Wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

CERPEN

Total questions: 45

Worksheet time: 23mins

Name
Class
Date
1.

  Perhatikan kutipan cerpen berikut.

(1) “Angel! Kamu bawa payung?” tegurku, seramah mungkin. (2) Gadis blasteran Inggris-Manado itu tidak menoleh. (3) Ia hanya terus memandangi hujan dengan mata birunya yang elok.  (4) Ekspresi di wajah cantiknya tak terbaca.(5) Aku mengeluarkan payung dari tasku. “Kalau mau, kamu bisa pakai punyaku,” kataku sambil menyodorkan payung. (6) Angel akhirnya menoleh, tetapi tidak menjawab….

(Aku, Dia dan Hujan, Haqi K)

Bukti watak Angel yang acuh terletak pada kalimat bernomor ….

a)

. (1) dan (2)

b)

. (3) dan (4)

c)

. (5) dan (6)

d)

(2) dan (4)

e)

(2) dan (6)

2.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

tema kutipan cerpen tersebut adalah

a)

sosial

b)

politik

c)

pendidikan

d)

ekonomi

e)

agama

3.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

tema kutipan cerpen tersebut adalah

a)

sosial

b)

politik

c)

pendidikan

d)

ekonomi

e)

agama

4.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

tema kutipan cerpen tersebut adalah

Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah …

a)

mengenaskan

b)

mengharukan

c)

menegangkan

d)

menggembirakan

e)

menakutkan

5.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

tema kutipan cerpen tersebut adalah

a)

sosial

b)

politik

c)

pendidikan

d)

ekonomi

e)

agama

6.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

sudut pandang kutipan cerpen tersebut adalah ....

a)

orang pertama pelaku utama

b)

orang pertama pelaku sampingan

c)

orang ketiga pelaku utama

d)

orang ketiga serba tahu

e)

campuran

7.

Perhatikan kutipan cerpen berikut.

“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.

hubungan antar unsur intrinsik pada kutipan teks tersebut adalah ...

a)

latar tempat berhubungan dengan konflik

b)

latar sosial berhubungan dengan konflik

c)

tema berkaitan dengan watak tokoh

d)

tema berkaitan dengan latar

e)

alur berkaitan dengan latar

8.

1) Kalau ada pertandingan dini hari, aku dan Ayah bahu-membahu untuk membangunkan. 2) Kami berdua beranak batanggang, atau tidak tidur sampai dini hari, duduk terpaku di depan TV Grundig 14 inci yang berkerai kayu tripleks, ditemani bergal-gelas kopi. 3) Di Stadion Ullevi Gothenburg, tim berambut pirang ini meledakkan gawang Belanda hanya dalam 5 menit pertama melalui tandukan Larsen: 1 – 0. 4) Aku mengepalkan tangan tinggi-tinggi di udara, “Yes!” teriakku. 5) Aku lirik Ayah, beliau menggeleng-geleng sambil mendeham.

Bukti latar tempat dalam kutipan novel tersebut ditunjukkan kalimat ….

a)

1

b)

2

c)

3

d)

4

e)

5

9.

rangkaian peristiwa yang disampaikan pengarang hingga membentuk sebuah cerita dari awal sampai akhir. unsur intrinsik cerita ini pasti digunakan dalam karya atau cerita apapun. Terdapat beberapa tahapan dalam unsur intrinsik ini misalnya yaitu tahap perkenalan, tahap permunculan konflik, tahap klimaks, tahap anti klimaks dan tahap penyelesaian. Tiap tahapan memiliki karakteristik dan ciri khas masing- masing berkaitan dengan jalannya cerita

pernyataan di atas merupakan definisi unsur intrinsik ...

a)

alur

b)

latar

c)

konflik

d)

sudut pandang

e)

amanat

10.

Perhatikan teks di bawah ini!

Naura kini lebih sopan. Celana-celana jeans telah ia pensiunkan. Hijabnya kini menutupi perhiasan dada. Pakaian ketatnya pun berganti dengan gamis. Bukan karena mengikuti teman-temannya, Naura hanya merasa dirinya lebih nyaman dengan keadaan yang baru. Batinnya merasakan ketenangan. Bukankah setiap manusia akan mengalami proses hijrah dalam hidupnya? Seperti Rasullullah yang berhijrah ke Madinah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada harus bersikeras menetap di Makkah.

(Naura Ingin Hafidzah, Nia Sofyana)

Watak tokoh Naura di dalam teks disampaikan melalui ….

a)

  Penggambaran fisik dan perilaku tokoh

b)

Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh

c)

Dialog antar tokoh

d)

Pemikiran tokoh lain

e)

Penjelasan langsung penulis

11.

Perhatikan teks di bawah ini!

Dalam perjalanan ke rumah Aku terus memutar otak, mencoba menemukan solusi untuk meringankan beban Ayah. Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu terjadi? Apa Ayah harus di penjara? Mereka tidak akan peduli dengan penyakit yang bersarang di tubuh Ayah, Bagaimana Ayah bisa melewati hari-harinya di penjara dengan diabetes? Memikirkan itu membuat bulu kudukku merinding.

Sesampainya di rumah kulihat sesosok lelaki separuh baya duduk termenung di ruang tamu. Terlihat di raut wajahnya kekhawatiran yang teramat dalam. Senyum canda yang menjadi khasnya tak nampak sedikitpun. Ayah, pengorbananmu untuk hidupku sangatlah luar biasa. Seisi bumi ini pun tak akan bisa melunasi semua yang telah engkau berikan dalam hidupku.

(Biarkan Aku Dipenjara Ayah, Nia Sofyana)

Tokoh “aku” dalam kutipan cerpen di atas  adalah ….

a)

Pendiam dan penyayang

b)

Pemarah dan penyayang

c)

 Pendendam dan mudah menyerah

d)

  Penyayang dan perhatian

e)

Periang dan penyayang

12.

Perhatikan teks di bawah ini!

Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita. Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf. Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok. Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.

Cara pendeskripsian watak si Mbok seorang yang tidak berdaya adalah ….

a)

secara langsung

b)

dialog antartokoh

c)

pikiran-pikiran tokoh

d)

tanggapan tokoh lain

e)

lingkungan di sekitar tokoh

13.

Perhatikan teks di bawah ini!

Dalam perjalanan ke rumah Aku terus memutar otak, mencoba menemukan solusi untuk meringankan beban Ayah.

……………………..

Sesampainya di rumah kulihat sesosok lelaki separuh baya duduk termenung di ruang tamu. Terlihat di raut wajahnya kekhawatiran yang teramat dalam. Senyum canda yang menjadi khasnya tak nampak sedikitpun. Ayah, pengorbananmu untuk hidupku sangatlah luar biasa. Seisi bumi ini pun tak akan bisa melunasi semua yang telah engkau berikan dalam hidupku.

Setelah membaca teks di atas, lengkapilah bagian yang rumpang agar menjadi paragraph cerpen yang padu!

a)

Bukan karena mengikuti teman-temannya, Naura hanya merasa dirinya lebih nyaman dengan keadaan yang baru. Batinnya merasakan ketenangan. Bukankah setiap manusia akan mengalami proses hijrah dalam hidupnya? Seperti Rasullullah yang berhijrah ke Madinah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik daripada harus bersikeras menetap di Makkah.

b)

Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu terjadi? Apa Ayah harus di penjara? Mereka tidak akan peduli dengan penyakit yang bersarang di tubuh Ayah, Bagaimana Ayah bisa melewati hari-harinya di penjara dengan diabetes? Memikirkan itu membuat bulu kudukku merinding.

c)

Ada banyak cara yang dilakukan agar kebutuhannya terpenuhi. Salah satunya dengan berjualan atau berdagang. Tentu hal ini jauh berbeda jauh dengan profesinya sebagai guru. Lantas apakah ini salah? Seorang guru yang sudah memiliki penghasilan, masih mencari nafkah dengan cara lain, hal ini tentu berkaitan dengan kebutuhan hidupnya.

d)

Sabar merupakan ajaran yang banyak sekali disinggung dalam Al-Qur’an maupun hadis, sehingga manusia senantiasa diarahkan untuk selalu bersabar dalam kehidupannya. Kesabaran yang sebenarnya adalah kemampuan dalam mengendalikan sikap, sehingga bisa dengan ikhlas dan rela hati menerima kondisi yang sedang dihadapinya demi mendapat balasan yang baik di akhirat.

e)

Ayah berangkat meninggalkan kami. Kali ini kepergiannya begitu mengharukan. Ayah meneteskan air mata, hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.

14.

Tahun 2521 adalah tahun yang melelahkan bagi Kinnari, ia menduduki jabatan baru di lembaga penelitian tersohor di Asia Terintegrasi, lalu juga karyanya tentang exoplanet Proxima B memenangkan beberapa penghargaan yang membuatnya semakin sibuk. Terlepas segala kepadatan itu, Kinnari mustahil melewatkan acara pada malam hari ini.

(Saras Dewi, Nirvana)

Sumber: https://www.kompas.id/baca/sastra/2022/09/16/nirvana. Kutipan cerpen tersebut menunjukkan latar …..

a)
Sosial dan tempat
b)
Waktu dan agama
c)
Sosial
d)
Waktu dan tempat
e)
Waktu dan suasana
15.
Jam satu malam, cuaca gulita dan murung. Hujan terus turun selembut embun, namun cukup membasahkan. Hati-hati sekali Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing curam dan licin. Ia sendiri berjalan hati-hati sambil menggendong seorang bayi pada panggul sebelah kiri. (Nugroho Notosusanto, Sungai).Penggalan cerpen di atas di dominasi oleh unsur intrinsik berupa …..
a)
Plot
b)
Alur
c)
Watak
d)
Tema
e)
Latar
16.
Jam satu malam, cuaca gulita dan murung. Hujan terus turun selembut embun, namun cukup membasahkan. Hati-hati sekali Kasim memimpin anak buahnya menuruni tebing curam dan licin. Ia sendiri berjalan hati-hati sambil menggendong seorang bayi pada panggul sebelah kiri. (Nugroho Notosusanto, Sungai).Watak Kasim dalam penggalan cerpen di atas adalah …..
a)
Egois
b)
Bertanggung jawab
c)
Dermawan
d)
Pemarah
e)
Suka menolong
17.
Hari-hari berikutnya, Keumala akan mengulang hal yang sama. Bermain bersama teman-temannya, dengan cara yang disukainya. Ia hanya berusaha tak pulang malam agar kakek dan neneknya tak pelu marah dan bertanya macam-macam, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata menyakitkan.(Okky Madasari, Keumala).Amanat yang bisa dipetik dari kutipan cerpen di atas adalah …..
a)
Bermain harus tahu batasan waktu
b)
Anak harus selalu diawasi
c)
Kebutuhan masa kecil adalah bermain
d)
Perhatian untuk anak harus diutamakan
e)
Masa kecil sangat menyenangkan
18.
Sumini memegang tengkuknya kemudian mengurut-urut sendiri seraya begumam pelan. Ia berusaha keras agar tetap bisa melanjutkan pekerjaannya menjumputi cengkih di tanah. Berjam-jam Sumini harus jongkok menunduk mengumpulkan cengkih-cengkih yang rontok dari pohonnya. Demi adiknya yang akan melanjutkan ke jenjang SMP, Sumini rela ngesot di kebun milik Ki Panut. Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam cerpen di atas adalah …..
a)
Orang pertama
b)
Orang ketiga
c)
Orang kedua
d)
Orang pertama dan ketiga
e)
Orang kedua dan ketiga
19.

“Salahkah menurut pendapatmu jika menyembah Tuhan di dunia?” tanya Haji Saleh. “Tidak. Kesalahan engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka. Karena itu, kau taat bersembahyang, tetapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu.”

Amanat yang sesuai dengan isi penggalan cerpen tersebut adalah...

a)

Jangan mementingkan urusan duniawi

b)

Rajinlah beribadah agar tidak masuk neraka

c)

Rajin beribadah tetapi jangan melupakan kehidupan keluarga

d)

Hendaknya mementingkan urusan akhirat dengan rajin beribadah

e)

Jangan meninggalkan saudara-saudara dan anak-istri

20.

"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"


Latar peristiwa kutipan cerita di atas adalah

a)

kereta api

b)

jalan raya

c)

bus

d)

kapal laut

e)

Pasar

21.

“Huek, pahit, Nek. Dinda nggak suka. Nggak mau kopi ah!”

Nenek Aida tetap tersenyum. Ia teruskan kegiatannya membuat kopi. Setelah dua cangkir kopi itu jadi, dengan enggan kubantu nenek membawa salah satu cangkir kopi itu ke ruang tamu.

“Dinda nggak mau kopinya, Nek... pahit... kopi Dinda buat Nenek aja deh....”

“Dalam kehidupan ini mungkin kita mengalami berbagai kejadian. Tahukah Dinda, semua kepedihan dan kebahagiaan itu menjadikan hidup lebih istimewa. Mengerti?”


Pesan dalam kutipan cerpen tersebut yaitu....

a)

A. Dalam kehidupan ini kita akan mengalami berbagai kejadian yang menyenangkan.

b)

B. Hidup yang istimewa adalah hidup yang dapat menerima kepedihan.

c)

C. Kita harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup ada peristiwa membahagiakan dan menyedihkan.

d)

D. Dalam hidup dengarkanlah nasehat orang tua yang sudah berpengalaman dalam hidup.

e)

Kopi yang pahit perlu dinikmati agar kita tahu cara mengapresiasi sebuah minuman

22.

Bacalah cerpen berikut dengan cermat!

Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci. Telapak kaki tangannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram.

Gaya bahasa pada kalimat Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya, menggunakan majas ...

a)

personifikasi

b)

hiperbola

c)

litotes

d)

simile

e)

ironi

23.

Pernyataa di bawah ini yang menunjukkan perbedaan cerpen dan novel adalah ….

a)

Novel tidak ada konflik sedangkan cerpen ada konflik

b)

Novel tidak berbentuk prosa sedangkan cerpen berbentuk prosa

c)

Novel bercerita tentang seorang tokoh sedang cerpen bercerita tentang pengalaman hidup

d)

Cerpen bercerita tidak sampai menimbulkan perubahan nasib, sementara novel sebaliknya

e)

Cerpen dan novel masing-masing mempunyai tema

24.

Bacalah kutipan cerpen berikut!

Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun. (buku paket hal 58)

Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …

a)

Gadis muda belia

b)

Nenek tua

c)

Lelaki Muda

d)

Kakek tua

e)

Remaja

25.

Kutipan 1

“ cepat ke sini!”

“ Aku tidak mau!”

“ Kamu jangan nekat, ini sedang hujan lebat. Kamu akan sakit

jika terus menerus jalan di tengah

hujan tengah malam begini.”

Aku tak memdulikan ucapannya.

Kakiku terus melangkah tanpa tahu ujung langkah akan berhenti dimana.

Hatiku terlanjur hancur.

Kutipan 2


Sebelum subuh salena sudah bersiap. Dagangan sayurnya sudah lengkap

di atas gerobak seperti paasar tradisional mini. Setengah jam kemudian,

datang pelanggan pertamanya sebelum ia berkeliling. Bu Minah selalu menjadi

pelanggan setiaanya sebelum ia berangkat dengan gerobak sayurnya. Salena baru

kembali ke rumah menjalang magrib.

Perbedaan penyajian pola pengembangan kedua teks cerpen tersebut adalah....

a)

Kutipan 1 diawali dengan latar cerita, kutipan 2 diawali dengan aksi tokoh

b)

Kutipan 1 diawali dengan aksi tokoh, sedangkan kutipan 2 diawali dengan masalah yang harus diselesaikan

c)

Kutipan 1 diawali dengan garis besar cerita, sedangkan kutipan 2 diawali dengan aksi tokoh

d)

Kutipan diawali dengan aksi tokoh, sedangkan kutipan 2 diawali dengan garis besar tokoh

26.

Bacalah kutipan cerpen berikut!

Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)

Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

a)

Orang pertama sebagai tokoh utama

b)

Orang pertama sebagai tokoh sampingan

c)

Orang pertama dan ketiga

d)

Orang ketiga serba tahu

e)

Orang ketiga terbatas

27.

Cermati kutipan teks cerpen Berikut!

Tetapi, dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Tapi barang kali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka kepada tukang jahit itu. Mereka antre agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran. Dikutip dari: Agus Noor, “Tukang Jahit”dalam Cinta di Atas Perahu Cadik Cerpen Kompas Pilihan 2007

Kutipan teks tersebut merupakan struktur teks bagian ….

a)

Orientasi

b)

Abstrak

c)

Resolusi

d)

Komplikasi

e)

Koda

28.

BacalahKutipan cerpen berikut

Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuatkulitku hampir terbakar.Jemuranpun sekejab kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising kendaraan yang lalu lalang dihadapan-ku, membuat suasana bertambah pengap dan panas. Aku hanya bisa melihat orang-orang itu di dalam mobil dengan AC yang membuat mereka sejuk. Berbeda dengan diriku, anak laki-laki dengan baju kumal berdiri di tepi jalan sambil membawa payung di genggaman. Aku hanya bisa menunggu hujan turun dan seseorang datang untuk menggunakan jasaku.

Dikutip dari: http://cerpenmu.com/cerpen-keluarga/di-balik-sebuah-payung.html..

Latar yang terdapat dalam kutipan cerpen….

a)

Malam hari, di gedung tua, sepi

b)

Pagi hari, di rumah, sepi

c)

Siang hari, di jalan, ramai

d)

Sore hari, di terminal, ricuh

e)

Malam hari, di rumah, sepi

29.

Bacalah kutipan cerpen berikut!

Aku pulang, perasaanku tak karuan. Dan aku tak tertidur. Aku memejamkan mata. Herman ada dalam kepala. Mengapa aku tak dapat melenyapkan dia dan memandang dirinya tanpa arti? Mengapa sedih hatiku memandang dia bercanda dengan gadis lain? Aku merasa semdiri dan terpecil. Sendiri dan terlupakan. Sendiri dan tak puny arti.

Konflik pada penggalan cerpen tersebut adalah ….

a)

Aku dengan dia

b)

Aku dengan Herman

c)

Aku dengan temanku

d)

Aku dengan gadis lain

e)

Aku dengan diri sendiri

30.

Cermati kutipan cerpen berikut!

Dari Jakarta yang sangat panas, penuh gedung pencakar langit, penuh polusi, dan juga gudangnya copet. Kini, aku berada di Ra’as, sebuah pulau yang kecil sebelahnya Madura. Di Ra’as sangat primitif sekali, mulai dari Jalan Makadam sampai dengan bangunan rumah. Sepengetahuanku, tak ada yang namanya bangunan rumah tingkat di sana. 

Kutipan cerpen di atas dibuka dengan cara ….

a)

Mendeskripsikan waktu

b)

Mendeskripsikan orang

c)

Mendeskripsikan suasana

d)

Mendeskribsikan tempat

e)

MEndeskripsikan objek

31.

Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)


Permasalahan yang diangkat dalam penggalan cerpen di atas adalah ….

a)

ketakutan tokoh aku menyaksikan korban kecelakaan di rumah sakit

b)

ketakutan tokoh aku disuntik obat bius

c)

tokoh aku sedang menahan sakit perut

d)

korban kecelakaan di rumah sakit

e)

kekuatiran tokoh ketika diperiksa dokter di rumah sakit

32.

Cermati paragraf paragraf berikut untuk menjawab soal


Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita.


Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf.


Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok.


Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.


. Amanat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...

a)

Dengarkan nasihat yang baik dari orang-orang di sekitar kita, termasuk orang tua kita.

b)

Janganlah terlalu mengatur kehidupan dan perekonomian anak yang sudah berkeluarga

c)

Siapa pun tetap akan berdosa apabila melawan kepada suami, apalagi kepada orang tua.

d)

Seorang suami harus membiayai keluarga, setia terhadap istri, dan adil terhadap istrinya.

e)

Orang tua hendaklah mengarahkan sesuatu yang baik kepada anaknya, bukan yang buruk

33.

Cermati paragraf paragraf berikut untuk menjawab soal


Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita.


Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf.


Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok.


Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.


Apa yang membuat Martini sedih terhadap suaminya?

a)

A. Martini merasa marah, kecewa, terhadap sikap suaminya.

b)

B. Rasa dendam Martini terhadap suaminya yang beristri lagi.

c)

C. Rasa jengkel Martini terhadap suaminya yang tidak pulang.

d)

D. Kemarahan suami Martini yang tidak terkendalikan.

e)

E. Perasaan sangat malu Matini atas tingkah laku suaminya.

34.

(1)Teman-teman Fajar bersorak gembira,. (2) Daffa terkulai lemas karena laying-layangnya putus. (3) Senja pun tiba. (4) Ketika terdengar suara azan, anak-anak mulai membubarkan diri untuk pergi ke masjid. (5) Berita kemenangan Fajar atas Daffa semakin menambah keyakinan anak-anak desa itu bahwa laying-layang milik Fajar


Nilai agama yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas ditunjukkan oleh nomor….

a)

a. (1)

b)

b. (2)

c)

c. (3)

d)

d. (4)

e)

e. (5)

35.
Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Kalimat tersebut menggunakan penginderaan
a)
Penglihatan dan pendengaran
b)
Perasa dan penglihatan
c)
Perasa dan penciuman
d)
Penglihatan dan perasa
e)
Penglihatan dan penciuman
36.

Contoh kalimat penggambaran masa lampau adalah ....

a)

Saya dan teman teman saya sedang pergi ke pusat perbelanjaan ternama di jakarta kemudian di tengah jalan bertemu dengan bapak presiden Joko Widodo bersama dengan keluarganya.

b)

Rina dan Rita menjadi anak yang pemurung sejak kejadian tadi pagi sebelum menuju ke sekolah.

c)

Ayah sudah berjanji akan membelikanku sepeda bila aku masuk rangking 10 besar pada semester ini.

d)

Pada keemasan Kerajaan Sriwijaya di abad ke 12, kepulauan Maluku termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan itu.

e)

Keluarga pak ilham selama seminggu ini mengadakan pembersihan rumah dengan cara bergotong royong bersama keluarga besarnya.

37.

Gadis itu dikenal dengan nama Jocelyn Samanta. Ia adalah gadis yang dikenal pandai berbaur dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Dengan kemampuan tersebut, tak mengherankan bila ia memiliki banyak sekali teman. Dia juga sangat pintar dan murah hati.

Dari contoh kalimat tersebut, penggambaran dalam tokoh Jocelyn bersifat .....

a)

Antagonis

b)

Protagonis

c)

Tritagonis

d)

Ambisius

e)

Humoris

38.

Contoh majas litotes adalah....

a)

Saya hanyalah orang biasa yang tidak pantas menerima penghargaan ini.

b)

Tutur bahasanya sangat sopan, seperti orang yang tidak pernah mengecap dunia pendidikan.

c)

Perlu usaha keras untuk menjadi anak emas di kelas, yaitu dengan rajin belajar.

d)

Gelombang pantai bermain-main ke tepi

e)

Ayahnya bekerja mati-matian memeras keringat untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

39.

(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.(5)Biar ini adanya.


Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ....

a)

(1)

b)

(2)

c)

(3)

d)

(4)

e)

(5)

40.

Bacalah kutipan cerpen berikut!

Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.

”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”


Kata "matahari yang mulai tenggelam" tersebut mengandung makna....

a)

hari hampir siang

b)

hari hampir senja

c)

hari hampir malam

d)

hari hampir subuh

e)

semua benar

41.

Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama untuk menjawab nomor 4-6!

Apakah cinta pantas dikenang? Apakah cinta dibangun demi memberikan rasa kehilangan? Pertanyaan itu mengganggu pikiranku. Mengganggu perasaanku. Sepulang dari pemakaman seorang tetangga yang mati muda, aku lebih banyak berpikir ketimbang bicara. Iring-iringan pelayat lambat-laun menyurut. Satu per satu menghilang ke dalam gang rumah masing- masing. Seakan-akan turut mencerai-beraikan jiwaku. Kesedihan mendalam pada keluarga yang ditinggalkan, tentu akibat mereka saling mencintai. Andai tak ada cinta di antara mereka, bisa jadi pemakaman ini seperti pekerjaan sepele yang lain, seperti mengganti tabung dispenser, menyapu daun kering di halaman, atau menyobek kertas tagihan telepon yang kedaluwarsa. Seandainya aku tidak mencintaimu, tidak akan terbit rindu sewaktu berpisah. Tak ingin menulis surat atau meneleponmu. Tidak memberimu bunga saat ulang tahun. Tidak memandang matamu, menyentuh tanganmu, dan sesekali mencium. (Cerpen “Hari Terakhir Mencintaimu”, karya Kurnia Effendi

Tema pada penggalan tersebut adalah….

a)
Persahabatan
b)
Persaudaraan
c)
Percintaan
d)
Kedamaian
e)
Pertemanan
42.

Bacalah kutipan cerpen dengan saksama!

Cermat sekali perempuan itu melangkah ke dinding. Gambar-gambar itu diturunkannya. Satu per satu ditatapnya erat-erat seolah tak pernah ia selama ini melihatnya. Lalu mata yang kemerah-merahan menahan tangis sejak pesta mulai sunyi, perlahan kelopaknya dirapatkan. Segumpal besar air mata bergulir di pipinya dan menitik menimpa kaca gambar itu. Perlahan sekali gambar itu ia balikkan. Karton yang berdebu diusapinya dengan ujung baju, samar-samar membayang sederet tulisan. Ia tampak seperti membaca tulisan itu: Kamaruddin, anak tertua, disunat rasul tanggal 6 Februari 1952. Meninggal dunia tanggal 6 Februari 1952.

Karton yang sebuah lagi dibersihkannya pula dengan ujung jari-jarinya yang gemetar. Di antara bayang-bayang rambutnya yang terjulai menimpa karton gambar itu terbaca: Syaifuddin, anak kedua, disunat rasul tanggal 10 Novembe 1957. Meninggal dunia tanggal 11 November 1957. “Oh, masihkan akan ditulis juga kalimat-kalimat seperti ini, dibelakang foto anakku yang ke tiga nanti? Oh… Tuhanku,” keluh wanita itu di antara isakannya. “Oh Tuhan, cukuplah anak yang dua ini Kau ambil, ketika sedang kusucikan.

Mengapa kau coba hamba-Mu seberat ini? Lanjutkan keturunan kami, ya Allah. Oh, anak-anakku yang malang… mengapa mesti mereka, yang menanggung semua ini?” Wanita itu menatap lagi kedua gambar itu seperti tidak akan pernah lekang dari matanya yang basah. Kemudian ia menatap ke atas. Katanya, “Jika putraku yang ini, Lasuddin, Kau selamatkan ya Tuhan, kami akan serahkan dua per tiga dari sawah-sawah itu buat mereka.” Pandangannya ia alihkan pelan-pelan ke tempat suaminya terbenam dalam titik-titik air mata. Panggilan Rosul karya Hamsyad Rangkuti.

Pernyataan yang sesuai dengan nilai kehidupan pada penggalan tersebut adalah….

a)
Nilai kehidupan dalam penggalan cerpen tersebut adalah nilai moral yang ditunjukkan dengan kematian kedua orang putranya ketika di sunat pada tahun yang berbeda..
b)
Nilai kehidupan dalam penggalan cerpen tersebut adalah nilai agama yang ditunjukkan dengan doa permohonan seorang ibu agar anaknya yang ke tiga tidak meninggal ketika disunat.
c)
Nilai kehidupan dalam penggalan cerpen tersebut adalah nilai budaya yang ditunjukkan dengan acara pesta ketika anaknya disunat.
d)
Nilai kehidupan dalam penggalan cerpen tersebut adalah nilai budaya yaitu menyerahkan seserahan sebagai ujud syukur apabila selamat anak ketinganya.
e)
Nilai kehidupan yang ada pada penggalan terebut adalah nilai budaya yaitu mengadakan acara sunatan besar-besaran.
43.

Gelapnya malam menyambut kedatangan kami yang tiba dengan perahu biru. Hembusan angin masih setia bersama duka berpadu dalam kelam yang belum kami ketahui dimana ujungnya. Biarpun kami terlihat kuat namun hati tetaplah perih merintih. Keluh yang mengadu beradu dengan deru dalam qolbu.

Bagian kutipan teks cerpen tersebut merupakan struktur....

a)

orientasi

b)

rangkaian peristiwa

c)

komplikasi

d)

resolusi

44.

Bacalah teks berikut!

“Malam ini kita tidur dimana Yah?”

“Di rumah teman lama Ayah Nak. Pak Rahmat namanya. Sudah dingin ya? Ayah tahu kok, Ahmad ini anak yang kuat. Lagipula yang kita rasakan sekarang ini tidak ada apa-apanya Nak jika dibandingkan dengan perjuangan Rasulullah dan para sahabat masa lalu. Sekarang kita sebagai umatnya masa gak mau sih merasakan secuil dari perjuangan mereka. Semakin besar ujian maka semakin besar pula pahalanya. Itu rumus yang Ayah pegang sampai sekarang.”

Bagian kutipan teks cerpen tersebut merupakan struktur ….

a)

orientasi

b)

rangkaian peristiwa

c)

komplikasi

d)

resolusi

45.

“Apa-apaan sih, posternya kan jadi sobek!!!” “Maaf, Rin! aku benar-benar gak sengaja!” Rinta sama sekali tidak menggubris pembelaan Anya. Ia masih memandangi poster blur kesayangannya yang kini sudah terbagi dua karena robek. “Rin, maaf ya. aku . . . .” “Aah! Udah! Pulang, sana!” potong Rinta kesal, matanya sudah sembap, hampir nangis. Anya tidak mau memperburuk keadaan. Ia pun langsung keluar dari kamar Rinta dan bergegas pulang.


Kutipan cerita tersebut merupakan bagian….

a)

Pengenalan tokoh

b)

Pemunculan masalah

c)

Klimaks

d)

Penurunan masalah