wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Tradisi Islam di Nusantara

Total questions: 10

Worksheet time: 33mins

Name
Class
Date
1.

Gambar di atas adalah wujud percampuran budaya tanpa menghilangkan ciri khas budaya asal yang disebut dengan...

a)

Simulasi

b)

Akulturasi

c)

Asimilasi

d)

Kurasi

2.

Gambar di atas merupakan contoh perpaduan budaya...

a)

Jawa dan Islam

b)

Jawa dan bali

c)

Banten dan nusantara

d)

Islam dan nusantara

3.

Bulan Islam pada tanggal 6 Juni tahun 2022 yaitu...

(a)  

4.

Perhatikan teks berikut!

Bila dirunut kesejarahannya, tradisi Halalbihalal sebenarnya sudah berkembang sangat lama, jauh sebelum negara ini berdiri. Beberapa referensi menyebut, sebagaimana dijelaskan Antropolog UIN Sunan Kalijaga Mohammad Soehadha, tradisi ini berakar dari “pisowanan” yang sudah ada di Praja Mangkunegaran Surakarta pada abad ke-18. Meminjam istilah Robert Redfield, Soehadha menjelaskan bahwa Halalbihalal bermula dari “great tradition” di keraton yang kemudian diabsorpsi umat Islam Indonesia, kemudian memancar pada keseharian rakyat biasa sebagai “little tradition”.

Saat itu, Raden Mas Said KGPA Arya Mangkunegara I mengumpulkan para bawahan dan prajurit di balai astaka untuk melakukan “sungkeman” kepada raja dan permaisuri selepas perayaan Idulfitri. Pisowanan secara bersama ini dianggap lebih efektif dan efisien dibanding dilakukan secara perorangan.

Secara terminologis, istilah Halalbihalal sudah dikenal sejak 1920-an. Majalah Suara Muhammadiyah, misalnya, pada tahun 1926 telah memuat istilah itu pada edisi menjelang 1 Syawal 1344 H. Bahkan dalam dokumen tahun 1924, majalah itu pun sudah menyebutkan dalam salah satu paragraf artikelnya.

Dari sanalah, mungkin istilah itu kemudian dituangkan dalam dalam kamus Jawa-Belanda karya Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (w.1988) yang terbit pada 1938. Ahli sastra Jawa dari Universitas Leiden ini menyusun kamus pada 1926 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelis Dirk de Graeff (w.1957). Pada entri huruf “A” dalam kamus ini misalnya, ditemukan kata “Alal Behalal” yang diartikan dengan “acara maaf-memaafkan ketika hari raya”.

Tradisi di atas dilakukan oleh umat Islam setelah merayakan...

a)

Idul adha

b)

Tahun baru hijriyah

c)

Idul fitri

d)

Puasa ramadhan

5.

Perhatikan teks berikut!

Bila dirunut kesejarahannya, tradisi Halalbihalal sebenarnya sudah berkembang sangat lama, jauh sebelum negara ini berdiri. Beberapa referensi menyebut, sebagaimana dijelaskan Antropolog UIN Sunan Kalijaga Mohammad Soehadha, tradisi ini berakar dari “pisowanan” yang sudah ada di Praja Mangkunegaran Surakarta pada abad ke-18. Meminjam istilah Robert Redfield, Soehadha menjelaskan bahwa Halalbihalal bermula dari “great tradition” di keraton yang kemudian diabsorpsi umat Islam Indonesia, kemudian memancar pada keseharian rakyat biasa sebagai “little tradition”.

Saat itu, Raden Mas Said KGPA Arya Mangkunegara I mengumpulkan para bawahan dan prajurit di balai astaka untuk melakukan “sungkeman” kepada raja dan permaisuri selepas perayaan Idulfitri. Pisowanan secara bersama ini dianggap lebih efektif dan efisien dibanding dilakukan secara perorangan.

Secara terminologis, istilah Halalbihalal sudah dikenal sejak 1920-an. Majalah Suara Muhammadiyah, misalnya, pada tahun 1926 telah memuat istilah itu pada edisi menjelang 1 Syawal 1344 H. Bahkan dalam dokumen tahun 1924, majalah itu pun sudah menyebutkan dalam salah satu paragraf artikelnya.

Dari sanalah, mungkin istilah itu kemudian dituangkan dalam dalam kamus Jawa-Belanda karya Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (w.1988) yang terbit pada 1938. Ahli sastra Jawa dari Universitas Leiden ini menyusun kamus pada 1926 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelis Dirk de Graeff (w.1957). Pada entri huruf “A” dalam kamus ini misalnya, ditemukan kata “Alal Behalal” yang diartikan dengan “acara maaf-memaafkan ketika hari raya”.

Tradisi halal bihalal awalnya bermula dari...

(a)  

6.

Perhatikan teks berikut!

Bila dirunut kesejarahannya, tradisi Halalbihalal sebenarnya sudah berkembang sangat lama, jauh sebelum negara ini berdiri. Beberapa referensi menyebut, sebagaimana dijelaskan Antropolog UIN Sunan Kalijaga Mohammad Soehadha, tradisi ini berakar dari “pisowanan” yang sudah ada di Praja Mangkunegaran Surakarta pada abad ke-18. Meminjam istilah Robert Redfield, Soehadha menjelaskan bahwa Halalbihalal bermula dari “great tradition” di keraton yang kemudian diabsorpsi umat Islam Indonesia, kemudian memancar pada keseharian rakyat biasa sebagai “little tradition”.

Saat itu, Raden Mas Said KGPA Arya Mangkunegara I mengumpulkan para bawahan dan prajurit di balai astaka untuk melakukan “sungkeman” kepada raja dan permaisuri selepas perayaan Idulfitri. Pisowanan secara bersama ini dianggap lebih efektif dan efisien dibanding dilakukan secara perorangan.

Secara terminologis, istilah Halalbihalal sudah dikenal sejak 1920-an. Majalah Suara Muhammadiyah, misalnya, pada tahun 1926 telah memuat istilah itu pada edisi menjelang 1 Syawal 1344 H. Bahkan dalam dokumen tahun 1924, majalah itu pun sudah menyebutkan dalam salah satu paragraf artikelnya.

Dari sanalah, mungkin istilah itu kemudian dituangkan dalam dalam kamus Jawa-Belanda karya Theodoor Gautier Thomas Pigeaud (w.1988) yang terbit pada 1938. Ahli sastra Jawa dari Universitas Leiden ini menyusun kamus pada 1926 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Andries Cornelis Dirk de Graeff (w.1957). Pada entri huruf “A” dalam kamus ini misalnya, ditemukan kata “Alal Behalal” yang diartikan dengan “acara maaf-memaafkan ketika hari raya”.

Jelaskan tujuan tradisi pada teks di atas!

4 lines
7.

Tradisi tumpengan merupakan tradisi yang berasal dari...

a)

Bali

b)

Madura

c)

Banten

d)

Jawa

8.

Jelaskan manfaat adanya tradisi pada teks di atas!

4 lines
9.

Gambar di atas merupakan contoh tradisi di daerah…

(a)  

10.

Jelaskan tradisi pada gambar di atas!

4 lines