WorksheetsPenilaian Harian Bab 3 Cerpen
Total questions: 20
Worksheet time: 3600secs
Para mahasiswi yang kos di rumah sewa itu akhirnya tahu. Ternyata, selama ini Astuti menyimpan bebannya sampai rapat. Tempat mengadunya hanya satu, yaitu Tuhan di atas sana. Mengaji membaca Al-Qur'an setiap malam yang dilakukan sampai menangis adalah cara yang dipilihnya dalam memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan ibunya. Segenap penghuni kos itu terhenyak, ketika mereka membayangkan, bagaimana kira-kira yang mereka rasakan jika merekalah yang mengalami peristiwa itu.
Watak Astuti dalam kutipan tersebut adalah …….
pendiam
teguh hati
sabar
rendah diri
Tetapi rasa gundah gulanaku kali ini bukan lagi karena mengenang Bang Rizani. Aku telah melepas kepergiannya dengan segala kesucian hati dan kejernihan asa. Aku tidak mungkin membohongi naluri keperempuananku. Sepuluh tahun menyendiri bukan waktu yang sekejap. Aku merasa bagaikan sepotong pualam yang tidak boleh tergores sedikitpun agar selalu berharga di mata banyak orang
Nilai moral yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dalam kutipan tersebut adalah ....
Seorang istrinya selalu mengenang suaminya yang telah meninggal.
Seorang wanita ibarat sepotong pualam yang sewaktu-waktu dapat pecah.
Seorang istri yang setia sampai mati terhadap suaminya.
Seorang wanita yang telah ditinggal mati suaminya dapat menjaga diri.
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah ....
mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah
etika kerumunan itu tak lagi bersamamu
kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku
seperti yang kau utarakan kemarin
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah ....
orang pertama pelaku sampingan
orang pertama pelaku utama
orang ketiga serba tahu
orang ketiga terbatas
Pesantren itu sangat besar. Bangunannya berlantai lima dengan banyaknya jendela lusuh yang tidak mampu lagi terhitung oleh mataku yang baru saja tiba di tempat itu. Aku juga melihat banyak anak-anak yang sepertinya kurang terawat.
(M. Zuhri, "Kandang Merpati")
Unsur Pembangun yang menonjol pada kutipan tersebut adalah ....
tokoh
latar waktu
latar tempat
penokohan
Wanita dua puluh limaan, memakai gaun sutera hitam berkerah rendah, tas tangan merah, sepatu hak tinggi warna senada, jam tangan bermerek, serta memakai kacamata hitam turun dari kursi belakang. Lalu berjalan, diikuti pria tinggi besar yang memayunginya, menghampiri Sobri. Wanita itu membuka kacamatanya. Matanya merah, sembab. Kantung bawah matanya menghitam, cembung. Kontras sekali dengan kulit wajahnya yang putih bersih.
(Shofi Al Khansa, "Sampah Bertuah")
Penokohan tokoh "wanita" dalam cerita digambarkan melalui ....
Diceritakan langsung oleh pengarang
Dialog langsung tokoh
Dialog tokoh lain
sifat/karakter tokoh
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bambu itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. [ … .] Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.
Kalimat yang tepat untuk melengkapi kutipan teks novel tersebut adalah …..
Bapak tertidur Karen alelah
Bapak dan ibu duduk berdua
Bapak selalu menikmatinya
Bapak memotret senja itu
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong. "Begitulah enaknya jadi orang miskin," batinnya, "dapat fasilitas gratis tidur di lantai." Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …..
tubuhnya digerogoti penyakit
susahnya menjadi orang miskin
buruknya pelayanan rumah sakit
banyak bangsal yang kosong
(1) komplikasi
(2) resolusi
(3) abstrak
(4) koda
(5) orientasi
Urut-urutan struktur teks cerpen yang benar adalah .....
(1), (2), (3), (4), (5)
(2), (3), (4), (5), (1)
(3), (2), (5), (4), (1)
(3), (5), (1), (2), (4)
Perhatikan kalimat berikut!
Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam perannya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kalimat tersebut merupakan majas .....
metafora
metonimia
sinestesia
personifikasi
Ayah menyiapkan sepuluh ekor ayam untuk acara tahun baru di rumah.
Kalimat tersebut merupakan majas .....
pars pro toto
totem pro parte
alegori
eufemisme
Cermatilah ilustrasi berikut ini!
Diana merupakan anak tunggal di keluarganya. Apa yang dia inginkan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Namun, Diana tidak diizinkan main bersama teman-temannya setiap pulang sekolah maupun saat akhir pekan.
Kiasan yang sesuai untuk mewakili ilustrasi di atas adalah .....
seperti rusa belang kaki
bagaikan bulan yang malu-malu
bagaikan burung dalam sangkar
ibarat telur di ujung tanduk
Kegagalanku berakhir ketika aku diterima di jurusan Sastra Jepang. Aku menekuni pendidikan tinggi di universitas dengan sepenuh hati. Adanya kendala finansial memotivasiku untuk mencari pekerjaan sambilan di samping kuliah. Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padaku. Pada suatu hari, saudaraku, Mbak April, datang kepadaku. Dia berkata padaku, “Runa, aku mau membuat toko pakaian. Kebetulan di samping kantor lamaku ada kios kosong. Bagaimana kalau kita patungan dan menjual pakaian di sana?” Ia datang dan mengajakku berpatungan untuk membuka sebuah usaha. Kemudian, kami mulai menjalani bisnis pakaian. Ternyata, usaha kami mendapatkan hasil yang gemilang.
Dalam kutipan cerpen tersebut, terdapat kata bergaris miring sepenuh hati. Kata tersebut memiliki makna …
bersungguh-sungguh
percaya diri
sabar
tekun
(1) Boleh jadi, itulah sikap angkuhnya seorang yang sukses dan kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).
Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ pada kutipan cepen tersebut sombong terletak pada kalimat bernomor .….
(1) dan (2)
(2) dan (3)
(3) dan (4)
(4) dan (5)
Bacalah potongan cerpen berikut!
Ya, aku gadis normal layaknya yang lain. Tanpa satu kaki bukanlah masalah, tanpa satu kaki bukanlah penghambat untuk meneruskan segala mimpi yang tersimpan dalam diri. Aku bisa menjalani semuanya, aku bisa menghirup udara pagi, aku bisa menari walau hanya di kursi roda, aku bisa sekolah lagi. Semoga aku pun bisa membuat catatan manis untuk orang yang mengashiku biarpun anggota tubuhku tak lengkap.
Amanat pada kutipan cerita tersebut adalah …..
Kita tidak boleh mencela orang yang kekurangan.
Seharusnya kita kasihani orang yang kekurangan.
Hendaklah menghargai orang yang kekurangan.
Kekurangan tidak menghalangi kita untuk berkarya.
Ciri khas pengarang dalam menyampaikan tulisannya kepada publik, baik itu dari segi pengunaan majasnya maupun diksi atau pemilihan kata yang tepat di dalam cerpen.
Pernyataan diatas, termasuk ke dalam unsur intrinsik .....
alur
amanat
sudut pandang
gaya bahasa
Setiap sore menjelang, bapak selalu duduk di bangku tua kesayangannya. Bangku yang terbuat dari bambu itu telah menemani bapak melewati senja yang begitu indah. Duduk dengan tenang sembari melempar pandang ke luar jendela untuk menyaksikan betapa indah panorama yang senja sajikan. Rasa lelah setelah seharian memeras keringat tampak memudar ketika ia duduk di bangku tua kesayangannya itu.
Gaya bahasa (majas) dalam kutipan cerita di atas adalah .....
personifikasi
asosiasi
simile
hiperbola
Cermatilah kutipan cerpen berikut!
Pada suatu senja kemerahan di tengah kota, aku terduduk diam di kursi ujung ruangan sembari menatap lalu lalang orang, yang berjalan cepat ke arah pintu masuk stasiun dekat cafe yang sekarang aku berada. Gerimis selepas siang tadi membuat beberapa genangan sehingga ujung celana panjangku basah di beberapa bagian. Membuatku kedinginan. Diperparah dengan dinginnya penyejuk ruangan di cafe ini. Sambil menahan dingin, kulirik jam tanganku. Sudah sepuluh menit tak tampak batang hidungnya. Aduhai... lama sekali wanita berjalan. Tidak apa. Semua kulakukan demi cintaku. Sudah sepekan tidak bertemu.
Kutipan cerpen tersebut merupakan struktur bagian .....
orientasi
komplikasi
resolusi
abstrak
Sekelebat sosok tadi membuat bulu kudukku merinding. Aku yakin dan menyaksikan dengan mata telanjang barusan adalah sosok kuntilanak yang gentayangan di tengah malam.
Makna ungkapan mata telanjang adalah .....
genit atau centil
penglihatan tanpa bantuan apa pun
mata yang tidak senonoh
sulit dideskripsikan oleh kata-kata
Di bawah ini kalimat yang menggunakan majas sarkasme adalah .....
Dasar bodoh! Tulisan seperti ini saja tak terlihat!
Tulisanmu sangat rapi. Saking rapinya aku sampai tak bisa membacanya.
Tebal sekali bedakmu sehingga bisa kusendoki.
Kacamatamu tipis ya. Pasti minus-nya sangat tinggi.
