 5
Cermati penggalan novel berikut!
Di mana-mana sama saja orang tua mengumpulkan uang untuk menyekolahkan anaknya. Segala keperluan di rumah dihematkan. Penghidupan dikecil-kecilkan. Belanja seorang anak lebih besar dari suatu keluarga. Sekalian korban itu dipikul oleh orang tua dengan sabar sebab di dalam hatinya, ia berharap melihat anaknya di kemudian hari menjadi orang yang berpangkat tinggi, yang akan mengharumkan namanya.
Layar Terkembang, Sutan Takdir Alisyahbana
Ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan sikap orang tua pada penggalan novel tersebut adalah….
keras hati
sakit hati
kerja keras
rendah hati
menahan diri
Bacalah dengan saksama!
“Siapa laki-laki itu Lintang?” tanya Sahara tercekat.
“Bodenga…”
“Ooh…,” kami serentak menutup mulut dengan tangan.
Menakutkan sekali. Tak ada yang berani berkomnetar. Tegang menunggu kelanjutan cerita Lintang.
“Aku lebih takut padanya daripada buaya mana pun. Pria ini tak mau dikenal orang, tapi sepanjang pesisir Belitung Timur, siapa tak kenal dia?”
“Dia melewatiku seperti aku tak ada dan dia melangkah tanpa ragu mendekati binatang baus itu. Dia menyentuhnya! Menepuk-nepuk lembut kulitnya sambil menggumamkan sesuatu. Ganjil sekali, buaya itu seperti takluk, mengibas-ngibaskan ekornya laksana seekor anjing yang ingin mengambil hati tuannya. Lalu mendadak sontak dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptile zaman Cretaceous itu terjun ke rawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon kelapa tumbang sekaligus.”
(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)
Bahwa tokoh Bodenga seorang yang keras, pemberani, dan menakutkan dideskripsikan melalui….
pikiran tokoh
tindakan tokoh
lingkungan tokoh
uraian langsung
dialog antartokoh
Bacalah dengan saksama!
“Siapa laki-laki itu Lintang?” tanya Sahara tercekat.
“Bodenga…”
“Ooh…,” kami serentak menutup mulut dengan tangan.
Menakutkan sekali. Tak ada yang berani berkomnetar. Tegang menunggu kelanjutan cerita Lintang.
“Aku lebih takut padanya daripada buaya mana pun. Pria ini tak mau dikenal orang, tapi sepanjang pesisir Belitung Timur, siapa tak kenal dia?”
“Dia melewatiku seperti aku tak ada dan dia melangkah tanpa ragu mendekati binatang baus itu. Dia menyentuhnya! Menepuk-nepuk lembut kulitnya sambil menggumamkan sesuatu. Ganjil sekali, buaya itu seperti takluk, mengibas-ngibaskan ekornya laksana seekor anjing yang ingin mengambil hati tuannya. Lalu mendadak sontak dengan sebuah lompatan dahsyat seperti terbang reptile zaman Cretaceous itu terjun ke rawa menimbulkan suara laksana tujuh pohon kelapa tumbang sekaligus.”
(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)
Amanat yang sesuai dengan isi kutipan tersebut adalah….
Jangan hidup mengucilkan diri sehingga ditakuti masyarakat.
Jangan mendekati binatang buas bila kita tidak memiliki keahlian.
Janganlah takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada binatang buas.
Jangan berbuat usil kepada orang-orang yang tidak mau bermasyarakat
Janganlah menilai seseorang hanya dari penampilannya.
Cermatilah kutipan berikut!
Tiap-tiap pemuda yang bersekolah di Betawi datang bertamasya di Danau Singakrak atau ke Sawahlunto san singgah ke Solok, belum pernah mereka melampaui sebuah rumah kecil yang amat bersih rupanya. Ruamh itu dibeli oleh ibu Hanafi dan di sanalah ia tinggal bersama Rapiah karena perlu menyekolahkan Syafei. Rapiah tidak suka bercerai lagi dengan mertuanya yang sudah dipandangnya sebagai ibu kandungnya, sedangkan ibu Hanafi pun berkata hendak menurutkan orang kedua itu ke mana perginya.
Rapiah tetap menolak dipersuamikan. Ia berkata tak sampai hati akan memberi ayah tiri kepada Syafei.
Ibu Hanafi memerlukan benar menyembelih ayam, tiap-toap kedatangan anak –anak sekolah dari Betawi. Pemuda-pemuda itu senang sekali datang berkunjung ke rumah orang yang peramah dan bijaksana itu.
(Salah Asuhan, Abdul Muis)
Hal dalam kutipan yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat sekarang adalah….
Jika bertamasya ke Danau Singkarak atau Sawahlunto singgah ke rumah sanak saudara di sana.
Hendaklah kita mengunjungi keluarga kita yang ada di daerah.
Suatu keluarga menyiapkan hidangan yang baik untuk menjamu tamu.
Ibu mertua dan anak menantu perempuan selalu bersama dalam melakukan sesuatu.
Tidak menikah lagi sesuadah suami meninggal demi masa depan anak yang dicintai.
(1) Air mataku mengalir deras membaca surat Nurul. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Hatiku ikut pilu. (2) “Sayang, apa isinya sampai kau menangis?” tanya Aisya sambil mengusap air mata di pipiku dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah istriku. (3) Haruskah aku berterus terang padanya? Aku tak ingin membuat dirinya kacau dan cemburu. Aku harus melindungi ketenangan jiwanya. Yang jelas aku sama sekali tidak mau mengkhianatinya. (4) Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memadu istriku. (5) Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir.
(Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy)
Penggambaran watak aku yang setia kepada istrinya diungkapkan melalui….
uraian langsung
lingkungan tokoh
tanggapan tokoh lain
perilaku tokoh
pikiran tokoh
(1) Air mataku mengalir deras membaca surat Nurul. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Hatiku ikut pilu. (2) “Sayang, apa isinya sampai kau menangis?” tanya Aisya sambil mengusap air mata di pipiku dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah istriku. (3) Haruskah aku berterus terang padanya? Aku tak ingin membuat dirinya kacau dan cemburu. Aku harus melindungi ketenangan jiwanya. Yang jelas aku sama sekali tidak mau mengkhianatinya. (4) Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memadu istriku. (5) Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir.
(Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy)
Pernyataan yang membuktikan latar suasana haru terdapat dalam kalimat….
1 dan 2
1 dan 3
2 dan 5
3 dan 4
4 dan 5
(1) Air mataku mengalir deras membaca surat Nurul. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Hatiku ikut pilu. (2) “Sayang, apa isinya sampai kau menangis?” tanya Aisya sambil mengusap air mata di pipiku dengan ujung jilbabnya. Kutatap wajah istriku. (3) Haruskah aku berterus terang padanya? Aku tak ingin membuat dirinya kacau dan cemburu. Aku harus melindungi ketenangan jiwanya. Yang jelas aku sama sekali tidak mau mengkhianatinya. (4) Bisa jadi jika aku berterus terang, dia bisa menerima usulan Nurul, tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan memadu istriku. (5) Aisha adalah perempuanku yang pertama dan terakhir.
(Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy)
Konflik pada tokoh “aku’ dalam kutipan tersebut adalah….
tidak mampu berterus terang
lebih menyayangi istrinya
lebih mempercayai Nurul
tidak mampu berbuat apa-apa
tidak mampu menenangkan jiwa istrinya
Bacalah kutipan berikut dengan saksama!
(1) Sepeninggal kedua orang tuanya, anak itu sering terlihat duduk termenung di pinggir sungai sambil memandang kea rah riak air. (2) Benar saja seperti yang dikatakan oleh orang tuanya. (3) Pada suatu hari yang panas, hujan turun rintik-rintik da nada pelangi. (4) Terlihat air di sungai berubah menajdi putih seperti air susu. (5) Itulah tanda bahwa kedua orang tuanya telah menang dalam perkelahian maut dengan naga putih. (6) Namun, anak itu tak dapat hidup sendiri tanpa orang tuanya. (7) Oleh karena itu, ia tetap duduk termenung sampai akhir hayatnya.
(Legenda Lok Si Naga: Cerita Rakyat dari Kalimantan, oleh James Danandjaja)
Nilai moral yang terkandung dalam kutipan karya sastra di atas adalah….
Seorang anak yang merasa bahagia atas kemenangan kedua orang tuanya.
Seorang anak yang seringduduk termenung di pinggir sungai sambil memandang ke arah air sungai.
Seorang anak yang setia menunggu kedatangan orang tua sampai akhir hayatnya.
Seorang anak yang selalu patuh dan menurut nasihat orang tua.
Seorang anak yang senang melihat air sungai berwarna putih seperti susu.
Bacalah kutipan berikut dengan saksama!
(1) Sepeninggal kedua orang tuanya, anak itu sering terlihat duduk termenung di pinggir sungai sambil memandang kea rah riak air. (2) Benar saja seperti yang dikatakan oleh orang tuanya. (3) Pada suatu hari yang panas, hujan turun rintik-rintik da nada pelangi. (4) Terlihat air di sungai berubah menajdi putih seperti air susu. (5) Itulah tanda bahwa kedua orang tuanya telah menang dalam perkelahian maut dengan naga putih. (6) Namun, anak itu tak dapat hidup sendiri tanpa orang tuanya. (7) Oleh karena itu, ia tetap duduk termenung sampai akhir hayatnya.
(Legenda Lok Si Naga: Cerita Rakyat dari Kalimantan, oleh James Danandjaja)
Bukti latar tempat digambarkan pada kalimat nomor….
1 dan 2
1 dan 4
2 dan 5
3 dan 6
4 dan 7
Cermatilah kutipan novel berikut!
(1) Wiraatmaja menggelengkan kepalanya, “Anak-anak berlainan dengan kita: apa yang kita katakana baik, katanya tidak baik.” (2) “Bukan begitu, Bapak!” kata Tuti pula menyambung kata ayahnya. “Bukan mereka sengaja hendak bertentangan dengan orang-orang tua. (3) Yang bertentangan itu hanyalah pendapat tentang bahagia, tentang arti hidup kita sebagai manusia. (4) Emang berkata bahwa bahagia itu ialah pekerjaan kemudian hari, pendeknya hidup yang senang. (5) Saleh menganggap bahagia itu lain artinya. (6) Bahagia itu baginya tidak sama dengan hidup senang. (7) Baginya yang dinamakan bahagia itu dapat menurutkan desakan hatinya, dapat mengembangkan tenaga dan kecakapannya sepenuh-penuhnya dan menyerahkannya kepada yang terasa kepadanya dan yang termulia dalam hidup ini.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan tersebut adalah….
orang pertama sebagai pelaku utama
orang ketiga serba tahu
orang pertama sebagai pengamat
orang ketiga terarah
orang ketiga bukan tokoh utama
Cermatilah kutipan novel berikut!
(1) Wiraatmaja menggelengkan kepalanya, “Anak-anak berlainan dengan kita: apa yang kita katakana baik, katanya tidak baik.” (2) “Bukan begitu, Bapak!” kata Tuti pula menyambung kata ayahnya. “Bukan mereka sengaja hendak bertentangan dengan orang-orang tua. (3) Yang bertentangan itu hanyalah pendapat tentang bahagia, tentang arti hidup kita sebagai manusia. (4) Emang berkata bahwa bahagia itu ialah pekerjaan kemudian hari, pendeknya hidup yang senang. (5) Saleh menganggap bahagia itu lain artinya. (6) Bahagia itu baginya tidak sama dengan hidup senang. (7) Baginya yang dinamakan bahagia itu dapat menurutkan desakan hatinya, dapat mengembangkan tenaga dan kecakapannya sepenuh-penuhnya dan menyerahkannya kepada yang terasa kepadanya dan yang termulia dalam hidup ini.
Pendeskripsian watak Saleh dalam kutipan tersebut melalui….
dialog antartokoh
secara langsung
pikiran-pikiran tokoh
tanggapan tokoh lain
keadaan di sekitar tokoh
Bacalah dengan saksama!
Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, ibu Frischa namanya. Caranya ber-make up jelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampung. Gerak-geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat berbicara dengan beliau, ia sama seperti orang melayu yang baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitas-fasilitas sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah menjadi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di kota atau bahkan luar negeri.
(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)
Tokoh Ibu Frischa yang angkuh dan sombong dideskripsikan melalui….
dialog antar tokoh
lingkungan tokoh
pikiran tokoh
tindakan tokoh
uraian langsung
Bacalah dengan saksama!
Kepala sekolahnya adalah seorang pejabat penting, ibu Frischa namanya. Caranya ber-make up jelas memperlihatkan dirinya sedang bertempur mati-matian melawan usia dan tampak jelas pula, dalam pertempuran itu, beliau telah kalah. Ia seorang wanita keras yang terpelajar, progresif, ambisius, dan sering habis-habisan menghina sekolah kampung. Gerak-geriknya diatur sedemikian rupa sebagai penegasan kelas sosialnya. Di dekatnya siapa pun akan merasa terintimidasi. Kalau sempat berbicara dengan beliau, ia sama seperti orang melayu yang baru belajar memasak, bumbunya cukup tiga macam: pembicaraan tentang fasilitas-fasilitas sekolah PN, anggaran ekstrakurikuler jutaan rupiah, dan tentang murid-muridnya yang telah menjadi dokter, insinyur, ahli ekonomi, pengusaha, dan orang-orang sukses di kota atau bahkan luar negeri.
(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)
Amanat yang sesuai dengan isi kutipan tersebut adalah…
Jadilah wanita yang terpelajar, tetapi tidak angkuh dan sombong.
Jangan angkuh dan sombong kalau menjadi orang yang terpelajar.
Bersikaplah keras dalam memimpin, tetapi tetap santun kepada orang lain.
Bersikaplah rendah hati, santun, dan sederhana sekalipun menjadi pejabat tinggi.
Janganlah mengingkari kodrat atau yang diberikan kepada kita.
Bacalah kutipan teks cerita sejarah berikut!
Sekarang datang waktunya ia akan mencari-cari kesalahan. Mulailah aku mengingat-ingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk ke tahun 1915. Hanya ada satu hal yang bisa digugat: analisa dangkal tentang naskah-naskah Raden Mas Minke yang aku anggap tidak berharga. Naskah-naskah itu aku simpan di rumah untuk jadi milik pribadi. Maka analisis yang kurang bersungguh-sungguh itu mungkin memberi peluang untuk menuduh aku menyembunyikan sesuatu pendapat atau kenyataan.
Penggunaan kata bermakna lampau pada kutipan teks diatas adalah
Sekarang datang waktunya ia akan mencari-cari kesalahan
Mulailah aku mengingat-mengingat secara kronologis pekerjaanku sejak 1912 sampai masuk 1915
hanya ada satu hal yang bisa digugat: analisis dangkal tentang naskah-naskah Raden Mas Minke yang aku anggap tidak berharga
Naskah-naskah itu aku simpan di rumah untuk jadi milik pribadi
Maka analisis yang kurang bersungguh-sungguh itu mungkin memberi peluang untuk menuduh aku menyembunyikan sesuatu pendapat atau kenyataan
