WorksheetsPH DRAMA
Total questions: 25
Worksheet time: 3570secs
Pagi itu terasa amat dingin menusuk kulit, ketika Rian dan Alma sama-sama meneguk kopi bersama untuk sekadar menghangatkan hubungan mereka yang nyatanya lebih dingin dari udara. Mereka bingung akan memulai dari mana. Setelah beberapa menit hanya diam, akhirnya Alma membuka percakapan pagi itu dengan suara lirihnya.
Paragraf di atas merupakan bagian dari naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Dialog
Prolog
Akhirnya, keluarga mengetahui maksud Otong berbohong adalah agar tidak disuruh mencangkul sawah. Kesal betul ayah dan ibunya dibohongi hingga panik kesana kemari. Setelah puas memarahi Otong, merekapun pergi meninggalkan Otong yang termenung malu meratapi kemalasannya yang merepotkan.
Paragraf di atas merupakan naskah drama bagian ....
Dialog
Resolusi
Konflik
Prolog
Epilog
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Di pagi hari, Shinti dan Adi mengunjungi lokasi perkampungan kumuh. Mereka membawa buku dan alat-alat untuk mengajar anak-anak kampung di sana. Tujuannya, agar mereka bisa membaca dan menulis sesuai dengan program Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mereka. Ketika sampai di sana, Shinti pun bergegas untuk mendekati kerumunan ibu-ibu yang sedang mencuci di pinggir sungai.
Shinti: “Assalamualaikum ibu-ibu..”
Ibu-ibu: “Waalaikumsalam neng”
Adi: “Bu, sesuai dengan apa yang sudah kita bicarakan kemarin, kali ini saya dan Shinti datang ke sini untuk mengajari anak-anak ibu belajar membaca dan menulis”
Titi: “Alaa mas mas..mbok biar anak-anak kerja dulu cari rongsokan atau ngamen. Mereka juga harus makan, lumayan hasilnya bisa buat tambah beli makan mereka juga”
Yaya: “Iya… toh bisa membaca dan menulis tidak jaminan mereka bisa jadi orang yang kerja di kantoran… lebih baik kerja begini”
Shinti: “Ibu-ibu, anak-anak itu berhak untuk bisa menulis dan membaca”
Berdasarkan dialog di atas, tema yang tersirat drama tersebut adalah ....
politik
pendidikan
sosial
keluarga
agama
Azizah: “Aku akan selalu ada untuk kamu. Kita akan lawan Ramzi bersama-sama.”
Di kelas, Ramzi sedang mencemooh Alisa.
Ramzi: (kepada teman-temannya) “Lihat, itu dia si gendut!”
Teman-teman Ramzi: (tertawa) Iya, gendut banget!
Alisa: (menundukkan kepala)
Azizah: (berteriak) “Ramzi, stop! Kamu nggak pantas ngomong kayak gitu ke Alisa!”
Ramzi: (kepada Maya) “Dia memang gendut! Kamu juga nggak pantas temenan sama dia!”
Aazizah: (kepada ramzi) “Aku nggak peduli! Aku akan selalu ada untuk Alisa!”
Berdasarkan dialog di atas, tema yang tersirat adalah ....
sosial
persahabatan
kasih sayang
perundungan
pertemanan
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Tasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Watak tokoh Sukro berdasarkan dialog di atas adalah ....
Pesimis
Pemarah
Kritis
Penyabar
Optimis
Cermati kutipan drama berikut!
Maskun: Kau mesti peringatkan Suhita! Anak itu kian hari kian menjadi,Mar.
Mardilah: Ada apa dengan Suhita, Pak? Tadi pun dia mengeluh karena katanya kau marahi lagi. Sudah selayaknya kau berdamai dengan dia.
Maskun: Dia yang harus berdamai dengan aku.
Mardilah: mengapa kau berperasaan demikian ?
Maskun: Tak tahu aku. Mulut anak itu semakin berbau racun. Barusan tadi dia berkata. Rumah ini rumah penjara. Dan akulah kepala penjaranya.
Mardilah: Adakah sesuatu yang salah engkau tidak tenang? Adakah yang salah?
Maskun: Aku bukan orang yang lemah! Aku kuat! Kalau kau bisa melarang Suhita bercampur gaul dengan kawan-kawannya yang sok tahu politik itu, nah, baru tidak ada yang salah.
Konflik yang ada pada kutipan drama tersebut adalah ....
Pertengkaran Mardilah dan Suhita tentang kegiatan Maskun
Maskun tidak disenangi Suhita karena tindakannya yang otoriter
Maskun dan Mardilah tidak suka kawan-kawan Suhita
Maskun marah kepada Mardilah karena Suhita ikut pergerakan politik
Suhita marah karena Mardilah membela Maskun
Cermati kutipan drama berikut!
Setilawati: Pengecut! Sedikit diserang kritik orang, engkau hendak melarikan diri untuk menjaga nama supaya jangan merosot. Kau sudah maklum.
Ishak: (sambil menunjuk keluar) Pergi daripadaku! Engkau boleh memusuhi aku. Untuk cita-cita aku bersedia mengorbankan segalanya juga cintaku.
Watak tokoh Ishak dalam penggalan drama tersebut adalah ....
Pemarah
pembual
pemberani
tidak bertangung jawab
sombong
Cermatilah penggalan drama berikut!
Hendra: “Terima kasih, Dik.”
Didik: “Sebenarnya sudah lama aku ingin mengajakmu ke luar kota, tetapi mengingat ibumu sakit, ya kutunda sampai hari ini.”
Hendra: “Ya, itulah Dik, maka aku belum mau melangkah ke luar kota. Tapi, sekarang ibuku sudah sehat dan sudah mulai bekerja lagi. Kalau begitu, kapan kita berangkat?”
Didik: “Bagimana kalau minggu depan?”
Hendra: “Baiklah, aku akan minta izin kepada ibuku dulu.”
Penggalan drama tersebut menceritakan ....
Ibu Hendra sakit dan Hendra harus menungguinya.
Didik ingin mengajak Hendra ke luar kota
Hendra merasa kecewa karena ibunya sakit
Didik menengok Hendra yang sedang sakit
Hendra harus minta izin kepada ibunya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Ibu: Jangan mondar-mandir begitu, Adang!
Adang: Apa kata ibu?
Ibu: Jangan mondar-mandir, kubilang!
Adang: (adang memandang ibu dengan tak senang ia meneruskan langkah-langkahnya sebagai menantang)
Ibu: Adang!
Adang: Jadi, aku mesti bagaimana
Ibu: Jangan seperti orang linglung. Berbuatlah apa-apa
Adang: Aku sedang berbuat apa-apa sekarang. (ia mondar-mandir lagi dengan lebih tidak peduli)
Ibu: Dengar, Adang. Pergi kau tidur sekarang, atau pergilah ke mana saja, asal pergi dari sini. Bisa gila aku melihatmu begitu!
Adang: Apa salahnya aku mondar-mandir! (tapi dengan kesal ia duduk juga di kursi) ibu benci melihatku, tidak? (tapi ibu mengacuhkannya) Aku perlu hadir di sini)
(Titik-titik hitam, nasjah djamin)
Masalah yang tidak diungkapkan dalam kutipan naskah drama tersebut adalah ....
Adang tidak suka kepada ibu yang memintanya diam
Ibu melarang Adang berjalan mondar-mandir
Adang menentang ibu karena semua keinginannya dilarang ibu
Ibu tidak senang melihat Adang melihat Adang mondar-mandir
Ibu ingin Adang tidur dan beristirahat, tetapi Adang menolaknya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Ibu: Jangan mondar-mandir begitu, Adang!
Adang: Apa kata ibu?
Ibu: Jangan mondar-mandir, kubilang!
Adang: (adang memandang ibu dengan tak senang ia meneruskan langkah-langkahnya sebagai menantang)
Ibu: Adang!
Adang: Jadi, aku mesti bagaimana
Ibu: Jangan seperti orang linglung. Berbuatlah apa-apa
Adang: Aku sedang berbuat apa-apa sekarang. (ia mondar-mandir lagi dengan lebih tidak peduli)
Ibu: Dengar, Adang. Pergi kau tidur sekarang, atau pergilah ke mana saja, asal pergi dari sini. Bisa gila aku melihatmu begitu!
Adang: Apa salahnya aku mondar-mandir! (tapi dengan kesal ia duduk juga di kursi) ibu benci melihatku, tidak? (tapi ibu mengacuhkannya) Aku perlu hadir di sini)
(Titik-titik hitam, nasjah djamin)
Amanat yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah ....
Hargai pendapat dan kebiasaan orang lain
Jika tidak suka melihat kebiasaan orang lain jangan melihatnya
Sampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan agar tidak menyinggung orang lain
Jangan memaksa orang lain melakukan perbuatan yang tidak dia suka.
Sampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan agar tidak menyinggung orang lain
Jangan memaksa orang lain melakukan perbuatan yang tidak dia suka.
Orang harus menghargai apa yang dilakukan orang lain
Bacalah teks drama berikut ini !
Tampak Ken Arok tidur di suatu tempat yang agak tinggi, sesuatu yang dapat dibayangkan penonton sebagai batu besar atau cabang pohon dan sebangsanya. Tita, sahabat, dan pembantu Ken Arok berdiri di suatu tempat sambil mengamati ke arah rombongan pedagang yang akan datang. Beberapa orang, antara tiga sampai lima orang pendekar, berada di dekatnya juga tampak mengawasi dan gelisah.
Pendekar 1 : “Tita, bisakah dia tidur seperti itu?”
Tita : (tersenyum) “Apa salahnya dia tidur?”
Pendekar 1 : “Ya, tidak ada salahnya. Tapi, rasanya tidak pantas saja. Orang lain sedang gelisah dan tegang, tetapi dia enak tidur”
Tita : “ Kalau kau takut, kami tidak memaksamu ikut perjalanan ini.”
Pendekar 1 : “Asal kau tahu saja, aku tidak takut.”
Tita : “Barangkali, kau tidak mempercayainya?”
Pendekar 1 : (ragu-ragu) “Tidak. Dia begitu terkenal, tidak mungkin dia bersikap sembrono.”
Tita : (tersenyum) “Kau mungkin tidak akan pernah bisa memahaminya. Dia bukan manusia. Sekarang, tenanglah dan kembali berjaga.”
Latar tempat dari cerita dalam naskah drama tersebut adalah . . .
Jalan
Kamar
Hutan
Gunung
Rumah
Badi: “Aku minta jawaban nomor 15 sampai 20 Bud!”
Budi: “Tidak Bisa Ban,”
Bandi: “Kenapa? Kita sahabat bud, kita harus kerjasama”
Andini: “Iya Bud, kita harus kerja sama”
Adit: “Iya, kamu kan yang paling pintar disini bud”
Budi: “tapi bukan kerjasama seperti ini teman-teman”
Ita: “Kenapa memang Bud? Hanya 5 soal saja!”
isi cuplikan drama tersebut adalah...
Budi memberikan sontekan kepada sahabatnya
Budi sangat senang bisa kerjasama dengan sahabatnya
sekelompok siswa sedang mengerjakan soal-soal latihan
Ita dan Budi mengerjakan soal latihan dengan cara bekerja sama
Budi bersikap teguh pendirian tidak akan bekerja sama dalam hal yang salah
Bacalah dialog drama di bawah ini!
Amelia: (Menghampiri Felisa, Elisa, dan Lilis) "Hei, kalian ngapain, sih, nengok ke luar jendela?"
( .......................................................................................) "Oh. Lagi memperhatikan cogan rupanya."
Elisa: (Memegang kipas) "Amel, shut up! We're being serious right now!"
Lilis: (Memegangi dagunya, mencoba untuk berpikir) "Menurutku, cowok itu benar-benar mirip Lee Minho."
Elisa: (Merasa tidak terima) "Apa kau bilang?! Kakak itu sama sekali gak mirip Lee Minhock. Dia, tuh, lebih mirip Sehun." (Menjadi baper) "Oh, Sehun... Saranghaeyo~"
Felisa: "No! Senpai itu jauh lebih mirip sama Fukushi Sota. (Berteriak) Honto ni aishiteru yo!"
Kalimat kramagung yang tepat untuk melengkapi kutipan dialog dari Amelia adalah...
sambil menghampiri mereka dan ikut duduk
pasang wajah dengan ekspresi penasaran
sambil menyeruput boba kesukaannya
Ikut melihat keluar jendela, lalu wajah menjadi datar
sambil menepuk punggung Felisa
Bacalah teks drama berikut!
Dalam suasana belajar mengajar di dalam kelas dan sedang dilakukan ulangan mendadak serta mengumpulkan tugas.
Guru : “Anak-anak, silakan dikumpulkan tugas karya tulis minggu kemarin.” (kemudian satu persatu siswa naik mengumpulkan tugas karya tulis masing-masing)
Guru : “Karena ini merupakan tugas perorangan, maka penilaian akan dilakukan berdasarkan isi dari karya tulis kalian. Oke, masukkan buku kalian semua. Bapak akan mengadakan ulangan.” Reni : “Hah, ulangan apa lagi pak? baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan”
Guru : “Rara, tolong dibagikan kertas folio ini ke semua siswa.”
Rara : “Baik, Pak” (sambil berjalan membagikan kertas folio. Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakannya ulangan mendadak ini)
Guru : “Pada ulangan kali ini, bapak ingin kalian menulis ulang pokok-pokok dan kesimpulan dari karya tulis yang kalian buat.” (kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan Pak Guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi dikumpulkan. Pak Guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara di mana isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulkan.
Guru : “Baiklah yang lain bisa istirahat. Tolong Rara dan Rina tetap di sini, Bapak mau bicara.” (semua siswa keluar ruang kelas kecuali Rara dan Rina) Guru : “Bapak minta kalian berdua jujur kepada Bapak. Kenapa tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya juga.”
Berdasarkan dialog drama di atas latar suasana drama di atas adalah ...
tegang
senang
panik
takut
tidak jujur
Bacalah teks drama berikut!
Dalam suasana belajar mengajar di dalam kelas dan sedang dilakukan ulangan mendadak serta mengumpulkan tugas.
Guru : “Anak-anak, silakan dikumpulkan tugas karya tulis minggu kemarin.” (kemudian satu persatu siswa naik mengumpulkan tugas karya tulis masing-masing)
Guru : “Karena ini merupakan tugas perorangan, maka penilaian akan dilakukan berdasarkan isi dari karya tulis kalian. Oke, masukkan buku kalian semua. Bapak akan mengadakan ulangan.” Reni : “Hah, ulangan apa lagi pak? baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan”
Guru : “Rara, tolong dibagikan kertas folio ini ke semua siswa.”
Rara : “Baik, Pak” (sambil berjalan membagikan kertas folio. Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakannya ulangan mendadak ini)
Guru : “Pada ulangan kali ini, bapak ingin kalian menulis ulang pokok-pokok dan kesimpulan dari karya tulis yang kalian buat.” (kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan Pak Guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi dikumpulkan. Pak Guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara di mana isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulkan.
Guru : “Baiklah yang lain bisa istirahat. Tolong Rara dan Rina tetap di sini, Bapak mau bicara.” (semua siswa keluar ruang kelas kecuali Rara dan Rina) Guru : “Bapak minta kalian berdua jujur kepada Bapak. Kenapa tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya juga.”
Konflik dalam drma di atas adalah
Pak Guru mengadakan ulangan dadakan
Pak Guru meminta mengumpulkan tugas
Pak Guru meminta Rara dan Rina tetap di ruang kelas
Pak Guru meminta Rara dan Rina munulis ulangan karya tulisnya
Pak Guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara yang isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina
Bacalah dialog drama di bawah ini!
Pak Asep : “Baik anak-anak, silahkan buka lembar soalnya sekarang!”
Ririn : “Bismillah”. Roy : “Soal ini kan gampang sekali. Kalau gini kan gak akan ketahuan”.
Pak Asep :” Bapak keluar dulu, ingat jangan nyontek atau bertanya pada temannya ya. Dan satu lagi, jangan ribut”. (keluar kelas). Roy : “Rencana B dimulai” (menyilangkan kaki dan melihat kertas contekan di atas sepatunya).
Roy : “Ah, bukan yang ini” (bingung)
Roy : “Ah yang ini nih!” (sambil mengeluarkan kertas contekan dari dasi)
Roy : “Selesai” (sambil merebahkan diri di kursi, tersenyum puas sambil melirik teman-temannya yang lain belum selesai mengerjakan).
Akhirnya ulangan selesai, dan Pak Asep membagikan kertas hasil ujian kepada semua siswanya.
Pak Asep : “Ini hasil ujian kalian”. (sambil membagikan kertas). Ririn :” Hore! Nilaiku 85”. (tersenyum puas)
Zainal : “Hahahaha, aku dapat 65. Lumayan ujian kemarin cuma 60”.
Roy : “Lhah Pak, kok nilai ujian saya cuma 50”? Pak Asep : “Sebab soal nomor 11–20 di balik kertas gak kamu isi.
Roy : “Apa? Masih ada soal lagi?”
Ririn : “Hahahaha, kamu kalah Roy! Dengan ini saya perintahkan kamu gak nyontek lagi waktu ujian”! (sambil menunjuk-nunjuk Roy dengan tertawa lepas).
Pak Asep :” Apa? Jadi kamu kemarin nyontek? Oke, kalau begitu nilai kamu saya kurangi 5 poin lagi!”
Roy : “Aduuuh, apes benar aku ini” (mengucek-ngucek rambut)
Karakter tokoh Roy pada dialog drama di atas adalah ...
tokoh siswa yang baik untuk ditiru, karena sebagai siswa kita harus rajin belajar agar di saat akan berlangsung ulangan/ujian harus siap dan percaya diri untuk sangggup menjalaninya
tokoh siswa yang untuk ditiru, karena sebagai siswa kita harus rajin belajar agar di saat akan berlangsung ulangan/ujian harus siap dan percaya diri untuk sangggup menjalaninya
Roy mempunyai karakter yang baik, rajin belajar dan percaya diri. Ketika akan diadakan ulangan,
mempunyai karakter yang baik, rajin belajar dan percaya diri. Ketika akan diadakan ulangan, Roy sudah mempunyai persiapan dalam menghadapi ulangan tersebut, sehingga ia percaya diri dalam menjalani ulangan.
tokoh siswa yang tidak baik untuk ditiru, karena sebagai siswa kita harus rajin belajar agar di saat akan berlangsung ulangan/ujian harus siap dan percaya diri untuk sangggup menjalaninya
Bacalah teks drama berikut ini !
Tampak Ken Arok tidur di suatu tempat yang agak tinggi, sesuatu yang dapat dibayangkan penonton sebagai batu besar atau cabang pohon dan sebangsanya. Tita, sahabat, dan pembantu Ken Arok berdiri di suatu tempat sambil mengamati ke arah rombongan pedagang yang akan datang. Beberapa orang, antara tiga sampai lima orang pendekar, berada di dekatnya juga tampak mengawasi dan gelisah.
Pendekar 1 : “Tita, bisakah dia tidur seperti itu?”
Tita : (tersenyum) “Apa salahnya dia tidur?”
Pendekar 1 : “Ya, tidak ada salahnya. Tapi, rasanya tidak pantas saja. Orang lain sedang gelisah dan tegang, tetapi dia enak tidur”
Tita : “ Kalau kau takut, kami tidak memaksamu ikut perjalanan ini.”
Pendekar 1 : “Asal kau tahu saja, aku tidak takut.”
Tita : “Barangkali, kau tidak mempercayainya?”
Pendekar 1 : (ragu-ragu) “Tidak. Dia begitu terkenal, tidak mungkin dia bersikap sembrono.”
Tita : (tersenyum) “Kau mungkin tidak akan pernah bisa memahaminya. Dia bukan manusia. Sekarang, tenanglah dan kembali berjaga.”
Konflik yang terdapat dalam kutipan naskah tersebut adalah . . .
Pendekar 1 melihat Ken Arok tertidur.
Tita tidak membangunkan Ken Arok.
Ken Arok tidur di tengah kegelisahan.
Pendekar 1 tidak bertugas dengan benar.
Pendekar 1 tidak mempercayai Ken Arok.
Cermati percakapan dalam drama berikut!
Amir : “Di, kita berangkat sekolah sekarang.” (Amir bangkit di depan pintu, kemudian Dodi mendekat)
Dodi : “Maaf, Mir, tunggu sebentar.” (Dodi menyuruh Amir duduk)
Amir : “Sebentar, apa lagi yang akan kau kerjakan?”
Dodi : “Biasa, mengisi dua kolam mandi setiap hari.”
Amanat cuplikan drama di atas yakni ….
Berangkat sekolah harus lebih pagi.
Bekerjalah sebaik mungkin
Jadilah anak yang rajin
Selesaikan pekerjaan di rumah dengan baik
Belajarlah yang rajin
Bacalah teks berikut!
Polisi : “Sebelum dia meninju Tuan, apa yang dilakukannya di sini, sampai Tuan tadi menelepon kami?” Kamaen : “Menghina nona itu. Saya tidak tahu bagaimana menghinanya, Cuma ketika saya di sini, kedapatan mereka sedang bertengkaran kata. Sebagai orang di sini, saya lalu menyuruh orang itu pergi meninggalkan tempat ini. Tapi malah membantah, sampai terpaksa saya menelepon polisi.
Polisi : (kepada Ani) “Nona dihina bagaimana oleh orang itu?
Ani : “Sebenarnya orang itu sudah sering datang di sini, tapi tidak selalu datang untuk belanja. Begitu pula tadi, datangnya hanya untuk duduk di atas meja. Ketika saya cela perbuatannya, dia malah terus mencela pekerjaan saya, caranya seperti di rumah sendiri terhadap bujangnya dengan mengeluarkan kata-kata yang tak patut dikatakan.”
Polisi : “Apa katanya kepada nona?”
Ani : “Bahwa saya disini menjual kecantikan, bahwa saya di sini jadi pendusta, penipu. Lagipula ia berkata dengan marah-marah.”
Konflik yang dialami tokoh Ani dalam naskah tersebut adalah . . .
Menegakkan kehormatan keluarga pemilik rumah makan.
Menghadapi perbuatan di luar batas susila secara verbal.
Menjaga martabat sebagai perempuan baik-baik.
Menghindarkan diri dari kesalahpahaman.
Melawan fitnah terhadap dirinya.
Evan : Wil, jangan cepat-cepat bahaya!
Wildan : Alaa, malam begini sepi, tak apa! (Evan menyusul dan menariknya mundur.)
Evan : Kita berhenti dulu!
Wildan : Ah! Lebih cepat sampai ke alamatnya kan lebih baik!
Evan : Ingat yang aku bawa surat penting!
Wildan : Justru itu!
Evan : Pokoknya berhenti, Wil! Aku tidak mau ambil risiko tertangkap Belanda.
Wildan : Baik, Van! Kau yang pegang komando.
Penyebab terjadinya konflik pada penggalan drama tersebut yaitu ...
Keinginan berhenti untuk beristirahat
kekhawatiran akan keselamatan surat penting
perebutan pemegang komando tugas
terjadinya pertengkaran antara Evan dan Wildan
ketakutan berjalan di malam hari
Sasa : Kelemahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna
Dadang : Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?
Sasa : Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?
Dadang : Apa? Bapak rasa tidak ada! (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Sasa : Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Sasa masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!
Dadang : Ya…., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!
Pesan atau amanat yang terkandung dalam penggalan drama di atas adalah….
Manusia berusaha untuk sempurna
Sifat buruk menurun pada anak
Nasib manusia ditentukan oleh Tuhan
Seseorang pasti memiliki kelemahan
Sifat serakah dan suka berjudi membuat orang hancur
Bhisma : Sekarang serahkan hp kalian, kami akan minta uang tebusan!!! (mendorong Dimas masuk)
Dimas : Ka …ka ... kami tidak bawa hp (gugup).
Bhisma : Periksa kantongnya!!
Tangguh : Siap, bos. (memeriksa kantong)
Nino : Ada gak? Ini tempat apa? (matanya melotot)
Tangguh : Ruang menyimpan perkakas bekas (sambil meraba kantong si anak). Ini bos, hpnya (mengeluarkan hp Samsung 10S).
Nino : Tanyakan nomor hp orang tuanya! Hubungi untuk minta tebusan!
Tangguh : Siap, bos!
Latar kutipan tersebut adalah ....
Garasi
Ruang tamu
Gudang
Rumah
Kamar
Bhisma : Sekarang serahkan hp kalian, kami akan minta uang tebusan!!! (mendorong Dimas masuk)
Dimas : Ka …ka ... kami tidak bawa hp (gugup).
Bhisma : Periksa kantongnya!!
Tangguh : Siap, bos. (memeriksa kantong)
Nino : Ada gak? Ini tempat apa? (matanya melotot)
Tangguh : Ruang menyimpan perkakas bekas (sambil meraba kantong si anak). Ini bos, hpnya (mengeluarkan hp Samsung 10S).
Nino : Tanyakan nomor hp orang tuanya! Hubungi untuk minta tebusan!
Tangguh : Siap, bos!
Suasana kutipan drama tersebut adalah ....
Prihatin
Sedih
Seram
Haru
Tegang
Perhatikan drama berikut!
Masut : Guru, terima kasih atas ilmu yang guru berikan kepadaku. Apalah artinya diriku andai tidak ada guru.
Guru : Masut, Masut! Kamu harus tahu, meskipun kita mempunyai ilmu hanya sedikit, namun tetap harus diberikan kepada orang lain.
(Istri Masut masuk ke ruangan membawa teh hangat).
Istri Masut : Lebih baik kalau ngobrolnya, sambil minum teh hangat (menyodorkan cangkir)
Guru : Bisa saja istri kamu, Ut.
Suasana yang tergambar pada drama tersebut adalah ...
Seram
Serius
Santai
Tegang
Haru
