NEW
Font size
WorksheetsUAS Kebudayaan Jawa sesi 1
Total questions: 30
Worksheet time: 35mins
Menurut Honingmann (1959) wujud kebudayaan terdiri dari Ideas, Activities, dan Artifacts. Berikut ini yang merupakan wujud kebudayaan Jawa yang berbentuk “Activities” adalah?
Aksara Jawa dan unggah-ungguh
Mitoni dan Grebeg Suro
Grebeg suro dan bertanam dengan melihat pranata mangsa
Mengeramatkan suatu tempat dan petungan Jawa
Berikut yang merupakan wujud kebudayaan Jawa yang berbentuk “Artifacts” adalah?
Wayang mahabarata dan serat centhini
Sedekah bumi dan unggah-ungguh basa
Aksara Jawa dan wayang mahabarata
Tembang macapat dan konsep ora ilok
Di bawah ini merupakan periodesasi sastra Jawa menurut Poerbatjaraka (1952) adalah?
Kakawin, Geguritan, dan Prosa
Kakawin, Kidung, dan Geguritan
Kakawin, Kidung, dan Jawi Tengahan
Geguritan, Macapat, dan Kidung
Sejarah awal sastra Jawa dipercaya berawal di tahun 804 masehi yang ditandai dengan ditemukannya prasasti?
Prasasti Kedukan
Prasasti Sukabumi
Prasasti Muara Takus
Prasasti kalasan
Sejarah sastra Jawa terbagi menjadi beberapa periode, salah satunya adalah periode Jawa Kuna. Periode Jawa Kuna berlangsung pada abad?
5 M – 10 M
7 M – 10 M
8 M – 14 M
9 M – 14 M
Pada masa Jawa kuna, bentuk sastra Jawa berupa prosa dan puisi. Di bawah ini salah satu bentuk kakawin (puisi) di masa Jawa kuna adalah?
Bhismaparwa
Arjunawiwaha
Udyogaparwa
Kunjarakarna
Kakawin yang menceritakan tentang perang saudara antara Pandawa dan Kurawa karya dari Empu Sedah dan Empu Panuluh adalah?
Kakawin Bharatayudha
Kakawin Arjunawiwaha
Kakawin Smaradahana
Kakawin Hariwangsa
Sastra Jawa Pertengahan muncul pada masa Kerajaan Majapahit, mulai dari abad ke-13 sampai kira-kira abad ke-16. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli hyang disebut dengan?
Tembang
Suluk
Kidung
Mantra
Periode sastra Jawa yang muncul setelah masuknya agama Islam di tanah Jawa adalah periode?
Sastra Jawa Kuna
Sastra Jawa Tengahan
Sastra Jawa Baru
Sastra Jawa Modern
Kidung rumeksa ing wengi, Serat manik maya, dan Babad tanah Jawi merupakan beberapa contoh karya sastra pada periode?
Sastra Jawa Kuna
Sastra Jawa Tengahan
Sastra Jawa Baru
Sastra Jawa Modern
Untuk dapat membaca dan menulis menggunakan aksara Jawa, seseorang harus menguasai bentuk dasar dari aksara Jawa. Di bawah ini yang merupakan bentuk dasar dari aksara Jawa adalah?
Aksara Dentawyanjana
Aksara Sandhangan
Aksara Pasangan
Aksara Murda
salah satu contoh kata yang ditulis menggunakan aksara Jawa tersebut termasuk dalam bentuk tembung?
Murda
Legena
Wantah
Asli
Ketiga bentuk sandhangan tersebut termasuk dalam jenis?
Sandhangan Swara
Sandhangan Panyigeg wanda
Sandhangan Mandaswara
Sandhangan Wyanjana
Perhatikan aturan penulisan aksara berikut ini.
1) Dalam satu kata hanya satu huruf yang bisa diganti dengan aksara tersebut
2) Tidak bisa menempati bentuk sigeg
3) Memiliki bentuk pasangan
Aturan tersebut digunakan untuk menulis aksara?
Aksara sandhangan
Aksara pasangan
Aksara murda
Aksara swara
Untuk menuliskan aksara wilangan dibutuhkan tanda baca?
Pada adeg-adeg
Pada pangkat
Pada lungsi
Pada lingsa
Berikut ini penulisan menggunakan aksara Jawa yang benar adalah?
Untuk menggunakan aksara Jawa sebagai sarana menulis, ada beberapa aturan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah, penulisan tembung lingga yang suku kata pertamanya mengandung unsur bunyi vokal /a/ ditutup nasal, suku kata pertama harus ditulis dengan menggunakan sandhangan taling tarung. Berikut ini adalah contoh pengaplikasian aturan tersebut adalah?
Dalam penulisan menggunakan aksara Jawa ada aturan “Tembung lingga suku kata pertama ditutup konsonan nasal, suku kata selanjutnya dimulai dengan konsonan /ca/ dan /ja/. Tata cara penulisannya adalah konsonan nasal penutup suku kata (aksara sigeg) harus ditulis dengan menggunakan aksara ‘nya’.” Pengaplikasian aturan tersebut dapat dilihat pada penulisan tembung?
Dalam penulisan tembung andhahan menggunakan aksara Jawa ada aturan penulisan secara rangkap. Berikut ini mana penulisan rangkap yang benar menurut aturan yang berlaku.
Di bawah ini penulisan tembung andhahan yang benar adalah?
Manakah ilustrasi berikut yang menggambarkan upaya membiasakan penggunaan unggah-ungguh basa yang benar?
Pak Herman mewajibkan muridnya menerapkan unggah-ungguh basa setiap hari saat berbicara dengannya, jika ada kesalahan maka dia akan dikenai sanksi.
Lukman termasuk anak yang pandai. Setiap hari dia selalu menggunakan unggah-ungguh basa saat berbicara dengan gurunya di sekolah. Berdeda ketika dia di rumah, dia enggan menggunakan bahasa Jawa saat berbicara dengan orang lain.
Pak Tarno mengajarkan pada anaknya untuk selalu berkata “Nyuwun tulung” saat meminta tolong kepada orang lain dan “Matur nuwun” setelah ditolong oleh orang lain.
Ridwan hanya akan menggunakan unggah-ungguh basa dengan baik dan benar saat bertemu dengan guru bahasa Jawa saja.
Ada empat dimensi dalam penggunaan unggah-ungguh basa dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini mana yang dimaksud dengan dimensi Bahasa Jawa yang leres tetapi tidak laras.
Orang yang berbicara dengan menerapkan unggah-ungguh basa serta parama sastra yang baik dan benar.
Orang yang berbicara dengan tidak menerapkan unggah-ungguh basa dengan baik, tetapi pemilihan katanya sudah sesuai dengan paramasastra.
Orang yang berbicara dengan tidak memperhatikan penggunaan paramasastra yang baik tetapi sudah menerapkan unggah-ungguh basa dengan baik.
Orang yang tidak bisa menggunakan unggah-ungguh basa dan paramasastra dengan baik saat berbicara.
Prinsip pemilihan unggah-ungguh basa adalah faktor keakraban dan penghormatan. Ketika kita sudah memiliki keakraban dengan lawan bicara kita, maka kita bisa menggunakan ragam ngoko lugu, tetapi jika lawan bicara kita merupakan orang yang kita hormati maka kita harus menggunakan ragam krama. Bagaimana saat kita berbicara dengan orang tua kita, yang notabenya beliau kita hormati sekaligus sudah akrab dengan kita. Ragam mana yang akan kita gunakan saat berbicara dengannya?
Krama Alus
Krama Lugu
Ngoko Alus
Ngoko Lugu
Dalam penggunaan ragam unggah-ungguh basa ada rumus yang harus diperhatikan. Ragam apa yang memiliki rumus “tembung ngoko sedaya ditambah krama inggih/krama andhap”?
Ngoko lugu
Ngkoko alus
Krama lugu
Krama alus
Berikut ini manakah yang merupakan penggunaan ragam Krama Lugu?
Untuk orang yang sudah akrab
Untuk orang yang status jabatannya sama
Untuk orang yang kita hormati
Untuk orang yang statusnya sama tetapi belum akrab
Berikut ini kalimat yang menggunakan ragam ngoko alus dengan benar adalah?
Kula lunga menyang sekolah nalika bapak wis tindak menyang Jogja.
Aku wingi ketemu Pak Lurah lagi nuntun montoripun sing rusak.
Aku arep sowan dhateng daleme Pak Herman.
Kula badhe sowan dhateng dalemipun Pak Herman.
Berikut ini kalimat yang menggunakan ragam ngoko alus yang benar adalah?
Daleme pak lurah adoh banget.
Dalemipun pak lurah adoh banget.
Daleme pak lurah tebih sanget.
Dalemipun pak lurah tebih sanget.
Berikut ini kalimat yang menggunakan ragam krama lugu dengan benar adalah?
Ibu mundhut gendhis wonten wande.
Bapak maos koran ngagem kaca tingal.
Niki bathike sing pundi sing ajeng diijolake?
Kala wingi ibu sowan dhateng dalemipun simbah.
Berikut ini kalimat yang menggunakan ragam krama alus dengan benar adalah?
Kala wingi ibu sowan dhateng dalemipun simbah.
Sampeyan napa sampun wangsul saking kantor mas?
Sampun jam sedasa, budhe kok dereng tilem?
Adhiku disukani jajan amerga bijine apik.
Dalam penggunaan ragam ngoko lugu ada percampuran tembung krama inggil atau krama andhap. Kata (tembung) yang dapat diubah dalam bentuk krama kecuali....
Tembung aran duweke wong liya
Tembung kriya
Tembung sesulih
Tembung panggandheng
