WorksheetsUlasan Teks Fiksi
Total questions: 15
Worksheet time: 8mins
.Eyang
oleh Putu Wijaya5 poin
Tetapi menjelang malam takbiran. Hummer 3 milyar milik Bos berhenti
depan rumah. Aku meloncat bagai chipansee menghampiri. Begitu kaca
jendela menguak memuntahkan wajahnya yang segar-bugar, aku sudah
menyapa:
”Sore Bos, minal aidin walfa izin. Maaf lahir batin!” Dia membalas lalu
tertawa.
”Jadi sudah pasti, besok?”
”Pasti Bos, sudah ketok palu.”
”Oke. Tapi kalian tidak ke mana-mana seminggu ini, tidak mudik kan?”
”Untuk apa harus mudik, Bos, kalau hati kami sudah di situ hamburhambur duit aja!” Dia tertawa lagi.
”Oke, kalau begitu tolong titip Eyang. Beliau tidak mau ikut tour ke
China, katanya untuk apa ke sana, orang Tionghoanya malah banyak ke
Jawa. Nginap di hotel nggak mau, dititip di super VIP Rumah Sakit
bintang enam juga ogah. Maunya di rumah kalian ini yang sudah
dikenalnya. Oke?!”
Aku belum sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Eyang turun
diiringi kopor besar perlengkapannya.
”Salam walaikum…”
Aku sampai lupa membalas sapa Eyang, kepalaku seperti kejatuhan batu.
Gila, untuk makan sekeluarga saja masih pertanyaan! Bagaimana kalau
mesti menjamu Eyang yang hanya doyan makan masakan Eropa dan
buah-buahan impor itu?
Kesalahanku berikutnya, ini sulit aku maafkan. Ketika Bos merogoh
sakunya untuk mengeluarkan dompet, menalangi biaya mengurus Eyang,
dengan sigap aku kunci sikunya, sambil senyum TST menunjukkan tak
ada masalah.
”Beres Bos, jangan ragu-ragu, kami akan jaga beliau, Bos berangkat saja.
Kapan?”
”Ini sekarang langsung ke Cengkareng!”
Sumber: https://pohon-belimbing.blogspot.
Kalimat yang menunjukkan bahwa tokoh aku berpura-pura mampu membiayai keperluan Eyang adalah ..
Aku belum sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Eyang turun diiringi
kopor besar perlengkapannya.
Aku sampai lupa membalas sapa Eyang, kepalaku seperti kejatuhan batu.
Untuk makan sekeluarga saja masih pertanyaan! Bagaimana kalau mesti
menjamu Eyang yang hanya doyan makan masakan Eropa dan buah-buahan impor
itu?
Ketika Bos merogoh sakunya untuk mengeluarkan dompet, menalangi biaya
mengurus Eyang, dengan sigap aku kunci sikunya, sambil senyum TST menunjukkan
tak ada masalah.
Kalimat berikut yang menggunakan majas personifikasi adalah ...
Ibu itu terlihat gelisah sambil memintaku duduk sebentar.
Aku duduk sambil melihat-lihat ke sekeliling
Kulihat jaring ikan yang terentang tergantung di sebelah kiri.
Pohon-pohon nyiur melambai-lambai disertai deburan ombak dari laut.
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Untuk apa teriak-teriak, heh,” kata ayah menyambut. Ayah mengamati
aku dari atas ke bawah. Ia berdiri dan menjangkau tangan kananku.
Katanya, “Untuk apa bunga ini, heh?”. Aku tak tahu karena apa telah
mencintai bunga di tanganku ini. Ayah meraih merenggutnya dari
tanganku, kulihat bungkah otot tangan Ayah menggenggam bunga kecil
itu. Aku menahan untuk berteriak.
“Laki-laki tidak perlu bunga, Buyung. Kalau perempuan bolehlah. Tetapi
engkau laki-laki”. Ayah melemparkan bunga itu. Aku menjerit, ayah
pergi. Ibu masih berdiri. Aku membungkuk, mengambil bunga itu,
membawanya ke kamar.
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerita tersebut adalah...
Buyung menyukai bunga dan banyak perempuan juga sama.
Ayah melarang anaknya berteriak-teriak termasuk Buyung.
Ayah melarang anak laki-lakinya menyukai bunga, sementara Buyung
menyukainya.
Tokoh aku membungkuk, mengambil bunga, tanpa disadari datang ayah.
Cermati kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal berikut!
Telah lebih dari satu dasawarsa kulalui hidupku di rumah besar ini.
Rumah di atas bukti kecil di wilayah Tegal Alang. Tepatnya di sebelah
kiri jalan menuju Kintamani. Tidak di tepi jalan raya, tetapi di antara
sawah dan terasering. Tak seperti rumah di sekitarnya yang tetap
tradisional melebar, rumah bercat putih ini berlantai dua, bergaya
kolonial. Seperti sebuah kesendirian yang telah di rancang sejak mula,
rumah ini sangat tidak menyatu dengan lingkungannya.
(Sumber: "Pengakuan Rusmini', disarikan dari Kompas, Minggu, 20
Maret 2016, Wina Bojonegoro)
Hal yang dibahas dalam cerpen tersebut adalah ....
kehidupan yang dihadapi aku untuk tinggal di rumah besar
kebahagiaan tokoh aku tentang rumah besarnya
cerita tokoh aku tentang kehidupannya di rumah besar
cerita tokoh aku tentang keadaan rumah di daerahnya
Eyang
oleh Putu Wijaya
Tetapi menjelang malam takbiran. Hummer 3 milyar milik Bos berhenti
depan rumah. Aku meloncat bagai chipansee menghampiri. Begitu kaca
jendela menguak memuntahkan wajahnya yang segar-bugar, aku sudah
menyapa:
”Sore Bos, minal aidin walfa izin. Maaf lahir batin!” Dia membalas lalu
tertawa.
”Jadi sudah pasti, besok?”
”Pasti Bos, sudah ketok palu.”
”Oke. Tapi kalian tidak ke mana-mana seminggu ini, tidak mudik kan?”
”Untuk apa harus mudik, Bos, kalau hati kami sudah di situ hamburhambur duit aja!” Dia tertawa lagi.
”Oke, kalau begitu tolong titip Eyang. Beliau tidak mau ikut tour ke
China, katanya untuk apa ke sana, orang Tionghoanya malah banyak ke
Jawa. Nginap di hotel nggak mau, dititip di super VIP Rumah Sakit
bintang enam juga ogah. Maunya di rumah kalian ini yang sudah
dikenalnya. Oke?!”
Aku belum sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Eyang turun
diiringi kopor besar perlengkapannya.
”Salam walaikum…”
Aku sampai lupa membalas sapa Eyang, kepalaku seperti kejatuhan batu.
Gila, untuk makan sekeluarga saja masih pertanyaan! Bagaimana kalau
mesti menjamu Eyang yang hanya doyan makan masakan Eropa dan
buah-buahan impor itu?
Kesalahanku berikutnya, ini sulit aku maafkan. Ketika Bos merogoh
sakunya untuk mengeluarkan dompet, menalangi biaya mengurus Eyang,
dengan sigap aku kunci sikunya, sambil senyum TST menunjukkan tak
ada masalah.
”Beres Bos, jangan ragu-ragu, kami akan jaga beliau, Bos berangkat saja.
Kapan?”
”Ini sekarang langsung ke Cengkareng!”
Sumber: https://pohon-belimbing.blogspot.com/2016/03/eyang-putuwijaya.html
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen tersebut adalah
sudut pandang ….
orang pertama
orang kedua
orang ketiga
orang pertama dan ketiga
Eyang
oleh Putu Wijaya5 poin
Tetapi menjelang malam takbiran. Hummer 3 milyar milik Bos berhenti
depan rumah. Aku meloncat bagai chipansee menghampiri. Begitu kaca
jendela menguak memuntahkan wajahnya yang segar-bugar, aku sudah
menyapa:
”Sore Bos, minal aidin walfa izin. Maaf lahir batin!” Dia membalas lalu
tertawa.
”Jadi sudah pasti, besok?”
”Pasti Bos, sudah ketok palu.”
”Oke. Tapi kalian tidak ke mana-mana seminggu ini, tidak mudik kan?”
”Untuk apa harus mudik, Bos, kalau hati kami sudah di situ hamburhambur duit aja!” Dia tertawa lagi.
”Oke, kalau begitu tolong titip Eyang. Beliau tidak mau ikut tour ke
China, katanya untuk apa ke sana, orang Tionghoanya malah banyak ke
Jawa. Nginap di hotel nggak mau, dititip di super VIP Rumah Sakit
bintang enam juga ogah. Maunya di rumah kalian ini yang sudah
dikenalnya. Oke?!”
Aku belum sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Eyang turun
diiringi kopor besar perlengkapannya.
”Salam walaikum…”
Aku sampai lupa membalas sapa Eyang, kepalaku seperti kejatuhan batu.
Gila, untuk makan sekeluarga saja masih pertanyaan! Bagaimana kalau
mesti menjamu Eyang yang hanya doyan makan masakan Eropa dan
buah-buahan impor itu?
Kesalahanku berikutnya, ini sulit aku maafkan. Ketika Bos merogoh
sakunya untuk mengeluarkan dompet, menalangi biaya mengurus Eyang,
dengan sigap aku kunci sikunya, sambil senyum TST menunjukkan tak
ada masalah.
”Beres Bos, jangan ragu-ragu, kami akan jaga beliau, Bos berangkat saja.
Kapan?”
”Ini sekarang langsung ke Cengkareng!”
Sumber: https://pohon-belimbing.blogspot.com/2016/03/eyang-putuwijaya.html
Latar dalam kutipan cerpen di atas adalah ....
depan rumah
ruang makan
ruang depan
teras rumah
Cermati kutipan cerita berikut!
”Eyang belum pernah melihat orang menghargai makanan seperti kalian,”
kata Eyang sambil menepuk pundak anak-anakku, ”Dada ini rasanya
plong, hidangan tidak ada sisanya. Besok di samping dipesankan lagi
yang lebih enak, Eyang juga akan masak resep tradisional warisan
leluhur Eyang. Setuju?!”
Kami menjawab serentak, ”Setuju!”
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh Eyang memiliki watak ....
haru dan mudah tersentuh
penyayang dan pemurah
perhatian dan humoris
jujur dan suka menolong
Dibandingkan dengan karya sastra sejenis lainnya, novel ini kurang
berbobot. Lukisan perwatakan kurang begitu mendalam, jalan ceritanya
terkesan mendatar saja, tidak ada hal-hal yang menarik perhatian
pembaca.
Penggalan teks ulasan di atas merupakan bagian...
simpulan teks
latar
keunggulan
kelemahan
Untuk mencapai cita-citamu, satu hal yang harus kamu kukan adalah
belajar, belajar, dan belajar.
Gaya bahasa pada kalimat tersebut adalah....
personifikasi
repetisi
ironi
sinisme
Ia mau bekerja serabutan apa saja. Jadi tukang becak, kuli angkut,
buruh bangunan, pemulung, tukang parkir. Pendeknya, siang malam ia
membanting tulang, tapi alhamdulillah tetap miskin juga. ”Barangkali
aku memang turun-temurun dikutuk jadi orang miskin,” ujarnya, tiap kali
ingat ayahnya yang miskin, kakeknya yang miskin, juga simbah
buyutnya yang miskin.
Cara pengarang menggambarkan watak tokoh tersebut melalui ....
dialog antartokoh
penggambaran fisik
tingkah laku tokoh
diceritakan tokoh lain
Cermati bagian buku berikut ini untuk menjawab soal berikut!
Judul Buku : Di Bawah Lindungan Ka'bah
Penulis : Prof. Dr. (Buya) Hamka
Penerbit : PT Bulan Bintang
Tahun Terbit : Jumadil Awal 1422 / Agustus 2001
Catatan Ke- : 25
Tebal Buku : 80 Halaman
Bagian buku tersebut tergolong ....
ulasan
identitas
sinopsis
kelebihan
Perhatikan kutipan cerita berikut!
Tukang Pijat Keliling
Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko
dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun,
keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami
menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa
merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.
...
Kumpulan Cerpen Kompas
Bagian orientasi cerpen di atas memaparkan tentang ...
tema
penokohan
konflik
latar
Eyang
oleh Putu Wijaya
Tetapi menjelang malam takbiran. Hummer 3 milyar milik Bos berhenti
depan rumah. Aku meloncat bagai chipansee menghampiri. Begitu kaca
jendela menguak memuntahkan wajahnya yang segar-bugar, aku sudah
menyapa:
”Sore Bos, minal aidin walfa izin. Maaf lahir batin!” Dia membalas lalu
tertawa.
”Jadi sudah pasti, besok?”
”Pasti Bos, sudah ketok palu.”
”Oke. Tapi kalian tidak ke mana-mana seminggu ini, tidak mudik kan?”
”Untuk apa harus mudik, Bos, kalau hati kami sudah di situ hamburhambur duit aja!” Dia tertawa lagi.
”Oke, kalau begitu tolong titip Eyang. Beliau tidak mau ikut tour ke
China, katanya untuk apa ke sana, orang Tionghoanya malah banyak ke
Jawa. Nginap di hotel nggak mau, dititip di super VIP Rumah Sakit
bintang enam juga ogah. Maunya di rumah kalian ini yang sudah
dikenalnya. Oke?!”
Aku belum sempat menjawab, pintu belakang terbuka. Eyang turun
diiringi kopor besar perlengkapannya.
”Salam walaikum…”
Aku sampai lupa membalas sapa Eyang, kepalaku seperti kejatuhan batu.
Gila, untuk makan sekeluarga saja masih pertanyaan! Bagaimana kalau
mesti menjamu Eyang yang hanya doyan makan masakan Eropa dan
buah-buahan impor itu?
Kesalahanku berikutnya, ini sulit aku maafkan. Ketika Bos merogoh
sakunya untuk mengeluarkan dompet, menalangi biaya mengurus Eyang,
dengan sigap aku kunci sikunya, sambil senyum TST menunjukkan tak
ada masalah.
”Beres Bos, jangan ragu-ragu, kami akan jaga beliau, Bos berangkat saja.
Kapan?”
”Ini sekarang langsung ke Cengkareng!”
Tandai satu oval saja.
Majikan tokoh aku
Orang tua dari tokoh aku
Orang tua dari majikan tokoh aku
Kerabat dari tokoh aku
Sumber: https://pohon-belimbing.blogspot.
Tokoh Eyang pada cerpen tersebut adalah....
majikan tokoh aku
orangtua tokoh aku
orangtua dari majikan tokoh aku
kerabat dari tokoh aku
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Selalu. Ya, selalu. Empat hari yang lalu saja, masih lekat benar di kepala
Trimo, dua orang suruhan Pak Lurah datang ke rumahnya. Mestinya dia
merasa bangga, utusan orang terhormat dan dituakan di desa itu
mengunjungi rumahnya yang reyot. Tapi tidak, kedatangan mereka
justru membuahkan kesedihan dan tangis. Dengan sikap yang terkesan
dingin dan angkuh, kedua utusan Pak Lurah itu meminta agar Trimo
melepaskan tanah miliknya. Katanya ada bos besar dari Jakarta yang
menghendaki tanahnya untuk membangun pabrik pengolahan batu
kapur. (Panen Terakhir)
Kutipan teks tersebut merupakan alur bagian ....
pengenalan (orientasi)
pemunculan konflik
klimaks
penyelesaian (resolusi)
"Dia berteriak sampai suaranya menembus langit."
personifikasi
hiperbola
metafora
ironi
