wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

PH1 PUISI

Total questions: 25

Worksheet time: 50mins

Name
Class
Date
1.

Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang Paling Benar !

Baca teks pusi berikut ini dengan saksama.

Hidup

Kelasi di ujung kembara

pada diri berkata

perjalanan hanya sekali

dan tiada kembali

Sebelum pelabuhan terakhir

sebelum kelam membiru

kelasi mencatat dengan tinta emas

atas lembaran-lembaran berlalu

bahwa gelombang pernah membadai

bahwa getir pernah tak tertahankan

namun samudra telah dijelajah

laut bukan tiada bertepi

Puisi tersebut mewakili gagasan penyair yang menanamkan nilai-nilai mengenai ...

a)

Seseorang yang berani menjalani hidup dengan segala persoalan dan tantangan di dalamnya.

b)

Seseorang yang berani mengarungi laut dengan kapal dan menaklukkan ombak-ombak besar.

c)

Seseorang yang memilih profesi sebagai pelaut dan melakukan pelayaran ke tempat-tempat jauh.

d)

Seseorang yang bercita-cita sebagai pelaut, mengarungi samudra, menghadapi tantangan badai.

e)

Seseorang yang gigih bekerja, cerdas berniaga dengan melakukan pelayaran-pelayaran ke negeri yang jauh.

2.

Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang Paling Benar !

Baca teks pusi berikut ini dengan saksama.

Hidup

Kelasi di ujung kembara

pada diri berkata

perjalanan hanya sekali

dan tiada kembali

Sebelum pelabuhan terakhir

sebelum kelam membiru

kelasi mencatat dengan tinta emas

atas lembaran-lembaran berlalu

bahwa gelombang pernah membadai

bahwa getir pernah tak tertahankan

namun samudra telah dijelajah

laut bukan tiada bertepi

Makna baris perjalanan hanya sekali dan tiada kembali dalam puisi adalah ...

a)

memiliki tujuan hidup yang pasti sesuai dengan bakat

b)

memiliki arah cita-cita yang tak berubah sejak bisa berpikir

c)

yakin bahwa hanya memiliki satu kali kesempatan untuk hidup

d)

kesempatan mengembangkan cita-cita jangan disia-siakan

e)

tekad harus pasti dan tak boleh bimbang dalam menempuh hidup

3.

Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang Paling Benar !

Baca teks pusi berikut ini dengan saksama.

Hidup

Kelasi di ujung kembara

pada diri berkata

perjalanan hanya sekali

dan tiada kembali

Sebelum pelabuhan terakhir

sebelum kelam membiru

kelasi mencatat dengan tinta emas

atas lembaran-lembaran berlalu

bahwa gelombang pernah membadai

bahwa getir pernah tak tertahankan

namun samudra telah dijelajah

laut bukan tiada bertepi

Makna baris gelombang pernah membadai dalam puisi adalah ...

a)

guncangan hidup di tengah laut

b)

gelombang hidup di tempat kerja

c)

tantangan hidup yang dahsyat

d)

tantangan hidup yang tak dapat dihadapi

e)

gelombang hidup yang ganas

4.

Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang Paling Benar !

Baca teks pusi berikut ini dengan saksama.

Hidup

Kelasi di ujung kembara

pada diri berkata

perjalanan hanya sekali

dan tiada kembali

Sebelum pelabuhan terakhir

sebelum kelam membiru

kelasi mencatat dengan tinta emas

atas lembaran-lembaran berlalu

bahwa gelombang pernah membadai

bahwa getir pernah tak tertahankan

namun samudra telah dijelajah

laut bukan tiada bertepi

Nilai religius puisi yang bermakna ’hidup di dunia ini hanya berlangsung sekali’ terdapat dalam baris ...

a)

kelasi di ujung kembara

b)

perjalanan hanya sekali

c)

sebelum pelabuhan terakhir

d)

kelasi mencatat dengan tinta emas

e)

bahwa gelombang pernah membadai

5.

Petunjuk: Pilihlah Jawaban yang Paling Benar !

Baca teks pusi berikut ini dengan saksama.

Hidup

Kelasi di ujung kembara

pada diri berkata

perjalanan hanya sekali

dan tiada kembali

Sebelum pelabuhan terakhir

sebelum kelam membiru

kelasi mencatat dengan tinta emas

atas lembaran-lembaran berlalu

bahwa gelombang pernah membadai

bahwa getir pernah tak tertahankan

namun samudra telah dijelajah

laut bukan tiada bertepi

Amanat puisi tersebut adalah ...

a)

Hendaknya seseorang menyadari bahwa hidup hanya satu kali dan tak pernah kembali hidup.

b)

Hendaknya seseorang memiliki sejarah hidup yang baik karena hidup hanya sekali dan segala cobaan pasti ada batasnya.

c)

Hendaknya seseorang menyadari keterbatasannya sebagai manusia karena kematiannya ditentukan Tuhan.

d)

Hendaknya seseorang tak pernah menyerah dengan  cobaan yang menimpa dirinya karena cobaan pasti ada batasnya.

e)

Hendaknya seseorang menerima segala ketentuan yang diberikan Tuhan dan menghayati tantangan hidup yang dihadapinya.

6.

Bacalah teks berikut ini.

Kereta Sado

      Oleh: Ridwan Siregar

si petani berkata: inilah kudaku

jerihku yang penghabisan

kuda tersebut meringkik, tanda ia

adalah kesayangan

sebuah kereta, seorang manusia dan seekor kuda

menyatu dan mengembara mengelilingi kotaku

degubnya sepanjang jalan

desahnya sepanjang hati

kereta sado dan jalanan

hari depan yang telah ditakdirkan

ialah jerih yang penghabisan

yang menimbulkan kekuatan

pada setiap putaran roda

Makna simbol degubnya dalam baris degupnya sepanjang jalan dalam puisi tersebut adalah ...

a)

Kerja keras kuda yang berpacu sepanjang jalan.

b)

Pengabdian kuda yang berlangsung seumur hidup.

c)

Semangat kuda yang tak pernah surut.

d)

Keperkasaan kuda yang selalu terjaga.

e)

Perjuangan kuda yang tak pernah putus asa.

7.

Bacalah teks berikut ini .

Kereta Sado

      Oleh: Ridwan Siregar

si petani berkata: inilah kudaku

jerihku yang penghabisan

kuda tersebut meringkik, tanda ia

adalah kesayangan

sebuah kereta, seorang manusia dan seekor kuda

menyatu dan mengembara mengelilingi kotaku

degubnya sepanjang jalan

desahnya sepanjang hati

kereta sado dan jalanan

hari depan yang telah ditakdirkan

ialah jerih yang penghabisan

yang menimbulkan kekuatan

pada setiap putaran roda

Penggambaran kehidupan petani tampak dalam larik puisi berikut ini ...

a)

sebuah kereta, seorang manusia, dan seekor kuda

b)

yang menimbulkan kekuatan pada setiap putaran roda

c)

kereta sado dan jalanan

d)

hari depan yang telah ditakdirkan

e)

ialah jerih yang penghabisan

8.

Bacalah teks berikut ini.

Kereta Sado

      Oleh: Ridwan Siregar

si petani berkata: inilah kudaku

jerihku yang penghabisan

kuda tersebut meringkik, tanda ia

adalah kesayangan

sebuah kereta, seorang manusia dan seekor kuda

menyatu dan mengembara mengelilingi kotaku

degubnya sepanjang jalan

desahnya sepanjang hati

kereta sado dan jalanan

hari depan yang telah ditakdirkan

ialah jerih yang penghabisan

yang menimbulkan kekuatan

pada setiap putaran roda

Amanat untuk bekerja keras terdapat dalam larik ...

a)

sebuah kereta, seorang manusia, dan seekor kuda

b)

si petani berkata: inilah kudaku

c)

kereta sado dan jalanan

d)

hari depan yang telah ditakdirkan

e)

ialah jerih yang penghabisan

9.

Bacalah teks berikut ini.

Kampung

      Oleh: Herman KS

Sebuah yang berdebu. Membelah desaku.

Lengang dan sepi. Hanya sesekali lewat mobil

tua atau gerobak lembu atau orang bersepeda

lalu sedang sawah-sawah hijau membentang di

kanan kirinya.

Karena rindulah maka kini aku menapak di

jalan ini.

Bus tua  mengantarkan aku sampai ke ujung desa.

Kampung yang subur dalam rindu dan kenangan

matahari bersinar lembut, angin pun segar

mengusap mukaku.

Kan kutemui kembali wajah-wajah yang lembut

dan ramah.

Orang-orang yang mengutuki perang  dan

sengketa.

Rumah-rumah kecil beratap ilalang.

Tubuh berpeluh dalam kerja.

Sorak bocah-bocah itu menarikku ke masa kanak

dulu.

Bocah-bocah bermata bening bersemburan di

sungai desaku.

Serentak mereka memandang padaku. Tentu

tak mengenalku.

Tak apa, tapi pastilah mereka anak-anak

sahabatku.

Di sungai ini pun aku dulu berenang dan

bersemburan.

Masih kuingat: Kardi anak yang bandel itu

Kini telah berpangkat letnan.

Manisnya masa kanak.

(sebentar lagi aku kan sampai ke rumah masa

bocah)

Berdasarkan kutipan puisi tersebut, topik diskusi yang paling tepat disajikan pembicara adalah ...

a)

Kesuburan Tanah Desa Menyebabkan Penduduk Tenteram.

b)

Kesuburan Tanah Desa Menyebabkan Penduduk Tak Perlu ke Kota.

c)

Kesuburan Tanah Desa Perlu Diolah untuk Kesejahteraan Warga.

d)

Kesuburan Tanah Desa Menyebabkan Penduduk Malas Bekerja.

e)

Kesuburan Tanah Desa Diwariskan pada Anak Cucu Mereka.

10.

Bacalah teks berikut ini.

Kampung

      Oleh: Herman KS

Sebuah yang berdebu. Membelah desaku.

Lengang dan sepi. Hanya sesekali lewat mobil

tua atau gerobak lembu atau orang bersepeda

lalu sedang sawah-sawah hijau membentang di

kanan kirinya.

Karena rindulah maka kini aku menapak di

jalan ini.

Bus tua  mengantarkan aku sampai ke ujung desa.

Kampung yang subur dalam rindu dan kenangan

matahari bersinar lembut, angin pun segar

mengusap mukaku.

Kan kutemui kembali wajah-wajah yang lembut

dan ramah.

Orang-orang yang mengutuki perang  dan

sengketa.

Rumah-rumah kecil beratap ilalang.

Tubuh berpeluh dalam kerja.

Sorak bocah-bocah itu menarikku ke masa kanak

dulu.

Bocah-bocah bermata bening bersemburan di

sungai desaku.

Serentak mereka memandang padaku. Tentu

tak mengenalku.

Tak apa, tapi pastilah mereka anak-anak

sahabatku.

Di sungai ini pun aku dulu berenang dan

bersemburan.

Masih kuingat: Kardi anak yang bandel itu

Kini telah berpangkat letnan.

Manisnya masa kanak.

(sebentar lagi aku kan sampai ke rumah masa

bocah)

Untuk meyakinkan nilai moral yang terkandung dalam puisi, pembicara menyampaikan argumentasi dalam foum diskusi dengan kalimat ...

a)

”Realitas bahwa tanah desa kita subur, menyebabkan penduduk tenteram.”

b)

”Mmang tanah desa kita subur, itu sebabnya, penduduk tak perlu pergi ke kota untuk meraih cita-cita.”

c)

”Betapapun tanah desa subur, kita perlu mengolahnya untuk kesejahteraan warga.”

d)

”Kesuburan tanah desa pada gilirannya, menyebabkan penduduk malas bekerja.”

e)

”Kesuburan tanah desa, akan segera diwariskan untuk anak cucu di desa.”

11.

Stimulus

 

       Tuhan Telah Menegurmu

                   Oleh: Apip Mustopa

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

Lewat semayup suara azan

 

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran,

lewat gempa bumi yang berguncang.

deru angin yang meraung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kaudengar?

  Berdasarkan stimulus, pillihlah satu jawaban yang tepat.

Gagasan bahwa manusia melupakan penderitaan sesamanya disampaikan penyair melalui peristiwa ...

a)

kelaparan

b)

suara azan

c)

gempa bumi yang berguncang

d)

deru angin yang meraung kencang

e)

melalui banjir yang melintang pukang

12.

Stimulus

 

       Tuhan Telah Menegurmu

                   Oleh: Apip Mustopa

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan

Lewat semayup suara azan

 

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran,

lewat gempa bumi yang berguncang.

deru angin yang meraung kencang

hujan dan banjir yang melintang pukang

adakah kaudengar?

Berdasarkan stimulus, pilihlah satu jawaban yang tepat.

Nilai religius yang disampaikan penyair dalam puisi itu adalah manusia mengabaikan ...

a)

kaum gelandangan yang lapar

b)

panggilan salat pada waktu azan berkumandang

c)

gempa bumi yang menerjang

d)

angin puting beliung yang menerjang

e)

banjir yang melanda desa

13.

Cermatilah teks berikut

Pada Suatu Sore

     Oleh: Husni Djamaludin

       sore itu

                                  sebuah bola plastik

                                      berwarna hijau

                                           tersepak

                                    dari kaki ke kaki

                              anak-anak tukang becak

                                  di rumputan becek

                                    tepi jalan kenari

                                     depan rumahku

                                      depan mataku

                                menendang lengang

                                menggiring hening

                                  mengejar harap

                                   anak-anak itu

                                  berebut waktu

                                    untuk satu

                                 tendangan jitu

                          ke dalam celah gawang

                                  tak bertiang

                          riang di dalam tegang

                          tegang di dalam riang

                          memperebutkan bola

                              alangkah lincah

                       mereka menyepak gusar

                                  dari senja

                          yang segera buyar

                 anak-anak itu

                        mungkin terlalu tahu

                              bila sebentar

                          permainan bubar

                     mereka akan terlempar

                   kembali ke dalam lorong

                    mengisap udara pengap

                       dalam rumah gubuk

                 doyong sempit dan sumpek

                         dan di situ gusar

                   tak mempan lagi disepak

            malam dan mimpi pun jadi rusak

                         diserbu nyamuk

                        yang mengamuk

                       sepanjang malam

                         anak-anak itu

                          makin asyik

                      menghalau risau

                   dengan bola plastik

                       berwarna hijau

         pintarnya mereka menyindir getir

                         sedang getir

               pintarnya menyindir aku

                      yang termangu

                    dalam risau

        yang tak mungkin kuhalau

          dengan bola plastik hijau

(Dikutip dari: Tonggak Antologi Puisi modern 2)

Dalam puisi tersebut, ungkapan mengejar harap memilliki makna yang luas, yaitu mewakili gagasan penyair yang menanamkan realita anak-anak yang ...

a)

menjalani hidup dengan segala persoalan dan tantangan

b)

menjalani hidup dengan segala harapan dan tantangan

c)

menjalani hidup ala kadarnya dengan harapan-harapan besar

d)

hidup miskin dengan upaya mewujudkan cita-cita mereka

e)

lebih suka berharap dalam hidup, meskipun realita yang dihadapi sangat sulit

14.

Cermatilah teks berikut.

Pada Suatu Sore

     Oleh: Husni Djamaludin

       sore itu

                                  sebuah bola plastik

                                      berwarna hijau

                                           tersepak

                                    dari kaki ke kaki

                              anak-anak tukang becak

                                  di rumputan becek

                                    tepi jalan kenari

                                     depan rumahku

                                      depan mataku

                                menendang lengang

                                menggiring hening

                                  mengejar harap

                                   anak-anak itu

                                  berebut waktu

                                    untuk satu

                                 tendangan jitu

                          ke dalam celah gawang

                                  tak bertiang

                          riang di dalam tegang

                          tegang di dalam riang

                          memperebutkan bola

                              alangkah lincah

                       mereka menyepak gusar

                                  dari senja

                          yang segera buyar

                 anak-anak itu

                        mungkin terlalu tahu

                              bila sebentar

                          permainan bubar

                     mereka akan terlempar

                   kembali ke dalam lorong

                    mengisap udara pengap

                       dalam rumah gubuk

                 doyong sempit dan sumpek

                         dan di situ gusar

                   tak mempan lagi disepak

            malam dan mimpi pun jadi rusak

                         diserbu nyamuk

                        yang mengamuk

                       sepanjang malam

                         anak-anak itu

                          makin asyik

                      menghalau risau

                   dengan bola plastik

                       berwarna hijau

         pintarnya mereka menyindir getir

                         sedang getir

               pintarnya menyindir aku

                      yang termangu

                    dalam risau

        yang tak mungkin kuhalau

          dengan bola plastik hijau

(Dikutip dari: Tonggak Antologi Puisi modern 2)

Makna larik celah gawang tak bertiang dalam puisi tersebut adalah ...

a)

memiliki tujuan hidup yang pasti

b)

memiliki arah cita-cita yang tak berubah

c)

memiliki kesempatan untuk mewujudkan cita-cita

d)

kesempatan mewujudkan cita-cita yang tak pasti

e)

tekad harus pasti dan tak boleh bimbang

15.

Cermatilah teks berikut.

Pada Suatu Sore

     Oleh: Husni Djamaludin

       sore itu

                                  sebuah bola plastik

                                      berwarna hijau

                                           tersepak

                                    dari kaki ke kaki

                              anak-anak tukang becak

                                  di rumputan becek

                                    tepi jalan kenari

                                     depan rumahku

                                      depan mataku

                                menendang lengang

                                menggiring hening

                                  mengejar harap

                                   anak-anak itu

                                  berebut waktu

                                    untuk satu

                                 tendangan jitu

                          ke dalam celah gawang

                                  tak bertiang

                          riang di dalam tegang

                          tegang di dalam riang

                          memperebutkan bola

                              alangkah lincah

                       mereka menyepak gusar

                                  dari senja

                          yang segera buyar

                 anak-anak itu

                        mungkin terlalu tahu

                              bila sebentar

                          permainan bubar

                     mereka akan terlempar

                   kembali ke dalam lorong

                    mengisap udara pengap

                       dalam rumah gubuk

                 doyong sempit dan sumpek

                         dan di situ gusar

                   tak mempan lagi disepak

            malam dan mimpi pun jadi rusak

                         diserbu nyamuk

                        yang mengamuk

                       sepanjang malam

                         anak-anak itu

                          makin asyik

                      menghalau risau

                   dengan bola plastik

                       berwarna hijau

         pintarnya mereka menyindir getir

                         sedang getir

               pintarnya menyindir aku

                      yang termangu

                    dalam risau

        yang tak mungkin kuhalau

          dengan bola plastik hijau

(Dikutip dari: Tonggak Antologi Puisi modern 2)

Makna larik malam dan mimpi pun jadi rusak dalam puisi tersebut adalah realitas ...

a)

hidup di tengah malam

b)

hidup tanpa mimpi

c)

 hidup yang gelap

d)

hidup yang tak dapat dihadapi

e)

dan harapan hidup yang hilang

16.

Cermati teks puisi berikut

Jangan Palingkan Mukamu dari Api Itu, Adikku

Oleh: Husain Landitjing

                                                jangan palingkan mukamu dari api itu, adikku

                                                  kapan sengsara melibatkan dirimu ke dalam

                                                          justru apa yang mesti kau terima

                                                          adalah amanat kehidupan insani

                                                           demikianlah hidup ini, adikku

                                                           terlalu jauh bagi rasa kepuasan

                                                          justru apa yang mesti kau terima

                                                                   terimalah dengan rela

                                             akhirnya pun engkau akan mengerti dengan baik

                                                           nikmat caya dalam malam luka

                                                                      dengan kesabaran

                                                                    ketika bumi berpeluh

                                               detika angin datang menawarkan sebuah bisik:

                                                                        dalam keletihan!

                                            maka jangan palingkan mukamu dari api ini, adik

                                           percaya dalam kepanasan, dengan pertemuan kekal

                                     serta kekuatan dalam keyakinan – lebih perkasa dan indah

(Dikutip dari Tonggak: Antologi puisi Indonesia modern 2)

Nilai religius puisi yang bermakna ”takdir manusia” terdapat dalam larik ...

a)

jangan palingkan mukamu dari api itu

b)

amanat kehidupan insani

c)

terlalu jauh bagi rasa kepuasan

d)

nikmat saya dalam malam luka

e)

percaya dalam kepanasan

17.

Cermati teks puisi berikut .

Jangan Palingkan Mukamu dari Api Itu, Adikku

Oleh: Husain Landitjing

                                                jangan palingkan mukamu dari api itu, adikku

                                                  kapan sengsara melibatkan dirimu ke dalam

                                                          justru apa yang mesti kau terima

                                                          adalah amanat kehidupan insani

                                                           demikianlah hidup ini, adikku

                                                           terlalu jauh bagi rasa kepuasan

                                                          justru apa yang mesti kau terima

                                                                   terimalah dengan rela

                                             akhirnya pun engkau akan mengerti dengan baik

                                                           nikmat caya dalam malam luka

                                                                      dengan kesabaran

                                                                    ketika bumi berpeluh

                                               detika angin datang menawarkan sebuah bisik:

                                                                        dalam keletihan!

                                            maka jangan palingkan mukamu dari api ini, adik

                                           percaya dalam kepanasan, dengan pertemuan kekal

                                     serta kekuatan dalam keyakinan – lebih perkasa dan indah

(Dikutip dari Tonggak: Antologi puisi Indonesia modern 2)

Amanat yang terdapat dalam puisi tersebut adalah hendaknya kita ...

a)

menyadari bahwa hidup hanya satu kali

b)

memiliki sejarah hidup yang baik

c)

menyadari keterbatasannya sebagai manusia

d)

 tak menyerah dengan cobaan yang menimpa dirinya

e)

menerima segala ketentuan yang diberikan Tuhan

18.

Cermati teks puisi berikut

Anak Laut

                    Oleh: Asrul Sani

Sekali ia pergi tiada bertopi

Ke pantai landasan matahari

  Dan bermimpi tengah hari

               Akan negeri di jauhan

Pasir dan air seakan bercampur

Awan tiada menutup mata dan hatinya rindu

melihat laut terbentang  biru

”Sekali aku pergi

 dengan perahu

ke negeri jauhan

  dan menyanyi kekasih hati

      lagu merindukan daku”

”Tenggelam matahari

Ufuk sana tiada nyata

   bayang-bayang bergerak perlahan

aku kembali kepadanya”

       Sekali ia pergi tiada bertopi

       Ke pantai landasan matahari

Dan bermimpi tengah hari

    Akan negeri di jauhan

(Dikutip dari Tonggak: Antologi Puisi Modern Indonesia1)

Makna larik bermimpi tengah hari dalam puisi tersebut adalah berharap dalam ...

a)

 realitas hidup

b)

keadaan terjaga

c)

 imajinasi

d)

angan-angan

e)

 kemalasan

19.

Cermati teks puisi berikut u.

Anak Laut

                    Oleh: Asrul Sani

Sekali ia pergi tiada bertopi

Ke pantai landasan matahari

  Dan bermimpi tengah hari

               Akan negeri di jauhan

Pasir dan air seakan bercampur

Awan tiada menutup mata dan hatinya rindu

melihat laut terbentang  biru

”Sekali aku pergi

 dengan perahu

ke negeri jauhan

  dan menyanyi kekasih hati

      lagu merindukan daku”

”Tenggelam matahari

Ufuk sana tiada nyata

   bayang-bayang bergerak perlahan

aku kembali kepadanya”

       Sekali ia pergi tiada bertopi

       Ke pantai landasan matahari

Dan bermimpi tengah hari

    Akan negeri di jauhan

(Dikutip dari Tonggak: Antologi Puisi Modern Indonesia1)

Gagasan yang tersirat dalam puisi tersebut adalah anak pelaut yang ...

a)

meninggalkan negerinya

b)

mengarungi samudra

  

c)

pergi ke negeri jauh

d)

melaut mencari ikan

e)

 merantau demi cita-cita

20.

Cermati teks puisi berikut.

Anak Laut

                    Oleh: Asrul Sani

Sekali ia pergi tiada bertopi

Ke pantai landasan matahari

  Dan bermimpi tengah hari

               Akan negeri di jauhan

Pasir dan air seakan bercampur

Awan tiada menutup mata dan hatinya rindu

melihat laut terbentang  biru

”Sekali aku pergi

 dengan perahu

ke negeri jauhan

  dan menyanyi kekasih hati

      lagu merindukan daku”

”Tenggelam matahari

Ufuk sana tiada nyata

   bayang-bayang bergerak perlahan

aku kembali kepadanya”

       Sekali ia pergi tiada bertopi

       Ke pantai landasan matahari

Dan bermimpi tengah hari

    Akan negeri di jauhan

(Dikutip dari Tonggak: Antologi Puisi Modern Indonesia1)

Sikap penyair dalam puisi tersebut terwujud dalam penggambaran anak pelaut yang....

a)

 tetap berada di daerahnya

b)

harus gigih mengarungi laut

c)

harus mencari ikan

d)

merantau mewujudkan harapan

e)

selalu berharap pada samudra

21.

Cermatilah teks puisi berikut untuk menjawab soal nomor 21 s.d. 25.

Pancaran Hidup

          Oleh: Amal Hamzah

                  Di pagi hari

          Aku berangkat bekerja

    Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mencari nasi

Sepintas hatiku sedih

       Terasa miskin badan sendiri

    Di tengah kekayaan negeri raya

      Awak menjadi peminta-minta

   Lalu mataku menoleh ke badannya

         Tampak tegap-teguh semata

         Tiada cacat membuat celaka

                     Hatiku marah:

      Orang begini tak perlu dikasihani

           Di dunia Allah penuh rezeki

               Ia tinggal bermalas diri.

(Dikutip dari Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern1)

Gagasan utama yang tersirat dalam puisi tersebut adalah pengemis yang ....

a)

mencari makan di tong sampah

b)

hidupnya menyedihkan

c)

 hidup di negeri kaya

d)

 berbadan tegap

e)

bermalas diri mencari rezeki

22.

Cermatilah teks puisi berikut.

Pancaran Hidup

          Oleh: Amal Hamzah

                  Di pagi hari

          Aku berangkat bekerja

    Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mencari nasi

Sepintas hatiku sedih

       Terasa miskin badan sendiri

    Di tengah kekayaan negeri raya

      Awak menjadi peminta-minta

   Lalu mataku menoleh ke badannya

         Tampak tegap-teguh semata

         Tiada cacat membuat celaka

                     Hatiku marah:

      Orang begini tak perlu dikasihani

           Di dunia Allah penuh rezeki

               Ia tinggal bermalas diri.

(Dikutip dari Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern1)

Sikap penyair dalam puisi tersebut tentang pengemis adalah ...

a)

Pengemis itu perlu diberi makan

b)

Pengemis itu perlu mendapat pertolongan.

c)

Pengemis itu perlu mendapat perhatian.

d)

Pengemis itu tak perlu dikasihani.

e)

Pengemis itu perlu memperoleh santunan.

23.

Cermatilah teks puisi berikut.

Pancaran Hidup

          Oleh: Amal Hamzah

                  Di pagi hari

          Aku berangkat bekerja

    Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mencari nasi

Sepintas hatiku sedih

       Terasa miskin badan sendiri

    Di tengah kekayaan negeri raya

      Awak menjadi peminta-minta

   Lalu mataku menoleh ke badannya

         Tampak tegap-teguh semata

         Tiada cacat membuat celaka

                     Hatiku marah:

      Orang begini tak perlu dikasihani

           Di dunia Allah penuh rezeki

               Ia tinggal bermalas diri.

(Dikutip dari Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern1)

 Nilai religius dalam puisi tersebut terdapat pada larik ...

a)

sepintas hatiku sedih

b)

terasa miskin badan sendiri

c)

tiada cacat membuat celaka

d)

di dunia Allah penuh rezeki

e)

 ia tinggal bermalas diri

24.

Cermatilah teks puisi berikut.

Pancaran Hidup

          Oleh: Amal Hamzah

                  Di pagi hari

          Aku berangkat bekerja

    Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mencari nasi

Sepintas hatiku sedih

       Terasa miskin badan sendiri

    Di tengah kekayaan negeri raya

      Awak menjadi peminta-minta

   Lalu mataku menoleh ke badannya

         Tampak tegap-teguh semata

         Tiada cacat membuat celaka

                     Hatiku marah:

      Orang begini tak perlu dikasihani

           Di dunia Allah penuh rezeki

               Ia tinggal bermalas diri.

(Dikutip dari Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern1)

Amanat yang terkandung pada puisi tersebut adalah hendaknya kita ...

a)

bekerja mencari rezeki

b)

bersimpati pada pengemis

c)

menolong pengemis

d)

menyadarkan pengemis

e)

marah pada pengemis

25.

Cermatilah teks puisi berikut.

Pancaran Hidup

          Oleh: Amal Hamzah

                  Di pagi hari

          Aku berangkat bekerja

    Tampak olehku seorang lelaki

Mengorek-ngorek tong mencari nasi

Sepintas hatiku sedih

       Terasa miskin badan sendiri

    Di tengah kekayaan negeri raya

      Awak menjadi peminta-minta

   Lalu mataku menoleh ke badannya

         Tampak tegap-teguh semata

         Tiada cacat membuat celaka

                     Hatiku marah:

      Orang begini tak perlu dikasihani

           Di dunia Allah penuh rezeki

               Ia tinggal bermalas diri.

(Dikutip dari Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern1)

Penggambaran suasana yang tepat ketika puisi tersebut dibacakan adalah ...

a)

sedih dan takut

b)

bahagia dan marah

c)

sedih dan marah

d)

prihatin dan sedih

e)

takut dan marah