Font size
WorksheetsBAB III AKHLAK KELAS XII AGAMA
Total questions: 92
Worksheet time: 2hrs 32mins
Ittisam, selalu bertindak sebagai khalifah di muka bumi.
(a)
Qayyum (Maha Jaga), dzikir pada tingkatan jiwa ke-enam yaitu zikir an-Nafs al-Mardhiyah (jiwa yang diridhai).
(a)
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan diberi nur (cahaya) Muhammad yang dimasukkan langsung ke dalam tubuh manusia. Nur Muhammad berasal dari Tuhan dan nanti bila manusia mati ia akan kembali kepada Tuhan. Manusia yang diciptakan pertama kali ialah Adam Manusia dan semua perbuatannya yang mengendalikan adalah Tuhan. Manusia hidup di dunia tidak dilarang memiliki harta yang banyak selama digunkan untuk kepentingan Allah dan agama.
(a)
Adab, yaitu adab seorang murid kepada mursyid adalah ajaran yang sangat prinsip dalam tarekat. Adab atau etika murid kepada mursyid-nya diatur sedemikian rupa menyerupai adab para sahabat terhadap Nabi. Hal ini diyakini karena hubungan antara murid dan mursyid sebagai cara melestarikan ajaran Nabi Muhammad Saw.
(a)
Dzikir yaitu alat untuk membuka hati. Dzikir yang diajarkan ada 7 (tujuh) macam, yaitu; dzikir thawaf, itsbat, dzikir itsbat faqad, dzikir itsmu zat, dan dzikir itsm ghaib.
(a)
al-Jilli. Syaikh ‘Abdul Qādir al- Jailāni
(a)
Melalui taubat, zuhud, tawakal, syukur, ridha dan jujur.
(a)
Rendah hati
(a)
Dzikir Ism al-Zāt, yaitu mengingat nama Allah dengan mengucapkan nama-Nya berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dengan tasbih) sambil memusatkan perhatian kepada Allah semata.
(a)
Ridha kepada Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan yang diwujudkan dengan menerima apa adanya (qana-ah/tidak rakus) dan menyerah.
(a)
Tuanta Salamaka
(a)
Mementingkan kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan.
(a)
Qahhar (Maha Perkasa),dzikir pada tingkatan ke-tujuh yaitu zikir an-Nafs al-Kāmilah (jiwa yang sempurna).
(a)
Riyadhah, melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya.
(a)
Meninggalkan rukhsah
(a)
Melafazkan kalimat laa ilaaha illa al-Allah dengan suara keras sebanyak 140 kali.
(a)
Senantiasa dalam posisi muraqabah (merasa diawasi Tuhan).
(a)
Adab kepada guru, wali dan penasehat
(a)
Taubat, permohonan ampun atas segala dosa.
(a)
Berakhlak dengan akhlak Nabi Muhammad Saw
(a)
Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan bersyukur dalam keadaan senang dan berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.
(a)
Syaikh Yusuf
(a)
Tidak menggabungkan ajaran tarekat Tijaniyah dengan tarekat yang lainnya.
(a)
Baiat
(a)
Konsisten mengikuti Sunnah Rasul baik dalam ucapan maupun perbuatan yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
(a)
Wirid Sahur, yaitu wirid yang dibaca pada setiap sahur
(a)
Persaudaraan
(a)
Menekankan pada tauhid dan pensucian diri dari nafsu dunia.
(a)
Muhammad bin Bahauddin al-Uwaisi al-Bukhārī
(a)
Menjauhi fanatisme keagamaan maupun politik.
(a)
Shalawat
(a)
Haq (Maha Benar), dzikir pada tingkatan jiwa keempat yaitu an-Nafs al Muthmainnah (jiwa yang tenang).
(a)
Tasyakur, selalu bersyukur kepada Allah Swt dengan mengabdi dan memuji-Nya.
(a)
Beliau lahir tepatnya pada 1605 M di Moncong Loe, Goa. Beliau merupakan ulama, mufti, sekaligus penulis kreatif. Di kota kelahirannya
(a)
Tetap berhadapan dengan Tuhan.
(a)
Muhammad ibn ‘Abdu al-Karim al-Madani al-Syafi’ as-Saman
(a)
Syaikh ‘Abd Allah Al-Syatarī (890 H/1485 M)
(a)
Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Mukhat al-Tijani.
(a)
Tafakkur, merenung tentang kebesaran Allah.
(a)
Abu al-Hasan al-Syadzili (w.1197 M)
(a)
Abdul Qādir al-Jaelāni al-Baghdādī (1077-1166 M),
(a)
Berpaling (hatinya) dari mahkluk, baik dalam peenrimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah Swt (Tawakal).
(a)
Sima’ mengkonsentrasikan seluruh anggota tubuh dan mengikuti perintah-perintah-Nya terutama pendengaran.
(a)
Dzikir Nafī-Isbāt yaitu dzikir tingkat ke-tiga dengan membaca lā ilāha illallāh.
(a)
Ketaqwaan terhadap Allah Swt lahir dan batin yang diwujudkan dengan jalan bersikap warā dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah Swt.
(a)
Syaikh al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hadiyatullah Taj al-Khalwati al-Makassari al-Bantani (w.1605 M).
(a)
Taubat
(a)
Dzikir. Tarekat Qadariyah wa Naqsabandiyah dikenal dengan tarekat dzikir. Dzikir dilakukan terus menerus, sebagai suatu latihan psikologis agar seseorang dapat mengingat Allah Swt disetiap waktu dan kesempatan. Dzikir adalah bentuk cinta kepada Allah. Sebab orang yang mencintai sesuatu tentunya akan menyebut nama yang dicintainya.
(a)
Mengambil faedah dari semua ilmu-ilmu agama.
(a)
Yaqza, kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapa Allah Swt Yang Maha Agung.
(a)
Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar Abu al-Hasan Syadzili
(a)
Taqwa kepada Allah Swt dengan lahir dan batin sesuai kemampuan.Jika terjadi pelanggaran syar’i wajib segera bertaubat kepada Allah Swt.
(a)
Mengatur nafas tanpa lalai dari Allah
(a)
Menyendiri di tengah keramaian, serta menghiasi diri dengan hal-hal yang memberi faedah.
(a)
Hizib Nawawi, yaitu kumpulan dzikir dan doanya Imam Nawawi dengan mengingat dan menyebut nama Allah Swt, memohon ampun kepada-Nya.
(a)
Memilih hukum-hukum yang ‘azīmah (hukum-hukum yang sejak awal pensyariatannya tidak berubah dan berlaku untuk seluruh umat serta di setiap tempat dan masa tanpa terkecuali).
(a)
Hizib Bahr, yaitu kumpulan dzikir dan doanya Abu Hasan asy-Syadzili.
(a)
Alam adalah ciptaan Tuhan. Semua gerak gerik alam di bawah pengawasan Tuhan dan digerakkan oleh Tuhan. Langit, bumi, matahari dan bintang diciptakan secara bersama-sama.
(a)
Dikerjakan setiap selesai salat fardhu.
(a)
Dzikir
(a)
Huwa (Dia), dzikir pada tingkatan jiwa ketiga yaitu al-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami).
(a)
sufi besar asal Indonesia
(a)
Khalwat
(a)
Hay (Maha Hidup, dzikir pada tingkatan ke-lima yaitu zikir an-Nafs ar-Radhiyah (jiwa yang ridha).
(a)
Senantiasa berpaling dari kemegahan dunia.
(a)
seorang alim dan zahid, beliau dianggap qutubul ‘aqtāb (derajat penghulu tertinggi) oleh pengikutnya
(a)
Kesempurnaan Suluk, yaitu keyakinan bahwa kesempurnaan sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt jika berada dalam 3 (tiga) dimensi keimanan, yaitu Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga term ini merupakan rangkaian ajaran yang dikenal juga dengan sebutan syariat,tarekat dan hakikat.
(a)
Tidak ziarah untuk minta doa kepada waliullāh yang bukan dari Tijaniyah dan sahabat Rasulullah Saw, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Tetapi wajib memuliakan waliullāh.
(a)
Ratib Samman, yaitu dzikir-dzikir jahar (keras) maupun dzikir khafi (qalbi), puji-pujian kepada Allah Swt, mengucapkan Laa ilaaha Illallah yang dibacakan berulang-ulang dengan suara geras dan gerakan tertentu.
(a)
Firar, lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna.
(a)
Amalan tarekat ini disebut al-Asma’ as-Sab’ah (tujuh nama)
(a)
Melazimkan salat fardhu pada waktunya dengan memelihara syarat, rukun dan segala adabnya yang sunat-sunat. Dan diutamakan sekali untuk sehalat berjamaah.
(a)
Syakh Achmad Khatib al-Syambasi (w.1878 M).
(a)
Dzikir tanpa suara
(a)
Laa ilaaha illallah, dzikir pada tingkatan jiwa pertama yaitu an-Nafs al Ammārah (nafsu yang menyuruh pada keburukan).
(a)
Wirid Wādifah yaitu; Istighfar Wādifah 30 x, Shalawat Fatih 50 x, Kalimatul Ikhlas 100 x, Shalawat Jauharatul Kalām 12 x. Amalan ini dilaksanakan satu kali dalam sehari semalam.
(a)
Beliau lahir di Qashruk Arifan, Bukhara Uzbekistan pada tahun 717H/1318M, dan meninggal pada tahun 791H/1389M.
(a)
Muhasabah, yaitu menghitung-hitung atau introspeksi diri.
(a)
Beliau adalah ulama besar Nusantara yang tinggal di Mekah sampai akhir hayatnya
(a)
Membaca istighfar paling sedikit 2 atau 20 kali
(a)
Syekh Muhammad Saman
(a)
Muraqabah, yaitu latihan psikologis untuk menanaman keyakinan yang mendalam bahwa ibadahnya seorang hamba dilakukan dengan penuh kesadaran seolah-olah mereka melihat Allah Swt.
(a)
Allah (Allah), dzikir pada tingkatan kedua yang disebut an-Nafs al-Lawwāmah (jiwa yang menegur).
(a)
Dzikri Mukasyafah dimulai dengan membaca dzikir dengan menyebut nama Allah sebanyak 5000 kali dalam sehari semalam. Setelah mengungkapkan perasaannya selama membaca dzikir, mursyid akan menaikkan dzikirnya menjadi 6000 kali dalam sehari semalam. Dzikir 5000 dan 6000 ini dinamakan dzikir tingkat pertama.
(a)
Tuhan adalah satu tidak ada sekutu bagi-Nya, yakni tiada Tuhan selain Allah. Allah tidak mempunyai sifat tetapi mempunyai asma. Asma Allah berjumlah 99 seperti yang tertera dalam al-Quran. Tuhan dapat dilihat di alam dunia ini. Cara melihat Tuhan dengan membaca dzikir melalui rasa. Rasa sendiri adalah intinya manusia. Manusia sulit sekali untuk mencapai tingkatan dapat melihat Tuhan. Hanya hamba-hamba pilihan yang dapat melakukannya.
(a)
Menghindari penyakit hati
(a)
Berpegang teguh kepada akidah Aḥl al-Assunnah
(a)
Dzikir Tauhid, yaitu mengingat keesaan Allah. Dzikir ini dibawa pelan-pelan dengan mengatur nafas, dengan membayangkan seperti menggambar jalan melalui tubuh. Bunyi la digambar dari daerah pusar terus ke atas sampai ke ubun-ubun. Bunyi ilāha turun ke kanan dan berhenti di ujung bahu kanan. Dan bunyi illa dimulai dan turun melewati bidang dada sampai kejantung, dan ke arah jantung.
(a)
Inabah, berhasrat kembali kepada Allah Swt.
(a)
Wirid Lāzimah yaitu; Istighfar Wirid 100x, Shalawat 100 x, dan Kalimatul Ikhlas 100 x. Wirid ini dilaksanakan setiap pagi dan sore hari. Di waktu pagi dimulai setelah selesai salat subuh dan berakhir hingga datangnya waktu dhuha. Adapun di sore hari dilaksanakan setelah salat ashar hingga datangnya waktu Isya.
(a)
Dzikir Lathāif yaitu dzikir tingkat kedua. Setelah murid mengungkapkan perasaannya sewaktu mengucapkan dzikir, maka mursyid menaikkan dzikirnya menjadi 7000. 8000,9000,10.000 sampai 11.000 kali dalam sehari semalam.
(a)
Wirid dan dzikir dengan lafaz Lā ilāḥa illa al-Allāh dengan berdiri sambil bersenam, mengepalkan tangan ke samping, ke depan, ke belakang dengan sigap dan putus ingatan dengan yang lain kecuali hanya kepada Allah Swt.
(a)
