WorksheetsTeks Cerpen Kelas 11
Total questions: 30
Worksheet time: 30mins
“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Anisa dan Handoko tidak jadi menikah.
Anisa dilarang menikah oleh Mama dan kakaknya.
Mama yang berpikiran picik terhadap Handoko.
Keinginan Mama agar Anisa hidup bahagia.
Kakak tidak mendukung pernikahan Anisa dengan Handoko.
“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.
Penyebab konflik pada kutipan cerpen di atas adalah …
Status Handoko yang sudah mempunyai istri.
Mama yang menginginkan menantu orang kaya.
Handoko yang belum mempunyai pekerjaan tetap
Mama yang mempersalahkan masa lalu Handoko.
Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko.
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …
orang pertama pelaku utama
orang ketiga pelaku sampingan
orang ketiga pelaku utama
orang pertama dan ketiga
orang ketiga serbatahu
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Pernyataan yang sesuai dengan teks cerpen di atas adalah …
Banun menobatkan diri sebagai orang kikir
Predikat Banun Kikir didasari kedengkian
Banun tidak pernah tahu rekor kikir itu
Banun tidaklah kikir tetapi hemat
Tidak ada yang pernah bertanya tentang Banun
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Nenek tua
Lelaki Muda
Kakek tua
Remaja
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Sosial
Agama
Politik
Ekonomi
Budaya
1) Kalau ada pertandingan dini hari, aku dan Ayah bahu-membahu untuk membangunkan. 2) Kami berdua beranak batanggang, atau tidak tidur sampai dini hari, duduk terpaku di depan TV Grundig 14 inci yang berkerai kayu tripleks, ditemani bergal-gelas kopi.
3) Di Stadion Ullevi Gothenburg, tim berambut pirang ini meledakkan gawang Belanda hanya dalam 5 menit pertama melalui tandukan Larsen: 1 – 0. 4) Aku mengepalkan tangan tinggi-tinggi di udara, “Yes!” teriakku. 5) Aku lirik Ayah, beliau menggeleng-geleng sambil mendeham.
Bukti latar tempat dalam kutipan novel tersebut ditunjukkan kalimat ….
1
2
3
4
5
Struktur yang berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen terdapat dalam ....
abstrak
orientasi
komplikasi
deskripsi umum
koda
Pak Balam menutup matanya kembali, dan dia terbaring demikian letih telah berbicara begitu banyak. Mereka duduk mengelilinginya dengan pikiran masing-masing. Cerita Pak Balam menimbulkan kesan yang dahsyat sekali dalam hati mereka. Mereka ingin dapat selamat sampai ke kampung, meninggalkan hutan dengan harimau maut jauh-jauh di belakang. Akan tetapi, mengakui dosa-dosa di depan kawan semua.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah ...
orang ketiga pengamat
orang ketiga serba tahu
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua
Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para pelayat sudah pulang. Sementara aku masih duduk sambil sesekali menyeka air mata. Ibu yang selama ini paling aku hormati dan sayangi tadi malam telah menghadap Sang Pencipta.
Latar suasana yang tergambar pada kutipan cerita tersebut adalah ….
haru
kecewa
sedih
khawatir
marah
(1) “Sedekah, Pak,” ujar ibu di depanku membuyarkan kegilaanku. (2) Aku menggeleng. (3) Ibu itu kembali menoleh kepadaku, tetapi aku tetap menggeleng. (4) Aku sadar akan kekurangan dan kemiskinan yang juga menjeratku. (5) Haruskah aku menolong, padahal saat ini aku juga sedang membutuhkan pertolongan? (6) Apa salahnya aku memberikan sedikit dari yang kumiliki.
Bagian yang membuktikan rasa kebimbangan tokoh utama terdapat dalam kalimat nomor ….
(1)
(3)
(4)
(5)
(2)
(1) Layang-layang Adi tiba-tiba menukik dari atas menyambar layang-layang Badu. (2) Akibatnya, ada bagian kertas layang-layang Badu yang robek. (3) Dan... ketika diadu kembali, layangan Badu pun putus. (4) Badu memandang layang-layangnya seolah-olah tidak percaya. (5) Perasaan sedih dan malu menjadi satu. (6) Akhirnya Badu mengakui kekalahannya.
Watak tokoh Badu pada kutipan novel tersebut adalah ...
pemalu
berjiwa besar
sombong
angkuh
pendendam
Cermati kutipan cerpen berikut!
Hingga tiga bulan lalu, suami Melani masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang setinggi orang dewasa. Setelah Melani dan suaminya datang sebagai keluarga jauh yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya memanfaatkan lahan itu untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.
Nilai sosial yang terdapat pada kutipan tersebut adalah ...
seorang suami yang masih bisa menggarap lahan
seseorang yang bisa memanfaatkan lahan mati
suami istri yang datang sebagai keluarga perantau
menolong orang yang memerlukan pekerjaan
suami yang bekerja keras menghidupi keluarganya
Cermati kutipan novel berikut ini!
Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insomnia ternyata malah mendukungku. Aku adalah penderita insomnia yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan untuk membaca. Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran mental yaitu kembali membuka buku. Seandainya Mereka Bisa Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya di depan para petani Derbyshire yang sangat skeptis, keras kepala, dan antiperubahan. Dari buku itu juga aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup merasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan astuaria. Membaca semua itu semangatku kembali terpompa dan hatiku semakin bening siap menerima pelajaran-pelajaran baru.
(Laskar Pelangi, Andrea Hirata)
Pembuktian latar tempat dalam kutipan tersebut terdapat dalam bagian ...
Aku adalah penderita insomnia yang paling produktif karena saat-saat tak bisa tidur kugunakan untuk membaca.
Di rumah aku belajar sampai jauh malam dan penyakit insomnia ternyata malah mendukungku.
Jika kelelahan belajar aku melakukan penyegaran mental yaitu kembali membuka buku.
Seandainya Mereka Bisa Bicara dan di sana kutemukan bagaimana Herriot menghadapi kesulitan membuktikan dirinya di depan para petani Derbyshire yang sangat skeptis, keras kepala, dan antiperubahan.
Dari buku itu juga aku merasakan angin pagi lembah Edensor yang dingin bertiup merasuki dadaku yang sesak setelah menyelusup di antara dedaunan astuaria.
"Akhir-akhir ini kamu kok kelihatan tidak begitu suka dengan hidangan makan siang Ibu. Kenapa nak?"tanya Ibu sambil membelai Sandi lembut.
Dari kutipan cerita tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa watak Ibu adalah ...
penyabar
penasaran
perhatian
pemarah
tak acuh
Pria tua itu sudah bertahun-tahun tinggal di desa, namun tak ada satupun yang mau mendengarnya bicara. Bahkan para ibu sering menakut-nakuti anaknya saat ia lewat, bagi mereka Pak Darmo tak lebih dari orang gila yang menggunakan pakaian militer tiap Senin dan membawa senapan tanpa peluru. Tetapi bagi Ara, Pak Darmo ialah pejuang sesungguhnya yang hanya ingin bernostalgia, mengingat masa-masa jayanya dan merasakan detak nasionalisme dalam nadinya.
Penokohan yang disampaikan pada kutipan cerpen diatas adalah?
Pandangan tokoh lain
Tingkah laku tokoh
Dialog antartokoh
Sifat yang digambarkan pengarang
Disebutkan penulis
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” tanya Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang melimpah.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas yaitu …
Nanda
Bunda
Ica
Penjual
Siswa
Terik matahari tepat berada di atas kepala, dengan tergesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara
“… penumpang bus Gemilang Asa untuk segera memasuki kendaraan…”.
Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya.
“Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,”
harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
Sore hari, terminal
Siang hari, perjalanan
Siang hari, terminal
Pagi hari, rumah
Pagi hari, terminal
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Kata sepenuh hati dalam cerpen di atas bermakna …
semangat
percaya diri
sungguh-sungguh
ikhlas
tabah
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Amanat yang tidak sesuai dengan penggalan cerpen di atas adalah …
Janganlah takut pada kegagalan
Tekunlah dalam setiap pekerjaan, niscaya menuai hasilnya
Uang bukanlah penentu keberhasilan seseorang
Bekerjasamalah dengan baik dan jujur dalam melakukan sebuah pekerjaan
Berdoa adalah penentu kesuksesan seseorang
Cerpen adalah salah satu karya sastra yang berbentuk …
bait
baris
dialog
prosa
nonfiksi
Salah satu unsur Ekstrinsik cerpen adalah
Gaya penyampaian cerita
Penokohan
Latar Budaya Pengarang
Tanggapan pembaca
Tampilan ilustrasi cerpen
Perpaduan antara unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita disebut dengan ...
alur
latar
tokoh
sudut pandang
amanat
Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para pelayat sudah pulang. Sementara aku masih duduk sambil sesekali menyeka air mata. Ibu yang selama ini paling aku hormati dan sayangi tadi malam telah menghadap Sang Pencipta.
Latar suasana yang tergambar pada kutipan cerita tersebut adalah ….
haru
kecewa
sedih
khawatir
marah
Bacalah kutipan cerpen berikut!
"Kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam dan putih, Pak. Diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya."
Amanat yang terkandung dalam kutipan tersebut adalah ...
Bacalah kutipan cerita berikut!
Sudah bertahun-tahun aku menatap matahari terbit dari jendela kamarku. Dari sini terlihat jalan kecil menurun menuju sungai, juga atap-atap rumah tetangga yang mulai memantulkan cahaya pagi. Kadang, suara kendaraan dari kejauhan terdengar samar, seolah mengingatkanku pada hiruk-pikuk kota yang dulu kutinggalkan.
Hal yang dominan dibahas dalam kutipan di atas adalah ….
latar waktu
latar tempat
latar suasana
alur
penokohan
Bacalah kutipan cerita berikut!
Hujan belum juga reda, tapi Dina tetap melangkah keluar sambil menenteng payung kecil yang sudah sobek di ujungnya. “Tak apa,” gumamnya, “aku harus sampai sebelum malam.” Angin menusuk, jalanan licin, namun langkahnya tak goyah. Ia tahu, tak ada yang akan menunggunya di rumah bila ia menyerah sekarang.
Hal yang dominan dibahas dalam kutipan di atas adalah ….
suasana
watak tokoh
amanat
waktu
tempat
Bacalah kutipan cerita berikut!
Saat menemukan dompet di bangku taman, Nisa sempat terdiam.
Isinya bukan hanya uang, tapi juga kartu identitas dengan alamat tak jauh dari rumahnya.
Ia menatap dompet itu lama, menimbang-nimbang.“Uangnya bisa buat bayar ujian,” pikirnya sesaat.
Namun akhirnya ia berdiri dan melangkah ke alamat yang tertera, meski hatinya masih berdebar.
Nilai kehidupan yang dapat disimpulkan dari kutipan cerita tersebut adalah ….
Keberanian untuk mengambil keputusan di saat sulit.
Kedisiplinan dalam menghadapi ujian kehidupan.
Empati terhadap orang lain yang sedang kehilangan sesuatu.
Kejujuran dan tanggung jawab terhadap apa yang bukan miliknya.
Kemandirian dalam menghadapi masalah tanpa bergantung pada orang lain.
Bacalah kutipan cerita berikut!
Lelaki tua dengan wajah terang membuat pintu dan takjub melihat ke arah depan. Ada seorang yang amat dia rindukan. Air matanya menetes, karena tidak percaya orang tersebut sekarang berdiri di hadapannya dan memanggilnya “Ayah”.
Latar suasana yang tergambar pada teks di atas adalah ….
sedih
haru
tegang
cemas
takut
Berikut yang bukan termasuk unsur ekstrinsik cerpen adalah ….
latar belakang penulis
latar budaya
sosial budaya
tokoh
latar politik
