Font size
Worksheetslatihan soal2
Total questions: 48
Worksheet time: 53mins
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon
Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar
Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam
Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis
Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi
Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?
Abstrak
Komplikasi
Koda
Orientasi
Resolusi
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...
Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah
Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji
Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji
Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta
Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …
uraian langsung
perilaku tokoh
dialog antartokoh
tanggapan tokoh lain
pikiran tokoh
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...
Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami
Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya
Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya
Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya
Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja
“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...
Alur
Tema
Latar
Sudut pandang
Penokohan
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …
(1) dan (2)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
(5) dan (6)
(6) dan (7)
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …
Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai
Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan
Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan
Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya
Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.
Termasuk bagian apakah itu?
Abstrak
Koda
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …
(1), (2), (3), dan (6)
(1), (2), (3), dan (7)
(2), (3), (6), dan (8)
(2), (5), (6), dan (8)
(3), (5), (7), dan (8)
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
kasih sayang orang tua
hari pertama masuk sekolah
mendukung anak untuk sekolah
berangkat sekolah naik sepeda
sayang terhadap orang tua
Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita
Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi
Kakek dan aku bertengkar menahan marah
Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?
Pre-writing
Proof-reading
Drafting
Writing
Revising
Manakah yang termasuk unsur intrinsik?
Gaya bahasa
Latar budaya
Latar masyarakat
Latar tempat
Sudut pandang
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan cerpen di atas adalah …
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua pelaku utama
orang ketiga serbatahu
orang ketiga terbatas/pengamat
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon Kersen yang berbuah lebat, ranum-ranum kemerahan, mengapa yang kutemui malah wajah pucat perempuan itu? Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum lagi dipugar, dengan Eyang Putri, Ibu, dan adik perempuannya. Rupanya perempuan berumur tiga puluhan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam. Dia melukis hingga larut, dan setelah itu tidur sepanjang siang. Aku datang sore hari, yang kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi. Tapi, perempuan itu sungguh mengejutkan, baru saja bangun tidur. Belum makan. Belum minum. Terlihat letih. Acak-acakan. Tubuhnya rapuh. Tatapannya menerawang ke kehidupan yang jauh, menembus tabir waktu yang telah diluruhkannya.
Pembuktian latar waktu pada kutipan cerpen tersebut adalah …
Mencapai pelataran rumah, Sekar termangu di bawah pohon
Ia tinggal di lingkungan rumah-rumah tua, yang kebanyakan belum dipugar
Perempuan itu tak pernah menghiraukan datangnya siang dan malam
Perempuan berumur tiga puluhan itu senang melukis
Aku datang sore hari, kukira dia dalam keadaan rapi sehabis mandi
Manakah bagian yang termasuk 'struktur' cerpen?
Abstrak
Komplikasi
Koda
Orientasi
Resolusi
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen di atas adalah ...
Kadis rajin mengaji karena menghindari pekerjaan di rumah
Kyai Dofir melarang Kadis mengaji karena tidak belajar apa-apa dari mengaji
Kadis salah memahami ajaran agama tentang bekerja dan mengaji
Kadis memberi nafkah pada anak istrinya dengan uang hasil meminta-minta
Kyai Dofir menuduh Kadis melakukan perbuatan yang tidak halal
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Pendeskripsian watak tokoh Kadis diungkapkan melalui …
uraian langsung
perilaku tokoh
dialog antartokoh
tanggapan tokoh lain
pikiran tokoh
Istri Kadis tidak mau juga mengaku, apa yang dikatakan Kyai Dofir kepadanya, atau apa yang dilaporkannya pada Kyai itu. Ia kembali menjadi patung kayu yang patah tengkuknya, terus diam menunduk. Karena itu, pada malam harinya Kadis tidur sendirian di balai-balai dan baru benar-benar bisa tidur terlelap ketika ia memutuskan untuk menemui sendiri Kyai Dofir keesokan harinya.
”Mulai sekarang, Kadis,” Kyai Dofir berkata dengan tenang kepada Kadis yang menunduk di depannya, ”Kau aku larang untuk mengaji di sini. Juga kau kularang ngaji di tempat Kyai Human atau Kyai Sobron.”
“Tapi apa salah saya Kyai?” Kadis terlanjur mengajukan pertanyaan itu dan seketika menyesal karena selama hidupnya ia tidak pernah membantah gurunya.
“Karena kau tidak belajar apa-apa dari pengajian itu!” perkataan Kyai Dofir kedengaran melengking di telinga Kadis. “Kau pergi mengaji hanya untuk alasan, untuk dalih yang dicari-cari, supaya kau tidak usah bekerja untuk memberi nafkah pada anak isterimu.”
“Tapi, Kyai selama ini saya selalu memberi nafkah…”
“Ya, memang kau memberi nafkah,” suara Kyai Dofir memotong dengan cekatan dan keras, “Tapi nafkah itu kau dapat dari hasil meminta-minta pada orang lain. Betul tidak, Kadis?”
Amanat yang tersirat pada kutipan cerpen di atas adalah ...
Seorang istri harus berhati-hati terhadap pemberian suami
Nafkah hasil keringat sendiri lebih besar pahalanya
Sebagai hamba Allah kita harus pergi mengaji apapun alasannya
Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimana pun caranya
Jangan meminta-minta pada orang lain selagi kita masih bisa bekerja
“Pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab-akibat atau bersifat kronologis” disebut ...
Alur
Tema
Latar
Sudut pandang
Penokohan
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Kalimat yang menunjukkan watak tokoh Mangkudun yang sombong terdapat pada nomor …
(1) dan (2)
(1) dan (3)
(2) dan (4)
(5) dan (6)
(6) dan (7)
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan Azrial. Akan saya carikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu. Paham kau?”
(4) Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu, seperti sawah tak berpembatang, tak ada yang bisa diandalkan. (5) Tapi tidak patut rasanya, Mangkudun memandangnya dengan sebelah mata. (6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang dari kampung, pergi membawa luka hati.
Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah …
Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai
Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar sepadan
Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan
Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya
Semenjak hari itu, aku selalu terngiang-ngiang akan kejadian yang telah menimpa kampung kami. Itulah mengapa aku menuliskan cerita ini.
Termasuk bagian apakah itu?
Abstrak
Koda
Orientasi
Komplikasi
Resolusi
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Kutipan yang menggambarkan tokoh orang tua berwatak penyayang terdapat pada kalimat …
(1), (2), (3), dan (6)
(1), (2), (3), dan (7)
(2), (3), (6), dan (8)
(2), (5), (6), dan (8)
(3), (5), (7), dan (8)
(1) Seingatku, setiap pagi, Ibulah yang memakaikan pakaianku yang berwarna merah dan putih itu. (2) Dia pula yang menyisir rambutku, mengenakan topiku–yang juga merah–dan akhirnya memelukku erat sebagai bekal hariku bersekolah. (3) Hari masih terang tanah ketika sepeda Bapak terangguk-angguk menyusuri jalanan desa dan diriku masih terkantuk-kantuk di boncengan menuju sekolah.
(4) Ketika sudah kudengar kicau burung dan kabut mulai menyibak, kami sampai di mulut desa. (5) Sepeda tua Bapak, dengan karat di sana-sininya, masih menggerit-gerit, menuju sekolahku. (6) ”Di sana nanti kamu akan tahu, mengapa kita seperti ini. (7) Dan berharap Bapak masih sempat menyaksikan kamu tidak seperti ini ….” (8) Itu ucapannya yang masih kuingat pada hari pertamaku sekolah.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
kasih sayang orang tua
hari pertama masuk sekolah
mendukung anak untuk sekolah
berangkat sekolah naik sepeda
sayang terhadap orang tua
Tiba-tiba saja aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi, “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku?”
Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah …
Aku dan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
Aku dan Ajo Sidi membohongi kakek dengan cerita
Kakek merasa sakit hati kepada Ajo Sidi
Kakek dan aku bertengkar menahan marah
Hal apa yang harus kalian tempuh untuk membuat sebuah cerpen?
Pre-writing
Proof-reading
Drafting
Writing
Revising
1. Sebuah teks yang menjelaskan tentang gambaran tentang suatu objek tertentu dimana seolah-oleh orang lain dapat merasakan, mendengar, bahkan merasa berada di tempat yang di bicarakan disebut dengan…
A. Teks deskripsi
B. Teks eksplanasi
C. Teks eksposisi
D. Teks narasi
2. Bagas sangatlah manja. Hampir tiap malam, Bagas tidur diujung kakiku. Sebelum kuelus-elus, dia selalu menggangguku. Kalau waktunya makan, dia berputar-putar di depanku sambil mengibas-ngibaskan telinganya yang panjang. Mulutnya berkomat-kamit seperti orang sedang berdoa. Kemanjaannya membuat aku selalu rindu.
Kata sifat yang terdapat di dalam cuplikan itu adalah ....
A. sangat
B. malam
C. manja
D. selalu
3. Kata di, dari, dan ke termasuk ke dalam tiga jenis kata ....
A. penghubung
B. imbuhan
C. depan
D. konjungsi
4.. Dari balik tirai hujan sore hari, pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu segar dan penuh daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup tergerai dan jatuh dibelahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh embusan angin melenggang tenang dan penuh pesona. Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang,pelepah-pelepah itu serempak terjulur satu arah, seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan.
Objek yang dideskripsikan dalam teks di atas adalah ....
A. Lembah
B. pohon kelapa
C. sore hari
D. angin
5. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini!
1) Bukit hijau menjadi latar pantai.
2) Debur ombak pantai terdengar berirama.
3) Udara di pinggir pantai terasa segar.
4) Air kecil dengan buih-buih kecil.
5) Pantai panjang dengan pasir putih.
Kalimat yang menggunakan panca indra pengelihatan ditunjukkan dengan nomor ....
A. 1, 2, dan 5
B. 2, 3, dan 4
C. 1, 4, dan 5
D. 1, 2, dan 4
6. Pada suatu pagi sang Semut kembali berjalan ke taman itu. Karena hujan, genangan lumpur terdapat di mana-mana. Lumpur yang licin membuat semut tergelincir dan jatuh ke dalam Lumpur. Sang Semut hampir tenggelam dalam genangan lumpur itu. Semut berteriak sekencang mungkin untuk meminta bantuan.
“Tolong, bantu aku! Aku mau tenggelam, tolong..., tolong...!”
Struktur teks fabel tersebut adalah ....
A. Koda
B. Orientasi
C. Komplikasi
D. resolusi
7. Kutipan cerita berikut yang merupakan struktur resolusi dalam cerita fantasi adalah ….
A. Tiga rumah bergaya kerucut menyambut mataku. Ketika aku memandang satu persatu, ternyata rumah itu memiliki model yang sama. Hanya satu yang membedakan ketiga rumah itu, yaitu warna pintunya.
B. Pak Raden mengambil cangkul yang ada di sampingnya, dan mengarahkan kepada harimau itu. Pak Raden mengangkat bayi itu dan membawanya pulang bersamanya untuk diurus dan di angkat menjadi anaknya.
C. Alien itu berhidung mancung. Dengan hidungnya yang menjulang ia mengendus sekeliling. Sepertinya ia bingung dan mencoba mengenali tempat itu. Matanya yang sebesar biji kemiri berkedip-kedip memamerkan cahaya kehijauan,
D. Pasukan terdepan dari binatang-binatang hutan segera mengepung para serigala dengan lemparan bola api. Pasukan serigala sempat kaget tak percaya, karena korban berjatuhan di pihak mereka karena lemparan bola api. Namun pemimpin pasukan serigala kembali mengatur siasat pada posisi menyerang.
8. Pada sebuah desa yang damai, hiduplah dua saudara kembar yang memiliki kekuatan sihir. Mereka adalah Niko dan Joko. Walaupun mereka saudara kembar, tetapi watak keduanya amatlah berbeda drastis. Niko begitu sombong dan angkuh sedangkan Joko adalah anak yang baik hati. Adapun Niko mempunyai keistimewaan, yaitu menguasai sihir lebih banyak sehingga dengan sombongnya selalu memamerkan kemampuannya.
Sudut pandang yang digunakan dalam kutipan teks di atas adalah ….
A. Orang ketiga
B. Orang kesatu
C. Orang kedua
D. Campuran keempat
9. Urutan struktur teks cerita fantasi yang tepat adalah ….
A. Orientasi– resolusi – komplikasi
B. Orientasi – komplikasi – resolusi
C. Orientasi – konflik – resolusi
D. Orientasi – konflik – reorientasi
10.Kata tiba-tiba, tanpa diduga, dan tak disangka merupakan contoh ….
A. kata sambung penanda peristiwa
B. konjungsi penanda urutan waktu
C. kata ganti penunjuk rangkaian kejadian
D. kata penunjuk keterkejutan
1. Perhatikanlah urutan pernyataan berikut!
(1) Buatlah lubang di bagian bawah botol menggunakan gunting!
(2) Bagian atas botol biarkan terbuka
(3) Setelah itu, masukkan bahan ke dalam botol dengan pengaturan berikut : pasir, batubara, kerikil, batu besar, dan serat kelapa!
(4) Masukkan air kotor melalui bagian atas botol dan lihat bagaimana air menjadi jernih setelah melewati bahan!
Susuanan pernyataan diatas merupakan bagian uraian teks laporan hasil percobaan berupa ...
pernyataaan umum
kesimpulan
langkah-langkah
penutup
Mari kita lanjutkan perjuangan! Berikan dukungan pada komitmen pemerintah dalam membangun sekolah menyenangkan! Izinkan saya pamit sebagai Kepala Sekolah teriring rasa terima kasih dan permohonan maaf tak terhingga atas segala khilaf yang ada.
Penggalan pidato di atas merupakan bagian …
pembuka
penutup
isi
tujuan
Siang telah menjelang, ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalam bersembunyi di balik awan sambil menangis. Ia menyesal tak bisa melihat wajah rembulan malam tadi.
Didekatinya genangan air tadi. Genangan yang tak jernih. Ia berwarna coklat karena bercampur debu. Sebuah bayangan ada di sana. la tersenyum dan menemukan wajah rembulan di sana. Lalu dia tertidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat di dekatnya.
Teks di atas merupakan cerpen bagian …
resolusi
komplikasi
abstraksi
koda
Berdasarkan perdebatan tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa eksekusi mati bagi pelaku kasus narkoba dapat ditetapkan jika kasus narkoba mencapai angka darurat dan mengancam dapat merusak generasi muda dan hak hidup masyarakat Indonesia.
Paragraf tersebut merupakan teks tanggapan bagian …
penegasan ulang
evaluasi
abstraksi
dskripsi teks
Telur asin merupakan telur yang terbuat dari telur bebek yang sudah melalui proses pengasinan terlebih dahulu. Telur asin mengandung banyak vitamin dan gizi sehingga mengonsumsi telur asin memiliki manfaat bagi tubuh. Manfaat mengonsumsi telur asin, di antaranya menjaga sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan fungsi penglihatan. Proses pembuatan telur asin sangat mudah dan sederhana serta dilakukan dengan cara tradisional. Kalimat yang menggunakan konjungsi kausalitas adalah kalimat ke_______
1
2
3
4
(1). Moderator mempersilakan narasumber, narasumber berpendapat bahwa rokok merupakan teman akrab yang merugikan bagi pengisap atau pencandu (2). Sebab dengan merokok, kesehatan kita dirongrong pelan-pelan sehingga nantinya dapat mengurangi usia kita (3). Di samping itu, menambah pengeluaran yang seharusnya ditabung untuk hari esok (4). Oleh karena itu, kurangi atau berhentilah merokok! (5)
Kalimat persuasif dalam paragraf di atas terdapat pada kalimat ....
Moderator mempersilakan narasumber, narasumber berpendapat bahwa rokok merupakan teman akrab yang merugikan bagi pengisap atau pencandu
Di samping itu, menambah pengeluaran yang seharusnya ditabung untuk hari esok
Oleh karena itu, kurangi atau berhentilah merokok!
Sebab dengan merokok, kesehatan kita dirongrong pelan-pelan sehingga nantinya dapat mengurangi usia kita
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica. Kusangka usaha itu menuai hasil yang gemilang. Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
Ica
Bunda
pedagang kios
Nanda
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda “ Sudut pandang pengarang dalam penggalan cerpen tersebut adalah___
orang ketiga serbatahu
orang pertama pelaku utama
orang ketiga pengamat
orang pertama pelaku sampingan
(1. Kompilkasi ) (2. Orientasi) (4. Koda ) (3. Abstrak) (5. Resolusi)
Urut-urutan struktur teks cerpen yang benar adalah…
1 - 2 - 3- 4 -5
3 - 2 - 1 - 5 - 4
3 - 2 - 1 - 4 - 5
4 - 2 - 1 - 3 - 5
Kata sang kyai ketika Ontowiryo belajar baca tulis Jawa, "Harus kamu ketahui, bacaan Ha Na Ca Ra Ka, memang sepenuhnya adalah aksara. Tapi, ingat, dalam aksara ini sekaligus pengertian dasar cara dan sikap Jawa, lewat sastra adiluhung, pada kawruh kearifan sangkan paraning dumadi."
Anak-anak seusia Ontowiryo yang lain bengong karena tidak mudeng kata-kata yang diucapkan sang kyai, tapi ajaib, Ontowiryo benar-benar menangkap dan meresapi ajaran itu.
Novel Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil, Remy Sylado
Pendeskripsian watak tokoh Ontowiryo yang cerdas dalam kutipan tersebut melalui ....
perilaku tokoh
dialog antartokoh
diceritakan tokoh lain
disampaikan langsung oleh pengarang
