WorksheetsEvaluasi Unsur Intrinsik Cerpen
Total questions: 25
Worksheet time: 29mins
Perhatikan kutipan berikut!
"Kamu mengapa, Du?" tanya kakek dengan sedih. "Maafkan Badu, Kek. Tadi Badu makan mangga yang masih kecil-kecil dan akhirnya Badu sakit perut," kata Badu sambil terisak. "Sudahlah, Du, lain kali tunggulah sampai mangga itu ranum, baru Badu boleh memetiknya."
Amanat penggalan cerpen tersebut adalah...
Jangan melawan kepada orang tua
Kita harus menuruti nasihat orang tua
Janganlah memetik mangga sembarangan
Janganlah makan mangga yang masih kecil.
Bacalah kutipan cerpen berikut!
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Latar tempat pada kutipan cerita tersebut adalah ...
kereta api
jalan raya
bus
kapal laut
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
(1) Aku ingin menumpahkan dendam setelah lama aku siapkan. (2) Dua puluh lima tahun. (3) Aku bergelar sarjana hukum dan pengacara termuda tersohor di negeri ini. (4) Aku punya uang dan tangan yang siap membalaskan dendamku. (5) Hanya saja, setiap niat itu aku beritahukan kepada kedua saudaraku, keduanya akan berkhutbah kepadaku, “Jangan balaskan kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan.”
Bukti watak tokoh Aku pendendam ditandai dengan kalimat nomor....
(1) dan (2)
(1) dan (4)
(2) dan (5)
(3) dan (4)
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
“Huek, pahit, Nek. Dinda nggak suka. Nggak mau kopi ah!”
Nenek Aida tetap tersenyum. Ia teruskan kegiatannya membuat kopi. Setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu.
“Dinda nggak mau kopinya, Nek... pahit... kopi Dinda buat Nenek aja deh....”
“Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kejadian. Tahukah Dinda, semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup lebih istimewa. Mengerti?”
Pesan dalam kutipan cerpen tersebut yaitu....
Dalam kehidupan ini kita akan mengalami berbagai kejadian yang menyenangkan.
Hidup yang istimewa adalah hidup yang dapat menerima kepedihan.
Kita harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup ada peristiwa membahagiakan dan menyedihkan.
Dalam hidup dengarkanlah nasehat orang tua yang sudah berpengalaman dalam hidup.
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan cermat!
Kemudian mendadak muncul puluhan, ratusan, bahkan mungkin ribuan kupu-kupu aneka warna berterbangan dan memenuhi pandanganku. Istriku berteriak dan memegang tanganku, kurasakan pegangannya terlepas dan tak kudengar lagi suaraku sendiri.
Latar suasana pada kutipan cerpen tersebut yaitu....
damai
ketakutan
sedih
sepi
Bacalah cerpen berikut dengan cermat!
Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci. Telapak kaki tangannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram.
Gaya bahasa pada kalimat Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya, menggunakan majas ...
personifikasi
hiperbola
litotes
simile
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
Sudut pandang pengarang pada kutipan cerpen tersebut....
sudut pandang orang ketiga
sudut pandang orang pertama
sudut pandang orang kedua
sudut pandang campuran
Perhatikan kutipan berikut!
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada kalimat nomor ….
(1)
(2)
(3)
(4)
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
”Pak, pohon pepaya di pekaranganku telah dirobohkan dengan semena-mena. Tidaklah sepatutnya hal itu kulaporkan?”
”Itu benar, tapi jangan melebih-lebihkan. Ingat, yang harus diutamakan ialah kerukunan kampung. Soal kecil yang dibesar-besarkan bisa mengakibatkan kericuhan dalam kampung. Setiap soal mesti diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh main seruduk. Masih ingatkah kau pada peristiwa Dullah dan Bidin tempo hari? Hanya karena soal dua kilo beras, seorang kehilangan nyawa dan yang lain meringkuk di penjara.”
(Gerhana, Muhammad Ali)
Unsur intrinsik yang paling dominan dalam cerita di atas adalah
alur
latar
amanat
tema
Bacalah kutipan berikut dengan cermat!
“Siti, aku minta maaf. Selama ini aku selalu memusuhimu hanya karena kamu tidak mau memberi jawaban saat ulangan. Aku merasa bersalah. Ternyata kamu sahabat sejatiku. Meskipun aku sudah menyakitimu, kau tetap mau menolongku saat aku kecelakaan,”kata Dina sambil mengulurkan tangan ketika sampai di rumah.
Pesan yang terdapat pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
Jangan hanya mengaku sahabat ketika mendapat jawaban saat ulangan.
Jangan percaya kepada teman.
Sayangilah temanmu seperti kamu menyayangi keluargamu.
Tolonglah orang lain meskipun orang tersebut pernah menyakitimu.
Penggalan cerpen berikut untuk tiga butir soal di bawah ini!
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …
sudut pandang orang pertama
sudut pandnag orang kedua
sudut pandang orang jamak
sudut pandang orang tunggal
Nisan namamu merindingkan bulu kuduk yang menghantam ulu hatiku, sahabat. Seharusnya, aku tak telat untuk segera mengantarmu, mencium gumpalan tanah terakhirmu. Sedetik saja, maka akan kucium kening pucatmu untuk yang terakhir. Peristiwa kematianmu ini, akan membuatku terus mengingatmu. Aku jatuh mengenangmu, sahabat. Tidak ada yang sepeduli kau di kehidupan ini. Aku benci pada tanah yang mengurukmu.
Latar tempat pada kutipan cerpen tersebut yaitu....
A. pasar
B. gudang
C. candi
D. kuburan
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Jon dan Con anak kembar. Jon kepala regu dan aku wakilnya. Kami bersepuluh sedang memandang daerah patroli “Tiger Brigade” dengan saksama dari puncak bukit “panic”, pos kami terdepan. Con berjongkok di samping kakaknya yang sedang meneropong kampung-kampung di bawah kami dari semak-semak. Jon melambai dan aku mendekat. “Aku akan turun ke kampung di bawah itu.”
Latar tempat yang terdapat dalam penggalan cerpen tersebut adalah ….
daerah patroli
puncak bukit
kampung
semak-semak
Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sebuah mobil colt berplat nomor merah berhenti persis di depan kedai kasur Alin. Murni berdebar-debar, kalau-kalau orang yang turun dari mobil itu utusan hotel yang memesan tiga puluh kasur single itu.
Kata tercetak tebal tersebut mengandung makna....
bangunan tempat memproduksi barang
bangunan tempat berjualan
bangunan tempat menitipkan barang
bangunan tempat menumpuk barang
Bacalah kutipan cerpen berikut ini!
(1) Setelah aku tidur bersama nenek selama tiga hari, senyum nenek semakin lebar dan beliau mengurcapkan, "Terima kasih cucuku, kamu telah memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku." (2) Dan disuruh semua anaknya berkumpul. (3) Setelah semua berkumpul, nenek menutup mata untuk selama-lamanya. (4) Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi berdenyut.
Sumber: Nasihat Terindah, karya lrwan Ahmad Rozaki
Kalimat langsung pada kutipan cerpen tersebut terdapat pada kalimat nomor .. ..
1
2
3
4
Perhatikan kutipan berikut!
Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yang selalu diperbincangkan Kurdi di setiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedongnya itu.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat …
pemberani
baik
sombong
egois
Perhatikan kutipan berikut!
“Selanjutnya, masalah pengobatan dana perawatan, biar nanti seluruh guru di sini memikirkan,” tegas Bu Eli. Pak Bon bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pak Bon memang seorang berpendirian kuat. Meskipun bukan orang kaya, ia tidak mau dibantu begitu saja. Semua guru yang mengunjunginya, hanya menggelengkan kepala, kagum akan keteguhan Pak Bon.
Cara pengarang menggambarkan watak tokoh Pak Bon pada kutipan tersebut adalah…
Diceritakan pengarang
Diceritakan tokoh lain
Tindakan tokoh
Dialog antartokoh
Perhatikan kutipan berikut!
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskim pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
Banyak bangsal yang kosong
Susahnya menjadi orang miskin
Tubuhnya digerogoti penyakit
Buruknya pelayanan rumah sakit
Perhatikan kutipan berikut!
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasannya telah lenyap. Juga televisi dan beberapa perlengkapan elektronik yang ada di ruang tengah.
Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”
Tema cerita untuk cerita tersebut adalah ...
Pencurian
Kesedihan
Kekhawatiran
Kelalaian
Perhatikan kutipan berikut!
“Setidak-tidaknya, sebagai gambaran apakah Anda bersedia seandainya nanti Dewan Komisaris menunjuk Anda sebagai wakil saya?” Taksu menunduk, “Saya sungguh tidak berani mengatakan apa-apa sebelum terjadi.”
Karakter Taksu sesuai dengan penggalan cerita tersebut adalah ….
sombong
rendah hati
penakut
jujur
Perhatikan kutipan berikut!
Bila seseorang bertanya pekerjaan apa yang saya lakukan, maka saya tak mampu menjawabnya. Wajah saya langsung menjadi merah padam dan tergagap-gagap. Saya cemburu terhadap orang yang bisa mengatakan, “Saya tukang batu.”
Watak tokoh saya dalam penggalan cerita tersebut adalah ….
penakut
pemalu
pembohong
pendiam
Perhatikan kutipan berikut!
Ketika burung-burung telah pulang ke sarangnya, ayah menerima kabar dari seseorang bahwa teman ayah tewas tertembus timah panas. Hal ini amat memalukan sebab ada sepotong suratnya yang berbunyi, “Aku sudah malu padamu, Tuhan, karena aku tidak menjalankan hidupku sebagai manusia yang wajar dan baik seperti yang Engkau firmankan.” Tatkala mentari telah mengintip bumi, ayah bermaksud ikut menggali kubur untuk membenamkan mayat temannya ke dalam bumi ini.
Latar waktu dan suasana pada kutipan cerpen tersebut adalah ….
malam hari yang hening, menegangkan
pagi dan siang hari, memalukan
siang dan sore hari, mencemaskan
malam dan pagi hari, mengenaskan
Perhatikan kutipan berikut!
"Sebenarnya sangat banyak kejadian seperti itu yang terjadi kepadaku, sangat sering. Terkadang aku bingung dengan orang-orang yang tak peduli untuk menutup aurat mereka. Sungguh, sebenarnya apa arti jilbab bagi mereka?"
(Kutipan Cerpen "Apa Arti Jilbab Bagimu" karya Lamia N S)
Nilai yang terkandung dalam kutipan tersebut adalah ...
nilai sosial
nilai agama
nilai budaya
nilai moral
Perhatikan kutipan berikut!
Pukul 11.20
“Enggak bisa tidur, ya? Mau tidur di kamar Papa?”
Besok Papa bisa antar Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
“Ngantar ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
“Ke mana?”
“Ke rumah Pak Pos.”
Latar tempat pada kutipan cerpen tersebut adalah ....
kamar tidur
dapur
ruang tamu
ruang makan
