WorksheetsREMEDIAL DRAMA
Total questions: 25
Worksheet time: 15mins
Perempuan tua : “Sabarlah, Ia masih sakit”
Satilawati : “Betul ia sakit? Sakit turunan?”
Perempuan tua : “ Tidak. Tapi dia memang sakit. Itu perbuatan Kartili”
Satilawati : “Nenek!”
Perempuan tua :” Kartili yang berbuat, ia ingin merampas engkau dari Ishak.”
Satilawati : “Mungkinkah ia berbuat itu?”
Perempuan tua : “Mungkin. Tapi, sudahlah”
Watak tokoh kartili dalam kutipan tersebut adalah ….
Culas
Pemarah
Pencemburu
Pengecut
Penakut
Perempuan tua : “Sabarlah, Ia masih sakit”
Satilawati : “Betul ia sakit? Sakit turunan?”
Perempuan tua : “ Tidak. Tapi dia memang sakit. Itu perbuatan Kartili”
Satilawati : “Nenek!”
Perempuan tua :” Kartili yang berbuat, ia ingin merampas engkau dari Ishak.”
Satilawati : “Mungkinkah ia berbuat itu?”
Perempuan tua : “Mungkin. Tapi, sudahlah”
Konflik yang ada dalam kutipan tersebut adalah ….
Kartili sangat mencintai satilawati
Satilawati tidak mencintai kartili
Ishak beristirahat di rumah nenek karena sakit
Nenek ingin satilawati tidak meninggalkan Ishak
Kartili ingin merebut Satilawati dari kekasihnya
Ibu : Tidak menoleh benar malam lebaran, lebaran Narto, dengarlah tabuh itu bersahut- sahutan pada malam lebaran seperti ini dia pergi, pergi dengan tidak meninggalkan kata.
Gunarto : Agak kesal Ayah…?
Ibu : Keesokan harinya, hari lebaran sesudah sembahyang aku memaafkan dosanya.
Gunarto : Kenapa ibu ingat juga waktu yang lampau, mengingat kapada orang yang tak pernah lagi mengingat kita.
Ibu : Memandang Gunarto aku merasa ia masih ingat kita, Gunarto.
Berdasarkan kutipan drama di atas, termasuk jenis drama ….
melodrama
Opera
Tablo
Komedi
Sendratari
Pagi itu terasa amat dingin menusuk kulit, ketika Rian dan Alma sama-sama meneguk kopi bersama untuk sekadar menghangatkan hubungan mereka yang nyatanya lebih dingin dari udara. Mereka bingung akan memulai dari mana. Setelah beberapa menit hanya diam, akhirnya Alma membuka percakapan pagi itu dengan suara lirihnya.
Paragraf di atas merupakan bagian dari naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Tasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Watak tokoh Sukro berdasarkan dialog di atas adalah ....
Pesimis
Pemarah
Optimis
Kritis
Penyabar
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Perhatikan teks drama berikut!
Elis : (Datang dari ruang dalam) “Ya ... Pak. Ada apa, Pak?
Kakek : “Mana Ari dan Adi? Sudah sore begini belum
di rumah?”
Elis : “Main ... Pak. Tadi bawa motor.”
Kakek : “Aduh, Elis. Bagaimana Anda membesarkan anak?
Akan jadi apa cucuku kelak?”
Elis : “Sudahlah ... Pak. Kan, Adi dan Ari sudah biasa naik
motor.”
Kakek : “Kau dan suamimu memanjakannya. Mereka masih
SMP, belum berhak punya SIM.”
Elis : “Biar masa kecil mereka senang, Pak! Tidak seperti
kita dulu.”
Kakek : “Aduh ... Lis! Itu, cara mendidik anak yang salah."
Tokoh Utama dalam penggalan drama tersebut adalah ....
Ari dan Adi
Elis dan Kakek
Kakek, Adi, dan Ari
Kakek, Ari, Adi, dan Elis
Ari dan Kakek
Perhatikan teks drama berikut!
Elis : (Datang dari ruang dalam) “Ya ... Pak. Ada apa, Pak?
Kakek : “Mana Ari dan Adi? Sudah sore begini belum
di rumah?”
Elis : “Main ... Pak. Tadi bawa motor.”
Kakek : “Aduh, Elis. Bagaimana Anda membesarkan anak?
Akan jadi apa cucuku kelak?”
Elis : “Sudahlah ... Pak. Kan, Adi dan Ari sudah biasa naik
motor.”
Kakek : “Kau dan suamimu memanjakannya. Mereka masih
SMP, belum berhak punya SIM.”
Elis : “Biar masa kecil mereka senang, Pak! Tidak seperti
kita dulu.”
Kakek : “Aduh ... Lis! Itu, cara mendidik anak yang salah."
Latar tempat penggalan drama tersebut adalah ...
di rumah
di jalan
di sekolah
di halaman
di taman
Konflik yang terjadi antara tokoh Tina dan Ibu adalah ...
pasrah menjalani takdir
nasib merupakan takdir
perbedaan takdir manusia
pandangan mengenai takdir
usaha melawan takdir
Ciri utama yang membedakan drama denga karya sastra lainnya adalah ....
Bahasanya indah
Memiliki bait yag terdiri dari empat baris
Terdiri dari dialog antar tokoh
Terdiri dari konflik antar tokohnya
Bahasanya konotatif
Antagonis adalah peran tokoh dalam drama yang memiliki watak ....
Tidak baik
Tidak mengalami perubahan
Baik
Tersakiti
Penambah suasana
Watak atau karakter tokoh dalam drama dapat dilihat dari beberapa hal di bawah ini, kecuali ....
Ekspresi
Dialog
Mimik
Bloking
Gerak
Pagi itu terasa amat dingin menusuk kulit, ketika Rian dan Alma sama-sama meneguk kopi bersama untuk sekadar menghangatkan hubungan mereka yang nyatanya lebih dingin dari udara. Mereka bingung akan memulai dari mana. Setelah beberapa menit hanya diam, akhirnya Alma membuka percakapan pagi itu dengan suara lirihnya.
Paragraf di atas merupakan bagian dari naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Romeo : "Petunjuk cinta yang gaib telah mempersatukan aku ke hadapanmu. Dan untuk cinta yang kudapatkan akan kutaruhkan segalanya. Tapi, aku seorang Montague..."
Juliet : "Dan aku seorang Capulet. Mengapa kita punya nama? Biarlah aku menjadi bukan Capulet dan kau bukan Montague, Romeo!"
Berdasarkan dialog di atas, tema yang tersirat adalah ....
Kekuasaan
Percintaan
Persahabatan
Pendidikan
Keluarga
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Tasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Watak tokoh Sukro berdasarkan dialog di atas adalah ....
Pesimis
Pemarah
Optimis
Kritis
Penyabar
Akhirnya, keluarga mengetahui maksud Otong berbohong adalah agar tidak disuruh mencangkul sawah. Kesal betul ayah dan ibunya dibohongi hingga panik kesana kemari. Setelah puas memarahi Otong, merekapun pergi meninggalkan Otong yang termenung malu meratapi kemalasannya yang merepotkan.
Paragraf di atas merupakan naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Perhatikan teks drama berikut!
Elis : (Datang dari ruang dalam) “Ya ... Pak. Ada apa, Pak?
Kakek : “Mana Ari dan Adi? Sudah sore begini belum
di rumah?”
Elis : “Main ... Pak. Tadi bawa motor.”
Kakek : “Aduh, Elis. Bagaimana Anda membesarkan anak?
Akan jadi apa cucuku kelak?”
Elis : “Sudahlah ... Pak. Kan, Adi dan Ari sudah biasa naik
motor.”
Kakek : “Kau dan suamimu memanjakannya. Mereka masih
SMP, belum berhak punya SIM.”
Elis : “Biar masa kecil mereka senang, Pak! Tidak seperti
kita dulu.”
Kakek : “Aduh ... Lis! Itu, cara mendidik anak yang salah."
Tokoh Utama dalam penggalan drama tersebut adalah ....
Ari dan Adi
Elis dan Kakek
Kakek, Adi, dan Ari
Kakek, Ari, Adi, dan Elis
Ari dan Kakek
Perhatikan teks drama berikut!
Elis : (Datang dari ruang dalam) “Ya ... Pak. Ada apa, Pak?
Kakek : “Mana Ari dan Adi? Sudah sore begini belum
di rumah?”
Elis : “Main ... Pak. Tadi bawa motor.”
Kakek : “Aduh, Elis. Bagaimana Anda membesarkan anak?
Akan jadi apa cucuku kelak?”
Elis : “Sudahlah ... Pak. Kan, Adi dan Ari sudah biasa naik
motor.”
Kakek : “Kau dan suamimu memanjakannya. Mereka masih
SMP, belum berhak punya SIM.”
Elis : “Biar masa kecil mereka senang, Pak! Tidak seperti
kita dulu.”
Kakek : “Aduh ... Lis! Itu, cara mendidik anak yang salah."
Sikap Elis terhadap anaknya pada percakapan tersebut adalah ...
sayang
bijaksana
memanjakan
mendidik
tegas
Perhatikan teks drama berikut!
Elis : (Datang dari ruang dalam) “Ya ... Pak. Ada apa, Pak?
Kakek : “Mana Ari dan Adi? Sudah sore begini belum
di rumah?”
Elis : “Main ... Pak. Tadi bawa motor.”
Kakek : “Aduh, Elis. Bagaimana Anda membesarkan anak?
Akan jadi apa cucuku kelak?”
Elis : “Sudahlah ... Pak. Kan, Adi dan Ari sudah biasa naik
motor.”
Kakek : “Kau dan suamimu memanjakannya. Mereka masih
SMP, belum berhak punya SIM.”
Elis : “Biar masa kecil mereka senang, Pak! Tidak seperti
kita dulu.”
Kakek : “Aduh ... Lis! Itu, cara mendidik anak yang salah."
Latar tempat penggalan drama tersebut adalah ...
di rumah
di jalan
di sekolah
di halaman
di taman
Konflik yang terjadi antara tokoh Tina dan Ibu adalah ...
pasrah menjalani takdir
nasib merupakan takdir
perbedaan takdir manusia
pandangan mengenai takdir
usaha melawan takdir
Brilian : Sekarang serahkan hp kalian, kami akan minta uang tebusan!!! (mendorong Dimi masuk)
Dimi : Ka …ka ... kami tidak bawa hp (gugup).
Brilian : Periksa kantongnya!!
Timmy : Siap, bos. (memeriksa kantong)
Markus: Ada gak? Ini tempat apa? (matanya melotot)
Timmy : Ruang menyimpan perkakas bekas (sambil meraba kantong si anak). Ini bos, hpnya (mengeluarkan hp N.95).
Markus : Tanyakan nomor hp orang tuanya! Hubungi untuk minta tebusan!
Timmy : Siap, bos!
Latar kutipan tersebut adalah ....
Gudang
Kamar
Garasi
Rumah
Ruang tamu
Fenita : Kamu harus menentukan sikap. Pilih aku atau dia, sekarang juga!
Verri : Beri aku kesempatan sekali lagi....
Fenita : Tidak perlu basa-basi, kalau tidak aku yang memutuskan, titik!
Penggalan dialog di atas menunjukkan drama sampai pada bagian....
konflik
orientasi
resolusi
penyelesaian
peleraian
Ayu : Sudah malam lo Sis, kita harus segera pulang
Siska : Sudahlah Yu, tenang saja toh ini baru jam sembilan lebih sedikit. Jalanan masih ramai
Ayu : Ih, sudah malam begini kok tenang. Kan kita perempuan, masak pulang sampai larut malam. Tidak enak kan dengan tentangga. Nanti mereka mengira kita suka keluyuran malam.
Siska : (Dengan sikap tenang) Sudah, nanti saya antar kamu. Memang repot, kita ini perempuan tidak wajar kalau pulang terlalu malam. Kita pun tidak berani melanggar aturan tidak tertulis di masyarakat kita ini.
Penggalan drama di atas mengandung nilai...
sosial
moral
budaya
agama
pendidikan
Rina : Apa-apaan sih? Kok posterku disobek? (menahan marah)
Aji : […]
Rina : Maaf..maaf enak saja!
Aji : (dengan amat menyesal) Iya deh, aku ganti postermu. Tapi kamu mau maafin aku kan?
Rina : Ya. Lain kali kamu jangan ceroboh.
Aji : (dengan tersenyum) Oke, Bos!
Dialog yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang kutipan drama tersebut adalah...
Maafin aku Rina. Aku tidak sengaja.
Maafin aku Aji. Aku tidak sengaja.
Begitu saja kok kamu marah, Rin.
Baiklah aku akan beli yang baru.
Tenang, jangan marah Rin.
