Font size
WorksheetsLatihan Teks Cerpen
Total questions: 20
Worksheet time: 13mins
(1)Malam ini Vina tengah menengadahkan kepalanya, berusaha menyapa bulan. (2) Kendati penantiannya telah habiskan lebih dari separuh kesabarannya. (3) Rupanya, awanlah yang menghalangi terangnya bulan. (4) Sebenarnya, malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. (5) Namun, entah mengapa dingin itu tak ia rasakan sedikit pun.
Majas personifikasi terdapat pada kalimat yang ditandai dengan nomor ....
1
2
3
4
5
Bertahun-tahun pasukan Belanda dan centeng-centeng demang mengepung Gunung Beser, tetapi Jaya Sakti tidak pernah menyerah.
Berdasarkan kutipan cerita pendek di atas, tokoh Jaya Sakti mempunyai karakter ....
sesumbar
penakut
pengecut
pemberani
pemarah
Ide yang mendasari sebuah cerita disebut ....
tokoh
latar
tema
alur
amanat
Rangkaian peristiwa/kejadian dalam cerita disebut ....
penokohan
sudut pandang
latar
alur
tema
Tujuan dasar teks naratif adalah ....
memberikan pengetahuan
sekedar bacaan saja
memikat pembaca atau pendengar
untuk mendidik
mengajak/mempengaruhi pembaca
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di Jurusan Bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja di samping kuliah.
Kata sepenuh hati dalam cerpen di atas bermakna ...
Sungguh-sungguh
Percaya diri
Ikhlas
sedih
tabah
Di sebelah barat kampung ada gunung yang tidak begitu besar, areanya kecil, lebih tepat disebut bukit. Tapi sejak dulu sampai sekarang penduduk kampung menyebutnya dengan Gunung Beser.
Pada kutipan ini terdapat unsur cerpen ......
latar waktu saja
latar tempat dan waktu
latar tempat saja
latar suasana
latar
Pada suatu waktu hiduplah seorang pemuda yang tangguh dan pemberani. I Gusti Ngurah Rai namanya namanya. Usianya 17 tahun kala itu.
Berdasarkan strukturnya, kutipan cerpen tersebut merupakan bagian....
orientasi
rangkaian peristiwa
resolusi
komplikasi
koda
Ingin rasanya aku berteriak mendengar pertanyaan bodoh adikku ini. Biasanya aku akan bilang, “Ya enggak gitu, bodoh!” Tapi mama sudah melarangku mengatakan kata itu lagi. Katanya, anak baik tidak boleh berkata kasar. “ Ana tidak bodoh, Lia. Dia ingin pintar seperti kamu, “kata Mama
Suasana yang tergambar pada kutipan cerpen tersebut . . .
kesal
marah
tegang
senang
terharu
Kedamaian kampung saya mulai terusik saat jalan besar menghubungkan dengan kota kecamatan dan kota kabupaten diperbesar dan diaspal. Kata saya pada kalimat di atas merupakan unsur sudut pandang (point of view) sebagai ....
orang pertama tunggal
orang pertama jamak
orang ketiga tunggal
orang ketiga jamakt
Berikut ini yang bukan merupakan unsur pembangun dalam cerpen adalah ....
latar
tema
judul
alur
sudut pandang
Orang yang memainkan lakon/peran dalam cerita disebut ....
tokoh
tema
alur
latar
sudut pandang
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan seksama!
(1). Harum bunga kopi merayap dibawa angin. (2). Bintang bertaburan di langit. (3). Suara jangkrik dan kodok menjadi musik alam. (4). Aku serasa sedang berada di surga.
Bukti latar waktu pada kutipan cerpen tersebut malam hari,ditandai dengan nomor .
1
2
3
4
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya. “Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan. Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat. “Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir. “Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ....
Mengharukan
Menakutkan
Menegangkan
Mengenaskan
Membahagiakan
Aku Aku bertanya seperti biasanya. “Biar apa, Ayah?” “Biar kamu tidak sombong, Zarah,” ujarnya sambil tersenyum, lalu mengecup keningku seperti biasanya. Di tengah orang-orang yang berlomba-lomba menjadi patung lilin, Ayah adalah salah satu dari sedikit orang yang memilih untuk tetap menjadi manusia.
Watak tokoh ayah pada kutipan cerpen tersebut adalah...
sombong
jujur
pemarah
bijaksana
sombong
Kelihatan seorang perwira berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di bawah pohon rindang
di jalan pedasaan
di perkampungan
di hutan rimba
di kota
Dengan tergesa-gesa pemuda itu menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati pemuda itu agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah ...
pagi hari, perjalanan
malam hari, terminal
siang hari, terminal
siang hari, perjalanan
sore hari, di rumah
Tentara-tentara Jepang itu menembakkan senapannya ke arahku. Suara keras senapan itu membelah angkasa. Aku terjungkal di hadapan keluargaku. Anakku menangis sejadi-jadinya.
Majas yang tampak pada kutipan "Suara membelah angkasa" di atas yaitu ....
hiperbola
personifikasi
ironi
sinisme
sarkasme
Berikut ini topik yang dapat diangkat dalam cerpen sejarah, kecuali ....
Bandung Lautan Api
Proklamasi Kemerdekaan RI 17
Legenda Danau Toba
Perang Puputan
Perang Padri
Dengan semangat membara, ia menatap bendera merah putih di depannya. Ir Soekarno saat itu bersiap memproklamasikan kemerdekaan di depan rakyat Indonesia. Hatinya penuh haru sekaligus bahagia.
Sudut pandang yang digunakan pada penggalan kutipan cerpen sejarah di atas yaitu ....
orang pertama tunggal
orang pertama jamak
orang kedua tunggal
orang ketiga tunggal
orang ketiga jamak.
